You are on page 1of 9

BAHAN BELAJAR MINI CEX (aprila citra dara)

Pengelolaan Pre-operatif

A. Informed Concent
Informed Concent merupakan proses komunikasi antara dokter dan
pasien tentang kesepakatan tindakan medis yang akan dilakukan dokter
terhadap pasien. Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan formulir
Informed Consent secara tertulis. Hal ini didasari atas hak seorang pasien
atas segala sesuatu yang terjadi pada tubuhnya serta tugas utama dokter
dalam melakukan penyembuhan terhadap pasien. Tujuan pemberian
informasi secara lengkap mengenai penyakit serta tindakan medis yang
akan dilakukan adalah agar pasien bisa menentukan sendiri keputusannya
sesuai dengan pilihannya sendiri.

B. Anamnesa

Anamnesis dapat diperoleh dengan bertanya langsung pada pasien atau


melalui keluarga pasien. Yang harus diperhatikan pada anamnesis :
1. Identifikasi pasien, misalnya : nama,umur, alamat, pekerjaan, dll.
2. Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin dapat
menjadi penyulit dalam anesthesia, antara lain penyakit alergi, diabetes mellitus,
penyakit paru kronik (asma bronchial, pneumonia, bronchitis), penyakit jantung
dan hipertensi (seperti infark miokard, angina pectoris, dekompensasi kordis),
penyakit susunan saraf (seperti stroke, kejang, parese, plegi, dll), penyakit hati,
penyakit ginjal, penyakit ganguan perdarahan (riwayat perdarahan memanjang).
3. Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan dan mungkin
menimbulkan intereaksi (potensiasi, sinergis, antagonis dll) dengan obat-obat
anestetik. Misalnya, obat anti hipertensi, obat-obat antidiabetik, antibiotik
golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung (seperti digitalis, diuretika),
monoamino oxidase inhibitor, bronkodilator. Keputusan untuk melanjutkan
medikasi selama periode sebelum anestesi tergantung dari beratnya penyakit
dasarnya. Biasanya obat tetapi mengalami perubahan dosis, diubah menjadi
preparat dengan masa kerja lebih singkat atau dihentikan untuk sementara waktu.
Akan tetapi, secara umum dikatakan bahwa medikasi dapat dilanjutkan sampai
waktu untuk dilakukan pembedahan.
4. Alergi dan reaksi obat.
Reaksi alergi kadang-kadang salah diartikan oleh pasien dan kurangnya
dokumentasi sehingga tidak didapatkan keterangan yang memadai. Beratnya
berkisar dari asimptomatik hingga reaksi anfilaktik yang mengancam kehidupan,
akan tetapi seringkali alergi dilaporkan hanya karena intoleransi obat-obatan.
Pada evaluasi pre operatif dicatat seluruh reaksi obat dengan penjelasan tentang
kemungkinan terjadinya respon alergi yang serius, termasuk reaksi terhadap
plester, sabun iodine dan lateks. Jika respon alergi terlihat, obat penyebab tidak
diberikan lagi tanpa tes imunologik atau diberi terapi awal dengan antihistamin,
atau kortikosteroid.
5. Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami diwaktu yang lalu, berapa
kali dan selang waktunya. Apakah pasien mengalami komplilkasi saat itu seperti
kesulitan pulih sadar, perawatan intensif pasca bedah.
6. Riwayat keluarga.
Riwayat anestesi yang merugikan atau membayakan pada keluarga yang
lain sebaiknya juga dieveluasi. Wanita pada usia produktif sebaiknya ditanyakan
tentang kemungkinan mengandung. Pada kasus yang meragukan, pemeriksaan
kehamilan preoperative merupakan suatu indikasi.
7. Riwayat sosial yang mungkin dapat mempengaruhi jalannya anestesi seperti
perokok berat (diatas 20 batang perhari) dapat mempersulit induksi anestesi
karena merangasang batuk, sekresi jalan napas yang banyak, memicu atelektasis
dan pneumenia pasca bedah. Rokok sebaiknya dihentikan minimal 24 jam
sebelumnya untuk menghindari adanya CO dalam darah. Pecandu alkohol
umumnya resisten terhadap obat-obat anestesi khususnya golongan barbiturat.
Peminum alkohol dapat menderita sirosis hepatic. Meminum obat-obat
penenang atau narkotik.
8. Makan minum terakhir (khusus untuk operasi emergensi). Untuk kasus
elektif pasien diharuskan puasa 12 jam sebelum di lakukan anatesi dengan
tujuan untuk mencegah risiko aspirasi.

C. Pemeriksaan Fisik
Perhatian khusus dilakukan untuk evaluasi jalan napas, jantung, paru-
paru dan pemeriksaan neurologik. Jika ingin melaksanakan teknik anestesi
regional maka perlu dilakukan pemeriksaan extremitas dan punggung.
Pemeriksaan fisik sebaiknya terdiri dari :
1. Keadaan umum : gelisah, takut, kesakitan, malnutrisi, obesitas.
2. Tanda-tanda vital
 Tinggi dan berat badan perlu untuk penentuan dosis obat terapeutik
dan pengeluaran urine yang adekuat selama operasi.
 Tekanan darah sebaiknya diukur dari kedua lengan dan tungkai
(perbedaan bermakna mungkin memberikan gambaran mengenai
penyakit aorta thoracic atau cabang-cabang besarnya).
 Denyut nadi pada saat istirahat dicatat ritmenya, perfusinya (berisi)
dan jumlah denyutnya. Denyutan ini mungkin lambat pada pasien
dengan pemberian beta blok dan cepat pada pasien dengan demam,
regurgitasi aorta atau sepsis. Pasien yang cemas dan dehidrasi sering
mempunyai denyut nadi yang cepat tetapi lemah.
 Respirasi diobservasi mengenai frekuensi pernapasannya, dalamnya
dan pola pernapasannya selama istirahat.
 Suhu tubuh (Febris/ hipotermi).
 Visual Aanalog Scale (VAS).
Skala untuk menilai tingkat nyeri

3. Kepala dan leher


 Mata : anemis, ikterik, pupil (ukuran, isokor/anisokor, reflek
cahaya).
 Hidung : polip, septum deviasi, perdarahan.
 Gigi : gigi palsu, gigi goyang, gigi menonjol, lapisan tambahan
pada gigi, kelainan ortodontik lainnya.
 Mulut : Lidah pendek/besar, TMJ (buka mulut … jari), Pergerakan
(baik/kurang baik), sikatrik, fraktur, trismus, dagu kecil.
 Tonsil : ukuran (T1-T3), hiperemis, perdarahan
 Leher : ukuran (panjang/pendek), sikatrik, masa tumor, pergerakan
leher (mobilitas sendi servical) pada fleksi ektensi dan ritasi, trakea
(deviasi), karotik bruit, kelenjar getah bening. Dalam prediksi
kesulitan intubasi sering di pakai 8T (Teet, Tongue, Temporo
mandibula joint, Tonsil, Torticolis, Tiroid notch/TMD, Tumor,
Trakea)
4. Thoraks
 Jantung. Auskultasi jantung mungkin ditemukan murmurs (bising
katup), irama gallop atau perikardial rub.
 Paru-paru.
Inspeksi Bentuk dada (Barrel chest, pigeon chest,
pectus excavatum, kifosis, skoliosis)
Frekuensi (bradipnue/takipnue) Sifat
pernafasan ( torakal, torako
abdominal/abdominal torako), irama
pernafasan (reguler/ireguler, cheyne stokes,
biot), Sputum (purulen, pink frothy),
Kelainan lain (stridor, hoarseness/serak,
sindroma pancoas)
Palpasi Vocal fremitus (normal, mengeras,
melemah)
Auskulatasi Bunyi nafas pokok ( vesikuler, bronchial,
bronkovesikuler, amporik), bunyi nafas
tambahan (ronchi kering/ wheezing, ronchi
basah/rales, bunyi gesekan pleura,
hippocrates succussion.
Perkusi Sonor, hipersonor, pekak, redup.
5. Abdomen
Pristaltik (kesan normal/meningkat/menurun), hati dan limpa
(teraba/tidak, batas, ukuran, per-mukaan), distensi, massa atau asites (dapat
menjadi predisposisi untuk regurgitasi).
6. Urogenitalia.
Kateter (terpasang/tidak), urin [volume : cukup (0,5-1 cc/jam),
anuria (< 20 cc/24 jam), oliguria (25 cc/jam atau 400 cc/24jam), Poliuria (>
2500 cc/24 jam)], kualitas (BJ, sedimen), tanda-tanda sumbatan saluran
kemih (seperti kolik renal).
7. Muskulo Skletal
Edema tungkai, fraktur, gangguan neurologik /kelemahan otot
(parese, paralisis, neuropati perifer, distropi otot).

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin preoperatif sekarang diminimalisasi,
pemeriksaan tersebut sudah seharusnya disesuaikan dengan keadaan masing-
masing pasien.
The National Institute for Clinical Excellence telah membuat pedoman dan
sebagian besar rumah sakit memiliki versi pedoman ini sendiri-sendiri. Hal-hal
berikut inilah yang harus dijadikan sebagai pedoman.
1. Hemoglobin.
Pasien yang sehat yang akan menjalani pembedahan elektif dengan
perkiraan kehilangan darah < 10% dari total volume darah tidak
memerlukan penilaian hemoglobin. Penilaian Hemoglobin diperlukan
pada neonatus < 6 bulan, wanita > 50 tahun, pria > 65 tahun, penyakit
Sickle Cell, malignansi, kelainan hematologis, kehilangan darah
preoperative, trauma, malnutrisi, penyakit sistemik lainnya dan ASA 3 atau
di atasnya.
2. Ureum dan elektrolit
Tidak diindikasikan pada pasien sehat yang akan menjalani operasi
elektif. Diindikasikan pada pasien > 65 tahun, penyakit ginjal, diabetes,
hipertensi, penyakit jantung iskemik/vaskuler, penyakit liver. Pasien yang
dalam pengobatan digoksin, diuretik, steroid, ACE inhibitor dan agen anti
aritmia. Koreksi kelainan elektrolit yang cepat sebaliknya dapat membuat
pasien yang stabil menjadi bermasalah, seperti demielinisasi pontin sentral
saat koreksi hiponatremi, dan aritmia pada saat koreksi hipokalemia. Bila
mungkin, operasi seharusnya ditunda dan kelainan elektrolit dikoreksi secara perlahan-
lahan (kuranglebih 2-3 hari untuk hiponatremia).
3. Pembekuan
Diindikasan pada pasien dengan ggguan perdarahan yang sudah
diketahui atau koagulopati, pasien dengan terapi antikoagulan, tranfusi
darah saat ini menggantikan > 20% volume darah total, infus koloid atau
substansi plasma saat ini menggantikan > 20% volume darah total (volume
darah berkisar antara 70-80 ml/kg BB), memar yang diketahui sebabnya, kehilangan
darah dan atau penurunan hemoglobin yang tidak diketahui penyebabnya,
hipersplenisme, gangguan liver, gagal ginjal.
4. Elektrokardiogram
Diindikasikan pada pria > 40 atau wanita > 50, penyakit
kardiovaskuler, penyakit ginjal, diabetes, ketidakseimbangan elektrolit,
aritmia, pasien yang diterapi dengan antihipertensi, antiaritmia, dan
antiangina. Perubahan pada EKG terkini ( dalam waktu 3 bulan) harus
dianggap signifikandan perlu pemeriksaan lebih lanjut.
5. Foto rontgen thoraks
Diindikasikan pada pasien dengan penyakit dada, penyakit
kardiovaskuler yang membatasi aktivitas, perokok lama dengan gejala
penyakit dada, penyakit keganasan.
6. Pemeriksaan lain
Pemeriksaan lain mungkin diperlukan untuk penilaian lengkap
terhadap suatu penyakit yang berbahaya, efektivitas suatu pengobatan, dan
apakah pasien dalamkondisi medis optimum serta resiko-resiko lain yang ada pada
pasien. Pemeriksaannya dapat meliputi test fungsi paru, analisa gas darah
(penyakit paru dengan toleransi aktivitas yang terbatas), echocardiografi
(penyakit jantung dengan indikasi fungsi terbatas), EKG (penyakit arteri
koroner dengan angina), enzim-enzim hepar (pada alkoholisme, penyakit
liver), gula darah (diabetes), fungsi endokrin (hipo/hipertiroidisme).
Beberapa pemeriksaan juga diperlukan sebagai dasar untuk
membandingkan preoperative dengan intra dan post operatif (misalnya
analisa gas darah).

E. Persiapan Preoperatif
Alasan puasa sebelum operasi yaitu untuk meminimalkan isi perut dan
adanya resiko yang berhubungan dengan regurgitasi dan aspirasi paru
setelah induksi anestesi. Meskipun puasa cukup, beberapa pasien masih beresiko
muntah dan mengalami aspirasi paru, beberapa pasien mempunyai kemampuan
pengosongan lambung yang lambat atau penurunan tonus sfingter esofagus
yang lemah. Pada operasi elektif, umumnya :
 Pada orang dewasa, puasa makan makanan padat 6 jam sebelum operasi.
Mereka boleh sarapan makanan ringan jika operasi dijadwalkan siang.
 Anak dan balita puasa boleh makan atau minum susu 6 jam sebelum
operasi.
 Semua pasien tidak boleh minum sejak 2 jam sebelum operasi
 Bayi diperbolehkan menyusui ASI atau formula sampai 4 jam sebelum operasi.

F. Premedikasi
Adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesi dengan tujuan
melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi, diantaranya:
1. Meredakan kecemasan dan ketakutan
Bisa digunakan diazepam peroral 10-15 mg beberapa jam sebelum induksi
anesthesia. Jika disertai nyeri karena penyakit dapat diberikan opioid,
misalnya petidin 50 mg IM.
2. Memperlancar induksi anestesia.
3. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus.
4. Meminimalkan jumlah obat anestetik.
5. Mengurangi mual-muntah pasca bedah.
Sering ditambah suntikan intramuscular untuk dewasa dropedirol 2,5-5 mg
atau ondansentron 2-4 mg.
6. Menciptakan amnesia.
7. Mengurangi isi cairan lambung.
8. Mengurangi reflex yang membahayakan.

G. Perencanaan Anestesi
Rencana anestesi diperlukan untuk menyampaikan strategi penanganan
anestesi secara umum. Secara garis besar komponen dari rencana anestesi
adalah :
1. Ringkasan tentang anamnesis pasien, dan hasil-hasil pemeriksaan fisik
sehubungan dengan penatalaksanaan anastesi, buat dalam daftar masalah,
satukan bersamaan dengan beberapa daftar masalah yang digunakan oleh
dokter yang merawat.
2. Perencanaan teknik anestesi yang akan digunakan termasuk tehnik-tehnik
khusus (seperti intubasi fiberoptik, monitoring invasif).
3. Perencanaan penanganan nyeri post operasi bila perlu.
4. Tindakan post operatif khusus jika terdapat indikasi (misalnya perawatan di
ICU).
5. Jika ada indikasi buat permintaan evaluasi medik lebih lanjut.
6. Pernyataan tentang resiko-resiko yang ada, informed consent, dan
pernyataan bahwa semua pertanyaan telah dijawab.
7. Klasifikasi status fisik dan penilaian singkat.

H. Menentukan Prognosis
Pada kesimpulan evaluasi preanestesi setiap pasien ditentukan kalsifikasi
status fisik menurut American Society of Anestesiologist (ASA). Hal ini
merupakan ukuran umum keadaan pasien. Klasifikasi status fisik menurut
ASA adalah sebagai berikut :
 ASA 1 : Pasien tidak memiliki kelainan organik maupun sistemik selain
penyakit yang akan dioperasi.
 ASA 2 : Pasien yang memiliki kelainan sistemik ringan sampai dengan
sedang selain penyakit yang akan dioperasi. Misalnya diabetes mellitus
yang terkontrol atau hipertensi ringan.
 ASA 3 : Pasien memiliki kelainan sistemik berat selain penyakit yang
akan dioperasi, tetapi belum mengancam jiwa. Misalnya diabetes
mellitus yang tak terkontrol, asma bronkial, hipertensi tak terkontrol.
 ASA 4 : Pasien memiliki kelainan sistemik berat yang mengancam jiwa
selain penyakit yang akan dioperasi. Misalnya asma bronkial yang
berat, koma diabetikum
 ASA 5 : Pasien dalam kondisi yang sangat jelek dimana tindakan
anestesi mungkin saja dapat menyelamatkan tapi risiko kematian tetap
jauh lebih besar. Misalnya operasi pada pasien koma berat.
 ASA 6 : Pasien yang telah dinyatakan telah mati otaknya yang mana
organnya akan diangkat untuk kemudian diberikan sebagai organ donor
bagi yang membutuhkan.
 Untuk operasi darurat, di belakang angka diberi huruf E
(emergency) atau D (darurat).