You are on page 1of 15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap manusia pasti mempunya rasa cemas. Perasaan cemas ini terjadi

pada saat adanya kejadian atau peristiwa tertentu maupun dalam menghadapi

suatu hal. Perasaan tersebut ditandai oleh rasa ketakutan yang difus, tidak

menyenangkan, dan samar-samar, seringkali disertai oleh gejala otonomik,

seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, kekakuan pada dada, dan gangguan

lambung ringan. Seseorang yang cemas mungkin juga merasa gelisah, seperti

yang dinyatakan oleh ketidakmampuan untuk duduk atau berdiri lama.

Kumpulan gejala tertentu yang ditemukan selama kecemasan cenderung

bervariasi dari orang ke orang. 1,2

Cemas (ansietas) dapat ditemukan dimana-mana; tidak demikian dengan

gangguan ansietas. Kecemasan berubah menjadi abnormal ketika kecemasan

yang ada di dalam diri individu menjadi berlebihan dan tidak rasional atau

melebihi dari kapasitas umumnya.Individu dengan gejala seperti ini bisa

dikatakan mengalami anxiety disorder (gangguan kecemasan) terutama apabila

kecemasan ini mengganggu aktivitas dalam kehidupan dari diri individu

tersebut, salah satunya yakni gangguan fungsi sosial. 1,3

Gangguan kecemasan adalah salah satu gangguan mental yang paling

lazim terjadi di masyarakat umum. National Comorbidity Study melaporkan

bahwa satu diantara empat orang, memenuhi kriteria untuk sedikitnya satu

gangguan cemas, dan angka prevalensi sebesar 28,8%. Perkiraan yang diterima

untuk prevalensi gangguan cemasan umum dalam satu tahun adalah dari 3-8%.
1
Gangguan cemas menyeluruh kemungkinan merupakan gangguan yang paling

sering ditemukan dengan gangguan mental penyerta, biasanya gangguan cemas

atau gangguan mood lainnya. Kemungkinan 50% dengan gangguan cemas

menyeluruh memiliki gangguan mental lainnya1,4

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari pembuatan laporan kasus ini adalah untuk mempelajari, memahami,

dan menelaah kasus yang berhubungan dengan definisi, epidemiologi, etiologi,

gambaran klinis, diagnosis, tatalaksana, dan prognosis gangguan ansietas menyeluruh.

1.3 Metodologi Penulisan

Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan kepustakaan merujuk kepada

berbagai literatur seperti textbook dan jurnal.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan; ia memperingatkan

adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil

tindakan untuk mengatasi ancarian. Kecemasan merupakan respon terhadap suatu

ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar-samar, atau konflik.

Keadaan ini jika menimbulkan psikopatologis disebut menjadi gangguan

kecemasan (anxiety disorder).1,2

Gangguan cemas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder, GAD)

merupakan kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran

yang berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistik terhadap

berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari dengan gejala ketegangan otot dan fisik

sehingga menyebabkan hendaya signifikan pada fungsi sosial. Kondisi ini

dialami hampir sepanjang hari, berlangsung sekurangnya selama 6 bulan.5,7

2.2 Epidemiologi

Prevalensi gangguan cemas menyeluruh dalam 6 bulan adalah 2,5-6,4 %,

dalam 12 bulan adalah 3,1 % dan prevalensi seumur hidup adalah 5,7%.

prevalensi seumur hidup berdasarkan jenis kelamin adalah 7,7% pada perempuan

dan 4,6% pada laki-laki. Kejadian tertinggi berada pada usia 45-59 tahun dan

terendah pada 18-29 tahun dan 60 tahun keatas. Onset awal berkaitan dengan
3
ketakutan pada anak-anak dan gangguan marital/seksual sedangkan onset lambat

berkaitan dengan kejadian yang menimbulkan stres. Lebih dari 30% pasien

gangguan ini tidak menikah dan tidak memiliki pekerjaan.5,7

2.3 Etiologi

 Teori biologi

Area otak yang diduga terlibat pada timbulnya gangguan ini adalah lobus

oksipitalis yang mempunyai reseptor benzodiazepine tertinggi di otak. Basal

ganglia, sistem limbic dan korteks frontal juga dihipotesiskan terlibat pada

etiologi timbulnya gangguan tersebut. Pada pasien gangguan cemas

menyeluruh juga ditemukan sistem serotonergik yang abnormal.

Neurotransmiter yang berkaitan dengan gangguan cemas menyeluruh adalah

GABA, serotonin, norepinefrin, glutamate, dan kolesistokinin.1,6

 Teori genetik

Terdapat hubungan genetik pasien gangguan cemas menyeluruh pada pasien

wanita. Sekitar 25% dari keluarga tingkat pertama menderita gangguan yang

sama. Sedangkan, pada pasangan kembar didapatkan angka 50% pada

kembar monozigotik dan 15% pada kembar dizigotik.6

 Teori psikoanalitik6

Ansietas adalah gejala dari konflik bawah sadar yang tidak terselesaikan.

Ansietas secara primitif dihubungkan dengan perpisahan dengan objek cinta.

Pada tingkat yang lebih matang lagi anxietas dihubungkan dengan kehilangan

cinta dari objek yang penting.

 Teori kognitif-perilaku6

4
Penderita gangguan ini berespons secara salah dan tidak tepat terhadap

ancaman, disebabkan oleh perhatian yang selektif terhadap hal-hal negatif

pada lingkungan, adanya distorsi pada pemrosesan informasi dan pandangan

yang sangat negatif terhadap kemampuan diri untuk menghadapi ancaman.

2.4 Gambaran Klinis

Gambaran klinis gangguan cemas menyeluruh bervariasi, diagnosisnya

ditegakkan apabila dijumpai gejala-gejala antara lain keluhan cemas, khawatir,

was-was, ragu untuk bertindak, perasaan takut yang berlebihan, gelisah pada

hal-hal yang sepele dan tidak utama yang mana perasaan tersebut mempengaruhi

seluruh aspek kehidupannya, sehingga pertimbangan akal sehat, perasaan dan

perilaku terpengaruh. Selain itu spesifiknya adalah kecemasanya terjadi kronis

secara terus-menerus mencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan,

kesulitan finansial), cemas akan terjadinya bahaya, cemas kehilangan kontrol,

cemas akan`mendapatkan serangan jantung. Sering penderita tidak sabar, mudah

marah, sulit tidur.1,6,7

Berdasarkan ICD-10, setidaknya terdapat 4 ( paling tidak 1 dari gejala

autonom). Berikut tabel gejala gangguan cemas menyeluruh :

Tabel 1. Gejala-gejala Gangguan Cemas Menyeluruh

1. Gejala otonom a. Palpitasi/takikardi

b. Berkeringat

c. Tremor

d. Mulut kering

2. Gejala fisik e. Kesulitan bernafas

f. Rasa tercekik

5
g. Nyeri dada

h. Mual

3. Status mental i. Pusing

j. Goyah

k. Pingsan atau kepala terasa ringan

l. Derealisasi/depersonalisasi

m. Takut kehilangan kontrol, menjadi gila

4. Gejala umum n. Muka merah

o. Kebas/kesemutan

5. Ketegangan p. Otot tegang/sakit atau nyeri

q. Kesulitan untuk beristirahat

r. Merasa ada sesuatu di tenggorok

6. Sulit

berkonsentrasi dan

respon berlebihan

terhadap stimulus

ringan

2.5 Diagnosis

Kriteria diagnostik gangguan cemas menyeluruh menurut DSM V-TR:1

A. Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan yang timbul hampir setiap

hari, sepanjang hari, terjadi selama sekurangnya 6 bulan, tentang sejumlah

aktivitas atau kejadian (seperti pekerjaan atau aktivitas sekolah)

6
B. Penderita merasa sulit mengendalikan kekhawatirannya.

C. Kecemasan dan kekhawatiran disertai tiga atau lebih dari enam gejala berikut

ini (dengan sekurangnya beberapa gejala lebih banyak terjadi dibandingkan

tidak terjadi selama 6 bulan terakhir).

*Catatan: hanya satu nomor yang diperlukan pada anak.

1. Kegelisahan

2. Merasa mudah lelah

3. Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong

4. Iritabilitas

5. Ketegangan otot

6. Gangguan tidur (sulit tertidur atau tetap tidur, atau tidur gelisah, dan tidak

memuaskan).

D. Kecemasan, kekhawatiran, atau gejala fisik menyebabkan penderitaan yang

bermakna secara klinis, atau gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan, atau

fungsi penting lain.

E. Gangguan yang terjadi adalah bukan karena efek fisiologis langsung dari

suatu zat (misalnya penyalahgunaan zat, medikasi) atau kondisi medis umum

(misalnya hipertiroidisme)

F. Gangguan tidak dapat dijelaskan oleh gangguan mental lainnya (misalnya,

kecemasan atau ketakutan tentang menderita suatu serangan panik seperti

pada gangguan panik, merasa malu pada situasi umum seperti pada fobia

sosial, terkontaminasi atau obsesi lain pada gangguan obsesif kompulsif,

perpisahan dengan figur terdekat seperti gangguan cemas perpisahan,

penambahan berat badan seperti pada anoreksia nervosa, menderita keluhan

7
fisik seperti pada gangguan somatisasi, atau menderita penyakit serius pada

gangguan kecemasan atau terdapat waham seperti pada skizofrenia.

Diagnosis gangguan cemas menyeluruh menurut PPDGJ – III:4

 Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang

berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa

bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus

tertentu saja (sifatnya “free floating” atau “mengambang”)

 Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:

a) Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti diujung tanduk,

sulit konsentrasi, dsb)

b) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai);

dan

c) Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, bekeringat, jantung

berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut

kering, dsb).

 Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk

ditenangkan (reassurance) serta keluhan-keluhan somatik berulang yang

menonjol.

 Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari),

khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama gangguan anxietas

menyeluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari

episode depresif (F32.-), gangguan anxietas fobik (F40.-), gangguan panik

(F41.0), atau gangguan obsesif-kompulsif (F42.-)

8
Diagnosis gangguan cemas menyeluruh menurut PPDGJ-III ditegakkan

berdasarkan :5

 Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang

berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa

bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus

tertentu saja (sifatnya “free floating” atau “mengambang”).

 Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:

1. Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk,

sulit berkonsentrasi, dsb)

2. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai);

dan

3. Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung

berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut

kering, dsb)

 Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari),

khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama Gangguan Anxietas

Menyeluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari

episode depresif (F.32.-), gangguan anxietas fobik (F.40.-), gangguan panik

(F42.0), atau gangguan obsesif-kompulsif (F.42.-)

2.6 Diagnosis Banding

Gangguan kecemasan dapat di diagnosis bandingkan dengan kecemasan,

depresi, campuran cemas dengan depresi dan gangguan kecemasan lainnya,

penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol, kondisi medis tertentu atau

9
efek samping obat (antihipertensi, anti-aritmia, bronkodilator, antikolinergik, anti

konvulsan, anti-Parkinson, anti depresan, antipsikotik7

Kondisi medis dengan gejala seperti gangguan cemas :7

 Sistemkardiovaskular : aritmia, penyakit jantung iskemik, gagal jantung

 Pernafasan : asma, PPOK, hipoksia

 Neurologik : penyakit saraf vestibuler

 Endokrin : hipertiroid, hipoparatiroid, hipoglikemi

 Dan lain lain : anemia, SLE

2.7 Tatalaksana

2.7.1 Farmakoterapi1,6,7

1. Benzodiazepine

Merupakan pilihan obat pertama. Pemberian benzodiazepine dimulai

dengan dosis terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respon terapi.

Penggunaan sediaan dengan waktu paruh menengah dan dosis terbagi dapat

mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan. Lama pengobatan rata-rata

adalah 2-6 minggu, dilanjutkan dengan masa tapering off selama 1-2 minggu,

2. Buspirone

Efektif pada 60-80% penderita gangguan cemas menyeluruh. Buspiron

lebih efektif dalam memperbaiki gejala kognitif dibanding memperbaiki gejala

somatik pada gangguan cemas menyeluruh. Tidak menyebabkan withdrawl.

10
Kekurangannya adalah efek klinisnya baru terasa setelah 2-3 minggu. Terdapat

bukti bahwa penderita yang sudah menggunakan benzodiazepine tidak akan

memberikan respon yang baik dengan buspiron. Dapat dilakukan penggunaan

bersama antara benzodiazepine dengan buspiron kemudian dilakukan tapering

benzodiazepine setelah 2-3 minggu, disaat efek terapi buspiron sudah mencapai

maksimal.

3. SSRI (selective serotonin re-uptake inhibitor)

Sertraline dan paroxetine merupakan pilihan yang lebih baik daripada

fluoksetin. Pemberian fluoksetin dapat meningkatkan anxietas sesaat. SSRI

selektif terutama pada pasien gangguan cemas menyeluruh dengan riwayat

depresi.

2.7.2 Psikoterapi1,6,7

1. Terapi kognitif-perilaku

Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali

distorsi kognitif dan pendekatan perilaku, mengenali gejala somatik secara

langsung. Teknik utama yang digunakan pada pendekatan behavioral adalah

relaksasi dan biofeedback.

2. Terapi suportif

Pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, digali potensi-potensi

yang ada dan belum tampak, didukung egonya, agar lebih bisa beradaptasi

optimal dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.

11
3. Psikoterapi berorientasi tilikan

Terapi ini mengajak pasien untuk mencapai penyingkapan konflik

bawah sadar, menilik egostrength, relasi obyek, sen tersebut kita sebagai terapis

dapat memperkirakan sejauh mana pasien dapat diubah untuk menjadi lebih

matur; bila tidak tercapai, minimal kita memfasilitasi agar pasien dapat

beradaptasi dalam fungsi sosial pekerjaannya.

2.8 Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Karena tingginya insidensi gangguan mental komorbid pada pasien

dengan gangguan kecemasan umum, perjalanan klinis dan prognosis gangguan

adalah sukar untuk diperkirakan. Namun demikian, beberapa dala menyatakan

bahwa peristiwa kehidupan adalah berhubungan dengan onset gangguan

kecemasan umum; terjadinya beberapa peristiwa kehidupan yang negatif secara

jelas meningkatkan kemungkinan akan terjadinya gangguan. Menurut definisinya,

gangguan kecemasan umum adalah suatu keadaan kronis yang mungkin seumur

hidup sehingga prognosis secara umum adala buruk. Jika disertai dengan

komorbid seperti penyalahgunaan alkohol maka prognosis akan semakin buruk.

Sebanyak 25 persen pasien akhimya mengalami gangguan panik. Sejumlah besar

pasien kemungkinan memiliki gangguan depresif berat. Dari data didapatkan

bahwa kemungkinan untuk remisi kurang lebih 30%setelah 3 tahun terapi. Dalam

6 tahun kemungkinan adanya gejala residu ringan adalah 68% dan gangguan berat

yang persisten sebanyak 9%.1,7

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI, Sadock BJ. Gangguan Kecemasan dalam Synopsis Psikiatri, Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Edisi Ke-7 Jilid 2. Jakarta : Binarupa Aksara.
1997

13
2. Maria J. Cemas Normal atau Tidak Normal. Program Studi Psikologi. Medan :
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2003
3. Diferiansyah O, Septa T, Lisiswanti R. Gangguan Cemas Menyeluruh. J Medula
Unila. 2016. 5 (6) : 63-68
4. Kessler RC, Berglund P, Demler O, Jin R, Merikangas KR, Walters EE. Lifetime
prevalence and age-of-onset distributions of DSM-IV disorders in the national
comorbidity survey replication. Arch Gen Psychiatry. 2005; 62(6):593-602.
5. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III
dan DSM-5. Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa FK-Unika Atmajaya: Jakarta; 2013.
6. Rediyani, Petrin. Gangguan Cemas Menyeluruh dalam Buku Ajar Psikiatri Edisi
Kedua. Jakarta. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2013.
7. David ,. Smyth R. Oxford Handbook of Psychiatry. United Kingdom : Oxford
University Press. 2013.
8. Locke AB, Kirst N, Shultz CG. Diagnosis and Management of Generalized
Anxiety Disorder and Panic Disorder in Adults. American Family Physician. 2015.
9 (1) : 617-624

14
15