You are on page 1of 9

Etiologi

Menurut Basuki (2011), etiologi hipospadia dan epispadia yaitu :

1. Faktor Genetik

Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen
yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.

2. Faktor Hormon

Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur organogenesis
kelamin (pria). Atau bias juga karena reseptor hormone androgennya sendiri di dalam tubuh
yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk
cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek
yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone androgen tidak
mencukupi pun akan berdampak sama.

3. Lingkungan

Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat
teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

4. Embriologi

Secara embriologis hipospadia disebabkan oleh sebuah kondisi dimana bagian ventral lekuk
uretra gagal untuk menutup dengan sempurna.Diferensiasi uretra bergantung pada hormone
androgen Dihidrotestosteron (DHT) dengan kata lain hipospadia dapat disebabkan oleh
defisiensi produk testosterone, konversi testosterone menjadi DHT yang tidak adequate, atau
defisiensi local pada hormone androgen. (Heffner, 2005)

2.4 Patofisiologi

A. Hipospadia

Hipospadia merupakan cacat bawaan yang diperkirakan terjadi pada masa embrio selama
perkembangan uretra, dari kehamilan 8-20 minggu. Hipospadia di mana lubang uretra
terletak pada perbatasan penis dan skortum, ini dapat berkaitan dengan chordee kongenital.
Paling umum pada hipospadia adalah lubang uretra bermuara pada tempat frenum, frenumnya
tidak berbentuk, tempat normalnya meatus urinarius di tandai pada glans penis sebagai celah
buntuh. Penyebab dari Hipospadia belum diketahui secara jelas dan dapat dihubungkan
dengan faktor genetik dan pengaruh Hormonal. Pada usia gestasi Minggu ke VI kehamilan
terjadi pembentukan genital, pada Minggu ke VII terjadi agenesis pada mesoderm sehingga
genital tubercel tidak terbentuk, bila genital fold gagal bersatu diatas sinus urogenital maka
akan timbul Hipospadia.

Pada embrio berumur 2 minggu, baru terdapat dua lapisan ektoderm dan entoderm. Baru
kemudian terbentuk lekukan di tengah-tengah yaitu mesoderm yang kemudian bermigrasi ke
perifer, yang memisahkan ektoderm dan entoderm. Di bagian kaudal ektoderm dan entoderm
tetap bersatu membentuk membrana kloaka. Pada permulaan minggu ke 6, terbentuk tonjolan
antara umbilical cord dan tail yang disebut genital tuberkel. Dibawahnya pada garis tengah
terbentuk lekukan dimana bagian lateralnya ada dua lipatan memanjang yang disebut genital
fold. Selama minggu ke 7, genital tuberkel akan memanjang dan membentuk glans. Ini adalah
bentuk primordial dari penis bila embrio adalah laki-laki. Bila wanita akan menjadi klitoris.
(Mary. 2005)

Perkembangan uretra dalam utero dimulai sekitar usia 8 minggu dan selesai dalam 15
minggu, uretra terbentuk dari penyatuan lipatan uretra sepanjang permukaan ventral penis.
Glandula uretra terbentuk dari kanalisasi furikulus ektoderm yang tumbuh melalui glands
untuk menyatu dengan lipatan uretra yang menyatu. Hipospadia terjadi bila penyatuan digaris
tengah lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka tidak pada ujung penis.
Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, menyebabkan lengkungan (kurvatura)
pada penis. Pada orang dewasa, chordee tersebut akan menghalangi hubungan seksual,
infertilisasi (hipospadia penoskrota atau perineal), menyebabkan stenosis meatus sehingga
mengalami kesulitan dalam mengatur aliran urine dan sering terjadi kriptorkidisme.

B. Epispadia

Epispadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra dalam utero. Pada anak laki-
laki yang terkena, penis biasanya luas, dipersingkat dan melengkung ke arah perut (chordee
dorsal). Pada anak laki-laki normal, meatus terletak di ujung penis, namun anak laki-laki
dengan epispadia, terletak di atas penis. Dari posisi yang abnormal ke ujung, penis dibagi dan
dibuka, membentuk selokan. Epispadia digambarkan seolah-olah pisau dimasukkan ke
meatus normal dan kulit dilucuti di bagian atas penis. Klasifikasi epispadias didasarkan pada
lokasi meatus pada penis. Hal ini dapat diposisikan pada kepala penis (glanular), di sepanjang
batang penis (penis) atau dekat tulang kemaluan (penopubic). Posisi meatus penting dalam
hal itu memprediksi sejauh mana kandung kemih dapat menyimpan urin (kontinensia).
Semakin dekat meatus (dasar atas penis), semakin besar kemungkinan kandung kemih tidak
akan menahan kencing.

Dalam kebanyakan kasus epispadia penopubic, tulang panggul tidak tumbuh bersama-sama
di depan. Dalam situasi ini, leher kandung kemih tidak dapat menutup sepenuhnya dan
hasilnya adalah kebocoran urin. Kebanyakan anak laki-laki dengan epispadi penopubic dan
sekitar dua pertiga dari mereka dengan epispadias penis memiliki inkontinensia urin stres
(misalnya dengan batuk atau aktivitas yang berat). Pada akhirnya, mereka mungkin
membutuhkan bedah rekonstruksi pada leher kandung kemih. Hampir semua anak laki-laki
dengan epispadias glanular memiliki leher kandung kemih yang baik. Mereka dapat menahan
kencing dan melatih BAK normal. Namun, kelainan penis (membungkuk ke atas dan
pembukaan abnormal) masih memerlukan operasi perbaikan.

Epispadias jauh lebih jarang pada anak perempuan, dengan hanya satu dari 565.000. Mereka
yang terpengaruh memiliki tulang kemaluan yang dipisahkan dengan berbagai derajat. Hal ini
menyebabkan klitoris tidak menyatu selama perkembangan, sehingga menjadi dua bagian
klitoris. Selanjutnya, leher kandung kemih hampir selalu terpengaruh. Akibatnya, anak
perempuan dengan epispadias selalu inkontinensia urin stres (misalnya dengan batuk atau
melakukan aktivitas yang berat). Untungnya, dalam banyak kasus, perawatan bedah dini
dapat menyelesaikan masalah ini.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Asuhan Keperawatan Teori

A. Pengkajian

A. Anamnesis

1.Kaji identitas pasien

Identitas pasien, terdiri dari nama, alamat, tempat tanggal lahir, tanggal masuk rumah sakit,
data obyektif/data subyektif, dan informasi lain yang penting tentang pasien.Secara
keseluruhan kelainan hipospadia ditemukan dan terjadi pada anak laki-laki.

2.Kaji riwayat masa lalu

Pada masa kehamilan minggu ke 10 sampai ke 14 terjadi hambatan penutupan uretra penis
yang mengakibatkan orifium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian ventral penis antara
skrotum dan glands penis.

3.Kaji riwayat pengobatan ibu waktu hamil

Penggunaan dietilbestrol (DES) antara minggu kedelapan dan enam belas kehamilan sebagai
pengobatan untuk mencegah terjadinya abortus spontan menjadi resiko terjadinya hipospadia
pada anak.

4.Kaji keluhan utama

Keluhan yang sering terjadi pada anak dengan hipospadia antara lain:anak tidak bisa
mengarahkan aliran urinnya, anak tidak dapat berkemih dengan posisi berdiri (terjadi pada
anak dengan hipospadia penoskrotalatau perineal), meatus uretra terbuka lebar.

5.Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan, dysuria, drinage.


6.Mental

a. Sikap pasien sewaktu diperiksa

b. Sikap pasien dengan adanya rencana pembedahan

c. Tingkat kecemasan

d. Tingkat pengetahuan keluarga dan pasien

B. Pemeriksaan Fisik

1.Pemeriksaan genetalia

Saat dilakukan inspeksi bentuk penis lebih datar dan ada lekukan yang dangkal dibagian
bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus, pada kebanyakan penderita penis
melengkung ke bawah(chordee) yang tampak jelas pada saat ereksi, preputium (kulup)
tidak ada dibagian bawah penis tetapi menumpuk dibagian punggung penis,testis tidak turun
ke kantong skrotum. Letak meatus uretra berada sebelah ventral penis dan sebelah proximal
ujung penis.

2.Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal, karena
kebanyakan penderita hipospadia sering disertai dengan kelainan pada ginjal.

3.Perhatikan kekuatan dan kelancaran aliran urin

Pada hipospadia aliran urin dapat membelok kearah bawah atau menyebar dan mengalir
kembali sepanjang batang penis. Anak dengan hipospadia penoskrotal atau perineal berkemih
dalam posisi duduk. Pada hipospadia glanduler atau koronal anak mampu untuk berkemih
dengan berdiri, dengan sedikit mengangkat penis ke atas.

C. Pemeriksaan Penunjang

1.Uretroscopy dan cystoscopy

Pemeriksaan uretroscopy dan cystoscopy dilakukan untuk memastikan organ-organ seks


interna terbentuk secara normal.

2.Excretory urography

Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas congenital pada
ginjal dan ureter.

3.Pemeriksaan penunjang lain yang cukup berguna meskipun jarang dilakukan adalah
pemeriksaan radiologis urografi (IVP,sistouretrografi) untuk menilai gambaran saluran kemih
secara keseluruhan dengan bantuan kontras. Pemeriksaan ini biasanya baru dilakukan bila
penderita mengeluh sulit berkemih. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan USG untuk
mengetahui keadaan ginjal,mengingat hipospadi sering disertai dengan kelainan pada ginjal.

B. Diagnosa Keperawatan

1. Pre-op

a. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pancaran urin yang merembes

b. Kecemasan orang tua berhubungan dengan prosedur pembedahan

2. Post op

a. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan pascabedah

b. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer tidak adekuat (integritas
kulit tidak utuh/insisi bedah)

C. Intervensi Keperawatan

1. Pre op

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Resiko kerusakan Tujuan : Setelah dilakukan - Kaji kulit anak


integritas kulit tindakan keperawatan selama 3 x untuk melihat bukti iritasi
berhubungan dengan 24 jam pasien tidak dan kerusakan seperti
pancaran urin yang memperlihatkan tanda atau kemerahan, edema, dan
merembes gejala kerusakan kulit abrasi setiap 4 8 jam.

Kriteria Hasil : - Lakukan


perawatan kulit yang
- Pasien tidak menunjukkan tepat, termasuk mandi
adanya kemerahan, iritasi dan harian dengan
kelemahan otot. menggunakan sabun
- Pasien menunjukkan pelembab, masase,
integritas kulit yang baik, yang pengubahan posisi dan
dibuktikan dengan tidak adanya penggantian linen serta
lecet, warna kulit normal. pakaian kotor.

- Pasien dapat - Anjurkan untuk


mendemonstrasikan aktivitas segera mengganti celana
perawatan kulit rutin yang efektif bila basah
- Jelaskan mengenai
pentingnya menjaga
kebersihan area perineal
D. dan ajarkan cara
membersihkannya
Eva
- Anjurkan anak
lu2.
untuk membersihkan area
Post
perineal dengan air
op
hangat setelah BAB dan
dikeringkan dengan
handuk

- Ajarkan pada klien


dan keluarga mengeni
tanda-tanda klinis
kerusakan integritas kulit

Kecemasan orang tua Tujuan : Setelah dilakukan - Jelaskan pada


berhubungan dengan tindakan keperawatan selama 3 x anak dan orang tua
prosedur pembedahan 24 jam kecemasan orang tua tentang prosedur bedah
menjadi berkurang. dan perawatan pasca
operasi yang diharapkan.
Kriteria Hasil :
- Evaluasi tingkat
- Orang tua mengalami pemahaman keluarga
penurunan rasa cemas yang tentang penyakit
ditandai oleh ungkapan
pemahaman tentang prosedur - Akui masalah
bedah pasien dan dorong
mengekspresikan
masalah dan berikan
kesempatan untuk
bertanya dan jawab
dengan jujur

- Libatkan pasien
dan keluarga dalam
perencanaan keperawatan
dan berikan kenyamanan
fisik pasien.

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Resiko infeksi Tujuan : Setelah dilakukan - Kaji lebar luka,


berhubungan dengan tindakan keperawatan selama 3 x letak luka
pertahanan tubuh 24 jam diharapkan tidak terjadi - Kaji faktor yang
primer tidak adekuat infeksi dapat menyebabkan
(integritas kulit tidak infeksi
utuh/insisi bedah) Kriteria Hasil :
- Bersihkan
- Tidak ada tanda-tanda lingkungan dengan benar
infeksi seperti (rubor, tumor,
kalor, dolor, fungiolesa) - Ganti balut setiap
hari

- Kolaborasi untuk
pemberian antibiotik dan
anti pendarahan

Nyeri berhubungan Tujuan : Setelah dilakukan - Kaji nyeri dengan


dengan kerusakan tindakan keperawatan selama 3 x pendekatan PQRST
jaringan pascabedah 24 jam terdapat penurunan
respon nyeri - Monitoring tanda
tanda vital pasien
Kriteria Hasil :
- Lakukan
- Pasien menyatakan manajemen nyeri
penurunan rasa nyeri, skala nyeri keperawatan :
0 -1 ( 0 4 )
- Atur posisi
- Didapatkan TTV dalam fisiologis
batas normal
- Istirahatkan pasien
- Memperihatkan
peningkatan rasa nyaman - Manajemen
ditandai dengan ekpresi wajah lingkungan : berikan
rileks / tenang / tidak menangis lingkungan tenang dan
pada anak anak batasi pengunjung

- Ajarkan teknik
relaksasi pernapasan
dalam

- Ajarkan teknik
distraksi pada saat nyeri

- Lakukan
manajemen sentuhan

- Kolaborasi dengan
dokter untuk pemberian
analgesic
D. Evaluasi

1. Pre-op

a. Tidak terdapat gejala kerusakan kulit

b. Rasa cemas menurun yang ditandai dengan pengungkapan perasaan mereka tentang
adanya kecacatan pada genetalia anak

2. Post-op

a. Nyeri berkurang

b. Pasien tidak mengalami infeksi

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E. J. (2009). Buku Saku : Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Doengoes, Marilyn E. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan


dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta:EGC.

Emil A. Tanagho, MD. 2008. Smiths General Urology edisi 17. a LANGE medical book

Hidayat, Aziz, dkk. 2005. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif, dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapius.

Muscari, Mary E. 2005. Panduan belajar keperawatan pediatric edisi 3. Jakarta: EGC

Purnomo, Basuki B. 2011. Dasar-Dasar Urologi. Jakarta: Sagung Seto

Ramali, Ahmad & K. St. Pamoentjak. (2005). Kamus Kedokteran. Jakarta: Djambatan.
Suriadi dan Yuliani,Rita.(2001).Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 1. Jakarta : PT Fajar
Interpretama.