You are on page 1of 22

A.

Definisi
LabioPalatoskisis adalah suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut,
palatosisis (sumbing palatum), dan labiosisis (sumbing pada bibir) yang terjadi akibat
gagalnya jaringan lunak (struktur tulang) untuk menyatu selama perkembangan
embroil. (Aziz Alimul Hidayat, 2006).LabioPalatoskisis adalah penyakit congenital
anomaly yang berupa adanya kelainan bentuk pada struktur wajah.(Suriadi, S.Kp.
2001).

Labiopalatoskisis adalah kelainan congenital pada bibir dan langit-langit yang


dapat terjadi secara terpisah atau bersamaan yang disebabkan oleh kegagalan atau
penyatuan struktur fasial embrionik yang tidak lengkap. Kelainan ini cenderung
bersifat diturunkan (hereditary), tetapi dapat terjadi akibat faktor non-genetik.

Labiopalatoschizis adalah suatu kondisi dimana terdapat celah pada bibir atas
diantara
mulut dan hidung. Kelainan ini dapat berupa celah kecil pada bagian bibir yang berwa
rna sampaipada pemisahan komplit satu atau dua sisi bibir memanjang dari bibir ke
hidung. Kelainan ini terjadi karena adanya gangguan pada kehamilan trimester
pertama yang menyebabkan terganggunya proses tumbuh kembang janin. Faktor yang
diduga dapat menyebabkan terjadinya kelainan ini adalah kekurangan nutrisi, stress
pada kehamilan, trauma dan factor genetic.

Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan
oleh kegagalan penyatuan susunan palate pada masa kehamilan 7-12 minggu.
Komplikasi potensial meliputi infeksi, otitis media, dan kehilangan pendengaran.

B. Insidensi
Labiopalatoskisis dengan angka kejadian sebesar 45%, labioskisis 25%, dan
palatoskisis sebesar 35 %. Labiopalatoskisis dan labioskisis lebih sering pada anak
laki-laki dengan perbandingan 2:1, sedangkan palatoskisis lebih sering pada anak
perempuan dengan perbandingan 2:1.

Palatoschisis paling sering ditemukan pada ras Asia dibandingkan rasAfrika.


Insiden palatoschisis padaras Asia sekitar 2,1/1000, 1/1000 pada ras kulit putih, dan
0,41/1000 pada ras kulit hitam.
Menurut data tahun 2004, di Indonesia ditemukan sekitar 5.009 kasus cleft
palate dari total seluruh penduduk.

C. Etiologi dan Faktor resiko


1. Faktor Genetik
Merupakan penyebab beberapa palatoschizis, tetapi tidak dapat
ditentukan dengan pasti karena berkaitan dengan gen kedua orang tua.
Diseluruh dunia ditemukan hampir 25 – 30 % penderita labio palatoscizhis
terjadi karena faktor herediter. Faktor dominan dan resesif dalam gen
merupakan manifestasi genetik yang menyebabkan terjadinya labio
palatoschizis. Faktor genetik yang menyebabkan celah bibir dan palatum
merupakan manifestasi yang kurang potensial dalam penyatuan beberapa
bagian kontak.

2. Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional, baik
kualitas maupun kuantitas (Gangguan sirkulasi foto maternal).
Zat –zat yang berpengaruh adalah:
 Asam folat
 Vitamin C
 Zn
3. Apabila pada kehamilan, ibu kurang mengkonsumsi asam folat, vitamin C dan
Zn dapat berpengaruh pada janin. Karena zat - zat tersebut dibutuhkan dalam
tumbuh kembang organ selama masa embrional. Selain itu gangguan sirkulasi
foto maternal juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang organ selama masa
embrional.
4. Pengaruh obat teratogenik.Yang termasuk obat teratogenik adalah:
- Jamu.
Mengkonsumsi jamu pada waktu kehamilan dapat berpengaruh pada janin,
terutama terjadinya labio palatoschizis. Akan tetapi jenis jamu apa yang
menyebabkan kelainan kongenital ini masih belum jelas. Masih ada
penelitian lebih lanjut
- Kontrasepsi hormonal.
Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi kontrasepsi hormonal, terutama
untuk hormon estrogen yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya
hipertensi sehingga berpengaruh pada janin, karena akan terjadi gangguan
sirkulasi fotomaternal.
- Obat – obatan yang dapat menyebabkan kelainan kongenital terutama
labio palatoschizis. Obat – obatan itu antara lain :
~ Talidomid, diazepam (obat – obat penenang)
~ Aspirin (Obat – obat analgetika)
~ Kosmetika yang mengandung merkuri & timah hitam
(cream pemutih)
- Faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang dapat menyebabkan
Labio palatoschizis, yaitu:
~ Zat kimia (rokok dan alkohol). Pada ibu hamil yang masih
mengkonsumsi rokok dan alkohol dapat berakibat terjadi
kelainan kongenital karena zat toksik yang terkandung pada
rokok dan alkohol yang dapat mengganggu pertumbuhan organ
selama masa embrional.
~ Gangguan metabolik (DM). Untuk ibu hamil yang mempunyai
penyakit diabetessangat rentan terjadi kelainan kongenital,
karena dapat menyebabkan gangguan sirkulasi fetomaternal.
Kadar gula dalam darah yang tinggi dapat berpengaruh
padatumbuh kembang organ selama masa embrional.h
~ Penyinaran radioaktif. Untuk ibu hamil pada trimester pertama
tidak dianjurkan terapi penyinaran radioaktif, karena radiasi dari
terapi tersebut dapat mengganggu proses tumbuh kembang
organ selama masa embrional.
- Infeksi, khususnya virus (toxoplasma) dan klamidial . Ibu hamil yang
terinfeksi virus (toxoplasma) berpengaruh pada janin sehingga dapat
berpengaruh terjadinya kelainan kongenital terutama labio palatoschizis.

D. Manifestasi Klinis
Pada LabioSkisis :

 Distorsi pada hidung


 Tampak sebagian atau keduanya
 Adanya celah pada bibir
Pada PalatoSkisis :

 Tampak ada celah pada tekak(uvula) , palato lunak, dan keras atau
foramen incisive
 Adanya rongga pada hidung
 Distorsi hidung
 Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa dengan jari
 Kesulitan dalam menghisap atau makan
 Distersi nasal sehingga bisa menyebabkan gangguan pernafasan
 Gangguan komunikasi verbal

Celah bibir dan kebanyakan keadaan celah palatum tampak pada


saat lahir dan penampilan kosmetik merupakan keprihatinan yang timbul
segera pada orang tua. Tidak ada kesukaran minum ASI atau botol pada
bayi dengan bibir sumbing yang kurang berat dengan palatum utuh. Pada
sumbing yang luas, dan terutama bila disertai celah palatum, muncul dua
masalah; mengisap mungkin tidak efektif dan saliva serta susu dapat bocor
ke dalam ronggga hidung, dan mengakibatkan refleks gag atau tersedak
ketika bayi bernapas.

Bicara dapat terhambat dan bila berkembang, dapat ada


hipernasalitas dan artikulasi yang jelek. Sebagai akibat defisiensi pada
fungsi otot palatum mole, fungsi tuba eustachii dapat terganggu, dan
keterlibatan telinga tengah memalui otitis akut berulang atau otitis media
menetap dengan efusi lazim terjadi.

Anak yang mengalami celah palatum sering berkembang infeksi sinus


masalis dan hipertrofi tonsil dan adenoid. Infeksi ini lazim terdapat bahkan
sesudah perbaikan bedah sekalipun, dan dapat turut menyebabkan sering
terkenanya telinga tengah.

Gabungan penampilan kosmetik dan gangguan bicara sering


menciptakan kesukaran psikologis yang serius pada anak yang lebih tua.
E. Klasifikasi
 Klasifikasi menurut struktur – struktur yang terkena menjadi :
a. Palatum primer : meliputi bibir, dasar hidung, alveolus dan palatum
durum dibelahan foramen incivisium.
b. Palatum sekunder : meliputi palatum durum dan molle posterior
terhadap foramen.
Suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya, palatum
primer dan palatum sekunder dan dapat unilateral atau bilateral.
Kadang – kadang terlihat suatu belahan submukosa, dalam kasus
ini mukosanya utuh dengan belahan mengenai tulang dan jaringan otot
palatum.
 Klasifikasi menurut organ yang terlibat :
1. Celah bibir (labioskizis)
2. Celah di gusi (gnatoskizis)
3. Celah dilangit (Palatoskizis)
4. Celah dapat terjadi lebih dari satu organ misalnya terjadi di bibir dan
langit – langit (labiopalatoskizis).
 Klasifikasi menurut lengkap/ tidaknya celah yang terbentuk :
Tingkat kelainan bibir sumbing bervariasi, mulai dari yang ringan
hingga yang berat, beberapa jenis bibir sumbing yang diketahui adalah :
1. Unilateral iincomplete : Jika celah sumbing terjadi hanya di salah satu
bibir dan tidak memanjang ke hidung
2. Unilateral complete : Jika celah sumbing yang terjadi hanya disalah
satu sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung
3. Bilateral complete : Jika celah sumbing terjadi dikedua sisi bibir dan
memanjang hingga ke hidung.
(A) Celah bibir unilateral tidak komplit, (B) Celah bibir unilateral (C) Celah bibir
bilateral dengan celah langit-langit dan tulang alveolar, (D) Celah langit-langit. (Stoll
et al. BMC Medical genetics. 2004, 154.)

F. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada pasien dengan Labio palatoschizis adalah:
 Kesulitan berbicara – hipernasalitas, artikulasi, kompensatori. Dengan
adanya celah pada bibir dan palatum, pada faring terjadi pelebaran
sehingga suara yang keluar menjadi sengau.
 Maloklusi( – pola erupsi gigi abnormal. Jika celah melibatkan tulang
alveol, alveol ridge terletak disebelah palatal, sehingga disisi celah dan
didaerah celah sering terjadi erupsi.
 Masalah pendengaran – otitis media rekurens sekunder. Dengan
adanya celah pada paltum sehingga muara tuba eustachii terganggu
akibtnya dapat terjadi otitis media rekurens sekunder.
 Aspirasi. Dengan terganggunya tuba eustachii, menyebabkan reflek
menghisap dan menelan terganggu akibatnya dapat terjadi aspirasi.
 Distress pernafasan. Dengan terjadi aspirasi yang tidak dapat ditolong
secara dini, akan mengakibatkan distress pernafasan
 Resiko infeksi saluran nafas. Adanya celah pada bibir dan palatum
dapat mengakibatkan udara luar dapat masuk dengan bebas ke dalam
tubuh, sehingga kuman – kuman dan bakteri dapat masuk ke dalam
saluran pernafasan.
 Pertumbuhan dan perkembangan terlambat. Dengan adanya celah pada
bibir dan palatum dapat menyebabkan kerusakan menghisap dan
menelan terganggu. Akibatnya bayi menjadi kekurangan nutrisi
sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan bayi.
 Asimetri wajah. Jika celah melebar ke dasar hidung “ alar cartilago ”
dan kurangnya penyangga pada dasar alar pada sisi celah
menyebabkan asimetris wajah.
 Penyakit peri odontal. Gigi permanen yang bersebelahan dengan celah
yang tidak mencukupi di dalam tulang. Sepanjang permukaan akar di
dekat aspek distal dan medial insisiv pertama dapat menyebabkan
terjadinya penyakit peri odontal.
 Crosbite. Penderita labio palatoschizis seringkali paroksimallnya
menonjol dan lebih rendah posterior premaxillary yang colaps
medialnya dapat menyebabkan terjadinya crosbite.
 Perubahan harga diri dan citra tubuh. Adanya celah pada bibir dan
palatum serta terjadinya asimetri wajah menyebabkan perubahan harga
diri da citra tubuh.

G. Pemeriksaan Penunjang
a. Rontgen
- Beberapa celah orofasial dapat terdiagnosa dengan USG prenatal,
namun tidak terdapat skrining sistemik untuk celah orofasial. Diagnosa
prenatal untuk celah bibir baik unilateral maupun bilateral,
memungkinkan dengan USG pada usia janin 18 minggu. Celah
palatum tersendiri tidak dapat didiagnosa pada pemeriksaan USG
prenatal. KEtika diagnosa prenatal dipastikan, rujukan kepada ahli
bedah plastik tepat untuk konseling dalam usaha mencegah.
- Setelah lahir, tes genetic mungkin membantu menentukan perawatan
terbaik untuk seorang anak, khususnya jika celah tersebut dihubungkan
dengan kondisi genetik. Pemeriksaan genetik juga memberi informasi
pada orangtua tentang resiko mereka untuk mendapat anak lain dengan
celah bibir atau celah palatum.

b. Radiologi
- Pemeriksaan radiologi dilakukan dewngan melakukan foto rontgen
pada tengkorak. Pada penderita dapat ditemukan celah processus
maxilla dan processus nasalis media.

H. Patofisiologi
(terlampir)
I. Penatalaksanaan
Tujuan dan intervensi bedah dan pembedahan adalah memulihkan struktur
anatomi, mengoreksi cacat dan memungkinkan anak mempunyai fungsi yang normal
dalam menelan, bernapas dan berbicara. Pembedahan biasanya dilakukan ketika anak
berumur ± 3 bulan, tetapi pada beberapa rumah sakit dilakukan segera setelah lahir.

a. Manajemen perawatan celah bibir


Perawatan pra bedah
1) Pemberian makan
Pemberian makan pertama kali sukar, tetapi tergantung pada derajat
deformitas yang dialami pada kasus ringan, ada kemungkinan memberi
ASI langsung kepada bayi. Jika tidak, pemberian susu botol mudah
dilakukan. Akan tetapi, bila menghisap susu dari botol sulit dilakukan
bayi, makanan dapat diberikan menggunakan sendok atau biarkan bayi
menghisap dari sendok.
- Bila celah bibir tidak disertai celah palatum, bayi hanya mengalami
sedikit kesukaran dalam makan atau sama sekali tidak kesukaran.
- Jika celah bibir disertai celah palatum, bayi mengalami masalah bukan
saja dalam menelan tetapi juga dalam menghisap karena palatum yang
lengkap dan utuh diperlukan untuk memanifulasi puting dan
menghisap ASI. Regurgitasi ASI melalui hidung menimbulkan
masalah lain yang membahayakan. Inhalasi ASI harus dicegah dengan
mempersiapkan penyedot setiap saat. Pemenuhan kebutuhan nutrisi
adekuat penting agar menjamin bahwa bayi dalam keadaan fisik yang
baik, mengalami kenaikan BB dan tidak mengalami anemia. Bila
dijumpai adanya anemia, harus ditangani kapan saja terjadi.
-
2) Pemberian antibiotik
Pemberian antibiotik sebagai profilaksis bertujuan menjamin bahwa
pada masa pascabedah, anak tidak mengalami bahaya yang disebabkan
oleh mikroorganisme yang telah ada ataupun yang masuk selama masa
bedah dan pascabedah .
3) Persiapan Prabedah
Prinsip manajemen prabedah bertujuan mencapai atau
mempertahankan status fisik yang menjamin bahwa anak mampu
mengatasi trauma akibat intervensi bedah. Tujuan selanjutnya adalah
menghilangkan atau mengurangi terjadinya komplikasi selama atau setelah
pembedahan melalui antisipasi yang saksama dan pengobatan yang tepat.
4) Perawatan pascabedah
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat merawat anak yang sudah selesai
mengalami operasi perbaikan celah bibir meliputi :
a. Imobilisasi lengan merupakan aspek penting perawatan, untuk
mencegah bayi menyentuh garis jahitan
b. Sedasi, anak yang menangis dapat mengingkatkan tegangan pada garis
jahitan. Pemberian sedasi sering kali dianjurkan untuk mengurangi
tegangan, walaupun tegangan sudah dikurangi dengan mengenakan
peralatan seperti busur logam
c. Pembalutan garis sedasi, biasanya jahitan sudah dibuka antar hari ke-5
dan ke-8. Garis jahitan biasanya ditinggal tanpa penutup dan
kebersihan dipertahankan dengan mengelap area tersebut dengan air
steril atau salin normal setelah selesai makan.
d. Pemberian makan dapat segera dimulai setelah bayi sadar dan refleks
menelan positif.
b. Manajemen perawatan celah palatum
Saat optimum untuk operasi perbaikan celah palatum tetap merupakan
masalah konvensional. Tindakan pembedahan umumnya dilakukan sebelum
anak mulai berbicara. Sebagian besar ahli bedah plastik melakukan
pembedahan diantara usia 15 dan 18 bulan tetapi beberapa berpendapat bahwa
operasi harus ditunda sampai usia 7 tahun untuk memungkinkan
perkembangan tulang wajah secara lengkap. Operasi lebih baik dilakukan oleh
ahli bedah dengan pengalaman khusus dalam pekerjaan ini. Infeksi luka harus
dicegah dengan antibiotik yang sesuai.
Pemberian makan dapat merupakan masalah yang sulit pada anak
tersebut, karena adanya lubang antara rongga mulut dan hidung. Namun,
pemberian ASI dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Bila pemberian
ASI tidak dapat dilakukan secara langsung, sebaiknya digunakan puting karet
besar yang menutup sebagian lubang palatum. Pembesaran lubang puting karet
dapat menolong banyak anak penderita celah palatum. Banyak percobaan yang
mungkin diperlukan untuk membentuk kebiasaan makan yang benar.
Terkadang, penggunaan pipet mengatasi masalah pemberian makan.
Pemberian makan melalui sonde harus dihindari karena akan menghalangi
penggunaan otot orofaring
Diet pascabedah langsung harus terdiri atas cairan jernih, seperti
minuman glukosa. Sekali diberikan diet normal harus terdiri atas makanan
lunak disusul dengan air steril. Makanan keras dan manisan harus diberikan
selama 2/3 minggu setelah pembedahan. Pengangkatan jahitan biasanya
dilakukan di kamar bedah dibawah sedasi diantara hari ke-8 atau ke-10
Bila kemampuan bicara anak tidak berkembang secara memuaskan,
berikan terapi wicara. Ahli terapi wicara harus dijadikan sumber konsultasi
pada semua kasus dan rencana disusun untuk memastikan perkembangan
bicara yang adekuat. Kuantitas pengobatan atau latihan yang akan diberikan
oleh seorang ahli terapi wicara terbatas, sehingga beban utama ditanggung
oleh ibu. Oleh sebab itu, baik ibu maupun anak harus ambil bagian dalam
pelajaran ini dengan ahli terapi wicara sehingga ibu dapat melanjutkan terapi
dirumah. Melalui latihan yang cermat, ada kemungkinan bagi anak untuk
mencapai tingkat bercakap yang memungkinkan anak untuk berkomunikasi
bebas dengan orang lain pasa saat mulai sekolah. Orang tua memerlukan
dukungan dan banyak dari unit celah palatum menyimpan album foto
gambaran sebelum dan sesudah dari kasus yang berhasil untuk
memperlihatkan kepada orang tua dan menenteramkannya bahwa bayinya
akan terlihat baik setelah operasi.

c. Pemberian makan dan minum


Pemberian makan dan minum pada pasien dengan labioschisis dan
palatoschisis bertujuan untuk membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan
cairan dan elektrolit sesuai program pengobatan.

J. Pencegahan
1. Menghindari merokok
Ibu yang merokok mungkin merupakan faktor risiko lingkungan
terbaik yang telah dipelajari untuk terjadinya celah orofacial. Ibu yang
menggunakan tembakau selama kehamilan secara konsisten terkait
dengan peningkatan resiko terjadinya celah-celah orofacial. Mengingat
frekuensi kebiasaan kalangan perempuan di Amerika Serikat, merokok
dapat menjelaskan sebanyak 20% dari celah orofacial yang terjadi pada
populasi negara itu.
Lebih dari satu miliar orang merokok di seluruh dunia dan hampir
tiga perempatnya tinggal di negara berkembang, sering kali dengan
adanya dukungan publik dan politik tingkat yang relatif rendah untuk
upaya pengendalian tembakau. (Aghi et al.,2002). Banyak laporan telah
mendokumentasikan bahwa tingkat prevalensi merokok pada kalangan
perempuan berusia 15-25 tahun terus meningkat secara global pada
dekade terakhir (Windsor, 2002). Diperkirakan bahwa pada tahun 1995,
12-14 juta perempuan di seluruh dunia merokok selama kehamilan
mereka dan, ketika merokok secara pasif juga dicatat, 50 juta perempuan
hamil, dari total 130 juta terpapar asap tembakau selama kehamilan
mereka (Windsor, 2002).
2. Menghindari alkohol
Peminum alkohol berat selama kehamilan diketahui dapat
mempengaruhi tumbuh kembang embrio, dan langit-langit mulut sumbing
telah dijelaskan memiliki hubungan dengan terjadinya defek sebanyak
10% kasus pada sindrom alkohol fetal (fetal alcohol syndrome). Pada
tinjauan yang dipresentasikan di Utah Amerika Serikat pada acara
pertemuan konsensus WHO (bulan Mei 2001), diketahui bahwa
interpretasi hubungan antara alkohol dan celah orofasial dirumitkan oleh
biasa yang terjadi di masyarakat. Dalam banyak penelitian tentang
merokok, alkohol diketemukan juga sebagai pendamping, namun tidak
ada hasil yang benar-benar disebabkan murni karena alkohol.25,30
3. Nutrisi
Nutrisi yang adekuat dari ibu hamil saat konsepsi dan trimester I
kehamilan sangat penting bagi tumbuh kembang bibir, palatum dan
struktur kraniofasial yang normal dari fetus.
a. Asam Folat
Peran asupan folat pada ibu dalam kaitannya dengan celah orofasial
sulit untuk ditentukan dalam studi kasus-kontrol manusia karena folat
dari sumber makanan memiliki bioavaibilitas yang luas dan suplemen
asam folat biasanya diambil dengan vitamin, mineral dan elemen-
elemen lainnya yang juga mungkin memiliki efek protektif terhadap
terjadinya celah orofasial. Folat merupakan bentuk poliglutamat alami
dan asam folat ialah bentuk monoglutamat sintetis. Pemberian asam
folat pada ibu hamil sangat penting pada setiap tahap kehamilan sejak
konsepsi sampai persalinan. Asam folat memiliki dua peran dalam
menentukan hasil kehamilan. Satu, ialah dalam proses maturasi janin
jangka panjang untuk mencegah anemia pada kehamilan lanjut. Kedua,
ialah dalam mencegah defek kongenital selama tumbuh kembang
embrionik. Telah disarankan bahwa suplemen asam folat pada ibu
hamil memiliki peran dalam mencegah celah orofasial yang non
sindromik seperti bibir dan/atau langit-langit sumbing.
b. Vitamin B-6
Vitamin B-6 diketahui dapat melindungi terhadap induksi terjadinya
celah orofasial secara laboratorium pada binatang oleh sifat
teratogennya demikian juga kortikosteroid, kelebihan vitamin A, dan
siklofosfamid. Deoksipiridin, atau antagonis vitamin B-6, diketahui
menginduksi celah orofasial dan defisiensi vitamin B-6 sendiri cukup
untuk membuktikan terjadinya langit-langit mulut sumbing dan defek
lahir lainnya pada binatang percoban. Namun penelitian pada manusia
masih kurang untuk membuktikan peran vitamin B-6 dalam terjadinya
celah.

c. Vitamin A
Asupan vitamn A yang kurang atau berlebih dikaitkan dengan
peningkatan resiko terjadinya celah orofasial dan kelainan kraniofasial
lainnya. Hale adalah peneliti pertama yang menemukan bahwa
defisiensi vitamin A pada ibu menyebabkan defek pada mata, celah
orofasial, dan defek kelahiran lainya pada babi. Penelitian klinis
manusia menyatakan bahwa paparan fetus terhadap retinoid dan diet
tinggi vitamin A juga dapat menghasilkan kelainan kraniofasial yang
gawat. Pada penelitian prospektif lebih dari 22.000 kelahiran pada
wanita di Amerika Serikat, kelainan kraniofasial dan malformasi
lainnya umum terjadi pada wanita yang mengkonsumsi lebih dari
10.000 IU vitamin A pada masa perikonsepsional.
4. Modifikasi Pekerjaan
Dari data-data yang ada dan penelitian skala besar menyerankan bahwa
ada hubungan antara celah orofasial dengan pekerjaan ibu hamil (pegawai
kesehatan, industri reparasi, pegawai agrikulutur). Teratogenesis karena
trichloroethylene dan tetrachloroethylene pada air yang diketahui
berhubungan dengan pekerjaan bertani mengindikasikan adanya peran dari
pestisida, hal ini diketahui dari beberapa penelitian, namun tidak semua.
Maka sebaiknya pada wanita hamil lebih baik mengurangi jenis pekerjaan
yang terkait. Pekerjaan ayah dalam industri cetak, seperti pabrik cat,
operator motor, pemadam kebakaran atau bertani telah diketahui
meningkatkan resiko terjadinya celah orofasial.
5. Suplemen Nutrisi
Beberapa usaha telah dilakukan untuk merangsang percobaan pada
manusia untuk mengevaluasi suplementasi vitamin pada ibu selama
kehamilan yang dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan. Hal ini
dimotivasi oleh hasil baik yang dilakukan pada percobaan pada binatang.
Usaha pertama dilakukan tahun 1958 di Amerika Serikat namun
penelitiannya kecil, metodenya sedikit dan tidak ada analisis statistik yang
dilaporkan. Penelitian lainnya dalam usaha memberikan suplemen
multivitamin dalam mencegah celah orofasial dilakukan di Eropa dan
penelitinya mengklaim bahwa hasil pemberian suplemen nutrisi adalah
efektif, namun penelitian tersebut memiliki data yang tidak mencukupi
untuk mengevaluasi hasilnya.Salah satu tantangan terbesar dalam
penelitian pencegahan terjadinya celah orofasial adalah mengikutsertakan
banyak wanita dengan resiko tinggi pada masa produktifnya.

K. Prognosis
Kelainan labioschisis merupakan kelainan bawaan yang dapat
dimodifikasi/disembuhkan. Kebanyakan anak yang lahir dengan kondisi ini
melakukan operasi saat usia masih dini dan hal ini sangat memperbaiki penampilan
wajah secara signifikan. Dengan adanya teknik pembedahan yang makin
berkembang, 80% anak dengan labioschisis yang telah diatalaksana mempunyai
perkembangan kemampuan bicara yang baik. Terapi bicara yang berkesinambungan
menunjukan hasil peningkatan yang baik pada masalah-masalah labioschisis.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Identitas klien
Nama : an. X
Usia : 2 jam
Jenis kelamin : laki-laki
Agama: -
Diagnosa medis : labiopalatoschizis

2. Anamnesa
a. Keluhan utama
Setelah lahir terdapat celah pada bibir dan langit-langit mulut dan tampak
sulit menyusui.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
P : perlu dilakukan pengkajian ulang
Q : perlu dilakukan pengkajian ulang
R : celah di bibir dan langit-langit mulut
S : perlu dilakukan pengkajian ulang
T : sejak lahir selama 2 jam
c. Riwayat Kesehatan Dahulu : -
d. Riwayat Kesehatan keluarga : -
e. Riwayat Pekerjaan : -
f. Peran sosial : -
g. Pola aktivitas : -
3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : sadar penuh
b. Antropometri
Lingkar perut : 45 cm
BBL : 2500 gram
c. TTV
RR : 46x/menit
HR : 120x/menit
TD : -
Suhu : 37,80C
d. Inspeksi : terdapat celah pada bagian bibir dan langit-langit mulut
e. Palpasi: -
f. Perkusi : -
g. Auskultasi : -

4. Pemeriksaan Penunjang
pemeriksaan Hasil Normal
leukosit 11.000 mg/dl 9000 – 12000/ mm3
eritrosit 3500 mg/dl 4,7-6,1 juta
trombosit 270.000 mg/dl 200.000 -400.000 mg/dl
Hb 16 gr/dl 12-24 gr/dl
Ht 30 33-38
Kalium 4,8 mEq 3,6-5,8 mEq
Natrium 138 mEq 134-150 mEq

5. Analisis Data
Data Yang Masalah
Etiologi
Menyimpang Keperawatan
DO: Labiopalatoschizis Nutrisi Kurang Dari
Terdapat celah pada Kebutuhan atau tidak
bibir dan langit – langit Sususnan mulut berbeda efektif dalam meneteki
mulut, ASI
Tampak sulit menyusu Fungsi mulut terganggu
DS: -
Kesulitan melakukan gerakan
menghisap

Sulit menete

Intake nutrisi (ASI) kurang

Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan


atau tidak efektif dalam meneteki
ASI
DO: Labiopalatoschizis
Ibu tampak sedih
melihat kondisi Sususan mulut berbeda
anaknya, Ibu berusaha
menutup – nutupi wajah Wajah anak ditutup dari orang
Harga Diri Rendah
anaknya dari orang lain. lain
DS:
Ibu berkata malu akan Ibu merasa malu dan sedih
kondisi anaknya
Harga Diri Rendah
DO: Labiopalatoschizis
Anak terlahir dengan
kondisi terdapat celah Sususnan mulut berbeda
pada bibir dan langit –
langit mulut dan tampak Fungsi mulut terganggu
Kurang Pengetahuan
sulit menyusu
DS: Kesulitan melakukan gerakan
Ibu bingung bagaimana menghisap
cara menyusui anaknya
dan berkata tidak tahu Sulit menete
apa yang harus
dilakukan setelah anak Ibu bingung cara menyusui anak
dibawa pulang ke
rumah. Kurang Pengetahuan
DO: Labiopalatoschizis
Terdapat celah pada
bibir dan langit – langit Sususnan mulut berbeda
mulut Resiko Tinggi terjadi
DS: Tidak ada pemisah antara mulut Aspirasi
dan hidung

Resti Aspirasi
DO: Labiopalatoschizis
Luka bekas operasi
DS: Perlunya tindakan bedah korektif
Resiko Infeksi
Post operasi

Resiko Infeksi

6. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Pra Operasi:
1. Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan
menelan/ kesukaran dalam makan sekunder akibat kecacatan dan
pembedahan.
2. Harga Diri Rendah berhubungan dengan kondisi anak terlahir cacat.
3. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan teknik pemberian makan
dan perawatan di rumah.
4. Resiko tinggi terjadi aspirasi berhubungan dengan ketidakmampuan
mengeluarkan sekresi sekunder dari Palatoskisis.
Diagnosa Pasca Operasi:
1. Resti infeksi berhubungan dengan terpaparnya lingkungan dan
prosedur invasi yang di tandai dengan adanya luka operasi tertutup
kasa.
2. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.

7. Intervensi dan Rasional


Diagnosa Keperawatan Pra Operasi:

1. Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan atau tidak efektif dalam meneteki ASI
berhubungan dengan ketidakmampuan menelan/ kesukaran dalam makan
sekunder akibat kecacatan dan pembedahan.
Tujuan: Setelah mendapatkan tindakan keperawatan diharapkan perubahan
nutrisi dapat teratasi
Kriteria Hasil:
 tidak pucat
 turgor kulit membaik
 kulit lembab, perut tidak kembung
 bayi menunjukan penambahan berat badan yang tepat.
Intervensi Rasional
1. Bantu ibu dalam menyusui, bila ini adalah 1. Membantu ibu dalam memberikan Asi
keinginan ibu. Posisikan dan stabilkan dan posisi puting yang stabil membentuk
puting susu dengan baik di dalam rongga kerja lidah dalam pemerasan susu.
mulut. 2. Karena pengisapan di perlukan untuk
2. Bantu menstimulasi refleks ejeksi Asi menstimulasi susu yang pada awalnya
secara manual / dengan pompa payudara mungkin tidak ada
sebelum menyusui 3. Membantu kesulitan makan bayi,
3. Gunakan alat makan khusus, bila mempermudah menelan da mencegah
menggunakan alat tanpa puting. (dot, spuit aspirasi
asepto) letakan formula di belakang lidah 4. Mempermudah dalam pemberian Asi
4. Melatih ibu untuk memberikan Asi yang 5. Untuk mencegah terjadinya
baik bagi bayinya mikroorganisme yang masuk
5. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga 6. mendapatkan nutrisi yang seimbang
kebersihan, apabila di pulangkan
6. kolborasi dengan ahli gizi.

2. Harga Diri Rendah berhubungan dengan kondisi anak terlahir cacat.


Tujuan: Stelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan orang tua tidak malu
lagi.
Kriteria Hasil:
 Rasa malu hilang
 Lebih menyayangi anaknya
 Menjaga kesehatan anaknya
Intervensi Rasional
1. Berikan kesempatan untuk 1. Mendorong koping keluarga
mengekspresikan perasaan 2. Meredam sikap sensitif orangtua terhadap
2. tunjukan sikap penerimaan terhadap bayi sikap sensitif orang lain
dan keluarga 3. Mendorong penerimaan terhadap bayi
3. tunjukan dengan perilaku bahwa anak 4. Untuk mendorong adanya pengharapan
adalah manusia yang berharga 5. Membantu orangtua mendiskusikan
4. gambarkan hasil perbaikan bedah terhadap kekhawatirannya, berbagi pengalaman
defek,gunakan foto hasil yang memuaskan swehingga timbulnya sifat menerima
5. anjurkan pertemuan dengan orang tua lain terhadap bayi
yang mempunyai pengalaman serupa dan 6. Untuk mencegah terjadinya defek pada
dapat menghadapinya dengan baik. bayi
6. menganjurkan orangtua untuk selalu
menjaga kesehatan bayinya

3. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan teknik pemberian makan dan


perawatan di rumah.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tingkat pengetahuan
orang tua bertambah.
Kriteria Hasil:
- Orang tua mengetahui tentang penyakit yang diderita anak
- Orang tua mengetahui bagaimana cara perawatan anak mulai dari cara
pemberian makan, cara pembersihan mulut setelah makan.
Intervensi Rasional
1. Jelaskan prosedur operasi sebelum dan 1. Agar orang tua mengetahui prosedur
sesudah operasi operasi dan menyetujui operasi yang
2. Jelaskan dan demonstrasikan kepada dilakukan pada anaknya.
keluarga cara perawatan, pemberian 2. Agar pengetahuan ibu bertambah tentang
makanan dengan alat, cara mencegah cara perawatan anak pada bibir sumbing.
infeksi, cara mencegah aspirasi, cara
pengaturan posisi, dan cara membersihkan
mulut setelah makan.

4. Resiko tinggi terjadi aspirasi berhubungan dengan ketidakmampuan


mengeluarkan sekresi sekunder dari Palatoskisis.
Tujuan: Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan tidak terjadi
aspirasi
Kriteria Hasil:
 Kepatenan jalan nafas
 Kepatenan saluran cerna

Intervensi Rasional
1. Atur posisi kepala dengan mengangkat a. Agar minuman atau makanan yang masuk
kepala waktu minum atau makan dan tidak masuk ke saluran hidungdan anak
gunakan dot yang panjang. tidak tersedak.
2. Gunakan palatum buatan (bila perlu) b. Agar memudahkan anak untuk menete
3. Lakukan penepukan punggung setelah ASI.
pemberian makanan c. Agar anak tidak tersedak.
4. Monitor status pernafasan selama d. Memantau status pernapasan selama
pemberian makan seperti prequensi nafas, makan agar terlihat kemampuan makan
irama, serta tanda-tanda adanya aspirasi. bayi.

Diagnosa Pasca Operasi:

1. Resti infeksi berhubungan dengan terpaparnya lingkungan dan prosedur invasi


yang di tandai dengan adanya luka operasi tertutup kasa.
Tujuan: Setelah melakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi
infeksi.
Kriteria Hasil:
 Luka terjaga kesterilan.
 Tidak ada luka tambahan
Intervensi Rasional
1. Atur posisi miring ke kanan serta kepala 1. Agar memudahkan masuknya makanan
agak ditinggikan pada saat makan atau minuman.
2. Lakukan monitor tanda adanya infeksi 2. Agar cepat terdeteksi apabila ada infeksi
seperti bau, keadaan luka, keutuhan jahitan, dengan mengenali tanda-tanda infeksi.
3. Lakukan monitor adanya pendarahan dan 3. Agar memantau adanya komplikasi atau
edema tidak.
4. Lakukan perawatan luka pascaoperasi 4. Agar luka tetap terjaga kebersihannya
dengan aseptic dan terhindar dari infeksi.
5. Hindari gosok gigi kurang lebih 1-2 5. Agar tidak terjadi pendarahan atau jaitan
minggu lukanya bisa putus.

DAFTAR PUSTAKA

Rudolf.2007.Buku AjarPediatri Rudolf Volume 2.Jakarta.EGC

Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba
Medika.

Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak Bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama.

Wong, Dona L.2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pedriatik. Jakarta : EGC.

Ngastiah. 2005. Perawatan Anak Sakit . Jakarta : EGC.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37882/4/Chapter%20II.pdf

Suriadi &Yuliani, Rita, 2001, Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : PT. FAJAR
INTERPRATAMA

Sodikin. 2011. Keperawatan Anak Gangguan Pencernaan. Jakarta : EGC


MARTA PAULIN MUDAJ : DEPARTEMEN KESEHATAN RIPOLITEKNIK
KESEHATAN DEPKES KUPANG

Adam, George L. BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta: Jakarta: EGC.

Artono dan Prihartiningsih. 2008. Labioplasti Metode Barsky Dengan Pemotongan


Tulang Vomer Pada Penderita Bibir Sumbing Dua Sisi Komplit Di Bawah
Anestesi Umum. Maj Ked Gi : 15(2) : 149-152.
Cleft Lip and Palate Association of Malaysia. 2006. Sumbing Bibir Dan Sumbing
Lelangit. http://www.infosihat.gov.my/penyakit/kanak-kanak/sumbing.pdf