You are on page 1of 8

Asuhan keperawatan pada lansia dengan pola tidur dan aktifitas

Asuhan keperawatan pada lansia dengan pola tidur dan aktifitas(binti kholifatul
muakhirin)

Pendahuluan

Istirahat dan tidur menjalankan sebuah fungsi pemulihan, baik secara fisiologis maupun
psikologis. Secara fisiologis, tidur mengistirahatkan organ tubuh, menyimpan energi, menjaga
irama biologis, dan memperbaii kesadaran mental dan efisiensi neurologist,. Secara psikologis,
tidur mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera.
Lansia yang terganggu waktu tidurnya menjadi cepat lupa, diorientasi dan konfusi: orang
yang mengalami kerusakan kognitif menunjukkan peningkatan kegelisahan, perilaku keluyuran,
dan syndrome sundowner (komfusi, agitasi, dan perilaku terganggu selama sore menjelang
senja).
Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh perubahan terkait usia, konsumsi banyak obat, dan
gangguan organic atau mental.

Pola tidur pada lansia


Tidur yang normal terdiri atas komponen gerakan bola mata cepat(rapid eye movement,
REM) dan non REM. Tidur non REM dibagi menjadi empat tahap: padsa tahap 1, jatuh tertidur,
orang tersebut mudah dibangunkan dan tidak menyadari ia telah tertidur. Kedutan atau sentakan
otot menandakan relaksasi selama tahap ini. Pada tahap 2 dan 3, meliputi tidur dalam yang
progresif. Pada tahap 4, tingkat terdalam, sulit untuk dibangunkan.
Tidur tahap 4 sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik. Tahap ini sangat jelas terlihat
menurun pada lansia, tetapi mereka belum mengetahui akibat dari penurunan ini. Pola tidur pada
lansia ditandai dengan sering terbangun, penurunan tahap 3 dan 4 waktu non-REM, lebih banyak
terbangun pada malam hari disbanding tidur, dan lebih banyak tidur selama siang hari. Tidur
siang hari dapat mengurangi waktu dan kualitas tidur di malam hari pada beberapa lansia.
Dari tahap 4, orang tersebut berlanjut ke tidur REM. Tidur REM terjadi beberapa kali
dalam siklus tidur dimalam hari tetapi lebih sering terjadi pagi hari sekali. Pada tidur REM,
aktifitas dan tanda-tanda vital mengalami akselerasi, yang menyebabkan peningkatan
kesenangan dan pelepasan ketegangan yang dimanifestasikan dengan tersentak dan berbalik,
kedutan otot, dan peningkatan frekuensi pernafasan, frekuensi jantung, dan tekanan darah. Tidur
REM membantu melepaskan ketegangan dan membantu metabolisme system saraf pusat.
Kekurangan tidur REM telah terbukti menyebabkan iritasi dan kecemasan.

Manifestasi klinis
Gangguan tidur pada lansia
Sebagian besar lansia beresiko tinggi mengalami gangguan tidur akibat berbagai factor.
Proses patologis terkait usia dapat menyebabkan gangguan pola tidur. Perubahan- perubahan
mencakup kelatenan tidur, terbangun pada dini hari, dan peningkatan jumlah tidur siang. Diantar
lansia yang sehat terdapat beberapa lansia yang mengalami berbagi masalah medis dan
psikososial yang mengalami gangguan tidur. Antara lain:
· Penyakit psikiatrik, terutama depresi
· Penyakit Alzheimer dan penyakit degeratif neuro lainnya
· Penyakit kardivaskuler dan perawatan pasca operasi bedah jantung
· Inkompetensi jalan nafas atas
· Penyakit paru
· Penyakit prostatik
· Endokrinopati
Tiga keluhan atau gangguan utama dalam memulai dan mempertahankan tidur terjadi di
kalangan lansia:

1. Insomnia
Insomnia adalah gangguan ketidakmampuan untuk tidur walaupun ada keinginan untuk
melakukannya. Keluhan insomnia meliputi ketidakmampuan untuk tertidur, sering terbangun,
ketidakmampuan untuk tidur kembali dan terbangun pada dini hari. Maka perhatian harus
diberikan pada factor biologis, emosional dan medis yang berperan.

2. Hipersomnia
Hipersomnia dicirikan dengan tidur lebih dari 8atau 9 jam per periode 24 jam, dengan
keluhan tidur berlebihan. Orang tersebut dapat menunjukkan mengantuk di siang hari yang
persisten, mengalami serangan tidur , tampak mabuk dan kemotose, atau mengalami mengantuk
pascaensefalitik. Keluhan keletihan, kelemahan dan kesulitan mengingat atau belajar merupakan
hal yang sering terjadi.

3. Apnea tidur
Apnea tidur adalah berhentinya pernafasan selama tidur. Gangguan ini diidentifikasi dengan
gejala mendengkur, berhentinya pernafasan minimal 10 detik, dan rasa kantuk di siang hari yang
luar biasa. Gejala apnea tidur antara lain:

 Dengkuran yang keras dan periodic


 Aktifitas malam hari yang luar biasa, seperti: duduk tegak, berjalan dalam tidur, terjatuh
dari tempat tidur
 Gangguan tidur dengan seringnya terbangun di malam hari
 Perubahan memori
 Depresi
 Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari
 Nokturia
 Sakit kepala di pagi hari
 Ortopnea akibat apnea tidur

Pasien di anjurkan untuk menghindari alcohol dan obat-obatan yang dapat mempengaruhi
respon terbangun dan untuk menggunakan bantal tambahan atau tidur di atas kursi.
Diagnosa
Untuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian terhadap:

1. Pola tidur penderita


2. Pemakaian obat-obatan, alkohol atau obat terlarang
3. Tingkatan stres psikis
4. Riwayat medis
5. Aktivitas fisik.

Pengobatan
Pengobatan insomnia tergantung kepada penyebab dan beratnya insomnia. Penderita insomnia
hendaknya tetap tenang dan santai beberapa jam sebelum waktu tidur tiba dan menciptakan
suasana yang nyaman di kamar tidur; cahaya yang redup dan tidak berisik.
Pengobatan insomnia biasanya dimulai dengan:

1. Menghilangkan kebiasaan (pindah tempat tidur, memakai tempat tidur hanya untuk tidur,
dll)
2. Jika tidak berhasil dapat diberikan obat golongan hipnotik (harus konsultasi dengan
psikiater).

Penatalaksanaan gangguan tidur pada lansia


1. Pencegahan Primer

a. tidur seperlunya
b. waktu bangun yang teratur di pagi hari memperkuat siklus sirkadian dan menyebabkan
awitan tidur yang teratur
c. jumlah latihan yang stabil setiap harinya
d. bunyi bising yang bersifat kadang-kadang
e. ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu pola tidur
f. rasa lapar dapat mengganggu tidur
g. pil tidur yang kadang-kadang saja digunakan akan bersifat menguntungkan
h. kafein di malam hari dapat mengganggu tidur
i. alcohol membantu orang-orang yang tegang untuk tertidur lebih mudah
j. orang-orang yang merasa marah dan frustasi harus menyalakan lampu dan melakukan hal
lain yang berbeda
k. menggunakan tembakau secara kronis dapata mengganggu tidur

2. Pencegahan Sekunder
Pengkajian oleh perawat harus mencakup factor-faktor berikut:

a. berapa baik lansia tersebut tidur di rumah?


b. Berapa kali lansia tersebut terbangun di malam hari?
c. Kapan lansia tersebut pergi ke tempat tidur dan terbangun?
d. Ritual apa yang terjadi menjelang tidur?
e. Berapa jumlah dan jenis latihan yang di lakukan setiap hari?
f. Apakah posisi yang paling di sukai pada saat tidur?
g. Aktifitas apa yang di lakukan beberapa jam sebelum tidur?
h. Berapa banyak waktu yang di habiskan orang tersebut dalam hobinya?
i. Persepsi orang tersebut tentang kepuasan hidup dan status kesehatannya?
3. Pencegahan Tersier
Jika terdapat gangguan tidur seperti apnea tidur yang mengancam kehidupan, kondisi pasien
memerlukan rehabilitasi untuk tindakan-tindakan seperti pengangkatan jaringan yang di mulut
dan mempengaruhi jalan napas.

Penatalaksanaan terapeutik
1). Pergi tidur hanya jika mengantuk
2). Gunakan temapat tidur hanya untuk tidur
3). Jika tidak dapat tidur, bangun dan pindah ke ruangan lain
4). Siapkan alarm dan bangun di waktu yang sama setiap pagi
5). Jangan tidur di siang hari

Intervensi keperwatan

 Pertahankan kondisi yang kondusif untuk tidur


 Bantu orang tersebut untuk rileks pada saat menjelang tidur
 Memeberikan posisi yang tepat, menghilangkan nyeri dan memberi kehangatan
 Jangan biarkan pasien meminum kafein
 Lakukan tindakan-tindakan yang masuk akal seperti memutar musik lembut di raio dan
menawarkan susu hangat

IMOBILITAS DAN INTOLERANSI AKTIVITAS PADA LANSIA


Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang untuk
berpartisipasi dalam menikmati kehidupan.
Intoleransi aktivitas
Definisi suatu keadaan ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis pada seseorang
untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang dibutuhkan atau diinginkan.
Batasan karakteristik :
1. Secara verbal melaporkan keletihan atau kelemahan.
2. Denyut jantung atau tekanan darah yang tidak normal terhadap aktivitas.
3. Rasa tidak nyaman atau dipsnea setelah beraktivitas.
4. Perubahan elektro kardiografis yang menunjukkan adanya disritmia atau iskemia.

Faktor-faktor yang berhubungan :


- Faktor internal :
1. Penurunan fungsi muskuluskeletal : otot (atrofi, distrofi, cedera), tulang (infeksi, fraktur, tumor,
osteoporosis atau osteomalaisia), sendi (atritis dan tumor), kombinasi struktur (kanker dan obat-
obatan).
2. Perubahan fungsi neurologis : infeksi (misalnya ensefalitis), tumor, trauma, obat-obatan,
penyakit vaskuler, penyakit demielinasi (misalnya sklerosis multipel), penyakit degeneratif,
terpajan produk racun, gangguan metabolik, gangguan nutrisi.
3. Nyeri : penyebabnya multipel dan bervariasi seperti penyakit kronis dan trauma.
4. Defisit perseptual : kelebihan atau kekurangan masukkan persepsi sensori.
5. Berkurangnya kemampuan kognitif : gangguan proses kognitif seperti dimensia berat.
6. Jatuh : efek fisik (cedera atau fraktur), efek psikologis (sindrom setelah jatuh).
7. Perubahan hubungan sosial : faktor aktual (misalnya kehilangan pasangan, pindah jauh dari
keluarga atau teman-teman), faktor persepsi (misalnya perubahan pola fikir seperti depresi).
8. Aspek psikologis : ketidakberdayaan dalam belajar, depresi

- Faktor eksternal :
Program terapeutik, karakteristik tempat tinggal dan staf, pemberian askep, hambatan-hambatan,
dan kebijakan institusi.

Manifestasi klinis
1. Penurunan konsumsi oksigen maksimum: intoleransi ortostatik
2. Penurunan fungsi ventrikel kiri; peningkatan denyut jantung, sinkop
3. Penurunan curah jantung: penurunan toleransi latihan
4. Penurunan volume sekuncup: penurunan kapasitas kebugaran
5. Peningkatan katabolisme protein: penurunan massa otot tubuh, atrofi maskuler, penurunan
kekuatan otot
6. Peningkatan pembuangan kalsium: osteoporosis
7. Perlambatan fungsi usus: konstipasi
8. Pengurangan miksi: penurunan evakuasi kandung kemih
9. Gangguan metabolisme glukosa: intoleransi glukosa
10. Penurunan ukuran thoraks: penurunan kapasitas fungsional residual
11. Penurunan aliran darah pulmonal: atelektasis, peningkatan pH
12. Penurunan cairan tubuh total: penurunan volume plasma, penuruna keseimbangan natrium
13. Gangguan sensori: perubahan kognisi, depresi dan ansietas, perubahan persepsi
14. Gangguan tidur: bermimpi di siang hari, halusinasi

Penatalaksanaan
1. Pencegahan primer
Latihan sangat bermanfaat bagi lansia yang sehat maupun untuk mereka yang mengalami
masalah fisik atau mental yang kronik. Aktifitas dan latihan yang dianjurkan yang dapat
meningkatkan energi, mempertahankan mobilitas, dan meningkatkan kemampuan kardiovaskuler
dan pulmonal. Lansia mengalami peningkatan status kesehatan yang signifikan dengan aktivitas
fisik tingkat rendah sampai sedang dalam waktu luangnya ketika aktivitas-aktifitas ini di
praktikkan secara teratur dan dengan durasi yang dan intensitas yang sesuai, tetapi manfaat
utama dari latihan adlah pemeliharaan dan peningkatan fungsi fisik, mental, emosional, dan
sosial terhadap diri sendiri dan kemandirian yang lebih besar.
2. Hambatan terhadap latihan
Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi sosial yang terjadi ketika teman-teman dan
keluarga telsh meninggal, perilaku gaya hidup tertentu, depresi, gangguan tidur, kurangnya
transportasi, dan kurangnya dukungan. Hambatan lingkungan termasuk kurangnya tempat yang
aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung.
3. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi.
Diagnosis keperwatan yang dihubungkan dengan pencegahan sekunder adalah gangguan
mobilitas fisik.
4. Pencegahan tersier
Upaya-upaya rehabilitaif untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya
multidisiplin yang terdiri dari perawat, dokter, ahli fisioterapi, dan terapi okupasi, seorang ahli
gizi, aktifis sosial dan keluarga serta teman-teman.

Pengkajian
 Kemunduran muskuluskletal: penurunan tonus, kekuatan, ukuran, dan ketahanan otot, rentang
gerak sendi dan kekuatan skeletal
 Kemunduran kardiovaskuler: tanda-tanda tromboflebitis (eritema, edema, nyeri tekan, dan tanda
homans positif).
 Kemunduran respirasi: atelektasis, pneumonia, peningkatan temperatur dan denyut jantung,
perubahan pergerakan dada, perkusi bunyi nafas, dan gas darah arteri
 Perubahan- perubahan integumen: reaksi inflamasi
 Perubahan-perubahan fungsi urinaria: berkemjh sedikit dan sering, distensi abdomen bagian
bawah, dan bagian atas kandung kemih yang tidak dapat di raba
 Perubahan-perubahan gastrointestinal: konstipasi, rasa tidak nyaman pada abdomen bagian
bawah, rasa penuh, anoreksia, mual, muntah, kelemahan dan sakit kepala
 Faktor-faktor lingkungan: di dalam rumah, kamar mandi tanpa pegangan, karpet yang lepas,
penerangan yang tidak adekuat, tangga yang licin, dan tempat duduk toilet yang rendah dapat
menurunkan mobilitas klien
 Mengkaji fungsional klien
A.KATZ Indeks
Termasuk katagori yang mana:Mandiri dalam makan, kontinensia (BAB, BAK), menggunakan
pakaian, pergi ke toilet, berpindah,dan mandi.
Mandiri semuanya kecuali salah satu dari fungsi diatas.
Mandiri, kecuali mandi, dan satu lagi fungsi yang lain.
Mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan satu lagi fungsi yang lain.
Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, dan satu
Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu fungsi yang lain.
Ketergantungan untuk semua fungsi diatas.
Keterangan:
Mandiri: berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain. Seseorang
yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi, meskipun dianggap
mampu.
B. Indeks ADL BARTHEL (BAI)
NO FUNGSI SKOR KETERANGAN
1 Mengendalikan rangsang pembuangan 0 Tak terkendali/tak teratur (perlu
tinja 1 pencahar).
2 Kadang-kadang tak terkendali (1x
seminggu).
Terkendali teratur.
2 Mengendalikan rangsang berkemih 0 Tak terkendali atau pakai kateter
1 Kadang-kadang tak terkendali (hanya
2 1x/24 jam)
Mandiri
3 Membersihkan diri (seka muka, sisir 0 Butuh pertolongan orang lain
rambut, sikat gigi) 1 Mandiri
4 Penggunaan jamban, masuk dan keluar 0 Tergantung pertolongan orang lain
(melepaskan, memakai celana, 1 Perlu pertolonganpada beberapa kegiatan
membersihkan, menyiram) 2 tetapi dapat mengerjakan sendiri
beberapa kegiatan yang lain.
Mandiri
5 Makan 0 Tidak mampu
1 Perlu ditolong memotong makanan
2 Mandiri
6 Berubah sikap dari berbaring ke duduk 0 Tidak mampu
1 Perlu banyak bantuan untuk bias duduk
2 Bantuan minimal 1 orang.
3 Mandiri
7 Berpindah/ berjalan 0 Tidak mampu
1 Bisa (pindah) dengan kursi roda.
2 Berjalan dengan bantuan 1 orang.
3 Mandiri
8 Memakai baju 0 Tergantung orang lain
1 Sebagian dibantu (mis: memakai baju)
2 Mandiri.
9 Naik turun tangga 0 Tidak mampu
1 Butuh pertolongan
2 Mandiri
10 Mandi 0 Tergantung orang lain
1 Mandiri
TOTAL SKOR
Skor BAI :
20 : Mandiri
12-19 : Ketergantungan ringan
9-11 : Ketergantungan sedang
5-8 : Ketergantungan berat
0-4 : Ketergantungan total
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan hubungan tulang.
CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan
dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. Digunakan untuk
mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi.
MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus, noninvasive, yang
menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan computer untuk memperlihatkan
abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak melalui tulang. Dll.
Pemeriksaan Laboratorium:
Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑, kreatinin dan SGOT ↑ pada
kerusakan otot.
MASALAH KEPERAWATAN
Kerusakan mobilitas fisik
Gangguan rasa nyaman nyeri
Resiko terhadap kerusakan integritas kulit
Gangguan perfusi jaringan perifer
Kurang perawatan diri
Resiko terhadap cidera
Resiko terjadi infeksi
konstipasi
Intervensi keperwatan
 Kontraksi otot isometric adalah untuk memepertahankan kekuatan otot dan mobilitas dalam
keadaan berdiri
 Kontraksi otot isotonic adalah untuk mempertahankan kekuatan otot-otot dan tulang
 Latihan kekuatan adalah untuk meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah
kehilangan densitas tulang dan kandungan mineral total dalam tubuh
 Latihan aerobic
 Latihan rentang gerak adalah latihan aktif dapat menbantu fleksibilitas sendi dan kekuatan otot
Daftar pustaka
Maryam R Siti,dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika
Tamher S. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika
Stochlager L Jaime. 2008. Asuhan Keperawatan Geriatrik. Jakarta: EGC
Stanley Mickey. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC