You are on page 1of 19

BAB II

KONSEP DASAR TENTANG HARTA ANAK YATIM

A. Pengertian Harta Anak Yatim

Dana berkaitan erat dengan harta. Ketika berbicara masalah dana di

panti asuhan tentu akan tertuju pada dana yang berasal dari para dermawan

yang merupakan harta panti asuhan yang diperuntukkan bagi anak-anak yatim

dan dhuafa, untuk itulah penulis akan menjelaskan tentang harta tersebut.

Sebelum mengetahui tentang harta anak yatim maka terlebih dahulu

memberikan pemahaman terhadap harta. Harta menurut fuqaha Hanafiah

menetapkan bahwa sesuatu yang bersifat benda yang dikatakan a'yan.1 Sedang

menurut fuqaha harta (mal) adalah nama bagi yang selain manusia yang

ditetapkan untuk kemaslahatan manusia, dapat dipelihara pada suatu tempat,

dapat dilakukan tashrruf dengan jalan ikhtiyar.2 Jadi harta adalah sesuatu yang

bersifat benda yang ditetapkan untuk kemaslahatan manusia.

Adapun pembagian harta dalam syariat Islam terbagi beberapa segi

yaitu:

1. Memandang tabi'at dan fungsinya terbagi kepada uang dan barang.

2. Memandang boleh dan haram pemanfaatan secara syari'at terbagi kepada

mutaqawwin (bernilai) dan tidak bernilai.

3. Memandang kesamaan bagian dan tidaknya terbagi kepada: Mitsly (Smilar

[sama] ) dan Qimiy (valuation [taksiran])


1
Teungku Muhammad Hasbi Ash-Siddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, Yogyakarta:
PT. Pustaka Rizki Putra, 1997, hlm. 155.
2
Ibid., hlm. 154.

11
12

4. Memandang tetapnya di tempat dan tidak tetapnya terbagi kepala harta

bergerak dan harta tak bergerak.

5. Memandang tetap bendanya ketika dipergunakan dan tidak terbagi kepada:

konsumsi (istihlaki) dan pemakaian (isti'mali).3

Dalam hukum Islam yang menempati posisi terakhir yang mendapat

perlindungan yaitu harta benda. Hal ini tidak disebabkan ia adalah perkara

yang tidak penting namun karena harta itu tidak dengan sendirinya membantu

mewujudkan kesejahteraan bagi semua orang dalam suatu pola yang adil. Jika

harta benda ditempatkan pada urutan pertama dan menjadi tujuan itu sendiri,

akan menimbulkan ketidakadilan, ketidakseimbangan yang pada gilirannya

akan mengurangi kesejahteraan mayoritas generasi sekarang maupun yang

akan datang, oleh karena itu keimanan dan harta benda kedua-duanya memang

diperlukan bagi kebahagiaan manusia, tetapi imanlah yang mampu

menyuntikkan suatu disiplin dan makna dalam memperoleh penghidupan dan

melakukan pembelajaran sehingga memungkinkan harta itu memenuhi

tujuannya secara lebih efektif.

Harta anak yatim berkaitan juga dengan anak yatim itu sendiri, maka

penulis akan memaparkan tentang pengertian anak yatim terlebih dahulu.

Adapun yang dimaksud anak yatim yaitu:

3
Ahmad Hasan, Mata Uang Islami Telaah Komprehensif Sistem Keuangan Islami, Terj.
Saifurrahman Barito, et. Al., "Al-Auraq Al-Naqdiyah fi Al-Iqtishad Al-Islamy (Qimatuha wa
Ahkamuha)", Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 101.
13

Artinya: "Yatim adalah anak yang telah ditinggal mati ayahnya dan dia belum
pernah mimpi basah."4

Anak yatim adalah anak-anak yang telah ditinggal ayahnya sebelum

anak itu sampai umur dengan tidak meninggal harta.5 Maksudnya sampai

umur itu sebelum ia mencapai umur dewasa dengan tidak mempunyai harta

peninggalan orang tuanya setelah meninggal, ataupun tidak punya keluarga

yang mampu mengurus dirinya dan kehidupannya.

Sama halnya dengan pendapat Hasan Ayyub yang memberi batasan

umur terhadap anak yatim, bahwa anak yatim adalah anak yang telah

ditinggalkan ayahnya sebelum mencapai kedewasaan dan jika sudah sampai

dewasa maka tidak disebut lagi yatim. Jika ada orang disebut yatim setelah

dewasa, menurut majaz 'kiasan' yakni, yang intelegensi serta adabnya tidak

berfungsi atau bodoh dan tak berakhlak. 6

Berarti disini ada batasan mengenai umur anak yatim, jika sudah

mencapai umur dewasa maka tidak bisa lagi di katakan anak yatim, karena

dalam kenyataannya mereka bisa hidup mandiri meskipun tidak adanya orang

tua, kecuali mereka dikatakan bodoh akalnya.

Dalam buku Ensiklopedia al-Qur'an menyebutkan bahwa yatim (piatu)

ialah anak yang kematian ayah.7 Anak yang kehilangan ibunya saja secara

4
Muhammad Rawwas Qal'ahji, Mausu'ah Fiqhi Umar Ibnil Khathab ra, Terj. M. Abdul
Mujieb AS, et.al., "Ensiklopedia Fiqh Umar bin Khathab" Jakarta: PT, Raja Grafindo Persada,
1999, hlm. 657
5
Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Al-Islam, Semarang: Pustaka Rizki Putra,
t.t., h1m. 100.
6
Hasan Ayyub, As Sulukul Ijtima'i fil Islam, terj. Tarnama Ahmad Qosim, et.al., "Etika
Islam (Menuju Kehidupan Yang Hakiki)", Bandung: Trigenda Karya, 1994 hlm. 362.
7
H. Fachruddin HS, Ensiklopedia al-Qur'an, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992, hlm. 568.
14

etimologi maupun hukum tidak disebut anak yatim, hanya dalam

pengasuhannya ia membutuhkan suatu perawatan seperti perawatan ibunya.8

Al-Qur'an mempunyai perhatian khusus terhadap anak-anak yatim,

Karena ketiadaan sang ayah yang bertanggung jawab memelihara, mendidik

dan mengayomi mereka, maka masyarakatlah yang bertanggung jawab

terhadap mereka, karena sudah sewajarnya bagi orang-orang yang mampu

untuk memberikan bantuan pada mereka seperti dalam firman Allah.


{2}
{ 1}

{3-1 : }


Artinya: "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang
yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi
makan orang miskin". (QS. al-Maa'un: 1-3)9

Menurut Ar-Raji harta adalah sesuatu yang bermanfaat yan sangat

dibutuhkan manusia. Karena adanya kesatuan bentuk maka layak sekali kalau

harta anak yang masih belum cukup dewasa itu dinisbatkan kepada para

wali.10

Jadi yang dimaksud harta anak yatim adalah harta peninggalan

ayahnya yang dia sendiri belum dapat menguasainya, karena masih kecil.11

Tetapi kalau yang ditinggalkan anak-anak yang sudah dewasa dan mampu

untuk mengurus dirinya sendiri atau tidak dikatakan bodoh akalnya maka

8
Muhammad Abu Zahrah, Tanzim al-Islam it al-Mujatam, Terj. Shodiq Noor Rahmat,
"Membangun Masyarakat Islami", Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 1994, hlm. 120.
9
Depag RI, op.cit., hlm. 1108.
10
Muhammad Al asyabuni, Rowaihul Bayan Tafsir Ayat ahkam Minal Qur'an,Terj.
Mu'amal Hamidy dkk, Terjemahan Tafsir Ayat Ahkam As-Shabuni, Surabaya: PT. Bina Ilmu,
1983, hlm. 370.
11
Abdul Malik Abdul Karim Amrullah, Tafsir Al-Azhar, Juz IV, Jakarta: Yayasan Nurul
Islam, 1981, hlm. 311.
15

tidak dinamakan harta anak yatim karena mereka bisa mengelola sendiri harta

peninggalan ayahnya. Hal ini dipandang sebagai orang dewasa yang sudah

bisa menentukan jalan hidupnya.

Sebenarnya harta yang ada di tangan sebagian individu disamping

untuk memenuhi kebutuhan individu juga merupakan sumber kehidupan

bersama, artinya harta sebagai fungsi sosial yang dapat dimanfaatkan bagi

kepentingan umum dan dipergunakan untuk mengatasi krisis, melalui

pengeluaran zakat, saling menolong dan saling menukar kemanfaatan. Inilah

sikap terhadap materi menurut pandangan syari'at Islam. Semua harta dari dan

milik Allah. Harta harus bermanfaat bagi semua orang, sesuai dengan syari'at

Allah guna memenuhi kebutuhan dan menolak musibah.

Tetapi mengenai harta anak yatim menjadi perhatian yang serius bagi

umat Islam. Karena adanya ancaman yang keras jika para wali-wali dari anak

yatim atau pengelola harta anak yatim tersebut memakannya dan menukarnya,

yang ditunjukkan dengan firman Allah sebagai berikut:

{2 : }
Artinya: "Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta
mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan
jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya
tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang
besar. (Qs. An-Nisa': 2).12

12
Depag RI, op.cit., hlm. 114.
16

Ayat diatas memberikan penjelasan bahwa para wali dan penerima

wasiat (harta anak yatim untuk memelihara harta anak yatim, dan

menyerahkannya ketika dewasa, dan jangan sampai para wali memakan dan

menukarnya dengan harta para wali karena itu termasuk dosa besar.

B. Landasan Hukum

1. Landasan Al-Qur'an

Perhatian terhadap anak yatim banyak disebutkan dalam Al-Qur'an

dari mulai masalah anak yatim itu sendiri maupun kebutuhan untuk

kehidupan anak yatim. Pada periode Mekkah perhatian anak yatim lebih

tertuju pada pemeliharaan diri anak yatim daripada harta mereka.13 seperti.

Ayat-ayat Al-Qur'an berikut ini.

{17 : }
Artinya: "Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya kamu tidak memuliakan
anak yatim". (QS. Al-Fajr: 17)14

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa adanya suruhan untuk

memuliakan anak-anak yatim. Mulai dalam pergaulannya sehari-hari.

Hingga untuk kebutuhannya, maka dari itu bagi orang-orang yang mampu

untuk bisa menjaganya. Dalam firman Allah menyebutkan:

{15-14 :{ }15} {14}



Artinya: "Atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim
yang ada hubungan kerabat. " (QS. Al-Balad: 14-15)15
13
Abd. Al-Hayy al-Farmawi, Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdhu'i Dirasah Manhajiyah
Mawdhu'iyah, Terj. Suryan A. Jamrah, "Metode Tafsir Maudhuiy Suatu Pengantar", Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1996, hlm. 62.
14
Depag RI, op.cit., hlm. 1058.
15
Ibid., hlm. 1062.
17

Diutamakan bagi orang-orang yang terdekatnya untuk bisa

memberikan kehidupan yang lebih baik untuk mereka. Apabila mereka

tidak mampu maka diserahkan pada orang yang benar-benar mampu

mengurusnya, hal ini di maksudkan agar kehidupan anak-anak yatim itu

terjamin.

{9 6 : }
{ 6}

Artinya: "Bukanlah dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu dia
melindungimu. Adapun terhadap anak yatim janganlah kamu
berlaku sewenang-wenang. " (QS. Adh-Dhuhaa: 6 dan 9)16

Perhatian Allah terhadap anak-anak yatim begitu besar. Maka

janganlah sekali-kali berbuat sewenang-wenang terhadap anak yatim

walaupun mereka berani melawan, karena itu merupakan suatu cobaan,

karena mereka sebenarnya amat membutuhkan orang-orang yang bisa

membimbing dan mengurusnya dengan baik.

Pada periode Madinah Al-Qur'an turun dengan ayat-ayatnya untuk

memberikan berbagai pemecahan dan jawaban terhadap persoalan sekitar

anak yatim dan cara memelihara diri dan hartanya.17 Sebagaimana dalam

firman Allah sebagai berikut:

{220 :}

16
Ibid., hlm. 1070.
17
Abd. Al-Hayy Al-Farmawi, op.cit., hlm. 65.
18

Artinya: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim,


katakanlah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah
baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah
saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat
kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jika Allah
menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan
kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha, Perkasa lagi Maha
Bijaksana". (QS. Al-Baqarah: 220)18

Pada periode Madinah ini, banyak ayat yang turun untuk mengatur

tata cara memperlakukan anak-anak yatim tersebut di dalam pergaulan.

Ayat-ayat tersebut mempunyai tekanan yang bermacam-macam, antara

lain:

{10 :}.
Artinya: "Sesungguhnya orang yang memakan harta yatim secara zalim,
sebenarnya mereka itu menahan api sepenuh perutnya." (QS.
An-Nisa' :10)19

Dalam ayat diatas menjelaskan bahwa terhadap harta anak yatim

sebaiknya di pergunakan untuk pemeliharaannya, dan dilarang keras untuk

memakannya secara zalim, karena anak yatim tersebut membutuhkan

pemeliharaan secara balk seperti anak-anak yang lain yang masih punya

orang tua. Dan disebutkan juga dalam firman Allah sebagai berikut

152 :}.

18
Depag RI, op.cit., hlm. 53.
19
Depag RI, op.cit., hlm. 116.
19

Artinya: "Janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan


cara yang lebih (bermanfaat), hingga sampai ia dewasa. (Qs.
Al-An'am: 152) 20

Ayat diatas memberikan pengertian bahwa adanya larangan

"mendekati" harta anak yatim tersebut adalah larangan mendekati disini

tidak berarti mendekati secara leterlak, melainkan larangan melakukan

tindak kejahatan didalam harta tersebut, baik terang-terangan maupun

secara terselubung. Mengenai harta anak yatim juga disebutkan dalam ayat

berikut

{2 : }
Artinya: "Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh)
harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang
buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu.
Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu,
adalah dosa yang besar. (Qs. An-Nisa': 2)21

Sebaiknya bagi para wali anak yatim atau orang yang diwasiati

dalam memelihara anak yatim agar selalu menjaga jangan sampai harta

anak-anak yatim tersebut disalahgunakan untuk sesuatu yang bukan

keperluannya dengan memakannya secara zalim. Dengan ketentuan dalam

surat An-Nisa sebagai berikut

{6 :}


20
Ibid., hlm. 214.
21
Ibid., hlm. 114.
20

Artinya : "Barang siapa mampu, maka hendaklah ia menahan diri dan


barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu
menurut yang patut." (An-Nisa: 6)22

Menurut Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir Al-Qur'an al-Azhlim

(1/464): "Para ahli fiqh berkata: "ia boleh memakan dari harta nominalnya,

upah standar atau kebutuhan yang dia butuhkan. Para ulama berbeda

pendapat apakah ia harus mengembalikannya apabila ia sudah

berkelapangan, menjadi dua pendapat: Pertama, Tidak perlu

dikembalikan, karena yang ia makan itu adalah gajinya sendiri dan

disamping itu ia adalah orang faqir. Inilah pendapat yang shahih menurut

rekan-rekan Imam Syafi'i karena ayat tersebut membolehkan memakannya

tanpa menyebutkan harus diganti. Kedua, Ya, ia harus mengembalikannya,

karena harta anak yatim beresiko besar. Ia hanya boleh dikembalikan

seperti bolehnya memakai harta orang lain bagi yang mengalami kesulitan

namun bukan pada saat membutuhkan.23

2. Landasan as Sunnah/ Hadits

Adapun Hadits yang berkaitan dengan permasalahan anak yatim

antara lain seperti dalam kitab Shahih Bukhari:

:
24
( ) . ,

22
Ibid., hlm. 115-116.
23
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali, Al-Manaahiy Yisy Syari'iyyah fii Shahihis Sunnah An-
Nabawiyah, Terj. Ibnu Ihsan Al-Atsari, "Ensiklopedia Larangan Menurut Al-Qur'an dan As-
Sunnah: Pustaka Imam Syafi'i, 2005, hlm. 371.
24
Imam Abdullah Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari, Juz. VIII, Beirut: Dar Al Kutb
al Ilmiyah, t.t., hlm. 101.
21

Artinya: "Dari Shal bin Said dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda:
"Aku dan orang yang merawat anak yatim itu begini, Nabi
berkata: dengan (isyarah) dua jari yakni jari telunjuk dan jari
tengah. (HR. Bukhari)

Sungguh besar perhatian Allah SWT dan Rasulullah SAW,

berkenaan dengan mengurus dan merawat anak yatim dengan perhatian

yang melebihi perlakuan para pengurus terhadap anaknya sendiri. Mereka

akan mendapat kedudukan yang tinggi dan mulia.

Dalam riwayat ibnu Majah dijelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda:


25
( )
Artinya: "Sebaik-baik rumah orang Islam adalah rumah yang di dalamnya
terdapat anak yatim yang diperlukan secara baik dan seburuk-
buruk rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang
diperlakukan buruk " (HR. Ibnu Majah)

Hadits diatas memberikan dorongan yang kuat untuk memelihara

anak yatim dengan sebaik-baiknya. Tanpa memandang bahwa ia keluarga

atau bukan karena mereka juga butuh seorang sebagai pengganti bapaknya

untuk membimbing, mendidik dan mengayomi mereka. Agar mereka

kelak menjadi manusia-manusia yang tangguh dan bermanfaat. Dalam

Hadits Nabi menyebutkan:

25
Abu Abas Sihabudin Ahmad Bin Abu Bakar Bin Abdurrahman Bin Ismail, Jawaid
Ibnu Majah, Beirut: Dar Al Kutb Al-Ilmiyah, t.t., hlm. 475.
22


26
( ) .
Artinya: "Jauhilah tujuh macam perkara yang membinasakan para
sahabat bertanya, "apakah itu, wahai Rasulullah?" beliau
menjawab: "yaitu menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa
yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba,
memakan harta anak yatim, melarikan diri dari barisan perang
di hari pertempuran dan menuduh wanita yang baik berbuat
zina." (Mutafaq alaih)

Perhatian Islam terhadap harta anak-anak yatim, menjadi perhatian

serius karena memakan harta anak yatim termasuk dosa besar. Seperti

halnya menyekutukan Allah dan yang lainnya yang termasuk dosa besar.

Untuk itulah bagi pemelihara agar berhati-hati dalam mengelola harta

anak yatim. Dalam kitab al-amwal menyebutkan.

)
27
(
Artinya: "Ketahuilah, barang siapa menjadi wali seorang anak yatim yang
mempunyai harta, maka hendaklah ia memperdagangkan harta
itu dan jangan membiarkannya, hingga habis dimakan oleh
sedekah" (HR. At-Tirmidzi).

26
Abi Zakaria bin Syarif Nawawi, Riyadhus Shalihin, Maktabah al Islamiyyah, t.t., hlm.
574.
27
Imam Al Adzim Al Khafidil Khajati Abi Abidil Qosim bin Salam, Al-Amwal: Dar Al-
Fikr, 22 H, hlm. 547.
23

C. Pengelolaan Harta Anak Yatim

Pada dasarnya mengurus yatim merupakan kefarduan (kewajiban) bagi

setiap orang yang paling dekat dengannya. Jika dia yang terdekat itu telah

dapat melakukan kewajibannya mengurus yatim dengan baik maka jatuh

kewajiban dari yang lainnya yang dekat dengannya. Akan tetapi jika orang

yang paling dekat kepadanya belum melakukan hal itu yakni belum

mengurusnya tapi tidak tercapai sasaran bahkan mungkin menganiaya, maka

(yang lain) yang juga dekat berhak ikut campur memperbaiki keadaannya.

Karena mengurus anak yatim adalah fardu kifayah atas umat Islam. jika telah

ada yang mengurusnya maka yang lain bebas dari kefarduan.28

Dalam ayat Al-Qur'an menyebutkan:

{5 : }
Artinya: "Dan janganlah kamu berikan kepada orang-orang yang tidak beres
akalnya, harta-harta kamu yang Allah telah dijadikannya sebagai
pokok penghidupan bagi kamu, tetapi berilah mereka makan dalam
harta tersebut dan berilah mereka pakaian serta katakanlah kepada
mereka kata-kata yang baik." (An-Nisa': 5)29

Khitab (pembicaraan) dalam ayat ini ditujukan kepada semua umat,

dan larangannya mencakup setiap harta yang diberikan kepada orang dungu,

artinya berikanlah kepada setiap anak yatim harta mereka apabila telah baligh,

kepada setiap istri maharnya, kecuali apabila salah satu dari mereka adalah

orang safih (dungu), tidak bisa menggunakan harta benda. Maka, cegahlah

28
Hasan Ayyub, Assulukul Ijtimai fil Islami, Terj. Tarmana Ahmad Qosim, et.al., Etika
Islam Kehidupan yang Hakiki", Bandung: Trigenda, 1994, hlm. 362.
29
Depag RI, op.cit., hlm. 115.
24

harta mereka agar jangan disia-siakan, dan peliharalah harta mereka itu

olehmu hingga mereka dewasa.30

Ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud "sufaha" (orang-orang

yang kurang beres akalnya), sebagian ada yang berpendapat bahwa yang

dimaksud itu ialah kanak-kanak yang belum cukup umur, dan anak-anak kecil

yang belum cukup dewasa. Demikian sebagai yang diriwayatkan dari Az-

Zuhri dan Ibnu Zaid.31

Yang lain berpendapat "sufaha" yaitu orang yang tidak berfikiran

cukup untuk menjaga harta. Termasuk disini orang-orang perempuan, anak-

anak yang belum cukup umur dan anak-anak yatim serta siapa saja yang

digolongkan dengan sifat ini.32

Pengelolaan harta anak-anak yatim merupakan tanggung jawab wali

anak yatim atau orang yang diwasiati untuk mengelola harta anak yatim.

Tugas yang mereka emban hanya memelihara dan mengelolanya bukan untuk

memilikinya. Jika mereka melupakan kedudukan dan tugas mereka yang

sebenarnya niscaya hal itu akan mendorongnya untuk melakukan pelanggaran.

Maksud mengelola harta anak yatim yaitu mengembangkan harta milik

mereka melalui kegiatan bisnis atau usaha lain yang menguntungkan sehingga

lama kelamaan harta mereka tidak habis begitu saja karena dipakai untuk

30
Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsir Al-maraghy, Terj. Bahrun Abu Bakar dkk.,
"Terjemah Tafsir Al-Maraghi", Semarang: Toha Putra, 1986, hlm. 336.
31
Muhammad Ali Assyabuni, op.cit., hlm.373.
32
Ibid.
25

kebutuhan mereka.33 Dalam hal ini tidak lepas dari sikap kehati-hatian agar

harta anak yatim tersebut tetap terjaga dengan baik tanpa tindakan kezaliman.

Seperti dalam firman Allah:

:}.

{10
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara
zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya." (Qs.
An-Nisa': 10).34

Sebenarnya pesan yang terkandung dalam ayat diatas agar harta anak-

anak yatim tetap terjaga demi untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yatim,

jika bisa mengembangkan agar harta tersebut terus berkembang dan berguna

bagi kehidupan anak yatim tersebut.

Orang yang mengurus harta anak yatim berhak mengembangkan harta

tersebut melalui berbagai cara misalnya berkoperasi yang paling mudah atau

untuk modal dalam perdagangan. Jika dia hanya mengurus dan

mengembangkan harta yatim tersebut maka diapun berhak untuk

memanfaatkan (mengambil) sebagian harta itu dengan cara yang baik (halal),

tidak berlebihan dan tidak dengan cara bathil (salah). Orang yang mengurus

anak yatim juga berhak (boleh) saja mencampuradukkan hartanya dengan

harta anak yatim tersebut dengan syarat harus adil dan benar.35

Ada tiga cara dalam melindungi harta anak yatim:

33
Syaikh Muhammad Al Madani, Al Mujtama'al Mitsali Kama Tunazhzhimuhu Suratu
An-Nisaa, Terj. Kamaluddin Sa'diyatul Haramain, "Masyarakat Ideal dalam Perspektif Surah An-
Nisa'.", Jakarta: Pustaka Azzam, 2002, hlm. 309.
34
Depag RI, op.cit., hlm. 116.
35
Hasan Ayyub, op.cit., hlm. 363.
26

1. Dengan menentukan seorang penanggung jawab (qayyim)

2. Mengembangkan harta tersebut dan menambahi modal kapitalnya. Hal ini

setelah ada izin untuk memperdagangkannya apabila harta tersebut tidak

ajeg.36 Dalam hal ini Nabi bersabda:

37
( )
Artinya: "Ketauhilah barang siapa menjadi wali seorang anak yatim yang
mempunyai harta, maka hendaklah ia memperdagangkan harta
itu dan jangan membiarkannya, hingga habis dimakan oleh
sedekah". (HR. At-Tirmidzi)

3. Dengan menaruh harta itu kedalam suatu gudang penyimpanan yang

terpercaya untuk melindungi dari kerusakan.38

Tujuan dari pengelolaan harta anak-anak yatim tersebut semata-mata

agar harta tidak membeku, tanpa bergerak sehingga berkembang. Jadi agar

dana bisa produktif dan bertambah banyak untuk kelangsungan hidup anak-

anak yatim.

D. Kewajiban Terhadap Anak Yatim

Terhadap anak yatim berkewajiban untuk bersikap kasih sayang

melindungi kekayaan mereka, memberi nafkah kepada mereka apabila mereka

tidak mempunyai harta yang cukup. Sebenarnya yang paling utama dalam hal

pemeliharaan mereka adalah wali-wali yang terdekat, apabila mereka mampu.

Tapi apabila anak yatim tersebut tidak mempunyai wali dari sanak kerabatnya,

maka perwalian menjadi hak pengadilan dan pengadilan akan menitipkan

36
Muhammad Abu Zahrah, op.cit., hlm. 124.
37
Imam Al Adzim Al Khafidil Khajati Abi Abidil Qosim bin Salam, loc.cit.,
38
Muhammad Abu Zahrah, loc.cit.
27

mereka kepada seseorang yang dianggap mempunyai sifat sayang dalam

pergaulan atau pengadilan dapat pula menitipkan mereka kepada panti-panti

asuhan.39

Menitipkan anak-anak yatim di panti asuhan atau yayasan-yayasan

sosial merupakan salah satu alternatif jika anak-anak yatim tersebut tidak ada

yang mampu mengurusnya, hal ini demi kemaslahatan hidupnya, hal ini demi

kemaslahatan hidupnya, agar mereka bisa menjalani kehidupannya lebih baik,

seperti anak-anak lain yang masih mempunyai orang tua.

Allah SWT dan rasul-Nya memperingatkan para pemegang wasiat

(pengurus) anak yatim supaya berhati-hati dalam mengurus anak yatim.

Antara lain paling pokoknya ada dua masalah yaitu:

1. Jangan memakan harta anak yatim dengan batil atau salah, yakni tidak

mengikuti peraturan yang benar (lihat surat An-Nisa ayat 6).

2. Tidak boleh menukarkan harta mereka yang jelek dengan harta kekayaan

milik anak yatim yang bagus (lihat surat An-Nisa' ayat 2).40

Sebenarnya dalam Islam adanya perhatian dan bimbingan anak

terhadap mereka yang lemah tertindas dan anak-anak yang telah kehilangan

para orang tuanya hal itu dilakukan dua pertolongan yaitu materiil dan moril

pertolongan materiil seperti ditunjukkan pada ayat Al-Qur'an sebagai berikut:

{8 : }

39
Ibid., hlm. 123.
40
Hasan Ayyub, op.cit., hlm. 364.
28

Artinya: "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang


miskin, anak yatim dan orang yang ditawan." (Qs. Al-Insan: 8)41

Dan pertolongan yang bersifat moril dalam firman Allah sebagai

berikut:


{83 :}.
Artinya: "Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah
kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim dan
miskin."(Qs. Al-Baqarah: 83)42

Agama Islam memerintahkan umatnya untuk memuliakan anak yatim

seperti yang terkandung dalam surat An-Nisa' yang berkenaan dengan nasib

anak-anak yatim berkewajiban untuk:

- Memelihara anak-anak yatim

- Mengelola dan mengatur harta anak yatim dengan baik dan benar

- Biaya kelangsungan hidup diambil dari harta mereka dan biaya

pengelolaannya diambil dari keuntungan dan basil investasinya bukan dari

modal pokoknya.

- Mengurus diri anak-anak yatim dengan baik termasuk pendidikan mereka

agar menjadi manusia yang bermanfaat

- Menjunjung tinggi niat yang baik dalam mengurus dan mengatur segala

hal yang berkaitan dengan anak-anak yatim

- Mempersaksikan penyerahan harta milik anak-anak yatim setelah mereka

mencapai usia dewasa.43

41
Depag RI, op.cit., hlm. 1004.
42
Depag RI, op.cit., hlm. 23.
43
Syaikh Muhammad Al Madani, op.cit., hlm. 301-302.
29

{2 : }
Artinya: "Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta
mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan
jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya
tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang
besar. (Qs. An-Nisa': 2).44

Memelihara anak-anak yatim dan memelihara harta peninggalan orang

tuanya merupakan kewajiban bagi masyarakat Islam, memuliakan anak yatim

berarti memelihara dan membesarkan mereka sebagaimana anak-anak biasa.

Bila anak itu dewasa, maka adalah hak mereka untuk mendapatkan kembali

harta peninggalan orang tuanya. Jika mereka tidak mempunyai harta sebagai

penunjang kehidupannya. Maka selayaknya orang-orang yang mampu untuk

memberikan sebagian hartanya untuk mereka.

Jika dilihat dari sisi kenegaraan, fakir miskin dan anak yatim piatu atau

anak terlantar merupakan salah satu tanggung jawab nasional. Dalam Undang-

undang dasar 1945 Pasal 34 dicantumkan bahwa: "Fakir miskin dan anak

terlantar dipelihara oleh negara".

Dalam sistem pemerintahan di sinilah letaknya peran serta dan

tanggung jawab masyarakat sebagai warga negara terutama umat Islam karena

sangat relevan dengan ajaran agama. Tinggal bagaimana anak yatim tersebut

secara baik dan efektif, agar mereka menjadi manusia-manusia yang berguna

bagi nusa dan bangsa.

44
Depag RI, op.cit., hlm. 114.