You are on page 1of 26

Laporan Kasus

PTERIGIUM GRADE II

Disusun oleh:
Fithia Sari, S.Ked
NIM :1407101030303

Pembimbing:
dr. Idaman Putri, M.Ked(Oph), Sp.M

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2016

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat, berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
kasus dengan judul Pterigium.
Laporan kasus ini merupakan salah satu tugas dalam menjalankan
Kepaniteraan Klinik Senior pada Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Mata Fakultas
Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada dr. Idaman Putri, Sp.M
yang telah membimbing penulis sehigga dapat menyelesaikan tugas ini.
Penulis mengharapkan saran yang membangun dari semua pihak terhadap
laporan kasus ini. Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi penulis dan orang
lain.

Banda Aceh, Agustus 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ................................................................................................. i


KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................
.................................................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 2
2.1 Anatomi.............................................................................................. 2
2.1.1 Konjungtiva ........................................................................... 2
2.1.2 Kornea .................................................................................... 2
2.2 Definisi .............................................................................................. 5
2.3 Epidemiologi ..................................................................................... 6
2.4 Faktor Risiko...................................................................................... 7
2.4.1 Radiasi Ultraviolet ................................................................. 7
2.4.2 Faktor Genetik ....................................................................... 7
2.4.3 Faktor Lain ............................................................................. 8

2.5 Etiologi dan Patofisiologi .................................................................. 8


2.6 Klasifikasi...........................................................................................
2.7 Manifestasi Klinis ..............................................................................
10
2.8 Pemeriksaan Fisik ..............................................................................
10
2.9 Diagnosis ...........................................................................................
12
2.10 Diagnosis Banding..............................................................................
12
2.10.1 Pseudopterigium ....................................................................
12
2.10.2 Pinguekula .............................................................................
12
2.11 Penatalaksanaan .................................................................................
13
2.11.1 Medikamentosa ......................................................................
13
2.11.2 Pembedahan ...........................................................................
13
2.11.3 Lainnya ..................................................................................
14
2.12 Komplikasi .........................................................................................
15
2.13 Prognosis ...........................................................................................
16
BAB III PRESENTASI KASUS ....................................................................
17
3.1 Identitas Pasien ..................................................................................
17

iii
3.2 Anamnesis .........................................................................................
17
3.3 Pemeriksaan Fisik ..............................................................................
18
3.4 Pemeriksaan Penunjang .....................................................................
20
3.5 Diagnosis ...........................................................................................
20
3.6 Penatalaksanaan .................................................................................
20
3.7 Prognosis ...........................................................................................
20
BAB IV ANALISA KASUS ...........................................................................
21
BAB V KESIMPULAN ................................................................................
23
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................
24

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Pterigium adalah suatu jaringan yang berbentuk segitiga atau sayap pada
permukaan membran dasar sebagai akibat dari pertumbuhan epitel limbus yang
masuk ke kornea secara sentripetal. Proliferasi tersebut diikuti dengan terjadinya
hiperplasia dari epitel konjunctiva, proliperatif, gambaran inflamasi, serta kaya
pembuluh darah. Pertumbuhan berlebihan pterigium dati gambaran histologi dapat
terlihat seperti proliperasi fibrovaskular berlebihan, degradasi membran basal, dan
invasi stoma kornea oleh jaringan fibrovaskular.1,2
Penyebab pterigium bersifat multifaktorial,dapat berupa paparan sinar
matahari, debu, ataupun udara kering. Faktor resiko terjadinya pterigium telah
dievaluasi diberbagai dunia dan memberikan bukti bahwa komponen genetik,
mekanisme antiapoptosis, sitokin, faktor pertumbuhan, faktor angiogenik,
mekanisme imunologik dan inveksi virus memiliki peranan terhadapa
terbentuknya pterigium.1,2
Angka prevalensi pterigium sangat besar (0,731%), berkisar 1,2%
ditemukan di daerah urban pada orang kulit putih dan 23,4% di daerah tropis
Barbados pada orang kulit hitam. Di Amerika Serikat, angka prevalensi 2%
(bagian Utara) sampai 7% (bagian Selatan). Prevalensi pterigium di Indonesia
yaitu sebanyak 13,9 %, tertinggi pada daerah Sumatera. Prevalensi ini berbeda-
beda di antara jenis ras, luas dan lamanya paparan sinar matahari. Umumnya
angka prevalensi pterigium pada daerah tropis lebih tinggi dibandingkan daerah
lainnya. Angka kejadian juga meningkat seiring usia.2,1,3
Pterigium dapat membesar dan meluas sampai ke daerah kornea dan pupil,
sehingga akan menyebabkan adanya gangguan pada penglihatan. Jika pterigium
mencapai kornea melebihi 2 mm maka tindakan operatif harus dilakukan.1

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak mata
bagian belakang. Berbagai macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva.
Konjungtiva ini mengandung sel musin yang dihasilkan oleh sel goblet.
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu : 2,4
- Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal ini sukar
digerakkan dari tarsus.
- Konjungtiva bulbi, menutupi sklera dan mudah digerakan dari sklera
dibawahnya.
- Konjungtiva forniks, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal
dengan konjungtiva bulbi
Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan
jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.

Gambar 1.1 Anatomi mata

2
Gambar 1.2 Konjunctiva
Kornea
Kornea merupakan dinding depan bola mata, berupa jaringan transparan dan
avaskular. Faktor-faktor yang menyebabkan kejernihan kornea adalah letak epitel
kornea yang tertata sangat rapi, letak serabut kolagen yang tertata sangat rapi dan
padat, kadar air yang konstan, dan tidak adanya pembuluh darah. Kornea
merupakan suatu lensa cembung dengan kekuatan refraksi +43 dioptri. Kornea
melanjutkan diri sebagai sklera ke arah belakang dan perbatasan antara kornea dan
sklera ini disebut limbus.2
Kornea terdiri dari lima lapis, yaitu :
1. Epitel
a. Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang
saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel
gepeng.
b. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini
terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke
depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal
di sampingnya dan sel poligonal di depanya melalui desmosom dan
makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit,
dan glukosa yang merupakan barrier.
c. Epitel berasal dari ektoderm permukaan.

3
2. Membran Bowman
a. Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan
kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari
bagian depan stroma.
b. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.
3. Stroma
Merupakan lapisan paling tebal, terdiri atas lamel yang merupakan
susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat
anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang;
terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu yang lama yang
kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea
yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga
keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan
embrio atau sesudah trauma. 2
4. Membran Descement
a. Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang
stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran
basalnya.
b. Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup,
mempunyai tebal 40m.
5. Endotel
Berasal dari mesotellium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-
40m. endotel melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom
dan zonula okluden.2
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf
siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid,
masuk ke dalam stroma kornea, menembus membrane bowman melepaskan
selubung schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis
terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di
daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi
dalam waktu 3 bulan.2

4
Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system
pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema
kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenarasi.
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata
di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40
dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.2

Gambar 1.3 Lapisan kornea

2.2 Definisi
Pterigium adalah suatu jaringan yang berbentuk segitiga atau sayap pada
permukaan membran dasar sebagai akibat dari pertumbuhan epitel limbus yang
masuk ke kornea secara sentripetal.1
Menurut Sidharta Ilyas, Pterygium merupakan suatu pertumbuhan
fibrovaskular konjungtiva yang bersifat invasif dan degeneratif. Pertumbuhan ini
biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal maupun temporal konjungtiva
yang meluas ke daerah kornea. Pterygium berbentuk segitiga dengan puncak di
bagian sentral atau di daerah kornea. Asal kata pterygium dari bahasa Yunani,
yaitu pteron yang artinya wing atau sayap. Hal ini mengacu pada pertumbuhan
pterygium yang berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi.2

5
Gambar 1.4 Mata dengan pterigium

2.3 Epidemiologi
Kasus pterigium yang tersebar di seluruh dunia sangat bervariasi, tergantung
pada lokasi geografisnya, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering.
Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator. Prevalensi juga
tinggi pada daerah berdebu dan kering.1,3
Angka prevalensi pterigium sangat besar (0,731%), berkisar 1,2%
ditemukan di daerah urban pada orang kulit putih dan 23,4% di daerah tropis
Barbados pada orang kulit hitam. Di Amerika Serikat, angka prevalensi 2%
(bagian Utara) sampai 7% (bagian Selatan).3
Di Indonesia yang melintas di bawah garis khatuliswa, kasus-kasus
pterygium cukup sering didapati. Apalagi karena faktor risikonya adalah paparan
sinar matahari dan bisa dipengaruhi juga oleh paparan alergen, iritasi berulang
(misal karena debu atau kekeringan). Prevalensi pterigium di Indonesia yaitu
sebanyak 13,9 %, tertinggi pada daerah Sumatera.1
Insiden tertinggi pterigium terjadi pada pasien dengan rentang umur 20 49
tahun. Pasien dibawah umur 15 tahun jarang terjadi pterigium. Rekuren lebih
sering terjadi pada pasien yang usia muda dibandingkan dengan pasien usia tua.
Laki-laki lebih beresiko 2 kali dari pada perempuan.1

2.4 Faktor Resiko


Faktor resiko yang mempengaruhi pterigium adalah lingkungan yakni
radiasi ultraviolet sinar matahari, iritasi kronik dari bahan tertentu di udara dan
faktor herediter.5

1. Radiasi Ultraviolet

6
Faktor resiko lingkungan yang utama timbulnya pterigium adalah paparan
sinar matahari. Sinar ultraviolet diabsorbsi kornea dan konjungtiva
menghasilkan kerusakan sel dan proliferasi sel. Letak lintang, lamanya
waktu di luar rumah, penggunaan kacamata dan topi juga merupakan faktor
penting.5
2. Faktor Genetik
Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan pterigium
dan berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga
dengan pterigium, kemungkinan diturunkan secara autosom dominan. 5
3. Faktor Lain
Iritasi kronik atau inflamasi terjadi pada area limbus atau perifer kornea
merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya limbal
defisiensi, dan saat ini merupakan teori baru patogenesis dari pterigium.
Yang juga menunjukkan adanya pterygium angiogenesis factor dan
penggunaan farmakoterapi antiangiogenesis sebagai terapi. Debu,
kelembapan yang rendah, dan trauma kecil dari bahan partikel tertentu, dry
eye dan virus papilloma juga penyebab dari pterigium. 5
2.5 Etiologi dan Patofisiologi
Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. Kontak dengan
ultraviolet, debu, kekeringan mengakibatkan terjadinya penebalan dan
pertumbuhan konjungtiva bulbi yang menjalar ke kornea. 5
Etiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas. Karena penyakit ini lebih
sering pada orang yang tinggal di daerah beriklim panas, maka gambaran yang
paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor
lingkungan seperti paparan terhadap sinar ultraviolet dari matahari, daerah kering,
inflamasi, daerah angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya. Diduga
pelbagai faktor risiko tersebut menyebabkan terjadinya degenerasi elastis jaringan
kolagen dan proliferasi fibrovaskular. Dan progresivitasnya diduga merupakan
hasil dari kelainan lapisan Bowman kornea. Beberapa studi menunjukkan adanya
predisposisi genetik untuk kondisi ini.2
Teori tropik dikemukakan oleh Barraquer yang mengatakan bahwa
pterigium adalah suatu manifestasi pembentukan jaringan parut pada daerah yang

7
mengalami iritasi yang menahun. Dengan terbentuknya penonjolan di limbus, ada
daerah diskontinuitas precorneal tear film, sehingga terjadi pengeringan kornea
yang kemudian menjadi ulkus. Penyembuhan ulkus tidak dapat dilakukan oleh
regenerasi epitel kornea dan memerlukan konjungtiva yang kaya pembuluh darah
dimana akan menyebabkan terbentuknya jaringan ikat. Akibatnya terjadi
perlekatan antara konjungtiva dengan jaringan sub konjungtiva akan menjadi lebih
erat yang menyebabkan pterigium. 3
Secara klasik, air mata yang normal merupakan suatu struktur trilaminar
yang terdiri atas lapisan lipid di bagian atas, lapisak akuous di tengah dan lapisan
musin yang paling bawah. Komposisi air mata yang tidak efektif dapat
mengganggu stabilitas dan homeostasis permukaan okular. Walaupun penyebab
sindrom dry eye bersifat multifaktorial, sebagian besar disebabkan defisiensi satu
atau lebih komponen dari air mata, yang menyebabkan abnormalitas permukaan
okular dan terjadinya penyakit. Musin adalah lapisan yang paling dalam dari air
mata, terdiri atas hidrasi glikoprotein dan disekresi oleh sel-sel goblet pada
konjungtiva (sumber utama) dan kripte Henle di daerah forniks. Musin ini penting
untuk mempertahankan keseimbangan precorneal tear film. Setiap perubahan
jumlah dan kualitas musin air mata dapat menyebabkan ketidakstabilan air mata;
dimana dapat menimbulkan penyakit. 3
2.6 Klasifikasi
Derajat pertumbuhan pterigium ditentukan berdasarkan bagian kornea yang
tertutup oleh pertumbuhan pterigium, dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis
menurut Youngson) : 5
Derajat 1: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
Derajat 2: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih
dari 2 mm melewati kornea
Derajat 3: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi
pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar
3-4 mm)
Derajat 4: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga
mengganggu penglihatan.

8
Gambar 1.5 Pterigium Grade 1 - 4

2.7 Manifestasi Klinis


Pterigium biasanya terjadi secara bilateral, namun jarang terlihat simetris,
karena kedua mata mempunyai kemungkinan yang sama untuk kontak dengan
sinar ultraviolet, debu dan kekeringan. Kira-kira 90% terletak di daerah nasal
karena daerah nasal konjungtiva secara relatif mendapat sinar ultraviolet yang
lebih banyak dibandingkan dengan bagian konjungtiva yang lain. Selain secara
langsung, bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultra violet secara tidak
langsung akibat pantulan dari hidung. 4
Pterigium yang terletak di nasal dan temporal dapat terjadi secara
bersamaan walaupun pterigium di daerah temporal jarang ditemukan. Perluasan
pterigium dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi sumbu
penglihatan dan menyebabkan penglihatan kabur.4,5
Secara klinis muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva
yang meluas ke kornea pada daerah fissura interpalpebra. Biasanya pada bagian
nasal tetapi dapat juga terjadi pada bagian temporal. Deposit besi dapat dijumpai
pada bagian epitel kornea anterior dari kepala pterigium (stokers line).5
Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering
tanpa keluhan sama sekali (asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami
pasien antara lain: 5
Mata sering berair dan tampak merah
Merasa seperti ada benda asing
Timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterigium
Pada pterigium derajat 3 dan 4 dapat terjadi penurunan tajam penglihatan
Dapat terjadi diplopia sehingga menyebabkan terbatasnya pergerakan
mata.
2.6 Pemeriksaan Fisik

9
Adanya massa jaringan kekuningan akan terlihat pada lapisan luar mata
(sclera) pada limbus, berkembang menuju ke arah kornea dan pada permukaan
kornea. Sclera dan selaput lendir luar mata (konjungtiva) dapat merah akibat dari
iritasi dan peradangan. Pterygium dibagi menjadi tiga bagian yaitu : 6,7,8
Body, bagian segitiga yang meninggi pada pterygium dengan dasarnya
ke arah kantus
Apex (head), bagian atas pterygium
Cap, bagian belakang pterygium
A subepithelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan membentuk
batas pinggir pterygium.
Pterigyum terbagi berdasarkan perjalanan penyakit menjadi 2 tipe, yaitu :
- Progressif pterygium : Memiliki gambaran tebal dan vascular dengan
beberapa infiltrat di kornea di depan kepala
pterygium
- Regressif pterygium : Dengan gambaran tipis, atrofi, sedikit
vaskularisasi, membentuk membran tetapi
tidak pernah hilang.
2.7 Diagnosis
Penderita dapat melaporkan adanya peningkatan rasa sakit pada salah satu
atau kedua mata, disertai rasa gatal, kemerahan dan atau bengkak. Kondisi ini
mungkin telah ada selama bertahun-tahun tanpa gejala dan menyebar perlahan-
lahan, pada akhirnya menyebabkan penglihatan terganggu, ketidaknyamanan dari
peradangan dan iritasi. Sensasi benda asing dapat dirasakan, dan mata mungkin
tampak lebih kering dari biasanya. penderita juga dapat melaporkan sejarah
paparan berlebihan terhadap sinar matahari atau partikel debu. 2
Uji ketajaman visual dapat dilakukan untuk melihat apakah visi terpengaruh.
Dengan menggunakan slitlamp diperlukan untuk memvisualisasikan pterygium
tersebut. Dengan menggunakan sonde di bagian limbus, pada pterigium tidak
dapat dilalui oleh sonde seperti pada pseudopterigium. 2

2.8 Diagnosis Banding


- Pinguekula

10
Bentuknya kecil dan meninggi, merupakan massa kekuningan berbatasan
dengan limbus pada konjungtiva bulbi di fissura intrapalpebra dan kadang
terinflamasi. Tindakan eksisi tidak diindikasikan pada kelainan ini. Prevalensi dan
insiden meningkat dengan meningkatnya umur. Pingecuela sering pada iklim
sedang dan iklim tropis. Angka kejadian sama pada laki laki dan perempuan.
Paparan sinar ultraviolet bukan faktor resiko pinguecula. 2

Gambar 1.6 Mata dengan pinguekula


- Pseudopterigium
Pertumbuhannya mirip dengan pterygium karena membentuk sudut miring
atau Terriens marginal degeneration. Selain itu, jaringan parut fibrovaskular yang
timbul pada konjungtiva bulbi pun menuju kornea. Namun berbeda dengan
pterygium, pseudopterygium merupakan akibat inflamasi permukaan okular
sebelumnya seperti pada trauma, trauma kimia, konjungtivitis sikatrikal, trauma
bedah atau ulkus perifer kornea. Pada pseudopterigium yang tidak melekat pada
limbus kornea, maka probing dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati
bagian bawah pseudopterigium pada limbus, sedangkan pada pterygium tak dapat
dilakukan. Pada pseudopteyigium tidak didapat bagian head, cap dan body dan
pseudopterygium cenderung keluar dari ruang interpalpebra fissure yang berbeda
dengan true pterigium.2

Gambar 1.7 Mata dengan pseudopterigium

2.9 Penatalaksanaan
- Medikamentosa

11
Pada pterigium yang ringan tidak perlu diobati. Untuk pterigium derajat 1-2
yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi
antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa
penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan
intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada kornea.5
- Bedah
Banyak teknik pembedahan yang sudah digunakan untuk
menatalaksanakan pterigium, tetapi tidak ada satu pun teknik yang diterima secara
universal dikarenakan tingkat kekambuhan yang masih tinggi. Dibandingkan
teknik yang digunakan, teknik eksisi pterigium merupakan langkah pertama yang
dapat dilakukan.banyak ahli mata yang memilih avulsi pada kornea karena
terdapat beberapa keuntungan yaitu epitelisasi yang cepat, luka yang minimal dan
hasil pada permukaan kornea lebih baik dari sisi kosmetik. 9
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi
pterigium. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva
bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari
konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan. Tujuan
utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara
kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mngkin, angka kekambuhan
yang rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus
pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup
berat. 9
a. Bare Sclera Technique
Teknik ini melibatkan eksisi pada kepala dan badan pterigium sehingga
dapat terjadi proses reepitelisasi pada sclera. Tingkat rekurensi nya sangat
tinggi, mulai dari 24-89% yang telah dilaporkan.
b. Teknik Autograft Konjungtiva
Dilaporkan persentasi rekurensi nya sebanyak 2-40% dalam beberapa
penelitian prospektif. Prosedurnya dilakukan dengan mengambil autograft
dari konjungtiva superotemporal bulbi dan graft dijahit melewati dari
sclera yang terdapat pterigium setelah eksisi daripada pterigium.
c. Amniotic Membrane Grafting

12
Teknik ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan dari
pterigium dan biasanya digunakan untuk rekonstruksi okuli. Diduga
keuntungan dari teknik adalah mencegah terjadinya proses inflamasi dan
fibrosis pada dasar membrane dan menyokong terjadinya proses
epitelisasi. Prosedurnya meliputi kepala dan badan pterigium serta
jaringan fibrovaskular subkonjungtiva diangkat. Prosedur ini juga idealnya
dilakukan pada jenis pterigium yang memiliki dua kepala dan difuse. 9
Terapi Tambahan
Teknik pembedahan menunjukkan adanya kekambuhan yang tinggi,
sehingga diperikan terapi medikamentosa sebagai tambahan
a. MMC
MMC telah digunakan sebagai terapi tambahan karena diketahui bekerja
menghambat pembentukan fibroblast. Efeknya sama dengan beta
irradiation. Dua tipe MMC, yaitu selama intraoperative penggunaan MMC
saat bare sclera technique setelah eksisi pterigium dan post-operative
menggunakan MMC tetes mata. 9
b. Beta irradiation
Beta irradiation juga diketahui mencegah terjadinya kekambuhan, diduga
menghambat proses mitosis sel yang menyebabkan terjadinya pterigium.
Beta irradiation diduga memiliki efek samping nekrosis sclera,
endoftalmitis, sectorial katarak. 9
Indikasi operasi 2
- Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus
- Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil
- Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau karena
astigmatismus
- Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.

2.10 Komplikasi
- Gangguan penglihatant
- Mata kemerahan
- Iritasi
- Gangguan pergerakan bola mata.

13
- Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea
- Pada pasien yang belum di eksisi terjadi distorsi dan penglihatan sentral
berkurang
- Timbul jaringan parut pada otot rektus medial yang dapat menyebabkan diplopia
- Dry Eye sindrom
- Keganasan epitel pada jaringan epitel di atas pterigium
Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigium adalah kekambuhan.
Eksisi bedah memiliki angka kekambuhan yang tinggi, sekitar 50-80%. Angka ini
bisa dikurangi sekitar 5-15% dengan penggunaan autograft dari konjungtiva atau
transplant membran amnion pada saat eksisi.3
2.12 Prognosis
Pterigium adalah suatu neoplasma yang benigna. Umumnya prognosis baik.
Kekambuhan dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata
atau beta radiasi. 2
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. Rasa tidak
nyaman pada hari pertama postoperasi dapat ditoleransi. Sebagian besar pasien
dapat beraktivitas kembali setelah 48 jam postoperasi. Pasien dengan rekuren
pterygium dapat dilakukan eksisi ulang dengan conjungtiva autograft atau
transplantasi membran amnion. Umumnya rekurensi terjadi pada 3-6 bulan
pertama setelah operasi.2,3
Pasien dengan resiko tinggi timbulnya pterigium seperti riwayat keluarga
atau karena terpapar sinar matahari yang lama dianjurkan memakai kacamata
sunblock dan mengurangi intensitas terpapar sinar matahari.3

14
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 IdentitasPasien
Nama : Ny. Fatimah
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 66 tahun
Pekerjaan : Petani
Alamat : Aceh Besar
Agama : Islam
No CM : 1050377
Tanggal Pemeriksaan : 9 Agustus 2016

3.2 Anamnesis
Keluhan Utama :
Mata mengganjal
Keluhan Tambahan :
Mata merah dan berselaput lemak, mata kabur dan berasap
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Poliklinik Mata RSUDZA dengan keluhan mata kiri terasa
mengganjal sejak sekitar satu tahun terakhir. Awalnya pasien juga sering
mengeluhkan adanya mata merah disertai berair dan nyeri pada mata.
Keluhan tersebut sering berulang terjadi selama pasien beraktivitas bekerja
diluar rumah. Kemudian mulailah tumbuh selaput lemak tebal yang
pertama kali muncul pada sudut bagian hidung kiri mata namun seiring
waktu bertambah hingga ke bagian tengah bola mata pasien. Pasien juga
mengeluhkan pandangan kabur dan bayangan asap sejak 1 tahun
belakangan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat hipertensi ada, riwayat diabetes mellitus ada
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga pasien yang memiliki keluhan seperti pasien.
Riwayat Penggunaan Obat :

15
Pasien mengatakan telah menggunakan obat tetes mata sejak pengobatan
dipoliklinik RSUDZA
Riwayat Kebiasaan Sosial :
Pasien seorang petani puluhan tahun yang hampir setiap hari terpapar
dengan sinar matahari saat bekerja

3.3 Pemeriksaan Fisik


d. Status Oftamologis
oculi dekstra oculi sinistra

Tampak selaput mata yang


melewati limbus < 2 mm (grade 2)

VOD : 1/60 VOS : 1/100

Uji Hiscberg :

Uji Pursuit : Tidak Normal

Keterangan (OD) Komponen Keterangan (OS)

Edema (-) Palpebra Superior Edema (-)


Edema (-) Palpebra Inferior Edema (-)
Konj. Tarsal
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Superior

16
Konj. Tarsal
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Inferior
Jaringan fibrovaskular (-) Konj. Bulbi Jaringan fibrovaskular (+)
Edem (-), Infiltrat (-), Ulkus(-) Edem (-), Infiltrat (-), Ulkus(-),
Kornea
Sikatrik (-), Selaput (+) Sikatrik(-), Selaput (+)
Normal COA Normal

Jelas Kripta Iris Jelas


Bulat(+), isokor (+) Bulat(+), isokor (+)
Pupil
RCL (+), RCTL (+) RCL (+), RCTL (+)
Keruh (+) Lensa Keruh (+)

e. Foto Klinis Pasien

Gambar 3.1 Foto klinis kedua mata pasien

Gambar 3.2 Foto klinis mata kiri pasien

3.4 Pemeriksaan Penunjang


- Refraksi
- Slit lamp

17
3.5 Diagnosis
- Pterigium OS grade II

3.6 Penatalaksanaan
Medikamentosa
- Cendo lyteers 6 x 1 tetes OS
- Cendo xytrol 6 x 1 tetes OS
Bedah
- Avulsi pterigium

3.7 Prognosis
- Quo ad Vitam : Dubia ad bonam
- Quo ad Functionam : Dubia ad bonam
- Quo ad Sanactionam : Dubia ad bonam

18
BAB IV
ANALISA KASUS

Seorang wanita, usia 66 tahun, bekerja sebagai petani sejak puluhan tahun
datang ke poliklinik mata RSUDZA dengan keluhan mata mengganjal sejak 1
tahun yang lalu. Awalnya pasien juga sering mengeluhkan adanya mata merah
disertai berair dan nyeri pada mata. Keluhan tersebut sering berulang terjadi
selama pasien beraktivitas bekerja diluar rumah. Kemudian mulailah tumbuh
selaput lemak tebal yang pertama kali muncul pada sudut bagian hidung kiri mata
namun seiring waktu bertambah hingga ke bagian tengah bola mata pasien.
Berdasarkan teori ada pasien yang datang dengan keluhan mata mengganjal,
tumbuh jaringan fibrovaskular yang menebal dan generatif dari medial (nasal)
ataupun temporal mata mengarah ke limbus hingga kornea adalah pterigium.
Biasanya faktor resiko kejadian pterigium yaitu paparan sinar matahari dan
kejadian tinggi pada daerah iklim panas. Pasien dengan pterigium biasanya
memiliki pekerjaan outdoor, sering bepergian sehingga banyak terpapar sinar
matahari. Berdasarkan teori tropik dikemukakan oleh Barraquer yang
mengatakan bahwa pterigium adalah suatu manifestasi pembentukan jaringan
parut pada daerah yang mengalami iritasi yang menahun, sehingga akan ada
manifestasi mata merah dan berair. berairDengan terbentuknya penonjolan di
limbus, ada daerah diskontinuitas precorneal tear film, sehingga terjadi
pengeringan kornea yang kemudian menjadi ulkus. Penyembuhan ulkus tidak
dapat dilakukan oleh regenerasi epitel kornea dan memerlukan konjungtiva yang
kaya pembuluh darah dimana akan menyebabkan terbentuknya jaringan ikat.
Akibatnya terjadi perlekatan antara konjungtiva dengan jaringan subkonjungtiva
akan menjadi lebih erat yang menyebabkan pterigium. 3
Air mata yang normal merupakan suatu struktur trilaminar yang terdiri atas
lapisan lipid di bagian atas, lapisan akuous di tengah dan lapisan musin yang
paling bawah. Komposisi air mata yang tidak efektif dapat mengganggu stabilitas
dan homeostasis permukaan okular. Walaupun penyebab sindrom dry eye bersifat
multifaktorial, sebagian besar disebabkan defisiensi satu atau lebih komponen dari
air mata, yang menyebabkan abnormalitas permukaan okular dan terjadinya

19
penyakit. Musin adalah lapisan yang paling dalam dari air mata, terdiri atas
hidrasi glikoprotein dan disekresi oleh sel-sel goblet pada konjungtiva (sumber
utama) dan kripte Henle di daerah forniks. Musin ini penting untuk
mempertahankan keseimbangan precorneal tear film. Setiap perubahan jumlah
dan kualitas musin air mata dapat menyebabkan ketidakstabilan air mata; dimana
dapat menimbulkan penyakit. 3
Kejadian pterigium meningkat seiring bertambah usia dapat dikaitkan
dengan lamanya paparan sinar matahari dengan bertambah usia. Anatomi dan
fungsi dari mata juga akan berpengaruh dengan seiring peningkatan usia terhadap
kejadian terjadi gangguan pada mata. 1
Pasien juga mengeluhkan mata kabur seperti berasap, ada riwayat ganguan
penglihatan, tidak ada riwayat trauma pada mata dan wajah tidak ada. Riwayat
diabetes melitus dan hipertensi ada tidak terkontrol. Riwayat penyakit keluarga
tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit seperti pasien.
Berdasarkan teori, adanya keluhan dengan mata kabur dan berasap dapat
dikaitkan dengan adanya katarak senilis yaitu dilihat dari usia pasien. Terjadinya
katarak dalam teori disebutkan berkaitan dengan adanya riwayat hipertensi,
riwayat dibetes mellitus. 2
Dari hasil pemeriksaan tajam penglihatan didapatkan visus pasien VOD
1/60 dan VOS 1/100. Pada konjungtiva bulbi sinistra didapatkan jaringan
fibrovaskular berbetuk segitiga yang tumbuh dari bagian nasal hingga mencapai
kurang lebih 2 mm kornea. Pada pemeriksaan fisik mata juga didapatkan adanya
kekeruhan pada lensa mata kiri dan kanan.
Berdasarkan teori disebutkan jika pterigium mencapai kornea dan melewati
pupil maka dapat menyebabkan gangguan tajam penglihatan. Pada kasus pasien
ini belum melewati pupil namun telah mencapai kornea 2 mm sehingga adanya
gangguan visus dapat terjadi namun biasanya minimal, visus yang sangat turun
lebih mengarah ke klinis katarak dan didukung dengan adanya kekeruhan pada
lensa. Pada kasus katarak selain keluhan mata kabur dan berasap akan disertai
penurunan visus disebabkan karena kekeruhan lensa sehingga adanya gangguan
refraksi. 1,2

20
BAB V
KESIMPULAN

Pterigium adalah suatu jaringan yang berbentuk segitiga atau sayap pada
permukaan membran dasar sebagai akibat dari pertumbuhan epitel limbus yang
masuk ke kornea secara sentripetal. Proliferasi tersebut diikuti dengan terjadinya
hiperplasia dari epitel konjunctiva, proliperatif, gambaran inflamasi, serta kaya
pembuluh darah.
Penderita dapat melaporkan adanya peningkatan rasa sakit pada salah satu
atau kedua mata, disertai rasa gatal, kemerahan dan atau bengkak. Kondisi ini
mungkin telah ada selama bertahun-tahun tanpa gejala dan menyebar perlahan-
lahan, pada akhirnya menyebabkan penglihatan terganggu, ketidaknyamanan dari
peradangan dan iritasi. Sensasi benda asing dapat dirasakan, dan mata mungkin
tampak lebih kering dari biasanya. Penderita juga dapat melaporkan sejarah
paparan berlebihan terhadap sinar matahari atau partikel debu.
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi
pterigium. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva
bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari
konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan. Tujuan
utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara
kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mungkin sehingga angka
kekambuhan menjadi rendah.
Adanya gangguan visus pada kasus pterigium dapat disebabkan adanya
jaringan fibrovaskular yang mencapai korena dan pupil.

21
DAFTAR PUSTAKA
1. Saerang, Josepien Saartje Marie. Vascular Endothelial Growth Factor 'Air Mata
sebagai faktor Resiko Tumbuh Ulang Pterygium'. Indonesian Medical
Association. 2013 Maret; 63(3): p. 100-105
2. Ilyas S. dan Sri Rahayu Yulianti. 2014. Ilmu Penyakit Mata Edisi Kelima.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
3. Shintya , Djajakusli; Syawal, Rukiah; Sirajuddin, Junaedi; Syamsu, Noor. The
Profile of Tear Mucin Layer and Impression Cytology In Pterygieum Patients.
Jurnal Oftamologi Indonesia. 2010 Desember; 7
4. Schwab I.R. dan Dawason C.R. 2011. Konjungtiva Dalam Oftalmologi Umum
Edisi 14. Jakarta: Widya Medika.
5. Mansjoer Arif dkk. 2012. Ilmu Penyakit Mata Dalam: Kapita Selekta
Kedokteran Edisi 3. Jakarta: Balai Penenrbit FKUI.
6. Suhardjo S.U. dan Hartono. 2007. Ilmu Kesehatan Mata Edisi 1. Jogjakarta :
Bagian Ilmu Penyakit Mata FK UGM.
7. Kanski J.J. 2006. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach; Edisi 6.
Philadelphia: Butterworth Heinemann Elsevier.
8. Vaughan dan Asbury. 2010. Oftalmologi Umum. Jakarta: EGC.
9. Laszuarni. Prevalensi Pterigium di Kabupaten Langkat. Tesis Dokter Spesialis
Mata. Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. 2009.

22