You are on page 1of 2

Bersama Hak Suami Dan Istri

Hak untuk kedua belah pihak setelah menikah adalah aset gabungan dan asumsinya
ayah atau nasab. Untuk aset gabungan, setelah pihak perceraian, aset akan
terpecah. Dalam menjalankan kuasa yang diberikan, pengadilan akan
mempertimbangkan besarnya kontribusi yang dibuat oleh masing-masing pihak,
setiap hutang dan kebutuhan anak-anak di bawah bagian 58 (1) dan (2). Untuk
nasab, chidren milik kedua orang tuanya. Undang-undang ini mengatur bahwa
seorang wanita yang sudah menikah yang melahirkan seorang anak setelah lebih
dari enam bulan qamariah sejak tanggal perkawinan atau dalam waktu empat tahun
qamariah setelah pembubaran pernikahan, wanita tersebut belum menikah
kembali; maka ayah anak-anak diberikan kepada pria yang dinikahinya. Namun,
orang tersebut dapat melepaskan atau membujuk anak tersebut di depan pengadilan
berdasarkan pasal 110.

Perbandingan Hak Pasangan Menurut Hukum Keluarga Islam (IFL)


Seperti yang disebutkan di atas, hak perempuan lebih besar daripada pria yang di
bawah Hukum Keluarga Islam. Ini termasuk hak dalam bentuk aset, non-aset,
perceraian dan lain-lain.Misalnya, di bawah Hukum Keluarga Islam, wanita
dilindungi dari perkawinan paksa meskipun wali mujbir memiliki wewenang untuk
melakukannya. Seorang wanita bisa melibatkan hakim jika wali mujbir menolak
untuk menikahinya. Seorang wanita memiliki hak untuk menolak sebuah
pernikahan yang diajukan kepadanya oleh seorang mujbir wali jika pernikahan
tersebut tidak memenuhi persyaratan hukum Syariah.
Namun, masih ada keluhan dari kelompok perempuan yang merasa bias gender
ada. Ini karena mereka tidak mengerti dengan jelas hak yang diberikan kepada
mereka. Hak yang tidak digunakan oleh perempuan seperti pasal 127 dan 128 yang
telah dianiaya oleh suami mereka.Sebagai gantinya, masyarakat sendiri masih
belum mengetahui bagian yang ada. Oleh karena itu, IFL tidak boleh disalahkan
atau bertanggung jawab karena ketidakpuasan atau ketidaktahuan diri.
Wanita menyalahkan ketentuan yang telah diubah menjadi ketentuan yang tidak
adil. Namun, tujuan amandemennya bertujuan untuk memberikan keadilan dan
kesetaraan antara pasangan terutama perempuan. Ada banyak hak yang dianalisis
untuk amandemen IFL [ 4 ] . Di antara ketentuan tersebut, ada banyak hak yang
tidak pernah diklaim oleh hak dari pasal 127 dan pasal 128.
Ada persamaan dan perbedaan hak pasangan. Hak suami dan istri di bawah IFL
dan hak yang diamandemen belum digariskan dalam Undang-Undang Syariah. Di
antara kesamaan hak pasangan adalah usia sebagaimana tersebut di atas. Selain itu,
kedua belah pihak berhak menuntut reparasi. Pesta untuk menuntut reparasi adalah
partai tersebut menolak melanjutkan pernikahan. Selanjutnya, suami dan istri
memiliki hak bersama untuk memiliki hadhanah atau hak asuh anak-anak mereka
dan memiliki aset bersama setelah pembubaran pernikahan. Kedua belah pihak
memiliki hak yang sama untuk melindungi anak-anak mereka dari pernikahan yang
sah.
Perbedaan antara hak suami dan hak istri dapat dikelompokkan menjadi beberapa
bentuk. Yang pertama dan terpenting adalah properti. Hak-hak ini bertindak
sebagai jaminan bagi pria atau wanita saat menikah atau setelah
perceraian. Berdasarkan IFL, kepemilikan properti merupakan hak yang diberikan
perempuan sesuai syariah Islam.
Selanjutnya, kedua suami istri tersebut memiliki properti yang sama seperti
ketaatan, hadhanah, ta'liq, perwalian anak-anak dan harta benda dan ruju '. Sang
istri bisa menggunakan kondisi ta'liq untuk memastikan keamanan terhadap
penganiayaan suami. Jika suami melanggar kondisi ta'liq dan isteri melapor ke
pengadilan, maka talaq akan diberlakukan.
Hal lain yang akan diceraikan oleh talaq, khuluq, ta'liq, fasakh, dugaan kematian
dan li'an diberikan kepada istri demi kepentingan terbaik mereka. Jadi perceraian
juga bisa diprakarsai oleh istri selain suami mereka. IFL membuat undang-undang
bahwa istri dapat mencari perceraian dengan talaq, khuluq, ta'liq, fasakh, dugaan
kematian dan li'an yang dapat mereka pilih di Pengadilan Syariah. Namun, suami
hanya bisa mengucapkan talaq dan li'an jika mereka ingin menceraikan isteri
mereka.
Terakhir, hukuman seperti desersi istri, penganiayaan terhadap istri, menyangkal
keadilan kepada istri, perawatan yang diperintahkan oleh pengadilan, cohabit
kembali akan menghukum mereka yang melanggar undang-undang. Hak-hak ini
akan diberikan kepada istri jika suami melakukan pelanggaran seperti keengganan,
penganiayaan, ketidakadilan, dan penolakan pemeliharaan. Oleh karena itu, IFL
memberlakukan hukuman denda moneter dan pemenjaraan terhadap pelaku
sebagai pelajaran bagi pasangan suami istri.
: