You are on page 1of 4

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
AN.A dengan HIPOSPADIA POST OPERASI URETHROPLASTY
DI bangsal CENDANA 4 (D2) RS Dr. SARDJITO JOGJAKARTA

Disusun Oleh
Yanita Trisetiyaningsih
00/137736/KU/09710

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GAJAH MADA
JOGJAKARTA
2005
HIPOSPADIA
DEFINISI
Hipospadia adalah suatu kelainanbawaan dimana meatus uretra eksterna terletak di
permukaan ventral penis dan lebih ke prokimal dari tempatnya yang normal 9ujung glands
penis).Hipospadia merupakan salah satu dari kelainan congenital palings erring pada
genitalia laki laki, terjadi pada satu dalam 350 kelahiran laki laki, dapat dikaitkan dengan
kelainan congenital lain seperti anomaly ginjal, undesensus testikulorum dan genetic seperti
sindroma klinefelter.

ETIOLOGI
Penyebeb kelainan ini adalah maskulinisasi inkomplit dari genitalia karena involusi yang
premature dari sel interstitial testis.

MANIFESTASI KLINIS
Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan
tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya chordee yaitu suatu
jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glands penis.
Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimeter dari uretra, korpus spongiosum dan tunika
dartos. Walaupun adanya chordee adalah salah satu cirri khas untuk mencirigai suatu
hipospadia, perlu diingat bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee.

KLASIFIKASI
Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak meatus uretra yaitu tipe
glandular, distal penile, penile, penoskrotal, scrotal dan perineal.
Semakin ke proksinal letak meatus, semakin berat kelainan yang diderita dans emakin
rendah frekuensinya. Pada kasus ini 90% terletak di distal di mana meatus terletak di ujung
batang penis atau di glands penis. Sisanya yang 10% terletak lebih proksimal yaitu ditengah
batang penis, skrotum atau perineum.

PERKEMBANGAN EMBRIONOK DARI HIPOSPADIA


Perkembangan dari penis dan skrotum dipengaruhi oleh testis. Tanpa adanya testis, maka
struktur wanita seperti klitoris, labia minora dan labia mayora dominan, tetapi dengan adanya
testis, klitoris membesar menjai penis, sulkus antara labia minora terbentuk menjadi uretra
dan labia mayora berkembang menjadi skrotum, kedalam mana testis kemudian turun.
Hipospadia terjadi jika sel testis yang berkembang secara premature berhenti memproduksi
androgen, karena itu menimbulkan interupsi konversi penuh dari genitalia eksterna menjadi
bentuk laki laki.
MASALAH PADA HIPOSPADIA
1. Masalah psikologis pada anak karena merasa malu akibat bentuk penis yang
berbeda dengan teman bermainnya.
2. Masalah reproduksi karena bentuk penis yang bengkok menyebabkan penis susah
masuk ke dalam vagina saat kopulasi, cairan semen yang disemprotkan melalui
saluranuretra pada tempat abnormal.
3. kesulitan penentuan jenis kelamin terutama jika meatu uretra terletak di perineum
dan skrotum terbelah dengan disertai kriptorkismus.
4. Biaya yang cukup besar karena prosedur operasi yang bertahap
5. Kemungkinan adanya kelainan congenital yang lain seperti kelainan ginjal sehingga
perlu dianjurkan untuk pemerikaan foto polos abdomen dan pielografi intravena.

PENATALAKSANAAN
Dikenal banyak tehnik operai hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1. Operasi pelepasan chordee dan tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari
muara uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi
lurus tetapi meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi
dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan
korpus kavernosum.
2. Operasi uretroplasty
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian
ventral yang di insisi secara longitudinal pararel di kedua sisi.

PRINSIP TERAPI DAN MANAGEMEN PERAWATAN


1. Koreksi bedah.
2. Persiapan prabedah
3. Penatalaksanaan pasca bedah
Anak harus dalam tirah baring
Baik luka penis dan tempat luka donor harus dijaga tetap bersih dan kering
Perawatan kateter
Pemeriksaan urin untuk memeriksa kandungan bakteri
Masukan cairan yang adekuat untuk mempertahankan aliran ginjal dan
mengencerkan toksin
Pengangkatan jahitan kulit setelah 5-7 hari
KOMPLIKASI
Komplikasi yang biasa terjadi antara lain striktur uretra (terutama pada sambungan meatus
uretra yang sebenarnya dengan uretra yang baru dibuat) atau fistula.