You are on page 1of 16

http://nendria-nanda.blogspot.com/2012/05/askeb-infeksi-neonatorum.

html
ASUHAN KEBIDANAN PADA BY. NY.T USIA 1 HARI DENGAN INFEKSI
NEONATORUM DI IRNA IV RUANG 11 (PERINATOLOGI)
RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG

BAB II
TINJAUAN TEORI

I Pengertian Sepsis Neonatorum


Sepsis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
respons sistemik terhadap infeksi pada bayi baru lahir (Behrman, 2000).
Sepsis adalah sindrom yang dikarekteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan
gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang kearah septikemia dan syok
septik (Dongoes, 2000).
Sepsis neonatorum adalah semua infeksi pada bayi pada 28 hari
pertama sejak dilahirkan. Infeksi dapat menyebar secara nenyeluruh atau terlokasi
hanya pada satu orga saja (seperti paru-paru dengan pneumonia). Infeksi pada sepsis
bisa didapatkan pada saat sebelum persalinan (intrauterine sepsis) atau setelah
persalinan (extrauterine sepsis) dan dapat disebabkan karena virus (herpes, rubella),
bakteri (streptococcus B), dan fungi atau jamur (candida) meskipun jarang ditemui.
(John Mersch, MD, FAAP, 2009).
Sepsis Neonatorum adalah suatu infeksi bakteri berat yang menyebar
ke seluruh tubuh bayi baru lahir. Suatu sindroma respon inflamasi janin/ FIRS
disertai gejala klinis infeksi yang diakibatkan adanya kuman di dalam darah pada
neonatus.

II Etiologi Sepsis Neonatorum


Penyebab neonatus sepsis/ sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman
seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur.
Resiko terjadinya sepsis meningkat pada:
Ketuban pecah sebelum waktunya
Perdarahan atau infeksi pada ibu.
Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri:
Bakteri escherichia koli
Streptococus group B
Stophylococus aureus
Enterococus
Listeria monocytogenes
Klepsiella
Entererobacter sp
Pseudemonas aeruginosa
Proteus sp
Organisme anaerobic
Streptococcus grup B dapat masuk ke dalam tubuh bayi selama proses
kelahiran. Menurut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) Amerika,
paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum pada satu dari setiap lima
wanita hamil, yang dapat mengkontaminasi bayi selama melahirkan. Bayi prematur
yang menjalani perawatan intensif rentan terhadap sepsis karena sistem imun mereka
yang belum berkembang dan mereka biasanya menjalani prosedur-prosedur invasif
seperti infus jangka panjang, pemasangan sejumlah kateter, dan bernafas melalui
selang yang dihubungkan dengan ventilator. Organisme yang normalnya hidup di
permukaan kulit dapat masuk ke dalam tubuh kemudian ke dalam aliran darah
melalui alat-alat seperti yang telah disebut di atas.
Bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun beresiko mengalami bakteriemia
tersamar, yang bila tidak segera dirawat, kadang-kadang dapat megarah ke sepsis.
Bakteriemia tersamar artinya bahwa bakteria telah memasuki aliran darah, tapi tidak
ada sumber infeksi yang jelas. Tanda paling umum terjadinya bakteriemia tersamar
adalah demam. Hampir satu per tiga dari semua bayi pada rentang usia ini
mengalami demam tanpa adanya alasan yang jelas dan penelitian menunjukkan
bahwa 4% dari mereka akhirnya akan mengalami infeksi bakterial di dalam darah.
Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) menyebabkan sekitar 85% dari semua
kasus bakteriemia tersamar pada bayi berusia 3 bulan sampai 3 tahun.
Faktor - faktor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum
berasal dari tiga kelompok, yaitu:
1. Faktor Maternal
a. Status sosial-ekonomi ibu, ras, dan latar belakang. Mempengaruhi kecenderungan
terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui sepenuhnya. Ibu yang
berstatus sosio- ekonomi rendah mungkin nutrisinya buruk dan tempat tinggalnya
padat dan tidak higienis. Bayi kulit hitam lebih banyak mengalami infeksi dari pada
bayi berkulit putih.
b. Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu (kurang dari
20 tahun atua lebih dari 30 tahun.
c. Kurangnya perawatan prenatal.
d. Ketuban pecah dini (KPD)
e. Prosedur selama persalinan.
2. Faktor Neonatatal
a. Prematurius ( berat badan bayi kurang dari 1500 gram), merupakan faktor resiko
utama untuk sepsis neonatal. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah
dari pada bayi cukup bulan. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama
terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. Setelah lahir, konsentrasi imunoglobulin
serum terus menurun, menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit
juga melemahkan pertahanan kulit.
b. Defisiensi imun. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik, khususnya
terhadap streptokokus atau Haemophilus influenza. IgG dan IgA tidak melewati
plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. Dengan adanya hal
tersebut, aktifitas lintasan komplemen terlambat, dan C3 serta faktor B tidak
diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. Kombinasi antara defisiensi
imun dan penurunan antibodi total dan spesifik, bersama dengan penurunan
fibronektin, menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi.
c. Laki-laki dan kehamilan kembar. Insidens sepsis pada bayi laki- laki empat kali
lebih besar dari pada bayi perempuan.
3. Faktor Lingkungan
a. Ada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan
prosedur invasif, dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama.
Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan tempat
masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Bayi juga mungkin terinfeksi
akibat alat yang terkontaminasi.
b. Paparan terhadap obat-obat tertentu, seperti steroid, bis menimbulkan resiko pada
neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas, sehingga
menyebabkan kolonisasi spektrum luas, sehingga menyebabkan resisten berlipat
ganda.
c. Kadang- kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran mikroorganisme
yang berasal dari petugas (infeksi nosokomial), paling sering akibat kontak tangan.
d. Pada bayi yang minum ASI, spesies Lactbacillus dan E.colli ditemukan dalam
tinjanya, sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi oleh E.colli.
e. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui
beberapa cara, yaitu:
1) Pada masa antenatal atau sebelum lahir. Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah
melewati plasenta dan umbilikus masuk dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah
janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta antara
lain virus rubella, herpes, sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri
yang dapat melalui jalur ini, antara lain malaria, sipilis, dan toksoplasma.
2) Pada masa intranatal atau saat persalinan. Infeksi saat persalinan terjadi karena yang
ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion. Akibatnya, terjadi
amniotis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk dalam tubuh
bayi. Cara lain, yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi akan
terinhalasi oleh bayi dan masuk dan masuk ke traktus digestivus dan traktus
respiratorius, kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain cara
tersebut di atas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre
lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman. Beberapa kuman
yang melalui jalan lahir ini adalah Herpes genetalis, Candida albican,dan
N.gonorrea.
3) Infeksi paska atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran
umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (misal
melalui alat- alat : penghisap lendir, selang endotrakhea, infus, selang nasogastrik,
botol minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat
menyebabkan terjadinya infeksi nosokomil. Infeksi juga dapat terjadi melalui luka
umbilikus (AsriningS.,2003)
III Gejala Klinis Sepsis Neonatorum
Suhu tubuh tidak stabil (< 36 0C atau > 37,5 0C).
Laju nadi > 180 x/menit atau < 100 x/menit.
Laju nafas > 60 x/menit, dengan retraksi atau desaturasi oksigen, apnea atau laju
nafas < 30x/menit.
Letargi
Intoleransi glukosa : hiperglikemia (plasma glukosa >10 mmol/L atau >170 mg/dl)
atau hipoglikemia (< 2,5 mmol/L atau < 45 mg/dl)
Intoleransi minum
Tekanan darah < 2 SD menurut usia bayi
Tekanan darah sistolik < 50 mmHg (usia 1 hari)
Tekanan darah sistolik < 65 mmHg (usia < 1 bulan)
Pengisian kembali kapiler/capillary refill time > 3 detik.

Gejala lainnya adalah:


gangguan pernafasan
kejang
jaundice (sakit kuning)
muntah
diare
perut kembung

Gejalanya tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya:


Infeksi pada tali pusar (omfalitis) bisa menyebabkan keluarnya nanah atau darah
dari pusar
Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak bisa menyebabkan koma,
kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-
ubun
Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada
lengan atau tungkai yang terkena
Infeksi pada persendian bisa menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan
dan sendi yang terkena teraba hangat
Infeksi pada selaput perut (peritonitis) bisa menyebabkan pembengkakan perut dan
diare berdarah.

IV Patofisiologi Sepsis Neonatorum


Melalui Air Ketuban Bakteri Infeksi pada Ibu

Masuk kedalam tubuh janin meningitis,oesteomelitis

Terjadinya Infeksi awal . resiko infeksi

Infeksi/Kuman menyebar

Keseluruh tubuh janin
Hipotalamus Organ Hati Organ pernafasan Sistem Gastrointestinal

Berespon menghasil Erirtosit banyak G3 sirkulasi O2 Muntah, Diare
kan panas tubuh Dilisis CO2 Malas menghisap

Hipertermia Fungsi tidak Bayi akan sesak Gangguan Volume
Optimal cairan dan elektrolit
Gangguan pola nafas
Hiperbilirubin

Jaundice (ikterif)

Ke Otak

Enselopati

Kemit ikterik(kejang)

resiko cedera

V Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium pada bayi-bayi sepsis sebagai berikut:
1. Pemeriksaan mikrokopis maupun pembiaakan terhadap contoh darah air kemih, jika
diduga suatu meningitis, maka dilakukan fungsi lumbal.
2. Bila sindroma klinis mengarah ke sepsis, perlu dilakukan evaluasi sepsis secara
menyeluruh. Hal ini termasuk biakan darah, fungsi lumbal, analisis dan kultur urin.
Leukositosis (>34.000109/L)
Leukopenia (< 4.000x 109/L)
Netrofil muda 10%
Perbandingan netrofil immature(stab) dibanding total (stb+segmen) atau I/T
ratio >0,2
Trombositopenia (< 100.000 x 109/L)
CRP >10mg /dl atau 2 SD dari normal.

Faktor-faktor pada masalah hematologi:


Peningkatan kerentaan kapiler
Peningkatan kecenderungan perdarahan(kadar protrombin plasma rendah)
Perlambatan perkembangansel-sel darah merah
Peningkatan hemolisis
Kehilangan darah akibat uji laboratorium yang sering dilakukan

VI Penatalaksanaan Sepsis Neonatorum


1. Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i.v
(dibagi 2 dosis untuk neonatus umur < 7 hari, untuk neonatus umur > 7 hari dibagi 3
dosis), dan Netylmycin (Amino glikosida) dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i.m/i.v
dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila
diberikan i.v harus diencerkan dan waktu pemberian ? sampai 1 jam pelan-pelan).
2. Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap, urine,
lengkap, feses lengkap, kultur darah, cairan serebrospinal, urine dan feses (atas
indikasi), pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel, kimia,
pengecatan Gram), foto polos dada, pemeriksaan CRP kuantitatif).
3. Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin, gula darah,
analisa gas darah, foto abdomen, USG kepala dan lain-lain.
4. Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi,
pemeriksaan darah dan CRP normal, dan kultur darah negatif maka antibiotika
diberhentikan pada hari ke-7.
5. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi,
CRP tetap abnormal, maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau
Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i.v dan Amikasin dengan dosis
15 mg/kg BB/per hari i.v i.m (atas indikasi khusus). Pemberian antibiotika
diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya. Lama pemberian antibiotika 10-14 hari.
Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari.
6. Pengobatan suportif meliputi:
Termoregulasi, terapi oksigen/ventilasi mekanik, terapi syok, koreksi metabolik
asidosis, terapi hipoglikemi/hiperglikemi, transfusi darah, plasma, trombosit, terapi
kejang, transfusi tukar.

VII Komplikasi Sepsis Neonatorum


1. Kelainan bawaan jantung, paru, dan organ-organ yang lainnya
2. Sepsis berat: sepsis disertai hipotensi dan disfungsi organ tunggal
3. Syok sepsis: sepsis berat disertai hipotensi
4. Sindroma disfungsi multiorgan (MODS)
5. Perdarahan
6. Demam yang terjadi pada ibu
7. Infeksi pada uterus atau plasenta
8. Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan
9. Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan)
10. Proses kelahiran yang lama dan sulit

VIII Pencegahan Sepsis Neonatorum


1. Pada masa Antenatal
Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala,
imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu, asupan gizi yang
memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan
ibu dan janin. Rujuk ke pusat kesehatan bila diperlukan.
2. Pada masa Persalinan
Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik.
3. Pada masa pasca Persalinan
Rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, jaga lingkungan
dan peralatan tetap bersih, perawatan luka umbilikus secara steril.

Hubungi dokter Anda jika bayi Anda mengalami:


muntah atau kesulitan bernapas atau tidak mau minum
suhu >38 0C melalui anus pada bayi baru lahir dan bayi muda
kesulitan bernapas
perubahan warna kulit (pucat atau kebiruan)
tidak responsive
perubahan suara tangisan bayi atau tangisan yang tidak berhenti
bayi menjadi lemas
denyut jantung menjadi lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya
ubun-ubun membonjol
penurunan jumlah urin
perilaku pada bayi yang membuat Anda khawatir

BAB IV
PENUTUP
I KESIMPULAN
Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui
darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi
merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali
lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan
2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki.
Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah
bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalamw aktu 72 jam setelah lahir. Sepsis yang
baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi
nasokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit).
II KRITIK DAN SARAN
Dalam penulisan asuhan kebidanan ini apabila ada kesalahan yang tidak di
sengaja maupun yang di sengaja mohon saran dan kritik untuk menyempurnakan
dalam penulisan dan susunan kata kata yang telah dijadikan dalam bentuk asuhan
kebidanan.
DAFTAR PUSTAKA
http://viethanurse.wordpress.com/2008/12/01/askep-pada-sepsis-neonatorum/
http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&file
pdf=0&pdf=&html=07110-tsyz266.htm
http://bejocommunity.blogspot.com/2010/04/sepsis-neonatorum_03.html
http://medicastore.com/penyakit/403/Sepsis_Neonatorum.html
http://yuliafransischa.blogspot.com/2011/04/contoh-askeb-neonatus.html
BAB III
TINJAUAN KASUS

I PENGKAJIAN DATA
Tanggal : 19 Februari 2012
Jam : 12.00 WIB
Tempat : di IRNA IV Ruang 11 (Perinatologi) RSUD dr. Saiful Anwar
Malang
No. Reg : 1208330

A. Data Subyektif
1. Biodata
Nama Bayi : Bayi T
Tanggal lahir : 18 Maret 2012
Umur : 1 hari
Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke : 3 (tiga)

Nama Orang tua


Nama Ibu : Ny. T Nama Ayah : Tn. A
Umur : 38 tahun Umur : 38 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SD Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Imam Bonjol 6 Bugul Alamat : Jl.
Imam Bonjol 6 Bugul
Lor_Pasuruan Lor_Pasuruan

2. Keluhan Utama
Bayi lahir di bidan pada tanggal 18 Maret 2012. Bayi tidak langsung
menangis, AS 1-3, sisa ketuban keruh.
3. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
a. Riwayat kehamilan ini
Ibu hamil ke-3, UK 37-38 minggu, ibu periksa hamil ke bidan. Pada:
TM I : 1 kali
TM II : 3 kali
TM III : 3 kali
Riwayat imunisasi ibu tidak terkaji.
b. Riwayat persalinan ini
Bayi lahir tanggal 18 Maret 2012, spt B, dengan UK 37-38 minggu, jenis
kelamin laki-laki, tidak langsung menangis, AS pada 1 menit pertama 1 dan pada 5
menit kedua 3. BBL 3300 gr, PBL 50 cm, LK 34 cm, LD 32 cm, anus (+), Vit. K (+).
Riwayat pemberian imunisasi HB0 tidak terkaji.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu mengatakan bahwa dalam keluarganya tidak ada yang pernah atau
sedang menderita penyakit menular, menurun, maupun menahun seperti kencing
manis, jantung, batuk darah, asma, darah tinggi dan penyakit kuning. Selain itu, ibu
mengatakan bahwa dari keluarganya maupun keluarga suaminya tidak ada yang
mempunyai keturunan kembar.
Ibu tidak pernah minum jamu dan tidak pernah pijat oyok.

5. Kebutuhan Dasar
a. Pola Nutrisi
Minum PASI (susu formula) 8 x 20 cc/ hari
b. Pola Eliminasi
BAB : 1-2 kali dalam sehari, berupa mekoneum berwarna hijau tua/ kehitaman.
BAK : 5-6 kali dalam sehari, berwarna kuning jernih.
c. Pola Istirahat
Bayi lebih banyak tidur, kadang terbangun jika bayi haus, BAB, atau BAK.
d. Pola aktivitas
Bayi bergerak aktif.
e. Personal hygiene
Bayi dimandikan dan diseka 2 x/ hari, ganti popok tiap kali basah.

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : lemah
Kesadaran : Composmentis
BB : 3300 gram
PB : 50 cm
Pernapasan : 68 x/menit
Nadi : 120x/ menit
Suhu : 368 0C

2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Kepala : Simetris, persebaran rambut merata, rambut bersih, berwarna hitam.
Muka : simetris, tidak tampak oedema, tidak tampak ikterik maupun sianosis.
Mata : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, palpebra tidak
oedema.
Hidung : Lubang hidung simetris, ada pernafasan cuping hidung.
Mulut : Bibir lembab, bersih, lidah bersih, gigi (-).
Telinga : Simetris, tidak ada sekret.
Leher : Tidak tampak adanya benjolan abnormal, bersih.
Dada : Bentuk dada normal, ada retraksi dinding dada.
Abdomen : Bentuk normal, tampak tali pusat terbungkus kassa steril.
Genetalia : scorotum (+), tidak tampak hipospaadia atau epispadia.
Anus : anus berlubang
Ekstremitas atas : Simetris, bergerak aktif, tidak ada polidaktil, sindaktil, tampak
terpasang infuse D10 pada tangan kanan.
Ekstremitas bawah : Simetris, bergerak aktif, tidak ada polidaktil, sindaktil.

b. Palpasi
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis.
Dada : Tidak ada benjolan abnormal.
Abdomen : Tidak ada benjolan abnormal.
Ekstremitas : Tidak ada oedema baik pada kedua tangan dan kaki.

c. Auskultasi
Dada : Tidak ada bunyi ronchi maupun wheezing.
Abdomen : Bising usus normal.

d. Perkusi
Abdomen : Tidak kembung, supel.

3. Pemeriksaan Neurologis
a. Reflek Moro : (+)
b. Reflek Menggenggam : (+)
c. Reflek roating : (+)
d. Reflek Sucking : (+)
e. Reflek swallowing : (+)
f. Babynski reflek : (+)

4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laborat tanggal 19 Maret 2012 (05.15 WIB)
Darah lengkap
Jenis Hasil Harga normal
Leukosit 19.900 /l N : 3500 -
10.000
Hemoglobin 17,2 mg/dl N : 11,0 - 16,5
Hematokrit 50,8 % N : 35,0 - 50,0
Trombosit 326.000 N : 150000 -
3390000

Kimia Darah
Jenis Hasil Harga normal
GD Puasa 25 mg/dl N : < 200
sesaat
Ureum 12,4 mg/dl N : 10 - 50
Kreatinin 0,90 mg/dl N : 0,7 - 1,5
SGOT 13,2 U/L N : 11 - 41
SGPT 10 U/L N : 10 41

Faal hati
Jenis Hasil Harga normal
Albumin 3,79 g/dl N : 3,5 - 5,5
CRP 0,12 mg/dl N : < 0,3
kwantitatif

Analisis Elektrolik
Jenis Hasil Harga normal
Natrium 138 m mol/L N : 136 - 145
Kalium 6,07 m N : 3,5 - 5,0
mol/L
Klorida 11,6 m N : 98 - 106
mol/L
Kalsium 13,3 mg/dl N : 7,6 - 11,0
Fosfor 3,15 mg/dl N : 2,5 - 7,0
Blood Gas Analisis (BGA)
Jenis Hasil Harga normal
PH 7,474 N : 7,35 - 7,45
PCO2 23,1 mmHg N : 34 - 45
PO2 71,0 mmHg N : 80 - 100
HCO3 17,2 m mol/L N : 21 - 28
O2 saturasi 96 % N : >95
arterial
Base - 6,0 m mol/L N : (-3) (+3)
excess

II IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH


Dx : Bayi T usia 1 hari dengan infeksi neonatorum
Do : Keadaan Umum : lemah
Kesadaran : Composmentis
BB : 3300 gram
PB : 50 cm
Pernapasan : 68 x/menit
Nadi : 120x/ menit
Suhu : 368 0C

III IDENTIFIKASI MASALAH POTENSIAL


Potensi terjadi hipotermi
Potensi terjadi ganguan pernapasan
Potensi terjadi infeksi

IV IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA


Kolaborasi dengan dokter spesialis

V INTERVENSI
Dx : Bayi T Usia 1 hari dengan infeksi neonatorum
Tujuan : Bayi T keadaannya membaik
Kriteria hasil : TTV dalam batas normal
Suhu : 365 - 375 0C
Nadi : 120 - 160 x/menit
Pernapasan : 40 - 60 x/menit, Tidak ada retraksi dinding dada
BB normal : 2500 - 4000 gram
Intervensi:
1. Lakukan cuci tangan 7 langkah sebelum dan sesudah memegang bayi.
R/ untuk mencegah infeksi nosokomial.
2. Lakukan observasi TTV.
R/ untuk mengetahui parameter kesehatan bayi.
3. Pertahankan suhu tubuh bayi.
R/ untuk mencegah hipotermi.
4. Lakukan perawatan tali pusat pasien dengan benar.
R/ untuk mencegah adanya infeksi tali pusat
5. Lakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi.
R/ terapi yang tepat akan mempercepat kesembuhan pasien

VI IMPLEMENTASI
Dx : Bayi T Usia 1 hari dengan infeksi neonatorum
Implementasi:
1. Melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi dengan menggunakan
sabun dan dibilas dibawah air mengalir untuk mencegah terjadinya infeksi
nosokomial.
2. melakukan observasi TTV.
Suhu : 368 0C
Nadi : 120 x/menit
Pernapasan : 68 x/menit
3. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan mengganti baju kering, mengganti popok,
serta menyelimuti bayi. Bila bayi dalam inkubator, mempertahankan suhu inkubator
agar bayi tidak kedinginan.
4. Melakukan perawatan tali pusat bayi dengan benar yaitu dengan menggunakan
kassa steril dan tidak membubuhkan apapun pada tali pusat bayi.
5. Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi, yaitu pemberian
O2 2L, infus D10 8 tpm, injeksi ampisilin subaktam 2 x 150 mg.

VII EVALUASI
Tanggal : 20 Maret 2012
Dx : Bayi T Usia 2 hari dengan infeksi neonatorum
S : -
O : Keadaan Umum : Cukup
Kesadaran : Composmentis
BB : 3300 gram
PB : 50 cm
Pernapasan : 60 x/menit
Nadi : 120x/ menit
Suhu : 365 0C
A : Bayi T Usia 2 hari dengan infeksi neonatorum
Masalah teratasi sebagian
P :
Lakukan Observasi TTV
Lakukan perawatan bayi sehari-hari
KIE tentang pemberian ASI dan nutrisi
CATATAN PERKEMBANGAN

Tgl Subj Objek Analisa Pelaksanaa


ek n
21- - k/u Bayi T Observasi
3- cukup, Usia 3 TTV
20 kes. CM, hari S: 364 C
12 minum dengan N: 130
(+), infeksi x/menit
tumpah neonator Memberi
(-), um
minum
panas (-
bayi 8 x 30
), kejang
cc
(-),
Memandik
sianosis
(-), an atau
ekstremit menyeka
as atas bayi 2
tampak x/hari dan
terpasan mengganti
g popok
vemflon. setiap kali
basah serta
merawat
tali pusat
dengan
mengguna
kan kassa
steril.
Memberik
an injeksi
ampisilin
subaktam
2 x 150
mg.
22- - k/u Bayi T Observasi
2- cukup, Usia 4 TTV
20 kes. CM, hari S: 368 C
12 minum dengan N: 120
(+), infeksi x/menit
tumpah neonator Memberi
(-), um
minum
panas (-
bayi 8 x 30
), kejang
(-), cc
sianosis Memandik
(-), an atau
ekstremit menyeka
as atas bayi 2
tampak x/hari dan
terpasan mengganti
g popok
vemflon. setiap kali
basah serta
merawat
tali pusat
dengan
mengguna
kan kassa
steril.
Memberik
an injeksi
ampisilin
subaktam
2 x 150
mg.
Bayi PP
(Pulang
Paksa)