You are on page 1of 49

BAB I

PENDAHULUAN

  • A. LATAR BELAKANG

Pembedahan pada Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) telah banyak dan menjadi operasi yang sering dilakukan. Dimana angka kejadian pembedahan THT yang banyak dilakukan adalah tonsilektomy dan polipectomy. Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi pengangkatan tonsil palatina. Ia merupakan prosedur yang paling sering dilakukan terutama pada anak-anak. Pada dekade terakhir ini, tonsilektomi tidak hanya dilakukan untuk tonsilitis berulang, namun juga untuk berbagai kondisi yang lebih luas termasuk kesulitan makan, tounge thrust, halitosis, mendengkur, dan gangguan bicara (Hermani B, 2004). Jumlah operasi tonsilektomi di Amerika Serikat meningkat pada tahun 1959 yaitu sebanyak 1.4 juta operasi, dengan majoritas dilakukan pada anak-anak. Jumlah operasi mengalami penurunan ke 500,000 pada tahun 1979 dan menurun lagi ke 380,000 pada tahun1996. Kira-kira 130.000 operasi tonsilektomi yang dilakukan pada tahun 1996 adalah pada individu yang berusia 15 tahun ke atas (Bisno A, 2009). Di Indonesia data nasional mengenai jumlah operasi tonsilektomi belum ada. Namun data yang didapatkan dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSUPN-CM) di Jakarta selama 5 tahun terakhir (1993- 2003) menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah operasi tonsiloadenoidektomi dengan puncak kenaikan pada tahun kedua (275 kasus) dan terus menurun sampai tahun 2003 (152 kasus) (Wanri A,

2007).

Saat ini walau jumlah operasi tonsilektomi telah mengalami penurunan bermakna, namun masih menjadi operasi yang paling sering dilakukan. Di Indonesia, pengeluaran pelayanan medik untuk prosedur

ini diperkirakan adalah setengah triliun dolar pertahun (Hermani B,

2004).

Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dulu tonsilektomi diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi yang lebih utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil. Indikasi tonsilektomi juga berbeda menurut negara. Selain itu, indikasi tonsilektomi pada pasien anak dan dewasa juga berbeda. Kontroversi seputar tonsilektomi telah lama terjadi. Tonsilektomi sebagai tindakan operasi terbanyak dan biasa dilakukan di bidang THT belum mempunyai keseragaman indikasi (Amarudin T, 2007). Polip hidung adalah peradangan kronis selaput lendir dan sinus paranasal yangditandai dengan pembengkakan massa mukosa yang meradang dengan tangkai dasar luas atausempit. Kebanyakan polip berasal dari celah osteomeatal yang menyebabkan obstruksi hidung. Polip sering tumbuh pada sinus ethmoidalis danmaxillaris. Polipantrokoanaladalah jenis polip yang berasal dari mukosa dinding pos terior di daerah antrum maksila, yang kemudian keluar dari ostium sinus dan meluas hingga ke belakang di daerah koana posterior. Polip ini juga dikenal sebagai Killian’s polyps Karena ia pertama kali ditemukan oleh Killian pada tahun 1753. Polip antrochoanal (ACP) terdiri dari 2 kompon en yaitu komponen kistik dan padat.Polip antrokoanal adalah suatu lesi polipoid jinak yang berasal dari mukosa antrumsinus maksila yang inflamasi dan udematous dapat meluas ke koana. Terbanyak berasal dari mukosa dinding antrum bagian posterior. Etiopatogenesis dengan gejala utama hidung tersumbat unilateral dan rinore. Banyak teknik polipektomi polip antrokoanal yang telah terkenal akan tetapi dengan efek samping dan rekusrensi yang tinggi. Penyebab dan mekanisme yang mendasari polip masih tidak dipahami dengan baik, namun peradangan kronis merupakan faktor utama seperti peningkatan

sel inflamasi sepertieosinofil. Polip sering dikaitkan dengan rinosinusitis kronis dan alergi. Namun peran alergi pada polip masih kontroversial. Sebuah studi 3000 pasien atopik menunjukkan prevalensi 0,5%, sedangkan studi di 300 pasien alergi menunjukkan prevalensi sebesar 4,5%. Polip antrochoanal hanya mewakili sekitar 3-6% dari polip nasal. Etiologi yang tepattidak diketahui, tetapi diduga infeksi mungkin merupakan penyebab umum. Namun Cook et al menemukan kejadian yang lebih tinggi 10,4%. Sinusitis kronik ditemukan pada sekitar 25% dari pasien. Tidak seperti polip lainnya, polip antrochoanal lebih sering terjadi pada pasien non atopic (4,7 %) dari pada pasien rinitis atopik (1,5 %). Polip ini sering pada anak-anak dan remaja tetapi dapat bermanisfestasi pada usia lebih tua dan lebih banyak mengenai laki-laki dibandingkan perempuan. Pada anak-anak insidensi polip ini mencapai 33%. Dalam sejumlah studi perspektif pada tahun 2002, diketahui bahwa usia rata-rata terjadinya poli pantrokoanal ini adalah 27 dan 50 tahun. Polip nasal merupakan salah satu penyakit yang cukup sering ditemukan di bagian THT. Keluhan pasien yang datang dapat berupa sumbatan pada hidung yang makin lama semakin berat. Kemudian pasien juga mengeluhkan adanya gangguan penciuman dan sakitkepala. Untuk mengetahui massa di rongga hidung merupakan polip atau bukan selain perludikuasai anatomi hidung juga perlu dikuasai cara pemeriksaan yang dapat menyingkirkan kemungkinan diagnosa lain. Di dalam makalah ini juga kami membahas tentang pembedahan AV Shunt karena akhir-akhir ini penyakit degeneratif kronis sering muncul sebagai penyebab berbagai kematian. Gagal ginjal merupakan salah satu penyakit yang terjadi akibat komplikasi kronis seperti dibates mellitus ( DM ), Hipertensi dan banyak lagi penyakit kronis lain. Gagal ginjal yang terjadi akibat komplikasi tersebut biasanya bersifat ringan , sedang dan berat, sekarang ini Gagal Ginjal Terminal ( GGT ) atau End Stage Renal Diseas ( ESRD ) ramai di bicarakan karena bukan hanya

menyangkut soal bagian kesehatan saja tetapi juga melibatkan lintas bidang kesehatan karena biaya penatalaksanaan yang tidak murah. Data yang didapat dari Indonesiaan Renal Registry jumlah pasien baru yang menjalani hemodialisis pada tahun 2007 sebanyak 2839 orang dari 20 renal unit sedangkan pada tahun 2008 dari bulan januari sampai juni sebanyak 1429 orang, data pada tahun 2008 ini tampaknya akan semakin bertambah karena banyaknya renal unit yang belum memasukan data.

Dengan banyaknya Pasien Gagal Ginjal Terminal ( GGT ) tersebut kebutuhan akan perawat dialysis semakin meningkat. Untuk menjadi perawat hemodialisis perawat perlu melakukan pendidikan khusus untuk mempelajari berbagai tekhnik dialysis yang biasanya menggunakan alat atau mesin dan cara yang khusus. Dalam Terafi Ginjal Pengganti ( TGP ) tidak terlepas dengan akses vaskuler terutama pada hemodialisis. Data lain yang didapat dari RSKG Ny. R.A Habibie pada bulan September 2008 dengan jumlah total ebanyak 300 pasien menunjukan bahwa penggunaan AV-Shunt sebagai akses vascular sangat besar yaitu sekitar 96 % dan sisanya femoral dan cateter double lumen. Berbagai keadaan dan komplikasi penyakit dapat mempengaruhi AV-Shunt baik sebelum maupun setelah operasi maka dengan itu perawat hemodialisis berperan penting mulai dari menyarankan dan memotivasi pasien untuk AV-Shunt, memberikan informasi yang adequate tentang AV-Shunt, mengatasi dan mengobservasi berbagi komplikasi Selama pengunaan AV-Shunt dan tentunya memelihara AV- Shunt selama AV-Shunt digunakan. AV-Shunt adalah Peroses penyambungan ( anstomosis ) pembuluh darah vena dan arteri dengan tujuan untuk memperbesar aliran darah vena supaya dapat digunakan untuk keperluan hemodialisis ( Ronco, 2004 ).

Melihat begitu besarnya kasus pembedahan Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) dan Pembedahan pemasangan AV Shunt, kita sebagai calon scrub nurse wajib mengetahui instrument-instrumen untuk pembedahan pemasangan AV Shunt dan pembedahan THT khususnya Polipectomy dan Tonsilektomy. Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan menjabarkan tentang definisi, indikasi, kontraindikasi, instrument pembedahan yang digunakan dan lain sebagainya untuk menunjang kemampuan dan pengetahuan kita di kamar operasi.

  • B. RUMUSAN MASALAH

Apakah ada masalah-masalah dalam pembedahan THT (tonsilektomi dan polypektomy) dan AV Shunt?

  • C. TUJUAN

Mengetahui pembedahan AV Shunt dan THT yang terdiri dari tonsilektomi dan polypectomy.

  • D. MANFAAT Diharapkan berguna untuk mengembangkan teori-teori keperawatan di kamar bedah dan menambah pengetahuan yang telah ada mengenai pembedahan THT dan pembedahan pemasangan AV Shunt.

BAB II

TINJAUAN TEORI

  • A. KONSEP DASAR AV SHUNT

    • 1. Definisi AV Shunt

BAB II TINJAUAN TEORI A. KONSEP DASAR AV SHUNT 1. Definisi AV Shunt AV Shunt adalah

AV Shunt adalah suatu tindakan pembedahan dengan cara menghubungkan arteri radialis dengan vena cephalika sehingga terjadi fistula arteiomena sebagai abses dialysis.

  • 2. Persyaratan pembuluh darah yang dapat disambung

    • a) Persayaratan pada pembuluh darah arteri :

      • - Perbedaan tekanan antara kedua lengan < 20 mmHg

      • - Cahaya arteri darah palmar pasien dalam kondisi baik dengan melakukan tes Allen.

      • - Diameter lumen pembuluh arteri > 2.0 mm pada lokasi dimana akan dilakukan anastomosis.

  • b) Persyaratan pada pembuluh darah vena :

    • - Diameter lumen pembuluh vena > 2.0 mm pada lokasi dimana akan dilakukan anastomis.

    • - Tidak ada obstruksi atau stenosis

    • - Kanulasi dilakukan pada segmen yang lurus

    • 3. Indikasi operasi Pasien dengan End Stage Renal Disease (ESRD) yang memerlukan akses vascular untuk dialysis berulang dan jangka panjang.

    • 4. Kontraindikasi operasi :

      • a) Lokasi pada vena yang telah dilakukan penusukan untuk akses cairan intravena, vena seksi atau trauma.

      • b) Pada vena yang telah mengalami kalsifikasi atau terdapat atheroma.

      • c) Tes allen menunjukkan aliran pembuluh arteri yang abnormal.

  • 5. Tujuan tindakan operasi Tujuan dilakukan operasi AV Shunt untuk membentuk distula arteriovena sebagai akses dialysis.

  • 6. Persiapan preoperative di ruangan :

    • a) Status pasien Lembar status pasien harus diisi dengan lengkap meliputi berat badan, riwayat pemberian anti tetanus, riwayat perkawinan, last meal.

    • b) Informed consent Merupakan penjelasan kepada pasien sampai pasien mengerti. Sebelum dilakukan tindakan operasi, keluarga pasien diminta persetujuannya, sebaiknya dalam hal ini ada saksi, pasien dan petugas.

    • c) Barang-barang Segala macam perhiasan yang menempel pada tubuh pasien harus dilepas.

    • d) Darah Transfuse darah pada pasien pre operasi harus disediakan terutama pada kasus-kasus emergency dengan haemoglobin kurang dari 10.

    • 7. Persiapan alat prosedur di ruang operasi

      • a) Persiapan meja operasi dan alat-alatnya Persiapan meja operasi pada posisi datar.

      • b) Lampu Cek lampu operasi, lampu operasi harus nyala semua. Perhatikan dalam penggeseran lampu saat akan memfokuskan lampu pada daerah operasi jangan sampai menyentuh daerah steril.

      • c) Kursi Kursi jarus ada, kursi dibutuhkan untuk operasi yang membutuhkan waktu lama

      • d) Meja instrument Meja instrument harus disiapkan lengkap dengan set instrumentnya. Yang harus diingat antara medan operasi dengan meja instrument harus terpasang duk steril karena daerah ini harus daerah steril. Siapkan juga yang akan dibutuhkan.

      • e) Suction apparatus Terdiri dari dua tabung yaitu tabung penampung dan tabung vacuum

    Alat ini berfungsi untuk menyedot cairan pada daerah operasi misalnya setelah dilakukan pencucian dengan NaCl. Usahakan cairan kotor hanya tertampung pada tabung penampungan. Bila suction tidak berfungsi dengan baik cek dulu bagian tutup tabung, mungkin tutupnya kurang kencang.

    • f) Electro couter Cek alat dengan menyalakannya semua harus pada angka 30. Untuk ground sebelum digunakan harus diolesi dengan jelly ultra sonic. Ground jangan ditempatkan pada daerah yang menyeberangi jantung. Tombol kuning berfungi sebagai pisau, tombol biru berfungsi untuk menghentikan perdarahan. Bila elektro couter tidak berfungsi cek dulu groundnya, jangan langsung menambah angka. Yang perlu diperhatikan saat akan mematikan couter semua tombol harus pada angka 30.

    • g) Anastesi set Anastesi disiapkan oleh anestesiolog

    • h) Tempat limbah operasi Tempat limbah harus dbedakan antara limbah medis dan nin medis.

    • i) Obat-obatan emergency Obat-obat emergency harus disipakan dahulu.

    8.

    Prosedur operasi AV Shunt

    • a) Persiapan perawat

      • - Mengekspresikan perasaan, memakai baju operasi, masker, topi dan celemek dengan benar.

      • - Memberi pengalas pada meja operasi dan mengatur meja operasi serta lampu.

      • - Mengatur meja instrument dan mengoleskan alkohol pada meja instrument

      • - Menyiapkan minor set, duk streil dan baju operasi diatas meja instrument

      • - Mengantar pasien memasuki kamar operasi

      • - Memasang ground couter dan menyiapkan alat suction serta tempat sampah.

  • b) Persiapan alat dan ruang

    • - Alat steril Jas operasi, kassa, duk, minor set, jarum, benang, com, infuse set, bengkok, mess.

    • - Alat tidak steril Lampu operasi, mesin couterm mesin anasteri, meja operasi, meja instrument, tiang infuse, temapt samaph, bantal dan selimut.

    • - Bahan habis pakai

  • Kassa, betadin, mess no 11 dan 21, hypafix, benang etilon 7/0,

    benang zyde 3/0, benang vicril 3/0, handscoon steril, jarum jahit

    cutting, sufratulle, alcohol 70%, NaCl 0,9%.

    -

    Set AV Shunt

     

    No

    Nama & Gambar

    Kegunaan

    1.

    Pinset Anatomis

    Penggunaannya adalah

    untuk menjepit kassa sewaktu menekan luka, menjepit jaringan yang tipis dan lunak.

    untuk menjepit kassa sewaktu menekan luka, menjepit jaringan yang tipis dan lunak.

    2.

    Pinset Cillurgis

    Penggunaannya adalah

    untuk menjepit jaringan pada waktu diseksi dan penjahitan luka, memberi tanda pada kulit sebelum memulai insisi

    untuk menjepit jaringan pada waktu diseksi dan penjahitan luka, memberi tanda pada kulit sebelum memulai insisi

    3.

    Nal Fudder / Needle holder

    Alat ini digunakan untuk

    memegang jarum saat menjahit luka operasi. Alat ini dilengkapi dengan pengunci, sehingga operator tidak terlalu mengeluarkan

    memegang jarum saat menjahit luka operasi. Alat ini dilengkapi dengan pengunci, sehingga operator tidak terlalu mengeluarkan banyak tenaga.

    4.

    Towel clip

    Alat ini digunakan untuk

    alokasi daerah pembedahan/drapping

    alokasi daerah pembedahan/drapping

    5.

    Kocher

    Alat ini digunakan untuk

    menjepit jaringan keras agar tidak mudah lepas.

    menjepit jaringan keras agar tidak mudah lepas.

    6.

    Klem arteri / mosquito forceps

    Klem arteri / mosquito

    forceps digunakan untuk hemostatis untuk jaringan tipis dan membantu pengikatan pada pembuluh darah.

    forceps digunakan untuk hemostatis untuk jaringan tipis dan membantu pengikatan pada pembuluh darah.

    7.

    Forceps Racheter Pean

     
    Alat ini digunakan untuk hemostatis untuk jaringan

    Alat ini digunakan untuk hemostatis untuk jaringan

    8.

    Pisau bedah / Mess no. 11 dan Scalpel

    Pisau bedah (scaple) berfungsi untuk memotong

    jaringan, terdiri

    dari

    gagang dan mata pisau
    gagang dan mata pisau

    gagang

    dan mata pisau

    mess/bistouri/blade) yang

    dapat dibuka-pasang.

     
     

    9.

    Bulldog clamps

    Alat yang digunakan untuk

    menghentikan aliran darah dan mencegah perdarahan yang berlebihan pada daerah yang dioperasi

    menghentikan aliran darah dan mencegah perdarahan yang berlebihan pada daerah yang dioperasi

    Buldog vena

    Untuk menhentikan aliran

    darah vena dan mencegah

    darah pada pembuluh

    darah pada pembuluh

    pendarahan

    yang

    berlebihan

     

    Buldog Arteri

    Untuk menhentikan aliran

    darah arteri dan mencegah

    darah pada pembuluh

    darah pada pembuluh

    pendarahan

    yang

    berlebihan

    10.

    Gunting diseksi

    Gunting jaringan

    (bedah) terdiri atas dua bentuk. Pertama, berbentuk ujung tumpul dan berbentuk ujung bengkok. Gunting dengan ujung

    (bedah) terdiri atas dua bentuk. Pertama, berbentuk ujung tumpul dan berbentuk ujung bengkok. Gunting dengan ujung tumpul digunakan untuk membentuk bidang jaringan atau jaringan yang lembut, yang juga dapat dipotong secara tajam.

    11.

    Gunting benang

     
    Alat ini digunakan untuk menggunting benang

    Alat ini digunakan untuk menggunting benang

    12.

    Gunting vaskuler

     
    Fungsinya untuk memotong sistem peredaran darah

    Fungsinya untuk memotong sistem peredaran darah

    13.

     

    Fungsinya mengontrol

    Handpiece electrocouter dan mesinnya.

    Handpiece electrocouter dan mesinnya.

    perdarahan pada waktu operasi

    14.

    Kom

    Wadah cairan desinfektan

    13. Fungsinya mengontrol Handpiece electrocouter dan mesinnya. perdarahan pada waktu operasi 14. Kom Wadah cairan desinfektan
    • c) Prosedur tindakan operasi

      • 1. Posisikan pasien supine.

      • 2. Identifikasi vena yang baik

      • 3. Atur posisi tangan pasien berada disamping dan letakkan di atas meja mayo yang telah di beri alas kain.

      • 4. Hidupkan mesin elektrocouter dan tempelkan groundpad pada tubuh pasien.

      • 5. Letakkan tempat sampah di bawah tangan pasien yang akan dilakukan desinfeksi.

    7.

    Perawat circulator memegang lengan bagian atas pasien

    • 8. Lakukan desinfeksi pada lokasi yang akan dilakukan av shunt dengan alkohol 70 % dan dilanjutkan dengan betadine

    • 9. Lakukan drapping dengan ujung tangan/jari-jari terbungkus

      • 10. Operator,asisten,dan perawat duduk di kursi.

      • 11. Siapkan handpiece elektrocouter.

      • 12. Berdoa bersama sebelum operasi.

      • 13. Operator melakukan anestesi lokal dengan lidocain 2%

      • 14. Operator membuat irisan berbentuk lazy s atau bentuk yang lain.

      • 15. Perdalam lapis demi lapis dengan pean sampai ketemu pembuluh darah vena.

      • 16. Pembuluh darah vena dibebaskan dari jaringan sekitarnya sampai cukup panjangnya untuk disambungkan ke artery radialis.jika ada cabang pada vena harus diligasi.

      • 17. Pembuluh darah vena dikendali/di tegel dengan benang silk 3/0 pada ujung proksimal dan ujung distal

      • 18. Operator memperdalam lapis demi lapis untuk mencari pembuluh darah artery.

      • 19. Arteri dibebaskan dari jaringan sekitar sampai panjangnya cukup untuk menempatkan buldog.

      • 20. Pemb.darah vena diligasi bagian distal dengan benang silk 3/0.

      • 21. Vena dipotong miring dengan sudut kemiringan 30 derajat dengan gunting vaskuler ..

    22.

    Cek patensi lumen vena dengan memasukkan cairan nacl + heparin.

    • 23. Jika ada darah aliran balik dari vena lakukan penjepitan pada ujung vena dengan buldog vena.

    • 24. Pasang buldog arteri pada bagian proksimal dan distal pemb.darah artery.

    • 25. Lakukan irisan/membuat lobang pada pemb.darah arteri dengan mess no 11.

    • 26. Lakukan anastomose vena ke arteri dengan menggunakan benang prolene 7/0

    • 27. Setelah anastomose selesai buka buldog artery bagian distal,kontrol adakah kebocoran dari jahitan anastomose.

    • 28. Jika tidak ada kebocoran dari jahitan buka buldog artery bagian proksimal.

    • 29. Lihat aliran darah dari artery ke vena.

    • 30. Raba pembuluh darah vena dan rasakan adanya bunyi tril pada vena proksimal.

    • 31. Kontrol perdarahan.

    • 32. Luka ditutup dengan plain 3/0.

    • 33. Kulit dijahit dengan ethilon 3/0

    • 34. Luka ditutup dengan kasa dan hipafik.

    • 35. Dengarkan bunyi aliran vena dgn stetoskop

    • 36. Operasi selesai,alat dibereskan.

    d)

    Evaluasi

    1)

    Operasi berjalan dengan baik dan tidak ada kendala

    2)

    Denyut aliran darah dari arteri ke vena teraba keras

    3)

    Pasien dalam keadaan baik

    4)

    Perdarahan sedikit

    • 2. Diagnosa Keperawatan

    • 3. Perencanaan

    • 4. Pelaksanaan

    • 5. Evaluasi

    • B. KONSEP DASAR POLIPECHTOMY

      • 1. Definisi Polipectomy

    Pembedahan untuk polip hidung, yang dikenal sebagai polipektomi

    hidung, biasanya dipertimbangkan saat bentuk pengobatan lain tidak

    memberikan kelegaan apapun dari gejala. Operasi pengangkatan polip

    hidung tidak menjamin pemberantasan permanen dan ada kemungkinan

    polip dapat kambuh lagi.

    Meskipun Anda mungkin tidak ingin menjalani operasi, penting

    untuk diingat bahwa kualitas hidup Anda dapat meningkat secara

    signifikan setelah pengangkatan jaringan yang sakit. Dengan metode

    bedah modern, sebanyak jaringan normal yang melapisi rongga hidung

    dipertahankan dan prosesnya, sementara invasif, biasanya tidak

    mengakibatkan komplikasi parah.

    • 2. Jenis Bedah Polip Nasal

    Pembedahan untuk polip hidung biasanya dilakukan sebagai

    prosedur rawat jalan di pusat operasi rawat jalan dan pasien

    diperbolehkan pulang ke rumah pada hari yang sama. Idealnya harus

    dilakukan oleh otolaryngologist (spesialis THT). Baik operasi sinus

    polypectomy atau endoskopi dapat dilakukan, tergantung pada jumlah,

    ukuran dan lokasi polip.

    • a. Polipektomi

    Polipektomi biasanya dilakukan dengan anestesi lokal dan

    biasanya dilakukan untuk menghilangkan polip kecil yang mudah

    terlihat dan bisa dijangkau melalui lubang hidung tanpa kesulitan.

    Spekulum hidung digunakan untuk menahan hidung dan polip

    bisa dijepit dan kemudian dilepaskan dengan loop kawat atau tang.

    Instrumen yang disebut microdebrider dapat digunakan untuk

    memotong dan melepaskan polip atau perangkat hisap mekanis kecil

    yang dapat digunakan.

    Perdarahan dapat dikendalikan dengan electro-cauterization

    atau packing dan pressure. Jelly dan kasa minyak yang dioleskan ke

    area operasi dapat membantu mencegah perdarahan. Pembalutan

    biasanya dikeluarkan 3 sampai 4 hari setelah operasi.

    • b. Operasi sinus endoskopik

    Bedah sinus endoskopik fungsional (FESS) adalah teknik

    invasif minimal dimana diperlukan penghapusan polip yang akurat

    bersamaan dengan pembersihan sinus, sehingga memulihkan

    ventilasi sinus dan fungsi normal. Prosedur ini dapat dilakukan

    dengan anestesi lokal dengan sedasi, atau anestesi umum.

    Endoskopi (tabung sempit dengan kamera mungil di ujungnya)

    dimasukkan ke rongga sinus melalui lubang hidung. Dengan bantuan

    endoskopi, pandangan yang lebih baik dimungkinkan bila polip

    berada di atap hidung atau sinus. Instrumen kecil digunakan untuk

    menghilangkan polip dan penghalang lainnya di dalam sinus.

    • 3. Tujuan operasi

    Setelah operasi, hidung tersumbat yang disebabkan oleh polip

    memudahkan secara signifikan dan infeksi sinus lebih terkontrol. Gejala

    lain yang terkait dengan polip hidung bisa sembuh total. Pemilihan

    pasien yang tepat untuk operasi sangat penting untuk hasil jangka

    panjang terbaik.

    • 4. Indikasi untuk Bedah Polip Nasal Pasien yang memenuhi syarat untuk operasi harus diberi tahu tentang hal berikut:

      • a. Kekambuhan polip pada stadium lanjut mungkin terjadi bahkan setelah operasi pengangkatan Pemulihan rasa penciuman tidak bisa dijamin.Perlakuan medis lanjutan untuk alergi, asma dan kondisi medis lainnya penting bahkan setelah operasi.

      • b. Pengobatan kronis rhinitis alergi dan kondisi nasal lainnya setelah operasi diperlukan untuk pencegahan kekambuhan polip.

      • c. Polip hidung pada awalnya diobati dengan semprotan nasal steroid, steroid oral atau kombinasi keduanya. Pada kasus yang parah, suntikan steroid intranasal dipertimbangkan dan ini cukup efektif dalam mengurangi ukuran polip sehingga mengurangi gejala yang terkait.

    • d. Polipektomi hidung diindikasikan untuk gejala atau gejala yang tidak terkontrol yang gagal dalam terapi medis maksimal. Dalam kasus di mana polip hidung dikaitkan dengan kondisi lain seperti alergi, asma atau sinusitis kronis, pengobatan harus diarahkan pada kondisi ini. Jika tidak ada atau sedikit kelegaan gejala bersamaan dengan penyumbatan dan infeksi parah dan polip masih berlanjut setelah perawatan, maka pembedahan biasanya disarankan.

    • e. Sebagian kecil polip hidung mungkin bersifat kanker atau pra-kanker dan karenanya mungkin perlu dikeluarkan tanpa mempertimbangkan indikasi lain yang disebutkan di atas.

    5.

    Kontraindikasi

    • a. Seorang pasien dengan asma yang tidak terkelola dengan baik, penyakit jantung dan paru-paru (s) dan gangguan perdarahan mungkin tidak sesuai untuk polipektomi. Namun, setiap kasus dipertimbangkan secara individual sebelum keputusan akhir untuk beroperasi atau tidak dibuat.

    • b. Polipektomi hidung dikontraindikasikan untuk penyakit asimtomatik atau dengan komorbiditas pasien yang signifikan termasuk, namun tidak terbatas pada, penyakit jantung dan paru, kelainan pendarahan yang signifikan, atau diabetes atau asma yang tidak terkontrol dengan baik.

    • c. Polip hidung bisa hidup berdampingan dengan kondisi seperti sindrom Churg-Strauss dan fibrosis kistik. Pertimbangan khusus

    harus dilakukan dalam setiap kasus namun karena polipektomi

    bukanlah prosedur penting kecuali jaringan itu bersifat kanker,

    mungkin tidak direkomendasikan dalam kondisi ini.

    • 6. Persiapan sebelum Bedah Polip

      • a. CT scan dari sinus.

      • b. Endoskopi hidung dan sinus.

      • c. Tes lainnya hanya dilakukan jika diperlukan, seperti:

    1)

    Studi alergi atau asma.

    2)

    Cerat atau kultur hidung untuk jamur dan bakteri.

    3)

    Pengujian olfactory

    4)

    Tes untuk cystic fibrosis.

    • 7. Komplikasi Bedah Polip

    Terlepas dari komplikasi operasi apapun seperti perdarahan,

    infeksi dan reaksi anestesi yang merugikan, komplikasi neurologis dan

    orbital yang berpotensi berbahaya harus selalu diingat. Dari jumlah

    tersebut, kebocoran CSF adalah komplikasi utama yang umum terjadi.

    Komplikasi operasi polip nasal jarang dilakukan dengan metode bedah

    modern.Beberapa kemungkinan komplikasi meliputi:

    1)

    Epistaksis.

    2) Meningitis

    3)

    Perdarahan intrakranial.

    4)

    Abses otak.

    6)

    Cedera saraf optik.

    7)

    Hematoma orbit.

    8)

    Kerusakan otot mata mengarah pada diplopia (double vision).

    Kerusakan saluran nasolakrimal menyebabkan epiphora

    (meluapnya air mata).

    Harus ditekankan bahwa operasi pengangkatan polip hidung di

    tangan ahli otolaringologi yang tepat adalah prosedur yang aman

    dengan komplikasi minimal atau tidak ada dalam kebanyakan

    kasus, kecuali ada faktor predisposisi lainnya.

    • 8. Polypectomy Instrument Set 1 Set

      • a. Hartmann-Halle Nasal Spec. 15.0cm. …

    ....

    ……….

    1 Pc

    6) Cedera saraf optik. 7) Hematoma orbit. 8) Kerusakan otot mata mengarah pada diplopia (double vision).

    Hartman-Halle Nasal Speculum adalah alat yang berguna

    dalam prosedur hidung endoskopik. Spekulum adalah salah satu

    spekulum hidung Novo Surgical yang paling populer untuk

    menarik dinding hidung dan memeriksa jalur hidung. Perputaran

    rata-rata pisau memberi akses lebih mudah ke bukaan yang ketat.

    Selain itu, spekulum Hartman-Halle tersedia dalam tiga ukuran

    tergantung pada preferensi dokter.

    • b. Killian Nasal Speculum 50mm, 13.0 cm. ……………

    ....

    1 Pc

    b. Killian Nasal Speculum 50mm, 13.0 cm. …………… .... … 1 Pc Species Killian Septum digunakan

    Species Killian Septum digunakan untuk menyusun septum

    hidung untuk pemeriksaan atau pembedahan. Pola penahan sendiri

    disesuaikan ke posisi menggunakan sekrup samping dan

    memungkinkan kedua tangan ahli bedah bebas. Spesimen Killian

    Septum Speculum ebonized (hitam-dilapisi) tersedia juga, tanpa

    sekrup set penahan sendiri. Bilah spekulum panjang memungkinkan

    instrumen mencapai jauh ke dalam rongga hidung.

    • c. Krause Nasal Snare with 1 Tip. …………………

    .......

    ..

    1 Pc

    b. Killian Nasal Speculum 50mm, 13.0 cm. …………… .... … 1 Pc Species Killian Septum digunakan

    Krause Nasal Snare adalah alat yang berguna dalam patologi

    rongga hidung. Lingkaran snare pada ujung instrumen dimaksudkan

    untuk mengelilingi dan mengeluarkan polipus hidung atau lesi

    lainnya. Gaya alat bayonet meminimalkan penyumbatan yang

    disebabkan oleh instrumen dan memperluas tampilan bedah. Selain

    itu, kelengkungan poros memungkinkan akses lebih mudah.

    • d. Mayo Oper Scrisor Cvd Bl/Bl 17.0 cm Sc. ……………

    .....

    … 2 Pcs

    disebabkan oleh instrumen dan memperluas tampilan bedah. Selain itu, kelengkungan poros memungkinkan akses lebih mudah. d.

    Gunting mayo adalah alat yang berguna dalam membuka atau

    memotong jaringan yang di insisi.

    • e. Weill Blakesley Nasal Fcps Fig. 3, 4.2mm x 10mm, Straight Shaft

    Legth : 120 mm. …………… .... 1 Pc
    Legth : 120 mm. ……………
    ....
    1 Pc

    Weil-Blakeley Nasal Forceps memotong forsep, dirancang

    untuk membuka sinus dan menghilangkan polip. Forsep tersedia

    dengan panjang poros 4-3 / 4 inci dan berbagai ukuran tip. Produk

    ini miring 45 derajat ke atas dengan jins # 1 (3mm) dan panjang

    keseluruhan 7-1 / 2 inci.

    • f. Gruenwald Nasal Tampon Fcps 20.0cm. ………….……

    ..

    1 Pc

    f. Gruenwald Nasal Tampon Fcps 20.0cm. ………….…… .. 1 Pc Gruenwald Nasal Forceps adalah alat yang

    Gruenwald Nasal Forceps adalah alat yang umum digunakan

    dalam prosedur bedah hidung. Forseps dapat digunakan untuk

    menghilangkan jaringan lunak dan tulang rawan atau untuk

    membuang potongan tulang berlebih. Forsep tersedia dalam tiga

    ukuran gigitan yang berbeda tergantung pada preferensi bedah.

    • g. Hartmann Nasal Polypus Fcps. 20.0

    cm.

    ..

    ………

    1 Pc

    f. Gruenwald Nasal Tampon Fcps 20.0cm. ………….…… .. 1 Pc Gruenwald Nasal Forceps adalah alat yang

    Instrumen hidung ini memiliki fungsi penting baik pada OPD

    maupun ruang operasi. Hal ini juga disebut forsep pengepakan atau

    foring celup. Tidak ada operasi pembedahan hidung yang selesai

    tanpa forceps ini. Digunakan untuk melakukan pengepakan hidung

    anterior, membuang benda asing, remah atau bungkus dari hidung,

    mengepak hidung dengan potongan kasa selama operasi hidung atau

    operasi sinus dan untuk menghilangkan tulang rawan dan potongan

    tulang selama septoplasty atau SMR

    • h. Lange-Wilde Nasal Snare with 1 Tip. ………

    ....

    ……

    1 Pc

    mengepak hidung dengan potongan kasa selama operasi hidung atau operasi sinus dan untuk menghilangkan tulang rawan
    • i. Universal wire Shears TC. 12.0 cm. ………

    .........

    ……

    1 Pc

    mengepak hidung dengan potongan kasa selama operasi hidung atau operasi sinus dan untuk menghilangkan tulang rawan
    • j. Frazier Brain Suction Tube Charr 10/17cm. ….…………1 Pc

    j. Frazier Brain Suction Tube Charr 10/17cm. ….…………1 Pc Frazier Suction Tube adalah instrumen tipis yang

    Frazier Suction Tube adalah instrumen tipis yang digunakan

    untuk menghilangkan cairan dan kotoran dari tempat pembedahan

    terbatas seperti rongga hidung, daerah lumbar dan serviks atau

    secara intrakranial. Suction dikontrol oleh lubang kecil pada

    pegangan dan beberapa ujung ukuran yang tersedia. Ukuran tabung

    isap ditunjukkan oleh skala pengukuran Prancis. Tabung hisap ini

    juga dilengkapi dengan kawat tipis yang bisa dimasukkan ke dalam

    tabung untuk mengangkat jaringan yang mungkin terjebak di seluruh

    suction. Produk ini berukuran 6 Perancis, bersudut tabung dengan

    keseluruhan 7-1 / 2 inci, panjang kerja 4 inci dari tikungan.

    • 9. Prosedur Kerja

    • C. KONSEP DASAR TONSILEKTOMY

      • 1. Pengertian Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil / mandel / amandel. Operasi ini merupakan operasi THT yang paling sering dilakukan pada anak-anak. Para ahli belum sepenuhnya sependapat tentang indikasi tentang tonsilektomi, namun sebagian besar membagi alasan (indikasi) tonsilektomi menjadi indikasi absolut dan indikasi relatif. Instrumentasi teknik tonsilektomi adalah suatu tata cara atau tehnik yang menunjang tindakan pembedahan dimulai dari proses persiapan alat, mengatur penataan alat secara sistematis dan penggunaan alat/ instrument selama tindakan operasi pengangkatan tonsil (tonsilektomi) berlangsung.

      • 2. Indikasi

        • a. Indikasi Absolut : Tonsil (amandel) yang besar hingga mengakibatkan gangguan pernafasan, nyeri telan yang berat, gangguan tidur atau sudah terjadi komplikasi penyakit-penyakit kardiopulmonal. Abses peritonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan Dan pembesaran tonsil yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan wajah atau mulut yang terdokumentasi oleh dokter gigi bedah mulut. Tonsillitis yang mengakibatkan kejang demam. Tonsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan gambaran patologis jaringan.

        • b. Indikasi Relatif:

    Jika mengalami Tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang memadai.

    Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada Tonsilitis kronis yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan. Tonsilitis kronis atau Tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan dengan antibiotika. Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan dengan keganasan (neoplastik).

    • 3. Kontraindikasi

    Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai

    kontraindikasi, namun bila sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang “manfaat dan risiko”. Keadaan tersebut adalah:

    a.

    Gangguan perdarahan

    b.

    Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat

    c.

    Anemia

    d.

    Infeksi akut yang berat

    • 4. Tujuan

     

    a.

    Untuk mengatur alat secara sistematis di meja instrumen

    b.

    Memperlancar handling instrumen

    c.

    Mempertahankan kesterilan alat selama operasi berlangsung.

    • 5. TEKNIK INSTRUMENTASI

    a.

    Pengkajian

     

    1)

    Identitas pasien

    2)

    Kondisi fisik dan psikis

    3)

    Kelengkapan alat instrumen

    b.

    Persiapan pasien dan lingkungan

    1)

    Persiapan Pasien

    • Pasien dipersiapkan dalam kondisi bersih dan mengenakan pakaian khusus masuk kamar operasi.

    • Pasien harus puasa.

    • Pasien telah menandatangani persetujuan tindakan kedokteran.

    • Lepas gigi palsu dan semua perhiasan bila ada.

    • Vital sign dalam batas normal.

    • Pasien dibaringkan di meja operasi dengan posisi supine di meja operasi.

    • Pasien dilakukan tindakan pembiusan dengan SAB.

    • Memasang plat diatermi pada tungkai kaki kiri.

    • Foto rongen femur AP.

    2) Persiapan Lingkungan

    • Mengatur dan mengecek fungsi mesin suction, mesin couter, lampu operasi, meja mayo dan meja instrument.

    • Memasang U- Pad steril dan doek pada meja operasi.

    • Mempersiapkan linen dan instrument steril yang akan dipergunakan.

    • Mempersiapkan dan menempatkan tempat sampah medis agar mudah dijangkau.

    • Mengatur suhu ruangan

    c.

    Persiapan alat:

    Alat Steril

    • 1. Di Meja Mayo

     Desinfeksi klem  Canule suction : 1 buah : 1 buah Cannula Suction adalah isap
    Desinfeksi klem
    Canule suction
    : 1 buah
    : 1 buah
    Cannula Suction adalah
    isap neuro yang sempurna
    untuk isap Stabil. Ujung
    Bulbous di hisap
    membantu dengan tidak
    tumpul dan meminimalkan
    kerusakan jaringan. Setetes
    air mata atau lubang kunci
    hisap memungkinkan isap
    dikontrol.
     Spatula lidah : 1 buah Tongkat Lidah atau Tongue Spatel adalah alat yang digunakan untuk
    Spatula lidah
    : 1 buah
    Tongkat Lidah atau Tongue
    Spatel adalah alat yang
    digunakan untuk memeriksa
    lidah pasien. Tongue Spatel
    memiliki nama lain yaitu
    Tongue Depressor atau
    penekan lidah, di Inggris
    sering juga disebut Tongue
    Blade dan di Jerman disebut
    Zungenspatel.
    Duk klem
    : 1 buah
    Tenaculum Forceps (duk klem) digunakan dalam operasi untuk mengambil bagian penahan seperti pembuluh darah, nodus nimfa,
    Tenaculum Forceps (duk
    klem) digunakan dalam
    operasi untuk mengambil
    bagian penahan seperti
    pembuluh darah, nodus
    nimfa, saraf, dll.
     Mouth gage no 2 (sesuai ukuran) : 1 buah  Perangkat bedah yang pas antara
    Mouth gage no 2 (sesuai ukuran)
    : 1 buah
    Perangkat bedah yang
    pas antara rahang atas
    dan bawah untuk
    mencegah mulut
    menutup saat operasi
    prosedur mulut atau
    tenggorokan.
    Untuk muntah, atau
    berusaha untuk muntah;
    lihat juga refleks gag
    Mess tonsil
    : 1 buah
    Untuk memotong jaringan tonsil yang akan di operasi  Tampon tang : 1 buah
    Untuk memotong jaringan
    tonsil yang akan di operasi
    Tampon tang
    : 1 buah
    Meiden Tampon Tang berupa gunting tumpul dengan ujung melengkung sebagai penjapit dan berbahan dasar stainless steel
    Meiden Tampon Tang berupa
    gunting tumpul dengan ujung
    melengkung sebagai penjapit
    dan berbahan dasar stainless
    steel
    yang dapat
    disterilisasikan, sehingga dapat
    digunakan dalam keadaa
    higienis. Tampon Tang adalah
     

    peralatan medis yang berfungsi

    untuk

    memasang atau

    mengambil

    tampon

    dalam

    saluran canal

     Gunting Metzenboum : 1 buah Mengunting jaringan
    Gunting Metzenboum
    : 1 buah
    Mengunting jaringan
     Gunting benang : 1 buah Mengunting benang
    Gunting benang
    : 1 buah
    Mengunting benang

    Klem 30”

    : 2 buah

     Klem 30” : 2 buah  Klem 30” manis : 1 buah  Klem 90”

    Klem 30” manis

    : 1 buah

     Klem 30” manis : 1 buah  Klem 90” : 2 buah
     

    Klem 90”

    : 2 buah

     Klem 30” : 2 buah  Klem 30” manis : 1 buah  Klem 90”
     Klem 90’ manis : 1 buah  Raspatorium : 1 buah
    Klem 90’ manis
    : 1 buah
    Raspatorium
    : 1 buah
    Bagian kerjanya dibulatkan, rata dan rata. Dengan raspatory, jaringan lunak dapat didorong menjauh dari tulang dan
    Bagian kerjanya
    dibulatkan, rata dan rata.
    Dengan raspatory, jaringan
    lunak dapat didorong
    menjauh dari tulang dan
    mendorong periosteum
    ("pengikis tulang"). Ini
    memperlihatkan bidang
    bedah untuk penempatan.
    Hal
    ini
    juga
    digunakan
    dalam teknik pembedahan,
    antara
    lain
    untuk
    menghilangkan
    otot
    dengan
    pendekatan
    yang
    luas.
     Snare tonsil : 1 buah Alat THT bedah ini adalah salah satu dari beberapa alat
    Snare tonsil
    : 1 buah
    Alat THT bedah ini adalah
    salah satu dari beberapa alat
    lain yang digunakan oleh
    spesialis operasi yang
    melibatkan amandel.
    Perangkap amandel sangat
    ideal untuk digunakan,
    sehingga infeksi amandel
    tidak lagi menyebar di
    bagian tubuh lainnya.
    Needle holder
    : 1 buah
    adalah alat bedah, mirip dengan hemostat, digunakan oleh dokter dan ahli bedah untuk memegang jarum penjahit
    adalah alat bedah, mirip
    dengan hemostat,
    digunakan oleh dokter dan
    ahli bedah untuk
    memegang jarum penjahit
    untuk menutup luka saat
    menjahit dan prosedur
    pembedahan.
     Jarum Round Kecil Menjahit : 2 buah luka setelah operasi
    Jarum Round Kecil
    Menjahit
    : 2 buah
    luka
    setelah
    operasi

    2.

    Di Meja Instrumen

    Gaun operasi

    : 5 buah

     
     Gaun operasi : 5 buah  Duk Tebal : 2 buah  Duk sedang :

    Duk Tebal

     

    : 2 buah

     
     Gaun operasi : 5 buah  Duk Tebal : 2 buah  Duk sedang :

    Duk sedang

     

    : 4 buah

    2. Di Meja Instrumen  Gaun operasi : 5 buah  Duk Tebal : 2 buah

    Duk lubang

    : 1 buah

     Duk lubang : 1 buah  Duk kecil : 4 buah  Handuk kecil :

    Duk kecil

    : 4 buah

     Duk lubang : 1 buah  Duk kecil : 4 buah  Handuk kecil :

    Handuk kecil

    : 5 buah

     Duk lubang : 1 buah  Duk kecil : 4 buah  Handuk kecil :

    Bengkok /kom berisi betadin

    : 2/2 buah

     Bengkok /kom berisi betadin : 2/2 buah  Selang suction : 1 buah Aspirasi sekret
     

    Selang suction

    : 1 buah

    Aspirasi sekret melalui sebuah kateter yang disambungkan ke mesin pengisap atau saluran pengisap yang ada di

    Aspirasi sekret melalui sebuah kateter yang disambungkan ke mesin pengisap atau saluran pengisap yang ada di dinding.

    Instrumen tonsil

    : 1 set

     Bengkok /kom berisi betadin : 2/2 buah  Selang suction : 1 buah Aspirasi sekret

    3.

    Bahan habis pakai

    Handscoen

    : sesuai kebutuhan

    Under pad on

    : 1 buah

    Kassa

    : 10 buah

    Deppers besar / sedang/ kecil

    : 10 / 10 / 30 buah

     Handscoen : sesuai kebutuhan  Under pad on : 1 buah  Kassa : 10
     

    Catgut plain

    2/0

    : 2 buah

     Handscoen : sesuai kebutuhan  Under pad on : 1 buah  Kassa : 10

    Betadin

    : secukupnya

    NS 0,9 % 1 Liter

    : 1 flash

     Selang Suction : 1 buah Selang untuk sedot dahak atau benda asing yang berbentuk cair
    Selang Suction
    : 1 buah
    Selang
    untuk
    sedot dahak atau
    benda asing yang
    berbentuk cair
    Suction Catheter no 10
    : 1 buah
    Kateter hisap adalah perangkat medis yang digunakan untuk mengekstrak sekresi tubuh, seperti lendir atau air liur
    Kateter hisap adalah
    perangkat medis
    yang digunakan
    untuk mengekstrak
    sekresi tubuh, seperti
    lendir atau air liur
    dari saluran napas
    bagian atas. Kateter
    hisap terhubung ke
    mesin pengisap atau
    pengumpan
    canister.needle,
    adalah alat bedah,
    mirip
    dengan
    hemostat,
    yang
    digunakan
    oleh
    dokter dan ahli
    bedah
    untuk
    memegang jarum
    jahit untuk menutup
    luka saat menjahit
    dan
    prosedur
    pembedahan.

    Alat non steril

    Suhu ruangan 18-20 derajat celcius

    Lampu operasi

    Mesin suction

    Tempat sampah medis dan non medis

    Meja operasi

    Meja linen

    Meja mayo

    Standart Waskom

    Lampu kepala

    • d. Prosedur Instrumentasi Teknik

    1)

    Menulis identitas pasien di buku register dan buku kegiatan

    2) Bantu memindahkan pasien ke meja operasi yang sudah diberi under pad on dibawah kepala.

    3)

    Posisikan pasien supine

    4)

    Tim anesthesi melakukan induksi (general anesthesi).

    5) Tim mengatur posisi pasien dengan posisi supinasi dengan kepala hiperextensi dengan bahu di ganjal, kepala di fiksasi bantal cincin,berikan under pad di bawah kepala pasien. 6) Perawat instrument melakukan Scrubing, Gowning, Gloving kemudian membantu operator dan asisten operator gowning dan gloving. 7) Berikan desinfeksi klem, deppers dan betadhine dalam cucing pada operator untuk melakukan desinfeksi pada area operasi.

    8)

    Lakukan drapping dengan menggunakan:

    • - Duk kecil 2 buah di selipkan di bawah kepala dan di fixasi dengan 2 duk klem

    • - Duk lubang untuk menutupi bagian kepala sampai bawah

    • - Duk sedang 1 lagi untuk menutup sampai extremitas bawah

    9) Dekat kan meja mayo dan linen lalu pasang slang suction dan fiksasi dengan duk klem. Cek kelayakan fungsi suction 10) Perawat sirkuler melakukan time out 11) Berikan spatula untuk mendorong lidah agar tidak jatuh 12) Berikan mouth gage no 2/ atau sesuai ukuran untuk membuka mulut kemudian suction 13) Tonsil kiri di klem dengan klem tonsil 14) Berikan steal deppers kecil untuk membersihkan area yang akan dilakukan insisi 15) Beri mess tonsil untuk insisi plica tringualis ,assisten membantu membersihkan darah di sekitar area operasi 16) Beri tampon tang untuk memperluas daerah insisi kalau perlu berikan gunting metzembaum. Tampak kapsul tonsil, pindah klem tonsil lebih masuk kedalam jaringan tonsil agar pegangan lebih kuat 17) Lepaskan pole atas tonsil dari fosa tonsilaris dengan bantuan deppers kecil yang dipegang dengan klem 30° 18) Jaringan tonsil diprepare dengan deppers yang lebih besar sampai jaringan tonsil dapat dilepas dari fosa tonsilaris. Berikan snar tonsil untuk memotong bagian pole bawah tonsil. 19) Setelah tonsil terlepas, berikan still deppers + pean 90” untuk rawat perdarahan,bila masih ada perdarahan di lakukan heacting dengan catgut plain no 2-0 dengan cara:

    • - Berikan klem 30° manis untuk menjepit bujung perdarahan

    • - Kemudian di double dibawah klem 30° dengan menggunakan klem 90° manis dan dilakukan penjahitan. 20) Kemudian operasi di lanjutkan ke tonsil kanan dengan proses yang sama, sebelumnya anasthesi memindahkan ETT ke bagian yang sudah di operasi 21) Evaluasi perdarahan dengan

      • - Tampon di ambil

    -

    Di lakukan suction dari hidung dengan suction hidung no 10

    • - Kepala di angkat ( fleksi ) untuk melihat adanya perdarahan.

    22) Tim operasi (perawat sirkuler) melakukan sign out 23) Bila perdarahan tidak ada mouth gage di lepas, operasi selesai 24) Bersihkan alat,sambil inventarisasi,alat di set ulang dan diberi keterangan dan indikator sterilitas 25) Rapikan pasien, bersihkan kamar operasi. 26) Jangan lupa jaringan tonsil D/S ditempatkan pada tempat dan tidak dilakukan pemeriksaan PA, dan jangan lupa diberi etiket 27) Operasi selesai.

    A. KESIMPULAN

    BAB III

    PENUTUP

    AV Shunt adalah suatu tindakan pembedahan dengan cara menghubungkan arteri radialis dengan vena cephalika sehingga terjadi fistula arteiomena sebagai abses dialysis. Pembedahan untuk polip hidung, yang dikenal sebagai polipektomi hidung, biasanya dipertimbangkan saat bentuk pengobatan lain tidak memberikan kelegaan apapun dari gejala. Operasi pengangkatan polip hidung tidak menjamin pemberantasan permanen dan ada kemungkinan polip dapat kambuh lagi. Penatalaksanaan untuk polip nasal bisa secara konservatif maupun operatif yang biasanya dipilih dengan melihat ukuran polip itu sendiri dan keluhan dari pasien sendiri. Pada pasien dengan riwayat rhinitis alergi, polip nasal mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk rekuren. Sehingga

    kemungkinan pasien harus menjalani polipektomi beberapa kali dalam hidupnya. Meskipun Anda mungkin tidak ingin menjalani operasi, penting untuk diingat bahwa kualitas hidup Anda dapat meningkat secara signifikan setelah pengangkatan jaringan yang sakit. Dengan metode bedah modern, sebanyak jaringan normal yang melapisi rongga hidung dipertahankan dan prosesnya, sementara invasif, biasanya tidak mengakibatkan komplikasi parah.

    Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil / mandel / amandel. Operasi ini merupakan operasi THT yang paling sering dilakukan pada anak- anak. Para ahli belum sepenuhnya sependapat tentang indikasi tentang tonsilektomi, namun sebagian besar membagi alasan (indikasi) tonsilektomi menjadi indikasi absolut dan indikasi relatif. Indikasi untuk tonsitektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsitektomi

    pada saat ini. Terakhir dapat dicegah bila seorang pasien selalu menjaga personal hygene dan pola makan.

    B. SARAN

    • 1. Diharapkan untuk masyarakat lebih memperhatikan kesehatan untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan dalam keluarga. Selain itu agar meningkatkan mutu kesehatan

    dalam masyarakat

    melalui pelaksanaan

    penyakit kesehatan dalam masyarakat atau keluarga.

    • 2. Perawat dan tim medis perlu menyarankan pasien melakukan AV-Shunt untuk menghindari kerusakan pembuluh darah lebih lanjut dari beberapa komplikasi penyakit yang mennyertai gagal ginjal.

    • 3. Perawat kamar operasi harus melaksanakan prinsip steril dengan sebenar- benarnya untuk mencegah dan mengurangi resiko terjadinya infeksi pada saat pembedahan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Mansjoer, arif 2012 Asuhan Keperawatan perioperatif. Konsep,Proses, dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika ECG. Sjamsuhidajat R,2014 .Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media ECG. Brunner and Suddarth (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:

    EGC.