You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit inflamasi pada sistem pencernaan sangat banyak, diantaranya appendisitis dan
divertikular disease. Appendisitis adalah suatu penyakit inflamasi pada apendiks diakibanya
terbuntunya lumen apendiks. Divertikular disease merupakan penyakit inflamasi pada
saluran cerna terutama kolon. Keduanya merupakan penyakit inflamasi tetapi penyebabnya
berbeda. Appendisitis disebabkan terbuntunya lumen apendiks. dengan fecalit, benda asing
atau karena terjepitnya apendiks, sedang diverticular disebabkan karena massa feces yang
terlalu keras dan membuat tekanan dalam lumen usus besar sehingga membentuk tonjolan-
tonjolan divertikula dan divertikula ini yang kemudian bila sampai terjepit atau terbuntu
akan mengakibatkan diverticulitis
Insiden apendisitis akut lebih tinggi pada negara maju dari pada Negara berkembang, namun
dalam tiga sampai empat dasawarsa terakhir menurun secara bermakna, yaitu 100 kasus
tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini mungkin disebabkan
perubahan pola makan, yaitu Negara berkembang berubah menjadi makanan kurang serat.
Menurut data epidemiologi apendisitis akut jarang terjadi pada balita, meningkat pada
pubertas, dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal 20-an, sedangkan angka ini
menurun pada menjelang dewasa. Sedangkan insiden diverticulitis lebih umum terjadi pada
sebagian besar Negara barat dengan diet rendah serat. Lazimnya di Amerika Serikat sekitar
10%. Dan lebih dari 50% pada pemeriksaan fisik orang dewasa pada umur lebih dari 60
tahun menderita penyakit ini.
Apendisitis dan divertikulitis termasuk penyakit yang dapat dicegah apabila kita mengetahui
dan mengerti ilmu tentang penyakit ini. Seorang perawat memiliki peran tidak hanya sebagai
care giver yang nantinya hanya akan bisa memberikan perawatan pada pasien yang sedang
sakit saja. Tetapi, perawat harus mampu menjadi promotor, promosi kesehatan yang tepat
akan menurunkan tingkat kejadian penyakit ini.
Sehingga makalah ini di susun agar memberi pengetahuan tentang penyakit apendisitis dan
diverticulitis sehingga mahasiswa calon perawat dapat lebih mudah memahami tentang
pengertian, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, asuhan keperawatan, penatalaksanaan
medis pada pasien dengan apendisitis dan diverticulitis.

1
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Menjelaskan konsep dan proses asuhan keperawatan pada apendisitis.
2. Tujuan khusus
 Mengidentifikasi definisi dari apendisitis
 Mengidentifikasi anatomi dan fisiologi apendisitis
 Mengidentifikasi etiologi dari apendisitis
 Mengidentifikasi patofisiologi dari apendisitis
 Mengidentifikasi manifestasi klinis dari apendisitis
 Mengidentifikasi proses keperawatan dari apendisitis

2
BAB II

KONSEP DASAR
A. Definisi
Appendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat
dibawah katup ileocecal (Brunner dan Sudarth, 2009).
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan
rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat.
Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat
sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan
penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat,
angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing
yang terinfeksi hancur.
Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat
sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan
penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi,
dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur.
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan
rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2010).
Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat
sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan
penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi,
dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur.
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks).
Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa
pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian
awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan
terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya
banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir.

B. Etiologi
Appendiksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh hyperplasia Folikel
lympoid Fecalit, benda asingstriktur karena Fibrasi karena adanya peradangan sebelumnya
atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang memproduksi mukosa
mengalami bendungan. Namun elastisitas dinding appendik mempunyai keterbatasan

3
sehingga menyebabkan tekanan intra lumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan
menghambat aliran limfe yang akan menyebabkan edema dan ulserasi mukosa. Pada saat
inilah terjadi Appendiksitis akut local yang ditandai oleh adanya nyeri epigastrium.
Penyebab lain yang muncul :
 Adanya benda asing seperti biji – bijian, Seperti biji Lombok, biji jeruk dll
 Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus.
 Laki – laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun (remaja
dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
 Tergantung pada bentuk appendiks
 Appendik yang terlalu panjang
 Messo appendiks yang pendek
 Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
 Kelainan katup di pangkal appendiks

C. Antomi Fisiologi
1. Anatomi
Appendix adalah suatu pipa tertutup yang sempit yang melekat pada secum (bagian awal
dari colon). Bentuknya seperti cacing putih. Secara anatomi appendix sering disebut juga
dengan appendix vermiformis atau umbai cacing. Appendix terletak di bagian kanan bawah
dari abdomen. Tepatnya di ileosecum dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli. Muara
appendix berada di sebelah postero-medial secum.
Seperti halnya pada bagian usus yang lain, appendix juga mempunyai mesenterium.
Mesenterium ini berupa selapis membran yang melekatkan appendix pada struktur lain
pada abdomen. Kedudukan ini memungkinkan appendix dapat bergerak. Selanjutnya ukuran
appendix dapat lebih panjang daripada normal. Gabungan dari luasnya mesenterium dengan
appendix yang panjang menyebabkan appendix bergerak masuk ke pelvis (antara organ-
organ pelvis pada wanita). Hal ini juga dapat menyebabkan appendix bergerak ke belakang
colon yang disebut appendix retrocolic. Appendix dipersarafi oleh saraf parasimpatis dan
simpatis. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n. vagus yang mengikuti a.
mesenterica superior dan a. appendicularis. Sedangkan persarafan simpatis berasal dari n.
thoracalis X.

4
2. Fisiologi
Fungsi appendix pada manusia belum diketahui secara pasti. Diduga berhubungan dengan
sistem kekebalan tubuh. Lapisan dalam appendix menghasilkan lendir. Lendir ini secara
normal dialirkan ke appendix dan secum. Hambatan aliran lendir di muara appendix
berperan pada patogenesis appendicitis.
Appendiks menghasilkan lendir 1 – 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung amilase,
erepsin dan musin. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam bumen dan selanjutnya
mengalir ke caecum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patofisiologi
appendiks.
1. Pergerakan Usus Halus
Bila bagian tertentu usus halus teregang oleh kimus, peregangan dinding usus
menyebabkan kontraksi konsentris local dengan jarak interval tertentu sepanjang usus
dan berlangsung sesaat dalam semenit. Kontraksi ini membagi usus menjadi segmen-
segmen ruang yang mempunyai bentuk rantai sosis. Bila satu rangkaian kontraksi
segmentasi berelaksasi maka timbul rangkaian baru, kontraksi terutama pada titik baru
di antara kontraksi sebelumnya. Frekuensi kontraksi maksimum pada duodenum dan
jejunum 12 kontraksi per menit dan pada ileum 8 sampai 9 kontraksi per menit.
Kontraksi segmentasi menjadi sangat lemah bila aktivitas perangsangan system saraf
enteric dihambat oleh atropine.
a. Gerakan propulsive
Kimus didorong melalui usus halus oleh gerakan peristaltic. Ini dapat terjadi pada
bagian usus manapun, dan bergerak menuju anus dengan kecepatan 0,5 sampai 2,0
cm/detik, lebih cepat di bagian usus proksimal daripada distal. Pengaturan peristaltic
dilakukan oleh sinyal saraf dan hormone. Aktivitas usus meningkat setelah makan
karena timbul reflex gastroenterik. Factor hormone meliputi gastrin, CCK, insulin,
motilin dan serotonin, semuanya meningkatkan motilitas usus dan disekresikan
selama berbagai fase pencernaan makanan. Sebaliknya, sekretin dan glucagon
menghambat motilitas usus. Gerak peristaltic secara normal bersifat halus dan lemah.
Gerak yang sangat kuat terjadi pada diare infeksi yang berat akibat iritasi kuat
mukosa usus.
b. Pergerakan Kolon
Pergerakan normal dari kolon sangat lambat, pergerakannya masih mempunyai
karakteristik yang serupa dengan pergerakan usus halus.

5
c. Gerakan mencampur (haustrasi)
Pada setiap konstriksi kira kira 2,5 cm otot sirkuler akan berkontraksi, kadang
menyempitkan kolon sampai hamper tersumbat. Pada saat yang sama, otot
longitudinal kolon yang terkumpul menjadi taenia cli akan berkontraksi. Kontraksi
gabungan ini menyebabkan bagian usus besar yang tidak terangsang menonjol keluar
memberikan bentuk serupa kantung (haustrasi).
d. Gerakan mendorong (pergerakan massa)
Pergerakan massa adalah jenis peristaltik yang dimodifikasi yang ditandai oleh
rangkaian peristiwa sebagai berikut : pertama, timbul sebuah cicicn konstriksi sebagai
respon dari tempat yang teregang atau teriritasi di kolon, biasanya pada kolon
transversum. Kemudian dengan cepat kolon sepanjang 20 cm atau lebih pada bagian
distal cincin konstriksi tadi akan kehilangan haustrasinya an justru berkontraksi
sebagai satu unit, mendorong maju materi feses pada segmen ini sekaligus untuk
lebih menuruni kolon.

D. Patofisologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel
limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau
neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan.
Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai
keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang
meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis
bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi apendisitis akut fokal yang
ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding.
Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga
menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif
akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti
dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah
rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.

6
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat
apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada
anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih
tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang
memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi
karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2007).

WOC

7
E. Menifestasi Klinis
1. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan, mual, muntah
dan hilangnya nafsu makan.
2. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekan.
3. Nyeri tekan lepas dijumpai.
4. Terdapat konstipasi atau diare.
5. Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.
6. Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
7. Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter.
8. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis.
9. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial
menyebabkan nyeri kuadran kanan.
10. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi
akibat ileus paralitik.
11. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien mungkin tidak
mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.

F. Komplikasi
1. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di kuadran
kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang
menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau
mikroperforasi ditutupi oleh omentum
2. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke
rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi
meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus
dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari
38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama
polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun
mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
3. Peritononitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang
dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada

8
permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik
berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit
mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa
sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP). Pada pemeriksaan
darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan
neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah
terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein.
Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80% dan 90%.
2. Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography Scanning (CT-
scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi
inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang
menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta
adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan
spesifisitas yaitu 85% dan 92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100%
dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%.
3. Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran
kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah.
4. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati,
kandung empedu, dan pankreas.
5. Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa adanya
kemungkinan kehamilan.
6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan Barium
enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma
colon.
7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Apendisitis, tetapi
mempunyai arti penting dalam membedakan Apendisitis dengan obstruksi usus halus
atau batu ureter kanan.

9
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita Apendisitis meliputi penanggulangan
konservatif dan operasi.
a. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai
akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik berguna
untuk mencegah infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi, sebelum operasi
dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik
b. Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka tindakan yang dilakukan
adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). Penundaan appendektomi
dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses
appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).
c. Pencegahan Tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih
berat seperti komplikasi intra-abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses
intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam
fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan
pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intra-
abdomen.

10
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Meliputi : Nama, umur, alamat, agama, pekerjaan, suku/ bangsa, jenis kelamin,
penanggung jawab.
 Biasanya pada penyakit apendiksitis lebih banyak diderita oleh laki - laki dan
perempuan.
 Biasanya pada penyakit apendiksitis Usia 10-20 tahun merupakan usia yang paling
sering mengalami penyakit radang usus buntu atau apendisitis. Walaupun lebih
sering diderita oleh remaja antara umur 10-20 tahun, tidak menutup kemungkinan
penyakit radang usus buntu ini dapat menyerang siapa saja.

2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya penderita penyakit apendiksitis mengeluh, nyeri perut dikuadran kanan
bawah, mual, muntah, anorexia dan demam. Pada klien post operasi ditemukan
nyeri pada luka operasi, klien merasa lemaah, pemulihan kesadaran.
b. Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya penderita penyakit apendiksitis bukan merupakan penyakit keturunan atau
penyakit menular seperi penyakit lainya.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya penderita penyakit apendiksitis dahulunya kemungkinan klien pernah
menderita atau mengalami gangguan pencernaan, kebiasaan klien kurang
mengkonsumsi makanan yang berserat, sering mengalami gangguan BAB seperti
konstipasi.

3. Pola fungsi kesehatan menurut Gordon


 Pola persepsi
Biasanya pada penyakit apendiksitis memiliki kebiasaan merokok, penggunaan
obat-obatan, alkohol dan kebiasaan olah raga (lama frekwensinya), karena dapat
mempengaruhi lamanya penyembuhan luka.
 Pola nutrisi dan metabolisme

11
Klien biasanya akan mengalami gangguan pemenuhan nutrisi akibat pembatasan
intake makanan atau minuman sampai peristaltik usus kembali normal.
 Pola Eliminasi
Pada pola eliminasi urine akibat penurunan daya konstraksi kandung kemih, rasa
nyeri atau karena tidak biasa BAK ditempat tidur akan mempengaruhi pola
eliminasi urine. Pola eliminasi alvi akan mengalami gangguan yang sifatnya
sementara karena pengaruh anastesi sehingga terjadi penurunan fungsi.
 Pola aktifitas
Aktifitas dipengaruhi oleh keadaan dan malas bergerak karena rasa nyeri, aktifitas
biasanya terbatas karena harus bedrest berapa waktu lamanya setelah
pembedahan.
 Pola Tidur dan Istirahat
Insisi pembedahan dapat menimbulkan nyeri yang sangat sehingga dapat
mengganggu kenyamanan pola tidur klien.
 Pola Persepsi dan konsep diri
Penderita menjadi ketergantungan dengan adanya kebiasaan gerak segala
kebutuhan harus dibantu. Klien mengalami kecemasan tentang keadaan dirinya
sehingga penderita mengalami emosi yang tidak stabil.
 Pola hubungan
Dengan keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak bisa melakukan peran
baik dalam keluarganya dan dalam masyarakat.
penderita mengalami emosi yang tidak stabil.
 Pola Reproduksi seksual
Adanya larangan untuk berhubungan seksual setelah pembedahan selama
beberapa waktu.

4. Pemeriksaan fisik
Dilakukan secara head to toe meliputi:
a. Kedaan umum
kesadaran composmentis,
Tanda vital :
 Tekanan darah meningkat
 Pernafasan cepat
 Nadi cepat

12
 Suhu tinggi
b. Kepala
Inspeksi: kepala tampak simetris, rambut hitam,
Palpasi : tampak tidak ada benjolan
c. Mata
Inspeksi: tampak tidak anemis, bentuknya simetris
Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak terdapat benjolan
d. Kulit
terdapat oedema, turgor kulit menurun, sianosis, pucat.
e. Leher
adanya Nyeri tekan
f. Thoraks
Inspeksi : tampak simetris, tidak ada tarikan dinding dada.
Palpasi : tidak terdapat pembengkakan dan nyeri tekan
Perkusi : tidak terdapat penumpukan cairan pleura
Auskultasi : biasanya terdapat takikardi.
g. Jantung
ada distensi vena jugularis, pucat, edema, TD >110/70mmHg; hipertermi.
h. Abdomen
Inspeksi : perut tampak tidak buncit, terdapat luka post apendiktomi.
Palpasi : nyeri tekan, dan nyeri lepas, dikuadaran kanan bawah.
Perkusi : tidak terdapat cairan dan massa pada abdomen.
Auskultasi: bising usus (+) n: 5-35x/i
i. Ektremitas
ada kesulitan dalam pergerakkan karena proses perjalanan penyakit

5. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang
merupakan tanda adanya infeksi.
 Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca
pembedahan

13
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d agen cedera biologis
2. Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mencerna makanan
3. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif
4. Ansietas b.d perubahan kesehatan

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO. DIAGNOSA NOC NIC


KONTROL NYERI MANAJEMEN NYERI
111 Nyeri akut b.d agen
Indikator : Aktivitas :
cedera biologis
 Mengenali kapan terjadi
 Lakukan pengkajian nyeri
nyeri
secara komprehensif
 Menggambarkan faktor
termasuk lokasi,
penyebab nyeri
karakteristik, durasi,
 Menggunakan
frekuensi, kualitas dan
pencegahan nyeri
faktor presipitasi
 Melaporkan perubahan
gejala nyeri  Observasi reaksi
 Menggunakan analgesik nonverbal dari
 Melaporkan nyeri ketidaknyamanan
terkontrol
 Gunakan teknik
TINGKAT NYERI komunikasi terapeutik
untuk mengetahui
Indikator :
pengalaman nyeri pasien

 Nyeri yang dilaporkan


 Kaji kultur yang
 Panjang nyeri
mempengaruhi respon
 Agitasi
nyeri
 Menyeringit
 Lketegangan otot  Evaluasi pengalaman

 Berkeringat nyeri masa lampau

 Ekspresi wajah
 Evaluasi bersama pasien

14
 Kehilangan nafsu makan dan tim kesehatan lain
tentang ketidakefektifan
TANDA TANDA VITAL
kontrol nyeri masa

Indikator: lampau

 Bantu pasien dan


 Suhu tubuh
keluarga untuk mencari
 Denyut jantung
dan menemukan
 Tingkat pernafasan
dukungan
 Tekanan darah
 Tekanan nadi  Kontrol lingkungan yang
 Kedalaman inspirasi dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan
dan kebisingan

 Kurangi faktor presipitasi


nyeri

 Pilih dan lakukan


penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)

 Kaji tipe dan sumber


nyeri untuk menentukan
intervensi

 Ajarkan tentang teknik


non farmakologi

 Berikan analgetik untuk


mengurangi nyeri

 Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri

15
 Tingkatkan istirahat

 Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil

 Monitor penerimaan
entukan lokasi,
karakteristik, kualitas,
dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat

 Cek instruksi dokter


tentang jenis obat, dosis,
dan frekuensi

 Cek riwayat alergi

 Pilih analgesik yang


diperlukan atau
kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih
dari satu

 Tentukan pilihan
analgesik tergantung tipe
dan beratnya nyeri

 Tentukan analgesik
pilihan, rute pemberian,
dan dosis optimal

 Pilih rute pemberian


secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri secara
teratur

16
 Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali

 Berikan analgesik tepat


waktu terutama saat
nyeri hebat

 Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala (efek samping)

 pasien tentang
manajemen nyeri

PEMBERIAN ANLGESIK
Aktivitas:
 tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas,
dan keparahan nyeri
sebelum mengobati
 cek obat, dosis frekuensi
obat analgesik yang telah
diresepkan
 cek adanya riwayat alergi
 pilih analgesik atau
kombinasikan
 tentukan obat analgesik
yang akan diberikan
 monitor tanda tanda vital
 berikan kenyamanan
 berikan analgesik
tambahan jika perlu
 jalankan tindakan

17
keselamatan pasieen
Ketidakseimbangan STATUS NUTRISI  MANAJEMEN NUTRISI
Nutrisi kurang dari Indikator :  Aktivitas:
kebutuhan tubuh b.d  Asupan gizi
 Kaji adanya alergi
ketidakmampuan  Asupan makanan
makanan
mencerna makanan  Asupan cairan
 Energi  Kolaborasi dengan ahli
 Hidrasi gizi untuk
 Berat badan menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
STATUS MENELAN

 Anjurkan pasien untuk


Indikator:
meningkatkan intake
 Mempertahankan makanan Fe
dimulut
 Anjurkan pasien untuk
 Produksi ludah
meningkatkan protein
 Menangani sekresi di mulut
dan vitamin C
 Refleks menelan
 Penerimaan makanan  Berikan substansi gula
 Mual
 Yakinkan diet yang
 Muntah
dimakan mengandung
tinggi serat untuk
mencegah konstipasi

 Berikan makanan yang


terpilih ( sudah
dikonsultasikan
dengan ahli gizi)

 Ajarkan pasien
bagaimana membuat
catatan makanan
harian.

18
 Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori

 Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi

 Kaji kemampuan
pasien untuk
mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan

 PATAU NUTRISI
 Aktivitas:

 BB pasien dalam batas


normal

 Monitor adanya
penurunan berat
badan

 Monitor tipe dan


jumlah aktivitas yang
biasa dilakukan

 Monitor interaksi anak


atau orangtua selama
makan

 Monitor lingkungan
selama makan

 Jadwalkan
pengobatan dan
tindakan tidak selama
jam makan

19
 Monitor kulit kering
dan perubahan
pigmentasi

 Monitor turgor kulit

 Monitor kekeringan,
rambut kusam, dan
mudah patah

 Monitor mual dan


muntah

 Monitor kadar
albumin, total protein,
Hb, dan kadar Ht

 Monitor makanan
kesukaan

 Monitor pertumbuhan
dan perkembangan

 Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva

 Monitor kalori dan


intake nuntrisi

 Catat adanya edema,


hiperemik, hipertonik
papila lidah dan
cavitas oral.

 Catat jika lidah

20
berwarna magenta,
scarlet

3 Kekurangan volume KESEIMBANGAN CAIRAN


MANAJEMEN CAIRAN
cairan b.d kehilangan
Indikator: aktivitas:
cairan aktif

 Mempertahankan urine  Pantau warna, jumlah dan

 output sesuai dengan frekuensi kehilangan

usia dan BB, BJ urine cairan

normal,
 Observasi khususna
 Tekanan darah, nadi,
terhadap kehilangan
suhu tubuh dalam batas
cairan yang tinggi
normal
elektrolit
 Tidak ada tanda tanda
dehidrasi, Elastisitas  Pantau perdarahan

turgor kulit baik,


 Identifikasi factor
membran mukosa
pengaruh terhadap
lembab, tidak ada rasa
bertambah buruknya
haus yang berlebihan
dehidrasi
 Orientasi terhadap
waktu dan tempat baik  Pantau hasil laboratorium
 Jumlah dan yang relevan dengan
iramapernapasan dalam keseimbangan cairan
batas normal
 Kaji adanya vertigo atau
 Elektrolit, Hb, Hmt
hipotensi postural
dalam batas normal
 pH urin dalam batas  Kaji orientasi terhadap
normal orang, tempat dan waktu
 Intake oral dan
 Cek arahan lanjut klien
intravena adekuat
untuk menentukan apakah
penggantian cairan pada
pasien sakit terminal tepat

21
dilakukan

 Pantau status hidrasi

 Timbang berat badan


setiap hari dan pantau
kecenderungannya

 Pertaruhkan keakuratan
catatan asupan dan
haluaran

PENGURANGAN KECEMASAN
4 Ansietas b.d TINGKAT KECEMASAN
Aktivitas :
perubahan Indikator :
 Gunakan pendekatan yang
kesehatan  Strees berkurang
tenang dan meyakinkan
 Otot tegang
 Nyatakan harapan yang
 Wajah tegang
ada pada pasien
 Meremas tangan
 Jelaskan semua prosedur
 Tidak konsentrasi dengan benar dan tenang
 Cemas yang disampaikan  Dorong keluarga untuk
 Takut yang dismapaikan mendampingi
 Lakukan usapan dada
 Berada di sisi klien
 Puji serta kuatkan klien
 Dorong aktivitas yang
tidak kompetitif
 Berikan informasi faktual

PENINGKATAN KOPING

Aktivitas:

 Bantu pasien dalam

22
mengidentifikasi tujuan
yngg tepat
 Dukung hubungan pasien
 Berikan penilaian dan
diskusikan yang memiliki
tujuan yang baik
 Gunakan pendekatan yang
tenang
 Bantu dalam
mengembangkan penilaian
 Sediakan informasi secara
aktual
 Cari jalan untuk
memahami pasien

23
BAB IV

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing
(apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah,
usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu
dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya
sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti
bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa
mengeluarkan lendir.

B. SARAN
Mahasiswa keperawatan harus benar-benar memahami konsep dasar penyakit
apendisitis ini sebelum benar-benar mempraktekkannya di rumah sakit.

24
DAFTAR PUSTAKA

Burner and suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8.volume 2. Jakarta : EGC.

Perry & Potter, 2006, Fundamental Keperawatan volume 2.Jakarta : EGC.

Elizabeth, J, Corwin. (2009). Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. 2015. NANDA Internasional Nursing Diagnoses: Defenitions &
Clasification, 2015-2017. 10nd ed. Oxford: Wiley Blackwell.

Jhonson, Marion., Meridean Maas. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC). St. Louis: Mosby.

McCloskey, Joanne C., Bullechek, Gloria M. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC). St.
Loui: Mosby.

25