You are on page 1of 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Tulang Belakang


Tulang belakang adalah pilar yang kuat melengkung dan dapat bergerak yang
menopang tengkorak, dinding dada, ekstremitas atas, menyalurkan berat badan ke ekstremitas
bawah, dan melindungi medulla spinalis. Tulang belakang terdiri dari sejumlah vertebra, yang
dihubungkan oleh discus invertebralis dan beberapa ligamentum. Setiap vertebra terdiri dari
tulang spongiosa yang terisi dengan sumsum tulang merah dan dilapisi oleh selapis tipis
tulang padat (Gibson, 2002).

Gambar 1. Tulang Columna Vertebralis (Gibson, 2002).

Gambar 2. Tulang Belakang (Anonim, 2010).

2.1.1 Servikal
Vertebra servikalis adalah bagian bawah kepala dengan ruas-ruas tulang leher yang
berjumlah 7 buah (CV I CV VII). Vertebra servikalis merupakan bagian terkecil di tulang
belakang. Secara anatomi vertebra servikalis dibagi menjadi dua daerah yaitu daerah servikal
atas (CV1 dan CV2) dan daerah servikal bawah (CV3 sampai CV7). Diantara ruas-ruas
tersebut, ada tiga ruas servikal yang memiliki struktur anatomi yang unik. Ketiga ruas telah
diberi nama khusus, antara lain CV1 disebut atlas, CV2 disebut axis, dan CV7 disebut
prominens vertebra (Sitepu, 2008).
1. Atlas (Vertebra Cervicalis Pertama)
CV1 dianggap berbeda karena tidak mempunyai corpus, hanya sebuah arcus
transversus tulang di bagian depan. Selain itu, facies articularis pada bagian dalam
arcus transversus ini untuk processus odontoid pada axis dan facies articularis di
bagian atas untuk artikulasi dengan permukaan inferior os occipital (Gibson, 2002).

Gambar 3. Vertebra
Cervicalis Pertama Tampak Atas (Gibson, 2002).
2. Axis
Vertebra servikal II juga disebut aksis, berbeda dengan vertebra servikal ke-
3 sampai ke-6 karena adanya dens atau processus odontoid. Pada permukaan cranial
corpus aksis memiliki tonjolan seperti gigi, dens yang ujungnya bulat, aspek dentis
(Syaiffudin, 2006). Processus odontoid ini dalam perkembangannya merupakan
corpus atlas yang telah dialihkan pada axis. Processus ini difiksasi oleh
ligamentum-ligamentum pedek yang menghubungkannya dengan atlas dan pada
sisi foramen magnum os occipital (Gibson, 2002).
Gambar 4. Axis dilihat dari depan, atlas dan axis (bawah) dilihat dari
belakang (Gibson, 2002).
3. Vertebra servikal III-V processus spinosus bercabang dua. Foramen transversarium
membagi processus transversus menjadi tuberculum anterior dan posterior. Lateral
foramen transversarium terdapat sulcus nervi spinalis, didahului oleh nervi spinalis
(Syaifuddin, 2006).

Gambar 5. C1-C4 Postsuperior View (Anonim, 2010).


4. Vertebra servikal VI perbedaan dengan vertebra servikal I sampai dengan servikal
V adalah tuberculum caroticum, karena dekat dengan arteri carotico (Syaiffudin,
2006).
5. Vertebra servikal VII adalah ruas yang pertama yang mempunyai prosesus spinosus
tidak terbelah. Prosesus ini mempunyai turbekel (benkolan) pada ujungnya.
Membentuk gambaran yang jelas di tengkuk dan tampak pada bagian bawah
tengkuk. Karena ciri khususnya ini maka tulang ini disebut vertebra prominens
(Evelyn, 2008).
Gambar 6. C4 dan C7 Superior View (Anonim, 2010).

2.1.2 Torakal
Vertebra thorakalis atau ruas tulang punggung lebih besar daripada yang servikal dan
sebelah bawah lebih besar. Ciri khas vertebra thorakalis adalah sebagai berikut (Evelyn,
2008).
a. Badannya berbentuk lebar lonjong (bentuk jantung) dengan faset atau lekukan
kecil di setiap sisi untuk menyambung iga, lengkungnya agak kecil, prosessus
spinosus panjang dan mengarah ke bawah.
b. Sedangkan prosessus tranversus, yang membantu mendukung iga adalah tebal dan
kuat serta memuat faset persendian untuk iga
Gambar 7. Vertebra torakalis dari atas (Evelyn, 2008).

Gambar 8. Vertebra torakalis dari samping (Evelyn, 2008).


2.1.3 Lumbal
Vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang adalah yang terbesar. Badannya sangat
besar dibandingkan dengan badan vertebra lainnya dan berbentuk seperti ginjal. Prosessus
spinosusnya lebar dan berbentuk kapak kecil. Prosesus transversusnya panjang dan langsing.
Ruas kelima membentuk sendi dengan sacrum pada sendi lumbo sacral (Evelyn, 2008).
Vertebra lumbalis terdiri atas 5 tulang yang merupakan bagian paling tegap
konstruksinya dan menanggung beban terberat dari tulang yang lainnya. Bagian ini
memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi tubuh dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat
yang kecil.

Gambar 9. Lumbar Vertebrae (L1-L5) Left Lateral View (Anonym, 2010).

2.1.4 Sakrum
Sacrum dibentuk oleh lima vertebra yang berfungsi menjadi satu. Tulang ini berbentuk
baji yang melengkung, dengan ciri (Gibson, 2002):
1. Permukaan konkaf yang licin di bagian anterior, yang membentuk bagian belakang
rongga panggul
2. Permukaan konveks yang kasar di bagian posterior yang merupakan tempat
pelekatan ligamentum dan sebagian musculus erector spinae dan musculus gluteus
maximus
3. Facies articularis pada tiap sisi untuk artikulasi dengan os ilium
4. Facies artikularis kecil di bagian bawah untuk artikulasi dengan os coccygeus
5. Empat foramen sacralis anterior dan empat posterior yang dilalui oleh cabang
anterior dan posterior nervus sacralis.
Gambar 10. Os Sacrum dilihat dari depan dan samping (Gibson, 2002).
2.1.5 Coccygeal
Os coccygeus adalah tulang kecil berbentuk segitiga, dibentuk dari empat os coccygeus
yang bergabung menjadi satu. Tulang ini berartikulasi dengan sacrum dan membentuk
sebagian dinding posterior pelvis (Gibson, 2002).

2.2 Trauma Medula Spinalis


2.2.1 Definisi Trauma Medulla Spinalis
Cedera medula spinalis dapat didefinisikan sebagai semua bentuk cedera yang mengenai
medula spinalis baik yang menimbulkan kelainan fungsi utamanya (motorik, sensorik,
otonom dan reflek) secara lengkap atau sebagian. Spinal Cord Injury (SCI) adalah cedera,
trauma atau lesi pada medula spinalis yang mengakibatkan kelumpuhan pada bagian dibawah
cedera, berupa komplit atau tidak komplit yang ditandai tangan, badan dan kaki menjadi
lumpuh, terjadi gangguan sistem pernapasan, eliminsi feses dan eliminasi urin (Aisyiyah,
2009).
Cedera tulang belakang yaitu cedera yang terjadi ketika ada kerusakan pada sumsum
tulang belakang yang memblok komunikasi antara otak dan tubuh. Setelah mengalami cedera
tulang belakang, saraf sensorik dan motorik serta refleks pesan seseorang yang terkena cidera
mungkin tidak dapat melewati sumsum tulang belakang seperti biasanya. Secara umum,
semakin tinggi cedera yang terjadi pada sumsum tulang belakang, semakin orang akan
mengalami disfungsi tubuh. Yang paling penting untuk diketahui adalah bahwa pemulihan
setiap orang dari cedera tulang belakang berbeda-beda (Shepherd Center, 2011).
Spinal Cord Injury atau cedera tulang belakang merupakan perlukaan pada sumsum
tulang belakang yang mengakibatkan perubahan, baik sementara atau permanen, perubahan
fungsi motori, sensorik, atau otonom . Pasien dengan cedera tulang belakang biasanya
memiliki defisit neurologis permanen dan sering menghancurkan dan cacat (Lawrence,
2014).

2.2.2 Klasifikasi Trauma Medulla Spinalis


Menurut Morton & fontaine (2012) Spinal Cord Injury dapat diklasifikasikan
berdasarkan lokasi cedera, yaitu:
1) Cedera Servikal (C1-C8)
a. Pada lesi C1 C4, otot trapezius, sternomastoideus dan otot plasma masih
berfungsi. Otot diafragma dan interkostal mengalami paralisis dan tidak ada
gerakan involunter (baik secara fisik maupun fungsional). Dibawah transeksi
spinal tersebut, kehilangan sensori pada tingkat C1 C3 meliputi oksipital, telinga
dan beberapa daerah wajah.
Pasien pada qudriplegia C1, C2, dan C3 membutuhkan perhatian penuh karena
ketergantungan pada/terhadap ventilator mekanis. Pasien ini juga ketergantungan
semua kebutuhan sehari-harinya. Quadriplegia pada C4 mungkin juga
membutuhkan ventilator mekanis tetapi dapat dilepas. Jadi penggunaannya secara
intermitten saja.
b. Lesi C5 yaitu bila segmen C5 medulla spinalis mengalami kerusakan, fungsi
diafragma rusak sekunder terhadap pascatrauma akut. Paralisis intertinal dan
dilatasi lambung dapat disertai dengan depresi pernafasan. Quadriplegia pada C5
biasanya mengalami ketergantungan dalam melakukan aktivitas seperti mandi,
menyisir rambut, mencukur terapi pasien mempunyai koodinasi tangan dan mulut
yang baik.
c. Lesi C6 yaitu pada lesi segmen C6, distress pernafasan dapat terjadi karena
paralisis intestinal dan edema asenden dari medulla spinalis. Biasanya akan terjadi
gangguan pada otot bisep, triep, deltoid dan pemulihannya tergantung pada
perbaikan posisi lengan. Umumnya pasien masih dapat melakukan aktivitas
higiene secara mandiri, bahkan masih dapat memakai dan melepaskan baju.
d. Lesi C7 yaitu lesi medulla pada tingkat C7 memungkinkan otot diafragma dan
aksesoris untuk mengkompensasi otot abdomen dan interkostal. Fleksi jari tangan
biasanya berlebihan ketika kerja refleks kembali. Quadriplegia C7 mempunyai
potensi hidup mandiri tanpa perawatandan perhatian khusus. Pemindahan mandiri,
seperti berpakaian dan melepas pakaian melalui ekstrimitas atas dan bawah,
makan, mandi, pekerjaan rumah yang ringan dan memasak.
e. Lesi C8 yaitu hipotensi postural bisa terjadi bila pasien ditinggikan pada posisi
duduk karena kehilangan control vasomotor. Hipotensi postural dapat
diminimalkan dengan pasien berubah secara bertahap dari berbaring ke posisi
duduk. Jari tangan pasien biasanya mencengkram.Quadriplegia C8 harus mampu
hidup mandiri, mandiri dalam berpakaian, melepaskan pakaian, mengemudikan
mobil, merawatrumah, dan perawatan diri.
2) Torakal (T1-T12)
a. Lesi T1T5 yaitu lesi pada region T1-T5 dapat menyebabkan pernafasan dengan
diafragmatik. Fungsi inspirasi paru meningkat sesuai tingkat penurunan lesi pada
toraks. Hipotensi postural biasanya muncul.Timbul paralisis parsial dari otot
adductor pollici, interoseus, dan ototlumrikal tangan, seperti kehilangan sensori
sentuhan, nyeri, dan suhu.
b. Lesi T6T12 yaitu lesi pada tingkat T6 menghilangkan semua refleks abdomen.
Mulai tingkat T6 ke bawah, segmen-segmen individual berfungsi, dan pada
tingkat 12, semua refleks abdominal ada. Ada paralisis spastik pada tubuh bagian
bawah. Pasien dengan lesi pada tingkat torakalharus befungsi secara mandiri.
3) Lumbar (L1-L5)
a. Lesi L1 yaitu semua area ekstrimitas bawah, menyebar ke lipat paha & bagian
belakang dari bokong.
b. Lesi L2 yaitu ekstrimitas bagian bawah kecuali sepertiga atas aspek anterior paha
c. Lesi L3 yaitu ekstrimitas bagian bawah dan daerah sadel.
d. Lesi L4 yaitu sama dengan L3, kecuali aspek anterior paha.
e. Lesi L5 yaitu aspek luar kaki dan pergelangan kaki serta ekstrimitas bawah dan
area sadel
4) Sakral (S1-S5)
Pada lesi yang mengenai S1-S5, mungkin terdapat beberapa perubahan posisi dari
telapak kaki. Dari S3-S5, tidak terdapat paralisisdari otot kaki. Kehilangan sensasi
meliputi area sadel, skrotum, danglans penis, perineum, area anal, dan sepertiga
aspek posterior paha.

Klasifikasi trauma medulla spinalis berdasarkan mekanisme ini dibagi dua yakni
complete dan incomplete. Penilaian terhadap gangguan motorik dan sensorik
dipergunakan Frankel Score. (Chin, 2013)
a. FRANKEL SCORE A : kehilangan fingsi motorik dan sensorik lengkap/complete
loss. Motoris (-) sensoris (-)
b. FRANKEL SCORE B: Fungsi motoric hilang, fungsi sensorik utuh. Motoris (-),
sensoris (+)
c. FRANKEL SCORE C: Fungsi motoric ada tetapi secara praktis tidak berfungsi
(dapat menggerakkan tungkai tetapi tidak dapat berjalan). Motoris (+) dengan ROM
2 atau 3,sensoris (+)
d. FRANKEL SCORE D: Fungsi motoric terganggu (dapat berjalan tetapi tidak dengan
normalgait). Motoris (+) dengan ROM 4, sensoris (+)
e. FRANKEL SCORE E: Tidak terdapat gangguan neurologik. Motoris (+), sensoris
(+)
Klasifikasi menurut American Spinal Injury Association (ASIA) impairement scale
(modifikasi dari klasifikasi frankle) (Chin, 2013)
a. Grade A : komplit. Motoris (-), sensoris (-) termasuk pada segmen sacral s4-s5
b. Grade B : inkomplit. Motoris (-), sensoris (+)
c. Grade C : inkomplit. Motoris (+) dengan kekuatan otot < 3
d. Grade D : inkomplit. Motoris (+) dengan kekuatan otot > 3 atau lebih dari sama
dengan 3
e. Grade E : Motoris dan sensoris normal

2.2.3 Etiologi Trauma Medulla Spinalis


Sejak tahun 2005 etiologi utama trauma medulla spinalis antara lain kecelakaan lalu
lintas 39,2%), jatuh (28,3%), kekerasan (luka tembak 14,6%), olah raga (terutama diving
8,2%) akibat lainnya dari mencakup 9,7% (National Spinal Cord Injury Statistical
Center,2012). Beberapa literature mendokumentasikan etiologi yang serupa, namun dengan
sedikit variasi pada proporsinya. Etiologi nontraumatik antara lain, gangguan vascular,
autoimun, degenerative, infeksi, iatrogenic, dan lesi onkogenik (Chin, 2013).

2.2.4 Manifestasi Klinis Trauma Medulla Spinalis


Gejala bervariasi tergantung pada lokasi cedera. Cedera tulang belakang menyebabkan
kelemahan dan hilangnya rasa pada lokasi cidera dan di bawahnya. Seberapa berat gejala
yang ditimbulkan tergantung pada apakah seluruh corda spinalis cidera berat, (complete)
atau hanya terluka sebagian (incomplete). Menurut Bhimiji (2014), berikut adalah gejala
yang timbul sesuai dengan lokasi cidera:
1. Cervical (Neck) Injuries
Ketika cedera tulang belakang terjadi pada daerah leher, gejala dapat mempengaruhi
lengan, kaki, dan bagian tengah tubuh. Gejala-gejala dapat terjadi pada satu atau kedua
sisi tubuh. Gejala juga dapat mencakup kesulitan bernapas dari kelumpuhan otot-otot
pernapasan, jika cedera yang terjadi setinggi/diatas leher.
2. Thoracic (Chest Level) Injuries
Ketika cedera tulang belakang terjadi pada level dada, gejala dapat mempengaruhi
kaki. Cedera yang terjadi pada cervical atau high thoracic spinal cord juga dapat
mengakibatkan masalah tekanan darah, berkeringat abnormal, dan kesulitan
mempertahankan suhu tubuh normal.
3. Lumbar Sacral (Lower Back) Injuries
Ketika cedera tulang belakang terjadi pada level punggung bawah, gejala dapat
mempengaruhi satu atau kedua kaki, serta otot-otot yang mengontrol usus dan
kandung kemih.

2.2.5 Patofisiologi Trauma Medulla Spinalis


Patofisiologi terjadinya cedera medula spinalis meliputi mekanisme cedera primer dan
sekunder. Trauma medula spinalis dapat menyebabkan komosio, kontusio, laserasi, atau
kompresi medula spinalis. Patomekanika lesi medula spinalis berupa rusaknya traktus pada
medula spinalis, baik asenden ataupun desenden. Petekie tersebar pada substansia grisea,
mem besar, lalu menyatu dalam waktu satu jam setelah trauma. Selanjutnya, terjadi nekrosis
hemoragik dalam 24-36 jam. Pada substansia alba, dapat ditemukan petekie dalam waktu 3-
4 jam setelah trauma. Kelainan serabut mielin dan traktus panjang menunjukkan adanya
kerusakan struktural luas.
Medula spinalis dan radiks dapat rusak melalui 4 mekanisme berikut:
1. Kompresi oleh tulang, ligamen, herniasi diskus intervertebralis, dan hematoma. Yang
paling berat adalah kerusakan akibat kompresi tulang dan kompresi oleh korpus
vertebra yang mengalami dislokasi ke posterior dan trauma hiperekstensi.
2. Regangan jaringan berlebihan, biasanya terjadi pada hiperfl eksi. Toleransi medula
spinalis terhadap regangan akan menurun dengan bertambahnya usia.
3. Edema medula spinalis yang timbul segera setelah trauma mengganggu aliran darah
kapiler dan vena.
4. Gangguan sirkulasi atau sistem arteri spinalis anterior dan posterior akibat kompresi
tulang.

a. Mekanisme kerusakan primer


Ada setidaknya 4 mekanisme penyebab kerusakan primer:
(1) gaya impact dan kompresi persisten,
(2) gaya impact tanpa kompresi,
(3) tarikan medula spinalis,
(4) laserasi dan medula spinalis terpotong akibat trauma.
Sel neuron akan rusak dan kekacauan proses intraseluler akan turut berdampak pada
selubung mielin di dekatnya sehingga menipis; transmisi saraf terganggu, baik karena efek
trauma ataupun oleh efek massa akibat pembengkakan daerah sekitar luka. Kerusakan
substansia grisea akan ireversibel pada satu jam pertama setelah trauma, sementara
substansia alba akan mengalami kerusakan pada 72 jam setelah trauma.
b. Mekanisme kerusakan sekunder
Kerusakan primer merupakan sebuah nidus atau titik awal terjadinya kerusakan
sekunder. Kerusakan sekunder disebabkan, antara lain, oleh syok neurogenik, proses
vaskular, seperti perdarahan dan iskemia, eksitotoksisitas, lesi sekunder yang dimediasi
kalsium, gangguan elektrolit, kerusakan karena proses imunologi, apoptosis, gangguan pada
mitokondria, dan proses lain.

2.2.6 Penatalaksanaan Trauma Medulla Spinalis


A. Tiga fokus utama penanganan awal pasien cidera medulla spinalis yaitu:
1. Mempertahankan usaha bernapas
2. Mencegah syok, dan
3. Imobilisasi leher (neck collar dan long spine board)
Penatalaksanaan Pra-Rumah Sakit TMS dimulai segera setelah terjadinya trauma.
Berbagai studi memperlihatkan pentingnya penatalaksanaan prarumah sakit dalam
menentukan prognosis pemulihan neurologis pasien TMS. Fase evaluasi meliputi
observasi primer dan sekunder. Observasi primer terdiri atas:
A: Airway maintenance dengan kontrol pada vertebra spinal
B: Breathing dan ventilasi
C: Circulation dengan kontrol perdarahan
D: Disabilitas (status neurologis)
E: Exposure/environmental control
Selain itu fokus selanjutnya adalah mempertahankan tekanan darah dan pernapasan,
stabilisasi leher, mencegah komplikasi.
B. Terapi utama:
Farmakoterapi. Metilprednisolon 30 mg/kg bolus selama 15 menit, lalu 45 menit
setelah pemberian bolus pertama, lanjutkan dengan infus 5,4 mg/kg/jam selama
23 jam.
Imobilisasi. Traksi, untuk menstabilkan medula spinalis.
Bedah. Untuk mengeluarkan fragmen tulang, benda asing, reparasi hernia diskus
atau fraktur vertebra yang mungkin menekan medula spinalis; juga diperlukan
untuk menstabilisasi vertebra untuk mencegah nyeri kronis.
C. Hal-hal yang harus diperhatikan pada kasus trauma spinal adalah sebagai berikut:
1. Penanganan trauma spinal telah dimulai sejak di tempat kejadian.
2. Proteksi terhadap cervical spine merupakan hal yang sangat penting
3. Mobilisasi penderita ke rumah sakit harus dilaksanakan dengan cara yang benar.
4. Penatalaksanaan trauma spinal harus menurut prinsip-prinsip baku yang telah
dianut
5. Tindakan operasi dan instrumentasi banyak menolong penderita dari cacat
neurologik yang berat.

2.2.7 Komplikasi Trauma Medulla Spinalis


Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan trauma medulla spinalis adalah:
1. Perubahan tekanan darah yang ekstrim (autonomic hyperreflexia)
2. Chronic kidney disease
3. Komplikasi dari immobilisasi:
Deep vein thrombosis
Lung infections
Skin breakdown
Muscle contractures
4. Peningkatan risiko urinary tract infections
5. Kehilangan control bladder
6. Kehilangan control bowel
7. Loss of feeling
8. Kehilangan fungsi seksual (male impotence)
9. Muscle spasticity
10. Nyeri
11. Paralysis dari otot pernafasan
12. Paralysis (paraplegia, quadriplegia)
13. Pressure sores
14. Shock
Komplikasi yang dapat terjadi pasca cedera medula spinalis antara lain yaitu instabilitas
dan deformitas tulang vertebra, fraktur patologis, syringomyelia pasca trauma, nyeri dan
gangguan fungsi seksual.

2.2.8 Pemeriksaan Diagnostik Trauma Medulla Spinalis


Pemeriksaan Diagnostik pada penderita Trauma Medulla Spinalis menurut Marylinn
E. Doengoes, et.al, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan , Edisi 3, EGC, Jakarta adalah:
1. Sinar X Spinal : menentukan lokasi dan jenis cedera tulang, untuk kesejajaran
operasi;
2. CT-SCAN : menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi gangguan struktural;
3. MRI : mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan komprasi;
4. Myelografi : memperlihatkan columna spinal jika fraktur patologisnya tidak jelas
atau dicurigai;
5. Foto Rontgen Torax : memperlihatkan keadaan paru ( contoh : perubahan pada
diafragma, ateletaksis ).
Menurut Brunner dan Suddarth (2001) pemeriksaan diagnostik trauma medulla
spinalis, yaitu:
1. Sinar X
Sinar X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, erosi, dan perubahan
hubungan tulang pada vertebra lumbal. Sinar X multipel diperlukan untuk pengkajian
paripurna struktur yang sedang diperiksa, menentukan lokasi dan jenis cedera tulang
(fraktur, dislokasi), kesejajaran, dan reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi
(Brunner dan Suddarth, 2001).

Gambar 2.1 Foto Sinar X Lumbal

2. Computed Tomography (CT Scan)


Pencitraan ini menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena (lumbal) dan
dapat memperlihatkan cedera ligamen atau tendon. Teknik ini dapat
mengidentifikasai lokasi dan panjangnya patah tulang di daerah yang sulit dievaluasi.
Pemindaian CT selalu dilakukan pertama tanpa zat kontras, namun jika dengan zat
kontras, maka akan diinjeksi melalui intravena (Brunner dan Suddarth, 2001).
3. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI adalah teknik pencitraan khusus, noninvasif, yang menggunakan medan
magnet, gelombang radio, dan komputer untuk memperlihatakan abnormalitas
jaringan lunak seperti otot, tendon, dan tulang rawan. MRI mempunyai potensial
untuk mengidentifikasi keadaan abnormal serebral dengan mudah dan lebih jelas dari
tes diagnostik lainnya. MRI dapat memberikan informasi tentang perubahan kimia
dalam sel, namun tidak menyebabkan radiasi sel (Brunner dan Suddarth, 2001).
Gambar 2.2 Foto Magnetic Resonance Imaging (MRI) Lumbal

4. Mielografi.
Merupakan penyuntikan bahan kontras ke dalam rongga subarachnoid spinalis
lumbal. Mielogram menggambarkan ruang subarachnoid spinal dan menunjukkan
adanya penyimpangan medula spinalis atau sakus dural spinal yang disebabkan oleh
tumor, kista, hernia diskus vertebral, atau lesi lain. Zat kontras dapat menggunakan
larutan air atau yang mengandung minyak. Metrizamid adalah zat kontras yang larut
air, diabsorbsi oleh tubuh, serta diekskresi melalui ginjal (Brunner dan Suddarth,
2001).
Gambar 2.3 Foto Mielografi Lumbal

2.2.9 Prognosis Trauma Medulla Spinalis


Pasien dengan cedera medula spinalis komplet hanya mempunyai harapan untuk sembuh
kurang dari 5%. Jika kelumpuhan total telah terjadi selama 72 jam, maka peluang untuk
sembuh menjadi tidak ada. Jika sebagian fungsi sensorik masih ada, maka pasien mempunyai
kesempatan untuk dapat berjalan kembali sebesar 50%. Secara umum, 90% penderita cedera
medula spinalis dapat sembuh dan mandiri.
2.2.10 WOC Trauma Medulla Spinalis
2.3 Spinal Syok
2.3.1 Definisi Spinal Syok
Spinal syok (syok pada medula spinalis) termasuk syok distributif, terjadi karena volume
darah secara abnormal berpindah tempat pada vaskuler seperti ketika darah berkumpul dalam
pembuluh darah perifer. Spinal syok / syok pada medula spinalis adalah suatu keadaan
disorganisasi fungsi medula spinalis yang fisiologis dan berlangsung untuk sementara waktu,
keadaan ini timbul segera setelah cedera dan dapat berlangsung dari beberapa jam hingga
beberapa minggu. Syok spinal juga diketahui sebagai syok neurogenik adalah akibat dari
kehilangan tonus vasomotor yang mengakibatkan dilatasi vena dan arteriol umum. Syok ini
menimbulkan hipotensi, dengan penumpukan darah pada pembuluh penyimpan atau
penampung dan kapiler organ splanknik. Tonus vasomotor dikendalikan dan dimediasi oleh
pusat vasomotor di medulla dan serat simpatis yang meluas ke medulla spinalis sampai
pembuluh darah perifer secara berurutan. Karenanya kondisi apapun yang menekan fungsi
medulla atau integritas medulla spinalis serta persarafan dapat mencetuskan syok
neurogenik/syok spinal.

2.3.2 Etiologi Spinal Syok


Neurogenik syok disebabkan oleh beberapa faktor yang mengganggu CNS. Masalah
ini terjadi akibat transmisi impuls yang terhambat dan hambatan hantaran simpatik dari pusat
vasomotor pada otak. Penyebab utamanya adalah SCI.
Syok neurogenik disebut juga dengan syok tulang belakang. kondisi berikutnya
mengacu pada hilangnya aktivitas neurologis dibawah tingkat cedera tulang belakang, tetapi
tidak melibatkan perfusi jaringan tidak efektif (Linda D. Urden, 2008).
Tipe syok ini bisa disebabkan oleh banyak faktor yang menstimulasi parasimpatik atau
menghambat stimulasi simpatik dari otot vaskular. Trauma pada syaraf spinal
atau medulla dan kondisi yang mengganggu suplai oksigen atau gulokosa ke medulla
menyebabkan syok neurogenik akibat gangguan aktivitas simpatik. Obat
penenang, anestesi, dan stres hebat beserta nyeri juga merupakan penyebab lainnya.

2.3.3 Manifestasi Klinis Spinal Syok


Menurut Corwin (2009) manifestasi klinis dari spinal syok adalah hilangnya sensasi,
kontrol motorik, dan reflek dibawah cedera. Suhu didalam tubuh akan menggambarkan suhu
yang ada di lingkungan, kemudian tekanan darah akan menurun. Sedangkan frekuensi denyut
nadi sering normal akan tetapi tetap disertai tekanan darah yang selalu rendah.
Sedangkan menurut Baughman (2000) dalam kondisi syok spinal, otot yang dipersarafi
oleh bagian segmen medulla yang terletak di bawah tingkat lesi mengalami paralisis komplet
atau flaksid, dan refleks pada bagian tersebut menjadi hilang. Tekanan darah turun, dan
bagian tubuh di bawah tingkat lesi medulla mengalami paralasis dan tanpa sensasi.

2.3.4 Patofisiologi Spinal Syok


Terjadinya syok spinal biasanya diawali dengan adanya trauma pada spinal. Syok spinal
merupakan hilangnya reflek pada segmen atas dan bawah lokasi terjadinya cedera pada
medulla spinalis. Reflek yang hilang antara lain reflek yang mengontrol postur, fungsi
kandung kemih dan usus, tekanan darah, dan suhu tubuh. Hal ini terjadi akibat hilangnya
muatan tonik secara akut yang seharusnya disalurkan melalui neuron dari otak untuk
mempertahankan fungsi reflek. Ketika syok spinal terjadi akan mengalami regresi dan
hiperrefleksia ditandai dengan spastisitas otot serta reflex pengosongan kandung kemih dan
usus (Corwin, 2009).
Syok spinal terjadi ketika ada kehilangan impuls tonik terus menerus dari otak,
menyebabkan penekanan sementara refleks bawah SCI tersebut. (1) flaccid paralysis, (2)
tidak adanya sensasi cutaneous (3) kehilangan fungsi otonom, dan (4) penekanan dalam atau
penghentian semua aktivitas refleks di bawah lokasi cedera. Tingkat keparahan sering
dikaitkan dengan tingkat cedera. Onset syok spinal biasanya terjadi pada atau dekat waktu
cedera, tapi belum ada patonkan pasti mengenai durasinya (McQuillan et al, 2009).
Syok spinal akan menimbulkan hipotensi, akibat penumpukan darah pada pembuluh
darah dan kapiler organ splanknik.tonus vasomotor di medulla dan saraf simpatis yang
meluas ke medulla spinalis sampai pembuluh darah perifer secara berurutan. Kerena itu
kondisi yang menekan fungsi medulla atau integritas medulla spinalis serta persarafan akan
mengakibatkan syok neurogenik (Tambayong, 2000).

2.3.5 Penatalaksanaan Spinal Syok


Prinsip pengobatan untuk pasien dengan cidera tulang belakang dan shock spinal adalah
untuk mencegah atau membatasi memburuknya cidera awal. Perawatan pada pasien
dengan spinal shock menurut Bernhard M (2005) antara lain:
a. Perawatan segera
Perawatan segera yang dibutuhkan pada pasien dengan cidera tulang belakang dan
shock injury antara lain dengan (Karlet MC 2001):
ABCDE
A: manajemen jalan nafas dengan serviks tulang belakang imobilisasi; B:
bernapas dengan ventilasi; C: sirkulasi dengan kontrol perdarahan; D: cacat
dengan evaluasi neurologis; E: paparan dan pengendalian lingkungan
Shock treatment
Syok tidak mungkin murni sehingga awalnya diberikan kristaloid IV untuk
resusitasi cairan (10-20 ml/Kg), mengobati penyebab yang jelas shock
(tamponade, pneumotoraks, kontrol perdarahan)
b. Imobilisasi area cidera
Leher dan tulang servikal pasien diimobilisasi dengan menggunakan collar neck
untuk mencegah beratnya cidera medulla spinalis (Haut ER et al 2010)
c. Menjaga oksigenasi pasien
Jaga airway pasien sehingga pasien dapat bernapas dengan normal dengan
memasangkan oksigen nasal
d. Medikasi
Pemasangan infus
Pemasangan infus dilakukan untuk memasukkan obat yang mengontrol
takikardi, bradikardi dan hipotensi. Biasanya pemasangan infus ini ditujukan
pada pasien dengan tekanan darah yang rendah sehingga saat diberikan obat
tekanan darah dapat kembali normal.
Kortikosteroid
Steroid diberikan setelah adanya trauma pada tulang belakang untuk
mengurangi inflamasi dan mencegah terganggunya saraf di sekitar lokasi
trauma. angat penting untuk mencegah kerusakan saraf lebih lanjut, oleh
karena itu, steroid, seperti methylprednisolone diberikan segera setelah tiba ke
rumah sakit dan harus diberikan sebaiknya dalam waktu 8 jam dari cedera
untuk mencegah dan mengurangi kerusakan saraf.
Vasopressor dan antibiotic
Vasopressor digunakan untuk pasien dengan penurunan tekanan darah yang
ekstrim. Obat vasopressor yang diberikan biasanya seperti dopamine dan
epineprin. ika resusitasi cairan tidak memadai untuk menjamin perfusi organ,
agen inotropik seperti dopamin 2.5-20.0g / kg per menit dan dobutamin 2.0-
20.0g / kg per menit dapat ditambahkan untuk meningkatkan curah jantung
dan tekanan perfusi. Dosis harus dititrasi dengan respon klinis yang tepat.
Hindari fenilefrin dan norepinefrin sebagai obat ini dapat memperburuk
bradikardia. Atropin 0.5-1mg dapat digunakan untuk bradikardia ekstrim.
Sedangkan antibiotic diberikan untuk mencegah terjadinya sepsis.
Transfuse darah
Transfuse darah diberikan pada pasien dengan kasus kehilangan banyak darah.
Kebanyakan pasien yang diberikan transfuse darah adalah pasien dengan cidera
kendaraan bermotor.
e. Pembedahan
Tujuan pembedahan adalah dilakukan untuk menghilangkan benjolan, benda asing,
jaringan rusak, herniated disc, fragmen fraktur tulang atau hematoma epidural yang
dapat mengompresi saraf tulang belakang. Pembedahan juga dilakukan untuk
stabilisasi tulang belakang dan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
f. Jika perhatian medis segera tidak dicari, atau jika pasien tidak ditangani dengan baik
saat pengangkutan ke rumah sakit, maka cedera tulang belakang bisa memburuk dan
bahkan mungkin ada kerusakan permanen.

2.3.6 Komplikasi Spinal Syok


Menurut Corwin (2009), komplikasi spinal shock meliputi hal dibawah ini:
1. Henti nafas karena kompresi saraf frenikus diantara C3 dan C5 akibat kerusakan
dan pembengkakan pada area cedera.
2. Hiperrefleksia otonom ditandai dengan tekanan darah yang tinggi disertai
bradikardi, serta berkeringat dan kemerahan pada kulit wajah.
3. Cedera yang lebih berat akan mempengaruhi system tubuh, hal ini dapat
mengakibatkan terjadinya infeksi pada ginjal dan saluran kemih, kerusakan kulit
hingga terjadi dekubitus, dan terjadi atrofi pada otot.
4. Depresi, stress pada keluarga dan pernikahan, kehilangan pendapatan, serta biaya
medis yang besar sebagai respon dari psikososial.

2.3.7 Pemeriksaan Diagnostik Spinal Syok


Pemeriksaan Diagnostik Syok Spinal (Batticaca,2008)
1. Sinar X spinal: menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur , dislokasi), untuk
kesejajaran traksi atau operasi
2. Scan CT: menentukan tempat luka/jejas, mengevalkuasi gangguan structural
3. MRI: mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
4. Mielografi: untuk memperlihatkan kolumna spinalis jika terdapat oklusi pada
subaraknoid medulla spinalis
5. Rongent torak : untuk memperlihatkan keadan paru
6. Pemeriksaan fungsi paru: mengukur volume inspirasi maksimal dan ekpirasi
maksimal terutama pada kasus trauma servikal bagian bawah
7. GDA : menunjukan keefektifan pertukaran gas atau upaya ventilasi.

2.3.8 Prognosis Spinal Syok


Pasien dengan syok spinal mampu bertahan dan tidak membutuhkan pengobatan atau
perawatan khusus. Biasanya pasien akan membaik dalam 3 sampai 6 minggu dengan
penatalaksanaan yang tepat, kecuali pada pasien yang mengalami cidera lesi tinggi atau pada
C5 keatas dan putusnya sumsum tulang belakang. Pasien juga tetap membutuhkan perawatan
jangka panjang seperti pemberian terapi untuk mengembalikan fungsi gerak tubuh dan
melatih kekuatan otot (Hagen dkk 2011).