You are on page 1of 7

A.

Asuhan Keperawatan Pada Klien Trauma Muskuloskeletal


1. Pengkajian
a. Identitas pasien.
b. Keluhan Utama. Nyeri, kelemahan, mati rasa, edema, perdarahan,
perubahan mobilitas /ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot
dan tendonc.
c. Riwayat Kesehatan
d. Riwayat penyakit sekarang
1) Kapan keluhan dirasakan, apakah sesudah beraktivitas kerja
atau setelah berolah raga.
2) Daerah mana yang mengalami trauma.
3) Bagaimana karakteristik nyeri yang dirasakan
e. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah klien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti ini atau
mengalami trauma pada sistem muskuloskeletal lainnya
f. Riwayat Penyakit Keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini
g. Pemeriksaan Fisik.
1) Inspeksi : Kelemahan, Edema, Perdarahan perubahan warna
kulit,Ketidakmampuan menggunakan sendi.
2) Palpasi : Mati rasa
3) Auskultasi
4) Perkusi
h. Pemeriksaan Penunjang
Pada sprain untuk diagnosis perlu dilaksanakan rontgen untuk
membedakan dengan patah tulang.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan peregangan atau kekoyakan pada otot,
ligament atautendon ditandai dengan kelemahan, mati rasa, perdarahan,
edema, nyeri
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri / ketidakmampuan,
ditandai denganketidakmampuan untuk mempergunakan sendi, otot dan
tendon.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan dalam
melaksanakanaktivitas ditandai dengan gerakan yang minim (imobilisasi)
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai
penyakit dan program pengobatan .

C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan peregangan atau kekoyakan pada otot,
ligamentatau tendon ditandai dengan kelemahan, mati rasa, perdarahan,
edema, nyeri.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang
dan terkontrol.
Kriteria Hasil :
a. Menunjukkan nyeri berkurang atau terkontrol.
b. Terlihat rileks, dapat tidur atau beristirahat dan beraktifitas sesuai
kemampuan.
c. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
d. Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan kedalam
programcontrol nyeri
Intervensi :
a. Selidiki keluhan nyeri, catatlokasi dan intensitas( skala 0-10). Catat
factor-faktor yangmempercepat dan tanda-tandarasa sakit non verbal.
R/ : Membantu dalam menentukankebutuhan managemen nyeri
dankeefektifan program.
b. Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips,
pembebat.
R/ : Menghilangkan nyeri dan mencegahkesalahan posisi tulang /
tegangan jaringan yang cedera.
c. Tinggikan bagian ekstremitas yang sakit.
R/ : Meningkatkan aliran balik vena,menurunkan edema, dan
menurunkannyeri.
d. Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan
cedera.
R/ : Membantu untuk menghilangkanansietas, pasien dapat
merasakankebutuhan untuk menghilangkan pengalaman kecelakaan.
e. Libatkan dalam aktifitas hiburanyang sesuai untuk situasiindividu
R/ : Memfokuskan kembali perhatian,memberikan stimulasi,
danmeningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
f. Lakukan kompres dingin/es 24-48 jam pertama dan sesuaikeperluan.
R/ : Menurunkan edema / pembentukan hematoma,menurunkan sensasi
nyeri
g. Berikan obat sesuai indikasinarkotik dan analgesik nonnarkotik.
R/ : Untuk menurunkan nyeri dan atauspasme otot.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri / ketidakmampuan,
ditandaidengan ketidakmampuan untuk mempergunakan sendi, otot dan
tendon.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidak terjadi kerusakan
mobilitas fisik
Kriteria Hasil :
a. Mempertahankan fungsi posisi.
b. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari
kompensasi tubuh.
c. Mendemonstrasikan teknik yang memungkinkan melakukan aktifitas.
Intervensi :
a. Observasi tingkat mobilitasyang masih dapat dilakukanklien.
R/ : Membantu dalam menentukankebutuhan bantuan mobilitas yangakan
diberikan dan keefektifan program
b. Instruksikan klien / bantu dalamrentang gerak klien / aktif padaekstremitas
yang sakit dan yangtidak sakit.
R/ : Meningkatkan aliran darah ke ototdan tulang untuk
meningkatkantonus otot, mempertahankan gerak sendi.
c. Bantu atau dorong perawatandiri / kebersihan (sepertimandi).
R/ : Meningkatkan kekuatan otot dansirkulasi.
d. Berikan lingkungan yang aman,misalnya menaikkan kursi ataukloset,
menggunakan pegangantangga pada bak atau pancuran dantoilet,
peggunaan alat bantumobilitas atau kursi roda penyelamat.
R/ : Menghindari terjadinya cedera berulang.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan dalam
melaksanakanaktivitas ditandai dengan gerakan yang minim (imobilisasi)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mampu melakukan
perawatandiri secara mandiri
Kriteria Hasil :
a. Klien mendiskusikan cedera dan dampaknya dalam hidup.
b. Klien mampu berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari
Intervensi :
a. Sokong penggunaan mekanisme penyelesaian masalah.
R/ : Penghentian mendadak rutinitas danrencana memerlukan mekanisme
penyelesaian masalah.
b. Libatkan orang yang berarti danlayanan pendukung bila dibutuhkandan
perlu.
R/ : Orang lain dapat membentu pasienmengenai aktivitas hidup sehari-
hari.
c. Dorong partisipasi aktif dalamaktivitas hidup sehari-hari dalam batasan
terapeutik.
R/ : Rasa harga diri dapat ditingkatkandengan aktivitas perawatan diri.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
mengenaipenyakit dan program pengobatan.
Tujuan : setelah dilakuakn intevensi keperawatan klien dapat mengetahui
tentang penyakitnya dan mengetahui tentang program pengobatan.
Kriteria Hasil :
a. Menujukkan pemahaman akan proses penyakit.
b. Ikut serta dalam program pengobatan dan memuali gaya hidup yang
diperlukan.
Intervensi :
a. Tinjau proses penyakit danharapan masa depan
R/ : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat
pilihan.
b. Berikan informasi mengenaiterapi obat– obatan,intreraksi,efek samping
,dan pentingnya ketaatan program
R/ : Meningkatkan pemahaman danmeningkatkan kerja sama dalam
penyembuhan atau dan mengurangi resiko komplikasi.
c. Dorong periode istrahat adekuatdengan aktivitas yang terjadwal.
R/ : Mencegah kepenatan,menghematenergy dan meningkatkan
penyembuhan.
d. Tekankan pentingnyamelanjutkan manajemenfarmakoterapeutik
R/ : Keuntungan dari terapi obat-obatantergantung dari ketepatan dosis
e. Berikan informasi mengenai alat bantu,misalnya
tongkat,palangkeamanan,tempat duduk toiletyang bias dinaikkan
R/ : Mengurangi paksaan untuk menggunakan tulang danmemungkinkan
individu untuk ikutserta secara lebih nyaman dalamaktivitas yang di
butuhkan atau diinginkan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Trauma muskuloskletal biasanya menyebabkan disfungsi struktur disekitarnyadan
struktur pada bagian yang dilindungi atau disangganya. Gangguan yang palingsering
terjadi akibat trauma muskuloskletal adalah kontusio, strain, sprain dan dislokasi.
Kontusio merupakan suatu istilah yang digunakan untuk cedera pada
jaringanlunak yang diakibatkan oleh kekerasan atau trauma tumpul yang langsung
mengenai jaringan, seperti pukulan, tendangan, atau jatuh.Sprain adalah bentuk cidera
berupa penguluran atau kerobekan pada ligament (jaringan yang menghubungkan
tulangdengan tulang) atau kapsul sendi, yang memberikan stabilitas sendi.Strain
adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada struktur muskulo-
tendinous (ototdan tendon) sedangkan Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan
tulang darikesatuan sendi.
B. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman dan
pengetahuankita tentang asuhan keperawatan klien dengan trauma musculoskeletal :
kontusio,sprain, strain dan dislokasi. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini
masih jauhdari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik
yangmembangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.
TerimaKasih.
DAFTAR PUSTAKA
Andri Andreas.Dr. 2012.Basic Trauma Cardiac Life Support.Jakarta: AGD
DinkesProvinsi DKI Jakarta.
Doengoes, Marylin E. 2000. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan(
Edisi 3) Jakarta: EGC.
Brunner & Suddart. 2011.Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta : EGC.
http://zillyannurse.blogspot.com/2011/11/askep-trauma-muskuloskeletal.html.