You are on page 1of 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

DENGAN DEMENSIA

DI SUSUN OLEH

CRISYE

DAVID .K. TUMBELAKA

YORIKE SWANDYA Y.N.

YOLANDA .C. RADEULAN

AKADEMI KEPERAWATAN BALA KESELAMATAN PALU

TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatnya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan
Pada Lansia Dengan Demensia Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Keperawatan Gerontik.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat selesai dengan tepat waktu. Makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran kami harapkan demi sempurnannya
makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca dan bermanfaat


untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Palu, 22 Agustus 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Cover

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan

BAB II : TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian
B. Etiologi
C. Manifestasi Klinis
D. Hal-Hal Yang Perlu Dikaji
E. Diagnose Yang Mungkin Muncul
F. Intervensi Keperawatan

BAB III : PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat kronis


atau progresif dimana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi,
termasuk memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan,
belajar,kemampuan, bahasa, dan penilaian kesadaran tidak terganggu.
Gangguan fungsikognitif yang biasanya disertai, kadang-kadang didahului,
oleh kemerosotandalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi.
Sindrom terjadi pada penyakit Alzheimer, di penyakit serebrovaskular dan
dalam kondisi lain terutama atau sekunder yang mempengaruhi otak(Gustriag,
2012, dalam karangan Durand dan Barlow,
https://gustriag.wordpress.com/2012/11/16/makalah-demensia/)

Berdasarkan sejumlah hasil penelitian diperoleh data bahwa dimensia


seringkali terjadi pada usia lanjut yang telah berumur kurang lebih 60 tahun.
Dimensia tersebut dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu: 1) Dimensia Senilis
(60 tahun); 2) Demensia Pra Senilis (60 tahun). Sekitar 56,8% lansia
mengalami demensia dalam bentuk Demensia Alzheimer (4% dialami lansia
yang telah berusia 75 tahun, 16% pada usia 85 tahun, dan 32% pada usia 90
tahun). Sampai saat ini diperkirakan +/- 30 juta penduduk dunia mengalami
Demensia dengan berbagai sebab. (Gustriag, 2012, dalam karangan Durand dan
Barlow, https://gustriag.wordpress.com/2012/11/16/makalah-demensia/).

Pertambahan jumlah lansia Indonesia, dalam kurun waktu tahun


1990 2025, tergolong tercepat di dunia (Kompas, 25 Maret 2002:10).
Jumlah sekarang 16 juta dan akan menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau
sebesar 11,37 % penduduk dan ini merupakan peringkat ke empat dunia,
dibawah Cina, India dan Amerika Serikat. Sedangkan umur harapan hidup
berdasarkan sensus BPS 1998 adalah 63 tahun untuk pria dan 67 tahun untuk
perempuan. (Meski menurut kajian WHO (1999), usia harapan hidup orang
Indonesia rata-rata adalah 59,7 tahun dan menempati urutan ke 103 dunia, dan
nomor satu adalah Jepang dengan usia harapan hidup rata-rata 74,5 tahun).
(Gustriag, 2012, dalam karangan Durand dan Barlow,
https://gustriag.wordpress.com/2012/11/16/makalah-demensia/).

Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru
sajaterjadi, tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan,
kecemasan, penurunan emosi atau perubahan kepribadian lainnya. Terjadi
perubahan ringandalam pola berbicara, penderita menggunakan kata-kata
yang lebih sederhana,menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak
mampu menemukan kata-katayang tepat.Ketidakmampuan mengartikan
tanda-tanda bisa menimbulkankesulitan dalam mengemudikan kendaraan.
Pada akhirnya penderita tidak dapatmenjalankan fungsi sosialnya. (Gustriag,
2012, dalam karangan Durand dan Barlow,
https://gustriag.wordpress.com/2012/11/16/makalah-demensia/).

Demensia banyak menyerang mereka yang telah memasuki usia


lanjut.Bahkan, penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang
dari 50tahun. Sebagian besar orang mengira bahwa demensia adalah penyakit
yanghanya diderita oleh para Lansia, kenyataannya demensia dapat diderita
oleh siapasaja dari semua tingkat usia dan jenis kelamin (Harvey, R. J. et al.
2003). Untuk mengurangi risiko, otak perlu dilatih sejak dini disertai
penerapan gaya hidupsehat. (Gustriag, 2012, dalam karangan Durand dan
Barlow, https://gustriag.wordpress.com/2012/11/16/makalah-demensia/).
Kondisi ini tentu saja menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan
masalah demensia. Betapa besar beban yang harus ditanggung oleh negara
atau keluarga jika masalah demensia tidak disikapi secara tepat dan serius,
sehubungan dengan dampak yang ditimbulkannya. Mengingat bahwa masalah
demensia merupakan masalah masa depan yang mau tidak mau akan dihadapi
orang Indonesia dan memerlukan pendekatan holistik karena umumnya lanjut
usia (lansia) mengalami gangguan berbagai fungsi organ dan mental, maka
masalah demensia memerlukan penanganan lintas profesi yang melibatkan:
Internist, Neurologist, Psikiater, Spesialist Gizi, Spesialis Rehabilitasi Medis
dan Psikolog Klinis. (Gustriag, 2012, dalam karangan Durand dan Barlow,
https://gustriag.wordpress.com/2012/11/16/makalah-demensia/).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Demensia?
2. Apa saja Penyebab Demensia?
3. Bagaimana Manifestasi Klinis / Tanda dan Gejala pada Penderita
Demensia?
4. Apa saja Hal-Hal Yang Perlu Dikaji pada Penderita Demensia?
5. Apa saja Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan yang
mungkin muncul?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum :
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Demensia, Penyebab,
Manifestasi Klinis, Hal-hal yang perlu dikaji serta Diagnosa dan
Intervensi yang mungkin muncul.
2. Tujuan Khusus :
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik Pada Semester
V.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS DEMENSIA

A. Pengertian
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi
atau keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak,
penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat terganggu.
(http://eprints.undip.ac.id/44525/3/Danu_Kamajaya_22010110110028_BAB_
II.pdf).
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan
fungsi kognitif antara lain intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa,
pemecahan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi,
penyesuaian dan kemampuan
bersosialisasi.(http://eprints.undip.ac.id/44525/3/Danu_Kamajaya_220101101
10028_BAB_II.pdf).
Demensia adalah istilah umum yang menggambarkan kerusakan
kognitif global yang biasanya bersifat progresif dan mempengaruhi aktivitas
sosian dan ukopasi yang normal juga aktivitas kehidupan sehari-hari (Stenley
& Beare, Buku Ajar Keperawatan Gerontik, Edisi 2 Hal 467).

B. Etiologi
Penyebab demensia menurut Nugroho (2008) dapat digolongkan menjadi 3
golongan besar yaitu :
a. Sindroma demensia dengan penyakit yang etiologi dasarnya tidak
dikenal kelainan yaitu : terdapat pada tingkat subseluler atau secara
biokimiawi pada system enzim, atau pada metabolism
b. Sindroma demensia dengan etiologi yang dikenal tetapi belum dapat
diobati, penyebab utama dalam golongan ini diantaranya :
1. Penyakit degenerasi spino - serebelar
2. Subakut leuko-esefalitis sklerotik fan bogaert
3. Khorea Hungtington
c. Sindrome demensia dengan etiologi penyakit yang dapat diobati,
dalam golongan ini diantranya penyakit cerrebro kardiovaskuler.
(http://eprints.undip.ac.id/44525/3/Danu_Kamajaya_22010110110028
_BAB_II.pdf)

C. Manifestasi Klinis
1. Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari
2. Pelupa
3. Sering mengulang kata-kata
4. Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan
5. Cepat marah dan sulit di atur.
6. Kehilangan daya ingat
7. Kesulitan belajar dan mengingat informasi baru
8. Kurang konsentrasi
9. Kurang kebersihan diri
10. Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
11. Tremor
12. Kurang koordinasi gerakan. (Gustriag, 2012, dalam karangan Durand dan
Barlow, https://gustriag.wordpress.com/2012/11/16/makalah-demensia/).

D. Hal-Hal Yang Perlu Dikaji


Data Subyektif :
a. Pasien mengatakan mudah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi.
b. Pasien mengatakan tidak mampu mengenali orang, tempat dan waktu
Data Obyektif :
a. Pasien kehilangan kemampuannya untuk mengenali wajah, tempat dan
objek yang sudah dikenalnya dan kehilangan suasana
kekeluargaannya.
b. Pasien sering mengulang-ngulang cerita yang sama karena lupa telah
menceritakannya.
c. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara; penderita
menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan kata-kata
yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat.
(http://eprints.undip.ac.id/44525/3/Danu_Kamajaya_22010110110028
_BAB_II.pdf)

E. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


1. Sindrom Stress Relokasi
2. Resiko Terhadap Trauma Atau Cedera
3. Perubahan Proses Pikir
4. Perubahan Presepsi Sensori
5. Perubahan Pola Tidur

F. Intervensi Keperawatan
1. Sindrom Stress Relokasi
Intervensi :
a. Jalin hubungan saling mendukung dengan klien. R/ untuk membangun
kepercayaan dan rasa aman.
b. Orientasikan pada lingkungan dan rutinitas baru. R/ Menurunkan
kecemasan dan perasaan terganggu.
c. Kaji tingkat stressor (seperti penyesuaian diri, krisis perkembangan, peran
keluarga, akibat perubahan status kesehatan). R/ untuk menentukan
presepsi klien tentang kejadian dan tingkat serangan.
d. Tempatkan pada ruangan pribadi jika mungkin dan bergabung dengan
orang terdekat dalam aktivitas perawatan, waktu makan, dsb. R/
Perawatan di RS mengubah aktivitas klien dan meningkatkan masalah
tingkah laku. Memberi kesempatan mengontrol lingkungan & melindungi
dari kelainan tingkah laku.
e. Tentukan jadwal aktivitas yang wajar & masukkan dalam kegiatan rutin.
R/ Konsistensi mengurangi kebingungan dan meningkatkan rasa
kebersamaan.
2. Resiko Terhadap Trauma / Cedera
Intervensi :
a. Kaji derajat gangguan kemampuan tingkah laku impulsive dna penurunan
persepsi visual. Bantu keluarga mengidentifikasi resiko terjadinya bahaya
yang mungkin timbul. R/ Mengidentifikasi resiko di lingkungan dan
mempertinggi kesadaran perawat akan bahaya. Klien dengan tingkah laku
impulsive beresiko trauma karena kurang mampu menendalikan perilaku.
Penurunan persepsi visual beresiko jatuh.
b. Hilangkan sumber bahaya lingkungan. R/ Klien dengan gangguan
kognitif, gangguan persepsi adalah awal terjadi trauma akibat tidak
bertanggung jawab terhadap kebutuhan keamanan dasar.
c. Alihkan perhatian saat perilaku teragitasi atau bahaya, seperti memanjat
pagar tempat tidur. R/ Mempertahankan keamanan dengan menghindari
konfrontasi yang meningkatkan resiko terjadinya trauma.
d. Gunakan pakaian sesuai dengan lingkungan fisik atau kebutuhan klien. R/
Perlambatan proses metabolism mengakibatkan hipotermia. Hipotalamus
dipengaruhi proses penyakit yang menyebabkan rasa kedinginan.
e. Kaji efek samping obat, tanda keracunan (tanda ekstrapiramidal, hipotensi
ortostatik, gangguan penglihatan, gangguan gastrointestinal). R/ Klien
yang tidak dapat melaporkan tanda atau gejala obat yang dapat
menimbulkan kadar toksisitas pada lansia. Ukuran dosis atau penggantian
obat diperlukan untuk mengurangi gangguan.
3. Perubahan Proses Pikir
Intervensi :
a. Kembangkan lingkungan yang mendukung dan hubungan klien
perawat yang terapeutik. R/ Mengurangi kecemasan dan emosional,
seperti kemarahan, meningkatkan pengembangan evaluasi diri yang
positif dan mengurangi konflik psikologis.
b. Kaji derajat gangguan kognitif, seperti perubahan orientasi, rentang
perhatian, kemampuan berpikir. Bicarakan dengan keluarga mengenai
perubahan perilaku. R/ Memberikan rasa perbandingan yang akan
datang dan memperngaruhi rencana intervensi. Catatan : Evaluasi
orientasi secara berulang dapat meningkatkan respon yang negative
atau tingkat frustasi.
c. Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang. R/ Rasional
kebisingan merupakan sensori berlebihan yang meningkatkan
gangguan neuron.
d. Lakukan pendekatan dengan cara perlahan dan tenang. R/ Pendekatan
terburu-buru menyebabkan klien bingung, kesalahan persepsi atau
perasaan terancam.
e. Tatap wajah ketika berbicara dengan klien. R/ Menimbulkan
perhatian, terutama pada klien dengan gangguan perseptual.
4. Perubahan persepsi sensori.
Intervensi :
a. Kembangkan lingkungan yang suportif dan hubungan perawat klien
terapeutik. R/ Meningkatkan kenyamanan dan menurunkan kecemasan
pada klien.
b. Bantu klien untuk memahami halusinasi. R/ Meningkatkan koping dan
menurunkan halusinasi.
c. Beri informasi tentang sifat halusinasi, berhubungan dengan stressor
atau pengalaman emosional yang traumatic, pengobatan, dan cara
mengatasi. R/ untuk membantu klien dalam memahami halusinasi.
d. Kaji derajat sensori atau gangguan persepsi dan bagaimana hal
tersebut mempengaruhi klien termasuk penurunan penglihatan atau
pendengaran. R/ Keterlibatan otak memperlihatkan masalh yang
bersifat asimetris menyebabkan klien kehilangan kemampuan pada
salah satu sisi tubuh (gangguan unilateral). Klien tidak dapat
mengenali rasa lapar dan haus, penerimaan nyeri eksternal (dari luar).
e. Ajarkan strategi untuk mengurangi stress. R/ untuk mengurangi
kebutuhan akan halusinasi.
5. Perubahan Pola Tidur
Intervensi :
a. Jangan menganjurkan klien tidur siang apabila berakibat efek negative
terhadap tidur pada malam hari. R/ Irama sirkadian (siklus tidur
bangun yang tersingkronasi disebabkan oleh tidur yang siang yang
singkat).
b. Evaluasi efek obat klien (steroid, diuretic yang mengganggu tidur). R/
Derangement psikis terjadi bila terdapat penggunaan kortikosteroid,
termasuk perubahan mood, insomnia.
c. Tentukan kebiasaan dan rutinitas waktu tidur malam dengan kebiasan
klien (member susu hangat). R/ hambatan kortikal pada formasi
retikuler akan berkurang selama tidur, meningkatkan respon otomatik,
karenanya respons kardiovaskuler terhadap suara meningkat selama
tidur.
d. Buat jadwal intervensi untuk memungkinkan waktu tidur lebih lama
(memeriksa tanda vital, mengubah posisi). R/ Gangguan tidur terjadi
dengan seringnya tidur dan mengganggu pemulihan sehubungan
dengan gangguan psikologi dan fisiologis, sehingga irama sirkadian
terganggu.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi
atau keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak,
penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat terganggu.
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan
fungsi kognitif antara lain intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa,
pemecahan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi,
penyesuaian dan kemampuan bersosialisasi.

B. Saran
Saran kami kepada para lansia penderita demensia sebaiknya banyak melakukan
banyak kegiatan yang dapat melatih daya ingat dan juga bagi keluarga diharapkan
untuk memperhatikan kebutuhan dasar lansia tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Kusriyadi, 2010. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2, Jakarta :


Salemba Medika.
S. Tamher, Noorkasiani, 2009. Kesehatan Usia Lanjut Dengan
Pendekatan Asuhan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Stanley, Beare, 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2.
Jakarta : EGC.
Kamaja, Danu, 2010. Laporan Pendahuluan Demensia.
http://eprints.undip.ac.id/44525/3/Danu_Kamajaya_22010110110028_BAB_I
I.pdf)