You are on page 1of 8

Asuhan Keperawatan pada Anak Hipospadia

Hipospadia merupakan kondisi kelainan pada lubang uretra yang terletak


di bawah penis atau di bagian manapun sepanjang permukaan ventral dari batang
penis (Hockenberry & Wilson, 2015). Pada kasus hipospadia ringan, lubang uretra
berada tepat di bawah ujung penis. Namun, pada kasus terparah, lubang uretra
dapat terletak pada perineum antara bagian skrotum (Hockenberry & Wilson,
2015). Kasus hipospadia pada anak biasanya dapat ditangani dengan dilakukannya
prosedur pembedahan.

Adapun tujuan utama dari prosedur pembedahan ini, diantaranya untuk


memperbaiki tampilan fisik alat kelamin karena alasan psikologis, untuk
mempertahankan organ seksual yang memadai, dan untuk memperbaiki atau
mengembalikan kondisi aliran urin sebagaimana mestinya (Hockenberry &
Wilson, 2015). Akan tetapi, posedur pembedahan juga dapat menyebabkan
munculnya beberapa permasalahan keperawatan. Pada lembar tugas ini akan
dibahas mengenai beberapa kemungkinan permasalahan yang dapat muncul pada
kasus anak hipospadia (Potts & Mandleco, 2012).

A. Asuhan Keperawatan
 Diagnosis 1 : Ansietas berhubungan dengan stresor (rencana prosedur
pembedahan).
 Definisi: Perasaan tidak tenang atau ketakutan yang dialami oleh individu
dan aktivasi sistem saraf otonom dalam merespons ancaman yang tidak
spesifik dan tidak jelas (Herdman, Kamitsuru, et al., 2014).

Data /Karakteristik Masalah Keperawatan


DO: Ansietas berhubungan dengan stresor
 Anak terlihat murung (rencana prosedur pembedahan).
 Anak tidak dapat tidur
 Wajah tampak tegang dan takut
 Anak terlihat gelisah
DS:
 Anak mengatakan merasa takut
setelah mendengar penjelasan dokter
mengenai rencana operasi
Data tambahan yang mungkin muncul:
 Anak menunjukkan perilaku regresi
 Anak fokus pada dirinya sendiri
 Anak kehilangan kepercayaan dirinya

Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1. Ansietas Mandiri Mandiri
berkurang 1. Mengidentifikasi 1. Kecemasan yang
dibuktikan dengan tingkat kecemasan berlebihan atau terus-
tingkat ansietas yang mungkin menerus
hanya ringan memerlukan menyebabkan reaksi
sampai sedang penundaan stres berlebihan dan
2. Anak menunjukan prosedur operasi. meningkatkan risiko
ketakutan yang 2. Melakukan validasi terjadinya reaksi
minimal terhadap terkait penyebab buruk terhadap
cedera tubuh dari ketakutan dan prosedur.
3. Anak tetap tenang kecemasan. 2. Mengidentifikasi
dan kooperatif 3. Membantu ketakutan spesifik
selama prosedur mengatasi membantu klien
ansietas anak untuk dapat
dengan cara mengontrol rasa
membangun takutnya
kepercayaan 3. Memberikan
kepada anak, pengertian positif
tidak menjauhkan kepada klien untuk
anak dengan mengurangi
orangtua, kecemasannya.
mendorong anak 4. Menjelaskan
untuk prosedur pembedahan
mengekspresikan pada anak dengan
apa yang ia rasa, bahasa dan contoh
bermain dengan yang mudah
anak, memberikan dimengerti.
kenyamanan pada
anak untuk
menurunkan
kecemasan anak.
4. Memberikan
penenangan dan
kenyamanan
(tetap bersama
anak, berbicara
pelan dan tenang).
5. Mempersiapkan
anak untuk
pengalaman
barunya (contoh:
prosedur) dan
memberikan
informasi terkait
sehingga ansietas
dapat berkurang.

 Diagnosis 2 : Nyeri akut berhubungan dengan insisi pembedahan dan


trauma jaringan
 Definisi: perasaan sensorik dan emosional yang tidak nyaman atau tidak
menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau
potensial (Herdman, Kamitsuru, et al., 2014).

Data /Karakteristik Etiologi Masalah Keperawatan


DO: Anak sedang dalam tahap Nyeri akut berhubungan
 Terdapat luka pemulihan luka pasca dengan prosedur
pascaoperasi prosedur pembedahan. pembedahan dan trauma
 Pasien terpasang jaringan
kateter
DS:
 Anak mengeluh nyeri
pada bagian yang
mengalami prosedur
pembedahan
 Anak menangis dan
tidak dapat tidur
dengan nyaman

Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Tingkat Nyeri Mandiri 1. Penggunaan skala pada
1. Rasa nyeri 1. Mengkaji nyeri yang intensitas nyeri
berkurang atau dirasakan anak: letak, membantu klien dalam
terkontrol karakteristik (urin menilai tingkat rasa sakit
2. Perasaan nyaman menetes, urin memancar, dan menyediakan alat
dan dapat tidur nyeri saat berkemih, dan untuk mengevaluasi
dengan nyaman sebagainya), serta keefektifan analgesik.
3. Berpartisipasi intensitas nyeri dari skala Selain itu, untuk
dalam aktivitas 0-10. meningkatkan kontrol
atau kegiatan 2. Mencatat kemungkinan nyeri klien.
sehati-hari penyebab nyeri baik 2. Ketakutan, kecemasan,
secara patofisiologi dan stres, dan kesedihan
psikologi. dapat mempengaruhi rasa
3. Mengevaluasi nyeri
keefektifan kontrol nyeri. 3. Persepsi nyeri yang
Mendorong pengobatan dirasakan klien bersifat
yang cukup untuk subjektif. Oleh karena itu,
mengontrol rasa nyeri. manajemen nyeri yang
4. Memberikan tindakan paling baik diserahkan
untuk menjaga pada klien. Jika klien
kenyamanan klien, tidak mampu untuk
seperti mengubah posisi memanajemen nyeri
secara rutin dan dengan baik maka
menggunakan bantal perawat haru mengkaji
yang nyaman. tanda-tanda fisik dan
Kolaborasi nonverbal lain, serta
Pemberian analgesik memberikan pengobatan
intermiten secara rutin. secara teratur
(Doengoes & Moorhouse, 4. Mengurangi
2010). ketidaknyamanan dan
efek terapeutik dari
analgesik.

 Diagnosis 3 : Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi


mekanik (trauma dan prosedur pembedahan)
 Definisi: Disfungsi eliminasi urin (Herdman, Kamitsuru, et al., 2014).

Data /Karakteristik Etiologi Masalah Keperawatan


DO: Anak sedang dalam tahap Gangguan eliminasi urin
 Terdapat luka pemulihan luka pasca berhubungan dengan
pascaoperasi prosedur pembedahan. obstruksi mekanik
 Anak terpasang kateter (trauma dan prosedur
DS: pembedahan)
 Anak mengeluh nyeri
pada bagian yang
mengalami prosedur
pembedahan
 Anak menangis dan
tidak dapat tidur
dengan nyaman

Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Eliminasi urin Mandiri Mandiri
1. Pengosongan urin 1. Mengkaji pengeluaran 1. Retensi dapat terjadi
secara normal urin dan sistem drainase karena adanya edema
tanpa retensi kateter. pada area pembedahan,
2. Menunjukkan 2. Membantu anak untuk bekuan darah, atau
perilaku pada berkemih dengan posisi spasme kandung kemih
pemulihan normal, contohnya berdiri 2. Mendorong
kandung kemih dan berjalan ke kamar pengeluaran urin dan
dan kontrol urin mandi dengan interval meningkatkan rasa
yang sering setelah normal.
kateter dilepas. 3. Mempertahankan
3. Membertahankan hidrasi yang adekuat dan
pemasukan cairan, perfusi ginjal untuk aliran
hindari urin. Menjadwalkan
ketidakseimbangan cairan penurunan pemasukan
akibat ketidaknyamanan cairan pada sore hari agar
berkemih. tidak berkemih di malam
Kolaborasi hari.
1. Mengukur volume Kolaborasi
residu urin jika 1. Memonitor keefektifan
ada dengan pengosongan kandung
kateter suprapubik kemih. Volume residu
atau Doppler lebih dari 50 mL
ultrasound. disarankan untuk tetap
(Doengoes & menggunakan kateter
Moorhouse, 2010) sampai residu tidak ada.
 Diagnosis 4 : Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter,
stent atau insisi pembedahan.
 Definisi: Kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi dari organisme
patogen yang mungkin dapat membahayakan kesehatan (Herdman,
Kamitsuru, et al., 2014).

Faktor Risiko Masalah Keperawatan


 Ketidakadekuatan pertahanan primer Risiko infeksi berhubungan dengan
(trauma jaringan, penurunan pemasangan kateter, stent atau insisi
kemampuan silia, dsb) pembedahan.
 Ketidakadekuatan pertahanan
sekunder (immunosuppression)
 Penyakit kronik, malnutrisi
 Prosedur invasif

Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Pengetahuan: Kontrol infeksi Mandiri Mandiri
1. Menunjukkan 1. Mencatat faktor- 1. Kesadaran akan
pemahaman tentang faktor yang dapat faktor risiko individu
faktor risiko individu menyebabkan memberikan
2. Mengidentifikasi terjadinya infeksi. kesempatan untuk
intervensi untuk 2. Mencuci tangan membatasi efek dan
mencegah atau dengan tepat dan benar, membantu mencegah
mengurangi risiko menggunakan sarung terjadinya infeksi.
infeksi. tangan saat melakukan 2. Menjaga hand
3. Mendemonstrasikan prosedur. hygiene merupakan
teknik-teknik untuk 3. Mempertahankan hal yang paling
mempromosikan nutrisi dan cairan yang penting dalam
lingkungan sehat. adekuat. pencegahan infeksi.
Kolaborasi 3. Membantu
Pemberian antimikroba meningkatkan
sesuai dengan indikasi. resistensi penyakit
(Doengoes & dan mengurangi risiko
Moorhouse, 2010) infeksi.
Kolaborasi
Jika terjadi infeksi,
satu atau lebih agent
dapat digunakan
tergantung pada
patogen yang
terindikasi.

Daftar Pustaka

Doengoes, M.E., & Moorhouse, M.F. (2010). Nursing care plans: guidelines for
individualizing client care across the life span. USA: F.A. Davis Company.

Hockenberry, M.J., & Wilson, D. (2015). Wong’s nursing care of infants and
children. 10th Ed. St Louis: Elsevier.

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). (2014). NANDA International Nursing


Diagnoses: Definitions & Classification, 2015–2017. 10th Ed. Oxford: Wiley
Blackwell.
Potts, N.L., & Mandleco, B.L. (2012). Pediatric nursing: caring for children and
their families. 3rd Ed. USA: Delmar.