You are on page 1of 38

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

S DENGAN APENDIKSITIS DI

RUANG TERATAI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN

Oleh:

Kelompok 5

1. Agus Purwantoro (017901004)


2. Ahmad Nawawi (017901005)
3. Aimatus Sholikhah (017901007)
4. Indah Purnawan Ningsih (017901021)
5. Nita Puspitasari (017901029)
6. Widya Saraswati Nurida (017901039)
7. Zharina Septhia Dewi Kusuma (017901041)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES INSAN CENDEKIA HUSADA

BOJONEGORO

2017

LEMBAR PENGESAHAN
“LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. S

DENGAN APENDIKSITIS DI RUANG TERATAI RSUD DR. SOEGIRI

LAMONGAN”

Telah disahkan pada:

Hari :

Tanggal :

Tempat: Ruang Teratai

Mengetahui,
Perceptor Akademik, Perceptor Klinik

(Moh. Roni Al-Faqih, S.Kep., Ns) (Ns. Mustadi, S.Kep., S.Psi)

Kepala Ruang Teratai,

(Ns. Mustadi, S.Kep., S.Psi)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT pencipta manusia dan alam semesta.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkkan kepada Rasul Muhammad SAW.
Dari keteladanannya kita mendapatkan nilai-nilai acuan bagaimana berinteraksi
dengan secara manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

ii
Penulisan asuhan keperawatan ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian
persyaratan guna memeneuhi tugas stase Keperawatan Medikal Bedah (KMB)
program studi Ners dan penelitiannya bertujuan untuk mengetahui, menganalisa
suatu asuhan keperawatan yang diangkat dalam penyusunanan asuhan
keperawatan ini dan mengambil manfaat dari hasil kesimpulannya.

Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada:


1. Hasan Bisri, SE., MSA selaku Ketua STIKes Icsada.
2. Ns. Ferawati, S.Kep., M.Kep selaku Ketua Program Studi S1 Ilmu
Keperawatan.
3. Ns. Ikha Ardianti, S.Kep., M.Kep selaku Koordinator Ners.
4. Ns. Mustadi, S.Kep., S.Psi selaku preceptor klinik yang banyak
memberikan petunjuk yang berguna dalam penyelesaian asuhan
keperawatan ini.
5. Ns. Moh. Roni Al-Faqih, S.Kep selaku preceptor akademik yang banyak
memberikan petunjuk yang berguna dalam penyelesaian asuhan
keperawatan ini.
6. Para Rekan-rekan, dan semua pihak yang telah memberikan berbagai
bentuk bantuan dalam proses penyusunan asuhan keperawatan ini.
7. Ucapan terima kasih untuk lahan.
8. Orang tua dan saudara-saudara kami tercinta yang telah memberikan
dorongan semangat dan bantuan lainnya yang sangat berarti bagi penulis.
9. Juga pihak lain yang terkait dalam penulisan asuhan keperawatan ini.

Akhirnya, sebagai hamba yang lemah, penulis menyadari bahwa asuhan


keperawatan ini tidak luput dari berbagai kelemahan dan kekurangan. Untuk itu,
penulis harapkan saran dan kritik dari pembaca. Dan semoga asuhan keperawatan
ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi penulis sendiri.

Lamongan, 14 November 2017

Tim penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………. i

LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………….. ii

iii
KATA PENGANTAR ………...………………………………………… iii

DAFTAR ISI …………………..………………………………………… iv

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………………………… 1

1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………. 2

1.3 Tujuan ………………………………………………………… 2

1.4 Manfaat ………………………………………………………. 3

BAB 2 LAPORAN PENDAHULUAN APENDIKSITIS

2.1 Definisi ………………………………………………………. 4

2.2 Etiologi ………………………………………………………. 4

2.3 Manifestasi Klinis …………………………………………… 5

2.4 Klasifikasi …………………………………………………… 6

2.5 Patofisiologi …………………………………………………. 7

2.6 Pathway ………………………………………………………. 9

2.7 Pemeriksaan Penunjang ……………………………………… 10

2.8 Komplikasi …………………………………………………… 10

2.9 Penatalaksanaan ……………………………………………… 11

2.10 Pemeriksaan Fisik ……………………………………………. 11

2.11 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul ……………… 12

2.12 Rencana Keperawatan dan Rasional …………………………. 12

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian …………………………………………………… 17

3.2 Analisa Data ………………………………………………… 25

3.3 Diagnosa Keperawatan ……………………………………… 26

iv
3.4 Intervensi Keperawatan …………………………………….. 27

3.5 Implementasi Keperawatan ………………………………… 29

3.6 Evaluasi Keperawatan ………………………………………. 35

BAB 4 ANALISA SWOT JURNAL ………………………………….. 38

BAB 5 PENUTUP …………………………………………………….. 40

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………. 41

LAMPIRAN

v
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apendiksitis merupakan suatu kondisi dimana infeksi terjadi di umbai

cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak

kasus memerlukan laparatomi dengan penyingkiran umbai cacing yang

terinfeksi. Sebagai penyakit yang sering memerlukan tindakan bedah

kedaruratan, apendiksitis merupakan keadaan inflamasi dan obstruksi pada

apendiks vermiformis. (Kowalak, 2011).

Angka kejadian appendiksitis cukup tinggi di dunia, berdasarkan World

Health Organisation (WHO) pada tahun 2010 angka mortalitas akibat

apendiksitis adalah 21.000 jiwa, dimana populasi laki-laki lebih banyak

dibandingkan perempuan. Angka mortalitas apendiksitis sekitar 12.000 jiwa

pada laki-laki dan sekitar 10.000 jiwa pada perempuan. Di Amerika Serikat

terdapat 70.000 kasus apendiksitis setiap tahunnya. Kejadian apendiksitis di

Amerika memiliki insiden 1-2 kasus per 10.000 anak pertahunnya antara

kelahiran sampai umur 4 tahun. Kejadian apendiksitis meningkat 25 kasus per

10.000 anak pertahunnya antara umur 10-17 tahun di Amerika Serikat.

Apabila di rata-rata apendiksitis 1,1 kasus per 1000 orang pertahun di Amerika

Serikat (Faridah, 2015).

Menurut data yang diperoleh dari rekam medis di ruang rawat inap

bedah RSUD Dr. Soegiri Lamongan pada tahun 2013 dari bulan Januari

sampai Desember sebanyak 126 orang (100%). Pada tahun 2014, bulan

Januari sampai September terdapat 104 orang (100%) yang menderita

1
apendiksitis meliputi pasien apendiksitis akut (86%), apendiksitis infiltrate

(3%), apendiksitis kronis (7%), apendiksitis perforasi (4%) (Faridah, 2015).

Intervensi medis untuk apendiksitis akut dan kronik perforasi adalah

dengan apendiktomi yang merupakan pengobatan melalui prosedur tindakan

operasi hanya untuk penyakit apendiksitis atau penyingkiran/pengangkatan

usus buntu yang terinfeksi sesegera mungkin untuk menurunkan resiko

perforasi lebih lanjut seperti peritonitis. Apendiksitis dengan perforasi terjadi

24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7 0C

atau lebih tinggi, penampilan toksik (pasien tampak sakit), dan nyeri tekan

abdomen yang kontinyu. Salah satu tindakan non-farmakologi yang efektif

dan efisien adalah mobilisasi dini (Marijata, 2006).

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis ingin menyusun asuhan

keperawatan dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan

Apendiksitis di Ruang Teratai RSUD Dr. Soegiri Lamongan.”

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Tn S dengan apendiksitis post op

apendiktomi di ruang Teratai RSUD Dr. Soegiri Lamongan?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Secara umum, tujuan dari asuhan keperawatan ini yaitu memberikan

pengetahuan mengenai apendiksitis dan juga intervensi yang dapat

diberikan kepada pasien apendiksitis.

2
1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui definisi dari apendiksitis

b. Untuk mengetahui etiologi apendiksitis

c. Untuk mengetahui manifestasi klinis apendiksitis

d. Untuk mengetahui klasifikasi apendiksitis

e. Untuk mengetahui patofisiologi apendiksitis

f. Untuk mengetahui pathway apendiksitis

g. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang apendiksitis

h. Untuk mengetahui komplikasi apendiksitis

i. Untuk mengetahui penatalaksanaan apendiksitis

j. Untuk mengetahui pemeriksaan fisik apendiksitis

k. Untuk mengetahui diagnose keperawatan yang mungkin muncul dari

apendiksitis

l. Untuk mengetahui rencana keperawatan dan rasional apendiksitis

m. Untuk mengetahui asuhan keperawatan apendiksitis

1.4 Manfaat

Penyusunan asuhan keperawatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

mengenai pemberian asuhan keperawatan pada pasien apendiksitis serta dapat

dijadikan sebagai bahan acuan untuk proses pembelajaran selanjutnya.

3
BAB 2

LAPORAN PENDAHULUAN APENDIKSITIS

2.1 Definisi
Apendiksitis merupakan terjadinya inflamasi atau peradangan pada

apendiks vermiformis biasanya disebabkan oleh flora normal usus dan

sering didahului oleh obstruksi lumen apendiks oleh jaringan limfoid atau

fekolit (Grace & Barley, 2006).


Apendiksitis merupakan suatu kondisi dimana infeksi terjadi di umbai

cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak

kasus memerlukan laparatomi dengan penyingkiran umbai cacing yang

terinfeksi. Sebagai penyakit yang sering memerlukan tindakan bedah

kedaruratan, apendiksitis merupakan keadaan inflamasi dan obstruksi pada

apendiks vermiformis. (Kowalak, 2011).


Apendiksitis adalah inflamasi apendiks vermiformis (umbai cacing),

paling sering pada penyakit bedah abdomen mayor. Fatal bila tidak

ditangani, timbul gangrene dan perforasi dalam 36 jam (Bilotta, 2011).

2.2 Etiologi
Terjadinya apendiksitis akut umumnya belum diketahui. Namun

terdapat banyak sekali factor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya

obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks

ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekolit),

hiperplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasite, benda asing dalam

tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan

obstruksi lumen apendiks adalah fekolit dan hiperplasia jaringan limfoid.


Menurut Bilotta (2011), menyebutkan penyebab apendiksitis adalah

sebagai berikut:

4
a. Benda asing
b. Neoplasma
c. Ulserasi mukosa
d. Massa feses
e. Striktur
f. Ingesti barium.

2.3 Manifestasi Klinis


Karakter klinis dari apendiksitis dapat bervariasi, namun umumnya

menunjukkan tanda dan gejala sebagai berikut (Corwin, 2009):


1. Muncul mendadak atau secara bertahap nyeri di daerah epigastrium atau

peri-umbilikus sering terjadi.


2. Dalam beberapa jam, nyeri menjadi lebih terlokalisasi dan dapat

dijelaskan sebagai nyeri tekan di daerah kuadran kanan bawah abdomen.


3. Nyeri lepas merupakan gejala klasik peritonitis dan umum ditemukan di

apendiksitis. Terjadi defans muscular atau pengencangan perut.


4. Tanda Rovsing (dapat diketahui dengan mempalpasi abdomen kuadran

kanan bawah yang menyebabkan nyeri pada kuadran kiri bawah).


5. Tanda psoas (diketahui apabila pasien dating dengan pinggul tertekuk

dan merasakan nyeri pada lokasi apendiks ketika kaki diluruskan).


6. Demam
7. Mual dan muntah
8. Pasien mengalami kemerahan, takikardia, lidah berselaput, halitosis.
9. Peritonitis jika apendiks mengalami perforasi.
10. Massa apendiks jika penanganan terlambat.

2.4 Klasifikasi
Klasifikasi apendiksitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai

berikut (Selvia, 2010):


1. Apendiksitis akut
a. Apendiksitis akut sederhana (Cataral Apendicitis): Proses

peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa apendiks yang

disebabkan obstruksi. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah

umbilicus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan.


b. Apendiksitis akut purulenta (Supurative Apendicitis): Tekanan dalam

lumen yang terus bertambah disertai edema menyebablan

5
terbendungnya aliran vena pada dinding apendiks dan menimbulkan

thrombosis. Pada apendiksitis akut purulenta ditandai dengan

rangsangan local seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc. Burney,

defans muscular dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan

tanda-tanda peritonitis umum.


c. Apendisitis akut gangrenosa: Bila tekanan dalam lumen terus

bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu sehingga terjadi

infark dan gangrene. Dinding apendiks berwarna ungu, hijau

keabuan, atau merah kehitaman.


2. Apendiksitis infiltrate
Apendisitis infiltrade adalah proses radang apendiks yang

penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon,

dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan masa flegmon yang erat

satu sama lain.


3. Apendiksitis abses
Apendisitis abses terjadi ketika massa local yang terbentuk berisi nanah

(pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal,

subcaecal, dan pelvic.


4. Apendiksitis perforasi
Pecahnya apendiks yang sudah gangrene yang menyebabkan pus masuk

ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum.


5. Apendiksitis kronis
Merupakan kelanjutan dari apendisitis akut supuratif sebagai proses

radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi

rendah, khususnya obstruksi parsial terhadap lumen.

2.5 Patofisiologi
Apendiksitis kemungkinan dimulai oleh obstruksi dari lumen yang

disebabkan oleh feses yang terlibat atau fekolit. Penjelasan ini sesuai dengan

pengamatan epidemiologi bahwa apendiksitis berhubungan dengan asupan

6
serat dalam makanan yang rendah. Pada stadium awal dari apendiksitis,

terlebih dahulu terjadi inflamasi mukosa dan serosa (peritoneal). Cairan

eksudat fibrinopurulenta terbentuk pada permukaan serosa dan berlanjut ke

beberapa permukaan peritoneal yang bersebalahan, seperti usus atau dinding

abdomen, menyebabkan peritonitis local. Dalam stadium ini mukosa

glandular yang neksoris terkelupas ke dalam lumen yang menjadi distensi

dengan pus. Akhirnya, arteri yang menyuplai apendiks menjadi bertrombosit

dan apendiks yang kurang suplai darah menjadi nekrosis atau gangrene.

Perforasi akan segera terjadi dan menyebar ke rongga peritoneal, jika

perforasi yang terjadi di bungkus oleh omentum, abses local akan terjadi.
Ulserasi mukosa memicu inflamasi yang secara temporer akan

menyumbat apendiks. Obstruksi tersebut menghalangi aliran keluar mucus.

Tekanan dalam apendiks yang kini mengalami distensi akan meningkat dan

apendiks tersebut berkontraksi. Bakteri mulai memperbanyak diri sementara

proses inflamasi serta tekanan terus meningkat dan mengganggu aliran

darah ke dalam apendiks sehingga timbul nyeri abdomen yang hebat

(Kowalak, 2011).

2.6 Pathway

Fekalis/ masssa Benda Striktur Hiperplasia Erosi


keras dari feses Asing folikel mukosa
limfosit
Obstruksi
Mukosa terbendung
Appendiks meregang

APENDICITIS
Tekanan intraluminal (↑) 7
Mual dan muntah Aliran darah terganggu Menghambat aliran limfe
Lemas Nafsu makan Ulserasi dan invasi bakteri Gangrene dan perforasi
menurun pada dinding apendiks
MK. Anoreksia Ke peritoneum: Trombosis pada vena
MK. Nutrisi peritonitis intraluminal
Intoleransi Pembengkakan dan iskemi
kurang dari
Aktivitas kebutuhan Tindakan apendictomy
tubuh Terputusnya kontinuitas jaringan
Kurang pengetahuan tentang
tindakan operasi Luka post op Kontak dengan lingkungan
MK. Ansietas Kebersihan luka tidak adekuat
MK. Nyeri Imun menurun
2.7 Pemeriksaan Penunjang akut
(Sumber: Kowalak, 2011)
1. Laboratorium: MK. Resiko tinggi Infeksi
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP).

Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara

10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrophil diatas 75%, sedangkan

pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.


2. Radiologi:
a. Ultrasonografi (USG): Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan

bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada

apendiks.
b. CT-Scan : Pada pemeriksaan CT-Scan ditemukan bagian yang

menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks yang

mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. (Bilotta, 2011).

2.8 Komplikasi
Komplikasi apendiksitis dapat meliputi:
1. Infeksi luka operasi
2. Infeksi intraabdomen
3. Fistula fekal
4. Obstruksi usus (intestinal)
5. Hernia insisional
6. Peritonitis
7. Kematian (Kowalak, 2011).

2.9 Penatalaksanaan
1. Pembedahan diindikasikan bila diagnose apendisitis telah ditegakkan.

8
2. Antibiotik dan cairan iv diberikan sampai pembedahan dilakukan.
3. Analgesik diberikan setelah diagnose ditegakkan.
4. Apendiktomi dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko

perforasi (Kowalak, 2011).


Selain itu, terdapat tindakan yang baru yakni laparaskopi. Laparaskopi

apendektomi adalah operasi pengangkatan usus buntu yang dilakukan

dengan teknik bedah laparoskopi. Pada tindakan ini akses yang dibutuhkan

hanya 2 mm sampai 10 mm sehingga tidak dibutuhkan penjahitan pada

lubang akses.

2.10 Pemeriksaan Fisik


1. Inspeksi: akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut

dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).


2. Palpasi: di daerah perut kanan bawah bila ditekan akan terasa nyeri dan

bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign) yang mana

merupakan kunci dari diagnosis apendiksitis akut.


3. Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat atau tungkai

diangkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah (psoas

sign).
4. Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semaik bertambah bila

pemeriksaan dubur dan vagina menimbulkan rasa nyeri juga.


5. Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axila) lebih

menunjang lagi adanya radang usus buntu.


6. Pada apendiks terletak pada retro sekal maka uji Psoas akan positif dan

tanda perangsangan peritoneum tidak begitu jelas, sedangkan bila

apendiks terletak di rongga pelvis maka obturator sign akan positif dan

tanda perangsangan peritoneum akan lebih menonjol.

2.11 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


1. Nyeri berhubungan dnegan distensi jaringan intestinal ditandai dengan

inflamasi.

9
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake

menurun.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keadaan nyeri yang

mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan akibat nyeri akut.


4. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh.
5. Ansietas berhubungan dengan rencana tindakan apendictomy.

2.12 Perencanaan dan Rasionalisasi


1. Diagnosa keperawatan: Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan

intestinal ditandai dengan inflamasi.


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam nyeri

pasien berkurang atau hilang.


Kriteria Hasil: Pasien tampak rileks mampu tidur atau istirahat dengan tepat,

TTV dalam batas normal, Skala nyeri berkurang menjadi nyeri ringan (1-3).

Intervensi Rasional
1. Jelaskan pada pasien tentang Informasi yang tepat dapat
penyebab nyeri. menurunkan tingkat kecemasan
pasien dan menambah pengetahuan
pasien tentang nyeri.
2. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan Mengetahui sejauh mana tingkat
karakteristik nyeri. nyeri dan memberikan tindakan
selanjtnya.
3. Ajarkan teknik tarik napas Merileksasikan otot-otot dan
dalam. mengurangi nyeri.
4. Kolaborasi dengan tim medis Sebagai profilaksis untuk dapat
untuk pemberian analgesic. menghilangkan rasa nyeri.

2. Diagnosa keperawatan: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan intake menurun.


Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …x24 jam

diharapkan kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.


Kriteria Hasil: Nafsu makan meningkat, makan habis 1 porsi, tidak ada

mual dan muntah.

Intervensi Rasional

10
1. Pantau asupan nutrisi dan Dapat membantu dalam mengontrol
keadaan umum pasien. asupan kebutuhan nutrisi yang
adekuat dan mengetahui
perkembangan pasien.
2. Anjurkan pasien makan sedikit Dapat membantu pemenuhan
tapi sering. kebutuhan nutrisi pasien saat pasien
mual muntah dan nafsu makan
menurun.
3. Anjurkan pasien makan selagi Makanan dalam kondisi hangat dapat
hangat. meningkatkan nafsu makan pasien.
4. Jelaskan pentingnya makanan Pengetahuan tentang pentingnya
dalam proses penyembuhan. makanan dalam proses
penyembuhan dapat memotivasi
pasien untuk meningkatkan nafsu
makan.
5. Kolaborasi dengan tim ahli gizi Membantu meningkatkan
untuk pemberian diit. pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien.

3. Diagnosa keperawatan: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan

keadaan nyeri yang mengakibatkan terjadinya penurunan pergerakan

akibat nyeri akut.


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam

diharapkan pasien dapat melakukan aktifitas secara mandiri.


Kriteria Hasil: Klien mengatakan mampu aktivitas secara mandiri, klien

dapat mempraktikkan gerak ROM, klien mengerti fungsi dan manfaat

latihan ROM, Kekuatan otot normal


5 5
5 5
Intervensi Rasional
1. Observasi rentang gerak. Menentukan intervensi selanjutnya.
2. Bantu aktivitas pasien sesuai Meminimalkan kelelahan yang
kemampuan pasien. dirasakan oleh pasien.
3. Pertahankan tirah baring. Meminimalkan nyeri dan mencegah
salah posisi.
4. Bantu pasien melatih rentang Meningkatkan aliran darah ke otot,
gerak dengan ROM aktif. tulang dan mencegah kontraktur.

11
5. Kolaborasi dengan ahli Berguna dalam pembuatan aktivitas
fisioterapi untuk melatih pasien. program latihan mobilisasi.

4. Diagnosa keperawatan: Resiko infeksi berhubungan dengan tidak

adekuatnya pertahanan tubuh.


Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ….x24 jam pasien tidak

menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi.


Kriteria Hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi pada area luka post op,

leukosit dalam batas normal (L: 3800-10600/uL, P: 3600-11000/uL),

TTV dalam batas normal (N: 60-90 x/menit, TD: 100-120/60-90 mmHg,

S: 36,5-37,5 0C, RR: 16-24 x/mnt).

Intervensi Rasional
1. Pantau kondisi luka post op. Dapat mengetahui adanya tanda-
tanda infeksi (kalor, dolor, rubor,
tumor, fungsio lasea.
2. Pantau tanda-tanda vital. Tanda-tanda vital dalam batas
normal dapat menunjukkan kondisi
umum pasien.
3. Lakukan perawatan luka setiap 2 Pemberian tindakan perawatan pada
hari sekali. luka dapat membantu mempercepat
penyembuhan luka serta mencegah
terjadinya infeksi karena luka yang
kotor.
4. Kolaborasi dengan tim medis: Pemberian antibiotic berfungsi
Pemberian antibiotic.
dalam melemahkan kuman penyebab
infeksi dalam tubuh.

5. Diagnosa keperawatan: Ansietas berhubungan dengan rencana tindakan

apendictomy.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan selama …x 24 jam ansietas pasien

berkurang.

12
Kriteria Hasil: wajah rileks, pasien mampu mengontrol cemas, TTV

dalam batas normal (N: 60-90 x/menit, TD: 100-120/60-90 mmHg, S:

36,5-37,5 0C, RR: 16-24 x/mnt).

Intervensi Rasional
1. Pantau tingkat kecemasan Dapat memberikan acuan rencana
pasien. tindakan yang akan dilakukan
selanjutnya.
2. Pantau tanda-tanda vital pasien. Tanda-tanda vital dalam batas
normal dapat menunjukkan kondisi
umum pasien.
3. Berikan penjelasan tentang Pengetahuan yang baik tentang
pembedahan yang akan tindakan yang akan dilakukan dapat
dilakukan. mengurangi kecemasan.
4. Motivasi pasien untuk Membantu pasien berpikir positif
mengontrol kecemasan dengan dapat mengurangi kecemasan pasien.
berpikir positif.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. S DENGAN APENDIKSITIS DI RUANG TERATAI RSUD DR.

SOEGIRI LAMONGAN

Nama Pasien : Tn. S No. RM : 2487xx


Tanggal MRS : 19 Oktober 2017 Diagnosa Medis : Apendiksitis (Post
Ruang/Kelas : Teratai/III
Op Apendektomi hari ke 3)
Pengkajian Tanggal : 23 Oktober 2017
Tanggal Operasi : 21 Oktober 2017

3.1 Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama : Tn. S
Umur : 31 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Menikah

13
Suku Bangsa : Jawa-Indonesia
Alamat : Sugio-Lamongan
Penanggung Jawab : Dwi Joko
2. Keluhan Utama
“Nyeri pada area luka operasi”.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien mengatakan nyeri pada area luka operasi pada perut bagian kanan

bawah dengan skala nyeri 3. Kondisi pasien lemah, makan minum

menurun dan nyeri timbul saat bergerak.

4. Riwayat Kesehatan Lalu


Pasien sebelumnya suka sekali makan pedas. Pasien tidak memiliki

riwayat penyakit diabetes dan juga hipertensi, tidak memiliki riwayat

penyakit hepatitis.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan keluarga tidak ada yang pernah memiliki sakit seperti

dirinya. Keluarga tidak ada yang memiliki riwayat diabetes dan hipertensi.
 Genogram

 Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal
: Pasien
: Garis Perkawinan
: Garis keturunan
: tinggal 1 rumah
: garis kedekatan
Pola Komunikasi: komunikasi pasien dengan keluarga baik dan selalu

mendapat feedback.
Pola pengambilan keputusan: pengambilan keputusan diambil dengan

musyawarah keluarga.
6. Pola Fungsi Kesehatan
a. Persepsi Terhadap Kesehatan
Pasien mengatakan cemas dengan sakit yang sedang dialami.
b. Kebersihan Diri:

14
Di rumah: pasien mengatakan mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari,

keramas 3-4 x/minggu, potong kuku jarang.


Di rumah sakit: pasien mengatakan tidak mandi dan hanya diseka

setiap pagi, gosok gigi (-).


c. Aktivitas Sehari-hari: Akivitas pasien dirumah sakit tirah baring karena

harus bedrest.
d. Rekreasi: Pasien tidak pernah berlibur selama sakit.
e. Olahraga: Pasien tidak pernah olahraga saat sakit.
7. Pola Istirahat dan Tidur
Di rumah: pasien jarang tidur siang, tidur malam jam 22.00-05.00 (8 jam).
Di rumah sakit: Pasien tidur siang 12.00-14.00 WIB dan malam jam

21.00-04.00 WIB, terbangun dimalam hari.


8. Pola Konsep Diri
Pasien mengatakan ingin cepat sembuh dan segera kembali beraktivitas

seperti biasa.
9. Pola Koping
Dalam menghadapi penyakitnya pasien mengatakan pasrah dan

menghadapi semua ini sebagai cobaan.


10. Pola Seksual-Reproduksi
Pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan testis.
11. Pola Peran dan Hubungan
Hubungan pasien dengan tetangga baik, system pendukung istri dan orang

tua.
12. Pola Nilai-Kepercayaan
Pasien mengatakan beragama islam, dan menjalankan sholat 5 waktu

dirumah. Tapi selama di rumah sakit pasien tidak bias menjalankan sholat

5 waktu karena kondisinya yang baru selesai operasi dan selalu merasa

nyeri saat bergerak.


13. Tinjauan Sistem
Keadaan umum : lemah.
Tingkat kesadaran: compos mentis.
GCS: Eye 4 (mata membuka spontan), Verbal 5 (orientasi baik), Motorik 6

(ekstremitas mampu bergerak sesuai instruksi perawat).


Tanda-tanda vital:
Nadi= 84 x/menit, suhu= 36,90C, RR= 20 x/menit, TD= 120/90 mmHg.
a. B1 (Breathing)

15
- Gejala (Subyektif): Dypsnea (-), pasien mengatakan tidak memiliki

riwayat penyakit system pernapasan.


- Tanda (Obyektif): RR: 20x/menit (irama regular), pergerakan dada

simetris, penggunaan otot bantu napas (-), batuk (-), sputum (-),

bunyi napas vesikuler, sianosis (-), gelisah (-), fokal fremitus

simetris.
b. B2 (Blood)
- Gejala (Subyektif): pasien mengatakan tidak memiliki riwayat

penyakit jantung dan hipertensi, nyeri dada (-).


- Tanda (Obyektif): TD= 120/90 mmHg, Nadi= 84 x/menit, Bunyi

jantung lup dup, suhu= 36,90C, CRT <2 detik, membrane mukosa

bibir kering, konjungtiva pink, sclera putih, sianosis (-).


c. B3 (Brain)
- Gejala (Subyektif): Tidak ada nyeri.
- Tanda (Obyektif): GCS: E 4, V 5, M 6.
Nervus Cranial:
N1 (olfaktorius) = mampu mengenal aroma minyak kayu putih.
N2 (optikus) = penglihatan tidak kabur.
N3 (okulomotorius) = mampu menggerakkan bola mata kanan dan

kiri.
N4 (troklearis) = bola mata dapat memutar dengan normal.
N5 (trigeminus) = normal (dapat merasakan sentuhan kulit)
N6 (Abdusen) = normal (dapat menggerakkan bola mata)
N7 (Fasialis) = Normal (dapat merasakan manis dan asin)
N8 (Vestibulokoklearis) = normal (dapat mendengar dengan baik)
N9 (Glosofaringeus) = tidak ada gangguan menelan
N10 (Vagus) = dapat merasakan pahit
N11 (aksesorius) = dapat mengangkat kedua kaki
N12 (hipoglosus) = lidah dapat bergerak ke kiri dan ke kanan

sambil diberi tahanan.


Fungsi penglihatan : baik.
Fungsi pendengaran : baik, simetris, terdapat kotoran.
Fungsi pengecapan : dapat membedakan rasa, warna lidah merah

muda dan terlihat kotor.


d. B4 (Bladder)
- Gejala (Subyektif): pasien mengatakan tidak memiliki riwayat

penyakit ginjal.

16
- Tanda (Obyektif): pasien terpasang dower kateter dengan urine

tampung 2000 cc/24 jam, warna kuning jernih, distended kandung

kemih (-).
e. B5 (Bowel)
- Gejala (Subyektif): pasien mengatakan nafsu makan berkurang,

makan habis 2 sendok bubur halus, tidak ada nyeri ulu hati, tidak

memiliki alergi makanan, tidak ada kesulitan menelan.


- Tanda (Obyektif): pasien tidak terpasang NGT, turgor kulit

menurun, edema (-), kondisi lidah kotor (terdapat bercak putih),

membrane mukosa bibir kering, mual (-). Bising usus 8x/menit,

nyeri perut (+), P (nyeri), Q (seperti ditusuk-tusuk), R (area insisi

post op), Skala (3), T (saat bergerak), wajah tampak meringis.


f. B6 (Bone dan Muskuloskeletal)
- Gejala (Subyektif): Lemas.
- Tanda (Obyektif): Kemampuan aktivitas (dapa melakukan aktivitas

dengan bantuan keluarga), Ekstremitas lengkap, deformitas (-),

kekuatan otot

5 5
5 5
Keterangan:
0 = tidak ada kontraksi otot
1 = teraba getaran kontraksi otot
2 = menggerakkan anggota gerak tanpa gravitasi
3 = menggerakkan anggota gerak menahan gravitasi
4 = sendi aktif dan melawan tahanan
5 = kekuatan otot normal.
g. Integumen
- Gejala (Subyektif): Pasien tidak ada keluhan pada kulit.
- Tanda (Obyektif): terdapat lesi insisi post op apendiktomy pada

abdomen kanan bawah, kemerahan (-), turgor kulit menurun,

jaundice (-).

14. Pemeriksaan Penunjang


Hasil pemeriksaan laboratorium darah, tanggal 19 oktober 2017.

17
Hasil
No. Jenis Pemeriksaan Metode Normal
Pemeriksaan
ELEKTROLIT ISE
1. Clorida serum ISE 98 94-111 meg/L
2. Kalium serum ISE 4.0 3,8-5,0 meq/L
3. Natrium serum ISE 133 136-144 meq/L
FAAL GINJAL
1. Serum kreatinin Jaffe 0,91 0,50-1,10
2. Urea Bartelot 17 10-50 mg/dl
FAAL HATI
1. SGOT IFCC 34 <37 u/L
2. SGPT IFCC 51 <39 u/L
GLUKOSA DARAH
1. Glukosa darah acak Hexokinase 102 <200 mg/dl
HEMATOLOGI ANALYZER
1. Hemoglobin DC Detection 13,3 L= 13,2-17,3 g/dl
P= 11,7-15,5 g/dl
2. Leukosit Flowcytometri 11.900 L= 3800-10600/uL
P= 3600-11000/uL
3. LED Westergren 85-100 10-20 /jam
4. Diff count Slide 0-0-0-90-10-0 2-4/0-1/50-70/25-
40/2-8
5. PVC Flowcytometri 37,4 L= 40-52%
P= 35-47%
6. Trombosit Flowcytometri 365.000 150000-440000/uL

15. Terapi

Hari/Tanggal Terapi Dosis


Senin, 23/10/2017 Pemberian terapi iv line 1 jalur:
Assering 1500 cc/24 jam 16 tpm
Pemberian terapi medis:
Santagesik 3x1g
Vicilin 2x1500 mg
Metronidazol 2x500 mg
Ranitidin 2x50 mg
Selasa, 24/10/2017 Pemberian terapi iv line 1 jalur:
Assering 1500 cc/24 jam 16 tpm
Pemberian terapi medis:
Santagesik 3x1g
Vicilin 2x1500 mg
Metronidazol 2x500 mg
Ranitidin 2x50 mg
Rabu, 25/10/2017 Pemberian terapi iv line 1 jalur:
Assering 1500 cc/24 jam 16 tpm
Pemberian terapi medis:
Santagesik 3x1g

18
Vicilin 2x1500 mg
Metronidazol 2x500 mg
Ranitidin 2x50 mg

3.2 Analisa Data


ANALISA DATA
Nama Pasien : Tn. S No. RM : 2487xx
Diagnosa Medis : Apendiksitis Ruangan : Teratai

No. Data Etiologi Masalah


Dx Keperawatan
1. DS: Px. Mengatakan nyeri pada Trombosisipada vena Nyeri akut
area luka operasi, seperti di intramural
tusuk-tusuk, nyeri terasa saat ↓
bergerak. Pembengkakan dan iskemia
DO: ↓
Wajah tampak meringis Apendictomy
Skala 5 ↓
TTV: TD: 120/90 mmHg, RR: Terputusnya konitnuitas
20 x/menit, N: 84 x/menit, S: jaringan

36,90C
Luka post op
2. DS: Px. Mengatakan nafsu Peningkatan tekanan Nutrisi Kurang
makan berkurang. intraluminal dari kebutuhan
DO: ↓ tubuh.
Makan habis 2 sendok bubur Mual, muntah
halus, Muntah (-). ↓
Mukosa bibir kering, BB Nafsu makan menurun
sebelum sakit 60 kg ↓
BB saat MRS 58 kg. Anoreksia
Hb 13,3 /dl
3. DS: Px mengatakan ada luka Apendictomy Resiko tinggi
operasi pada perut kanan bawah. ↓ infeksi
DO: Luka post op
Luka tertutup dengan panjang 5 ↓
cm. Pus (+) kontak dengan lingkungan
Leukosit 11.900 /uL luar
Kemerahan (-), Gatal (-) ↓
TTV: Kebersihan luka tidak
TD: 120/90 mmHg, RR: 20 adekuat
x/menit, N: 84 x/menit, S: ↓
36,90C Penurunan imun tubuh

3.3 Diagnosa Keperawatan


DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama Pasien : Tn. S No. RM : 2487xx

19
Diagnosa Medis : Apendiksitis Ruangan : Teratai

No. Tanggal Diagnosa Keperawatan Paraf


Dx Muncul
1. Senin, Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
23/10/2017 jaringan, luka post op di tandai dengan skala 5, wajah
tampak meringis.
2. Senin, Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
23/10/2017 anoreksia di tandai dengan makan habis 2 sendok, BB
sebelum sakit 60 kg, BB saat MRS 58 kg.
3. Senin, Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kebersihan
23/10/2017 luka tidak adekuat, penurunan imun tubuh.

3.4 Intervensi Keperawatan


INTERVENSI KEPERAWATAN
Nama Pasien : Tn. S No. RM : 2487xx
Diagnosa Medis : Apendiksitis Ruangan : Teratai
No. Tujuan dan Intervensi
Rasional
Dx Kriteria Hasil Keperawatan
1. Tujuan: Setelah 1. Pantau keadaan Dapat menunjukkan perubahan
dilakukan asuhan umum pasien dan nyeri yang dirasakan pasien serta
keperawatan selama reassessment nyeri menentukan tindakan yang akan
3x24 jam diharapkan per 4 jam. diberikan selanjutnya.
nyeri berkurang.
Kriteria Hasil: 2. Pantau tanda-tanda Normalnya nilai tanda-tanda vital
1. Pasien vital per 8 jam. juga menjadi item berkurangnya
melaporkan nyeri nyeri.
berkurang.
2. Skala nyeri 3. Berikan terapi Pemberian terapi mobilisasi dini
pasien turun mobilisasi dini. akan membantu memperlancar
menjadi 1-3 peredaran darah dan mengurangi
(nyeri ringan). respon nyeri yang dirasakan pasien.

20
3. Pasien tampak 4. Ajarkan pasien dan
rileks. keluarga tentang Mengajarkan manfaat mobilisasi
4. TTV dalam batas manfaat mobilisasi dini pada keluarga dan pasien dapat
normal: dini. memotivasi pasien untuk
N: 60-90 x/menit melakukan mobilisasi dini.
TD: 100-120/60- 5. Kolaborasi dengan
90 mmHg. tim medis: Santagesik salah satu analgesic
S: 36,5-37,5 0C - Pemberian yang mengandung metamizole Na
RR: 16-24 x/mnt. santagesik 3x1 yang menghambat sintesis
gram. prostaglandin sehingga
merilekskan otot polos sehingga
nyeri berkurang.
2. Tujuan: Setelah 1. Pantau asupan nutrisi Dapat membantu dalam mengontrol
dilakukan asuhan dan keadaan umum asupan kebutuhan nutrisi yang
keperawatan selama pasien. adekuat dan mengetahui
3x24 jam diharapkan perkembangan pasien.
kebutuhan nutrisi
2. Anjurkan pasien Dapat membantu pemenuhan
pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil: makan sedikit tapi kebutuhan nutrisi pasien saat pasien
1. Nafsu makan sering. mual muntah dan nafsu makan
meningkat. menurun.
2. Makan habis 1 3. Anjurkan pasien Makanan dalam kondisi hangat
porsi. makan selagi hangat. dapat meningkatkan nafsu makan
3. Tidak ada mual pasien.
dan muntah.
4. Jelaskan pentingnya
Pengetahuan tentang pentingnya
makanan dalam
makanan dalam proses
proses penyembuhan.
penyembuhan dapat memotivasi
pasien untuk meningkatkan nafsu
makan.
5. Kolaborasi dengan
tim ahli gizi untuk Membantu meningkatkan
pemberian diit bubur pemenuhan kebutuhan nutrisi
halus. pasien.

3. Setelah dilakukan 1. Pantau kondisi luka Dapat mengetahui adanya tanda-


asuhan keperawatan post op. tanda infeksi (kalor, dolor, rubor,
selama 3x24 jam tumor, fungsio lasea) dan
pasien tidak menentukan rencana tindakan
menunjukkan adanya selanjutnya.
tanda-tanda infeksi. 2. Pantau tanda-tanda
Kriteria Hasil: Tanda-tanda vital dalam batas
vital.
1. Tidak ada tanda- normal dapat menunjukkan kondisi
tanda infeksi umum pasien dan menentukan

21
pada area luka rencana tindakan selanjutnya.
post op.
2. Leukosit dalam 3. Lakukan perawatan Pemberian tindakan perawatan pada
batas normal. luka setiap 2 hari luka dapat membantu mempercepat
3. TTV dalam batas sekali. penyembuhan luka serta mencegah
normal: terjadinya infeksi karena luka yang
N: 60-90 x/menit kotor.
TD: 100-120/60-
90 mmHg. 4. Kolaborasi dengan Vicilin golongan obat antibiotic
S: 36,5-37,5 0C tim medis: yang mengandung ampicillin
RR: 16-24 x/mnt. Pemberian vicilin
sodium dan sulbactam sodium yang
2x1500 mg,
bekerja untuk mengganggu
metronidazole 2x500
produksi dinding sel bakteri
mg.
sehingga dapat mencegah infeksi.
Metronidazole golongan obat
antibiotic untuk mencegah infeksi
yang disebabkan kuman anaerob.
3.5 Implementasi Keperawatan
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama Pasien : Tn. S No. RM : 2487xx
Diagnosa Medis : Apendiksitis Ruangan : Teratai
No. Hari, Tanggal Implementasi
Respon Hasil Paraf
Dx dan Jam Keperawatan
1. Selasa, 07.30 Memantau keadaan S: Px. Mengatakan lemas dan
24/10/17 umum pasien dan nyeri pada sekitar luka operasi,
reassessment nyeri. seperti ditusuk-tusuk dan
terasa saat digunakan
bergerak.
O: Skala nyeri 5, wajah
08.00 tampak meringis.
Memantau tanda-tanda
S: Px. Mengatakan tidak
vital
pusing.
O: TD: 120/90 mmHg,
S: 36,90C, RR: 20 x/menit,
08.30 N: 84 x/menit, CRT<2 dtk.
Kolaborasi dengan tim
S: Px merasa nyeri saat
medis: Memberikan
diinjeksi.
santagesik. O: Santagesik 3x1g melalui iv
11.00 bolus. Wajah rileks.
Memberikan terapi
S: Px mengerti intruksi
mobilisasi dini.
perawat.
O: Px mengikuti intruksi
perawat sampai selesai, wajah
11.15
Mengajarkan pasien tampak rileks.

22
dan keluarga tentang S: Px “paham.”
manfaat mobilisasi O: Pasien menganggukkan
13.00 dini. kepala.
Memantau keadaan
umum pasien dan S: Px. Mengatakan lemas dan
reassessment nyeri. nyeri pada sekitar luka operasi,
seperti ditusuk-tusuk dan
terasa saat digunakan
bergerak.
O: Skala nyeri 5, wajah
tampak meringis.

2. Selasa, 08.10 Memantau asupan S: Px mengatakan nafsu


24/10/17 nutrisi dan keadaan makan berkurang, mual,
umum pasien. lemas.
O: Membran mukosa bibir
kering, makan habis 1/4 porsi,
08.15 BB = 58 kg.
Menganjurkan pasien S: Px “paham”
makan sedikit tapi O: px makan sedikit tapi
08.17 sering. sering.
Menganjurkan pasien S: px “paham”
makan selagi hangat. O: px makan ketika makanan
08.20 baru datang.
Menjelaskan S: px “paham”
pentingnya makanan O: Px menganggukkan kepala.
dalam proses
12.20 penyembuhan.
Kolaborasi dengan tim S: px mau makan makanan
ahli gizi untuk dari rumah sakit.
O: px makan habis 1/4 porsi.
pemberian diit: bubur
halus.
3. Selasa, 08.00 Memantau tanda-tanda S: Px. Mengatakan tidak
24/10/17 vital. pusing.
O: TD: 120/90 mmHg,
S: 36,90C, RR: 20 x/menit,
N: 84 x/menit, CRT<2 dtk.
08.30 Kolaborasi dengan tim S: Pasien mau diberikan obat
medis: Memberikan melalui injeksi dan infus.
vicilin 2 x 1500 mg, O: Vicilin 2x1500 mg (iv
metronidazole 2x500 bolus), metronidazole 2x500
09.10 mg. mg (melalui infus set).
Memantau kondisi luka S: px, “lukanya tidak gatal tapi
post op. nyeri kalau dibuat gerak”.
O: Tidak ada kemerahan pada

23
area luka post op, tidak ada
massa area luka, tidak ada
09.15 distended abdomen, nyeri (+).
Melakukan perawatan S: px mau dilakukan rawat
luka post op. luka.
O: luka post op 5 cm dengan
jahitan 5 simpul, pus sedikit,
darah sedikit. Luka bersih.
1. Rabu, 07.30 Memantau keadaan S: Px. Mengatakan lemas dan
25/10/17 umum pasien dan nyeri sudah mulai berkurang
reassessment nyeri. terasa saat digunakan
bergerak, hilang timbul.
O: Skala nyeri 5, wajah
08.00 tampak meringis.
Memantau tanda-tanda S: Px. Mengatakan tidak
vital pusing.
O: TD: 110/90 mmHg,
S: 36,80C, RR: 20 x/menit,
08.30 N: 86 x/menit, CRT<2 dtk.
Kolaborasi dengan tim S: Px merasa nyeri saat
medis:Memberikan diinjeksi.
Santagesik. O: Santagesik 3x1g melalui iv
11.00 bolus. Wajah rileks.
Memberikan terapi S: Px mengerti intruksi
mobilisasi dini. perawat.
O: Px mengikuti intruksi
perawat sampai selesai, wajah
11.15
Mengajarkan pasien tampak rileks.
S: Px “paham.”
dan keluarga tentang
O: Pasien menganggukkan
manfaat mobilisasi
13.00 kepala.
dini.
Memantau keadaan S: Px. Mengatakan lemas dan
umum pasien dan nyeri berkurang pada sekitar
reassessment nyeri. luka operasi, seperti ditusuk-
tusuk dan terasa saat
digunakan bergerak.
O: Skala nyeri 5, wajah
tampak meringis.
S: Px. Mengatakan tidak
pusing.

2. Rabu, 08.10 Memantau asupan S: Px mengatakan nafsu


25/10/17 nutrisi dan keadaan makan berkurang, mual,

24
umum pasien. lemas.
O: Membran mukosa bibir
kering, makan habis 1/3 porsi,
08.15 BB = 58 kg.
Menganjurkan pasien S: Px “paham”
makan sedikit tapi O: px makan sedikit tapi
08.17 sering. sering.
Menganjurkan pasien S: px “paham”
makan selagi hangat. O: px makan ketika makanan
08.20
baru datang.
Menjelaskan S: px “paham”
pentingnya makanan O: Px menganggukkan kepala.
12.20 dalam proses
penyembuhan.
Kolaborasi dengan tim S: px mau makan makanan
ahli gizi untuk dari rumah sakit.
O: px makan habis 1/3 porsi.
pemberian diit: bubur
halus.
3. Rabu, 08.00 Memantau tanda-tanda S: Px. Mengatakan tidak
25/10/17 vital. pusing.
O: TD: 110/90 mmHg,
S: 36,80C, RR: 20 x/menit,
N: 86 x/menit, CRT<2 dtk.
08.30 Kolaborasi dengan tim S: Pasien mau diberikan obat
medis: Memberikan melalui injeksi dan infus.
vicilin 2x1500 mg, O: Vicilin 3x1500 mg (iv
metronidazole 2x500 bolus), metronidazole 2x500
09.10 mg. mg (melalui infus set).
Memantau kondisi luka S: px, “lukanya tidak gatal tapi
post op. nyeri kalau dibuat gerak”.
O: Tidak ada kemerahan pada
area luka post op, tidak ada
massa pada area luka, tidak
ada distended abdomen, nyeri
09.15 (+).
Melakukan perawatan
S: px mau dilakukan rawat
luka post op.
luka.
O: luka post op 5 cm dengan
jahitan 5 simpul, pus sedikit,
darah sedikit. Luka bersih.
1. Kamis, 07.30 Memantau keadaan S: Px. Mengatakan lemas dan
26/10/17 umum pasien dan nyeri berkurang pada sekitar
reassessment nyeri. luka operasi, seperti ditusuk-
tusuk dan terasa saat

25
digunakan bergerak.
O: Skala nyeri 4, wajah
08.00 Memantau tanda-tanda tampak meringis.
vital S: Px. Mengatakan tidak
pusing.
O: TD: 120/70 mmHg,
S: 36,90C, RR: 20 x/menit,
08.30 Kolaborasi dengan tim N: 88 x/menit, CRT<2 dtk.
medis: Memberikan S: Px merasa nyeri saat
Santagesik. diinjeksi.
O: Santagesik 3x1g melalui iv
11.00
Memberikan terapi bolus. Wajah rileks.
mobilisasi dini. S: Px mengerti intruksi
perawat.
O: Px mengikuti intruksi
11.15 perawat sampai selesai, wajah
Mengajarkan pasien
tampak rileks.
dan keluarga tentang S: Px “paham.”
manfaat mobilisasi O: Pasien menganggukkan
13.00 dini. kepala.
Memantau keadaan
umum pasien dan S: Px. Mengatakan lemas dan
reassessment nyeri. nyeri berkurang pada sekitar
luka operasi, seperti ditusuk-
tusuk dan terasa saat
digunakan bergerak.
O: Skala nyeri 4, wajah
tampak meringis.

2. Kamis, 08.10 Memantau asupan S: Px mengatakan nafsu


26/10/17 nutrisi dan keadaan makan masih kurang, mual,
umum pasien. lemas.
O: Membran mukosa bibir
kering, makan habis 1/2 porsi,
08.15 BB = 58 kg.
Menganjurkan pasien S: Px “paham”
makan sedikit tapi O: px makan sedikit tapi
08.17 sering. sering.
Menganjurkan pasien S: px “paham”
makan selagi hangat. O: px makan ketika makanan
08.20 baru datang.
Menjelaskan S: px “paham”
pentingnya makanan O: Px menganggukkan kepala.
dalam proses
12.20 penyembuhan.

26
Kolaborasi dengan tim S: px mau makan makanan
ahli gizi untuk dari rumah sakit.
pemberian diit: bubur O: px makan habis 1/2 porsi.
halus.
3. Kamis, 08.00 Memantau tanda-tanda S: Px. Mengatakan tidak
26/10/17 vital. pusing.
O: TD: 120/70 mmHg,
S: 36,90C, RR: 20 x/menit,
N: 88 x/menit, CRT<2 dtk.
08.30 Kolaborasi dengan tim S: Pasien mau diberikan obat
medis: Memberikan melalui injeksi dan infus.
vicilin 3x1500 mg, O: Vicilin 3x1500 mg (iv
metronidazole 2x500 bolus), metronidazole 2x500
09.10 mg. mg (melalui infus set).
Memantau kondisi luka S: px, “lukanya tidak gatal tapi
post op. nyeri kalau dibuat gerak”.
O: Tidak ada kemerahan pada
area luka post op, tidak ada
massa pada area luka, tidak
ada distended abdomen, nyeri
09.15 (+).
Melakukan perawatan
S: px mau dilakukan rawat
luka post op.
luka.
O: luka post op 5 cm dengan
jahitan 5 simpul, pus (-), darah
(-). Luka bersih.

3.6 Evaluasi Keperawatan


EVALUASI KEPERAWATAN
Nama Pasien : Tn. S No. RM : 2487xx
Diagnosa Medis : Apendiksitis Ruangan : Teratai
No. Hari, Tanggal Respon Perkembangan Paraf
Dx dan jam

27
1. Selasa, S : Px. Mengatakan lemas dan nyeri pada sekitar luka
24/10/2017 operasi, seperti ditusuk-tusuk dan terasa saat
14.00 WIB digunakan bergerak.
O : Wajah tampak meringis, skala nyeri 5, TD: 120/90
mmHg, RR: 20x/m, N: 84x/m, S: 36,90C, CRT<2 dtk.
A : Masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4, dan 5

Rabu, S : Px. Mengatakan lemas dan nyeri sudah mulai


25/10/2017 berkurang terasa saat digunakan bergerak, hilang
14.00 WIB timbul.
O : Skala nyeri 5, wajah tampak meringis, TD: 110/90
mmHg, S: 36,80C, RR: 20 x/menit, N: 86 x/menit,
CRT<2 dtk.
A : Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4 dan 5

Kamis, S : Px. Mengatakan lemas dan nyeri berkurang pada


26/10/2017 sekitar luka operasi, seperti ditusuk-tusuk dan terasa
14.00 WIB saat digunakan bergerak.
O : Skala nyeri 4, wajah tampak meringis, TD: 120/70
mmHg, S: 36,90C, RR: 20 x/menit, N: 88 x/menit,
CRT<2 dtk.
A : Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4 dan 5.

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama Pasien : Tn. S No. RM : 2487xx
Diagnosa Medis : Apendiksitis Ruangan : Teratai
No. Hari, Tanggal Respon Perkembangan Paraf
Dx dan jam
2. Selasa, S : Px mengatakan nafsu makan berkurang, mual,
24/10/2017 lemas.
14.00 WIB O : Membran mukosa bibir kering, makan habis 1/4
porsi, BB = 58 kg.
A : Masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi 1,2,3,4, dan 5

28
Rabu, S : Px mengatakan nafsu makan berkurang, mual,
25/10/2017 lemas.
14.00 WIB O : Membran mukosa bibir kering, makan habis 1/3
porsi, BB = 58 kg.
A : Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4 dan 5

Kamis, S : Px mengatakan nafsu makan masih kurang, mual,


26/10/2017 lemas.
14.00 WIB O : Membran mukosa bibir kering, makan habis 1/2
porsi, BB = 58 kg.
A : Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4 dan 5.

EVALUASI KEPERAWATAN
Nama Pasien : Tn. S No. RM : 2487xx
Diagnosa Medis : Apendiksitis Ruangan : Teratai
No. Hari, Tanggal Respon Perkembangan Paraf
Dx dan jam
3. Selasa, S : Px, “lukanya tidak gatal tapi nyeri kalau dibuat
24/10/2017 gerak”.
14.00 WIB O : Tidak ada kemerahan pada area luka post op, tidak
ada massa area luka, tidak ada distended abdomen,
nyeri (+), luka post op 5 cm dengan jahitan 5 simpul,
pus sedikit, darah sedikit. Luka bersih. TD: 120/90
mmHg, S: 36,90C, RR: 20 x/menit, N: 84 x/menit,
CRT<2 dtk.
A : Masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi 1,2,3, dan 4.

29
Rabu, S : Px, “lukanya tidak gatal tapi nyeri kalau dibuat
25/10/2017 gerak”.
14.00 WIB O : Tidak ada kemerahan pada area luka post op, tidak
ada massa pada area luka, tidak ada distended
abdomen, nyeri (+), luka post op 5 cm dengan jahitan
5 simpul, pus sedikit, darah sedikit. Luka bersih, TD:
110/90 mmHg, S: 36,80C, RR: 20 x/menit, N: 86
x/menit, CRT<2 dtk.
A : Masalah belum teratasi.
P : Lanjutkan intervensi 1, 2, 3, dan 4.

Kamis, S : Px, “lukanya tidak gatal tapi nyeri kalau dibuat


26/10/2017 gerak”.
14.00 WIB O : Tidak ada kemerahan pada area luka post op, tidak
ada massa pada area luka, tidak ada distended
abdomen, nyeri (+), luka post op 5 cm dengan jahitan
5 simpul, pus (-), darah (-). Luka bersih, TD: 120/70
mmHg, S: 36,90C, RR: 20 x/menit, N: 88 x/menit,
CRT<2 dtk.
A : Masalah teratasi.
P : Pertahankan intervensi 1, 2, 3, dan 4.

ANALISA SWOT JURNAL

Judul Jurnal : Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Perubahan Tingkat

Nyeri Klien Post Operasi Apendektomi di Rumah Sakit Baladhika Husada

Kabupaten Jember.
Penulis : Rr. Caecilia Yudistika Pristahayuningtyas, Murtaqib,

Siswoyo (Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Jember).


Korespondensi : rr.c.y.pristahayuningtyas@gmail.com
Publikasi oleh : e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 4 (no.1), Januari, 2016
Resume Jurnal : Apendektomi adalah prosedur yang dapat menyebabkan

nyeri. Mobilisasi dini berguna untuk mengalihkan perhatian klien dari nyeri yang

dirasakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh

mobilisasi dini terhadap perubahan tingkat nyeri klien post operasi apendektomi.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian pre eksperimental: one group

pretest-postest. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling

30
yang melibatkan 8 orang tanpa kelompok kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini

adalah terdapat pengaruh mobilisasi dini terhadap perubahan tingkat nyeri klien

post operasi apendektomi. Mobilisasi dini ini diharapkan dapat diterapkan sebagai

salah satu metode dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan

post operasi apendektomi.


Analisa Jurnal :
1. S (Kekuatan)
Penelitian ini menggunakan pre eksperimental design dengan metode one

group pretest-posttest, yang mana ada pengukuran skala nyeri sebelum

dilakukan terapi dan sesudah dilakukan terapi. Sehingga akan didapatkan

perubahan dari rentang skala nyeri yang dirasakan responden antara

sebelum diberikan terapi dan sesudah diberikan terapi. Terapi mudah

diterapkan.
2. W (Kelemahan)
Penelitian ini menggunakan 1 kelompok perlakuan tanpa ada kelompok

kontrol, sehingga tidak ada pembanding hasil antara kelompok pemberian

dan kelompok yang tidak diberikan terapi apakah memiliki pengaruh yang

sama atau berbeda. Selain itu, jumlah sampel yang digunakan kecil yakni

berjumlah 8 sampel. Keberhasilan terapi ini tergantung pada respon nyeri

individu yang berbeda-beda, seperti pada pasien Tn. S skala nyeri dapat

turun setelah 3 kali perlakuan.


3. O (Peluang)
Penelitian ini dapat diterapkan dalam intervensi keperawatan serta

implementasi keperawatan dengan mudah karena tidak menggunakan alat

dan bahan terapi. Selain itu, keluarga juga dapat dilibatkan dalam

pemberian terapi.
4. T (Ancaman)
Motivasi perawat dalam melakukan terapi ini karena pada pasien post op

diberikan terapi ini oleh fisioterapi. Selain itu, kesalahan dalam melakukan

31
terapi juga dapat menyebabkan kesalahan dalam tindakan karena ada

perbedaan langkah sesuai pasien post op hari keberapa.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Apendiksitis merupakan suatu kondisi dimana infeksi terjadi di umbai

cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak

kasus memerlukan laparatomi dengan penyingkiran umbai cacing yang

terinfeksi. Pada asuhan keperawatan ini muncul 3 diagnosa aktual yaitu nyeri

akut, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan resiko infeksi. Implementasi

sudah dilakukan selama 3 hari, dari 3 masalah keperawatan yang dialami

pasien 2 diantaranya belum teratasi. Dimana pada masalah keperawatan nyeri

akut pasien masih merasakan nyeri pada skala 4 post op laparotomy, dan untuk

masalah keperawatan nutrisi pasien masih merasa mual selama 3 hari

pemberian asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2013. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 12. Jakarta: EGC.
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, Ed 3. Jakarta: EGC.
Grace, Pierce A & Borley Neil R. 2006. At a Glance: Ilmu Bedah. Surabaya:

Airlangga.
Judith, M. Wilkinson, Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan

Edisi 9. Jakarta: EGC.

32
Kimberly, A.J Bilotta. 2011. Kapita Selekta Penyakit, Edisi 2. Jakarta: EGC.

33