You are on page 1of 68

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konsep merupakan kerangka ide yang mengandung suatu pengertian tertentu.
Kebidanan berasal dari kata bidan. Menurut kesepakatan antara ICM; IFGO dan
WHO tahun 1993, mengatakan bahwa bidan (midwife) adalah seorang yang telah
mengikuti pendidikan kebidanan yang diakui oleh Pemerintah setempat, telah
menyelesaikan pendidikan tersebut dan lulus serta terdaftar atau mendapat izin
melakukan praktek kebidanan (Syahlan, 1996 : 11).
Bidan di Indonesia (IBI) adalah seorang wanita yang mendapat pendidikan
kebidanan formal dan lulus serta terdaftar di badan resmi pemerintah dan mendapat
izin serta kewenangan melakukan kegiatan praktek mandiri (50 Tahun IBI). Bidan
lahir sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong ibu-ibu
melahirkan, tugas yang diembankan sangat mulia dan juga selalu setia mendampingi
dan menolong ibu dalam melahirkan sampai sang ibu dapat merawat bayinya dengan
baik. Bidan diakui sebagai profesional yang bertanggungjawab yang bekerja sebagai
mitra prempuan dalam memberikan dukungan yang diperlukan, asuhan dan nasihat
selama kehamilan, periode persalinan dan post partum, melakukan pertolongan
persalinan di bawahtanggung jwabnya sendiri dan memberikan asuhan pada bayi baru
lahir dan bayi.

Kebidanan (Midwifery) mencakup pengetahuan yang dimiliki dan kegiatan


pelayanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi. (Syahlan, 1996 : 12). Komunitas
berasal dari bahasa Latin yaitu Communitas yang berarti kesamaan, dan juga
communis yang berarti sama, publik ataupun banyak. Dapat diterjemahkan sebagai
kelompok orang yang berada di suatu lokasi/ daerah/ area tertentu (Meilani, Niken
dkk, 2009)

1.2 Rumusan Masalah


1
a. Jelaskan tentang asuhan bayi baru lahir
b. Jelaskan tentang pelayanan kesehatan pada bayi dan balita
c. Jelaskan tentang pertolongan pertama kegawat daruratan obstetric dan neonates
d. Jelaskan tentang pelayanan kontrasepsi dan rujukan
e. Jelaskan tentang system rujujan

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui asuhan bayi baru lahir
b. Untuk mengetahui pelayanan kesehatan pada bayi dan balita
c. Untuk mengetahui pertolongan pertama kegawat daruratan obstetric dan neonates
d. Untuk mengetahui pelayanan kontrasepsi dan rujukan
e. Untuk mengetahui system rujujan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Asuhan Bayi Baru Lahir


Kunjungan Neonatus (KN)

Kunjungan Penatalaksanaan

1. Mempertahankan suhu tubuh bayi


2. Hindari memandikan bayi hingga sedikitnya enam jam dan
hanya setelah itu jika tidak terjadi masalah medis dan jika
suhunya 36.5 Bungkus bayi dengan kain yang kering dan hangat,
kepala bayi harus tertutup
3. Pemeriksaan fisik bayi
4. Dilakukan pemeriksaan fisik
5. Gunakan tempat tidur yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan
6. Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan lakukan
Kunjungan pemeriksaan
Neonatal ke-1 7. Telinga : Periksa dalam hubungan letak dengan mata dan kepala
(KN 1) 8. Mata :. Tanda-tanda infeksi
dilakukan 9. Hidung dan mulut : Bibir dan langitanPeriksa adanya sumbing
dalam kurun Refleks hisap, dilihat pada saat menyusu
waktu 6-48 10. Leher :Pembekakan,Gumpalan
jam setelah 11. Dada : Bentuk,Puting,Bunyi nafas,, Bunyi jantung
bayi lahir. 12. Bahu lengan dan tangan :Gerakan Normal, Jumlah Jari
13. System syaraf : Adanya reflek moro
14. Perut : Bentuk, Penonjolan sekitar tali pusat pada saat menangis,
Pendarahan tali pusat ? tiga pembuluh, Lembek (pada saat tidak
menangis), Tonjolan
15. Kelamin laki-laki : Testis berada dalam skrotum, Penis berlubang
pada letak ujung lubang
16. Kelamin perempuan :Vagina berlubang,Uretra berlubang, Labia
minor dan labia mayor
17. Tungkai dan kaki : Gerak normal, Tampak normal, Jumlah jari
18. Punggung dan Anus: Pembekakan atau cekungan, Ada anus atau

3
lubang
19. Kulit : Verniks, Warna, Pembekakan atau bercak hitam, Tanda-
Tanda lahir
20. Konseling : Jaga kehangatan, Pemberian ASI, Perawatan tali
pusat, Agar ibu mengawasi tanda-tanda bahaya
21. Tanda-tanda bahaya yang harus dikenali oleh ibu : Pemberian
ASI sulit, sulit menghisap atau lemah hisapan, Kesulitan bernafas
yaitu pernafasan cepat > 60 x/m atau menggunakan otot
tambahan, Letargi bayi terus menerus tidur tanpa bangun untuk
makan,Warna kulit abnormal kulit biru (sianosis) atau kuning,
Suhu-terlalu panas (febris) atau terlalu dingin (hipotermi), Tanda
dan perilaku abnormal atau tidak biasa, Ganggguan gastro
internal misalnya tidak bertinja selama 3 hari, muntah terus-
menerus, perut membengkak, tinja hijau tua dan darah berlendir,
Mata bengkak atau mengeluarkan cairan
22. Lakukan perawatan tali pusat Pertahankan sisa tali pusat dalam
keadaan terbuka agar terkena udara dan dengan kain bersih secara
longgar, Lipatlah popok di bawah tali pusat ,Jika tali pusat
terkena kotoran tinja, cuci dengan sabun dan air bersih dan
keringkan dengan benar
Gunakan tempat yang hangat dan bersih
Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pemeriksaan
23. Memberikan Imunisasi HB-0
Kunjungan Pemeriksaan tanda bahaya seperti kemungkinan infeksi bakteri,
Neonatal ke-2 ikterus, diare, berat badan rendah dan Masalah pemberian ASI
(KN 2) 1. Memberikan ASI Bayi harus disusukan minimal 10-15 kali dalam
dilakukan 24 jam) dalam 2 minggu pasca persalinan
pada kurun 2. Menjaga keamanan bayi
waktu hari ke- 3. Menjaga suhu tubuh bayi
3 sampai Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan ASI
dengan hari ke ekslutif pencegahan hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi
7 setelah bayi baru lahir dirumah dengan menggunakan Buku KIA
lahir. Penanganan dan rujukan kasus bila diperlukan

4
Pemeriksaan fisik
Kunjungan
Menjaga kebersihan bayi
Neonatal ke-
Memberitahu ibu tentang tanda-tanda bahaya Bayi baru lahir
3(KN-3)
Memberikan ASI Bayi harus disusukan minimal 10-15 kali dalam
dilakukan
24 jam) dalam 2 minggu pasca persalinan.
pada kurun
Menjaga keamanan bayi
waktu hari ke-
Menjaga suhu tubuh bayi
8 sampai
Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan ASI
dengan hari
ekslutif pencegahan hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi
ke-28 setelah
baru lahir dirumah dengan menggunakan Buku KIA
lahir.
Memberitahu ibu tentang Imunisasi BCG
Penanganan dan rujukan kasus bila diperlukan

A. Managemen Bayi Baru Lahir dan Neonatus


Selama kehamilan ibu hamil harus memeriksakan kehamilan minimal empat kali di
fasilitas pelayanan kesehatan, agar pertumbuhan dan perkembangan janin dapat terpantau
dan bayi lahir selamat dan sehat.
1) Tanda-tanda bayi lahir sehat:
a. Berat badan bayi 2500-4000 gram
b. Umur kehamilan 37-40 minggu
c. Bayi segera menangis
d. Bayi segera menangis
e. Bergerak aktif, kulit kemerahan
f. Mengisap ASI dengan baik
g. Tidak ada cacat bawaan
h. Tatalaksana Bayi Baru Lahir
2) Tatalaksana bayi baru lahir meliputi:
1. Asuhan bayi baru lahir pada 0 6 jam:
a. Asuhan bayi baru lahir normal, dilaksanakan segera setelah lahir, dan
diletakkan di dekat ibunya dalam ruangan yang sama
b. Asuhan bayi baru lahir dengan komplikasi dilaksanakan satu ruangan dengan
ibunya atau di ruangan khusus

5
c. Pada proses persalinan, ibu dapat didampingi suami
2. Asuhan bayi baru lahir pada 6 jam sampai 28 hari:
a. Pemeriksaan neonatus pada periode ini dapat dilaksanakan di puskesmas atau
pustu atau polindes atau poskesdes dan atau melalui kunjungan rumah oleh
tenaga kesehatan
b. Pemeriksaan neonatus dilaksanakan di dekat ibu, bayi didampingi ibu atau
keluarga pada saat diperiksa atau diberikan pelayanan kesehatan
3) Jenis Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir
1. Asuhan bayi baru lahir
Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada pedoman Asuhan
Persalinan Normal yang tersedia di puskesmas, pemberi layanan asuhan bayi baru
lahir dapat dilaksanakan oleh dokter, bidan atau perawat. Pelaksanaan asuhan bayi
baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yang sama dengan ibunya atau rawat
gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, bayi berada dalam jangkauan ibu
selama 24 jam).
4) Asuhan bayi baru lahir meliputi:
a. Pencegahan infeksi (PI)
b. Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
c. Pemotongan dan perawatan tali pusat
d. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
e. Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam, kontak kulit
bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi
f. Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis tunggal di paha kiri
g. Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan
h. Pencegahan infeksi mata melalui pemberian salep mata antibiotika dosis tunggal
i. Pemeriksaan bayi baru lahir
j. Pemberian ASI eksklusif
5) Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi tengkurap di dada
ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk melaksanakan proses IMD. Langkah
IMD pada persalinan normal (partus spontan) :
a. Suami atau keluarga dianjurkan mendampingi ibu di kamar bersalin
b. Bayi lahir segera dikeringkan kecuali tangannya, tanpa menghilangkan vernix,
kemudian tali pusat diikat.
6
c. Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan di dada ibu dengan
KULIT bayi MELEKAT pada KULIT ibu dan mata bayi setinggi puting susu ibu.
Keduanya diselimuti dan bayi diberi topi.
d. Ibu dianjurkan merangsang bayi dengan sentuhan, dan biarkan bayi sendiri
mencari puting susu ibu.
e. Ibu didukung dan dibantu tenaga kesehatan mengenali perilaku bayi sebelum
menyusu.
f. Biarkan KULIT bayi bersentuhan dengan KULIT ibu minimal selama SATU
JAM; bila menyusu awal terjadi sebelum 1 jam, biarkan bayi tetap di dada ibu
sampai 1 jam
g. Jika bayi belum mendapatkan putting susu ibu dalam 1 jam posisikan bayi lebih
dekat dengan puting susu ibu, dan biarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibu
selama 30 MENIT atau 1 JAM berikutnya.
6) Pelaksanaan penimbangan, penyuntikan vitamin K1, salep mata dan imunisasi
Hepatitis B (HB 0)
Pemberian layanan kesehatan tersebut dilaksanakan pada periode setelah IMD
sampai 2-3 jam setelah lahir, dan dilaksanakan di kamar bersalin oleh dokter, bidan
atau perawat.
a. Semua BBL harus diberi penyuntikan vitamin K1 (Phytomenadione) 1 mg
intramuskuler di paha kiri, untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi
vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian BBL.
b. Salep atau tetes mata diberikan untuk pencegahan infeksi mata (Oxytetrasiklin
1%).
c. Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan setelah penyuntikan
Vitamin K1 yang bertujuan untuk mencegah penularan Hepatitis B melalui jalur
ibu ke bayi yang dapat menimbulkan kerusakan hati.
7) Pemeriksaan Bayi Baru Lahir
Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin kelainan pada
bayi.Risiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan, sehingga
jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas
kesehatan selama 24 jam pertama.
Pemeriksaan bayi baru lahir dilaksanakan di ruangan yang sama dengan ibunya,
oleh dokter/ bidan/ perawat. Jika pemeriksaan dilakukan di rumah, ibu atau keluarga
dapat mendampingi tenaga kesehatan yang memeriksa.
7
Waktu pemeriksaan bayi baru lahir:
Bayi lahir di fasilitas kesehatan Bayi lahir di rumah
Baru lahir sebelum usia 6 jam Baru lahir sebelum usia 6 jam
Usia 6-48 jam Usia 6-48 jam
Usia 3-7 hari Usia 3-7 hari
Minggu ke 2 pasca lahir Minggu ke 2 pasca lahir
Langkah langkah pemeriksaan:
a. Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak menangis).
b. Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai pernapasan dan tarikan
dinding dada bawah, denyut jantung serta perut.
c. Selalu mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum dan sesudah
memegang bayi.
8) Pencatatan dan Pelaporan
Hasil pemeriksaan dan tindakan tenaga kesehatan harus dicatat pada:
1. Buku KIA (buku kesehatan ibu dan anak)
a. Pencatatan pada ibu meliputi keadaan saat hamil, bersalin dan nifas
b. Pencatatan pada bayi meliputi identitas bayi, keterangan lahir, imunisasi,
pemeriksaan neonatus, catatan penyakit, dan masalah perkembangan serta
KMS
2. Formulir Bayi Baru Lahir
a. Pencatatan per individu bayi baru lahir, selain partograph
b. Catatan ini merupakan dokumen tenaga kesehatan
3. Formulir pencatatan bayi muda (MTBM)
a. Pencatatan per individu bayi
b. Dipergunakan untuk mencatat hasil kunjungan neonatal yang merupakan
dokumen tenaga kesehatan puskesmas
4. Register kohort bayi
a. Pencatatan sekelompok bayi di suatu wilayah kerja puskesmas
b. Catatan ini merupakan dokumen tenaga kesehatan puskesmas
9) Fasilitas
Peralatan yang diperlukan dalam melaksanakan asuhan bayi baru lahir harus tersedia
dalam satu ruangan dengan ibu, meliputi: Tempat (meja) resusitasi bayi, diletakkan di
dekat tempat ibu bersalin

8
a. Infant warmer atau dapat digunakan juga lampu pijar 60 watt dipasang sedemikian
rupa dengan jarak 60 cm dari bayi yang berfungsi untuk penerangan dan
memberikan kehangatan di atas tempat resusitasi
b. Alat resusitasi (balon sungkup) bayi baru lahir
c. Air bersih, sabun dan handuk bersih dan kering
d. Sarung tangan bersih
e. Kain bersih dan hangat
f. Stetoskop infant dan dewasa
g. Stop watch atau jam dengan jarum detik
h. Termometer
i. Timbangan bayi
j. Pengukur panjang bayi
k. Pengukur lingkar kepala 30
l. Alat suntik sekali pakai (disposible syringe) ukuran 1 ml/cc
m. Senter
n. Vitamin K1 (phytomenadione) ampul
o. Salep mata Oxytetrasiklin 1%
p. Vaksin Hepatitis B (HB) 0
q. Form pencatatan (Buku KIA, Formulir BBL, Formulir register kohort bayi)
Peralatan yang diperlukan untuk pemeriksaan kunjungan neonatal
meliputi:
a. Tempat periksa bayi
b. Lampu yang berfungsi untuk penerangan dan memberikan kehangatan.
c. Air bersih, sabun dan handuk kering
d. Sarung tangan bersih
e. Kain bersih
f. Stetoskop
g. Stop watch atau jam dengan jarum detik
h. Termometer
i. Timbangan bayi
j. Pengukur panjang bayi
k. Pengukur lingkar kepala
l. Alat suntik sekali pakai (disposable syringe) ukuran 1ml/cc
m. Vitamin K1 (phytomenadione) ampul
9
n. Salep mata Oxytetrasiklin 1%
o. Vaksin Hepatitis B (HB 0)
p. Form pencatatan (Buku KIA, Formulir bayi baru lahir, formulir MTBM,
Partograf, Formulir register kohort bayi)
2.2 Pelayanan Kesehatan Pada Bayi dan Balita
A. PELAYANAN KESEHATAN PADA BAYI
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang
diberikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29
hari sampai dengan 11 bulan setelah lahir.
Pelaksanaan pelayanan kesehatan bayi:
1. Kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari-2 bulan
2. Kunjungan bayi satu kali pada umue 3-5 bulan
3. Kunjungan bayi satu kali pada umur 6-8
4. Kunjungan bayi satu kali pada umue 9-11 bulan
Pelayanan kesehatan kepada bayi meliputi:
Asuhan bayi baru lahir Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada pedoman
AsuhanPersalinan Normal yang tersedia di puskesmas, pemberi layanan asuhanbayi
baru lahir dapat dilaksanakan oleh dokter, bidan atau perawat.Pelaksanaan asuhan
bayi baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yangsama dengan ibunya atau rawat
gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satukamar, bayi berada dalam jangkauan ibu
selama 24 jam). Asuhan bayibaru lahir meliputi:
1. Pelayanan neonatal esensial dan tatalaksana neonatal
meliputi:
1. Pertolongan persalinan yang atraumatik, bersih dan aman
2. Menjaga tubuh bayi tetap hangat dengan kontak dini
3. Membersihkan jalan nafas, mempertahankan bayi bernafas spontan
4. Pemberian ASI dini dalam 30 menit setelah melahirkan
Inisiasi menyusui dini ( IMD ) adalah proses bayi menyusu segera setelah
dilahirkan dimana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri. Inisiasi
menyusui dini (IMD ) akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian
ASI ekslusif. Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan UNICEF yang
merekomendasikan inisiasi menyusui dini sebagai tindakan penyelamatan kehidupan,
karena IMD dapat menyelamatkan 22 % dari bayi yang meninggal sebelum usia 1
bulan. Program ini dilakukan dengan cara langsung meletakkan bayi baru lahir di
10
dada ibunya dan membiarkan bayi mencari untuk menemukan putting susu ibun
untuk menyusu. IMD harus dilaksanakan langsung saat lahir, tanpa boleh ditunda
dangan kegiatan menimbang atau mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan
hanya dikeringkan kecuali tangannya. Proses ini harus berlangsung skin to skin
antara bayi dan ibu.Menyusui 1 jam pertama kehidupan yang di awali dengan kontak
kulit antara ibu dan bayi dinyatakan sebagai indicator global dan Ini merupakan hal
baru bagi Indonesia, dan merupakan program pemerintah khususnya Departemen
Kesehatan RI.
5. Melakukan penilaian terhadap bayi baru lahir
Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan
Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas
Jika bayi tidak bernapas atau bernapas megap megap atau lemah maka
segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir.
6. Membebaskan Jalan Nafas
Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak
langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara
sebagai berikut :
Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih
lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke
belakang.
Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi dengan jari tangan
yang dibungkus kassa steril.
Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi
dengan kain kering dan kasar.
Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya yang steril,
tabung oksigen dengan selangnya harus sudah ditempat
Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung
Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama (Apgar Score)
Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus
diperhatikan.

7. Merawat tali pusat


Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, ikat atau
11
jepitkan klem plastik tali pusat pada puntung tali pusat.
Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan
klonin 0,5 % untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi
Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengan handuk atau kain
bersih dan kering.
Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan
benang disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastik tali pusat (disinfeksi tingkat
tinggi atau steril). Lakukan simpul kunci atau jepitankan secara mantap klem
tali pusat tertentu.
Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali
pusat dan dilakukan pengikatan kedua dengan simpul kunci dibagian tali
pusat pada sisi yang berlawanan.
Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klonin
0,5%
Selimuti ulang bayi dengan kain bersih dan kering, pastikan bahwa bagian
kepala bayi tertutup dengan baik..(Dep. Kes. RI, 2002)
8. Pencegahan Kehilangan Panas
Mekanisme kehilangan panas
Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi
sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan
permukaan yang dingin, co/ meja, tempat tidur, timbangan yang
temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi
bila bayi diletakkan di atas benda benda tersebut
Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih
dingin, co/ ruangan yang dingin, adanya aliran udara dari kipas angin,
hembusan udara melalui ventilasi, atau pendingin ruangan.
Radiasi
Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda
benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi, karena
12
benda benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak
bersentuhan secara langsung)
Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut :
Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan
taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut
atau kain yang baru (hanngat, bersih, dan kering)
Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan
dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah
kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu
(1) jam pertama kelahiran
Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, sebelum
melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau
selimut bersih dan kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat
bayi pada saat berpakaian/diselimuti dikurangi dengan berat pakaian/selimut.
Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya enam jam setelah lahir.
9. Pencegahan Infeksi
Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum
dimandikan
Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem,
gunting, penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi
tingkat tinggi atau steril.
Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk
bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita
pengukur, termometer, stetoskop.
Memberikan vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi
13
baru lahir normal atau cukup bulan perlu di beri vitamin K per oral 1 mg /
hari selama 3 hari, dan bayi beresiko tinggi di beri vitamin K parenteral
dengan dosis 0,5 1 mg IM.
Memberikan obat tetes atau salep mata
Untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual)
perlu diberikan obat mata pada jam pertama persalinan, yaitu pemberian obat
mata eritromisin 0.5 % atau tetrasiklin 1 %, sedangkan salep mata biasanya
diberikan 5 jam setelah bayi lahir.
Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan ini dapat dikerjakan setelah
bayi selesai dengan perawatan tali pusat
10. PemeriksaanFisikBayiBaruLahir
Kegiatan ini merupakan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan yang
bertujuan untuk memastikan normalitas & mendeteksi adanya penyimpangan
dari normal.Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang seberapa baik
bayi melakukan penyesuaian terhadap kehidupan di luar uterus dan bantuan
apa yang diperlukan. Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi
tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi
tampak tidak sehat.
Prinsip pemeriksaan bayi baru lahir
Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan
Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tangan
Pastikan pencahayaan baik
Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka bagian yangg akan
diperiksa (jika bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar)
dan segera selimuti kembali dengan cepat
Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh
11. Imunisasi BCG, hepatitis B dan polio oral
2. Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir dilaksanakan pada 0 28 hari
(kunjungan neonatus)
Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang
paling rentan atau memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya
kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan
melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kepada
neonatus (0-28 hari). Dalam pelayanan kesehatan neonatus, petugas selain
14
melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga memberikan konseling perawatan
bayi kepada ibu.
3. Penyuluhan kepada ibu tentang pemberian ASI eksklusif untuk bayi dibawah 6
bulan dan makanan pendamping ASI (MPASI) untuk bayi diatas 6 bulan;
Petugas kesehatan sangat berperan dalam keberhasilan proses menyusui,
dengan cara memberikan konseling tentang ASI sejak kehamilan, melaksanakan
inisiasi menyusui dini (IMD) pada saat persalinan dan mendukung pemberian ASI
ekslusif setelahnya.
4. Pemantauan tumbuh kembang bayi untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang
anak melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang bayi
Deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang mencakup :
a. Aspek Pertumbuhan:
1) Timbang berat badannya (BB)
2) Ukur tinggi badan (TB) dan lingkar kepalanya (LK)
3) Lihat garis pertambahan BB, TB dan LK pada grafik
b. Aspek Perkembangan:
1) Tanyakan perkembangan anak dengan KPSP (Kuesioner Pra Skrining
Perkembangan)
2) Tanyakan daya pendengarannya dengan TDD (Tes Daya Dengar)
3) tanyakan daya penglihatannya dengan TDL (Tes Daya Lihat),
c. Aspek Mental Emosional:
1) KMEE (Kuesioner Masalah Mental Emosional)
2) CHAT (Check List for Autism in Toddles = Cek Lis Deteksi Dini
Autis)
3) GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas)
5. Pemberian obat yang bersifat sementara pada penyakit ringan sepanjang sesuai
dengan obat-obatan yang sudah ditetapkan dan keperluan segera merujuk pada
dokter.
Diantaranya bisa dengan:
a. Manajemen Terpadu Bayi Sakit (MTBS):
1) melakukan kunjungan neonatal oleh bidan desa/kelurahan
2) upaya pemeriksaan kesehatan terpadu pada bayi muda dan balita
b. Pelayanan Pengobatan
1) pemeriksaan kejadian kesakitan (morbiditas)
15
2) perawatan kesehatan dan penanganan medis
Pemberian dosis obat pada bayi sering kali berbeda, mengingat anak masih
dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Pada anak yang lahir premature ,
penetapan dosis yang diberikan sangat sulit karna fungsi organ belum berfungsi
sempurna sehingga proses absorbs,distribusi, metabolism dan eksresi tidak
maksimal yang kadang menimbulkan efeksamping yang lebih besar dibandingkan
efek terapinya. Pada prinsipnya dosis ditentukan dengan dua standar, yakni
berdasarkan dengan luas permukaan tubuh dan berat badan.
B. PELAYANAN KESEHATAN PADA BALITA
Beberapa faktor yang sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan dan
perkembangan Balita, yaitu:
1. Keluarga Berencana
Dalam mempersiapkan anak yang berkualitas, maka sejak dari mulai
terjadi pembuatan sampai dianya menjadi dewasa haruslah dilakukan
pemeliharaan dan penjagaan yang seksama agar tumbuh kembang anak
tersebut tidak mengalami kegagalan. Faktor anak selama dalam kandungan
akan sangat mempengaruhi dalam proses tumbuh kembang anak
dikemudian hari. Sebagai contoh dari seorang ibu yang sehat dan
memelihara kandungannya secara seksama, berarti ibu tersebut telah
mempersiapkan sejak awal suatu keturunan yang dapat diharapkan sebagai
generasi penerus yang berkualitas. Hal ini secara umum tidak akan sama
bila sang Ibu sejak dini tidak terlibat dalam mempersiapkannya. Keikut
sertaan ibu dalam keluarga berencana, sehingga proses persalinan yang
ideal dapat dipenuhi dan ini akan sangat membantu kesehatan ibu dan anak
yang akan dilahirkannya. Sebagai contoh seorang ibu hendaklah jangan
melahirkan terlalu dini, ataupun terlalu lambat, begitu juga sebaiknya
seorang ibu janganlah melahirkan terlalu sering dan janganlah mempunyai
anak terlalu banyak.
2. Pemberian Kebutuhan Nutrisi Yang Baik pada Anak
Dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik seorang anak, pemberian
makanan yang bergizi mutlak sangat diperlukan. Anak dalam pertumbuhan
dan perkembangannya mempunyai beberapa fase yang sesuai dengan umur
si anak, yaitu fase pertumbuhan cepat dan fase pertumbuhan lambat. Bila
kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi, maka akan terjadi gangguan gizi pada
16
anak tersebut yang mempunyai dampak dibelakang hari baik bagi
pertumbuhan dan perkembangan fisik anak tersebut maupun gangguan
intelegensia.
Untuk Tumbuh Kembang Anak Pesan Utamanya Adalah:
Asi saja (ASI ekslusif) adalah makanan terbaik bagi kehidupan bayi 4-
6 bulan pertama kehidupan.
Pasca umur 4-6 bulan, bayi memerlukan makanan lain disamping ASI
Anak dibawah 3 tahun membutuhkan 5-6 kali sehari
Anak dibawah 3 tahun membutuhkan sejumlah/sedikit lemak atau
minyak ditambahkan dalam makanannya sehari-hari.
Semua anak membutuhkan makanan kaya Vitamin A
Sesudah sakit, anak membutuhkan extra meals untuk mengejar (catch
up) kehilangan pertumbuhan selama sakit
3. Pemberian Kapsul Vitamin A
Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat
diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata ( agar dapat
melihat dengan baik ) dan untuk kesehatan tubuh yaitu meningkatkan daya
tahan tubuh, jaringan epitel, untuk melawan penyakit misalnya campak,
diare dan infeksi lain. Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan pada
beberapa sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan
terhadap Vitamin A, yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A
dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam 1
tahun
Vitamin A terdiri dari 2 jenis :
Kapsul vitamin A biru ( 100.000 IU ) diberikan pada bayi yang berusia 6-
11 bulan satu kali dalam satu tahun
Kapsul vitamin A merah ( 200.000 IU ) diberikan kepada balita
Kekurangan vitamin A disebut juga dengan xeroftalmia ( mata kering).
Hal ini dapat terjadi karena serapan vitamin A pada mata mengalami
pengurangan sehingga terjadi kekeringan pada selaput lendir atau
konjungtiva dan selaput bening ( kornea mata ).
Pemberian vitamin A termasuk dalam program Bina Gizi yang
dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan setiap 6 bulan yaitu bulan

17
Februari dan Agustus, anak-anak balita diberikan vitamin A secara
gratis dengan target pemberian 80 % dari seluruh balita. Dengan
demikian diharapkan balita akan terlindungi dari kekurangan vitamin
A terutama bagi balita dari keluarga menengah kebawah.
4. Pencegahan Muntah Dan Menceret
Penyakit ini paling sering menyerang Balita. Muntah menceret pada
bayi dan anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
Infeksi pada saluran cerna sendiri
Intoleransi terhadap makanan yang diberikan dan
Infeksi lainnya diluar saluran cerna.
Pada saat ini penanganan muntah menceret haruslah dilaksanakan
sesegera mungkin, yaitu dimulai pemberian terapi sejak dari rumah.
(therapy begin at home), seperti pemberian oralit, tablet zinc, dll.
5. Pencegahan Infeksi Saluran Nafas Akut
Penyakit ini merupakan penyakit yang tersering dijumpai pada anak
Balita, baik yang hanya berupa untuk pilek biasa sampai dengan adanya
infeksi pada saluran nafas bawah, yaitu infeksi yang mengenai paru-paru.
6. Vaksinasi Atau Imunisasi.
Pada saat sekarang ini vaksin yang dapat digunakan dalam pencegahan
penyakit telah banyak beredar di Indonesia, dan hasil daya lindung yang
ditimbulkannya juga telah terbukti bermanfaat.imunisasi wajib
diantaranya:
1. BCG :
Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit tuberkulosis.
Pada anak yang telah mendapat vaksinasi BCG diharapkan dianya
kan terhindar dari penyakit tuberkulosis, ataupun kalau terinfeksi
bentukna adalah ringan, tidak menimbulkan infeksi yang berat
seperti tuberkulosis otak, tulang ataupun melibatkan organ tubuh
yang lain.

2. Polio Oral Vaksin:

18
Mengandung tiga macam virus hidup yang telah dilemahkan,
yang dapat digunakan dalam memberikan daya lindung terbadap
kelumpuhan dan kematian
3. Vaksin Hepatitis B :
Pemberian vaksin ini sangat bermanfaat untuk memberikan
perlindungan agar tidak terjadi penyakit hati yang kronis, yang rasa
berlanjut dengan terjadi karsinoma hati.
4. Vaksin campak:
Memberi kekebalan terhadap penyakit campak
5. DPT
Memberikan kekebalan terhadap penyakit dipteri pertusis dan
tetanus
7. Posyandu
1. Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk
balita mencakup :
1)Penimbangan berat badan
2) Penentuan status pertumbuhan
3) Penyuluhan
4) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan
kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang, apabila
ditemukan kelainan, segera ditunjuk ke Puskesmas
C. PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA/ DETEKSI DINI
1. Pemantauan tumbuh kembang bayi, balita dan anak prasekolah/ deteksi
dini
Deteksi dini tumbuh kembang bayi, balita dan anak prasekolah adalah
kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan
tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah.
Ada tiga jenis deteksi dini tubuh kembang yang dapat dikerjakan oleh
tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa:
Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan,meliputi:
Pengukuran berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB)
Pengukuran lingkar kepala

19
2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, meliputi:
a. Skrining / pemeriksaan perkembangan anak menggunakan kuesioner
pra skrining perkembangan (KPSP)
b. Tes daya dengar
c. Tes daya lihat
3. Deteksi dini penyimpangan mental omosional
Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan /
pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental
emosional, autism dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
pada anak, agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Bila
penyimpangan mental emosional terlambat diketahui, maka intervensinya
akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
D. IMUNISASI
Imunisasi adalah suatu proses untuk membuat sistem pertahanan tubuhkebal
terhadap infasi mikroorganisme (bakteri dan virus). Yang dapatmenyebabkan
infeksi sebelum mikroorganisme tersebut memiliki kesempatanuntuk menyerang
tubuh kita. Dengan imunisasi tubuh kita akan terlindungi dariinfeksi begitu pula
orang lain. Karena tidak tertular dari kita
Tujuan Imunisasi yaitu untuk mengurangi angka oenderitaan suatu penyakit
yang sangat membahayakan kesehatan bahkan hingga menyebabkan kematian.
Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yaitu:
1. Hepatitis.
2. Campak.
3. Polio.
4. Difteri.
5. Tetanus.
6. Batuk Rejan.
7. Gondongan
8. Cacar air
9. TBC

20
Macam-Macam Imunisasi
A. Imunisasi Aktif.
Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seorang karena tubuh yangsecara aktif
membentuk zat antibodi, contohnya: imunisasi polio ataucampak . Imunisasi aktif
juga dapat di bagi 2 macam:
Imunisasi aktif alamiahAdalah kekebalan tubuh yang secara ototmatis di peroleh
sembuhdari suatu penyakit
Imunisasi aktif buatan adalah kekebalan tubuh yang didapat setelah vaksinasi
B. Imunisasi Pasif
Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seseorang yang zat kekebalantubuhnya
di dapat dari luar.Contohnya Penyuntikan ATC (Anti tetanusSerum).Pada orang
yang mengalami luka kecelakaan. Contah lain adalah:Terdapat pada bayi yang baru
lahir dimana bayi tersebut menerimaberbagi jenis antibodi dari ibunya melalui darah
placenta selama masakandungan.misalnya antibodi terhadap campak. Imunisasi pasif
ini dibagi yaitu:
1. Imunisai pasif alamiahAdalah antibodi yang di dapat seorang karena di turunkan
oleh ibu yang merupakan orang tua kandung langsung ketika beradadalam
kandungan.
2. Imunisasi pasif buatan.Adalah kekebalan tubuh yang di peroleh karena suntikan
serumuntuk mencegah penyakit tertentu

Jenis-Jenis Imunisasi

1. Imunisai BCG adalah prosuder memasukkan vaksin BCG yang bertujuanmemberi


kekebalan tubuh terhadap kuman mycobakterium tuberculosisdengan cara
menghambat penyebaran kuman.
2. Imunisasi hepatitis B adalah tindakan imunisasi dengan pemberianvaksin hepatitis
B ke tubuh bertujuan memberi kekebalan dari penyakithepatitis.
3. Imunisasi polio adalah tindakan memberi vaksin poli (dalam bentuk oral)atau di
kenal dengan nama oral polio vaccine (OPV) bertujuan memberikekebalan dari
penyakit poliomelitis.Imunisasi dapat di berikan empatkali dengan 4-6 minggu.
4. Imunisasi DPT adalah merupakan tindakan imunisasi dengan memberivaksin DPT
(difteri pertusis tetanus) /DT (difteri tetanus) pada anak yang bertujuan memberi
kekebalan dari kuman penyakit difteri,pertusis,dantetanus. Pemberian vaksin
pertama pada usia 2 bulan dan berikutnya dengan interval 4-6 minggu.
21
5. Imunisasi campak adalah tindakan imunisasi dengan memberi vaksin campak
pada anak yang bertujuan memberi kekebalan dari penyakit campak. Imunisasi
dapat di berikan pada usia 9 bulan secara subkutan,kemudian ulang dapat
diberikan dalam waktu interval 6 bulanatau lebih setelah suntikan pertama . (
Asuhan neonatus bayi dan balita :98-101)
6. Mekanisme Imunisasi Dalam Proses PencegahanPenyakit
7. Imunisasi bekerja dengan cara merangsang pembentukan antibodi
terhadaporganisme tertentu,tanpa menyebabkan seorang sakit.
2.3 Pertolongan Pertama Kegawat Daruratan Obstetric dan Neonates
1. KEGAWATAN PADA PRE-EKLAMSIA

A. Definisi
Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan
disertai dengan proteinuria (Prawirohardjo, 2008).Diagnosis pre-eklamsia
ditegakkan berdasarkan adanya dua dari tiga gejala, yaitu penambahan berat badan
yang berlebihan, edema, hipertensi dan proteinuria. Penambahan berat badan yang
berlebihan bila terjadi kenaikan 1 Kg seminggu berapa kali. Edema terlihat
sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka.
Tekanan darah > 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat >30 mmHg atau
tekanan diastolik >15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30
menit.(Kapita Selekta Kedokteran, Mansjoer Arif, Media Aesculapius, Jakarta,
2000).
B. Etiologi
Penyebab pre-eklamsi belum diketahui secara pasti, banyak teori yang coba
dikemukakan para ahli untuk menerangkan penyebab, namun belum ada jawaban
yang memuaskan. Teori yang sekarang dipakai adalah teori Iskhemik plasenta.
Namun teori ini juga belum mampu menerangkan semua hal yang berhubungan
dengan penyakit ini. (Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo,
Fak. UI Jakarta, 1998).

22
C. Klasifikasi Pre-eklamsi
Pre-eklamsia digolongkan menjadi 2 golongan :
Pre-eklamsia ringan :
Kenaikan tekanan darah diastolik 15 mmHg atau >90 mmHg dengan 2
kali pengukuran berjarak 1jam atau tekanan diastolik sampai
110mmHg.
Kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg atau > atau mencapai 140
mmHg.
Protein urin positif 1, edema umum, kaki, jari tangan dan muka.
Kenaikan BB > 1Kg/mgg.
Pre-eklampsia berat :
Tekanan diastolik >110 mmhg, Protein urin positif 3, oliguria (urine,
5gr/L). hiperlefleksia, gangguan penglihatan, nyeri epigastrik, terdapat
edema dan sianosis, nyeri kepala, gangguan kesadaran.
D. Patologi
Pre-eklamsi ringan jarang sekali menyebabkan kematian ibu. Oleh karena itu,
sebagian besar pemeriksaaan anatomik patologik berasal dari penderita eklampsi
yang meninggal. Pada penyelidikan akhir-akhir ini dengan biopsi hati dan ginjal
ternyata bahwa perubahan anatomi-patologik pada alat-alat itu pada pre-eklamsi
tidak banyak berbeda dari pada ditemukakan pada eklamsi. Perlu dikemukakan
disini bahwa tidak ada perubahan histopatologik khas pada pre-eklamsi dan
eklamsi. Perdarahan, infark, nerkosis ditemukan dalam berbagai alat tubuh.
Perubahan tersebut mungkin sekali disebabkan oleh vasospasmus arteriola.
Penimbunan fibrin dalam pembuluh darah merupakan faktor penting juga dalam
patogenesis kelainan-kelainan tersebut.
E. Perubahan-perubahan pada organ :

1. Perubahan hati

- Perdarahan yang tidak teratur

- Terjadi nekrosis, trombosis pada lobus hati

- Rasa nyeri di epigastrium karena perdarahan subkapsuler

2. Retina

23
- Spasme areriol, edema sekitar diskus optikus

- Ablasio retina (lepasnya retina)

- Menyebabkan penglihatan kabur

3. Otak

- Spasme pembuluh darah arteriol otak menyebabkan anemia jaringan otak,


perdarahan dan nekrosis

- Menimbulkan nyeri kepala yang berat

4. Paru-paru

- Berbagai tingkat edema

- Bronkopnemonia sampai abses

Menimbulkan sesak nafas sampai sianosis

5. Jantung

- Perubahan degenerasi lemak dan edema

- Perdarahan sub-endokardial

- Menimbulkan dekompensasio kordis sampai terhentinya fungsi jantung

6. Aliran darah keplasenta

- Spasme arteriol yang mendadak menyebabkan asfiksia berat sampai kemaian janin

- Spasme yang berlangsung lama, mengganggu pertumbuhan janin

7. Perubahan ginjal

- Spasme arteriol menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun sehingga fitrasi


glomerolus berkurang

- Penyerapan air dan garam tubulus tetap terjadi retensi air dan garam

- Edema pada tungkai dan tangan, paru dan organ lain

24
8. Perubahan pembuluh darah

- Permeabilitasnya terhadap protein makin tinggi sehingga terjadi vasasi protein ke


jaringan

- Protein ekstravaskuler menarik air dan garam menimbulkan edema

- Hemokonsentrasi darah yang menyebabkan gangguan fungsi metabolisme tubuh dan


trombosis.

(Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan


Bidan, Ida Bagus Gede Manuaba, Jakarta : EGC, 1998).

F. Gambaran Klinik Pre-Eklampsi


Dimulai dengan kenaikan berat badan diikuti edema. Pada kaki dan tangan,
kenaikan tekanan darah, dan terakhir terjadi proteinuria. Pada pre-eklamsi ringan
gejala subjektif belum dijumpai, tetapi pada pre-eklamsia berat diikuti keluhan
sebagai berikut :

- Sakit kepala terutama daerah frontal

- Rasa nyeri daerah epigastrium

- Gangguan penglihatan

- Terdapat mual samapi muntah

- Gangguan pernafasan sampai sianosis

- Gangguan kesadaran

G. Diagnosis

Pada umumnya diagnosis diferensial antara pre-eklamsia dengan hipertensi


manahun atau penyakit ginjal tidak jarang menimbulkan kesukaran. Pada hipertensi
menahun adanya tekanan darah yang meninggi sebelum hamil.pada keadaan muda
atau bulan postpartum akan sangat berguna untuk membuat diagnosis.Untuk diagnosis
penyakit ginjal saat timbulnya proteinuria banyak menolong. Proteinuria pada pre-
eklamsia jarang timbul sebelum TM ke 3, sedangkan pada penyakit ginjal timbul
lebih dulu.

25
(Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo, Fak. UI Jakarta, 1997).

H. Pencegahan Pre-Eklamsia

Belum ada kesepakatan dalam strategi pencegahan pre-eklamsia. Beberapa penelitian


menunjukkan pendekatan nutrisi (diet rendah garam, diit tinggi protein, suplemen kalsium,
magnesium dan lain-lain). Atau medikamentosa (teofilin, antihipertensi, diuretic, asapirin,
dll) dapat mengurangi timbulnya pre-eklamsia.

(Kapita Selekta Kedokteran, Mansjoer Arif Media Aesculapius, Jakarta : 2000)

I. Penanganan

Tujuan utama penanganan ialah :

- Pencegahan terjadi pre-eklamsia berat dan eklamsia

- Melahirkan janin hidup

- Melahirkan janin dengan trauma sekecil kecilnya.

Jika salah satu diantara gejala atau tanda berikut ditemukan pada ibu hamil, dapat diduga ibu
tersebut mengalami preeklamsia

1. Tekanan darah 160/110 mmHg.

2. Oligouria, urin kurang dari 400 cc/ 24 jam.

3. Proteinuria, lebih dari 3g/ liter.

4. Keluhan subyektif (nyeri epigastrium, gangguan penglihatan, nyeri kepala, edema paru,
sianosis, gangguan kesadaran).

5. Pada pemeriksaan, ditemukan kadar enzim hati meningkat disertai ikterus, perdarahan pada
retina, dan trombosit kurang dari 100.000/ mm.

Diagnosis eklamsia harus dapat dibedakan dari epilepsy, kejang karena obat anesthesia, atau
koma karena sebab lain seperti diabetes. Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan
janin.

Sebagai pengobatan untuk mencegah timbulnya kejang dapat diberikan :

26
1. Larutan magnesium sulfat 40% sebanyak 10 ml (4 gram) disuntikkan intra muskulus pada
bokong kiri dan kanan sebagai dosis permulaan, dan dapat diulang 4 gram tiap jam menurut
keadaan. Obat tersebut selain menenangkan juga menurunkan tekanan darah dan
meningkatkan dieresis.

2. Klorpomazin 50 mg intramuskulus.

3. Diazepam 20 mg intramuskulus.

Penanganan kejang dengan memberi obat anti-konvulsan, menyediakan perlengkapan untuk


penanganan kejang (jalan napas, masker,dan balon oksigen), memberi oksigen 6 liter/menit,
melindungi pasien dari kemungkinan trauma tetapi jangan diikat terlalu keras, membaringkan
pasien posisi miring kiri untuk mengurangi resiko respirasi. Setelah kejang, aspirasi mulut
dan tenggorok jika perlu.

Penanganan umum meliputi :

1. Jika setelah penanganan diastolik tetap lebih dari 110 mmHg, beri obat anti hipertensi
sampai tekanan diastolik di antara 90-100mmHg.

2. Pasang infus dengan jarum besar (16G atau lebih besar).

3. Ukur keseimbangan cairan jangan sampai terjadi overload cairan.

4. Kateterisasi urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria.

5. Jika jumlah urin kurang dari 30 ml/jam, hentikan magnesium sulfat dan berikan cairan IV
NaCl 0,9% atau Ringer laktat 1 L/ 8 jam dan pantau kemungkinan edema paru.

6. Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi muntah dapat mengakibatkan
kematian ibu dan janin.

7. Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan denyut jantung tiap jam.

8. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru.

9. Hentikan pemberian cairan IV dan beri diuretic (mis: furosemid 40 mg IV sekali saja jika
ada edema paru).

10. Nilai pembekuan darah jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit (kemungkinan
terdapat koagulopati).

27
2. KEGAWATAN PADA HPP (HEMORRHAGIC POST PARTUM)

Perdarahan setelah melahirkan atau hemorrhagic post partum (HPP) adalah konsekuensi
perdarahan berlebihan dari tempat implantasi plasenta, trauma di traktus genitalia dan
struktur sekitarnya, atau keduanya.

Perdarahan post partum dini jarang disebabkan oleh retensi potongan plasenta yang kecil,
tetapi plasenta yang tersisa sering menyebabkan perdarahan pada akhir masa nifas. Kadang-
kadang plasenta tidak segera terlepas. Bidang obstetri membuat batas-batas durasi kala tiga
secara agak ketat sebagai upaya untuk mendefenisikan retensio plasenta shingga perdarahan
akibat terlalu lambatnya pemisahan plasenta dapat dikurangi. Combs dan Laros meneliti
12.275 persalinan pervaginam tunggal dan melaporkan median durasi kala III adalah 6 menit
dan 3,3% berlangsung lebih dari 30 menit. Beberapa tindakan untuk mengatasi perdarahan,
termasuk kuretase atau transfusi, menigkat pada kala tiga yang mendekati 30 menit atau
lebih.

Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah pada sebelum hamil dan derajat
anemia saat kelahiran. Gambaran perdarahan post partum yang dapat mengecohkan adalah
nadi dan tekanan darah yang masih dalam batas normal sampai terjadi kehilangan darah yang
sangat banyak.

A. Klasifikasi

Klasifikasi perdarahan postpartum :

1. Perdarahan post partum primer / dini (early postpartum hemarrhage)

Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utamanya adalah atonia uteri,
retention plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir. Banyaknya terjadi pada 2 jam
pertama

2. Perdarahan Post Partum Sekunder / lambat (late postpartum hemorrhage)

Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama.

B. Etiologi

Etiologi dari perdarahan post partum berdasarkan klasifikasi dan penyebabnya :

Perdarahan postpartum dini

28
1. Atonia uteri

Keadaan lemahnya tonus/konstraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup
perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir. (Merah)
Pada atonia uteri uterus terus tidak mengadakan konstraksi dengan baik, dan ini merupakan
sebab utama dari perdarahan post partum.

Faktor predisposisi terjadinya atoni uteri adalah :

a. Regangan rahim yang berlebihan karena gemeli, polihidroamnion, atau anak terlalu besar

b. Kelelahan karena persalinan lama atau persalinan lama atau persalinan kasep.

c. Ibu dengan keadaan umum yang jelek, anemis, atau menderita penyakit menahun.

d. Mioma uteri yang mengganggu kontraksi rahim.

e. Infeksi intrauterin (korioamnionitis)

f. Ada riwayat pernah atonia uteri sebelumnya.

g. Umur yang terlalu muda / tua

h. Prioritas sering di jumpai pada multipara dan grande mutipara

i. Faktor sosial ekonomi yaitu malnutrisi

2. Robekan jalan lahir

Perdarahan dalam keadaan di mana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik,
dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir.

Perlukaan jalan lahir terdiri dari:

a. Robekan Perineum

Dibagi atas 4 tingkat

Tingkat I : robekan hanya pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit
perineum

Tingkat II : robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis, tetapi tidak
mengenai sfingter ani

29
Tingkat III : robekan mengenai seluruh perineum dan otot sfingter ani

Tingkat IV : robekan sampai mukosa rektum

Kolporeksis adalah suatu keadaan di mana terjadi robekan di vagina bagian atas, sehingga
sebagian serviks uteri dan sebagian uterus terlepas dari vagina. Robekan ini memanjang atau
melingkar.

Robekan serviks dapat terjadi di satu tempat atau lebih. Pada kasus partus presipitatus,
persalinan sungsang, plasenta manual, terlebih lagi persalinan operatif pervaginam harus
dilakukan pemeriksaan dengan spekulum keadaan jalan lahir termasuk serviks.

b. Hematoma vulva

Hematoma yang biasanya terdapat pada daerah-daerah yang mengalami laserasi atau pada
daerah jahitan perineum.

c. Robekan dinding vagina

d. Robekan serviks

Robekan serviks paling sering terjadi pada jam 3 dan 9.

3. Retensio plasenta

plasenta tetap tertinggal dalam uterus 30 menit setelah anak lahir. Plasenta yang sukar
dilepaskan dengan pertolongan aktif kala III dapat disebabkan oleh adhesi yang kuat antara
plasenta dan uterus.

Faktor predisposisi :

a. Plasenta previa

b. Bekas SC

c. Kuret berulang

d. Multiparitas

Penyebab :

a. Fungsional

30
1. HIS kurang kuat

2. Plasenta sukar terlepas karena :

3. Tempatnya : insersi di sudut tuba

4. Bentuknya : placenta membranacea, placenta anularis.

5. Ukurannya : placenta yang sangat kecil

Plasenta yang sukar lepas karena sebab-sebab tersebut di atas disebut plasenta adhesiva

b. Patologi- Anatomis

1. Placenta akreta : vilous plasenta melekat ke miometrium

2. Placenta increta : vilous menginvaginasi miometrium

3. Placenta percreta : vilous menembus miometrium sampai serosa

Plasenta akreta ada yang komplit ialah kalau seluruh permukaannya melekat dengan erat pada
dinding rahim dan ada yang parsialis ialah kalau hanya beberapa bagian dari permukaannya
lebih erat berhubungan dengan dinding rahim dari biasa. Plasenta akreta yang terjadi komplit
begitu juga placenta increta dan percreta jarang terjadi. Sebabnya plasenta akreta adalah
kelainan decidua misalnya desidua yang terlalu tipis. Plasenta akreta menyebabkan retensio
plasenta.

Pada retensio plasenta, sepanjang plasenta belum terlepas, maka tidak akan menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak (perdarahan kala III) dan harus diantisipasi dengan segera
melakukan plasenta manual.

Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar, atau setelah melakukan
plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang tidak lengkap pada saat melakukan
pemeriksaan plasenta dan masih ada perdarahan dari ostium uteri eksternum pada saat
konstraksi rahim sudah baik dan robekan jalan lahir sudah terjahit. Untuk itu, harus dilakukan
eksplorasi ke dalam rahim dengan cara manual atau kuret dan pemberian uterotonika.

4. Gangguan pembekuan darah

Penyebab pendarahan pasca persalinan karena gangguan pembekuan darah baru dicurigai bila
penyebab yang lain dapat disingkirkan apalagi disertai ada riwayat pernah mengalami hal

31
yang sama pada persalinan sebelumnya. Akan ada tendensi mudah terjadi perdarahan setiap
dilakukan penjahitan dan perdarahan akan merembes atau timbul hematoma pada bekas
jahitan, suntikan, perdarahan dari gusi, rongga hidung, dan lain-lain.

Pada pemeriksaan penunjang ditemukan hasil pemeriksaan faal hemostasis yang abnormal.
Waktu perdarahan dan waktu pembekuan memanjang, trombositopenia, terjadi
hipofibrinogenemia, dan terdeteksi adanya FDP (fibrin degradation product) serta
perpanjangan tes protombin dan PTT (partial thromboplastin time).

Predisposisi untuk terjadinya hal ini adalah solusio plasenta, kematian janin dalam
kandungan, eklampsia, emboli cairan ketuban, dan sepsis. Terapi yang dilakukan adalah
dengan transfusi darah dan produknya seperti plasma beku segar, trombosit, fibrinogen dan
heparinisasi atau EACA (epsilon amino caproic acid).

Perdarahan postpartum lambat :

1. Sisa Plasenta

Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan
perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (biasanya terjadi dalam 6 10
hari pasca persalinan). Pada perdarahan postpartum dini akibat sisa plasenta ditandai dengan
perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik. Pada
perdarahan postpartum lambat gejalanya sama dengan subinvolusi rahim, yaitu perdarahan
yang berulang atau berlangsung terus dan berasal dari rongga rahim. Perdarahan akibat sisa
plasenta jarang menimbulkan syok.

Penilaian klinis sulit untuk memastikan adanya sisa plasenta, kecuali apabila penolong
persalinan memeriksa kelengkapan plasenta setelah plasenta lahir. Apabila kelahiran plasenta
dilakukan oleh orang lain atau terdapat keraguan akan sisa plasenta, maka untuk memastikan
adanya sisa plasenta ditentukan dengan eksplorasi dengan tangan, kuret atau alat bantu
diagnostik yaitu ultrasonografi. Pada umumnya perdarahan dari rongga rahim setelah
plasenta lahir dan kontraksi rahim baik dianggap sebagai akibat sisa plasenta yang tertinggal
dalam rongga rahim.

3. Subinvolusi di daerah insersi plasenta

Pada subinvolusio proses mengecilnya uterus terganggu. Faktor yang menyebabkan itu antara
lain tertinggalny aplasenta dan selaput ketuban dalam uterus. Pada peristiwa ini lochea

32
bertambah banyak dan tidak jarang terjadi perdarahan. Pada pemeriksaan ditemukanuterus
lebih besar dan lebih lembek daripada seharusnya, mengingat lamanya masa nifas.

3. Dari luka bekas seksio sesaria

Tanda dan Gejala

Gejala Klinik Atonia Uteri

1. Perdarahan pervaginam masif

2. Konstraksi uterus lemah

3. Anemia

4. Konsistensi rahim lunak,

Klinik Robekan jalan lahir

1. Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir

2. Uterus kontraksi dan keras

3. Plasenta lengkap

4. Pucat dan Lemah

Klinis retensio plasenta

1. Perdarahan pervagina

2. Plasenta belum keluar setelah 30 menit kelahiran bayi

3. Uterus berkonstraksi dan keras

C. Diagnosis

Untuk membuat diagnosis perdarahan postpartum perlu diperhatikan ada perdarahan yang
menimbulkan hipotensi dan anemia. apabila hal ini dibiarkan berlangsung terus, pasien akan
jatuh dalam keadaan syok. perdarahan postpartum tidak hanya terjadi pada mereka yang
mempunyai predisposisi, tetapi pada setiap persalinan kemungkinan untuk terjadinya
perdarahan postpartum selalu ada.

33
Perdarahan yang terjadi dapat deras atau merembes. perdarahan yang deras biasanya akan
segera menarik perhatian, sehingga cepat ditangani sedangkan perdarahan yang merembes
karena kurang nampak sering kali tidak mendapat perhatian. Perdarahan yang bersifat
merembes bila berlangsung lama akan mengakibatkan kehilangan darah yang banyak. Untuk
menentukan jumlah perdarahan, maka darah yang keluar setelah uri lahir harus ditampung
dan dicatat.

Kadang-kadang perdarahan terjadi tidak keluar dari vagina, tetapi menumpuk di vagina dan
di dalam uterus. Keadaan ini biasanya diketahui karena adanya kenaikan fundus uteri setelah
uri keluar. Untuk menentukan etiologi dari perdarahan postpartum diperlukan pemeriksaan
lengkap yang meliputi anamnesis, pemeriksaan umum, pemeriksaan abdomen dan
pemeriksaan dalam.

Pada atonia uteri terjadi kegagalan kontraksi uterus, sehingga pada palpasi abdomen uterus
didapatkan membesar dan lembek. Sedangkan pada laserasi jalan lahir uterus berkontraksi
dengan baik sehingga pada palpasi teraba uterus yang keras. Dengan pemeriksaan dalam
dilakukan eksplorasi vagina, uterus dan pemeriksaan inspekulo. Dengan cara ini dapat
ditentukan adanya robekan dari serviks, vagina, hematoma dan adanya sisa-sisa plasenta.

Diagnosis atonia uteri :

1. Bila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif dan banyak, bergumpal

2. Pada palpasi didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih

3. Konstraksi yang lembek.

4. Perlu diperhatikan pada saat atonia uteri didiagnosis, maka pada saat itu juga masih ada
darah sebanyak 500-1000 cc yang sudah keluar dari pembuluh darah, tetapi masih
terperangkap dalam uterus dan harus diperhitungkan dalam kalkulasi pemberian darah
pengganti.

D. Pencegahan dan Penanganan

Cara yang terbaik untuk mencegah terjadinya perdarahan post partum adalah memimpin kala
II dan kala III persalinan secara lega artis. Apabila persalinan diawasi oleh seorang dokter
spesialis obstetrik dan ginekologi ada yang menganjurkan untuk memberikan suntikan

34
ergometrin secara IV setelah anak lahir, dengan tujuan untuk mengurangi jumlah perdarahan
yang terjadi.

Penanganan umum pada perdarahan post partum :

1. Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal (saat masuk)

2. Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman (termasuk upaya
pencegahan perdarahan pasca persalinan)

3. Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pasca persalinan (di ruang persalinan) dan
lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya (di ruang rawat gabung).

4. Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat

5. Segera lakukan penlilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan
masalah dan komplikasi

6. Atasi syok

7. Pastikan kontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah, lakukam pijatan uterus,
berikan uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infus 20 IU dalam 500cc NS/RL dengan 40 tetesan
permenit.

8. Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap, eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir.

9. Bila perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.

10. Pasang kateter tetap dan lakukan pemantauan input-output cairan

11. Cari penyebab perdarahan dan lakukan penangan spesifik.

Penanganan atonia uteri :

Banyaknya darah yang hilang akan mempengaruhi keadaan umum pasien. Pasien bisa masih
dalam keadaan sadar, sedikit anemis, atau sampai syok berat hipovolemik. Tindakan pertama
yang harus dilakukan bergantung pada keadaan kliniknya. 13

Pada umunya dilakukan secara simultan (bila pasien syok) hal-hal sebagai berikut :

a. Sikap Trendelenburg, memasang venous line, dan memberikan oksigen.

35
b. Sekaligus merangsang konstraksi uterus dengan cara :

- Masase fundus uteri dan merangsang puting susu

- Pemberian oksitosin dan turunan ergot melalui i.m, i.v, atau s.c

- Memberikan derivat prostaglandin

- Pemberian misoprostol 800-1000 ug per rektal

- Kompresi bimanual eksternal dan/atau internal

- Kompresi aorta abdominalis

c. Bila semua tindakan itu gagal, maka dipersiapkan untuk dilakukan tindakan operatif
laparotomi dengan pilihan bedah konservatif (mempertahankan uterus) atau melakukan
histerektomi.

Penanganan Episiotomi, robekan perineum, dan robekan vulva :

Ketiga jenis perlukaan tersebut harus dijahit.

1. Robekan perineum tingkat I

Penjahitan robekan perineum tingkat I dapat dilakukan dengan memakai catgut yang
dijahitkan secara jelujur atau dengan cara jahitan angka delapan (figure of eight).

2. Robekan perineum tingkat II

Sebelum dilakukan penjahitan pada robekan perineum tingkat I atau tingkat II, jika dijumpai
pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi, maka pinggir yang bergerigi tersebut harus
diratakan terlebih dahulu. Pinggir robekan sebelah kiri dan kanan masing-masing dijepit
dengan klem terlebih dahulu, kemudian digunting. Setelah pinggir robekan rata, baru
dilakukan penjahitan luka robekan.

Mula-mula otot-otot dijahit dengan catgut, kemudian selaput lendir vagina dijahit dengan
catgut secara terputus-putus atau delujur. Penjahitan mukosa vagina dimulai dari puncak
robekan. Sampai kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara jelujur.

3. Robekan perineum tingkat III

36
Pada robekan tingkat III mula-mula dinding depan rektum yang robek dijahit, kemudian fasia
perirektal dan fasial septum rektovaginal dijahit dengan catgut kromik, sehingga bertemu
kembali. Ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah akibat robekan dijepit dengan klem /
pean lurus, kemudian dijahit dengan 2 3 jahitan catgut kromik sehingga bertemu lagi.
Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan perineum tingkat II.

4. Robekan perineum tingkat IV

Pada robekan perineum tingkat IV karena tingkat kesulitan untuk melakukan perbaikan
cukup tinggi dan resiko terjadinya gangguan berupa gejala sisa dapat menimbulkan keluhan
sepanjang kehidupannya, maka dianjurkan apabila memungkinkan untuk melakukan rujukan
dengan rencana tindakan perbaikan di rumah sakit kabupaten/kota.

Penangana hematoma :

1. Penanganan hematoma tergantung pada lokasi dan besar hematoma. Pada hematoma yang
kecil, tidak perlu tindakan operatif, cukup dilakukan kompres.

2. Pada hematoma yang besar lebih-lebih disertai dengan anemia dan presyok, perlu segera
dilakukan pengosongan hematoma tersebut. Dilakukan sayatan di sepanjang bagian
hematoma yang paling terenggang. Seluruh bekuan dikeluarkan sampai kantong hematoma
kosong. Dicari sumber perdarahan, perdarahan dihentikan dengan mengikat atau menjahit
sumber perdarahan tersebut. Luka sayatan kemudian dijahit. Dalam perdarahan difus dapat
dipasang drain atau dimasukkan kasa steril sampai padat dan meninggalkan ujung kasa
tersebut diluar.

Penanganan Robekan dinding vagina :

1. Robekan dinding vagina harus dijahit.

2. Kasus kolporeksis dan fistula visikovaginal harus dirujuk ke rumah sakit.

Penanganan robekan serviks :

Bibir depan dan bibir belakang serviks dijepit dengan klem Fenster. Kemudian serviks ditarik
sedikit untuk menentukan letak robekan dan ujung robekan. Selanjutnya robekan dijahit
dengan catgut kromik dimulai dari ujung robekan untuk menghentikan perdarahan.

Penanganan retensio plasenta :

37
1. kalau placenta dalam jam setelah anak lahir, belum memperlihatkan gejala-gejala
perlepasan, maka dilakukan pelepasan, maka dilakukan manual plasenta.

a. Teknik pelepasan placenta secara manual: alat kelamin luar pasien di desinfeksi begitu pula
tangan dan lengan bawah si penolong. Setelah tangan memakai sarung tangan, labia
disingkap, tangan kanan masuk secara obsteris ke dalam vagina. Tangan luar menahan fundus
uteri. Tangan dalam kini menyusuri tali pusat yang sedapat-dapatnya diregangkan oleh
asisten.

b. Setelah tangan dalam sampai ke plasenta, maka tangan pergi ke pinggir plasenta dan
sedapat-dapatnya mencari pinggir yang sudah terlepas.

c. Kemudian dengan sisi tangan sebelah kelingking, plasenta dilepaskan ialah antara bagian
plasenta yang sudah terlepas dan dinding rahim dengan gerakan yang sejajar dengan dinding
rahim. Setelah plasenta terlepas seluruhnya, plasenta dipegang dan dengan perlahan-lahan
ditarik ke luar.

2. Plasenta akreta

Terapi : Plasenta akreta parsialis masih dapat dilepaskan secara manual tetapi plasenta akreta
komplit tidak boleh dilepaskan secara manual karena usaha ini dapat menimbulkan perforasi
dinding rahim. Terapi terbaik dalam hal ini adalah histerektomi.

Pencegahan gangguan pembekuan darah

Klasifikasi kehamilan resiko rendah dan resiko tinggi akan memudahkan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan untuk menata strategi pelayanan ibu hamil saat perawatan antenatal dan
melahirkan dengan mengatur petugas kesehatan mana yang sesuai dan jenjang rumah sakit
rujukan. Akan tetapi, pada saat proses persalinan, semua kehamilan mempunyai resiko untuk
terjadinya patologi persalinan, salah satunya adalah perdarahan pasca persalinan. Antisipasi
terhadap hal tersebut dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Persiapan sebelum hamil untuk memperbaiki keadaan umum dan mengatasi setiap
penyakit kronis, anemia, dan lain-lain sehingga pada saat hamil dan persalinan pasien
tersebut ada dalam keadaan optimal.

38
2. Mengenal factor predisposisi perdarahan pasca persalinan seperti mutiparitas, anak besar,
hamil kembar, hidramnion, bekas seksio, ada riwayat perdarahan pasca persalinan
sebelumnya dan kehamilan resiko tinggi lainnya yang resikonya akan muncul saat persalinan.

3. Persalinan harus selesai dalam waktu 24 jam dan pencegahan partus lama.

4. Kehamilan resiko tinggi agar melahirkan di fasilitas rumah sakit rujukan.

5. Kehamilan resiko rendah agar melahirkan di tenaga kesehatan terlatih dan menghindari
persalinan dukun

6. Menguasai langkah-langkah pertolongan pertama menghadapi perdarahan pasca persalinan


dan mengadakan rujukan sebagaimana mestinya.

Penanganan sisa plasenta

1. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Dalam kondisi
tertentu apabila memungkinkan, sisa plasenta dapat dikeluarkan secara manual.

Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis
dibandingkan dengan kuretase pada abortus.

2. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat
uterotonika melalui suntikan atau per oral.

3.Penemuan secara dini hanya mungkin dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan


plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persalinan
lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ke tempat bersalin dengan keluhan
perdarahan

3. Berikan antibiotika, ampisilin dosis awal 1g IV dilanjutkan dengan 3 x 1g oral


dikombinasikan dengan metronidazol 1g supositoria dilanjutkan dengan 3 x 500mg oral.

4. Lakukan eksplorasi (bila servik terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau jaringan.
Bila servik hanya dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan AMV
atau dilatasi dan kuretase

5. Bila kadar Hb<8 gr% berikan transfusi darah. Bila kadar Hb>8 gr%, berikan sulfas ferosus
600 mg/hari selama 10 hari. 5

39
PENANGANAN SECARA UMUM HEMORAGIC POST PARTUM:

1) Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal (saat masuk)

2) Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman (termasuk upaya
pencegahan perdarahan pasca persalinan)

3) Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pasca persalinan (di ruang persalinan) dan
lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya (di ruang rawat gabung).

4) Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat

5) Segera lakukan penlilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan
masalah dan komplikasi

6) Atasi syok

7) Pastikan kontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah, lakukam pijatan uterus,
berikan uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infus 20 IU dalam 500cc NS/RL dengan 40 tetesan
permenit.

8) Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap, eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir.

9) Bila perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.

10) Pasang kateter tetap dan lakukan pemantauan input-output cairan

11) Cari penyebab perdarahan dan lakukan penangan spesifik.

3. KEGAWATAN PADA ASFIKSIA

Asfiksia neonatorum merupakan suatu kondisi dimana bayi tidak dapat bernapas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan tersebut dapat disertai dengan adanya
hipoksia, hiperkapnea, sampai asidosis. Asfiksia ini dapat terjadi karena kurangnya
kemampuan organ bayi dalam menjalankan fungsinya, seperti pengembangan paru.

Asfiksia neonatarum dapat disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya adalah adanya

(1) penyakit pada ibu sewaktu hamil seperti hipertensi, gangguan atau penyakit paru, dan
gangguan kontraksi uterus;

(2) pada ibu yang kehamilannya beresiko;

40
(3) factor plasenta, seperti janin dengan solusio plasenta;

(4) factor janin itu sendiri, seperti terjadi kelainan pada tali pusat, seperti tali pusat
menumbung atau melilit pada leher atau juga kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir;
serta

(5) factor persalinan seperti partus lama atau partus dengan tindakan tertentu.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada bayi dengan asfiksia neonatorum adalah sebagai berikut :

Pemantauan gas darah, denyut nadi, fungsi system jantung dan paru dengan melakukan
resusitasi, memberikan oksigen yang cukup, serta memantau perfusi jaringan tiap 2-4 jam.

Mempertahankan jalan napas agar tetap baik, sehingga proses oksigenasi cukup agar sirkulasi
darah tetap baik. Cara mengatasi asfiksia adalah sebagai berikut.

Asfiksia Ringan APGAR skor (7-10)

Cara mengatasinya adalah sebagai berikut :

1. Bayi dibungkus dengan kain hangat

2. Bersihkan jalan napas dengan menghisap lender pada hidung kemudian mulut.

3. Bersihkan badan dan tali pusat

4. Lakukan observasi tanda vital, pantau APGAR skor, dan masukkan ke dalam incubator.
Asfiksia Sedang APGAR skor (4-6)

Cara mengatasinya adalah sebagai berikut :

1. Bersihkan jalan napas

2. Berikan oksigen 2 liter per menit

3. Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki. Apabila belum ada reaksi, bantu
pernapasan dengan masker (ambubag).

4. Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis, berikan natrium bikarbonat 7,5%
sebanyak 6cc. Dekstrosa 40% sebanyak 4cc disuntikkan melalui vena umbilikalis secara
perlahan-lahan untuk mencegah tekanan intracranial meningkat.

41
Asfiksia Berat APGAR skor (0-3)

Cara mengatasinya adalah sebagai berikut :

1) Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.

2) Berikan oksigen 4-5 liter per menit.

3) Bila tidak berhasil, lakukan pemasangan ETT (endotracheal tube)

4) Bersihkan jalan napas melalui ETT.

5) Apabila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium bikarbonat 7,5%
sebanyak 6cc. Selanjutnya berikan dekstrosa 40% sebanyak 4cc.

2.4 Pelayanan Kontrasepsi dan Rujuan

A. Pelayanan Kontrasepsi

Pelayanan kontrasepsi ini mempunyai 2 tujuan, yaitu :

1. Tujuan umum :

Pemberian dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan KB yaitu dihayatinya NKKBS.

2. Tujuan pokok :

Penurunan angka kelahiran yang bermakna. Guna mencapai tujuan tersebut maka ditempuh
kebijaksanaan mengkatagorikan tiga fase untuk mencapai sasaran yaitu:

a. Fase menunda perkawinan / kesuburan.

b. Fase menjarangkan kehamilan.

c. Fase menghentikan / mengakhiri kehamilan / kesuburan.

Maksud kebijaksanaan tersebut yaitu untuk menyelamatkan ibu dan anak akibat melahirkan
pada usia muda, jarak kelahiran yang terlalu dekat dan melahirkan pada usia tua. Fase
Menunda / Mencegah Kehamilan Fase menunda kehamilan bagi PUS dengan usia istri
kurang dari 20 tahun dianjurkan.untuk menunda kehamilannya.

42
Alasan menunda / mencegah kehamilan:

1. Umur dibawah 20 tahun adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak dulu
karena berbagai alasan.

2. Prioritas penggunaan kontrasepsi Pil oral, karena peserta masih muda.

3. Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena pasangan muda masih tinggi


frekuensi bersenggamanya, sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi.

4. Pengggunaan IUD Mini bagi yang belum mempunyai anak pada masa ini dapat
dianjurkan, terlebih bagi calon peserta dengan kontra indikasi terhadap Pil oral.

Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan:

1. Reversibilitas yang tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin hampir


100%, karena pada masa ini peserta belum mempunyai anak.

2. Efektivitas yang tinggi, karena kegagalan akan menyebabkan terjadinya kehamilan


dengan risiko tinggi dan kegagalan ini merupakan kegagalan program.

Fase Menjarangkan Kehamilan

Periode usia isteri antara 20 30 / 35 tahun merupakan periode usia paling baik untuk
melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran adalah 2 4 tahun. Ini
dikenal sebagai Catur warga. Alasan menjarangkan kehamilan: Umur antara 20 30 tahun
merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan melahirkan. Segera setelah anak
pertama lahir, maka dianjurkan untuk memakai IUD sebagai pilihan utama.

Kegagalan yang.menyebabkan kehamilan cukup tinggi namun di sini tidak / kurang


berbahaya karena yang bersangkutan ber ada pada usia mengandung dan melahirkan yang
baik. Di sini kegagalan kontrasepsi bukanlah kegagalan program.

Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan : Efektivitas cukup tinggi. Reversibilitas cukup tinggi
karena peserta masih mengharapkan punya anak lagi.

Dapat dipakai 2 sampai 4 tahun yaitu sesuai dengan jarak kehamilan anak yang direncanakan.

43
Tidak menghambat air susu ibu ( ASI ), karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi
sampai umur 2 tahun dan akan mem pengaruhi angka kesakitan dan kematian anak.

Fase Menghentikan / Mengakhiri Kehamilan / Kesuburan

Periode umur isteri di atas 30 tahun, terutama di atas 35 tahun, sebaiknya mengakhiri
kesuburan setelah mempunyai 2 orang anak. Alasan mengakhiri kesuburan :

1. Ibu-ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan untuk tidak hami1 / tidak punya anak
lagi, karena alasan medis dan alasan lainnya.

2. Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap.

3. Pil oral kurang dianjurkan karena usia ibu yang relatif tua dan mempunyai
kemungkinan timbulnya akibat sampingan dan komplikasi.

Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan :

1. Efektivitas sangat tinggi. Kegagalan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan


risiko tinggi bagi ibu dan anak, disamping itu akseptor tersebut memang tidak mengharapkan
punya anak lagi.

2. Dapat dipakai untuk jangka panjang.

3. Tidak menambah kelainan yang sudah ada. Pada masa usia tua kelainan seperti
penyakit jantung, darah tinggi, keganasan dan metabolik biasanya meningkat, oleh karena itu
sebaiknya tidak diberikan cara kontrasepsi yang menambah kelainan tersebut.

B. Memilih Metode Kontrasepsi

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik ialah :

1. Aman / tidak berbahaya.

2. Dapat diandalkan.

3. Sederhana, sedapat dapatnya tidak usah dikerjakan oleh seorang dokter.

4. Murah.

44
5. Dapat diterima oleh orang banyak.

6. Pemakaian jangka lama ( continuation rate tinggi ).

Faktor faktor dalam memilih metode kontrasepsi :

1. Faktor pasangan Motivasi dan Rehabilitas:

a. Umur.

b. Gaya hidup.

c. Frekuensi senggama.

d. Jumlah keluarga yang diinginkan.

e. Pengalaman dengan kontraseptivum yang lalu.

f. Sikap kewanitaan.

g. Sikap kepriaan.

2. Faktor kesehatan Kontraindikasi absolut atau relatif :

a. Status kesehatan.

b. Riwayat haid.

c. Riwayat keluarga.

d. Pemeriksaan fisik.

e. Pemeriksaan panggul.

3. Faktor metode kontrasepsi Penerimaan dan pemakaian berkesinambungan :

a. Efektivitas.

b. Efek samping minor.

c. Kerugian.

d. Komplikasi komplikasi yang potensial.

45
e. Biaya

C. Macam-Macam KB

1. Suntikan KB

Suntik kb biasanya mengandung 150 mg./3ml. depo medroxy progesterone acetate (DMPA)
steril yang dilarutkan dalam air dan hanya mngandung progesterone sintetis, sama dengan
hormone alami yang diproduksi tubuh wanita setelah disuntik secara intramaskuler hormone
tersebut akan dilepas pelan-pelan kedalam aliran darah. Suntikan kb yang terdaftar dengan
merk depo progestin adalah alat kontrasepsi jangka waktu lama dan diberikan tiap 3 bulan.

Mekanisme Kerja

1. Mencegah pelepasan telur, sehingga tidak terjadi pembuahan.

2. Memperkental lendir-lendir rahim sehingga mencegah sperma masuk ke dalam


ramim, karena itu mengurangi kemungkinan pembuahan dan kehamilan.

3. Menipiskan dinding rahim, sehingga tidak siap untuk kehamilan.

4. Menghambat pematangan sel telur.

Efektifitas.

Bila digunakan setiap 3 bulan akan 99.7% ampuh untuk mencegah kehamilan yang tidak
dikehendaki.

Kelebihan.

1. Mudah digunakan, hanya sekali suntik tiap 3 bulan dan bisa kembali subur bila
dihentikan.

46
2. Bisa digunkan ibu menyusui 6 minggu setelah melahirkan dan tidak mempengaruhi
ASI.

3. Memberi perlindungan terhadap kanker rahim, kanker indung telur, dan pengkakan
pinggul.

4. Memperkecil kurang darang dan nyeri haid.

5. Tidak mengganggu hubungan seks dan tidak kuatir akan terjadi kehamilan, sehingga
lebih bisa menikmati.

6. Bisa digunakan bagi perempuan yang sudah puanya anak ataupun belum.

7. Untuk kunjungan ulang tidak perlu terlalu tepat waktu.

Kekurangan.

1. Di awal pemakaian bisa terjadi pendarahan ringan atau bercak darah.

2. Masih terjadi kemungkinan hamil.

3. Berhenti haid yang bisa terjadi setelah setahun menggunakan, namun ada yang
menganggapnya sebagai manfaat.

4. Bisa mengakibatkan berat badan, rata-rata 1 sampe 2 kg di tahun pertama, namun ada
yang menganggapnya sebagai manfaat.

5. Kesuburan lambat kembali, sampai tingkat DMPA dalam tubuh menurun, dan butuh
waktu 4 bulan atau lebih bila dibandingkan dengan pil, IUD, atau kondom.

6. Perlu kembali mendapatkan suntikan setelah 3 bulan.

7. Tidak bisa segera dihentikan atau dikeluarkan dari tubuh bila ingin hamil atau terjadi
efek samping.

8. Tidak bisa member perlindungan terhadap IMS atau HIV/AIDS

Suntikan tidak dapat diberikan jika :

47
1. Tekanan darah tinggi.

2. Menyusui 6 minggu atau kurang.

3. Kemungkinan hamil.

Suntikan dapat diberikan jika :

Pascapersalinan.

1. Segera ketika masih dirumah sakit.

2. Jadwal suntikan berikutnya.

Pasca abortus.

1. Segera setelah perawatan.

2. Jadwal waktu suntikan diperhitungkan.

Interval.

1. Hari kelima menstruasi.

2. Jadwal hari diperhitungkan.

2. Pil KB

Pil KB adalah pil dosis rendah yang mengandung hormon yang sama dengan yang diproduksi
tubuh wanita, estrogen dan progesterone. Satu blister berisi 28 pil yang terdiri dari 21 butir
pil aktif dan 7 pil pengingat yang tidak berisi hormon dan diberi warna beda.

Mekanisme Kerja.

1. Mencegah pelepasan telur, sehingga tidak terjadi pembuahan.

2. Memperkental lendir leher rahim sehingga mencegah sperma masuk kedalam rahim,
karena itu mengurangi kemungkinan pembuahan dan kehamilan.

48
3. Menipiskan dinding rahim, sehingga tidak siap untuk kehamilan.

Efektifitas.

Bila digunakan secara benar dan tiada putus 99.9% ampuh untuk mencegah kehamilan yang
tidak dikehendaki.

Kelebihan.

1. Sangat ampuh bial digunakan secara benar dan tidak putus.

2. Tidak mengganggu hubungan seks dan tidak kuatir akan terjadi kehamilan, sehingga
lebih bisa dinikmati.

3. Bisa digunakan segala usia, dari remaja hingga menopause.

4. Kesuburan segerah kembali setelah dihentikan.

5. Bisa mencegah kehamilan di luar rahim, kanker rahim, kanker indung telur, kista,
penyakit payudara.

6. Mengatur siklus haid, mengurangi rasa sakit haid dan mengurangi jerawat.

7. Dapat meningkatkan libido.

Kekurangan.

Efek samping yang bisa terjadi :

1. Mual yang biasa terjadi pada 3 bulan pertama.

2. Pendarahan atau bercak darah di antara masa haid, terutama bila lupa minum pil atau
terlambat.

3. Sakit kepala ringan.

4. Tumbuh akne.

49
5. Rambu rontok.

6. Payudara lembek.

7. Berat badan naik sedikit (bagi sebagian oaring merupakan manfaat).

8. Berhenti haid.

9. Satu blister pil harus ter sediah tiap 28 jam hari.

10. Tidak dianjurkan bagi yang sedang menyusui, karena akan mempengaruhi kualitas
dan kuantitas ASI.

11. Walau sangat jarang terjadi, gangguan emosi termasuk depresi.

12. Tidak member perlindungan terhadap penyakit kelamin dan HIV/AIDS.

13. Walu sangat jarang, perempuan yang mengidap darah tinggi atau yang berusia 35
tahun ke atas dan merokok lebih terserang stroke, serangan jantung atau pengumpulan darah
dalam pembuluh.

Petunjuk pil KB

1. Minum pil KB dengan teratur

2. Bila lupa, maka pil KB yang harus diminum menjadi 2 buah.

3. Bila perdarahan, tidak memerlukan perhatian karena belum beradaptasi.

4. Gangguan ringan dalam bentuk : mual-muntah, sebaiknya diatasi. Bila komplikasi


berat dalam bentuk perdarahan dan mual-muntah berlebihan, penderita harus dilakukan
konsultasi atau rujukan ke rumah sakit.

Pil KB mulai diminum jika :

1. Pada postpartum dapat dimulai dengan Expluton yang mengandung komponen-


komponen progesterone.

a. Tidak menggangu pengeluaran ASI

50
b. Efektif sampai laktasi dihentikan.

c. Kesulitan dapat timbul : perdarahan spotting, tidak mendapat menstruasi


berkepanjangan.

2. Post abortus atau hari kelima menstruasi.

a. ==Dapat di pakai pil KB sistem sekuensial atau sistem kombinasi.

3. IUD

Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang dikenal juga sebagai IUD (intra uterine davece)
adalah rangka plastik kecil yang dipasang kedalam rahim melalui vagina. AKDR pada
umumnya dilengkapi dengan satu atau dua lembar benang yang menjulur AKDR dengan
meraba benang tersebut. Bidan atau petugas kesehatan dapay mengeluarkan AKDR dengan
menarik benang secara perlahan-lahan memakai sebuah alat.

Mekanisme Kerja.

1. Mencegah pertemuan sperma dengan sel telur.

2. Mengurangi mobilitas sperma, agar tidak dapat membuahi telur.

3. Mencegah telur yang telah dibuahi menempel di dinding rahim.

Efektifitas.

Bila digunakan secara benar, tingkat keampuhannya 99,4%.

Kelebihan.

1. Pencegah kehamilan jangka panjang yang ampuh untuk paling tidak 10 tahun.

2. Tidak mengganggu hubungan seks.

51
3. Tidak terpengaruh obat-obatan.

4. Bisa segera subur kembali. Begitu AKDR dikeluarkan bisa hamil.

5. Tidak mempengaruhi jumlah dan mutu ASI (air susu ibu).

6. Dapat mencegah kehamilan diluar kandungan.

Kekurangan.

Efek samping yang biasa (bukan pertanda sakit)

1. Perubahan haid (biasa terjadi dalam 3 bulan pertama, tapi kian berkurang setelah 3
bulan).

2. Pembengkakan panggul biasa terjadi setelah terkenal infeksipenyakit kelainan, bila


menggunakan AKDR.

3. Membutuhkan prosedur media karena memerlukaan pemeriksaan panggul untuk dapat


memasang AKDR.

4. Memasang dan mengeluarkan AKDR harus dilakukan tenaga kesehatan terlatih.

5. Bisa keluar dari rahim tampa diketahui. (sering terjadi bila AKDR dipasang segerah
setelah melahirkan).

6. Pengguna dari waktu kewaktu harus memeriksa posisi benang AKDR dengan
memasukan jari kedalam vagina. Sebagian perempuan tidak mau melakukan demikan.

7. Tidak memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin, termasuk HIV/AIDS.

Efek samping yang tidak biasa :

1. Kejang dan nyeri berat setelah 3 hingga 5 hari pertama dipasang.

2. Mengeluarkan darah haid begitu banyak, sehingga dapat menyebabkan anemia.

3. Dinding rahim bisa berlubang ( sangat jarang terjadi ).

52
Kapan AKDR bisa dipasang ?

1. AKDR bisa dipasang segera setelah melahirkan.

2. Bila tidak segera setelah melahirkan, sekitar 4 atau 5 bulan setelah melahirkan atas
dasar jenis AKDR yang dipakai.

3. Segera setelah aborsi ( bila tidak ada infeksi ). Bila ada infeksi, obati dulu infeksinya
dan bisa menggunakan alat kontrasepsi lainnya. AKDR bisa dipasang 3 bulan setelah infeksi
bisa disembuhkan.

4. Kapan saja, ( tidak hanya selama haid ) asal pasti yang beersangkutan tidak hamil dan

Kapan AKDR tidak dapat dipasang.

Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) tidak dapat dipasang pada keadaan :

1. Terdapat infeksi genetalia.

Menimbulkan eksaserbasi (kambuh) infeksi.

Keadaan patologis local: stenosis vagina, infeksi vagina.

2. Dugaan kegasanan servick.

3. Perdarahan dengan sebab yang tidak jelas.

4. Pada kehamilan : terjadi abortus, mudah perforasi, perdarahan , infeksi.

Teknik pemasangan AKDR

1. Persiapkan pemasangan AKDR

a. Penderita tidur terlentang dimeja ginekologi.

b. Vulva dibersikan dengan kapas lison, betadin, hibiscrub atau lainnya

c. Dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan besar dan arah rahim

53
d. Duk steril dipasang di bawah bokong

e. Speculum cocor bebek dipasang, sehingga sevick tampak.

f. Servick portio dibersihkan dengan kapas betadin atau lioson atau lainnya.

g. Dilakukan sodage untuk menentukan dalam panjang rahim dana arah posisi rahaim.

2. Persiapan dan pemasangan AKDR

a. Jenis lippes loop.

Lippes loop dimasukkan ke dalam introdusor dari pangkal, sampai mendekati ujung
proksimal.

Tali AKDR dpat dipotong dahulu, sesuai dengan keinganan atau dipotong kemudian
setelah pemasangan

Introdusor dimasukkan ke dalam rahim, sesuai dengan dalamnya rahim.

Pendorong AKDR dimasukkan ke dalam introdusor , untuk mendorong sehingga


lippes loop terpasang.

Setelah dipasang,maka introdusor dan pendorongnya di tarik bersama.

Tali AKDR dapat dipotong sependek mungkin un tuk menghindari sentuhan penis
dan menghindari infeksi.

b. Kapam AKDR dibuka

Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dapat dibuka sebelum waktunya bila dijumpai :

Ingin hamil kembali

Leokorea, sulit diobati dan peserta menjadi kurus

Terjadi perdarahan

Terjadi kehamilan mengandung haban aktif dengan AKDR.

4. Kondom

54
Kondom merupakan alat kontrasepsi yang mudah dan praktis diguna bagi semua orang.
Terbukti aman selama digunakan dengan benar dalam mencegah kehamilan kondom terbuat
dari lateks tipis tidak berpori dan telah dibuktikan melalu uji elektronis di laboratorium serta
memenuhi standar mutu internasional.

Kondom mencegah sperma masuk kedalam rahim sekaligus mencegah pertukaran cairan
tubuh sehingga merupakan suatu perlindungan terhadap penyakit yang ditularkan melalui
hubungan seks termasuk HIV/AIDS.

Keunggulan dari kondom adalah memiliki aroma romantik dan memiliki ulir dan berlekuk
untuk menambah kenikmatan berhubungan bersama pasangan anda serta setiap kondom
dilapisi pelumas untuk mencegah iritasi.

5. Susuk KB (norplant atau implant)

Teknik Pemasangan Susuk KB

Prinsip pemasangan susuk KB adalah dipasng pada lengan kiri atas dan pemasangan seperti
kipas mekar dengan 6 kapsul.

Teknik pemasangan susuk KB adalah sebagai berikut :

1. Rekasa tempat pemasangan dengan tepat seperti kipas terbuka.

2. Tempat pemasangan di lengan kiri atas, dipatirasa dengan lidoakain 2%.

3. Dibuat insisi kecil, sehingga trokar dapat masuk.

4. Trokar di tusukkan subkutan sampai batasnya.

5. Kapsul dimasukkan ke dalam trokar, dan didorong dengan alat pendorong sampai
terasa tertahan.

6. Untuk menempatkan kapsul, trokar ditarik keluar.

7. Untuk menyakitkan bahwa kapsul telah ditempatnya, alat pendorong dimasukkan


sampai terasa tidak ada tahanan.

55
8. Setelah 6 kapsul dipasang, bekas inisi ditutup dengan tensoplast

Mekanisme Kerja Susuk KB

Konsep mekanisme kerjanya sebagai progesteron yang dapat menghalangi pengeluaran LH


sehingga tidak terjadi ovulasi, mengentalkan lendir serviks dan menghalangimigrasi
spermatozoa, dan menyebabkan situasi endometrium tidak siap menjadi tempat nidasi.

Keuntungan Metode Susuk KB

1. Dipasang sebelum 5 tahun

2. Kontrole medis ringan

3. Dapat dilayani di daerah pedesaan

4. Penyulit medis tidak terlalu tinggi

5. Biaya ringan.

Kerugian Metode Susuk KB

1. Menimbulkan gangguan menstruasi, yaitu tidak mendapat menstruasi dan terjadi


perdarahan yang tidak teratur.

2. Berat badan bertambah.

3. Menimbulkan akne, ketegangan payudara

D. Kontra Indikasi

Yaitu suatu kondisi medis yang menyebabkan suatu bentuk pengobatan yang seharusnya
disarankan / dilakukan, tidak dianjurkan atau tidak aman.

Dikenal tiga macarn kontra indikasi :

56
Absolut : Jangan memakai.

Relatif kuat : Dianjurkan untuk tidak memakai.

Relatif lainnya : Dapat dicoba asal diawasi dengan ketat.

E. Tanda tanda Bahaya

Calon akseptor harus diberitahu / diajarkan tanda tanda bahaya dari metode kontrasepsi
yang sedang dipertimbangkan olehnya terutarna untuk calon akseptor Pil oral dan IUD.

Tanda tanda bahaya Pil oral :

a. Sakit perut yang hebat.

b. Sakit dada yang hebat atau nafas pendek.

c. Sakit kepala yang hebat.

d. Keluhan mata seperti penglihatan kabur atau tidak dapat meIihat.

e. Sakit tungkai bawah yang hebat ( betis atau paha ).

Tanda tanda bahaya IUD :

a. Terlambat haid / amenore.

b. Sakit perut.

c. Demain tinggi, menggigil.

d. Keputihan yang sangat banyak / sangat berbau.

e. Spotting, perdarahan per vaginam, haid yang banyak, bekuan bekuan darah.

Tanda tanda bahaya Suntikan :

a. Pertambahan berat badan yang menyolok.

57
b. Sakit kepala yang hebat.

c. Perdarahan per vaginam yang banyak.

d. Depresi.

e. Polyuri.

Kerjasama antara Suami Isteri Metode metode kontrasepsi tertentu tidak dapat dipakai
tanpa kerjasama pihak suami, misalnya Coitus interruptus, Kondom, Spermisid. Metode
Fertility Awareness atau metode kesadaran akan fertilitas membutuhkan kerjasama dan
saling percaya mempercayai antara pasangan suami isteri. Dilain pihak, IUD, Pil oral,
Suntikan kadang kadang digunakan oleh pihak isteri tanpa sepengetahuan atau dukungan
suami.

Keadaan yang paling ideal adalah bahwa isteri dan suami harus bersama sama:

1. Memilih metode kontrasepsi terbaik. .

Saling kerja sama dalam pemakaian kontrasepsi. Membiayai pengeluaran untuk


kontrasepsi. Memperhatikan tanda tanda bahaya pemakaian kontrasepsi.

F. Kasus Kontrasepsi yang Dirujuk

Calon peserta KB yang baru akan menggunakan alat kontrasepsi.

Peserta KB yang akan mengganti cara ke kontrasepsi yang lainnya.

Peserta KB yang mengalami kasus dari pemakaian kontrasepsi. Misalnya : kegagalan dari
pemakaian alat kontrasepsi. Pemeriksaan ulangan dari kontrasepsi yang dipakainya. Misalnya
: pemeriksaan letak IUD atau Implant.

G. Tempat Pelayanan Rujukan

Tempat pelayanan rujukan KE, dilaksanakan sesuai dengan kasus yang dirujuk, antara lain :
Bagi calon peserta KB baru yang akan menggunakan cara kontrasepsi tertentu antara lain:

58
1. Calon peserta KB yang akan ber KB dengan metode Medis Operatif ( Pria / Wanita )
atau peserta KB yang akan ganti cara ke metode Medis Operatif dapat dirujuk ke Puskesmas
yang mampu melaksanakan Metode Operatif atau ke Rumah Sakit pemerintah maupun
Rmnah Sakit Swasta.

2. Calon peserta KB yang akan ber KB dengan metode kontrasepsi IUD, Implant,
Suntikan dan Pil atau peserta KB yang akan ganti cara ke metode tersebut dapat dirujuk ke
Polindes ( Pondok Bersalin Desa ), Puskesmas atau dokter / bidan praktek swasta.

3. eserta KB yang mengalami kasus dari pemakaian alat alat kontrasepsi, misalnya
kegagalan dan komplikasi dapat dirujuk ke Polindes, Puskesmas, Dokter / Bidan praktek
swasta dan Rumah Sakit pemerintah atau swasta.

4. Pemeriksaan ulangan dari alat kontrasepsi yang dipakai misalnya : IUD, Implant
dapat dirujuk ke Polindes, Puskesmas, Dokter / Bidan praktek swasta dan Rumah Sakit
pemerintah atau swasta.

5. Siapakah yang dapat melakukan rujukan ?

Pada tingkat dusun, dapat dirujuk oleh Kader / PPKBD ke Bidan di desa (Polindes) atau
Puskesmas pembantu. Pada tingkat desa, dapat dirujuk oleh Bidan di desa ( PLKB ) ke
Puskesmas, Dokter dan Dokter praktek swasta.

Pada tingkat kecamatan, dapat dirujuk oleh Bidan / Dokter praktek swasta, Kepala Puskesmas
ke Rumah Sakit pemerintah atau swasta.

6. Tata Laksana Rujukan Medik dapat berlangsung :

a. Internal antara petugas di satu Puskesmas.

b. Antara Puskesmas Pembantu dan Puskesmas.

c. Antara masyarakat dan Puskesmas.

d. Antara satu Puskesmas dan Puskesmas yang lain.

e. Antara Puskesmas dan Rumah Sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya.

f. Internal antara bagian / unit pelayanan di dalam satu rumah sakit.

59
g. Antar Rumah Sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan lain dan Rumah Sakit,
laboratorium atau fasilitas pelayanan yang lain.

Rangkaian jaringan fasilitas pelayanan kesehatan dalam sistem rujukan tersebut berjenjang
dari yang paling sederhana di tingkat keluarga sampai satuan fasilitas pelayanan kesehatan
nasional dengan dasar pemikiran rujukan ditujukan secara timbal balik ke satuan fasilitas
pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, dan rasional serta tanpa dibatasi oleh wilayah
administrasi.

Rujukan bukan berarti melepaskan tanggung jawab dengan menyerahkan klien ke fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya, akan tetapi karena kondisi klien yang mengharuskan pemberian
pelayanan yang lebih kompeten dan bermutu melalui upaya rujukan. Untuk itu dalam
melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan

Konseling tentang kondisi klien yang menyebabkan perlu dirujuk.

Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan.

Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan dituju.

Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien saat
ini dan riwayat sebelumnya serta upaya / tindakan yang telah diberikan.

Bila perlu, berikan upaya mempertahankan keadaan umun klien.

Bila perlu, karena kondisi klien, dalam perjalanan menuju tempat rujukan harus
didampingi perawat / Bidan.

Menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar memungkinkan segera


menerima rujukan klien.

Fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima rujukan, setelah memberikan upaya


penanggulangan dan kondisi klien telah memungkinkan, harus segera mengembalikan klien
ke tempat fasilitas pelayanan asalnya dengan terlebih dahulu memberikan :

Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya penanggulangan.

Nasehat yang perlu diperhatikan klien mengenai kelanjutan penggunaan kontrasepsi.

60
Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang merujuk mengenai kondisi klien
berikut upaya penanggulangan yang telah diberikan serta saran saran upaya pelayanan
lanjutan yang harus dilaksanakan, terutama tentang penggunaan kontrasepsi.

Untuk itu dalam melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan:

Konseling tentang kondisi klien yang perlu menyebabkan perlu rujukan.

Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan.

Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan dituju.

Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien saat
ini dan riwayat sebelumnya serta upaya/tindakan yang telah diberikan.

Bila perlu, berikan upaya mempertahankan keadaan umum klien.

Bila perlu, karena kondisi klien, dalam perjalanan menuju tempat rujukan harus
didampingi perawat/bidan.

Menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar memungkinkan segera


menerima rujukan klien.

2.5 Sistem rujukan

A. Definisi

Sistem rujukan adalah sistem yang dikelola secara strategis, proaktif, pragmatif dan
koordinatif untuk menjamin pemerataan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang
paripurna dan komprehensif bagi masyarakat yang membutuhkannya terutama ibu dan bayi
baru lahir, dimanapun mereka bearada dan berasal dari golongan ekonomi manapun agar
dapat dicapai peningkatan derajat kesehatan dan neonatal di wilayah mereka berada (Depkes
RI, 2006)

61
Menurut SK Menteri Kesehatan RI No 32 Tahun 1972 sistem rujukan adalah suatu sistem
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelipahan tanggung jawab timbal
balik terhadap satu kasus masalah kesehatan secara vertikal, dala arti unit yang
berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horizontal dalam arti antar
unit-ubit yang setingkat kemampuannya.

Dapat dikatakan bahwa sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan
yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab seacara timbal balik atas
timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masayarakat, baik secara vertikal
maupun horizontal kepada yang lebih kompeten, terjangkau dan dilakukan secara rasional.

B. Tujuan

System rujukan bertujuan agar pasien mendapatkan pertoplongan pada fasilitas pelayanan
kesehatan yang lebih mampu sehingga jiwanya dapat terselamatkan, dengan demikian dapat
menurunkan AKI dan AKB.

C. Jenis

Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari : rujukan internal dan rujukan
eksternal :

rujukan internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam institusi
tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas induk

Rujukan eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan
kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke
rumah sakit umum daerah)

62
Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari : rujukan medik dan rujukan
kesehatan

Rujukan medic :

konsultasi penderita, untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan

Pengiriman bahan (spesimen) pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap

mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan
suatu pelayanan pengobatan setempat.

Rujukan kesehatan :

Adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan masayarakat yang bersifat preventif dan
promotif. Tujuan sistem rujukan upaya kesehatan :

Umum

Dihasilakannya upaya pelayanan kesehatan yang didukung mutu pelayanan yang optimal
dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna

Khusus

Dihasilkannya upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan rehabilitatif secara
berhasil guna dan berdaya guna

Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif secara
berhasil guna dan berdaya guna

Jenjang tingkat tempat rujukan

- RUMAH SAKIT TIPE A

- RUMAH SAKIT TIPE C/D

- RUMAH SAKIT TIPE INAP

- PUSKESMAS/BP/RB/BKIA SWASTA

63
- PUSKESMAS PEMBANTU/ BIDAN

- POSYANDU/ KADER/ DUKUN BAYI

Jalur Rujukan

Dari kader, dapat langsung merujuk ke :

- puskesmas pembantu

- pondok bersalin/ bidan desa

- puskesmas/ puskesmas rawat inap

- rumah sakit pemerintah/ swasta

Dari posyandu, dapat langsung merujuk ke :

- puskesmas pembantu

- pondok bersalin/ bidan desa

- puskesmas/ puskesmas rawat inap

- rumah sakit pemerintah/ swasta

Dari puskesmas pembantu

Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta

Dari pondok bersalin

Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D. atau rumah sakit swasta

Mekanisme rujukan

64
Menentukan kegawadaruratan penderita

Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih

Ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri oleh keluarga atau kader/ dukun bayi,
maka segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat, oleh karena itu mereka
belum tentu dapat menerapkan ke tingkat kegawatdaruratan.

Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas

Tenaga kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus dapat
menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui, sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan
kasus mana yang harus dirujuk.

Memberikan informasi kepada penderita dan keluarga

Sebaiknya bayi yang akan dirujuk harus sepengathuan ibu atau keluarga bayi yang
bersangkutan dengan cara petugas kesehatan menjelaskan kondisi atau masalah bayi yang
akan dirujuk dengan cara yang baik.

- Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju

Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk. Meminta petunjuk apa yan perlu
dilakukan dalam rangka persiapan dan selama dalam perjalanan ke tempat rujukan. Meminta
petunjuk dan cara penanganan untuk menolong penderita bila penderita tidak mungkin
dikirim.

Persiapan penderita (BAKSOKUDA)

Persiapan yang harus diperhatikan dalam melakukan rujukan disingkat BAKSOKUDA


yang diartikan sebagi berikut :

B (Bidan) : Pastikan ibu/ bayi/ klien didampingi oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan
memiliki kemampuan untuk melaksanakan kegawatdaruratan

A (Alat) : Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan seperti spuit, infus set,
tensimeter dan stetoskop

65
K (keluarga) : Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu (klien) dan alasan mengapa ia
dirujuk. Suami dan anggota keluarga yang lain harus menerima ibu (klien) ke tempat rujukan.

S (Surat) : Beri sura ke tempat rujukan yang berisi identifikasi ibu (klien), alasan rujukan,
uraian hasil rujuka, asuhan atau obat-obat yang telah diterima ibu

O (Obat) : Bawa obat-obat esensial yang diperlukan selama perjalanan merujuk

K (Kendaraan) : Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkinkan ibu (klien)
dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai tempat rujukan dalam waktu cepat.

U (Uang) : Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk
membeli obat dan bahan kesehatan yang diperlukan di tempar rujukan

DA (Darah) : Siapkan darah untuk sewaktu-waktu membutuhkan transfusi darah apabila


terjadi perdarahan

Pengiriman Penderita

Untuk mempercepat sampai ke tujuan, perlu diupayakan kendaraan/ sarana transportasi yang
tersedia untuk mengangkut penderita

Tindak lanjut penderita

Untuk penderita yang telah dikemalikan

Harus kunjungan rumah bila penderita yang memerlukan tindakan lanjut tapi tidak melapor

66
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam mempersiapkan anak yang berkualitas, maka sejak dari mulai terjadi pembuatan
sampai dianya menjadi dewasa haruslah dilakukan pemeliharaan dan penjagaan yang
seksama agar tumbuh kembang anak tersebut tidak mengalami kegagalan. Faktor anak
selama dalam kandungan akan sangat mempengaruhi dalam proses tumbuh kembang anak
dikemudian hari. Sebagai contoh dari seorang ibu yang sehat dan memelihara kandungannya
secara seksama, berarti ibu tersebut telah mempersiapkan sejak awal suatu keturunan yang
dapat diharapkan sebagai generasi penerus yang berkualitas. Hal ini secara umum tidak akan
sama bila sang Ibu sejak dini tidak terlibat dalam mempersiapkannya. Keikut sertaan ibu
dalam keluarga berencana, sehingga proses persalinan yang ideal dapat dipenuhi dan ini akan
sangat membantu kesehatan ibu dan anak yang akan dilahirkannya. Sebagai contoh seorang
ibu hendaklah jangan melahirkan terlalu dini, ataupun terlalu lambat, begitu juga sebaiknya
seorang ibu janganlah melahirkan terlalu sering dan janganlah mempunyai anak terlalu
banyak.

3.2 Saran

Banyak membaca berbagai sumber yang ada akan sangat membantu untuk memperluas
wawasan

67
DAFTAR PUSTAKA

Kapita Selekta Kedokteran, Mansjoer Arif, Media Aesculapius, Jakarta, 2000.


Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo, Fak. UI Jakarta, 1998.
Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, Ida
Bagus Gede Manuaba, Jakarta : EGC, 1998.
Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo, Fak. UI Jakarta, 1997.
Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Syok Hemoragika dan Syok Septik. Dalam :
Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi 3. Jakarta : YBP-SP. 2002.
Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Unversitas Padjajaran. Obstetri
Patologi.Bandung:1984
Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta:2008
Hidayat, Alimul Aziz. A. 2008. Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika

68