You are on page 1of 7

ARTHROPODA

Oleh:
Nama : Rahma Adilah
NIM : B1A015074
Rombongan :V
Kelompok :5
Asisten : Hafizh Aulia Khairy Rakananda

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Arthropoda merupakan nama lain bagi hewan berbuku buku. Kata arthropoda
diambil dari bahasa latin yaitu Artha = ruas, buku, segmen, dan Podos = kaki. Segmen
tersebut juga terdapat pada tubuhnya. Tubuh arthropoda terdiri atas segmen segmen
yang berbeda dengan system peredaran darah terbuka, beberapa hewan yang termasuk
kedalam bagian dari hewan arthropoda adalah laba laba, lipan, kalajengking, jangkrik,
belalang, kaki seribu, dan udang (Agnestika, 2012).
Ukuran tubuh arthropoda sangat beragam tergantung dari spesise masing masing.
Beberapa diantara hewan arthropoda memiliki ukuran lebih dari 60 cm, namun
kebanyakan berukuran relatif kecil. Tubuh arthropoda ditutupi lapisan kutikula yang
merupakan rangka luar (eksoskleleton). Ketebalan kutikula tergantung dari spesies
hewannya. Kutikula dihasilkan oleh epidermis yang terdiri atas protein dan lapisan kitin
yang melindungi hewan tersebut, terutama yang berhubungan dengan alat gerak dan
bagian tubuh dalam (Karmana, 2007).
Arthtropoda merupakan phylum terbesar dalam kingdom Animalia dan
kelompok terbesar dalam phylum itu adalah Insekta. Arthropoda diperkirakan memiliki
713.500 spesies dengan jumlah tersebut diperkirakan 80% dari jenis hewan yang sudah
dikenal. Phylum Arthropoda banyak ditemukan di darat, air tawar, dan laut, serta
didalam tanah. Arthropoda tanah berperan penting dalam peningkatan kesuburan tanah
dan penghancuran serasah serta sisa-sisa bahan organik. Arthropoda tanah
dikelompokkan atas Arthropoda dalam tanah dan Arthropoda permukaan tanah (Jasin,
1989).
B. Tujuan

Tujuan praktikum acara Arthropoda adalah:


1. Mengenal beberapa anggota Filum Arthropoda.
2. Mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota
Filum Arthropoda.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Arthropoda merupakan salah satu organisme yang memiliki peranan yang sangat
penting dan beragam. Peran arthropoda pada lahan persawahan dan area pertanian secara
umum adalah sebagai hama perusak ( fitofagus ), parasit, predator ataupun juga sebagai
organisme yang menguntungkan yaitu sebagai agen penyerbuk serta sebagai musuh
alami hama yang lainnya (Suwarno, 2016). Ciri-ciri umum dari antropoda antara lain
mempunyai anggota yang beruas, tubuhnya bilateral simetris terdiri atas sejumlah ruas-
ruas, tubuh dibungkus oleh zat kitin sehingga merupakan rangka luar, biasanya ruas-ruas
terdapat bagian-bagian yang tidak berkitin sehingga ruas-ruas tersebut mudah
digerakkan, sistem saraf berupa sistem saraf tangga tali, coelom pada hewan dewasa
adalah kecil dan merupakan satu rongga berisi darah dan disebut haemocoel. (Mayr,
1982).
Arthropoda dapat dilihat sebagai kumpulan spesies yang sangat besar yang
tinggal di habitat laut, air tawar, udara dan terestrial dan memiliki karakteristik umum
memiliki eksoskeleton keras dan beberapa pasang kaki bersendi yang bisa digunakan
untuk berbagai keperluan termasuk berenang, berjalan kaki, melompat dan menggali dan
lain-lain (Obiezue et al., 2012). Rongga tubuh utama arthropoda disebut hermocoel.
Hermocoel terdiri atas sejumlah ruangan kecil yang dipompa oleh jantung. Sistem saraf
arthropoda sama dengan anelida, terdapat bagian ventral tubuh bentuk seperti tangga
tali. Hewan arthropoda yang hidup di air bernafas dengan insang, sistem trakea
kemudian ada pula dengan sistem paru-paru buku. Sistem ekssresi menggunakan saluran
malphigi, sistem sarafnya dinamakan sistem saraf tepi dihubungkan oleh saraf melintang
(Wagio,2010).
Arthropoda memiliki sistem pencernaan yang sempurna (memiliki anus). Mulut
dilengkapi dengan rahang. Sistem peredaran darahnya terbuka dan darahya berwarna
biru karena disebabkan oleh kandungan hemosianin (bukan hemoglobin). Reproduksi
dilakukan dengan perkawinan, tetapi adapula beberapa hewan yang melakukan
parthenogenesis. Parthenogenesis merupakan proses perkembangan embrio dari telur
yang tidak dibuahi. Jenis kelamin arthropoda terpisah (gonokori) artiya ada hewan
jantan dan hewan betina. Arthropoda memiliki empat kelas yaitu kelas Myriapoda, Kelas
Crustasea, kelas Arachnida, dan kelas Insecta. Secara evolusi kelas arthropoda
merupakan kelas yang paling berhasil dalam mengembangkan jenisnya, hampir 75%
hewan dimuka bumi ini adalah arthropoda (Rygon, 2013).
Sistem pencernaan arthropoda dimulai dengan mulut, usus, dan anus. Mulut yang
terdapat pada hewan arthropoda berfungsi untuk menjilat seperti pada lalat, menusuk
dan menghisap seperti pada nyamuk, serta menggigit seperti pada semut. Fertilisasi
hewan arthropoda berlangsung secara internal. Telur banyak mengandung kuning telur
yang tertutup oleh cangkang. Hewan jenis arhtropoda ada yang mengalami metamorfosis
sempurna dan adapula yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Terdapat
beberapa cirri khusus hewan arthropoda diantaranya yaitu tubuh terdiri dari caput dan
terdapat mata serta antenna juga mulut. Pada torax terdiri dari tiga pasang kaki yang
beruas ruas. Pada abdomen terdiri dari kurang lebih sebelas buku dengan beberapa
bagian terminal. Jantung berbentuk gilik dan mempunyai arterior aorta tetapi tidak
memiliki pembuluh darah kapiler dan vena. Alat eksresi terdiri dari dua atau lebih badan
yang berbentuk tabung. Alat reproduksi terpisah, pertumbuhan terjadi didalam tubuh dan
pada fase terakhir akan terbungkus oleh cangkok (Agnestika, 2012).
Menurut Jutje (2006), filum arthropoda dibagi menjadi empat kelas, yaitu :
1. Crustacea (dalam bahasa latinnya crusta = kulit) memiliki kukit yang keras. Udang,
lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini. Umumnya hewan crustacea
merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat. Crustacea di bedakan
menjadi dua subkelas, berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu entomostraca dan
malacastraca. Entomostraca meliputi udang tingkat rendah (berukuran kecil). Ciri-
cirinya yaitu hidup sebagai zooplankton di air, reproduksi
secara partenogenesis (telur dapat berkembang menjadi individu baru tanpa adanya
pembuahan. Larvanya dinamakan Nauplius. Contoh : Cylops sp, Phenella exocoeti,
Daphnia pulex, Lepidurus sp, Estheria sp. dan lain-lain. Malacastraca (udang tingkat
rendah) memiliki ciri-ciri: merupakan mikroorganisme, hidupnya sebagai plankton
yang dapat bergerak bebas, hewan ini tidak memiliki insang sehingga bernafas
dengan seluruh permukaan tubuhnya.
2. Arachnida disebut juga kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba
saja, kalajengking adalah salah satu contoh yang jumlahnya sekitar 32 spesies.
Ukuran tubuh kelas ini bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,2-0,9 cm.
Karakteristik dari arachnida yaitu memiliki empat pasang lengan, tidak ada antena
ataupun sayap, dan hanya memiliki dua bagian tubuh, yaitu sefalotoaks dan
abdomen. Bagian arachnida adalah turunan dari greekarachne, yang mana berarti
laba-laba (Soemadji, 1995). Arachnida diklasifikasi dalam 3 ordo antara lain
sebagai berikut.
a) Scorpionida: Scorpionida merupakan kelompok hewan kala dan tertua dari
seluruh anggota Arthropoda darat. Contoh jenis Scorpionida adalah
kalajengking.
b) Arachneida: Arachneida merupakan kelompok laba-laba dan mampu membentuk
sarang (jaring) dengan benang-benang sutera karena memiliki spinneret.
Spinneret merupakan organ yang ada didepan anus. Contoh jenis Arachneida
misalnya Nephilla maculata (laba-laba raksasa), Heteropoda venatoria (laba-
laba pemburu), Myangale javanica (laba-laba burung).
c) Acarina: Acarina merupakan kelompok caplak/tungau yang memiliki tubuh yang
tidak berbuku-buku yang pada umumnya parasit pada burung dan mamalia
termasuk manusia. Contoh jenis Acarina adalah Dermosentor andersoni
(tungau), Dermotex folicurum (caplak rambut pada manusia), Rhipicephalus
sanguincus (caplak anjing), Cermanyssus galinae (tungau ayam), Tarsonemus
transhicens (tungau kuning parasit pada tomat).
3. Insecta (dalam bahasa latin insect=serangga) banyak anggota hewan ini sering kita
jumpai di sekitar kita, misalnya kupu-kupu, nyamuk, lalat, lebah, semut, capung,
jangkrik, balalang, lebah. Ciri khususnya adalah kakainya yang berjumlah 6 buah.
Karena itu pula sering juga disebut hexapoda. Insecta dapat hidup di beragai habitat.
Berdasarkan dari ada atau tidaknya sayap. Insekta dibedakan menjadi dua macam
subkelas antara lain sebagai berikut.
a) Apterygota (tak bersayap): Berukuran kecil sekitar 0,5 cm dan mempunya antena
panjang. Contohnya: hewan kelas ini adalah kutu buku
b) Pterygota (bersayap): merupakan kelompok insecta yang sayapnya berasal dari
tonjolan luar dinding tubuh yang disebut dengan Eksopterigo. Kelompok lain
yang sayapnya berasal dari tonjolan dalam dinding tubuh disebut dengan
Endopterigota.
4. Myriapoda merupakan hewan barkaki banyak. Myriapoda hidup di daratan pada
tempat yang lembab, tubuhnya sulit dibedakan antara tarales dan abdomen.
Myriapoda dibagi atas 2 sub kelas yaitu chilopoda dan diplopoda. Ciri-ciri
Chilopoda yaitu: tubuh agak gepeng, terdiri dari kepala dan badan yang beruas-ruas
dari 15-73 ruas. dari setiap ruas memiliki satu pasanng kaki, kecuali ruas (segmen) di
bagian belakang kepala dan dua segmen terakhirnya, pada segmen di belakang
kepala terdapat satu pasang "taring bisa" (masiliped) yang berfungsi untuk
membutuh mangsanya, pada kepala terdapat sepasang antena yang terdiri dari 12
segmen, dengan dua kelompok mata tunggal dan mulut. Contohnya adalah
Scolopendra morsitans, dan Lithobius forticatus atau yang mencakup berbagai
macam jenis lipan (kelabang). Ciri-ciri diplopodia adalah: pada umumnya
mempunyai 30 pasang kaki atau lebih, memiliki bentuk tubuh yang siinder (bulan
memanjang), terdapat sebagian segmen yang menyatu dengan di setiap segmen
terdapat 2 pasang kaki, banyak dijumpai dibawah serasah, bebatuan, atau dalam
tanah dan selalu menghindar dari cahaya, memiliki gerakan yang lambat dan jika
terdapat getaran, tubuhnya akan membentuk melingkar dengan bentuk spiral atau
bola di bagian kepala terdapat sepasang antena, dua pasang mata tunggal, dan alat
mulut tanpa taring bisa. Contohnya adalah kaki seribu (Julus nomerensi).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Arthropoda yaitu bak preparat,
pinset, kaca pembesar, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, sarung tangan karet
(gloves), masker, dan alat tulis.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum acara Arthropoda yaitu beberapa
spesimen hewan Arthropoda.

B. Metode

Cara kerja yang digunakan dalam praktikum Arthropoda yaitu:


1. Karakter pada spesimen diamati berdasarkan ciri-ciri morfologi lalu digambar dan
dideskripsikan.
2. Spesimen diidentifikasi dengan kunci identifikasi.
3. Dibuat kunci identifikasi sederhana berdasarkan karakter spesimen yang diamati.
4. Dibuat Laporan sementara dari hasil praktikum.
DAFTAR REFERENSI

Agnestika, I. K. 2012. Arthropoda Dalam Ekosistem. Jakarta: Erlangga.

Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Surabaya: Sinar


Wijaya.

Jutje, S. 2006. Zoologi Invetebrata. Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Karmana, O. 2007. Serangga. Bandung : Alfabeta.

Mayr, E. 1982. Principles of Systematic Zoologi. New Delhi: Tata McGraw-Hill


Publishing Company.

Obiezue, N. K., Okoye, I. C., Onuekwusi, U., Amoke, C. O., Egbu, F. 2012. Arthropod
Fauna of the University of Nigeria, Nsukka, Sewage Pond. Animal Research
International, 9(1),pp. 1544-1548.

Rygon, M. 2013. Ant World. Jakarta : Erlangga.

Soemadji. 1995. Materi Pokok Zoologi. Jakarta: Depdikbud.

Suwarno. 2016. Keragaman dan Peran Biologi Arthropoda pada Sawah Irigasi dan
Tegalan. Proceeding Biology Education Conference, 13(1),pp. 603-605.

Wagio, Sebastian. 2010. Modul Pengantar Kuliah Serangga dan Manfaatnya. Bandung :
UPI.