You are on page 1of 24

Asuhan Keperawatan

sebagai bahan sharing bagi seluruh mahasiswa kesehatan By : Yohanes Oda Teda Ona

widarma

KAMIS, 26 MEI 2011

ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR

A. DEFINISI

Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung atau

terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemycal), atau

radiasi (radiation) .

Luka bakar adalah suatu keadaan dimana integritas kulit atau mukosa terputus akibat trauma

api, air panas, uap metal, zat kimia, dan listrik atau radiasi.

B. ANATOMI FISIOLOGI

ANATOMI KULIT

1. Lapisan kulit

a. Epidermis

1) Stratum korneum

a) Berlapis lapis sel tanduk (keratin)

b) Sel gepeng kering tak berinti

c) Makin keluar makin tipis dan terlepas untuk digantikan lapisan dibawahnya
d) Hampir tidak mengandung air dan sangat efektif untuk pencegahan penguapan air

e) Protoplasmanya berubah menjadi keratin.

2) Stratum lusidum

a) Langsung dibawah stratum korneum

b) Protoplasma berubah menjadi protein yang disebut eleidin.

c) Lapisan terdiri dari sel yang gepeng dan bening

d) Sel tak keliahatan karena bening sehingga membentuk satu kesatuan lapisan yang bening

e) Lihat pd telapak tangan dan kaki

3) Stratum granulosum (keratohialin)

a) Terdiri 2 3 lapisan sel yang agak gepeng dengan inti ditengah

b) citoplasmanya berisi butiran (granula) KERATOHIALIN.

c) Lapisan ini berfungsi untuk menghalangi benda asing, kuman, dan bahan kimia masuk ke

dalam tubuh.

d) Diniding mucosa tidak mempunyai lapisan ini

4) Stratum spinosum

a) Terdiri dari banyak lapisam sel yang berbentuk kubus dan poligonal yg besarnya berbeda2

krn proses mitosis, inti ditengah.

b) Diantara sel terdpt intreceluler bridges, brlekatan membentuk nodulus Bizzozero

c) Sitoplasmanya berisi berkas serat yang terpaut pada dermosom (jembatan sel)

d) Masing sel terikat kuat melalui serat-serat

e) Bentuknya tebal dan kuat terdapat pada bagian tubuh yang sering bersentuhan atau

menahan tekanan seperti tumit, telapak kaki.

f) Berfungsi untuk menahan gesekan dan tekanan


5) Stratum basale

a) Terdiri dr sel berbentuk kubus (kolumner)

b) Tersusun vertikal pd berbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar.

c) Mrpkan lapisan epidermis yg paling bawah yang reproduktif

d) Terdiri 2 lapis :

i. Sel dg protoplasma basofilik inti lonjong, dan besar.

ii. Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clearcell, berwarna muda, dg cytoplasma basofilik,

berinti gelap dan mengandung PIGMEN (melanosomes).

b. Dermis

Lapisan dermis ini menyatu dengan lapisan subkutis (hipodermis) dengan ketebalan 0,5

3 mm. lapisan dermis memiliki sifat ulet, elastis, berguna untuk melindungi bagian yang

lebih dalam . Terdiri dari serat-serat kalogen, serabut-serabut elastis , bersama pembuluh

darah dan pembuluh getah bening anyaman yang memberi perdarahan untuk kulit . lapisan

dermis terdiri dari :

1) Dermis pars papilaris

a) Pars papilaris mengandung lekuk-lekuk dan membentuk lapisan spongiosum (bunga

karang)

b) Berperan dalam peremajaan dan penggandaan unsur kulit.

c) Menonjol kearah epidermis.

d) Berisi serabut syaraf dan pembuluh darah.

2) Dermis pars retikularis

a) Pars retikularis mengandung jaringan ikat rapat.


b) Unsur sel dalam dermis adalah fibroblas, makrofag dan sel lemak berkelompok dan

jaringan berpigmen

c) Terdapat juga sel otot musculus erektor fili.

d) Menonjol kearah subcutan, terdiri serabut2 penunjang : kalogen,elastin dan retikulin.

c. Subkutis

1) Merupakan jaringan ikat longgar dengan komponen serat longgar, elastik dan jaringan

lemak .

2) Terdiri dari sel2 lemak yang besar dan bulat dengan inti dipinggir.

3) Mendukung mobilitas kulit diatasnya dengan adanya bantal lemak penikulus adiposa.

4) Berfungsi sebagai cadangan makanan.

5) Terdapat arteri, vena, dan anyaman syaraf, dan kelenjar getah bening

2. Adneks kulit

a. Kelenjar

1) Glandula sudorifera (kelenjar keringat

a) Kelenjar ekrin

Terbentuksempurna pd 28 mgg kehamilan ttp baru berfungsi 40 mgg setelah lahir.

Berbentuk spiral dan bermuara langsung dipermukaan kulit.

Terdapat diseluruh permukaan kulit, terbanyak di telapak tangan & kaki, dahi dan aksila.

Sekresi dipengaruhi oleh saraf kolinergik, suhu dan stress emosional.

b) Kelenjar apokrin

Terdpt di aksila, pubis, areola mame, labia minora, dan saluran telinga luar.

Berfungsi mulai pada masa pubertas.


Terletak lebih dalam dan lebih besar dari kelenjar ekrin dan sekretnya lebih kental.

Mengandung air, eletrolit, asam laktatdan glukosa. PH sekitar 4 -6.8

2) Kelenjar sebasea (kelenjar palit)

a) Terdpt diseluruh permukaan kulit manusia kecuali telapak tangan dan kaki.

b) Termasuk kelenjar holokrin karena tidak berlumen.

c) Sekret merupakan dekomposisi dari sel2 kelenjar.

d) Terletak disamping akar rambut (folikel rambut)

e) Bermuara di folikel akar rambut.

b. Kuku

Kuku merupakan terminal lapisan tanduk yg menebal. Kuku tumbuh 1mm

perminggu. Bagian-bagian kuku terdiri dari :

1) Nail root :akar kuku, bagian kuku yang tertanam di dlm kulit jari.

2) Nail plate :bagian kuku yang menempel diatas kulit.

3) Nail groove :lengkung alur kuku.

4) Eponikium :kulit tipis yang menutup kuku bagian progsimal.

5) Hiponikium: bg kulit yg tertutup oleh kuku.

c. Rambut

1) Lanugo adalah rambut halus tak berpigmen terdppt pada bayi.

2) Rambut terminal pada orang dewasa banyak mengandung pigmen, kasar. Terdapat di

kepala, bulu mata, alis, kumis, pubis, janggut dan pertumbuhanya dipengaruhi oleh hormon

androgen ( hormon seks).

3) Velus : rambut halus di dahi dan badan lain.

4) Siklus pertumbuhan rambut


a) Fase anagen (fase pertumbuhan) :berlangsung 2-6 tahun. Tumbuh kira2 0,35 mm perhari.

b) Fase katagen ( fase involusi temporer).

c) Fase telogen fase istirahat ) beberapa bulan

FISIOLOGI KULIT

1. Fungsi proteksi

a. Proteksi fisis dan mekanis : tekanan, gesekan, tarikan.ketebalan lapisan kulit dan lemak

subcutis.

b. Proteksi kimiawi : zat iritan stratum korneum impermeabel, dan lepas secara teratur.

c. Proteksi terhadap panas: ultra violet melanosit.

d. Proteksi terhadap infeksi keratin impermeabel, lepas secara teratur, pH 5-6,5.

2. Fungsi ekskresi

a. Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat2 sisa metabolisme berupa : NaCl, Urea, asam

urat, amonia.

b. Kulit mengeluarkan (kelenjar sebasea) mengeluarkan sebum yang berfungsi unuk

melicinkan kulit, menahan evaporasi, dan menciptakan keasaman kulit.

3. Fungsi pengatur suhu (termoregulasi)

a. Mengeluarkan keringat, evaporasi, radiasi.

b. Vasokonstriksi vasodwlatasi perifer oleh sistem syaraf simpatis

4. Fungsi pembentuk pigmen

a. Pada stratum basale ; jumlah dan besarnya melanosomes menentukan warna kulit.

b. Warna kulit juga ditentukan oleh kadar Hb, Oksi Hb, dan karoten.

c. Warna kulitjugadipengaruhi tebalnya kulit.


5. Fungsi keratinasi

Epidermis terdiri dari keratinosit, sel langerhans dan melanosit. Keratinosit terus bergerak

keatas dan berubah bentuknya menjadi spinosum granulosum keratin ; proses ini berjalan

terus seumur hidup.

6. Fungsi pembnetukan vitamin D

Mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari.

7. Fungsi persepsi sensori/ perabaan

Kulit mempunyai ujung2 serabut saraf pada dermis dan subkutis:

a. panas BADAN RUFFINI dermis dan subkutis.

b. Dingin BADAN KRAUSE dermis.

c. Taktil /rabaan BADAN MEISNER papila dermis dan BADAN MARKEL RANVIER

epidermis.

d. Tekanan BADAN VATER PACCINI epidermis.

Saraf tersebut diatas lebih banyak pada daerah erotis.

8. Fungsi absorbs

a. Kulit yang sehat tidak menyerap air, larutan atau benda padat, tapi hanya cairan yang

mudah diserap, mudah menguap dan yang larut dalam lemak.

b. Permeabilitas kulit terhadap O2 dan CO2 serta uap air memungkinkan kulit berperan proses

respirasi jaringan.

c. Absorbsi diserap lebih banyak dari sel2 epidermis daripada saluran2 kelenjar.

C. ETIOLOGI

Ada lima penyebab timbulnya luka bakar:

1. Api: kontak dengan kobaran api.

2. Luka bakar cair: kontak dengan air mendidih, uap panas, dan minyak panas.
3. Luka bakar kimia: asam akan menimbulkan panas ketika kontak dengan jaringan

organik.

4. Luka bakar listrik:

Bisa timbul dari sambaran petir atau aliran listrik. Luka bakar listrik memiliki karakteristik

yang unik, sebab sekalipun sumber panas (listrik) berasal dari luar tubuh,

kebakaran/kerusakan yang parah justru terjadi di dalam tubuh.

5. Luka bakar kontak :

kontak langsung dengan obyek panas, misalnya dengan wajan panas atau knalpot sepeda

motor.

6. Luka bakar karena radiasi.

D. KLASIFIKASI

No Kedalaman Luka Bakar Kulit yang terkena Manifestasi

1. Derajat 1 Hanya mengenai Warna Merah atau

Epidermis Pink, dapat sembuh

tanpa blister dan

kurang beresiko

terjadinya infeksi.

Tingkat kesembuhan

3-5 hari

2. Derajat II Mengenai Epidermis dan Adanya Blister, Edema

superfisial dermis Ringan, dan sangat

nyeri. Penyembuhan

dapat 10-21 hari


3. Derajat III Mengenai Epidermis, Kemungkinan blister

Dermis lebih besar dan

warnanya putih, coklat,

dan atau jaringan

berwarna

kenitaman,Edema,

Hilangya panas dan

cairan secara cepat.

Penyembuhan dapat

14-21 hari.

4. Derajat IV Mengenai seluruh lapisan Kulit kering, Keras

Kulit, dapat ke otot dan (ischemik total) Warna

tulang kecoklatan atau

kehitaman (nekrosis)

tanpa nyeri (kecuali

pada pinggiran saraf

yang masih utuh), dan

Edema. Penyembuhan

dapat dari beberapa

minggu bahkan bulan

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

a. Sel darah merah (RBC)


Dapat terjadi penurunan sel darah merah (Red Blood Cell) karena kerusakan sel darah merah

pada saat injuri dan juga disebabkan oleh menurunnya produksi sel darah merah karena

depresi sumsum tulang.

b. Sel darah putih (WBC)

Dapat terjadi leukositosis (peningkatan sel darah putih/White Blood Cell) sebagai respon

inflamasi terhadap injuri.

c. Gas darah arteri (AGD

Penurunan PaO2 atau peningkatan PaCO2.

d. Karboksihemoglobin (COHbg)

Kadar COHbg (karboksihemoglobin) dapat meningkat lebih dari 15 % yang mengindikasikan

keracunan karbon monoksida.

e. Serum elektrolit :

1. Potasium pada permukaan akan meningkat karena injuri jaringan atau kerusakan sel darah

merah dan menurunnya fungsi renal; hipokalemiadapat terjadi ketika diuresis dimulai;

magnesium mungkin mengalami penurunan.

2. Sodium pada tahap permulaan menurun seiring dengan kehilangan air dari tubuh;

selanjutnya dapat terjadi hipernatremia.

f. Sodium urine

Jika lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan resusitasi cairan, sedangkan jika

kurang dari 10 mEq/L menunjukan tidak adekuatnya resusitasi cairan.

g. Alkaline pospatase

Meningkat akibat berpindahnya cairan interstitial/kerusakan pompa sodium.

h. Glukosa serum

Meningkat sebagai refleksi respon terhadap stres.


i. BUN/Creatinin

Meningkat yang merefleksikan menurunnya perfusi/fungsi renal, namun demikian creatinin

mungkin meningkat karena injuri jaringan.

j. Urin

Adanya albumin, Hb, dan mioglobin dalam urin mengindikasikan kerusakan jaringan yang

dalam dan kehilangan/pengeluaran protein. Warna urine merah kehitaman menunjukan

adanya mioglobin

k. Rontgen dada

Untuk mengetahui gambaran paru terutama pada injuri inhalasi.

l. Bronhoskopi

Untuk mendiagnosa luasnya injuri inhalasi. Mungkin dapat ditemukan adanya edema,

perdarahan dan atau ulserasi pada saluran nafas bagian atas

m. ECG

Untuk mengetahui adanya gangguan irama jantung pada luka bakar karena elektrik.

n. Foto Luka

Sebagai dokumentasi untuk membandingkan perkembangan penyembuhan luka bakar.

F. PENATALAKSANAAN

Perawatan luka

Perawatan luka diarahkan untuk meningkatkan penyembuhan luka. Perawatan luka

sehari-hari meliputi membersihkan luka, debridemen, dan pembalutan luka.

1) Hidroterapi

Membersihkan luka dapat dilakukan dengan cara hidroterapi. Hidroterapi ini terdiri

dari merendam (immersion) dan dengan shower(spray). Tindakan ini dilakukan selama 30

menit atau kurang untuk klien dengan LB akut. Jika terlalu lama dapat meningkatkan

pengeluaran sodium (karena air adalah hipotonik) melalui luka, pengeluaran panas, nyeri dan
stress. Selama hidroterapi, luka dibersihkan secara perlahan dan atau hati-hati dengan

menggunakan berbagai macam larutan seperti sodium hipochloride, providon iodine dan

chlorohexidine.

2) Debridemen

Debridemen luka meliputi pengangkatan eschar. Tindakan ini dilakukan untuk

meningkatkan penyembuhan luka melalui pencegahan proliferasi bakteri di bagian bawah

eschar. Debridemen luka pada LB meliputi debridemen secara mekanik, debridemen

enzymatic, dan dengan tindakan pembedahan.

a) Debridemen mekanik

Debridemen mekanik yaitu dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan gunting

dan forcep untuk memotong dan mengangkat eschar. Penggantian balutan merupakan cara

lain yang juga efektif dari tindakan debridemen mekanik. Tindakan ini dapat dilakukan

dengan cara menggunakan balutan basah ke kering (wet-to-dry) dan pembalutan kering

kepada balutan kering (wet-to-wet). Debridemen mekanik pada LB dapat menimbulkan rasa

nyeri yang hebat, oleh karena itu perlu terlebih dahulu dilakukan tindakan untuk mengatasi

nyeri yang lebih efektif.

b) Debridemen enzymatic

Debridemen enzymatik merupakan debridemen dengan menggunakan preparat enzym

topical proteolitik dan fibrinolitik. Produk-produk ini secara selektif mencerna jaringan yang

necrotik, dan mempermudah pengangkatan eschar. Produk-prduk ini memerlukan lingkungan

yang basah agar menjadi lebih efektif dan digunakan secara langsung terhadap luka.

c) Debridemen pembedahan

Debridemen pembedahan luka meliputi eksisi jaringan devitalis (mati). Terdapat 2

tehnik yang dapat digunakan : Tangential Excision danFascial Excision. Pada tangential

exccision adalah dengan mencukur atau menyayat lapisan eschar yang sangat tipis sampai
terlihat jaringan yang masih hidup. sedangkan fascial excision adlaah mengangkat jaringan

luka dan lemak sampai fascia. Tehnik ini seringkali digunakan untuk LB yang sangat dalam.

3) Balutan

a) Penggunaan penutup luka khusus

Luka bakar yang dalam atau full thickness pada awalnya dilakukan dengan

menggunakan zat/obat antimikroba topikal. Obat ini digunakan 1 - 2 kali setelah

pembersihan, debridemen dan inspeksi luka. Perawat perlu melakukan kajian terhadap

adanya eschar, granulasi jaringan atau adanya reepitelisasi dan adanya tanda-tanda infeksi.

Umumnya obat-obat antimikroba yang sering digunakan. Tidak ada satu obat yang digunakan

secara umum, oleh karena itu dibeberapa pusat pelayanan luka bakar ada yang memilih krim

silfer sulfadiazine sebagai pengobatan topikal awal untuk luka bakar.

b) Metode terbuka dan tertutup

Luka pada LB dapat ditreatmen dengan menggunakan metode/tehnik balutan baik

terbuka maupun tertutup. Untuk metode terbuka digunakan/dioleskan cream antimikroba

secara merata dan dibiarkan terbuka terhadap udara tanpa dibalut. Cream tersebut dapat

diulang penggunaannya sesuai kebutuhan, yaitu setiap 12 jam sesuai dengan aktivitas obat

tersebut. kelebihan dari metode ini adalah bahwa luka dapat lebih mudah diobservasi,

memudahkan mobilitas dan ROM sendi, dan perawatan luka menjadi lebih sederhana/mudah.

Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah meningkatnya kemungkinan terjadinya

hipotermia, dan efeknya psikologis pada klien karena seringnya dilihat.

Pada perawatan luka dengan metode tertutup, memerlukan bermacam-macam tipe

balutan yang digunakan. Balutan disiapkan untuk digunakan sebagai penutup pada cream

yang digunakan. Dalam menggunakan balutan hendaknya hati-hati dimulai dari bagian distal

kearah proximal untuk menjamin agar sirkulasi tidak terganggu. Keuntungan dari metode ini

adalah mengurangi evavorasi cairan dan kehilangan panas dari permukaan luka , balutan juga
membantu dalam debridemen. Sedangkan kerugiannya adalah membatasi mobilitas

menurunkan kemungkinan efektifitas exercise ROM. Pemeriksaan luka juga menjadi

terbatas, karena hanya dapat dilakukan jika sedang mengganti balutan saja.

4. Penutupan luka

1) Penutupan Luka Sementara

Penutupan luka sementara sering digunakan sebagai pembalut luka. Ada berbagai

macam penutup luka baik yang biologis, biosintetis, dan sintetis yang telah tersedia. Setiap

produk penutup luka tersebut mempunyai indikasi khusus. Karakteristik luka (kedalamannya,

banyaknya eksudat, lokasi luka pada tubuh dan fase penyembuhan/pemulihan) serta tujuan

tindakan/pengobatan perlu dipertimbangkan bila akan memilih penutup luka yang lebih tepat.

2) Pencangkokan kulit

Pencangkokan kulit yang berasal dari bagian kulit yang utuh dari penderita itu sendiri

(autografting) adalah pembedahan dengan mengangkat lapisan kulit tipis yang masih utuh

dan kemudian digunakan pada luka bakar yang telah dieksisi. Prosedur ini dilakukan di ruang

operasi dengan pemberian anaetesi.

5. Nutrisi

Mempertahankan intake nutrisi yang adekuat selama fase akut sangatlah penting

untuk meningkatkan penyembuhan luka dan pencegahan infeksi. BMR (basal metabolik rate)

mungkin 40-100% lebih tinggi dari keadaan normal, tergantung pada luasnya luka bakar.

Dukungan nutrisi yang agresif diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi yang

meningkat guna meningkatkan penyembuhan dan mencegah efek katabolisme yang tidak

diharapkan.

6. Managemen nyeri
Faktor fisiologis yang yang dapat mempengaruhi nyeri meliputi kedalaman injuri,

luasnya dan tahapan penyembuhan luka. Faktor-faktor psikologis yang dapat mempengaruhi

persepsi seseorang terhadap nyeri adalah kecemasan, ketakutan dan kemampuan klien untuk

menggunakan kopingnya. Sedangkan faktor-faktor sosial meliputi pengalaman masa lalu

tentang nyeri, kepribadian, latar belakang keluarga, dan perpisahan dengan keluarga dan

rumah. Dan perlu diingat bahwa persepsi nyeri dan respon terhadap stimuli nyeri bersifat

individual oleh karena itu maka rencana penanganan perawatan dilakukan secara individual

juga.

Tindakan Nonfarmakologik yang digunakan untuk mengatasi rasa nyeri yang

berkaitan dengan luka bakar meliputi hipnotis, guided imagery, terapi bermain, tehnik

relaksasi, distraksi, dan terapi musik. Tindakan ini efektif untuk menurunkan kecemasan dan

menurunkan persepsi terhadap rasa nyeri dan seringali digunakan bersamaan dengan

penggunaan obat-obat farmakologik.

7. Terapi fisik

Perawat harus bekerja secara teliti dengan fisioterapist dan occupational terapist untuk

mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan rehabilitasi klien LB. Program-program exercise,

ambulasi, aktifitas sehari-hari harus diimplementasikan secara dini pada pemulihan fase

acutsampai perbaikan fungsi secara maksimal dan perbaikan kosmetik.

Kontraktur luka dan pembentukan scar (parut) merupakan dua masalah utama pada

klien LB. Kontraktur akibat luka dapat terjadi pada luka yang luas. Lokasi yang lebih mudah

terjadinya kontraktur adalah tangan, kepala, leher, dan axila.

Tindakan-tindakan yang digunakan untuk mencegah dan menangani kontraktur

meliputi terapi posisi, ROM exercise, dan pendidikan pada klien dan keluarga.

a) Posisi Terapeutik
Tabael dibawah ini merupakan daftar tehnik-tehnik posisi koreksi dan terapeutik

untuk klien dengan LB yang mengenai bagian tubuh tertentu selama periode tidak ada

aktifitas (inactivity periode) atau immobilisasi. Tehnik-tehnik posisi tersebut mempengaruhi

bagian tubuh tertentu dengan tepat untuk mengantisipasi terjadinya kontraktur atau

deformitas.

b) Exercise

Latihan ROM aktif dianjurkan segera dalam pemulihan pada fase akut untuk

mengurangi edema dan mempertahankan kekuatan dan fungsi sendi. Disamping itu

melakukan kegiatan/aktivitas sehari-hari (ADL) sangat efektif dalam mempertahankan fungsi

dan ROM. Ambulasi dapat juga mempertahankan kekuatan dan ROM pada ekstremitas

bawah dan harus dimulai bila secara fisiologis klien telah stabil. ROM pasif termasuk bagian

dari rencana tindakan pada klien yang tidak mampu melakukan latihan ROM aktif.

c) Pembidaian (Splinting)

Splint digunakan untuk mempertahankan posisi sendi dan mencegah atau

memperbaiki kontraktur. Terdapat dua tipe splint yang seringkali digunakan, yaitu statis dan

dinamis. Statis splint merupakan immobilisasi sendi. Dilakukan pada saat immobilisasi,

selama tidur, dan pada klien yang tidak kooperatif yang tidak dapat mempertahankan posisi

dengan baik. Berlainan halnya dengan dinamic splint. Dinamic splint dapat melatih

persendian yang terkena.

d) Mengatasi Scar

Hipertropi scar sebagai akibat dari deposit kolagen pada luka bakar yang menyembuh.

Beratnya hipertropi scar tergantung pada beberapa faktor antara lain kedalaman LB, ras, usia,

dan tipe autograft. Metode nonoperasi untuk meminimalkan hipertropi scar adalah dengan

terapi tekanan (pressure therapy),Yaitu dengan menggunakan pembungkus dan


perban/pembalut elastik (elastic wraps and bandages).Sedangkan tindakan pembedahan untuk

mengatasi kontraktur dan hipertropi scar meliputi :

1) Split-thickness dan full-thickness skin graft

2) Skin flaps

3) Z-plasties

4) Tissue expansion.

Selain itu tindakankeperawatan yang juga dilakukan adalah:

1. DC

2. Catheter tekanan darah (CVP normal 0-8 mmHg) pada pasien luka bakar berat

> 50%.

3. Jika resusitasi inadekwat dg tanda : nadi cepat, TD Sitol < 90

mmHgtambahan Resusitasi

4. Jika Terdapat Ronchi Berlebihan CVP > 8 mmHg Pemberian cairan

dikurangi + Deuretik.

5. Anak-anak dan Geriatri monitoring sangat ketat.

Perawatan luka baker sebelum dibawah ke rumah sakit

Jauhkan penderita dari sumber LB.

Padamkan pakaian yang terbakar

Hilangkan zat kimia penyebab LB .

Siram dengan air sebanyak-banyaknya bila karena zat kimia.

Matikan listrik atau buang sumber listrik dengan menggunakan objek yang kering

dan tidak menghantarkan arus (nonconductive)

G. KOMPLIKASI

Gagal ginjal

Infeksi
Syok hipovolemik

Sepsis

Neurovaskuler

Tromboplebitis

Ileus paralitik

Ulkus curling

H. PROGNOSIS

Di Amerika kurang lebih 2 juta penduduknya memerlukan pertolongan medik setiap

tahunnya untuk injuri yang disebabkan karena luka bakar. 70.000 diantaranya dirawat di

rumah sakit dengan injuri yang berat.

Luka bakar merupakan penyebab kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok

umur. Laki-laki cenderung lebih sering mengalami luka bakar dari pada wanita, terutama

pada orang tua atau lanjut usia ( diatas 70 th).

I. EPIDEMIOLOGI

Di Amerika dilaporkan sekitar 2 3 juta penderita setiap tahunnya dengan jumlah kematian

sekitar 5 6 ribu kematian per tahun. Di Indonesia sampai saat ini belum ada laporan tertulis

mengenai jumlah penderita luka bakar dan jumlah angka kematian yang diakibatkannya. Di

unit luka bakar RSCM Jakarta, pada tahun 1998 dilaporkan sebanyak 107 kasus luka bakar

yang dirawat dengan angka kematian 37,38%. Dari unit luka bakar RSU Dr. Soetomo

Surabaya didapatkan data bahwa kematian umumnya terjadi pada luka bakar dengan luas

lebih dari 50% atau pada luka bakar yang disertai cedera pada saluran napas dan 50% terjadi

pada 7 hari pertama perawatan.2


J. Pencegahan

Hal-hal yang dapat dilakukan unyuk mencegah terjadinya luka bakar bagi anak-anak dirumah

1. Dapur

Jauhkan anak-anak dari oven dan pemanggang. Ciptakan zona larangan disekitarnya untuk

anak-anak

Jauhkan makanan dan minuman panas dari jangkauan anak-anak.

Jangan masukkan botol susu anak ke dalam mikrowave, dapat menimbulkan daerah yang

panas

Cicipi setiap makanan yang akan dihidangkan

Singkirkan taplak meja menjuntai ketika dirumah ada anak yang sedang belajar merangkak.

Jauhkan dan simpan bahan kimia (pemutih, amonia) yang dapat menyebabkan lika bakar

kimia.

Simpan korek api dan lilin jauh dari jangkauan.jangan pernah biarkan lilin menyala tanpa ada

pengawas.

Beli alat-alat listrik dengan kabel yang pendek dan tidak mudah lepas atau menggantung.

2. Kamar mandi

Jauhkan blow dryer, curling irons dari jangkauan anak

Patikan termostat pemanas air pada suhu 120oF (48oC) atau lebih rendah.

3. Disetiap ruangan

Tutup setiap tempat yang dapat dipakai untuk menusukkan kabel listrik

Jauhkan anak dari pemanas ruangan, radiator, tempat yang berapi.

4. Menggunakan sunblock.
5. Pemasangan penyedot asap diruangan.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan yang bertujuan untuk

mengumpulkan data baik data subyektif maupun data obyektif. Data subyektif diperoleh

berdasarkan hasil wawancara baik dengan klien ataupun orang lain, sedangkan data obyektif

diperoleh berdasarkan hasil observasi dan pemeriksaan fisik.

1. Data biografi

Langkah awal adalah melakukan pengkajian terhadap data biografi klien yang

meliputi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, ras, dan lain-lain. Setelah pengkajian data

biografi selanjutnya dilakukan pengkajian antara lain pada :

2. Luas luka bakar

Untuk menentukan luas luka bakar dapat digunakan salah satu metode yang ada, yaitu

metode rule of nine atau metode Lund dan Browder, seperti telah diuraikan dimuka.

3. Kedalaman luka bakar

Kedalaman luka bakar dapat dikelompokan menjadi 4 macam, yaitu luka bakar

derajat I, derajat II, derajat III dan IV, dengan ciri-ciri seperti telah diuraikan dimuka.

4. Lokasi/area luka

Luka bakar yang mengenai tempat-tempat tertentu memerlukan perhatian khusus,

oleh karena akibatnya yang dapat menimbulkan berbagai masalah. Seperti, jika luka bakar

mengenai derah wajah, leher dan dada dapat mengganggu jalan nafas dan ekspansi dada yang

diantaranya disebabkan karena edema pada laring . Sedangkan jika mengenai ekstremitas

maka dapat menyebabkan penurunan sirkulasi ke daerah ekstremitas karena terbentuknya

edema dan jaringan scar. Oleh karena itu pengkajian terhadap jalan nafas (airway) dan
pernafasan (breathing) serta sirkulasi (circulation) sangat diperlukan. Luka bakar yang

mengenai mata dapat menyebabkan terjadinya laserasi kornea, kerusakan retina dan

menurunnya tajam penglihatan.

Lebih lanjut data yang akan diperoleh akan sangat tergantung pada tipe luka bakar,

beratnya luka dan permukaan atau bagian tubuh yang terkena luka bakar. Data tersebut

melipuri antara lain pada aktivitas dan istirahat mungkin terjadi penurunan kekuatan otot,

kekakuan, keterbatasan rentang gerak sendi (range of motion / ROM) yang terkena luka

bakar, kerusakan massa otot. Sedangkan pada sirkulasi kemungkinan akan terjadi shok

karena hipotensi (shok hipovolemia) atau shock neurogenik, denyut nadai perifer pada bagian

distal dari ekstremitas yang terkena luka akan menurun dan kulit disekitarnya akan terasa

dingin. Dapat pula ditemukan tachikardia bila klien mengalami kecemasan atau nyeri yang

hebat. Gangguan irama jantung dapat terjadi pada luka bakar akibat arus listrik. Selain itu

terbentuk edema hampir pada semua luka bakar. Oleh karena itu pemantauan terhadap tanda-

tanda vital (suhu, denyut nadi, pernafasan dan tekanan darah) penting dilakukan.

Data yang berkaitan dengan respirasi kemungkinan akan ditemukan tanda dan gejala

yang menunjukan adanya cidera inhalasi, seperti suara serak, batuk, terdapat partikel karbon

dalam sputum, dan kemerahan serta edema pada oropharing, lring dan dapat terjadi sianosis.

Jika luka mengenai daerah dada maka pengembangan torak akan terganggu. Bunyi nafas

tambahan lainnya yang dapat didengar melalui auskultasi adalah cracles (pada edema

pulmoner), stridor (pada edema laring) dan ronhi karena akumulasi sekret di jalan nafas.

Data lain yang perlu dikaji adalah output urin. Output urin dapat menurun atau bahkan

tidak ada urin selama fase emergen. Warna urine mungkin tampak merah kehitaman jika

terdapat mioglobin yang menandakan adanya kerusakan otot yang lebih dalam. sedangkan

pada usus akan ditemukan bunyi usus yang menurun atau bahkan tidak ada bunyi usus,
terutama jika luka lebih dari 20 %. Oleh karena itu maka dapat pula ditemukan keluhan tidak

selera makan (anoreksia), mual dan muntah.

5. Masalah kesehatan lain

Adanya masalah kesehatan yang lain yang dialami oleh klien perlu dikaji. Masalah

kesehatan tersebut mungkin masalah yang dialami oleh klien sebelum terjadi luka bakar

seperti diabetes melitus, atau penyakit pembuluh perifer dan lainnya yang akan

memperlambat penyembuhan luka. Disamping itu perlu pula diwaspadai adanya injuri lain

yang terjadi pada saat peristiwa luka bakar terjadi seperti fraktur atau trauma lainnya.

Riwayat alergi perlu diketahui baik alergi terhadap makanan, obat-obatan ataupun yang

lainnya, serta riwayat pemberian imunisasi tetanus yang lalu.

6. Data Penunjang

a. Sel darah merah (RBC): dapat terjadi penurunan sel darah merah (Red Blood Cell) karena

kerusakan sel darah merah pada saat injuri dan juga disebabkan oleh menurunnya produksi

sel darah merah karena depresi sumsum tulang.

b. Sel darah putih (WBC): dapat terjadi leukositosis (peningkatan sel darah putih/White Blood

Cell) sebagai respon inflamasi terhadap injuri.

c. Gas darah arteri (ABG): hal yang penting pula diketahui adalah nilai gas darah arteri

terutama jika terjadi injuri inhalasi. Penurunan PaO2 atau peningkatan PaCO2.

d. Karboksihemoglobin (COHbg) :kadar COHbg (karboksihemoglobin) dapat meningkat lebih

dari 15 % yang mengindikasikan keracunan karbon monoksida.

e. Serum elektrolit :

1) Potasium pada permulaan akan meningkat karena injuri jaringan atau kerusakan sel darah

merah dan menurunnya fungsi renal; hipokalemiadapat terjadi ketika diuresis dimulai;

magnesium mungkin mengalami penurunan.


2) Sodium pada tahap permulaan menurun seiring dengan kehilangan air dari tubuh; selanjutnya

dapat terjadi hipernatremia.

f. Sodium urine :jika lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan resusitasi cairan,

sedangkan jika kurang dari 10 mEq/L menunjukan tidak adekuatnya resusitasi cairan.

g. Alkaline pospatase : meningkat akibat berpindahnya cairan interstitial/kerusakan pompa

sodium.

h. Glukosa serum : meningkat sebagai refleksi respon terhadap stres.

i. BUN/Creatinin : meningkat yang merefleksikan menurunnya perfusi/fungsi renal, namun

demikian creatinin mungkin meningkat karena injuri jaringan.

j. Urin : adanya albumin, Hb, dan mioglobin dalam urin mengindikasikan kerusakan jaringan

yang dalam dan kehilangan/pengeluaran protein. Warna urine merah kehitaman menunjukan

adanya mioglobin

k. Rontgen dada: Untuk mengetahui gambaran paru terutama pada injuri inhalasi.

l. Bronhoskopi: untuk mendiagnosa luasnya injuri inhalasi. Mungkin dapat ditemukan adanya

edema, perdarahan dan atau ulserasi pada saluran nafas bagian atas

m. ECG: untuk mengetahui adanya gangguan irama jantung pada luka bakar karena elektrik.

n. Foto Luka: sebagai dokumentasi untuk membandingkan perkembangan penyembuhan

luka bakar.

DIAGNOSA

No. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi, lesi


2 Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan keracunan karbon monoksida, inhalasi

asap dan obstruksi saluran nafas atas

3 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan

kehilangan lewat evaporasi dari luka bakar

Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Intervensi

Hasil