You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Ilmu yang mempelajari mengenai pengetahuan tentang obat-

obatan disebut juga sebagai Farmakognosi. Dimana dalam farmakognosi

ini, yang menjadi kajian utamanya adalah bahan alam. Bahan alam yang

dapat diolah menjadi suatu senyawa yang dapat memberikan manfaat

melalui zat-zat atau kandungan kimia yang ada di dalamnya.

Pada percobaan kali ini kita akan melakukan uji kadar abu suatu

sediaan jamu guna untuk mengetahui cara penetapan kadar sari dan

kadar abu serta mengetahui kandungan yang terdapat dalam suatu

sampel jamu.

Pada percobaan uji kadar abu, kita menggunakan suatu pelarut

organik seperti etanol untuk memudahkan penentuan kadar. Percobaan

yang dilakukan kali sangat barmanfaat bagi kita, karena kita dapat

menentukan kadar dari suatu simplisia sehingga memudahkan kita dalam

pembuatan suatu sediaan obat yang sesusai yang kita inginkan.


I.2 Maksud percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan

memahami cara penetapan kadar abu dari sediaan jamu.

I.3 Tujuan percobaan

Tujuan praktikum adalah untuk memperoleh data jumlah

kandungan senyawa anorganik yang terdapat dalam simplisia.

I.4 Prinsip percobaan

Prinsip percobaan kali ini adalah penetapan kadar abu sediaan

jamu dengan melakukan pemijaran hingga terbentuk arang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Uraian Tanaman

II.1.1 Klasifikasi (C. G. G Steenis : 1972)

1. Sambiloto

Regnum : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub division : Angiospermae

Class : Dicotyledoneae

Ordo : Piperales

Familia : Piperaceae

Genus : andrographis

Spesies : Andrographis herba

II.2.2 Morfolgi Tanaman (C. G. G Steenis : 1972)

1. sambiloto (Andrographis herba)

Merupakan tanaman yang banyak terdapat dikepulauan

indonesia dengan tempat tumbuh + 500 meter dari permukaan

laut. Dengan daun majemuk menjari (Palmatus/digitatus)

bentuk tombak (Hastatus) bagian terlebar ditengah helaian


daun bentuk tepi daun bergerigi ganda (Biserratus) ujung daun

meruncing (Acuminatus). Berbatang rumpul (calmus) bentuknya

bulat (teres), permukaan batang beralur (sulcatus) dan arah

tumbuh batang tegak lurus (erectus).

II.2.3 Kandungan (Wijaya . H. M Hembing :1992)

Sambiloto (Andrographis herba)

Minyak atsiri, tannin, glikosida, saponin, dan zat pahit.

II.2.4 Kegunaan (Wijaya . H. M Hembing :1992)

Sambiloto (Andrographis herba)

Sebagai penyembuh penyakit tekanan darah tinggi, asam urat,

kencing manis dan juga dapat sebagai obat laki-laki dengan cara

direbus.

II.2.2 Uji kadar abu

Penetapan fisis dari serbuk sediaan jamu (simplisia) dilakukan

berupa penetapan kadar abu sisa pemijaran (kadar abu total) dan

kadar abu yang tidak larut dalam asam. Pemeriksaan ini digunakan

untuk mengidentifikasi suatu simplisia karena tiap simplisia

mempunyai kandungan atau kadar abu yang berbeda-beda, dimana

bahan organik yang terdapat dalam simplisia tersebut ada yang

terbentuk secara alami dalam tumbuhan. Atas dasar tersebut dapat

ditentukan besarnya cemaran bahan-bahan anorganik yang terdapat


dalam simplisia yang terjadi pada saat pengolahan ataupun dalam

pengemasan simplisia.

Prinsipnya adalah bahan dipanaskan pada temperatur dimana

senyawa organik dan turunannya tereduksi dan menguap hingga

tersisa unsur mineral dan onorganik, penetapan kadar abu

bertujuan ,memberikan gambaran kandungan minerar eksternal dan

internal dalam simplisia, mulai dari proses awal sampai terbentuknya

ekstrak. Kadar abu diperiksa untuk menetapkan tingkat pengotoran

oleh logam-logam dan silikat.

Kadar abu total (sisa pemijaran) dan abu yang tidak dapat

larut dalam asam dapat ditetapkan melalui metode yang resmi. Dalam

hal ini, terdiri dari pemijaran dan penimbangan, total abu kemudian

dididihkan dengan asam klorida, disaring, dipijarkan dan dtimbang abu

yang tidak larut dalam asam. Pelarut asam klorida digunakan dalam

penetapan kadar abu tidak larut dalam asam dimaksudkan untuk

melarutkan kalsium karbonat, alkali klorida sedangkan yang tidak larut

dalam asam biasanya mengandung silikat yang berasal dari tanah

atau pasir. Jumlah kotoran, tanah, tanah liat dan lain-lain yang

terdapat dalam sampel uji disebut sebagai zat anorganik asing yang

terbentuk dalam bahan obat pada saat pencampuran.

Perlu diingat, saat penimbangan kadar abu dilakukan sampai

diperoleh bobot tetap/konstan dari alat dan bahan yang digunakan.


Bobot konstan yang dimaksud bahwa dua kali penimbangan berturut-

turut berbeda tidak lebih dari 0,5 mg tiap gram sisa yang ditimbang.

Cara perhtitungan kadar abu :

Berat abu total = [Berat total penimbangan-Berat cawan kosong]

Kadar abu total (N) = Berat abu total x 100%

Berat sampel

Kadar sari rata-rata = N1 + N2 + N3 x 100 %

BAB III

PRSEDUR KERJA
III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat yang digunakan

1. Batang pengaduk

2. Cawan poselin

3. Corong kaca

4. Kertas saring

5. Kertas timbang

6. Kipas angin

7. Kompor Listrik

8. Label

9. Labu bersumbat kaca

10. Oven listrik

11. Penangas air

12. Sendok tanduk

13. Tanur

14. Timbangan analitik

15. Tissu

III.1.2 Bahan yang digunakan

1. Aquadest
2. Asam klorida

3. Kloroform

4. Etanol

5. Sambiloto (Andrograpis herba)

III.2 Cara kerja

III.2.2 Uji kadar abu

1. Ditimbang serbuk simplisa sebanyak 5 gram.

2. Dmasukkan dalam cawan porselin yang telah dipijarkan dan

telah dikonstankan sebelumnya.

3. Dipijarkan dalam tanur secara perlahan-lahan sehingga arang

habis.

4. Didinginkan dalam eksikator dan ditimbang hingga bobot

tetap/konstan.

5. Dihitungk kadar abu terhadap bahan yang dikeringkan di

udara.

BAB IV

HASIL PENGAMATAN
IV.1 Data pengamatan

Metode Bobot awal Bobot akhir %

Maserasi 200 gram 3 gram 1,5 %


Perkolasi 100 gram 1,5 gram 1,5 %
Infudasi 20 gram _ _
IV.2 Perhitungan

A. Maserasi

Bobot awal (serbuk) = 200 gram

Bobot ekstrak = 3 gram

% kadar = 3 gram x 100 %

200 gam

= 1,5 %

B. Perkolasi

Bobot awal (serbuk) = 100 gram

Bobot ekstrak = 1,5 gram

% kadar = 1,5 gram x 100 %

100 gam

= 1,5 %

BAB V

PEMBAHASAN

Ekstraksi yaitu suatu penyarian zat-zat berkhasiat atau zat aktif dari

tanaman, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Proses
ekstraksi dalam tanaman adalah pelarut organik menembus membran atau

dinding sel atau rongga sel.

Dan pada percobaan kali ini kita akan melakukan ekstraksi melalui

beberapa metode antara lain maserasi, perkolasi dan maserasi. Dari ketiga

metode tersebut, kita akan membandingkan metode mana yang paling baik.

Pengamatan yang dilakukan diharapkan agar kita dapat melakukan ekstraksi

dengan baik dan dan sempurna serta membutuhkan waktu yang relatif cepat.

Sampel yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Daun

sambiloto dengan tujuan untuk mengambil hasil ekstraksi dari proses

ekstraksi yang dilakukan. Karena hasil ekstraksi tersebut akan digunakan

sebagai bahan dasar dalam pembuatan obat.

Metanol digunakan pada proses maserasi untuk menghindari terjadi

penjamuran dari sampel yang digunakan serta diharapkan agar terjadi proses

adhesi dan kohesi dari sel dan lingkungan luarnya. Disamping itu, terjadi

ikatan polar dan nonpolar.

Dari ketiga proses yang dilakukan ternyata maserasi dan perkolasi

mempunyai jumlah ekstrak yang sama yaitu sebesar 1,5 % sedangkan

infudasi tidak ada. Hal ini bertentangan dengan teori yang menyatakan

bahwa perkolasi adalah metode ekstraksi yang paling baik diantara maserasi

dan infudasi. Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan adalah

karena kurang teliti dalam melakukan penimbangan dan proses ekstraksi dan

masih banyak faktor lain.


.

BAB VI

PENUTUP

VI.1 Kesimpulan

Dari hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa :

a. Hasil kestraksi pada maserasi sebesar 1,5 %


b. Hasil ekstraksi pada perkolasi sebesar 1,5 %

c. Hasil ekstraksi pada infudasi tidak ada

VI.2 Saran

Diharapkan agar asisten dapat memberikan arahan kepada

praktikan dalam menyelasaikan laporan ini dengan baik. Dan

diharapkan agar asisten dapat memberikan kebijaksanaan kepada

praktikan apabila terjadi masalah mendadak kepada praktikan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Penuntun Praktikum Faemakognosi I. Universitas Muslim


Indonesia ; Makassar.

Ansel, Hiward C., 1989, “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi” Edisi keempat,
UI Press : Jakarta.
Arisandi, Yohana. 1990. Khasiat tanaman Obat. Pustaka Buku Murah ;
Jakarta.

Tjirisoepomo, gembong. 2001. Morfologi Tumbuhan. Universitas Gajah


mada ; Yokyakarta.

Tjirisoepomo, gembong. 1979.Taksonomi Tumbuhan. Universitas Gajah


mada ; Yokyakarta.

SKEMA KERJA

A. MASERASI

Ditimbang 200 gram serbuk jintan

Masukkan serbuk jintan yang akan disari ke dalam toples/bejana maserasi


Tuangkan secara perlahan cairan penyari ke dalam bejana maserasi yang
berisi serbuk jintan

Biarkan cairan penyari merendam serbuk jintan dengan permukaan penyari


kira-kira 5 cm.

Dibiarkan selama 1 x 24 jam

Saring untuk mendapatkan ekstraksi yang kental

Timbang hasil ekstrak dari jintan

Bandingkan bobot ektrak yang diperoleh dengan bobot serbuk jintan yang

telah disari.

Dilakukan perlakuan yang sama untuk merica, daun salam dan kunyit.

B. Perkolasi

Ditimbang jintan sebanyak 200 gram

Pasangkan perangkat perkolator


Basahi serbuk jintan yang akan disari selama kurang lebih 3 jam dalam
wadah tertutup.

Masukkan jintan ke bejana perkolator

Isi dengan cairan penyari mengalir dari atas ke bawah dengan kecepatan 1
ml per menit

Tambahkan cairan penyari secara berulang-ulang

Ekstrak yang diperoleh ditampung pada wadah yang telah tersedia

Timbang hasil ekstraksi

Bandingkan bobot ekstrak yang diperoleh dengan bobot serbuk jintan yang
telah disari.

Dilakukan perlakuan yang sama untuk merica, daun salam dan kunyit.

C. Infudasi

Timbang 10 gram serbuk jintan


Masukkan ke dalam panik infuse dan diberi air 100 ml

Panaskan di atas penangas air selama 15 menit dihitung mulai dari suhu di
dalam tangas air mencapai 90o sambil sekali-kali diaduk.

Serkai selagi panas dan cukupkan volumenya hingga 100 ml.

Didinginkan kemudian disaring.

Dilakukan hal yang sama untuk merica, daun salam dan kunyit.
LABORATORIUM FARMAKOGNOSI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN

UJI KADAR SARI DAN UJI KADAR ABU

OLEH :

NAMA : NURHAYATI
STB : 150250057
KLS : FLW 2
KLP : I (SATU)
ASISTEN : MUAMMAR FAWWAZ

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2007