You are on page 1of 22

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK

DENGAN LEUKIMIA

Tinjawan penyakit

A. DEFINISI
Leukimia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai dengan
bentuk leukosit yang abnormal, jumlahnya yang berlebihan dapat menyebabkan
anemia, trombositopenia dan dapat berakhir dengan kematian ( Soeparman, 1994 ).
Leukimia merupakan penyakit maligna proliferatif generalisata dari jaringan
darah terutama leukosit, dapat terjadi secara akut maupun kronik, terutama terjadi
pada anak usia 1-5 tahun ( Sacharin, 1996 ).
Leukimia adalah suatu keganasan yang sering terjadi pada anak usia dibawah
15 tahun akibat proliferasi sel darah putih immatur ( Ashwill, 1997 )
B. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya leukimia belum diketahui secara pasti, namun dapat dipengaruhi
oleh :
1. Pengaruh lingkungan, peledakan bom kimia
2. Infeksi firus
3. Faktor genetik
4. Abnormalitas kromosom
5. Agen kemotherapi
C. KLASIFIKASI
1. Leukimia limfositik akut ( LLA ) merupakan tipe leukimia paling sering terjadi
pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah
berumur 65 tahun atau lebih.
2. Leukimia mielositik akut ( LMA ) lebih sering terjadi pada dewasa dari pada anak-
anak. Tipe ini dahulunya disebut leukimia nonlimfositik akut.
3. Leukimia limfositik kronis ( LLK ) sering diderita oleh orang dewasa yang
berumur lebih dari 55 tahun. Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa mudah,
dan hampir tidak ada pada anak-anak.
4. Leukimia mielositik kronis ( LMK ) sering terjadi pada orang dewasa. Dapat juga
terdapat pada anak-anak, namun sangat sedikit.
D. PATOFISIOLOGI
Komponen sel darah terdiri atas eritrosit atau sel adarah merah ( RBC ) dan
leukosit atau sel darah putih ( WBC ) serta trombosit atau platelet. Seluruh sel darah
normal diperoleh dari sel batang tunggal yang terdapat pada seluruh sumsum tulang
belakang. Sel batang dapat dibagi kedalam lymphpoid dan ( myeloid ). Proses
pembentukan sel darah dikenal sebagai hematopoiesis dan terjadi didalam sumsum
tulang tengkorak, tulang belakang, panggul, tulang dada, dan pada proximal epifisis
pada tulang-tulang yang panjang. Leukimia akut merupakan penyakit dengan
tranformasi maligna dan perluasan klon-klon sel-sel hematopoetik yang terhambat
pada tingkat diferensiasi dan tidak bisa berkembang menjadi bentuk yang lebih
matang. Sel darah berasal dari sel induk hematopoesis pluripoten yang kemudian
berdiferensiasi menjadi induk limfoid dan induk mieloid ( non limfoid ) multipoten.
Sel induk limfoid akan membentuk sel T dan sel B, sel induk mieloid akan
berdiferensiasi menjadi sel eritrosit, granulosit-monosit dan megakariosit. Pada setiap
stadium diferensiasi dapat terjadi perubahan menjadi suatu klon leukemik yang belum
diketahui penyebabnya. Bila hal ini terjadi maturasi dapat terganggu, sehingga jumlah
sel mudah akan meningkat dan menekan pembentukan sel darah normal dalam
sumsum tulang. Sel leukemik tersebut dapat masuk kedalam sirkulasi darah yang
kemudian menginfiltrasi organ tubuh sehingga menyebabkan gangguan metabolisme
sel dan fungsi organ. Kematian pada penderita leukemia akut pada umumnya
diakibatkan penekanan sumsum tulang yang cepat dan hebat, akan tetapi dapat pula
disebabkan oleh infiltrasi sel leukemik tersebut keorgan tubuh penderita.
Proses patologi dan manifestasi klinik yang terjadi pada leukemia disebabkan
oleh infiltrasi dan penggantian jaringan tubuh oleh sel leukemia yang nonfungsional.
Pada semua tipe leukemia sel-sel yang berprliferasi menekan sumsum tulang sehingga
menurunkan produksi komponen darah. Hal ini menyebabkan anemia karena
penurunan eritrosit, infeksi karena neutropnia, dan perdarahan karena penurunan
platelet. Sel kanker menginvasi sumsum tulang dapat menyebabkan nyeri tulang dan
sendi, kelemahan tulang, dan fraktur ( Ngastiyah, 2005; Hidayat,2006 ).
Factor pencetus : Sel neuplasma
- Genetik - kelainan kromosom berproliferasi
- Radiasi - infeksi virus didalam sumsum
- Obat-obatan - paparan bahan kimia tulang

Inflitrasi
sumsum Penyebaran Sel onkogen
tulang ekstramedular

Pertumbuha
Mll sirkulasi darah Mll system limfatik
n berlebihan

Pembesaran Kebutuhan
Nodus limfa
hati dan limpa nutrisi
meningkat

hepatosplenomeg limfadenopati Hipermetabolis


all me

Penekanan ruang Peningkatan tekanan Ketidakseimbangan nutrisi


abdomen intra abdomen kurang dari kebutuhan
tubuh

Sel normal Gangguan rasa


digantikan oleh sel nyaman nyeri
kangker

Depresi produksi Suplai oksigen Ketidakseimbangan


sumsum tulang kejaringan inadukuat perfusi jaringan perifer

Resiko perdarahan
Penurunan eritrosit Anemia

Penurunan fungsi Trombositopnia Kecenderungan


trombosit perdarahan
Penurunan fungsi Daya tahan tubuh Resiko infeksi
leukosit me

Infiltrasi Kelemahan tulang


periosteal

Tulang lunak dan Stimulasi saraf C


lemah (nociceptor )

Fraktur fisiologis

Gangguan rasa
Hambatan mobilitas
nyaman nyeri
fisik

E. MANIFESTASI KLINIK
Gejala yang khas pada penderita leukemia adalah pucat ( dapat terjadi
mendadak ), panas, dan pendarahan disertai splenomegali serta limfadenopati. Pasien
yang menunjukkan gejala lengkap seperti yang disebutkan diatas secara klinis dapat
didiaknosa leukemia. Perdarahan dapat berupa ekimosis, petekie, epistaksis, dan
perdarahan gusi. Pada stadium permulaan mungkin tidak terdapat splenomegali.
Gejala yang tidak khas ialah sakit sendih atau sakit tulang yang dapat disalahtafsirkan
sebagai peyakit reumatik. Gejala lain dapat timbul sebagai akibat dari infiltrasi sel
leukemia pada alat tubuh seperti lesi purpura pada kulit, efusi pleura, kejang pada
leukemia serebral ( Ngastiyah, 2005 ).
F. PENATALAKSANAAN
1. Kemoterapi
Bertujuan untuk mengurangi remisi, pada sumsum tulang yang normal dimana sel
blast <5% dan tidak ada tanda klinis.
2. Kombinasi prednison, vinkritin diharapkan dapat mengurangi remisi pada sekitar
95% anak dengan Akut Limfositik leukemia.
3. Transplantasi sumsum tulang
a. Sebelum transplantasi pasien menjalani penyinaran seluruh tubuh dan
kemotheterapi untuk mengurangi kemungkinan penolakan
b. Transplantasi diajurkan pada penderita akautlimfositik leukemia dengan remisi
ke-2.
c. Transplantasi
Membutuhkan donor sumsum tulang dari sudara kandung.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK

DENGAN LEUKEMIA

Tinjawan kasus

A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Agama :
Suku / bangsa :
Bahasa :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Status :
Alamat :

2. Penanggung jawab
Nama :
Alamat :

a. Riwayat penyakit
b.Kaji adanya tanda-tanda anemia:
 Pucat
 Kelemahan
 Sesak
 Nafas cepat
c. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia:
 Demam
 Infeksi
d. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia:
 Ptechiae
 Purpura
 Perdarahan membran mukosa
e. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola:
 Limfadenopati
 Hepatomegali
 Splenomegali
f. Kaji adanya pembesaran testis
g. Kaji adanya:
 Hematuria
 Hipertensi
 Gagal ginjal
 Inflamasi disekitar rectal
 Nyeri
b. aktivitas sehari-hari

 AKTIVITAS

Gejala : kelelahan, malaise, kelemahan : ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas


biasanya.

Tanda : peningkatan kebutuhan tidur, somnolen.

 SIRKULASI

Gejala : palpitasi

Tanda : takikardi, murmur jantung, kulit membran mukosa pucat.

 ELIMINASI

Gejala : diare; nyeri tekan perianal, myeri.

 INTEGRITAS EGO

Gejala : perasaan tak berdaya/ tak ada harapan.

Tanda : depresi, menarik diri, ansietas, takut marah.


 MAKANAN/CAIRAN

Gejala : kehilangan napsu makan, anoreksia, muntah.

Tanda : distensi abdominal, penurunan bunyi usus.

 NEUROSENSORI

Gejala : kurang/penurunan koordinasi. Pusing; kesemutan

Tanda : otot mudah terangsang, aktivitas kejang.

 NYERI/KENYAMANAN
Gejala : nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang /sendi, kram otot

Tanda : perilaku berhati-hati/distraksi, gelisa, fokus pada diri sendiri.

 PERNAPASAN

Gejala : napas pendek dengan kerja minimal.

Tanda : dispnea, takipnea. Batuk.

 KEAMANAN

Gejala : riwayat infeksi saat ini/ dahulu; jatuh.

Tanda : demam,dan infeksi.


 SEKSUALITAS

Gejala : perubahan libido. Perubahan aliran menstruasi.

b. PEMERIKSAAN FISIK
Head to toe
1. Kepala
Inspeksi : bentuk kepala simetris, rambut terlihat kotor, kusam
Palpasi : tidak ada benjolan dan nyeri tekan
2. Mata
Inspeksi : bentuk mata simetris, penglihatan normal, nampak pucat
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
3. Telinga
Inspeksi : bentuk telinga simetris kanan dan kiri
4. Hidung
Inspeksi : struktur hidung simetris kanan dan kiri, terdapat sekret
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
5. Mulut
Inspeksi : keadaan mulut kurang bersih,lidah kotor, mukosa bibir kering
6. leher
inspeksi : banyak keringat
palpasi : tidak ada nyeri tekan
7. thoraks/dada
inspeksi : simetris kiri dan kanan, penyeimbangan dada seirama
palpasi : tidak ada nyeri tekan
auskultasi : tidak ada bunyi nafas tambahan
8. abdomen/perut
inspeksi : tidak ada lesi
palpasi : tidak ada nyeri tekan
auskultasi : tidak ada bunyi tambahan
9. ekstremitas
atas : jari tangan lengkap kiri dan kanan
bawah : jumlah jari kaki lengkap

B. KLASIFIKASI DATA
a. Data Subjektif
Data Subjektif yang mungkin timbul pada penderita leukemia adalah sebagai
berikut :
 Lelah
 Letargi
 Pusing
 Sesak
 Nyeri dada
 Napas sesak
 Priapismus
 Hilangnya nafsu makan
 Demam
 Merasa cepat kenyang
 Waktu ycng cukup lama
 Nyeri Tulang dan Persendian.

b. Data Objektif
Data Subjektif yang mungkin timbul pada penderita leukemia adalah sebagai
berikut :
 Pembengkakan Kelenjar Lympa
 Anemia
 Perdarahan
 Gusi berdarah
 Adanya benjolan tiap lipatan
 Ditemukan sel-sel muda

C. ANALISA DATA

DATA ETIOLOGI MASALAH


Ds: penurunan suplay darah Ketidakseimbangan perfusi
Riwayat infeksi yang keperifer ( anemia ) jaringan perifer
berulang
Do:
-suhu tubuh
meningkat (S: >38),
tampak tanda-tanda
infeksi.

DS: perubahan proliferative Ketidakseibangan nutrisi


Kehilangan nafsu gostrointestinal dan efek kurang dari kebutuhan
makan, tidak mau toksil obat kemoterapi tubuh
makan, muntah,
penurunan berat
badan, sakit pada
saat menelan.
Do:
Distensi abdomen,
penurunan peristaltic
usus, BB
menurun,klienlemah.
DS: penurunan jumlah Resiko pendarahan
Klien mengatakan trombosik
menstruasinya tidak
teratur
Klien mengaku
mudah memar saat
trauma
DO:
Trombosit
11.000/mm3
Hb : 8 gr/dl
Gusi tampak
berdarah
Terdapat memar dan
bercak – bercak
hitam di tangan kiri.
DS: menurunnya sistem Resiko infeksi
Riwayat infeksi pertahanan tubuh
yang berulang
DO:
Lemah, nampak
pucaat.
DS: ifiltrasi gukosit jaringan Nyeri akut
Nyeri, sakit kepala, sistemik.
nyeri persendian,
sternum terasa
lunak, kram pada
otot.
DO:
Meringis,
kelemahan, hanya
berpusat pada diri
sendiri, RR, TD, N
meningkat.

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakseimbangan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan suplay
darah keperifer ( anemia )
2. Ketidakseibangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
perubahan proliferative gostrointestinal dan efek toksil obat kemoterapi
3. Resiko pendarahan berhubungan dengan penurunan jumlah trombosik
4. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
5. Nyeri akut berhubungan dengan ifiltrasi gukosit jaringan sistemik.

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


KEPERAWATAN
1 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Mandiri
perfusi jaringan keperawatan selama 3x24  Ubah posisi secara  Mekanisme
perifer b/d jam di harapkan masalah perlahan ditempat tidur vaskonstriksi
penurunan suplay Dapat teratasi dan pada saat ditekan dan akan
darah keperifera Dengan kriteria: pemindahan ( terutama bergerak dengan
- Tekanan systole pada pasien yang cepat pada kondisi
dan diastole dalam mendapatankan obat hipotensi
rentang yang di anastesi fluthane )
harapkan
- Tidak ada  Bantu latihan rentang  Menstimulasi
ortostatik gerak, meliputih sirkulasi perifer,
hipertensi latihan aktif kaki dan membantu
- Tidak ada lutut. mencegah terjadina
tanda_tanda vena statis
peningkatan sehingga
tekanan menurunkan resiko
intrakranial (tidak pembentukan
lebih dari 15 trombus
mmhg)
 Bantu dengan abulasi  Meningkatkan
awal sirkulasi dan
mengemblikan
fungsi normal
organ
 Cegah dengan
 Mencegah
menggunakan bantal
terjadinya sirkulasi
yang diletakan dibawah
vena statis dan
lutut. Inggatkaan
menurunkan resiko
pasien agar tidak
tromboflebitis
menyelaangkan kaki
atau duduk denggan
kaki tergantung lama.
 Kaji ekstemitas bagian
 Sirkulasi mungkin
baawa seperti adanya
harus dibatasi
eritema, tanda homan
untuk beberapa
positif
posisi selama
proses oprasai,
sementara itu obat-
obatan anastesi dan
menurunnya
aktivitas dapat
mengganggu
tonusitas,
vasomotor
kemungkinan
vaskular dan
peningkatan resiko
pembentuka
trombus
 Pantau tanda-tanda vital,  Merupakan
palpasi denyut nadi indikator dari
perifer, catat suhu/warna volume sirkulasi
dan pengisian kapiler. dan fungsi
Evaluasi waktu dan organ/perfusi
pengeluaran cairan urine jaringan yang
adekuat

Kolaboraasi
 Beri cairan IV/produk-  Mempertahankan
produk darah sesuai volume sirkulasi,
kebutuhan mendukung
terjadinya perfusi
jaringan
 Berikan obat-obatan  Meningkatkan
antiembolik sesuai pengembalian
indikasi. aliraan vena dan
mencegah aliran
vena statis pada
kaki untuk
menurunkan risiko
trombosis
2 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Mandiri
nutrisi kurang dari keperawatan selama 3x24  Timbang berat badan  Memberikan
kebutuhan b/d jam di harapkan masalah tiap hari. informasi tentang
perubahan Dapat teratasi kebutuhan diet
ploliferative Dengan kriteria: /keefektifan terapi
gastrointestinal dan - Adanya  Dorong tirah baring  Menurunkan
efek toksil obat peningkatan berat dan/atau pembaatasaan kebutuhan
kemoterapi badan sesuai aktivitas selama fase metabolik untuk
dengan tujuan sakit akut mencegah
- Berat badan ideal penurunan kalori
sesuai dengan dan simpanan
tinggi badan enerji
- Mampu  Anjurkan istirahat  Menenangkan
mengidentifikasi sebelum makan peristaltik dan
kebutuhan nutrisi meningkatkan
- Tidak ada energi untu makn
tanda_tanda  Berikan kebersihan  Mulut yang bersih
malnutrisi oral dapat
- Menunjukkan meningkatkan rasa
peningkatan fungsi makanan
pengucapan dan  Sediakan makanan  Lingkungkan yang
menelan dalam fentilasi yang menyenangkan
- Tidak terjadi baik, lingkungan yang menurunkan stres
penurunan berat menyenangkan, dengan dan lebih
badan yang berarti situasi yang tidak konduksif untuk
terburu-buru makan
 Batasi makanan yang  Mencegah
dapat menyebabkan serangan akut
kraam abdomen, flatus /eksaserbasi gejala
( mis.. produk susu )
Kolaborasi
 Pertahankan puasa  Istrahat usus
sesuaai indikasi menurunkan
peristaltik dan
diare dimana
menyebabkan
malabsorpsih/kehil
angan nutrien
 Mulai/tambahkan diet  Memungkinkan
sesuai indikasi, mis.. saluran usus untuk
caairan jerni maju mematikan
menjadi makanan yang kembali proses
dihancurkan, rendah pencernaan.protein
sisa kemudian protein perlu untuk
tinggi, tinggi kalori, menyembukan
dan rendah integrasi jaringan

3 Resiko perdarahan Setelah dilakukan tindakan Mandiri


b/d penurunan keperawatan selama 3x24  Evaluasi laporan  Efek leukimia,
jumlah trombosit jam diharapkan masalah kelemahan, perhatikan anemia, dan
dapat teratasi ketidak mampuan untuk kemoterapi
Dengan kriteria: berpartisipasi dalam mungkin kumulatif
- Tidak ada hematersis aktivitas
dan hematenesis  Berikan lingkungan  Menghemat energi
- Kehilangan darah ang tenang untuk aktivitas dan
terlihat regenerasi
- Tekanan darah dalam seluler/penyembuh
batas normal sistoil dan an jaringan
diastole  Implementasikaan teknik  Memaksimalkan
- Tidak ada pendarahan penghematan energi sediaan energi
pervagina untuk tugas
- Tidak ada distensi peraawatan diri
abdominal Kolaborasi
- Hemoglobin dan  Berikan oksigen  Memaksimalkan
hemotrokrit dalam batas tambahan sedian oksigen
normal untuk kebutuhan
- Plasma PT,PTT,dalam seluler
batas normal

4 Resiko infeksi b/d Setelah dilakukan tindakan Mandiri


menurunya sistem keperawatan selama 3x24  Tempatkan pada  Melindungi dari
pertahanan tubuh jam diharapkan masalah ruaangan ksusus. sumber potensial
dapat teratasi patogen/infeksi
Dengan kriteria:  Berikan protokol untuk  Mencegah
- Klien bebas dari tanda mencuci tangan yaang kontaminasi
dan gejala infeksi baik untuk semua silang/menurunka
- Mendeskripsikan proses petugas dan n resiko infeksi
penularan penyakit pengunjung
faktor yang
mempengaruhi  Awasi suhu. Perhatikan  Hipertermia
penularan serta hungan antara lanjut terjadi pada
penatalaksanaanya peningkataan suhu beberapa tipe
- Menunjukkan semua petugas dan infeksi, dan
kemampuann untuk pengunjung demam
mencegah timbulnya  Rawat pasien dengan  Mencegah rasa
infeksi lembut pertahankan terbakar/ekskoria
- Jumlah leukosit dalam linen kering/tidak kusut si kulit
batas normal
- Menunjukkan perilaku
hidup sehat

5 Nyeri akut b/d Setelah dilakukan tindakan Mandiri


ifiltrasi gukosit keperawatan selama 3x24  Selidiki keluhan nyeri.  Membantu
jaringan sistemik jam di harapkan masalah Perhatikan perubahan mengkaji
dapat teratasi pada derajat dan sisi ( kebutuhan untuk
Dengan kriteria: gunakan skala 0-10 ) intervensi dapat
- Mampu mengontrol mengindikasikan
nyeri terjadinya
- Melaporkan bahwa nyeri komplikasi
berkurang (skala,  Awasi tanda vital,  Dapat membantu
intensitas, frekuensi,dan perhatikan petunjuk mengevaluasi
tanda nyeri) nonverbal mis.. pernyatan verbal
- Menyatakan rasa tegangan otot, gelisah dan keefektifan
nyaman setelah nyeri intervensi
berkurang  berikan lingkungan  Meningkatkan
tenang dan kurangi istirahat dan
rangsangan penuh meningkatkaan
stres. kemaampuan
koping
 Ubah posisi secara  Memperbaiki
periodik dan sirkulasi jaringan
berikan/bantu latihan dan mobilitas
rentang gerak lembut sendi
DAFTAR PUSTAKA

Doenges,Marilynn E.RencanaAsuhanKeperawaatan.Tahun 2000

Diagnosamedisdannandanic-nocedisirevisi.tahun2015

Mengidentifikasi tindakan untuk menjegah/menurunkan resiko infeksi.


menunjukan teknik, perubahan pola hidup untuk meningkatkan keamanan
lingkungan, meningkatkan penyembuhan.

RASIONAL

INTERVENSI
Mandiri
Tempatkan pada ruangan khusus. Batasi Melindungi dari sumber potensial
pengunjung sesuai indikasi, hindarkan patogen/infeksi. Catatan : supresi
menggunakan tanaman hidup/bunga potong. sumsumtulang berat, neutropenia, dan
Batasi buah segar dan sayuran. kemoterapi menempatkan pasien pada resiko
besar untuk infeksi.
Berikan protokol untuk mencuci tangan yang Mencegah kontaminasi silang/menurunkan
baik untuk semua petugas dan pengunjung. resiko infeksi.

Awasi suhu. Perhatikan hubungan antara hipertermia lanjut terjadi pada beberapa tipe
peningkatan suhu dan pengobatan infeksi, dan demam ( tak berhubungan
kemoterapi. Observasi demam sehubungan dengan obat atau produk darah ) terjadi pada
dengan takikardia,hipotensi, perubahan kebanyakan pasien leukimia. Catatan :
mental samar. septikemia dapat terjadi tanda demam.

Cegah menggigil : tingkatkan cairan. Berikan  membantu menurunkan dema, yang


mandi kompres. menambah ketidak seimbangan cairan,
ketidaknyamanan, dan komplikasi SSP.

Dorong sering mengubah posisi, napas


mencegah stasis sekret pernapasan,
dalam, batuk.
menurunkan risiko atelektasis/pneumonia.

Auskultasi bunyi napas, perhatikan


 inveksi dini penting untuk mencegah
gemericik, ronki; inspeksi sekresi terhadap
sepsis/septisemia pada individu
perubahan karakteristik , contoh peningkatan
imunosupresi.
produksi sputum atau sputum kental, urien
bau busuk dengan berkemih tiba- tiba atau
rasa terbakar.
Rawat pasien dengan lembut. Pertahankan mencegah rasa terbakar/ekskoriasi kulit.
linen kering/ tidak kusut.

mengidentifikasikan infeksi lokal. Catatan :


Inspeksi kulit untuk nyeri tekan, area luka terbuka dapat tidaak menghasilkan pus
eritematosus; luka terbuka. Bersihkan kulit karena insufisiensi jumlah granulosit.
dengan larutan antibakterial.

 rongga mulut adalah medium yang baik


untuk pertumbuhan organisme.
Inspeksi membran mukosa mulut. Berikan
bersihan mulut baik gunakan sikat gigi halus
perawatan mulut sering.

 meningkatkan kebersihan, menurunkan


risiko abses perinal; peningkatkan sirkulasi
Tingkatkan kebersihan perianal. Berikan dan penyembuhan.
rendam duduk menggunakan betadine atau
hibiclens bila diindikasikan.

 menghambat energi untuk penyembuhan,


regenerasi seluler.
Berikan periode istirahat tanpa gangguan.

 meningkatkan pembentukan antibodi dan


mencegah dehidrasi.

Dorong peningkatan masukan makanan


tinggi protein dan cairan.
 kulit robek dapat memberikan jalan masuk
patogenik. Potensial organisme letal.
Penggunaan selang kateter atau titik
implantasi dapat secara efektif menurunkan
Hindari/ batasi prosedur invasif ( contoh
kebutuhan prosedur invasif dan risiko infeksi.
tusukan jarum dan injeksi ) bila mungkin.
Catatan : mielosupresi mungkin terapi obat
multipel ( termaksut steroid ).
 penurunan jumlah SDP normal/matur dapat
diakibatkan oleh proses penyakit atau
kemoterapi, melibatkan respons imun dan
Kolaborasi peningkatan risiko infeksi.
Awasi pemeriksaan labolatorium. Mis..:
Hitung darah lengkap, perhatikan apakah meyakinkan adanya infeksi :
SDP turun atau tiba-tiba terjadi perubahan mengidentifikasi organisme spesifik dan
pada neutrofil: terapi tepat.

Kultur gram/sensitivitas. indikator terjadinya/penyembuhan


komplikasi paru

dapat diberikan secara profilaktik atau


Kaji ulang seri foto dada. mengobati infeksi khusus.

 aspirin dapat menyebabkan perdarahan


Berikan obat sesuai indikasi, contoh
gaster dan penurunan jumlah trombosit
antibiotik.
lanjut.
menimalkan sumber potensial kontaminasi
Hidari antipiretik yang mengandung aspirin.
bakterial.

Berikan diet rendah bakteri, mis.. makanan


dimasak, diproses.