You are on page 1of 1

ANALISA SITUASI

Pada umumnya lokasi endemis Malaria adalah desa-desa yang terpencil dengan kondisi lingkungan yang
tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses pelayanan kesehatan kurang, tingkat
pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang
kurang baik.

Daerah dengan kasus Malaria tinggi dilaporkan terbanyak di kawasan timur antara lain provinsi Papua,
Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara. Dilaporkan
juga bahwa di kawasan lain angka Malaria cukup tinggi antara lain di provinsi Kalimantan Barat, Bangka
Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Riau. Walaupun angka kesakitan Malaria sejak lima tahun
terakhir sudah menunjukkan tingkat penurunan cukup berarti dilihat dari Annual Parasite Incidence (API)
dan Annual Malaria Incidence (AMI), namun demikian penurunan ini tidak disertai dengan penurunan
jumlah KLB Malaria, sebaliknya malah terjadi peningkatan di beberapa daerah. Hasil Riskesdas tahun 2007
menyatakan bahwa Malaria menempati prevalensi ketiga untuk penyakit menular setelah Infeksi Saluran
Pernapasan Akut /ISPA (25,5%) dan Diare (9,0%), yaitu sebesar 2,85 % dan merupakan penyebab kematian
tertinggi keenam di Indonesia.

1. Kurangnya dukungan dari Pemerintah Daerah setempat.

2. Kurangnya kerjasama lintas program, sektor dan mitra terkait dalam Gebrak

Malaria.

3. Kurangnya kemampuan petugas dalam pengendalian Malaria termasuk

dalam pemberdayaan masyarakat.

4. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang pencegahan dan pencarian

pengobatan Malaria.

5. Kurangnya pemanfaatan media lokal untuk penyebarluasan informasi.

6. Kurangnya gerakan masyarakat dalam pengendalian vektor Malaria.