You are on page 1of 14

PENDAHULUAN

Pembangunan merupakan isu penting yang tidak pernah berhenti dibahas baik di Negara
terbelakang, Negara berkembang, sampai dengan Negara maju. Walaupun konteks yang
dibicarakan dan cara yang digunakan mereka berbeda-beda, akan tetapi pada dasarnya tujuan
yang diharapkan semua sama, yakni membawa negaranya masing-masing dari keadaan
sebenarnya saat ini menuju keadaan normatif yang dianggap lebih baik. Hal ini seperti pendapat
Kantz (1971) [1], pembangunan merupakan suatu proses perubahan pokok pada masyarakat dari
suatu keadaan nasional tertentu menuju ke keadaan lain yang dianggap lebih bernilai.

Dalam hal pembangunan sering sekali dibahas mengenai persamaan gender dalam
pembangunan, dimana fokus utama yang dimaksudkan adalah bagaimana melibatkan perempuan
di dalam pembangunan seagaimana laki-laki. Permasalahan ini menurut kaum feminis
disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia perempuan itu sendiri[2], tentu saja
rendahnya sumber daya ini juga karena kurang terbukanya akses perempuan dalam hal perbaikan
sumber daya, hal ini menyebabkan kaum perempuan tidak dapat bersaing dengan kaum laki-laki
di dalam pembangunan.

Dengan adanya banyak fenomena yang muncul terkait dengan masalah gender dan munculnya
dua kubu yang sangat menghendaki adanya persamaan dan keadilan gender, untuk titik ekstrim
disebut sebagai kaum feminis, dan kaum yang berkehendak untuk tetap membedakan gender
antara laki-laki dengan perempuan, untuk titik ekstrim mereka disebut sebagai kaum anti-
feminisme, maka penyusun akan membahas lebih mendalam permasalahan gender tersebut
dalam paper ini. Akan tetapi, pembahasan tersebut akan dikaitkan dengan pembangunan Negara
karena bagaimanapun juga pembangunan adalah isu kenegaraan yang sangat penting dan tidak
akan pernah ada hentinya.

Pembangunan negara dilakukan oleh semua warga negara tanpa terkecuali. Akan tetapi, sampai
saat ini masih dirasakan adanya ketidakseimbangan pembagian peran dalam pembangunan
negara tersebut, dalam hal ini adalah pembagia peran antara laki-laki dengan peran perempuan.
Banyak beranggapan bahwa wanita terlalu diberi porsi yang sangat kecil dan termarginalkan
karena kemampuannya cenderung untuk diragukan.

Secara lebih rinci, di dalam paper ini akan dibahas beberapa hal mengenai gender dan kaitannya
dengan pembangunan, yakni pengertian gender, perbedaan gender: (bagi laki-laki dan
perempuan), implikasi perbedaan gender pada perempuan, hubungan gender dengan
pembangunan, permasalahan gender dalam pembangunan, serta solusi pemecahan masalah
gender dalam pembangunan.

Selama ini kebanyakan orang menyamaartikan antara gender dengan jenis kelamin. Hal itu
sebenarnya keliru karena pada dasarnya gender berbeda dari jenis kelamin biologis. Oleh karena
itu, dalam paper ini penyusun juga akan berusaha meluruskan kekeliruan tersebut dengan
membahas perbedaan dari gender dan jenis kelamin.
PEMBAHASAN

1. A. Pengertian Gender dan Perbedaannya dengan sex

Pengertian Gender

Istilah “gender” dikemukakan oleh para ilmuwan sosial dengan maksud untuk menjelaskan
perbedaan perempuan dan laki-laki yang mempunyai sifat dasar yang diciptakan dan berasal dari
Tuhan, dan bentukan budaya (konstruksi sosial). Seringkali orang mencampur-adukkan ciri-ciri
manusia yang bersifat kodrati (tidak berubah) dengan yang bersifat non-kodrati (gender) yang
bisa berubah dan diubah. Perbedaan peran gender ini juga menjadikan orang berpikir kembali
tentang pembagian peran yang dianggap telah melekat, baik pada perempuan maupun laki-laki.

Istilah Gender pertama kali di perkenalkan oleh Robert Stoller (1968) untuk memisahkan
pencirian manusia yang didasari pada pendifinisian yang bersifat sosial budaya dengan ciri-ciri
fisik biologis. Gender disini yaitu membrikan batasan dan membedakan laki-laki dan
perempuan dari ciri-ciri fisik dan biologisnya dengan laki-laki dan perempuan dari aspek
kaitannya dengan sosial budaya.

Dalam sejarah ilmu sosial tokoh yang paling berjasa dalam mengembangka istilah dan
pengertian Gender adalah Ann Oakley (1972) yang mengartikan gender sebagai konstruksi
sosial atau atribut yang dikenanakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia.
Sedangkan, Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional):2007 Gender
adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggung- jawab antara laki-laki dan perempuan yang
merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Jadi secara singkat, Gender itu adalah perbedaan mengenai fungsi dan peran sosial laki-laki dan
perempuan yang dibentuk oleh lingkungan tempat kita berada. Gender lebih berkaitan dengan
anggapan dan kebiasaan yang berlaku di suatu tempat tentang bagaimana laki-laki dan
perempuan dianggap sesuai atau tidak sesuai (tidak lumrah) dengan tata nilai sosial dan budaya
setempat. Dengan demikian, Gender dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya dan dapat
berubah dari waktu ke waktu.

Masih banyak terjadi ketidakjelasan batasan antara gender dan kodrat, sebagai contoh apabila
perempuan mengerjakan pekerjaan yang dianggap merupakan pekerjaan laki-laki, maka
dianggap menyalahi ‘kodrat’. Sebenarnya, hal seperti itu kurang tepat karena yang dimaksud
kodrat itu sendiri merupakan sifat biologis yang berasal dari Tuhan, bukan hasil bentukan sosial
dari lingkungan seperti halnya pekerjaan. Kodrat sifatnya tetap dan tidak bisa berubah-ubah,
wanita kodratnya melahirkan, mempunyai rahim, dan perbedaan fisik biologis lainya yang sudah
menjadi ciri seorang wanita, dan laki-laki kodratnya mempunyai jakun, dan sebagainya, adapun
kemampuan untuk melaukan suatu pekerjan, hak memilih pekerjaan, tempat dan jenis pekerjaan
itu berkaitan dengan gender.

Ketidakjelasan batasan makna atas istilah gender tersebut telah mengakibatkan perjuangan
gender menghadapi banyak perlawanan yang tidak saja datang dari kaum laki-laki yang merasa
terancam “hegemoni kekuasaannya” tapi juga datang dari kaum perempuan sendiri yang tidak
paham akan apa yang sesungguhnya dipermasalahkan oleh perjuangan gender itu.

Jadi pada intinya gender itu membahas tentang persamaan & perbedaan peran antara laki-laki
dan perempuan. Karena itu, gender berbicara dalam lingkup tataran kehidupan sosial budaya
masyarakat atau pada lingkungan sosial.

Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak
antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.[3]Dalam sebuah literature
disebutkan bahwa:

Gender adalah seperangkat peran yang, seperti halnya kostum dan topeng di teater,
menyampaikan kepada orang lain bahwa kita adalah feminin atau maskulin. Peragkat perilaku
khusus ini –yang mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan di
luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya- secara bersama-sama
memoles “peran gender” kita.[4]

Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa gender adalah pembagian peran sosial dalam satu
lingkup masyarakat tertentu berdasarkan persepsi yang berlaku dalam lingkup tersebut. Atau
secara sederhana gender juga dapat diartikan pembagian peran dan tingkah laku (feminin dan
maskulin) berdasarkan nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat.

Sedangkan yang dimaksud dengan sex atau jenis kelamin adalah pembagian manusia
berdasarkan ciri-ciri fisik dengan fungsi bioogis yang dimilikinya. Ciri-ciri tersebut seperti
kumis, jenggot, penis, dan suara yang besar bagi laki-laki dan payudara, vagina, dan suara yang
kecil bagi perempuan.

Untuk lebih memperjelas perbedaan antara gender dan jenis kelamin, berikut ini adalah tabel
perbedaan antara gender dan jenis kelamin:

No Aspek Gender Jenis Kelamin


1. Dasar Konstruksi sosial Takdir
2. Pencirian Persepsi kultur Biologis
3. Status yang dibentuk Feminin, maskulin Perempuan, laki-laki
4. Jangkauan Kelompok sosial Universal, seluruh dunia
tertentu
Tabel mengacu pada pendapat Bambang Sunaryo[5] dan presentasi Greety R. Sumayku.[6]

1. B. Perbedaan Gender Antara Laki-laki dan Perempuan

Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa gender tidaklah sama dengan jenis kelamin. Jeinis
kelamin lebih bersifat kodrati sedangkan gender lebih memfokuskan pada pembagian peranan
dimana suatu peran cenderung bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan suatu masyarkat.
Akan tetapi walaupun keduaya adalah dua hal yang berbeda namun gender dan jenis kelamin
mempunyai suatu hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Gender mempunyai fokus pada
pembagian peranan berdasarkan jenis kelamin sehingga munculah peran yang berbeda antara
laki-laki dan perempuan, yang dalam hal ini muncul porsi peranan dua jenis kelamin yang
berbeda atau ketimpangan gender.

Perbedaan peranan sosial antara dua jenis kelamin ini mulai dibentuk sejak dini oleh dua faktor
penentu. Pertama adalah dari diri masing-masing individu yang berdasar jenis kelamin yaitu
perbedaan kadar hormonal. Perbedaan hormonal merupakan bawaan sejak lahir dan akan
nampak dengan sendirinya. Sebagai contoh pada laki-laki cenderung bersifat keras, kasar,
macho, melindungi, sedangkan pada perempuan lebih feminin seperti lemah lembut, penyayang,
lebih pasif, juga penuh rasa iba. Kedua yaitu faktor lingkungan. Pengaruh lingkungan dapat
menyebabkan penetapan sifat-sifat khas tersebut atau sebaliknya malah menghilangkannya.
Misal seorang anak perempuan yang sejak kecil bergaul dengan kelompok anak laki-laki di
kompleksnya, hingga ia tumbuh besar menjadi seorang yang tomboi.

Terdapat empat macam perbedaan peran gender antara perempuan dan laki-laki menurut Linda
Sudiono[7], yaitu:

1. Pekerjaan. Laki-laki dianggap merupakan pekerja yang produktif, sedangkan perempuan


lebih bersifat reproduktif. Produktif disini mengandung arti lebih memberikan nilai
tambah suatu barang, erat kaitanya dengan pekerjaan yang membutuhkan kerja keras,
sedangkan reproduktif berarti kelangsungan atau pengelolaan suatu produksi. Contohnya
perempuan yang bekerja sebagai kuli pecah batu dianggap tabu karena biasanya
pekerjaan tersebut dilakoni para laki-laki.
2. Wilayah kerja. Laki-laki dianggap sebagai pekerja publik, sedangkan perempuan lebih
kepada sektor domestik. Biasanya orang mengartikan seorang perempuan wilayah
kerjanya di dapur, sumur, kasur.
3. Status. Laki-laki dianggap mempunyai status yang lebih tinggi dibandingkan dengan
perempuan. Hal ini dikarenakan laki-laki dianggap sebagai aktor utama, berbeda dengan
perempuan yang dianggap sebagai aktor tambahan.
4. Sifat laki-laki erat kaitannya dengan maskulin seperti kuat, gagah, berani, tegas,
sedangkan perempuan kaitannya dengan feminin seperti lemah lembut, penyayang, juga
anggun.

Dalam konteks gender, terdapat tiga teori yang melihat perbedaan gender tersebut. Masing-
masing teori mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam melihat perbedaan gender, yaitu
feminisme kultural, teori peran institusional, dan teori yang didasarkan pada filsafat eksistensial
atau fenomenologis[8].

1. Feminisme Kultural

Pada teori ini memusatkan pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat secara kultural,
atau bagaimana perempuan berbeda dari laki-laki. Teori ini memandang perbedaan gender
berdasarkan karakter dari jenis kelamin. Misalnya saja pada laki-laki lebih bersifat maskulin
sedangkan perempuan lebih ke feminin.

2. Peran Institusional

Teori ini mengemukakan bahwa perbedaan gender berasal dari perbedaan peran antara laki-laki
dan perempuan dalam berbagai latar institusional. Dalam teori ini yang paling menentukan
adalah pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Seperti diketahui kebanyakan laki-laki
diasumsikan sebagai pekerja kasar, sedangkan perempuan biasanya berada di lingkungan rumah
tangga.

3. Analisis Eksistensial dan Fenomenologis

Dalam teori ini perempuan dianggap sebagai objek sedangkan laki-laki sebagai subjek, atau laki-
laki dijadikan sebagai aktor utama sedangkan perempuan aktor tambahan, sehingga muncullah
perbedaan gender diantara keduanya. Teori ini lebih memarginalkan perempuan sehingga
derajatnya lebih rendah daripada laki-laki. Helene dan Irigaray mengungkapkan bahwa
pembebasan perempuan sebagai orang kedua akan datang apabila mereka sanggup
mengembangkan kesadaran dan kebudayaan yang unik dalam diri mereka.

1. Implikasi Perbedaan Gender pada Wanita

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bagaimana perbedaan gender dengan sex (jenis
kelamin), letak sudut pandang yang sangat memegang peran, ketika berbicara gender maka akan
menghadirkan proses sosial ataupun kultural yang berlaku sedangkan jenis kelamin merupakan
kodrat tuhan yang didapat dari mulai lahir dalam bentuk ciri biologis. Ketika jenis kelamin
berbeda, maka antara laki – laki dengan perempuan kemudian akan mengakibatkan perbedaan
sikap dan peran yang disebut sebagai perbedaan gender.

Perbedaan gender hadir karena banyak faktor, di antaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat,
bahkan dikonstruksikan secara sosial atau kultural, melalui ajaran keagamaan maupun negara[9].
Perbedaan ini dalam masyarakat tidak terlalu diperhatikan sepanjang perbedaan tersebut tidak
menimbulkan diskriminasi. Akan tetapi, pada kenyataannya perbedaan gender yang berkembang
pada saat ini melahirkan banyak permasalahan. Permasalahan paling utama yang ditimbulkan
yaitu mengakibatkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Ketidakadilan gender
termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, mulai dari marjinalisasi atau pemiskinan
ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan
stereotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih banyak
(burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender.[10]

Marjinalisasi di sini diartikan sebagai suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin
yang mengakibatkan kemiskinan.[11] Marjinalisasi memberikan batasan kepada perempuan
dengan adanya peminggiran peran perempuan sehingga perempuan tidak lagi bisa berbuat
banyak dan beraktifitas ataupun berperan penting pada bagian masalah atau urusan tertentu.
Sebagai contoh, adanya peraturan adat bahwa anak perempuan tidak berhak mendapatkan
warisan, sehingga menimbulkan ketidakadilan dalam urusan pembagian harta.

Subordinasi berarti suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu
jenis kelamin lebih rendah dari yang lain.[12] Kaum perempuan yang telah terkena penilaian
atau anggapan tidak memiliki hak yang sama dengan laki-laki membuat perempuan selalu
memiliki kasta lebih rendah dari laki-laki, baik disisi pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain,
sedangkan laki-laki lebih diutamakan dalam hal menuntut ilmu, pekerjaan, pembagian peran, dan
lain sebagainya.

Permasalahan lain adalah pemberian stereotipe terhadap kaum wanita. Sterotipe berarti
pemberian citra baku atau label/tanda kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada
suatu anggapan yang salah atau sesat.[13] Ketika citra buruk yang dibuat oleh masyarakat
tentang perempuan hadir, maka sering label tersebut memberikan dampak buruk terhadap para
perempuan. Dampak tersebut separti keyakinan bahwa faktor pendorong terjadinya
pemerkosaan karena memang sikap perempuan yang memancing kaum pria, tidak ada dukungan
untuk si perempuan sebagai korban justru tekanan karena diberi label memancing hasrat laki-
laki. Contoh lain adalah peran perempuan sebagai istri hanya sebagai pelayan suami, jadi cukup
di rumah saja.

Kemudian kekerasan (violence), artinya serangan atau invasi (assault) terhadap fisik maupun
integritas mental psikologis seseorang.[14] Kekerasan yang dialami wanita dapat berbentuk fisik
maupun psikis. Pada umumnya kekerasan yang dimaksud adalah kekerasan fisik. Padahal pada
kenyataannya, baik kekerasan fisik maupun kekerasan mental tersebut sebenarnya sama-sama
berbahaya karena kekerasan secara fisik akan menimbulkan sakit atau di tubuh yang juga
membekas secara mental, sedangkan kekerasan psikis akan selalu memberikan bayangan buruk
pada seseorang hingga tidak berani melakukan apapun.

Ketidakadilan yang sangat umum terjadi namun kurang begitu disadari adalah beban ganda
(double burden). Artinya, beban pekerjaan yang diterima oleh satu pemeran gender dengan yang
lain memiliki porsi lebih banyak dan tida seimbang.[15] Ketidakadilan gender dalam bentuk
peran ganda ini berlaku ketika seorang wanita bekerja dan memiliki karir tertentu. Perempuan
yang memiliki peran karir atau kerja juga diwajibkan mengurus rumah, bila tidak maka
dipandang tidak wajar, sehingga peran mereka menjadi ganda. Hal tersebut tentu saja
memberikan dampak memberatkan bagi pihak wanita yang terkadang hal tersebut juga menekan
pikiran pihak perempuan.

Hal yag berlaku dalam mayarakatn masyarakat, meskipun perbedaan gender sudah dianggap
sebagai hal yang wajar, tetapi terkadang tetap saja memberi kerugian kepada satu pihak tertentu.
Contoh yang sering terjadi adalah bahwa perempuan selalu dianggap cengeng, emosional,
perempuan tempatnya didapur, lemah, dan oleh sebab itu sering terjadi kekerasan terhadap
perempuan terutama di dalam lingkungan rumah tangga. Jika perempuan bekerja, maka itu
ditujukan hanya untuk mencari nafkah tambahan, karena laki – laki dipandang sebagai pencari
nafkah utama. Debgan demikian terjadilah penanggunganganda sekaligus, yakni beban bekerja
dan beban urusan rumah tangga. Perempuan memikul beban berlipat, meski mereka bekerja
disektor publik, tetapi pekerjaan mereka dalam keseharian tidak berkurang, inilah yang
menyebabkan beban ganda pada perempuan. Perempuan juga sering kali menjadi objek
‘keisengan’ lelaki hidung belang, sehingga tak jarang terjadi pelecehan seksual terhadap
perempuan.

1. D. Hubungan Gender dengan Pembangunan


1. 1. Isu gender dalam pembangunan

Walaupun mencuatnya isu gender lebih disebabkan kerena gertakan dari kaum feminisme,
namun pembangunan tetaplah hal yang universal. Oleh karena itu, bila tuntutan tersebut hanya
mengacu pada substansi perempuan, maka akan menjadi pertanyaan balik bagi kaum laki-laki,
kaum laki-laki akan menuntut hal yang sama. Oleh karena itu, maka gender merupakan suatu hal
yang harus dipandang secara keseluruhan dalam pembangunan[16].

Apabila dibayangkan, hubungan antara gender dengan pembangunan terasa masih


membingungkan. Padahal, bagaimanapun metode dan konsep pembangunan pasti akan diikuti
atau berpengaruh pada kehidupan baik spesifik pada laki-laki, perempuan, atau keduanya. Oleh
karena itu, pembahasan gender dengan pembangunan bukanlah hal yang dapat diapresiasi
dengan sikap skeptis. Isu gender merupakan suatu isu yang menuntut keadilan konstruksi sosial
maupun kultural antara kaum laki-laki dengan perempuan. Dalam tuntutan konstruksi ini,
keseimbangan fungsi, status, dan hakekat antar jenis kelamin diharapkan dapat direalisasikan.
Sebaliknya, pembangunan merupakan suatu konstruksi perubahan yang terjadi di masyarakat
dari kondisi sosio-kultural tertentu menuju ke arah sesuatu yang dianggap lebih bernilai[17].
Selain itu dapat juga diartikan sebagai usaha pengentasan keterbelakangan. Oleh karena itu
semua, gender dan pembangunan adalah suatu korelasi timbal balik antara satu dengan yang lain.

Kesejahteraan merupakan tujuan utama dari adanya pembangunan. Substansi dari kesejahteraan
salah satunya dengan adanya keadilan. keadilan sendiri bukanlah hal yang dapat dengan mudah
diperhitungkan secara matematis. Keadilan dalam ekonomi belum dapat dikatakan sebagai
kesimpulan keadilan, melainkan baru sebatas substansi keadilan. Untuk itu, aspek manusia tidak
dapat diabaikan, karena sudah hakekat manusia sebagai homo politicus. Lantas, pertanyaan yang
muncul adalah tentang bagaimana cara pembenahan bila dari segi manusia dalam bersosial tidak
ada kesejahteraan?. Mencoba mendalami isu ini, maka muncul pertanyaan baru, yakni apakah
pembangunan yang tujuan utamanya untuk mencapai kesejahteraan mengabaikan atau hanya
sekilas mengintip masalah gender?. Inilah yang selalu dipertanyakan dan dituntut oleh para
aktivis gender, khususnya kaum feminisme.
Melihat fakta yang ada selama ini ada, memang dapat dirasakan bahwa pembangunan yang
dilakukan hanyalah mekanisme yang dilakukan oleh pihak kapitalis. Kesejahteraan yang menjadi
tujuan utama dari pembangunan dirubah menjadi unsur pembangunan. Pembangunan sampai
dewasa ini lebih meningkatkan dari segi infrastruktur dan ekonomi. Sektor keseimbangan dalam
hal ini gender kurang diperhatikan. Hal ini disebabkan bahwa terdapat suatu penyimpangan
dalam konsep pembangunan. Pembangunan yang terjadi hanya sedikit yang berlandaskan untuk
kesejahteraan dan kebanyakan pembangunan akan tersus digencarkan guna mengikuti dan
menyamai perkembangan zaman oleh bangsa-bangsa dunia ketiga kepada bangsa-bangsa
maju. Mungkin, logika seperti ini dapat menjadi salah satu kritik atas pembangunan pada dunia
ketiga.

1. 2. Bias Gender dalam partisipasi pembangunan

Tindakan yang bersinggungan pada orang lain adalah partisipasi. Sedemikian sederhana inti dari
partisipasi. Namun demikian, hal tersebut akan bertambah rumit dan kompleks bila sudah
tercampur urusan serba politik. Gambaran politik di sini bukan dipandang dari sudut tata
pemerintahan dan kenegaraan, melainkan lebih pada wacana mengenai kekuasaan, kewenangan,
dan pengaruh. Gender sebagaimana realita di lapangan, terlintas bayangan gelap atas
diskriminasi. Diskriminasi gender dalam partisipasi lebih banyak dirasakan oleh kam feminis.

Terdapat banyak perdebatan gender mengenai siapa yang salah dan siapa yang menjadi kawan
atau lawan dalam hal partisipasi pembangunan. Pertama adalah pendapat feminisme liberalis,
mereka menganggap bahwa partisipasi dalam pembangunan seharusnya mengikuti pada konsep
struktur fungsionalisme. Para kaum liberalis menganggap bahwa dalam pembangunan harus ada
keharmonisan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Jadi, dari kacamata
feminisme liberalis partisipasi pembangunan seharusnya dan sudah memakai aturan yang
sedemikian rupa. Apabila ia merasa terdiskriminasikan maka itu merupakan kesalahan yang ia
lakukan sendiri. Artinya, adanya partisipasi adalah hasil dari kemauan dari seorang partisipan
sendiri, bukan dari pihak lain yang menyuruh atau menghalangi berpartisipasi.[18]

Pendapat kedua bersal dari Feminisme Radikalis. Kaum ini tersirat hanya berfikir pragmatis
dalam menghadapi suatu masalah. Terbukti dalam melihat partisipasi dalam pembangunan yang
mana kebanyakan kaum perempuan (feminis) lebih banyak terpinggirkan, semua kesalahan dan
penyebab diletakan pada faktor seks. Kesalahan mutlak dibebankan pada laki-laki. Oleh karena
itu, prinsip yang mereka ajukan dalam berpartisipasi pembangunan adalah dengan
menghancurkan hegemoni patriokal.

Setelah radikalis, muncul aliran baru yang mana pendapat ini lebih banyak diterima yakni
feminisme sosialis. Mereka memang secara sadar juga meletakan faktor hegemoni patriokal
sebagai suatu penyebab yang mana dikawinkan dengan analisi kelas dari teori marxis[19].
Menyinggung kembali mengenai hegemoni patriokal, dalam pandangan sosialis memang hal
tersebut sepatutnya diredam. Namn demikian tidak secara ekstrim seperti radikalis, sosialis lebih
menuntut pada mekanisme struktur yang mna seharsnya ada suat keterbukaan yang harus
disediakan bagi kaum feminis. Terlebih konsep struktur yang mereka ambil dari paham
marxisme, yakni suatu dominasi kapitalis sebaiknya tidak ada dan yang ada adalah suatu hidup
bersama tanpa ada dominasi.
Lantas, dilain pihak bagaiman dengan kam masklinisme?. Secara posisi mereka lebih
diuntungkan dari pada pihak perempuan. Banyak dan mudah mereka menembus mekanisme
pembangunan. Namun demikian, secara tersirat ada suatu beban yang terus membayanginya.
Beban tersebut dirasa ketika mereka ditntut untuk dapat produktif demi memenhi kebutuhan
hidup. Perasaan itu muncul ketika ia tertekan bahwa seharusnya kaum merekalah yang harus
bekerja untuk mencari nafkah dari pada kaum perempuan. Oleh karena itu, diskriminasi gender
merupakan hal yang merugikan kedua belah pihak, baik laki-laki maupn perempuan.
Demikianlah pendapat mengenai konsep partisipasi yang harus dibedayakan gender dalam
pembangunan dan masih banyak pendapat lain diluar sana mengenai konteks gender dan
pembangunan.

Lalu, partisipasi seperti apa yang seharusnya diungkit dalam pembangunan. Pembangunan
merupakan suatu konstruksi yang mengarah pada satu kehidupan yang lebih maju. Dalam
menuju proses kemajuan tersebut harus melihat pada satu aspek yang sangat penting, yaitu
keseimbangan. Dengan mengembalikan pada aspek keadilan tentunya keseimbangan akan
terwujud. Karena adanya diskriminasi gender yang terjadi dan hal itu telah menjadi suatu label
dalam hidup, maka cara yang dilakukan untuk melakukan bias gender dengan mengubah cara
pandang pada suatu isu. Tidak perlu muluk-muluk, perubahan cukup pada suatu penghayatan dan
kepercayaan sifat dan fungsi gender. Maksudnya, antara kaum maskulin dan feminis terbelah
bukan karena ada suatu identifikasi kelompok, namun lebih pada siapa yang saling cukup
mencukupi antara satu dengan yang lain. Maka dari itu, konsep partisipasi pembangunan adalah
dengan melimpahkan pembangunan pada suatu kebutuhan dari masing-masing gender yang
mana dapat terakmlasi pada suatu program. Dengan demikian pembangunan untuk kesejahteraan
dapat terlaksana karena memang bertujuan kesejahteraan dan bukan untuk mengejar idealitas
bangsa maju. Satu hal penting, bahwa idealitas maju bukan merupakan koreksi, proyeksi, diukur
dan dibandingkan dengan negara lain, melainkan hasil kepuasan tersendiri dari suatu negara atas
kesejahteraan yang rasional. Maksudnya, ada kalanya penafsiran kesejahteraan atas dasar skeptis
terhadap lingkungan dan merasa dirinya sudah tercukupi walau menyimpang dari konteks
kesejahteraan lingkungan.

1. E. WID menuju GAD

WID (Women in Development) atau Perempuan dalam pembangunan merupakan Pendekatan


kebijakan yang digunakan untuk memadukan perempuan ke dalam kegiatan pembangunan yang
dimulai pada awal 1970-an, dan selama 40 tahun terakhir berevolusi berdasarkan pengalaman,
peninjauan, dan reformulasi strategi serta tujuan melalui beberapa tahap pendekatan berorientasi
kesejahteraan, kesejajaran, perang melawan kemiskinan, dan pendekatan aliran-utama. Sekitar
tahun 1980an, WID telah diterima dan diterapkan secara internasional sebagai penekanan
strategis dengan sasaran mencapai integrasi perempuan dalam semua aspek proses pembangunan
dan kemudian Negara-negara dunia ketiga pun beramai-ramai memasukan agenda WID Ke
dalam program pembangunan di negaranya masing-masing.

WID yang merupakan bagian diskursus pembangunan, dan merupakan pendekatan dominan bagi
pemecahan persoalan dunia ke Tiga dan merupakan strategi arus utama developmentalism
tentang bagaimana mendorong partisipasi perempuan dalam program pembangunan. Agenda
utama program WID[20]adalah bagaimana melibatkan kaum perempuan dalam kegiatan
pembangunan. Asumsinya, penyebab dari keterbelakangan perempuan adalah karena mereka
tidak berpartisipasi dalam pembangunan. Disini WID menginginkan bagaimana kaum
perempuan bisa memiliki derajat yang sama atau sejajar dengan kaum laki-laki atau tidak lagi
ada kesenjangan antara kaum perempuan dengan kaum laki-laki dalam berbagai bidang
pembangunan.

Namun dalam perkembangannya WID ini mengalami banyak kendala atau kelemahan-
kelemahan serta kritik-kritik dalam pengimplementasiannya. Hasil tinjauan unit-unit masalah
perempuan pemerintah yang seringkali dengan sumber daya dibawah rata-rata dan sangat
marjinal menunjukkan, bahwa mereka telah tidak dapat secara efektif mempengaruhi kebijakan
nasional atau membawa kesejajaran gender yang tadinya dibayangkan dalam pikiran pada waktu
pendiriannya.[21] Sehingga membuat pendekatan seperti ini tidak dapat menurunkan
kesenjangan antara kaum laki-laki dan perempuan. Proyek-proyek hanya-untuk-perempuan
seringkali dipikirkan dan didanai secara kurang, bahkan kadang-kadang dibebankan ke pundak
kaum perempuan yang telah terbebani dengan beban-kerja yang berat, hanya dengan imbalan
yang kurang pula.

Sehingga dengan adanya keadaan seperti itu, diperlukan suatu Transformasi social, yang dimana
tujuan dari Tranformasi social itu tidak hanya memperbaiki status perempuan namun juga
memperjuangkan martabat dan kekuatan perempuan. Sehingga muncul suatu pendekatan GAD,
yang dimana pendekatan itu lebih mencakup kepada hak-hak perempuan, peranan perempuan
sebagai peserta aktif, dan pelaku pembangunan dan peranan mereka sebagai actor dengan suatu
agenda khusus dalam pembangunan.

Perbedaan antara WID dan GAD[22], pada dasarnya, berdasarkan atas pendekatan penilaian dan
penanganan posisi yang tidak sama dari perempuan dalam masyarakat. GAD tidak
menyisihkan perempuan sebagai subyek sentral. Namun kiranya lebih, sementara pendekatan
WID difokuskan secara eksklusif pada perempuan untuk meningkatkan posisi ketidaksejajaran
perempuan, maka pendekatan GAD mengakui, bahwa peningkatan status perempuan
memerlukan analisis mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan maupun menyamakan
pendapat dan kerjasama laki-laki . Penekanan ditempatkan pada kebutuhan untuk memahami
cara-cara, dimana hubungan yang tidak sejajar antara perempuan dan laki-laki dapat
memberikan sumbangsih pada rentang dan bentuk pemisahan yang akan dihadapi perempuan
dalam proses pembangunan ini. Jadi dapat dijelaskan bahwa pendekatan GAD (Gender And
Development) ini tidak hanya terpaku pada perempuan saja dalam usahanya melakukan
kesetaraan serta berperan aktif dalam pembangunan yang tanpa menghiraukan laki-laki namun
dalam pengimplementasiannya pendekatan ini memerlukan kaum laki-laki dalam
memperjuangkan kesetaraannya.

1. F. Hubungan permasalahan gender dan pembangunan


Pembangunan tidak hanya menjadi isu hak asasi manusia ataupun keadilan saja, melainkan juga
menjadi isu kesejahteraan untuk memperoleh keadilan. Dalam permasalahan gender dan
pembangunan banyak aktivis pembangunan melihat orang sebagai sebuah sekelompok sasaran
yang tidak mencoba untuk memahami realitas yang berbeda dari kehidupan laki-laki dan dari
kehidupan perempuan, yang mengakibatkan adanya hubungan permasalahan dalam gender dan
pembangunan. Permasalahan-permasalahan tersebut misalnya:

 Perempuan dan pendidikan

Banyak sebagian anak perempuan yang sama sekali tidak bersekolah, dimana pada saat itu
orangtua masih mempunyai pandangan bahwa anak laki-laki lebih kuat dari pada perempuan.
Anak laki-laki lebih bisa diandalkan dari pada anak perempuan. Sehingga mereka memiliki
keinginan untuk mempunyai keturunan laki-laki saja daripada mempunyai keturunan perempuan.
Dikarenakan anak laki-laki dianggap dapat memikul tanggungjawab dan dapat melanjutkan
usaha-usaha misalnya mengurus ladang yang di garap oleh orangtuanya tersebut, serta membantu
orangtua apabila orangtua mereka sudah terlalu tua dan tidak dapat bekerja untuk mengurusi
ladangnya, sehingga anak laki-lakinya dapat meneruskan untuk membantu orangtuanya
mengurus ladang mereka, sedangkan anak perempuan kelak jika ia dewasa hanya akan diam di
dapur setelah itu menikah, berbeda dengan anak laki-laki meskipun kelak dewasa dan mereka
akan menikah tetapi tanggungjawabnya tetap akan ia jalankan.

 Perempuan dan bekerja,

Perempuan memiliki tingkat pengangguran lebih tinggi dari pada laki-laki. Perempuan bekerja
hanya dalam kategori yang paling dieksploitasi seperti pertanian dan ibu rumah tangga. Padahal
perempuan mampu untuk bekerja keras dalam kinerjanya, namun untuk bekerja saja perempuan
hanya mendapatkan upah yang sangat rendah dari pada laki-laki, meskipun beban yang ia
tanggung sama-sama berat dengan pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki. Ilustrasinya adalah
sebagai berikut:

Sebuah proyek pembangunan pedesaan di negara Afrika memberikan pinjaman yang tersedia
untuk laki-laki sebagai kepala rumah tangga untuk mengembangkan pertanian kecil. Ini
merupakan tanggapan atas penilaian kebutuhan yang menemukan bahwa pertanian di daerah
yang dibutuhkan beberapa penanaman modal untuk menjadi produktif. Ketika sebagian besar
proyek-proyek ini gagal, penyandang dana menyelidiki dan menemukan bahwa pinjaman
tersebut tidak digunakan untuk pertanian, atau jika digunakan itu untuk hal-hal yang tidak
pantas. Mereka juga menemukan pertanian yang sebenarnya dilakukan oleh perempuan dan
sebagian besar orang pergi untuk bekerja di kota-kota. Namun pinjaman tersebut dibuat untuk
para pria dan, karena peran tradisional mereka sebagai kepala keluarga, mereka bisa membuat
keputusan tentang bagaimana menggunakan uang.

Sebuah analisis gender dilakukan dan mengatasi masalah – menjadi jelas bahwa perempuan
petani, memiliki sedikit suara dalam rumah tangga atau masyarakat. Pinjaman kepada
perempuan, layanan dukungan dan forum untuk membuat keputusan kolektif didirikan dan uang
itu digunakan untuk menghidupkan petani miskin yang hampir tidak selamat menjadi lebih
produktif.
1. G. Solusi Permasalahan Gender dan Pembangunan

Seperti yang telah dijelaskan bahwa ada beberapa hubungan antara masalah gender dan
pembangunan seperti masalah perempuan dengan pendidikan serta masalah perempuan dengan
lapangan pekerjaan. Dari masalah gender tersebut dapat kita lihat bahwa pada kenyataannya,
peran dan kesempatan perempuan dalam memperoleh pendidikan dan memperoleh pekerjaan
masih sangat minim jika dibandingkan dengan kaum pria. Sehingga partisipasi perempuan dalam
pembangunan juga masih kurang.

Permasalahan gender tersebut memang telah ada sejak zaman dahulu, namun, bukan berarti
permasalahan kesetaraan gender tidak dapat terselesaikan. Terdapat beberapa solusi yang dapat
menjadi alternative untuk menyelesaikan masalah gender ini yaitu salah satunya dengan
melibatkan pemerintah/negara dalam menyeleasiakan masalah gender itu sendiri, yakni:

1. Peran pemerintah dalam permasalahan perempuan dan pendidikan.

Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di suatu Negara, tentunya


mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mewujudkan kesetaraan gender di Negara yang
dipimpinnya. Bentuk peran pemerintah dalam masalah ini dapat berupa intervensi publik seperti
mengontrol dan mengawasi, mensubsidi, mendorong dan mengatur, melarang dan menghukum
serta menyediakan layanan.

Sedangkan di dunia pendidikan pemerintah bisa melakukan investasi atau memberikan subsidi
dan mengajak pihak lain untuk melakukan investasi dibidang pendidikan khususnya yang
berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan perempuan. Misalnya pemerintah memberikan
subsidi kepada sekolah khusus perempuan dan lembaga pelatihan keterampilan khusus
perempuan agar tercipta kesetaraan gender dimasyarakat. Karena secara tidak langsung, bila
mutu pendidikan dan keterampilan perempuan semakin ditingkatkan maka para perempuan yang
telah mendapatkan pendidikan dan keterampilan tersebut dapat berkerja sesuai keterampilan
yang mereka dapatkan. Dan dengan begitu tingkat partisipasi perempuan didalam pembangunan
akan meningkat dan diharapkan akan tercipta kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki.

1. Peran pemerintah dalam permasalahan perempuan dan bekerja

Kasus permasalahan gender yang terjadi di Afrika merupakan contoh kecil dari permasalahan
gender dibidang pekerjaan yang sedang terjadi di dunia saat ini. Di Indonesia sendiri kasus
gender dibidang pekerjaan sangatlah bervariatif diantranya yaitu besarnya tingkat pengangguran
perempuan dibandingkan pengangguran laki-laki serta upah buruh perempuan yang lebih kecil
dibandingkan upah buruh laki-laki.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka sangat dibutuhkan intervensi dari pemerintah.
Karena dengan kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah maka pemerintah dapat membuat UU
yang mengatur tentang ketentuan kriteria pekerjaan berdasarkan pada keterampilan bukan
berdasarkan pada jenis kelamin selain itu pemerintah juga dapat menentukan standar upah
berdasarkan tingkat pekerjaan yang dilakukan bukan berdasarkan jenis kelamin. Peraturan
tersebut tentunya ditunjukan kepada pihak perusahaan baik milik swasta ataupu milik
Negara. Dengan begitu, pemerintah mempunyai kewenangan untuk memberikan hukuman
kepada perusahaan yang melanggar UU tersebut. Bila UU ini dapat dilaksanakan dengan sebaik
mungkin maka dapat dipastikan kesetaraan gender di bidang tenaga kerja akan terwujud dengan
sendirinya.

PENUTUP

Gender yang terkait dengan tingkah laku dan pembagian fungsi ke dalam bentuk feminin dan
maskulin berbeda dengan jenis kelamin yang lebih mengklasifikasikan manusia berdasarkan
struktur dan ciri biologis. Akan tetapi walaupun keduaya adalah dua hal yang berbeda, namun
gender dan jenis kelamin mempunyai suatu hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Gender
mempunyai fokus pada pembagian peranan berdasarkan jenis kelamin sehingga munculah peran
yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, yang dalam hal ini muncul porsi peranan dua jenis
kelamin yang berbeda atau ketimpangan gender.

Di seluruh belahan penjuru dunia manapun masih banyak sekali permasalahan persamaan dan
keadilan gender dan pihak yang dirugikan selalu saja perempuan. Bentuk permasalahan tersebut
seperti marjinalisasi atau pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam
keputusan politik, pembentukan stereotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence),
beban kerja lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender. Oleh karena itu
muncullah keum feminis yang berusaha untuk mensejajarkan peran perempuan dengan peran
laki-laki.

Persamaan gender dalam pembangunan adalah suatu hal yang sangat penting dalam
keberlangsungan hidup suatu Negara. Hal ini terjadi karena bagaimanapun juga pembangunan
Negara adalah hak dan tanggung jawab setiap warganya tanpa terkecuali, baik laki-laki maupun
perempuan. Jadi, jika selama ini banyak anggapan bahwa kaum wanita yang memiliki peran
feminin itu tidak penting dalam pembangunan suatu Negara adalah suatu pandangan yang keliru.
Bahkan dalam agama Islam diajarkan bahwa wanita adalah tiang Negara yang mana menentukan
tegak-rubuhnya Negara tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam
pembangunan sangatlah penting bahkan lebih penting daripada laki-laki karena perempuanlah
pihak yang melahirkan serta mendidik generasi-generasi pembangun Negara.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1998. “Kebijakan ADB mengenai Gender dan Pembangunan”. Asian Development
Bank.

Anonymous. T.th. menegpp.go.id. Diakses pada Tanggal 15 Mei 2011, pukul 15.30 WIB.

Anonymous. T.th. “Gender dan pembangunan”. www.google.com. Diakses pada tanggal 14 Mei
2011, pukul 20.32 WIB.

Anonymous. T.th http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/GovBrief/GovBrief0624.pdf .


Diakses pada tanggal 14 Mei 2011, pukul 20.45 WIB.

Anonymous. T.th. http://www.unja.ac.id/ppg/ppgunduh/konsep%20teori%20gender.ppt. Diakses


pada 14 Mei 2011, pukul 20.50 WIB.

Anonymous. T.th . http://www.scribd.com/doc/40055665/Konsep-Dan-Teori-Gender. Diakses


pada 14 Mei 2011, pukul 21.00 WIB.