You are on page 1of 16

Desember 26, 2015

Laporan Pendahuluan Kemoterapi

KEMOTERAPI
A. Definisi
Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memberikan zat/ obat
yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker atau menghambat proliferasi sel-sel kanker
dan diberikan secara sistematik. Obat anti kanker yang artinya penghambat kerja sel. Untuk
kemoterapi bisa digunakan satu jenis sitostika. Pada sejarah awal penggunaan kemoterapi
digunakan satu jenis sitostika, namun dalam perkembangannya kini umumnya dipergunakan
kombinasi sitostika atau disebut regimen kemoterapi, dalam usaha untuk mendapatkan hasiat
lebih besar

B. Prinsip kerja obat kemoterapi (sitostatika) terhadap kanker.


Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja terutama
terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi, semakin aktif sel-sel kanker tersebut
berproliferasi maka semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut Kemoresponsif,
sebaliknya semakin lambat prolifersainya maka kepekaannya semakin rendah , hal ini disebut
Kemoresisten.
Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :
1) Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin obat
golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel tersebut
tidak bisa melakukan replikasi.
2) Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang berakibat
menghambat sintesis DNA.
3) Obat golongan Topoisomeraseinhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja pada gangguan
pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.
4) Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat sintesis protein,
sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut.

C. Pola pemberian kemoterapi


1) Kemoterapi Induksi
Ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa tumor atau jumlah sel kanker, contoh
pada tomur ganas yang berukuran besar (Bulky Mass Tumor) atau pada keganasan darah
seperti leukemia atau limfoma, disebut juga dengan pengobatan penyelamatan.
2) Kemoterapi Adjuvan
Biasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain seperti pembedahan atau radiasi, tujuannya
adalah untuk memusnahkan sel-sel kanker yang masih tersisa atau metastase kecil yang ada
(micro metastasis).
3) Kemoterapi Primer
Dimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor ganas, diberikan pada kanker yang
bersifat kemosensitif, biasanya diberikan dahulu sebelum pengobatan yang lain misalnya
bedah atau radiasi.
4) Kemoterapi Neo-Adjuvan
Diberikan mendahului/sebelum pengobatan /tindakan yang lain seperti pembedahan atau
penyinaran kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi lagi. Tujuannya adalah untuk
mengecilkan massa tumor yang besar sehingga operasi atau radiasi akan lebih berhasil guna.
D. Cara pemberian obat kemoterapi.
1) Intra vena (IV)
Kebanyakan sitostatika diberikan dengan cara ini, dapat berupa bolus IV pelan-pelan
sekitar 2 menit, dapat pula per drip IV sekitar 30 – 120 menit, atau dengan continous drip
sekitar 24 jam dengan infusion pump upaya lebih akurat tetesannya.
2) Intra tekal (IT)
Diberikan ke dalam canalis medulla spinalis untuk memusnahkan tumor dalam cairan otak
(liquor cerebrospinalis) antara lain MTX, Ara.C.
3) Radiosensitizer, yaitu jenis kemoterapi yang diberikan sebelum radiasi, tujuannya untuk
memperkuat efek radiasi, jenis obat untukl kemoterapi ini antara lain Fluoruoracil, Cisplastin,
Taxol, Taxotere, Hydrea.
4) Oral
Pemberian per oral biasanya adalah obat Leukeran®, Alkeran®, Myleran®, Natulan®,
Puri-netol®, hydrea®, Tegafur®, Xeloda®, Gleevec®.
5) Subkutan dan intramuskular
Pemberian sub kutan sudah sangat jarang dilakukan, biasanya adalah L-Asparaginase, hal
ini sering dihindari karena resiko syok anafilaksis. Pemberian per IM juga sudah jarang
dilakukan, biasanya pemberian Bleomycin.
6) Topikal
7) Intra arterial
8) Intracavity
9) Intraperitoneal/Intrapleural
Intraperitoneal diberikan bila produksi cairan acites hemoragis yang banyak pada
kanker ganas intra-abdomen, antara lain Cisplastin. Pemberian intrapleural yaitu diberikan
kedalam cavum pleuralis untuk memusnahkan sel-sel kanker dalam cairan pleura atau untuk
mengehentikan produksi efusi pleura hemoragis yang amat banyak , contohnya Bleocin.
E. Tujuan pemberian kemoterapi.
1) Pengobatan.
2) Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.
3) Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.
4) Mengurangi komplikasi akibat metastase.
F. Manfaat Kemoterapi
1. Kemoterapi sangat bermanfaat (karena dapat sembuh atau hidup lama).
a) Penyakit Hodgkin
b) Non Hodgkin limfoma jenis large sel
c) Kanker testis jenis germ sel
d) Leukemia dan Limfoma pada anak
2. Kemotarapi bermanfaat (karena dapat dikendalikan cukup lama, kadang-kadang sembuh)
a) Kanker Payudara
b) Kanker Ovarium
c) Kanker Paru jenis small sel
d) Limfoma non Hodgkin
e) Multiple Mieloma
3. Kemoterapi bermanfaat untuk paliatif (dapat mengulang gejala)
a) Kanker Nasofaring
b) Kanker Prostat
c) Kanker Endometrium
d) Kanker Leher dan Kepala
e) Kanker Paru jenis non small sel
4. Kemoterapi kadangkala bermanfaat
a) Kanker Nasofaring
b) Melanoma
c) Kanker usus besar
G. Efek samping kemoterapi
Umumnya efek samping kemoterapi terbagi atas :
1. Efek samping segera terjadi (Immediate Side Effects) yang timbul dalam 24 jam pertama
pemberian, misalnya mual dan muntah.
2. Efek samping yang awal terjadi (Early Side Effects) yang timbul dalam beberapa hari sampai
beberapa minggu kemudian, misalnya netripenia dan stomatitis.
3. Efek samping yang terjadi belakangan (Delayed Side Effects) yang timbul dalam beberapa hari
sampai beberapa bulan, misalnya neuropati perifer, neuropati.
4. Efek samping yang terjadi kemudian (Late Side Effects) yang timbul dalam beberapa bulan
sampai tahun, misalnya keganasan sekunder.
Tubuh manusia terdiri dari organ-organ tubuh. Organ tubuh terdiri dari jaringan dan
jaringan dari sel tubuh yang berubah atau mutasi menjadi ganas dan membelah terus terkendali
dan menjadi besar mendobrak, merusak, jaringan sekitarnya dan akhirnya menyebar, bersarang
diorgan lain dan mengulangi pertumbuhan seperti tempat semula. Sel kanker inilah yang
menjadi target obat kemoterapi.
Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat, dosis pada setiap pemberian,
maupun dosis kumulatif, selain itu efek samping yang timbul pada setiap penderita berbeda
walaupun dengan dosis dan obat yang sama, faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai
pengaruh bermakna.
Kemoterapi anti kanker akan menyebabkan sel kanker serta beberapa jenis sel sehat
yang juga sedang membelah atau tumbuh mengalami kerusakan. Namun sel kanker akan
mengalami kerusakan lebih parah dibanding kerusakan pada sel sehat. Setelah beberapa
periode 1-3 minggu sel sehat pulih dan sel kanker juga akan pulih kembali namun mengalami
kerusakan berarti, sehingga atas dasar inilah obat anti kanker dipergunakan. Untuk mencegah
kerusakan permanent dari sel sehat, obat kanker tidak bisa diberikan sekaligus 4-8 siklus. Hal
ini dimaksud untuk memulihkan sel sehat. Dilain pihak berangsur mengecilkan kanker
sehingga akhirnya sel kanker menjadi sangat kecil tidak terlihat lagi dan bisa dihancurkan
dengan sinar atau dihilangkan dengan operasi. Secara umum obat anti kanker mempunyai
akibat terhadap sel kanker yang sedang cepat membelah itu, namun sel sehat yang cepat
membelah pun termasuk kena akibat anti kanker tersebut.
Diantara sel sehat yang terkena akibat adalah sel-sel darah dimana berfungsi memerangi
infeksi, membantu pembekuan dan membawa oxygen keseluruh tubuh. Bila sel-sel darah
terkena pengaruh, maka penderita akan gampang terkena infeksi, gampang memar dan serta
mudah mengalami pendarahan. Demikian pula badan terasa lemah karena kurang energi yang
dibakar oleh oxygen.
Sel-sel pada saluran cerna juga cepat membelah, sehingga akibat gangguan saluran
cerna, pasien akan merasa tidak nafsu makan, mual muntah serta sariawan dan diare akibat
rontoknya selaput lender mulut dan usus.
Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala gastrointestinal, supresi
sumsum tulang, kerontokan rambut. Gejala gastrointestinal yang paling utama adalah mual,
muntah, diare, konstipasi, faringitis, esophagitis dan mukositis, mual dan muntah biasanya
timbul selang beberapa lama setelah pemberian sitostatika dab berlangsung tidak melebihi 24
jam.
Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan jumlah sel darah putih
(leukopenia), sel trombosit (trombositopenia), dan sel darah merah (anemia), supresi sumsum
tulang belakang akibat pemberian sitistatika dapat terjadi segera atau kemudian, pada supresi
sumsum tulang yang terjadi segera, penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari
ke-8 sampai hari ke-14, setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk menaikan kadar
laukositnya kembali. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian penurunan kadar
leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama pada minggu kedua dan pada sekitar minggu ke
empat dan kelima. Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan mencapai nilai mendekati
normal pada minggu keenam. Leukopenia dapat menurunkan daya tubuh, trombositopenia
dapat mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlebihan bila terjadi erosi pada traktus
gastrointestinal.
Efek samping yang jarang terjadi tetapi tidak kalah penting adalah kerusakan otot
jantung, sterilitas, fibrosis paru, kerusakan ginjal, kerusakan hati, sklerosis kulit, reaksi
anafilaksis, gangguan syaraf, gangguan hormonal, dan perubahan genetik yang dapat
mengakibatkan terjadinya kanker baru.
Kardiomiopati akibat doksorubin dan daunorubisin umumnya sulit diatasi, sebagian
besar penderita meninggal karena “pump failure”, fibrosis paru umumnya iireversibel, kelainan
hati terjadi biasanya menyulitkan pemberian sitistatika selanjutnya karena banyak diantaranya
yang dimetabolisir dalam hati, efek samping pada kulit, saraf, uterus dan saluran kencing relatif
kecil dan lebih mudah diatasi.
Rambut yang sedang tumbuh pun akan rontok yang dapat dari kerontokan ringan
dampai pada kebotakan, pertumbuhan terhenti, sementara haid menjadi tidak ada dan laki-laki
sementara mengalami sterilisasi. Pada pusat kanker yang lengkap disediakan bank sperma
untuk antisipasi apabilia terjadi sterilisasi permanent pada pria.
Untuk kemoterapi yang sangat agresif dimana kerusakan sel darah sangat berat,
dipergunakan cangkok sum-sum tulang dari tubuh sendiri (autologus bone marrow
tranplantation). Sel susm-sum tulang kita diambil dan disimpan dengan pengawet. Pada waktu
kerusakan sel darah begitu berat akibat kemoterapi yang agresif, sel sum-sum tulang badan kita
yang disimpan ditransfusikan kembali ketubuh untuk memulihkan kerusakan tersebut. Pada
prakteknya sehari-hari yang dikhawatirkan pasien terutama muntah, sariawan, nafsu makan
hilang dan terutama wanita adalah kebotakan. Hal ini wajar, namun dengan penerangan dan
persiapan lebih baik, antara lain pemeriksaan laboratorium berkala, obat anti muntah, obat
nafsu makan serta obat-obat lain, semua dapat diatasi. Disamping itu gangguan tersebut tidak
permanent akan pulih sebelum dilakukan siklus berikutnya.
A) Perubahan Indra Pengecap
Penanganannya:
Hindari makanan yang pahit
Makan makanan yang lunak berprotein
Tes pengecapan
Tambahkan bumbu
B) Infeksi Mulut dan Lambung
Penanganannya :
Pemeriksaan gigi 14 hari sebelum kemoterapi pertama dan setelah kemoterapi
Jaga bibir tidak kering
Hindari rokok dan alkohol
Hindari makanan yang: terlalu panas, terlalu dingin, banyak mengandung zat kimia.
Bersihkan gusi dan gigi dengan sikat yang lembut untuk menghindari perdarahan gusi,
sedikitnya 4x sehari (sesudah makan dan menjelang tidur).
Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride tapi tidak mengandung zat-zat yang bersifat
abrasif.
Jika Anda terbiasa membersihkan gigi dengan benang gigi (dental floss), bersihkan sela-sela
gigi dengan hati-hati setiap hari.
Larutkan ½ sendok teh garam dan ½ sendok teh baking soda dalam segelas besar air hangat,
dan sering-seringlah berkumur dengannya. Jangan lupa bilas dengan air bersih/tawar.
C) Mual dan Muntah
Makanlah makanan yang agak tawar, seperti crackers atau roti panggang/kering.
Jika mual hanya terjadi di antara waktu makan, makanlah lebih sering dalam porsi kecil, juga
makan kue menjelang dan saat terbangun dari tidur.
Minumlah minuman bening (minuman yang tembus pandang seperti air putih, teh, jus apel,
wedang jahe, sirup, es jeruk, kuah sup, agar-agar, dsb) yang dingin, dan hiruplah perlahan-
lahan.
Makanlah makanan yang Anda sukai, tetapi tetap pertimbangkan kandungan gizinya.
Hindari makanan panas, untuk mengurangi aromanya. Hindari juga makanan berlemak, terlalu

banyak bumbu, atau terlalu manis.


Makan buah.
Mengulum permen yang segar, seperti permen jeruk atau mint.
Istirahatlah dengan tenang sesudah makan.
Alihkan perhatian dengan menonton televisi, mendengarkan musik, atau bercanda ringan.
Jika sedang mual, bersikaplah rileks dan bernafas dalam-dalam.
Mintalah obat antimual kepada dokter. Minumlah obat itu begitu Anda mulai merasa mual,
supaya tidak sampai muntah.
D) Susah Buang Air Besar
Penanganannya :
BAB secara teratur

Minum jus buah atau makan buah


Minum 3liter air (hangat)
Makan yang mengandung serat
Hindari makanan yang banyak mengandung tepung
Tingkatkan aktivitas fisik
E) Diare
Penanganannya :
Hindari makanan yang: mengiritasi lambung, banyak mengandung gas, dan minuman yang
mengandung kafein.
Minum 3 liter perhari
Makan sedikit tapi sering.
Hindari susu atau produk susu
F) Kerontokan Rambut
Penanganannya:
Selama periode terapi sebaiknya kenakan topi lebar yang lembut atau kerudung dari bahan
katun. Jika ingin mengenakan wig, pastikan bagian tepinya tidak menggesek kulit Anda.
Gunakan sampho yang lembut dan kondisioner setiap keramas
Minimalkan penggunaan hair dryer,
Hentikan penggunaan mesin dengan listrik, roll rambut, bandana yang menekan rambut, hair
spray, semir rambut
Hindari menggosok dan menyisir rambut terlalu keras.
Gunakan bantal yang lembut
Konsumsi makanan yang: Mengandung tinggi karbohidrat, Mengandung tinggi protein,
Mengkonsumsi suplemen/vitamin nutrisi.

H. Persiapan dan Syarat kemoterapi.


1. Persiapan
Sebelum pengobatan dimulai maka terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan yang meliputi:
a) Darah tepi; Hb, Leuko, hitung jenis, Trombosit.
b) Fungsi hepar; bilirubin, SGOT, SGPT, Alkali phosphat.
c) Fungsi ginjal: Ureum, Creatinin dan Creatinin Clearance Test bila serum creatinin meningkat.
d) Audiogram (terutama pada pemberian Cis-plastinum)
e) EKG (terutama pemberian Adriamycin, Epirubicin).
2. Syarat
a) Keadaan umum cukup baik.
b) Penderita mengerti tujuan dan efek samping yang akan terjadi, informed concent.
c) Faal ginjal dan hati baik.
d) Diagnosis patologik
e) Jenis kanker diketahui cukup sensitif terhadap kemoterapi.
f) Riwayat pengobatan (radioterapi/kemoterapi) sebelumnya.
g) Pemeriksaan laboratorium menunjukan hemoglobin > 10 gram %, leukosit > 5000 /mm³,
trombosit > 150 000/mm³.

I. Prosedur
1. Persiapan
a) Sebelum diberikan kemoterapi maka harus dipersiapkan ukuran TB, BB, luas badan, darah
lengkap, fungsi ginjal, fungsi liver, gula darah, urin lengkap, EKG, foto thorax AP/lateral,
Ekokardiografi, BMP.
b) Periksa protokol dan program terapi yang digunakan, serta waktu pemberian obat sebelumnya.
c) Periksa nama pasien, dosis obat, jenis obat, cara pemberian obat.
d) Periksa adanya inform concernt baik dari penderita maupun keluarga.
e) Siapkan obat sitostatika
f) Siapkan cairan NaCl 0,9 %, D5% atau intralit.
g) Pengalas plastik, dengan kertas absorbsi atau kain diatasnya
h) Gaun lengan panjang, masker, topi, kaca mata, sarung tangan, sepatu
i) Spuit disposible 5cc, 10cc, 20 cc, 50 cc.
j) Infus set dan vena kateter kecil
k) Alkohol 70 % dengan kapas steril
l) Bak spuit besar
m) Label obat
n) Plastik tempat pembuangan bekas
o) Kardex (catatan khusus)
2. Cara kerja
Semua obat dicampur oleh staf farmasi yang ahli dibagian farmasi dengan memakai alat
“biosafety laminary airflow” kemudian dikirim ke bangsal perawatan dalam tempat khusus
tertutup. Diterima oleh perawat dengan catatan nama pasien, jenis obat, dosis obat dan jam
pencampuran. Bila tidak mempunyai biosafety laminary airflow maka, pencampuran dilakukan
diruangan khusus yang tertutup dengan cara :
a. Meja dialasi dengan pengalas plastik diatasnya ada kertas penyerap atau kain
b. Pakai gaun lengan panjang, topi, masker, kaca mata, sepatu.
c. Ambil obat sitostatika sesuai program, larutkan dengan NaCl 0,9%, D5% atau intralit.
d. Sebelum membuka ampul pastikan bahwa cairan tersebut tidak berada pada puncak ampul.
Gunakan kasa waktu membuka ampul agar tidak terjadi luka dan terkontaminasi dengan kulit.
Pastikan bahwa obat yang diambil sudah cukup, dengan tidak mengambil 2 kali
e. Keluarkan udara yang masih berada dalam spuit dengan menutupkan kapas atau kasa steril
diujung jarum spuit.
f. Masukkan perlahan-lahan obat kedalam flabot NaCl 0,9 % atau D5% dengan volume cairan
yang telah ditentukan
g. Jangan tumpah saat mencampur, menyiapkan dan saat memasukkan obat kedalam flabot atau
botol infus.
h. Buat label, nama pasien, jenis obat, tanggal, jam pemberian serta akhir pemberian atau dengan
syringe pump.
i. Masukkan kedalam kontainer yang telah disediakan.
j. Masukkan sampah langsung ke kantong plastik, ikat dan beri tanda atau jarum bekas
dimasukkan ke dalam tempat khusus untuk menghindari tusukan.
3. Prosedur cara pemberian kemoterapi
a. Periksa pasien, jenis obat, dosis obat, jenis cairan, volume cairan, cara pemberian, waktu
pemberian dan akhir pemberian.
b. Pakai proteksi : gaun lengan panjang, topi, masker, kaca mata, sarung tangan dan sepatu.
c. Lakukan tehnik aseptik dan antiseptik
d. Pasang pengalas plastik yang dilapisi kertas absorbsi dibawah daerah tusukan infus
e. Berikan anti mual ½ jam sebelum pemberian anti neoplastik (primperan, zofran, kitril secara
intra vena)
f. Lakukan aspirasi dengan NaCl 0,9 %
g. Beri obat kanker secara perlahn-lahan (kalau perlu dengan syringe pump) sesuai program
h. Bila selesai bilas kembali dengan NaCl 0,9%
i. Semua alat yang sudah dipakai dimasukkan kedalam kantong plastik dan diikat serta diberi
etiket.
j. Buka gaun, topi, asker, kaca mata kemudian rendam dengan deterjen. Bila disposible
masukkkan dalam kantong plasrtik kemudian diikat dan diberi etiket, kirim ke incinerator /
bakaran.
k. Catat semua prosedur
l. Awasi keadaan umum pasien, monitor tensi, nadi, RR tiap setengah jam dan awasi adanya
tanda-tanda ekstravasasi.
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada kanker dan kemoterapi
1) Nyeri kronis berhubungan dengan pertumbuhan/metastase tumor
2) Nyeri akut berhubungan dengan aktual atau potensial kerusakan jaringan akibat metastase
tumor.
3) Mual/Nause berhubungan parmesetik (kemotherapi)
4) Ansietas berhubungan dengan lingkungan rumah sakit yang tak dikenal/ ketidakpastian tentang
hasil pengobatan kanker, perasan putus asa dan tak berdaya/ ketidak cukupan pengetahuan
tentang kanker dan pengobatan
5) Resiko infeksi b/d tindakan invasif (tusukan iv line)

Perencanaan Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
1 Nyeri kronis Setelah dilakukan tindakanManajemen nyeri :
berhubungan keperawatan selama di poliAdministrasi analgetik :
dengan tulip klien mampu : Kaji pengalaman klien ketika
Mengontrol nyeri berhadapan dengan nyeri untuk pertama
pertumbuhan/m Dengan KH klien mampu : kali, jika memungkinkan lakukan
etastase tumor Mengukur nyerinya dengan intervensi untuk menurunkan nyeri
menggunakan skala nyeri, Anjurkan klien untuk menggambarkan
menetapkan tujuan untuk pengalamam yang telah lalu mengenai
penurunan nyeri yang nyeri dan metode yang digunakan untuk
diharapkan dan membuat menangani nyerinya, termasuk
rencana kegiatan untuk pengalaman tentang efek samping, tipe
mengelola nyerinya koping respon, dan bagaimana dia
Mendiskripsikan tentang mengekspresikan nyeri
rencana pengelolaan nyeri Mendeskripsikan tentang efek yang
baik farmakologis maupun merugikan dari nyeri yang tidak
non farmakologis termasuk tertahankan
mengenali keuntungan dan Anjurkan klien untuk melaporkan
kerugian pengelolaan nyeri tentang lokasi, intensitas dan kualitas
menggunakan obat dan non dari nyeri ketika sedang mengalami nyeri
obat Minta klien untuk melakukan
Mendemontrasikan pengelolaan tingkat nyeri, waktu,
kemampuan untuk tenang, pencetus, pengobatan dan perawatan dan
beristirahat tindakan yang lain yang dapat
Menerima keadaan yang mengurangi nyeri
sedang dialami dan mampu Tentukan penggunaan obat yang
beraktifitas dengan minimal dibutuhkan klien
terjadinya nyeri
2 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan a) Manajemen nyeri
berhubungan keperawatan selama di poli 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
dengan aktual tulip nyeri berkurang dengan komprehensif : lokasi, karek teristik,
atau potensial KH : durasi, frekuensi, kuali tas dan faktor
kerusakan Skala nyeri menurun 1-3 predisposisi.
jaringan akibatKlien melaporkan nyeri 2. Observasi reaksi non verbal dari
metastase tumor. berkurang/hilang ketidaknyamanan.
Klien nampak rileks 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik
Klien mampu beristirahat untuk mengetahui pengalama nyeri klien.
4. Evaluasi pengalamam nyeri masa lampau.
5. Bantu klien dan keluarga untuk mencari
dan menemukan dukungan.
6. Kontrol faktor lingkungan yang
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan.
7. Kurangi faktor presipitasi nyeri.
8. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologis/ non farmakologis).
9. Ajarkan teknik relaksasi.
10. Berikan analgetik sesuai program
11. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri.
12. Tingkatkan istirahat.
13. Kolaborasi dengan dokter jika ada
komplain dan tindakan nyeri tidak
berhasil.
14. Monitor penerimaan klien tentang
manajemen nyeri.

b) Administrasi analgetik :
1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas
dan derajat nyeri sebelum pemberian
obat.
2. Cek intruksi dokter tentang jenis obat,
dosis dan frekuensi.
3. Cek riwayat alergi.
4. Pilih analgesik yang diperlukan.
5. Tentukan pilihan analgesik tergantung
dari tipe dan beratnya nyeri.
6. Tentukan analgesik pilihan, rute
pemberian dan dosis optimal.
7. Pilih rute pemberian secara iv, im untuk
pengibatan nyeri secara teratur.
8. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgetik.
9. Evaluasi keefektifan analgetik dan efek
samping.
3 Mual/Nause Setelah dilakukan tindakan1. Kaji penyebab mual dan muntah klien.
berhubungan keperawatan selama di poli2. Jaga kebersihan klien setelah muntah dan
parmesetik tulip mual klien akan letakan tissue pembersih pada likasi yang
(kemotherapi) berkurang dengan KH : mudah dijangkau oleh klien.
Klien akan merasa lebih3. Berikan perawatan oral setelah klien
nyaman, status cairan muntah.
seimbang, intake nutrisi4. Berikan/ajarkan metose distraksi dari
adekuat sensasi mual misalnya menggunakan
musik dsb.
5. Jaga lingkungan yang bersih, tenang dan
ventilasi yang baik.
6. Hindarkan pergerakan yang tiba-tiba,
biarkan klien tetap terlentang.
7. Kolaborasi pemberian antiemetik.
8. Berikan antiemetik satu jam sebelum
pemberian khemoterapi.
9. Motifasi klien untuk makan/minum
sedikit-sedikit tetapi sering.
10. Berikan diit yang disukai dalam kondisi
hangat dan sajikan dengan menarik.
4 Ansietas Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji tingkat kecemasan, faktor-faktor yang
berhubungan keperawatan selama di poli berpengaruh terhadap timbulnya cemas.
dengan tulip klien akan mampu 2. Yakinkan klien bahwa perawat siap
lingkungan mengontrol cemas, membantu masalah kesehatan yang
rumah sakit yang mengembangkan koping yang dihadapi klien dan dorong klien untuk
tak dikenal/ adaptif dengan KH klien mengungkapkan perasaan, ketakutan dan
ketidakpastian mampu : persepsi.
tentang hasil- Mengidentifikasi dan
3. Kaji harapan klien terhadap pengobatan
pengobatan mengungkapkan kecemasan dan perawatan.
kanker, perasan- Mengidentifikasi, mengung 4. Pahami persepsi klien tentang situasi stress.
putus asa dan tak kapkan dan mendemons 5. Temani klien untuk memberikan keamanan
berdaya/ ketidak trasikan teknik mengontrol dan mengurangi ketakutan.
cukupan ansietas 6. Berikan informasi faktual tentang
pengetahuan - Mengungkapkan terbebas/ diagnosis, tindakan, dan prognosis.
tentang kanker penurunan distress yang
7. Dorong keluarga untuk menemani klien.
dan pengobatan dirasakan 8. Bantu klien untuk mengenali situasi yang
- TTV memberi gambaran menimbulkan kecemasan.
terbebas dari disstress 9. Ajarkan teknik relaksasi untuk mereduksi
- Ekspresi tubuh, wajah, sikap kecemasan.
terbebas dari disstres 10. Berikan kesempatan klien, keluarga untuk
- Mampu berkonsentrasi dan mengungkapkan perasaan (marah, rasa
akurasi perhatian bersalah, kehilangan, dan nyeri) :
- Mengidentifikasi dan- Lakukan kontak yang sering dan berikan
mengungkapkan faktor-faktor suasana yang meningkatkan ketenagan
yang menimbulkan dan rileks
kecemasan, konflik dan- Tunjukian sikap tidak menilai dan
penanganannya mendengar dengan penuh perhatian
- Gali perasaan dan perilaku sendiri
- Mendemonstrasikan 11. Dorong untuk mendiskusikan secara
ketrampilan mengatasi terbuka tentang kanker, pengalaman
masalah orang lain, dan potensial mengontrol dan
penyembuhannya.
12. Jelaskan rutinitas rumah sakit dan
pertegas penjelasan dokter tentang
jadwal pemeriksaan dan tujuan rencana
pengobatan. Fokuskan pada apa yang
diharapkan klien
13. Tunjukan adanya harapan
14. Tingkatkan aktifitas dan latihan fisik
15. Identifikasi adanya ego yang buruk,
kemampuan pemecahan masalah yang
tidak efektif, kurang motifasi, kesehatan
secara umum memburuk, kurang sistem
pendukung
5 Risiko infeksi Setelah dilakukan askep Konrol infeksi : -
selama dipoli tulip tidak 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai
terdapat faktor risiko pasien lain.
infeksi pada klien dibuktikan
2. Pertahankan teknik isolasi.
dengan status imune klien 3. Batasi pengunjung bila perlu.
adekuat, 4. Intruksikan kepada keluarga untuk
mendeteksi risiko dan mencuci tangan saat kontak dan
mengontrol risiko sesudahnya.
5. Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci
tangan.
6. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan.
7. Gunakan baju dan sarung tangan sebagai
alat pelindung.
8. Pertahankan lingkungan yang aseptik
selama pemasangan alat.
9. Lakukan perawatan luka dan dresing infus
setiap hari.
10. Tingkatkan intake nutrisi.
11. berikan antibiotik sesuai program.

Proteksi terhadap infeksi


1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
dan lokal.
2. Monitor hitung granulosit dan WBC.
3. Monitor kerentanan terhadap infeksi.
4. Pertahankan teknik aseptik untuk setiap
tindakan.
5. Pertahankan teknik isolasi bila perlu.
6. Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase.
7. Inspeksi kondisi luka, insisi bedah.
8. Ambil kultur jika perlu
9. Dorong masukan nutrisi dan cairan yang
adekuat.
10. Dorong istirahat yang cukup.
11. Monitor perubahan tingkat energi.
12. Dorong peningkatan mobilitas dan
latihan.
13. Instruksikan klien untuk minum antibiotik
sesuai program.
14. Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan
gejala infeksi.
15. Laporkan kecurigaan infeksi.
16. Laporkan jika kultur positif
DAFTAR PUSTAKA

Bongard, Frederic, S. Sue, darryl. Y, 1994, Current Critical, Care Diagnosis and Treatment, first
Edition, Paramount Publishing Bussiness and Group, Los Angeles
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 2, EGC, Jakarta
Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok
Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
Gale Daniele, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, EGC, Jakarta, 2000
Instalasi Diklat RS. Kanker Darmais, 2003, Kumpulan Makalah Pelatihan Perawatan Kanker Dengan
Kemoterapi Di RS Kanker Darmais, RS. Kanker Darmais, Jakarta
Price, Sylvia A and Willson, Lorraine M, 1996, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses penyakit,
Edisi empat, EGC, Jakarta
R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ; 1997
Robert. T.Door & William.L.Fritz, 1981, Cancer Chemotherapy Handbook, Elsevier, New York.
Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa
Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001
Subagian Onkologi Ginekologi, 1998, Penuntun Pelayanan-Pendidikan-Penelitian, Bagian
obstetriginekologi, FKUI, Jakarta.
http://rumahkanker.com/index.php?option=com_content&task=view&id=34&Itemid=59