You are on page 1of 8

MITIGASI GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

Sejak bencana tsunami Aceh terjadi pada 26 Desember 2004, warga Indonesia mulai belajar
untuk melakukan penanganan dan pengurangan risiko bencana.
Namun sepuluh tahun pascabencana, upaya untuk melakukan pengurangan risiko bencana atau
mitigasi sangat minim. Permukiman penduduk di bangun di lokasi yang rentan tsunami dan tidak
ada upaya untuk melindungi penduduk di dekat pantai. karena besarnya kekuatan gempabuminya
serta luasnya dampak yang diakibatkan oleh tsunami. Pengalaman pahit ini membuka mata semua
orang akan bahaya tsunami yang sangat dahsyat ini, sehingga banyak upaya yang dilakukan agar
resiko tsunami bisa dikurangi

Informasi gempabumi yang disampaikan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) bersifat
informasi darurat, yang berarti informasi ini dikeluarkan BMG setelah gempabumi terjadi. Sampai
saat ini belum ada ilmu dan tehnologi yang dapat memprediksi gempabumi, meskipun secara
global pusat gempabumi serta kekuatan maksimumnya telah diketahui. Dampak yang diitmbulkan
oelh gempabumi selain kerusakan infrastruktur juga dapat menimbulkan tsunami. Dampak/akibat
dari kejadian dari kejadian gemapbumi dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Dampak Langsung
Dampak langsung seperti : adanya getaran, bangunan rusak/roboh,liquifaction (berubah seperti
cairan), gerakan tanah/terbelah/bergeser, tanah longsor dan tsunami.
2. Dampak Tidak Langsung
Dampak tidak langsung dari gempabumi adalah : terjadinya gejolak sosial, kelumpuhan ekonomi,
wabah penyakit, gangguan ekonomi, kebakaran dan lain-lain.

Untuk itu, agar dampak akibat dari gemapbumi dan tsunami dapat diperkecil/dikurangi sangat
diperlukan dilaksanakan mitigasi bencana. Mitigasi adalah merupakan proses untuk
meminimalkan dampak negatif bencana alam yang diantisipasi akan terjadi di masa datang di suatu
daerah tertentu, yang merupakan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan semua lapisan
masyarakat.
TAHAPAN MITIGASI

Dalam mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami, yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia
adalah tindakan berikut, yaitu :

(a) Hazard Assessment (Mengadakan analisis bahaya yang akan ditimbulkan)

Gempa bumi berakibat langsung dan tak langsung. Akibat langsung adalah getaran, bangunan
rusak/roboh, gerakan tanah (tanah terbelah, bergeser), longsor, liquification (berubah sifat menjadi
cairan), tsunami dan lain-lain. Sedangkan akibat tidak langsung adalah gejolak sosial, kelumpuhan
ekonomi, wabah penyakit, gangguan ekonomi, kebakaran dan lain-lain. Sebenarnya akibat gempa
ini tergantung dari kekuatan gempa dan lokasi kejadian. Lokasi kejadian apakah di kota , di desa
atau di hutan, tentunya tingkat bahaya akan lebih tinggi bila terjadi di kota.

(b) Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia

Untuk melaksanakan mitigasi bencana , salah satu tindakan adalah membuat suatu sistem
peringatan dini. Seperti kita ketahui bahwa gempabumi dan tsunami yang terjadi di Aceh tangal
26 Desember 2004 yang lalu telah menalan banyak korban dan keruskan di berbagai negara dan
Indonesia mengalami dampak paling parah. Ratusan ribu orang meninggal dunia, sebagian besar
infrastruktur (bangunan) di Aceh terutama yang berada di pinggir pantai rata dengan tanah dan
ekonomi di Aceh mengalami kelumpuhan. Korban dan kerusakan itu terjadi terutama
dampak/akibat dari terjangan tsunami.

Prinsip dasar pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami adalah bahwa ada selang/jeda waktu
antara terjadinya gempabumi dengan tsunami. Jeda waktu antara kejadian gempabumi dengan
tsunami yang tiba dipantai terjadi karena dalam pembentukan tsunami perlu proses dan adanya
perbedaan kecepataan antara gelombang gempaumi dengan tsunami. Kecepatan gelombang
gempabumi jauh lebih cepat dibandingkan dengan gelombang tsunami. Sehingga gelombang
gempabumi akan lebih dahulu sampai di pantai dibandingkan gelombang tsunami.

Saat ini BMG telah mengoperasikan system TREMORS (Tsunami Risk Evaluation Through
Seismic Moment from a Real-time System) untuk mendeteksi gempa bumi yang menimbulkan
tsunami . Namun belum efektif, karena informasi yang keluar lebih dari 30 menit setelah
gempabumi terjadi. Hal ini karena TREMORS bekerja berdasarkan pembacaan waktu tiba
gelombang primer, gelombang sekunder, gelombang permukaan dan amplitudo. Hal ini
menyebabkan sistem ini tidak efektif sebagai peringatan dini tsunami lokal.

Berdasarkan perbedaan waktu dan tempat kejadian, tsunami dibagi 3 tipe, yaitu :

1 Tsunami lokal, waktu tsunami antara 0 30 menit setelah gempabumi


2 Tsunami regional, waktu tsunami 30 menit 2 jam setelah gempabumi
3 Tsunami jauh, waktu tsunami 2 jam atau lebih setelah gempabumi.

Tsunami lokal yang sering terjadi di wilayah Indonesia memerlukan waktu hanya beberapa menit
untuk sampai di pantai. Untuk itu diperlukan konsep peringatan dini yang cepat, kurang dari 5
menit agar ada waktu untuk memberikan informasi dan melakukan evakuasi.
Untuk itu BMG telah mengajukan usulan ke pemerintah guna membangun peringatan dini tsunami
yang terdiri atas :
1. Sensor gempabumi 160 stasiun yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang terbagi
dlam 10 wilayah (10 region).
2. Sensor Accelerograph 500 stasiun
3. DART 15 unit
4. Tide Gauges 50 stasiun
5. Pusat regional 10 lokasi
6. Pusat Nasioal 1 lokasi
7. Sistem komunikasi
Untuk menerbitkan peringatan dini tsunami, harus memenuhi beberapa kristeria yang sudah
dijelaskan di atas, serta diproses melalui beberapa tahap seperti :
1. Menerima data dari seismograph dan langsung diproses secara otomatis dalam waktu
kurang dari 3 menit.
2. Menerima data strongmotion dari stasiun accelerograph yang terdekat dalam waktu kurang
dari 1 menit.
3. Menerima data pressure gauge dari DART buoy terdekat dalam waktu 1 menit atau lebih.
4. Operator melakukan verifikasi dalam waktu 2 menitsetelah proses otomatis selesai dengan
mencocokan data dari gauge dan DART buoy.
5. Operator melakukan verifikasi dengan koordinator atau pihak berwenang untuk
menerbitkan jenis peringatan.
6. Peringatan disebarluaskan ke daerah yang terancam tsunami dan jaringan komunikasi
internasional.
DART.

(c) Educational Program (Program Pendidikan)

Pengetahuan dan pemahaman mengenai bencana alam sangat penting untuk semua lapisan
masyarakat, sehingga perlu dimasukan dalam program pendidikan sejak usia dini atau sejak
pendidikan dasar. Sebelum resmi masuk di dalam kurikulum pendidikan maka BMG Wilayah I
telah melakuakn sosialisasi tentang peningkatan pemahaman masyarakat ini ke sekolah-sekolah di
Sumatera Utara, tujuannya adalah agar siswa paham bahwa di wilayah Indonesia khususnya
Sumatera Utara ini merupakan daerah yang rawan bencana alam. Sejak dini para siswa
diharapakan mampu mengantisipasi bila bencana datang agar dampak bencana dapat
diminimalkan.
Selain itu, Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah I Medan bekerjasama dengan
Pemerintah Propinsi Sumatera Utara sejak dua tahun terakhir melaksanakan program sosialisasi
dengan kelompok target yang lebih luas antara lain : para tokoh masyarakat, instansi terkait, aparat
satuan pelaksana penanggulangan bencana alam dan pengungsi, pelajar dan para kelompok
msyarakat lainnya. Program ini dimaksudkan agar setiap anggota masyarakat mampu dan sanggup
menghadapi berbagai bencana alam dalam rangka mengurangi dampak.

(d) Land Use

Dalam penggunaan lahan juga sangat perlu diperhatikan kemungkinan terjadi bencana. Misalnya
: untuk mengurangi laju arus tsunami di pinggir pantai perlu dipelihara/ditanam tanaman yang
mampu mengurangi laju gelombanga tsunami, mislanya mangrove harus tetap dipertahankan,
menanam pohon-pohon dengan skala luas di sekitar pantai dsb.

(e) Building Code

Building Code pada prinsipnya membangun bangunan tahan gempa, berdasarkan zonasi tingkat
kerawanan gempa atau percepatan tanah. Dari zona-zona kerawanan gempa tersebut bangunan
akan dirancang bangunan bagaimana yang harus tahan gempa.

i. Tindakan dalam menghadapi gempa bumi dan stunami

1 Sebelum gempabumi terjadi


2 Mengetahui dengan jelas gempabumi dan akibatnya
3 Mengenali lingkungan sekitar
4 Membangun gedung yang tahan gempa
5 Memilih dan menata interior
6 Menyiapkan fasilitas untuk menghadapi keadaan darurat
7 Mempersiapkan fisik dan mental tiap individu
8 Saat terjadi gempa bumi
Jika berada di dalam ruangan
9 Menjauh dari jendela, barang yang bergantung, tertempel, lemari dan barang-barang yang
membahayakan dan lain-lain.
10 Tetap tenang bertahan di lantai yang sama jangan panik atau turun
12 Jangan gunakan lift dan jangan keluar berebutan

Jika berada di luar ruangan


1 Segeralah menuju areal yang bebas dari gedung dan bangunan, tiang listrik, pohon, rambu dan
kendaraan.

Jika berada di dalam kendaraan


1. Tepikan kendaraan di tempat yang aman
2. Hindari perempatan, jembatan, pohon, tiang listrik, rambu dan lampu lalulintas,
kemacetan.
3. Tetap bertahan dalam kendaraan samapi goncangan berhenti.

Jika berada di pinggir pantai


1. Menjauh dari pantai, waspadai kemungkinan tsunami
2. Jika berada di keramaian jangan panik, cari tempat berlindung yang paling aman dan
berusaha menenangkan orang-orang sekitar.

Jika berada di pegunungan


1. Hindari daerah yang kemungkinan longsor
2. Sesudah terjadi gempa
3. Keluar dengan tertib cari tempat yang aman.
4. Hindari benda-benda yang berbahaya
5. Periksa jika ada yang terluka
6. Periksa jika ada yang terluka
7. Periksa lingkungan sekitar
8. Waspada terhadap kebakaran dan retakan tanah
9. Dengarkan instruksi dari terkait
10. Waspada terhadap gempa susulan
11. Jangan menggunakan telepon berlebihan