You are on page 1of 46

MAKALAH

Tentang:
Asuhan keperawatan impaksi serumen
Asuhan keperawatan Omk
Asuhan keperawatan corpus alienum

Di susun oleh:

1. Ali Iswahyudi
2. Sandro Naruah
3. Megawati S.A.S
4. Erol Sables
5.

STIKES HUSADA JOMBANG


Jl. Veteran Mancar Peterongan Jombang-Malang
TAHUN PEMBELAJARAN 2017/2018

X
BAB I
PENDAHULUAN
Masalah keluarga yang mungkin terjadi di indonesia

A. Latar Belakang Masalah


Tiap keluarga akan senantiasa menghadapi berbagai masalah, tetapi kemampuan untuk
mengatasinya tidak terlalu memadai. Karena itu harus ada usaha-usaha untuk memperkuat
kemampuan keluarga atau anggota keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dari
dalam keluarga itu sendiri maupun dari luar. Usaha itu harus dimulai oleh keluarga itu sendiri
atau oleh seorang ahli yang dapat membantu mengatasi persoalan keluarga bila masalah
keluarga itu memerlukan orang lain untuk membantu penyelesaian konflik dalam keluarga.
Kita menyadari bahwa bahtera perkawinan tidak selamanya dapat mengarungi samudera
dengan tenang dan lancar. Setelah keluarga terbentuk, berbagaimasalah dapat timbul dalam
keluarga yang pada gilirannya akan menjadi benih yang mengancam kehidupan perkawinan
dan berakibat keretakan atau perceraian. Sebelum hal ini terjadi di keluarga atau angota
keluarga hendaklah berusaha untuk mencegahnya dengan memperbaiki hubungan dalam
keluarga dan kadang-kadang memerlukan campur tangan orang luar dalam usaha membantu
keluarga itu untuk mengatasi masalah tersebut.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan beberapa masalah diantaranya adalah :
1. Bagaimana Pengertian problem keluarga ?
2. Apa saja klasifikasi problem –problem yang ada di dalam keluarga ?
3. Faktor-faktor penyebab dari problem keluarga ?
4. Bagaimana upaya untuk mengatasi problem keluarga ?
C. Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah yang telah disampaikan di atas maka tujuan dari penulisan makalah ini
adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian problem keluarga
2. Untuk mengetahui klasifikasi problem-problem yang ada di dalam keluarga
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab dari problem keluarga
4. Untuk mengetahui upaya untuk mengatasi problem keluarga

X
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PROBLEM KELUARGA


Problem keluarga artinya kehidupan keluarga dalam keadaan kacau, tak teratur dan terarah,
orang tua kehilangan kewibawaan untuk mengendalikan kehidupan anak-anaknya terutama
remaja, mereka melawan orangtua, dan terjadi pertengkaran terus menerus antara ibu dengan
bapak terutama mengenai soal mendidik anak-anak. Bahkan problem keluarga bisa membawa
kepada perceraian suami-isteri. Dengan kata lain problem keluarga adalah suatu kondisi yang
sangat labil di keluarga, dimana komunikasi dua arah dalam kondisi demokratis sudah tidak
ada. Jika terjadi perceraian sebagai puncak dari problem yang berkepanjangan, maka yang
paling menderita adalah anak-anak. Sering perkara perceraian di pengadilan agama, yang
paling rumit adalah siapakah yang akan mengurus anak-anak. Sering pengadilan
memenangkan hak asuh kepada pihak laki-laki atau bapak. Dalam hal ini pengadilan agama
hanya berdasarkan fakta hokum belaka.
B. JENIS-JENIS MASALAH , FAKTOR DAN UPAYA MENGATASI PROBLEM
KELUARGA
Ada sejumlah problem di dalam sebuah keluarga. problem tersebut bisa berdiri sendiri tetapi
kecenderungannya saling berkaitan satu sama lain. Beragam prblem keluarga diantaranya:
1. Masalah Perekonomian
Keluarga miskin masih besar jumlahnya di negeri ini. Berbagai cara diusahakan pemerintah
untuk mengentaskan kemiskinan. Akan tetapi tetap saja kemiskinan tidak terkendali. Terakhir
pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) pada tahun 2007 dan 2008.
Kemiskinan jelas berdampak terhadap keluarga. Jika kehidupan emosional suami isteri tidak
dewasa, maka akan timbul pertengkaran. Sebab, isteri banyak menuntut hal-hal di luar makan
dan minum. Padahala penghasilan suami sebagai buruh lepas, hanya dapat member makan
dan rumah petak tempat berlindung yang sewanya terjangkau. Akan tetapi yang namanya
manusia sering bernafsu contohnya ingin memiliki televisi, radio dan sebagainya
sebagaimana layaknya sebuah keluarga yang normal. Karena suami tidak sanggup memenuhi
tuntutan isteri dan anak-anaknya akan kebutuhan-kebutuhan yang disebutkan tadi, maka
timbullah pertengkaran suami isteri yang sering menjurus kearah perceraian. Suami yang
egois dan tidak dapat menahan emosinya lalu menceraikan isterinya. Akibatnya terjadilah
kehancuran sebuah keluarga sebagai dampak kekurangan ekonomi.
a. Faktor-faktor Penyebab dari problem perekonomian :
• Keadaan ekonomi keluarga yang lemah berpengaruh pada sandang, pangan, papan yang
baik.
• Penghasilan istri yang lebih besar.
• Gaya hidup yang berbeda.
b. Upaya mengatasi problem Perekonomian :

X
1. Terbuka
Hal pertama yang harus dilakukan untuk menghindari keuangan adalah bersikap terbuka.
Baik pasangan sama-sama mencari uang atau hanya salah satu saja yang menghasilkan uang,
seharusnya tak ada yang disembunyikan masalah pengeluaran. Selalu diskusikan semua
keputusan yang menyangkut keuangan, seperti pengeluaran, pemasukan, tabungan, dan
lainnya.
2. Tentukan tujuan jangka panjang
Dalam hal keuangan, Anda juga harus cermat dan bijak dalam melihat masa depan. Tentukan
beberapa hal di masa depan yang membutuhkan banyak uang. Misalkan biaya pendidikan
anak, liburan, dan lainnya. Ini akan membantu Anda menyimpan uang dan tak kewalahan
ketika saatnya tiba.
3. Menabung
Anda tak harus menabung banyak di bank, namun sediakan tabungan kecil di rumah yang
bisa Anda isi setiap minggu. Mungkin terdengar remeh, namun uang yang terkumpul bisa jadi
sangat berguna saat dibutuhkan.
4. Sisihkan ‘uang senang-senang’
Sisakan sedikit uang untuk hiburan atau bersenang. Jangan banyak-banyak agar tidak terlalu
boros. Anda bisa menggunakan uang tersebut untuk makan malam bersama, nonton film, atau
membeli sesuatu untuk keluarga. Anggap saja uang ini adalah sebuah reward atas kerja keras
Anda dan pasangan.
5. Bekerjasama untuk mengatur keuangan
Pastikan Anda dan pasangan saling bekerjasama untuk mengatur keuangan. Jangan terlalu
mendominasi atau malah pasif jika berkaitan dengan pengeluaran atau pengaturan keuangan.
Mungkin awalnya akan canggung, namun jika dibiasakan Anda akan mendapatkan manfaat
mengatur keuangan sebagai tim bersama pasangan.
6. Memiliki usaha sampingan
Mungkin dengan isteri bekerja membuka toko sembako ,maka sedikit demi sedikit keluarga
tersebut tidak kekurangan kebutuhan ekonomi karena saling membantu antara suami dan
isteri.
2. Masalah Kesehatan
Kesehatan sangatlah penting bagi diri kita karena jika diantara anggota keluarga kita sering
sakit-sakitan maka pengeluaran untuk dokter, obat-obatan dan rumah sakit akan bertambah.
Apalagi jika salah satu anggota keluarga terjangkit penyakit menular itu akan membutuhkan
pengeluaran yang lebih banyak lagi. Masalah gizi buruk menghantui banyak keluarga miskin
di Indonesia dan Kurang kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin menambah parahnya
masalah kesehatan keluarga . Contohnya dalam sebuah keluarga ada yang mudah sakit karena
mungkin kekurangan gizi yang tidak baik.

a. Faktor-faktor penyebab dari problem kesehatan adalah :

X
 Biaya kesehatan semakin mahal tidak sebanding dengan pendapatan per capita
 Beragam penyakit semakin bermunculan bersamaan dengan makin majunya ilmu
kedokteran
b. Upaya Mengatasi problem kesehatan :
 Memelihara kebersihan dan kesehatan pribadi dengan baik
Ajarkan anak hidup sehat dimulai dari “diri sendiri”. Dapat dikatakan bahwa kesehatan yang
kita miliki adalah karena “upaya” kita sendiri.
 Makan makanan sehat
Makan merupakan kebutuhan penting, tidak saja bagi penyediaan energi untuk tubuh,
tetapi juga merupakan kebutuhan penting untuk kesehatan dan kelangsungan hidup.
 Memelihara Kesehatan Lingkungan
Hidup sehat memerlukan situasi, kondisi, dan lingkungan yang sehat. karena itu, kondisi
lingkungan perlu benar-benar diperhatikan agar tidak merusak kesehatan. Kesehatan
lingkungan harus dipelihara agar mendukung kesehatan keluarga dan setiap orang yang hidup
di sekitarnya. Memelihara berarti menjaga kebersihannya. Lingkungan kotor dapat menjadi
sumber penyakit.
3. Masalah Seksual
Hubungan seksual yang tidak harmonis menjadi salah satu pemicu konflik dalam kehidupan
rumah tangga, Banyak pasangan tidak menyadari pentingnya hubungan seksual ini. Bahkan
banyak diantara pasangan menjalani hubungan seksual sebagai hal rutinitas semata. Sekedar
menjalankan kewajiban, tidak ada nuansa keindahan di dalamnya. Sering kita baca di surat
kabar bahwa suatu masalah yang rumit untuk di kaji adalah masalah perselingkuhan yang di
lakukan oleh suami atau isteri karena masalah seksual.
a. Faktor-faktor penyebab problem seksual adalah :
 Kurang puas terhadap pelayanan dari pasangan.
 Hubungan seks tidak dapat dikendalikan mengakibatkan pertambahan anggota keluarga.
b. Upaya mengatasi problem seksual :
1. Komunikasi, Hilangkan rasa sungkan dan malu. Bicarakan semua masalah seks yang Anda
rasakan bersama pasangan, biar pasangan tahu problem seks yang sedang Anda alami.
2. Menahan emosi seks. Salah satu penyebab ejakulasi dini adalah tidak bisa menahan emosi
seks ketika bersetubuh. Kebanyakan pria selalu ingin cepat ejakulasi.
3. Menghalangi semua permasalahan terbawa ke tempat tidur. Hindari berhubungan seks bila
amarah dan kejengkelan masih bersemayam di hati.
4. Luangkan waktu untuk berduaan dengan istri. Kesibukan seringkali menghalangi suami-
istri untuk bersama, hingga tidak bisa menikmati kehidupan secara pribadi.

X
5. Peliharalah kesehatan dengan mengatur pola makan dan tetap berolahraga. Selain itu
hindarilah minuman beralkohol secara berlebihan
4. Masalah Pendidikan
Masalah pendidikan sering merupakan penyebab terjadinya problem di dalam keluarga. Jika
pendidikan agak lumayan pada suami-isteri, maka wawasan tentang kehidupan keluarga
dapat dipahami oleh mereka. Sebaliknya pada suami-isteri yang pendidikannya rendah sering
tidak dapat memahami liku-liku keluarga. Akibatnya terjadi selalu pertengkaran yang
mungkin menjadi perceraian. Jika pendidikan agama ada atau lumayan, mungkin sekali
kelemahan dibidang pendidikan akan diatasi. Artinya suami-isteri akan dapat mngekang
nafsu masing-masing sehingga pertengkaran dapat dihindari. Mengapa demikian ? karena
agama islam mengajarkan agar orang bersabar dan shalat di dalam menghadapi gejolak hidup
rumah tangga.
a. Faktor-faktor penyebab problem pendidikan adalah :
 Pendidikan yang tidak seimbang antara suami dan istri.
 Berpengaruh pula segala keputusan yang akan diambil dalam keluarga.
 Pasangan yang sama-sama memiliki pendidikan yang rendah.
b. Upaya mengatasi problem pendidikan :
Untuk masalah pendidikan dalam keluarga memiliki arti yang sangat komplek, karena pada
dasarnya pendidikan di indonesia tergantung pda latar belakang masing-masing keluarga,
tetapi tinggal bagaimana masing2 keluarga menerapkanya diantaranya
 mengikuti wajib belajar 9th.
 memprogram dan merencanakan pendidikan dengan baik untuk keluarga.
 memberikan kebebasan memilih pendidikan yang akan ditempuh anggota
keluarga.
 menyiapkan dana atau tabungan pendidikan sedini mungkin untuk
merealisasikan pendidikan yang akan ditempuh.
 menyiapkan solusi jika mungkin pilihan pendidikan yang kita inginkan tidak
tercapai.
5. Masalah Pekerjaan
Peluang kerja semakin terbatas tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Persaingan
dalam dunia kerja dan dunia usaha juga semakin tajam menambah makin beratnya beban
keluarga adakalanya pasangan suami-isteri terpaksa bekerja serabutan atau bekerja di luar
kompetensinya demi memperoleh penghasilan, Persoalan pekerjaan di kantor sering berimbas
pada rumah tangga. Kesibukannya terfokus pada pekerjaan pencarian materi yaitu harta dan
uang.Makna kesuksesan hidup tidaklah semata-mata berorientasi materi.
a. Faktor-faktor penyebab problem pekerjaan adalah :
 Orang tua sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan nya.
 Tidak punya pekerjaan atau baru di PHK.

X
 Upaya mengatasi problem pekerjaan :
 Adanya komunikasi dan interaksi hubungan yang baik antar keluarga masalah
pekerjaan agar salah satu di antara suami atau isteri dapat mengerti dan memahami
beban pekerjaan masing-masing yang sedang di jalankan sehingga tidak ada kesalah
pahaman.
 Sebelum kita memutuskan untuk menikahi pasangan kita,pasti kita sudah
melihat dari segi pekerjaan, jadi saat kita sudah memutuskan untuk menikah pun
berarti kita sudah menerima pekerjaan pasangan dan berjalan bersama memelihara
dan mencintai pekerjaan pasangan kita.

6. Masalah Agama
Agama sangat penting peranannya dalam membangun keluarga bahagia. Termasuk dalam hal
menentukan arah keluarga, pernikahan yang di bangun atas dasar kesamaan agama terkadang
sering bermasalah apa lagi dengan pernikahan yang beda agama pasti mempunyai masalah.
Dari perbedaan agama inilah muncul permasalahan dalam sebuah rumah tangga.
a. Faktor-faktor penyebab problem agama adalah :
 Perbedaan agama antara suami dan isteri.
 Jauh dari agama hanya mementingkan materi dan duniawi semata maka tinggal menunggu
kehancuran keluarga tersebut saja.
b. Upaya mengatasi problem agama :
 Luangkan waktu untuk selalu berintropeksi diri.
 Lebih memahami agama masing-masing pasangan sehingga tidak muncul
permasalahan diantara pasangan.
 Berusaha selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta.

X
7. Masalah Komunikasi
Masalah komunikasi merupakan masalah fundamental yang menentukan kebahagiaan
keluarga, kesenjangan komunikasi sering memicu timbulnya permasalahan lain yang lebih
kompleks dan perlu disadari bahwa apapun permasalahan dalam keluarga (suami-isteri dan
anak) solusinya melalui proses komunikasi yang baik. Komunikasi interpersonal yang
dilandasi sikap keterbukaan, pemahaman, penerimaan membuka peluang sukses bagi
pemecahan masalah keluarga. Setiap anggota keluarga harus menyadari setiap kata dan
tindakannya betapa berpengaruh pada orang lain. Semuanya perlu belajar berkomunikasi
yang baik demi keutuhan keluarga. Contohnya seperti diantara salah satu orangtua mereka
pulang hampir malam, karena jalan macet. Badan capek, sampai dirumah mata sudah
mengantuk dan tertidur. Tentu orangtua tidak punya kesempatan untuk berdiskusi atau
berkomunikasi dengan suami atau istri dan anak-anaknya.

a. Faktor-faktor penyebab problem komunikasi :


 Anak yang takut kepada orang tua.
 Orang tua sering cekcok.
 Kakak adik tidak cocok.
 Orang tua tidak adil.
 Tidak cocok antara mertua dan menantu.
 Masalah dengan para tetangga.
b. Upaya mengatasi problem komunikasi :
1. Luangkan waktu untuk mendengarkan.
2. Berusaha untuk komunikasi intens dengan anggota keluarga yang lain.
3. Buat tradisi keluarga.
4. Pergi berlibur bersama.

X
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Kita harus ingat bahwa pernikahan adalah satu-satunya permainan yang dapat dan harus
dimenangkan oleh kedua belah pihak. Selain itu, pernikahan juga dapat diibaratkan seperti
sebuah gunting, yang berpadu sehingga tak terpisahkan; sering bergerak ke arah yang
berlawanan, tetapi selalu memotong segala sesuatu yang hadir di antara mereka.
Di akhir tulisan ini saya akan mengutip pentingnya sebuah keluarga yang mampu mengelola
konflik bagi kehidupan bersama dari sudut pandang Kong Fut Tze yang menurut saya penting
untuk kita simak.
“Apabila ada harmoni di dalam rumah
Maka akan ada ketenangan di masyarakat
Apabila ada ketenangan di masyarakat
Maka ada ketentraman di dalam negara
Apabila ada ketenteraman di dalam negara
Maka akan ada kedamaian di dalam dunia.”
Problem yang ada dalam keluarga baik itu yang bersifat ringan atau berat selekasnya dapat
diselesaikan dalam keluarga tersebut .Sehingga keluarga yang masalahnya dapat diselesaikan
dengan segera akan terbebas dari tekanan jiwa dan hidup akan tenang tanpa adanya masalah
dalam keluarga .

X
BAB I
PENDAHULUAN
Kecenderungan kep.keluarga Di Indonesia

1.Latar Belakang
Keadaan masa depan sukar diramalkan, tetapi dipastikan bahwa IPTEK adalah sumber
penggerak utama kemajuan kehidupan masyarakat. Inovasi kian meningkat IPTEK akan
menghasilkan hal-hal baru dengan kemajuan yang sangat pesat. Pengaruh globalisasi
merubah wajah kehidupan masyarakat. Arus informasi dan komunikasi melintas batas negara
tanpa hambatan.
Situasi kesehatan saat ini sudah jauh berubah yaitu:
1.1.perubahan pola penyakit dari infeksi menjadi penyakit degeneratif, umur harapan hidup
meningkat (jumlah lansia meningkat)
1.2.krisis ekonomi menyebabkan daya beli turun (risiko kasus gizi buruk)
1.3.harga obat relatif tinggi, biaya perawatan di RS cukup mahal (cari pengobatan alternatif)
1.4.penyakit-penyakit yg masih menjadi masalah global seperti AIDS, SARS, TBC,Flu
Burung semakin meningkat.
Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan semakin meningkat dan mutu pelayanan
menjadi kunci utama. Pelayanan kesehatan tidak hanya diberikan di tempat institusi
pelayanan kesehatan saja, tetapi mobilitas pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan di
masyarakat. Keberhasilan ditentukan produktifitas dan efisiensi dalam pelayanan kesehatan
diperlukan sumber daya yang handal.
Era globalisasi : era dihalalkan persaingan bebas perdagangan dan tarip termasuk jasa
kesehatan. Di Indonesia sudah pendirian RS-RS asing, iklan rujukan. Sangat besar tantangan
yang harus dihadapi pelayanan keperawatan. Dibutuhkan perawat komunity yang berkualitas
dan professional.
Kasus narkoba semakin meningkat bahkan kecenderungan pemakai maikn muda usianya.
Arus global informasi mudah masuk tanpa terseleksi, seks bebas semakin meningkat.
Dampak naiknya harga-harga di masyarakat menyebabkan daya beli masyarakat semakin
turun kasus gizi buruk semakin meningkat.
2.Tujuan
2.1.Mengidentifikasi isu keperawatan keluarga di Indonesia
3.Manfaat
3.1.Meningkatkan pemahaman perawat pada isu keperawatan keluarga di Indonesia.

X
BAB II
PEMBAHASAN

1. Isu keperawatan keluarga diIndonesia


Pergeseran paradigma kesehatan dengan ditetapkannya visi “Indonesia Sehat 2010”
merupakan kebijakan pembangunan kesehatan yang lebih mengedepankan upaya promotif
dan preventif tanpa meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Ada 4 perspektif yang harus dilaksanakan :
1.1.Menyelenggarakan pelayanan prima, profesional, terjangkau semua lapisan masyarakat.
1.2.Meningkatkan kompetensi & motivasi SDM
1.3.Memuaskan pelanggan
1.4.Menghasilkan manfaat usaha
Strategi: konsolidasi & inovasi produk layanan yang marketable untuk meningkatkan
pelayanan Situasi tersebut memerlukan “Understanding our customer’s needs” : Social needs
: butuh komunikasi 2 arah, emotional needs : butuh sikap empathy & tetap “dimanusiakan”,
physical needs: butuh kesembuhan tuntas, ecurity needs : butuh pelayanan yang aman.
Memerlukan bentuk pelayanan “Community Health Care Nursing” yang berkualitas tinggi.
Masyarakat butuh pelayanan yang dekat & mampu mberikan pelayanan yang bermutu,
terjangkau & mampu melindungi masyarakat. Pelayanan tersebut berbentuk: (1)Community
Health Nursing: pelayanan di institusi dan pelayanan di kelompok, (2)Family Health Home
Care.
2.Konsep Home Health Care
Bentuk pelayanan prima kepada klien di rumah untuk mempertahankan atau
meningkatkan kesehatan fisik, mental & emosi pasca perawatan di rumah sakit (Allender,
1996). Konsep home health care secara umum merupakan pelayanan keperawatan yang
merupakan kelanjutan dari pelayanan kesehatan. Pelaksanaan home health care :
membutuhkan koordinasi antar profesi. Pelaksana home health care adalah perawat dengan
minimal pendidikan D III Keperawatan yang telah diregulasi. Bentuk pelayanan
:Melaksanakan askep yg meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan,
melaksanakan tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan. Dalam melaksanakan home
health care perawat berkewajiban :
 Menghormati hak pasien,
 Merujuk kasus yg tdk bisa ditangani,
 Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan UU,
 Memberikan informasi,
 Meminta persetujuan tindakan yang akan dikaukan,
 Melakukan pencatatan perawatan dengan baik.
Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan home health care: (a)Image
masyarakat tentang praktik keperawatan masih berorientasi pada pelayanan medis, (b)Praktik

X
keperawatan yang sesungguhnya belum tersosialisasi pada seluruh tenaga keperawatan,
(c)Peraturan tentang praktik keperawatan yaitu kepmenkes 1239 th 2001 lebih bersifat
administratif tidak menjamin kompetensi perawat dalam melakukan praktik keperawatan,
(d)Kebijakan PPNI & pemerintah untuk home health care dilaksanakan minimal oleh D III
Keperawatan dng sertifikat home health care oleh PPNI dng manajer kasus oleh Ners,
(e)Perangkat-perangkat pelaksana praktik belum optimal seperti Standar praktik keperawatan,
Standar kompetensi dan Kode etik profesi keperawatan & implementasinya.

BAB III
PENUTUP

1.Kesimpulan
Keadaan masa depan sukar diramalkan, tetapi dipastikan bahwa IPTEK adalah sumber
penggerak utama kemajuan kehidupan masyarakat. Inovasi kian meningkat IPTEK akan
menghasilkan hal-hal baru dengan kemajuan yang sangat pesat. Pengaruh globalisasi
merubah wajah kehidupan masyarakat. Arus informasi dan komunikasi melintas batas negara
tanpa hambatan.
Situasi kesehatan saat ini sudah jauh berubah yaitu:
3.2.perubahan pola penyakit dari infeksi menjadi penyakit degeneratif, umur harapan hidup
meningkat (jumlah lansia meningkat)
3.3.krisis ekonomi menyebabkan daya beli turun (risiko kasus gizi buruk)
3.4.harga obat relatif tinggi, biaya perawatan di RS cukup mahal (cari pengobatan alternatif)
3.5.penyakit-penyakit yg masih menjadi masalah global seperti AIDS, SARS, TBC,Flu
Burung semakin meningkat. Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan semakin
meningkat dan mutu pelayanan menjadi kunci utama. Pelayanan kesehatan tidak hanya
diberikan di tempat institusi pelayanan kesehatan saja, tetapi mobilitas pelayanan kesehatan
sangat dibutuhkan di masyarakat. Keberhasilan ditentukan produktifitas dan efisiensi dalam
pelayanan kesehatan diperlukan sumber daya yang handal. Era globalisasi : era dihalalkan
persaingan bebas perdagangan dan tarip termasuk jasa kesehatan. Di Indonesia sudah
pendirian RS-RS asing, iklan rujukan. Sangat besar tantangan yang harus dihadapi pelayanan
keperawatan. Dibutuhkan perawat komunity yang berkualitas dan professional. Kasus
narkoba semakin meningkat bahkan kecenderungan pemakai maikn muda usianya. Arus
global informasi mudah masuk tanpa terseleksi, seks bebas semakin meningkat. Dampak
naiknya harga-harga di masyarakat menyebabkan daya beli masyarakat semakin turun kasus
gizi buruk semakin meningkat

BAB I

X
PENDAHULUAN

MAKALAH PERAN DAN FUNGSI PERAWAT DI LINGKUNGAN


KELUARGA DAN MASYARAKAT

A. Latar Belakang

Saat ini dunia keperawatan semakin berkembang. Perawat dianggap sebagai salah
satu profesi kesehatan yang harus dilibatkan dalam pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan baik di dunia maupun di Indonesia.Seiring dengan berjalannya waktu dan
bertambahnya kebutuhan pelayanan kesehatan menuntut perawat saat ini memiliki
pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang. Saat ini perawat memiliki peran yang
lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga
memandang klien secara komprehensif. Perawat menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan
berbagai peran pemberi perawatan, pembuat keputusan klinik dan etika, pelindung dan
advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, komunikator dan pendidik.

Tujuan Makalah

1. Untuk mengetahui fungsi dan peran perawat di lingkungan keluarga.

2. Untuk mengetahui fungsi dan peran perawat di lingkungan masyarakat.

X
BAB II
PEMBAHASAN

1.Definisi

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap
seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial
baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang
diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21) Perawat
atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti merawat atau
memelihara. Harlley Cit ANA (2000) menjelaskan pengertian dasar seorang perawat yaitu
seseorang yang berperan dalam merawat atau memelihara, membantu dan melindungi
seseorang karena sakit, injury dan proses penuaan dan perawat Profesional adalah Perawat
yang bertanggung jawab dan berwewenang memberikan pelayanan Keparawatan secara
mandiri dan atau berkolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain sesuai dengan kewenanganya.
(Depkes RI,2002).Peran perawat yang dimaksud adalah cara untuk menyatakan aktifitas
perawat dalam praktik, dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan
diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menjalankan tugas dan tanggung keperawatan
secara professional sesuai dengan kode etik professional. Fungsi itu sendiri adalah suatu
pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan perannya. Fungsi dapat berubah disesuaikan dengan
keadaan yang ada. Perawat keluarga adalah perawat yang berperan membantu individu dan
keluarga untuk menghadapi penyakit dan disabilitas kronik dengan meluangkan sebgaian
waktu bekerja di rumah pasien d/an bersama keluarganya. Keperawatan keluarga dititik
beratkan pada kinerja perawat bersama dengan keluarga karena keluarga merupakan subyek.

X
2.PeranPerawat

Merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai dengan
kedudukan dan system, dimana dapat dipengaruhi oleh keadaan social baik dari profesi
perawat maupun dari luar profesi keperawatan yang bersifat konstan.

1. Pemberi Asuhan Keperawatan

Sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat membantu klien mendapatkan kembali


kesehatannya melalui proses penyembuhan. Perawat memfokuskan asuhan pada kebutuhan
kesehatan klien secara holistic, meliputi upaya untuk mengembalikan kesehatan emosi,
spiritual dan sosial. Pemberi asuhan memberikan bantuan kepada klien dan keluarga klien
dengan menggunakan energy dan waktu yang minimal. Selain itu, dalam perannya sebagai
pemberi asuhan keperawatan, perawat memberikan perawatan dengan memperhatikan
keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan
keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis
keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat dan sesuai dengan
tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya.
Pemberian asuhan keperawatannya dilakukan dari yang sederhana sampai yang kompleks.

2. Pembuat Keputusan Klinis

Membuat keputusan klinis adalah inti pada praktik keperawatan. Untuk memberikan
perawatan yang efektif, perawat menggunakan keahliannya berfikir kritis melalui proses
keperawatan. Sebelum mengambil tindakan keperawatan, baik dalam pengkajian kondisi
klien, pemberian perawatan, dan mengevaluasi hasil, perawat menyusun rencana tindakan
dengan menetapkan pendekatan terbaik bagi klien. Perawat membuat keputusan sendiri atau
berkolaborasi dengan klien dan keluarga. Dalam setiap situasi seperti ini, perawat bekerja
sama, dan berkonsultasi dengan pembe ri perawatan kesehatan professional lainnya (Keeling
dan Ramos,1995).

3. Pelindung dan Advokat Klien

Sebagai pelindung, perawat membantu mempertahankan lingkungan yang aman bagi


klien dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan serta melindungi klien
dari kemungkinan efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostic atau pengobatan.
Contoh dari peran perawat sebagai pelindung adalah memastikan bahwa klien tidak memiliki
alergi terhadap obat dan memberikan imunisasi melawat penyakit di komunitas. Sedangkan

X
peran perawat sebagai advokat, perawat melindungi hak klien sebagai manusia dan secara
hukum, serta membantu klien dalam menyatakan hak-haknya bila dibutuhkan. Contohnya,
perawat memberikan informasi tambahan bagi klien yang sedang berusaha untuk
memutuskan tindakan yang terbaik baginya. Selain itu, perawat juga melindungi hak-hak
klien melalui cara-cara yang umum dengan menolak aturan atau tindakan yang mungkin
membahayakan kesehatan klien atau menentang hak-hak klien. Peran ini juga dilakukan
perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpetasikan berbagai informasi
dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas
tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan
dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan
hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.

4. Manager Kasus

Dalam perannya sebagai manager kasus, perawat mengkoordinasi aktivitas anggota tim
kesehatan lainnya, misalnya ahli gizi dan ahli terapi fisik, ketika mengatur kelompok yang
memberikan perawatan pada klien. Berkembangnya model praktik memberikan perawat
kesempatan untuk membuat pilihan jalur karier yang ingin ditempuhnya. Dengan berbagai
tempat kerja, perawat dapat memilih antara peran sebagai manajer asuhan keperawatan atau
sebagai perawat asosiat yang melaksanakan keputusan manajer (Manthey, 1990). Sebagai
manajer, perawat mengkoordinasikan dan mendelegasikan tanggung jawab asuhan dan
mengawasi tenaga kesehatan lainnya.

5. Rehabilitator

Rehabilitasi adalah proses dimana individu kembali ke tingkat fungsi maksimal setelah
sakit, kecelakaan, atau kejadian yang menimbulkan ketidakberdayaan lainnya. Seringkali
klien mengalami gangguan fisik dan emosi yang mengubah kehidupan mereka. Disini,
perawat berperan sebagai rehabilitator dengan membantu klien beradaptasi semaksimal
mungkin dengan keadaan tersebut.

6. Pemberi Kenyamanan

Perawat klien sebagai seorang manusia, karena asuhan keperawatan harus ditujukan pada
manusia secara utuh bukan sekedar fisiknya saja, maka memberikan kenyamanan dan
dukungan emosi seringkali memberikan kekuatan bagi klien sebagai individu yang memiliki

X
perasaan dan kebutuhan yang unik. Dalam memberi kenyamanan, sebaiknya perawat
membantu klien untuk mencapai tujuan yang terapeutik bukan memenuhi ketergantungan
emosi dan fisiknya.

7. Komunikator

Keperawatan mencakup komunikasi dengan klien dan keluarga, antar sesame perawat dan
profesi kesehatan lainnya, sumber informasi dan komunitas. Dalam memberikan perawatan
yang efektif dan membuat keputusan dengan klien dan keluarga tidak mungkin dilakukan
tanpa komunikasi yang jelas. Kualitas komunikasi merupakan factor yang menentukan dalam
memenuhi kebutuhan individu, keluarga dan komunitas.

8. Penyuluh

Sebagai penyuluh, perawat menjelaskan kepada klien konsep dan data-data tentang
kesehatan, mendemonstrasikan prosedur seperti aktivitas perawatan diri, menilai apakah klien
memahami hal-hal yang dijelaskan dan mengevaluasi kemajuan dalam pembelajaran. Perawat
menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan klien serta
melibatkan sumber-sumber yang lain misalnya keluarga dalam pengajaran yang
direncanakannya.

9. Kolaborator

Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang
terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi
pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam
penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.

10. Edukator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahab
perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

11. Konsultan

X
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan
keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien tehadap
informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.

12. Pembaharu

Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerjasama,


perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan
keperawatan.

3. Fungsi Perawat

Definisi fungsi itu sendiri adalah suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan perannya.
Fungsi dapat berubah disesuaikan dengan keadaan yang ada. dalam menjalankan perannya,
perawat akan melaksanakan berbagai fungsi diantaranya:

1. Fungsi Independen

Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam
melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan
tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan
fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit,
pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan aktivitas dan lain-lain), pemenuhan
kebutuhan dan kenyamanan, pemenuhan kebutuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan
harga diri dan aktualisasi diri.

2. Fungsi Dependen

Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi
dari perawat lain. Sehingga sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Hal ini
biasanya silakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke
perawat pelaksana.

3. Fungsi Interdependen

Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara
satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan
kerja sama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan
pada penderita yang mempunyai penyakit kompleks. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan
tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya, seperti dokter dalam

X
memberikan tindakan pengobatan bekerjasama dengan perawat dalam pemantauan reaksi
onat yang telah diberikan.

Peranan perawat sangat menunjukkan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab untuk
memelihara dan mengelola asuhan keperawatan serta mengembangkan diri dalam
meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan keperawatan.

Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan termasuk didalamnya
peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan
melindungi hak-hak klien (Disparty, 1998 :140).

Hak-Hak Klien antara lain :

1. Hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya

2. Hak atas informasi tentang penyakitnya

3. Hak atas privacy

4. Hak untuk menentukan nasibnya sendiri

5. Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan.

Hak-Hak Tenaga Kesehatan antara lain :

1. Hak atas informasi yang benar

2. Hak untuk bekerja sesuai standart

3. Hak untuk mengakhiri hubungan dengan klien

4. Hak untuk menolak tindakan yang kurang cocok

4. Konsep Keperawatan Keluarga

X
Tujuan keperawatan keluarga dari WHO di europe yang merupakan praktek keperawatan
termodern saat ini adalah :

 Promoting and protecting people health. Merupakan perubahan pradigma dari


cure menjadi care melalui tindakan preventif.
 Mengurangi kejadian dan penderitaan akibat penyakit .
 Peran perawat keluarga menurut WHO Europe tahun 2000 adalah :
 Health educator (pemberi pendidikan kesehatan)
 Coordinator (Conector) mengatur perencanaan program-program atau
merancang intervensi yang akan dilaksanakan. Contoh merencanakan klien untuk
dirujuk ke tim medis lain.
 Provider / caregiver memberikan pelayanan kesehatan secara langsung.
 Health Promotion (home care & home visit)
 Consultant penasehat dan memberi saran jika diminta oleh klien
 Collaborator berkolaborasi dengan tim medis lain untuk tujuan kesembuhan
klien.
 Fasilitator contohnya memfasilitasi keluarga yang kurang mampu untuk
memperoleh jamkesmas.
 Case founder penemu kasus
 Enviromental modifier memodifikasi lingkungan baik berupa fisik, psikis,
maupun perilaku dan gaya hidup.

Selain itu peran perawat yang lain juga dapat memberikan saran tentang gaya hidup, perilaku
beresiko. dengan pengkajian dapat mendeteksi awal penyakit sehingga dapat memberikan
intervensi terhadap penanganan penyakit dini. Mengetahui faktor sosial ekonomi yang
mempengaruhi masalah kesehatan keluarga agar dapat memberikan intervensi yang tepat.
Perawat bertindak sebagai lynchpin yaitu terlibat bersama keluarga, tidak terbatas merawat,
tetap juga tahu masalah keluarga dan harus menempatkan diri sebagai anggota keluarga
sehingga dapat menghubungkan keluarga dengan tim kesehatan lain.

Empat intervensi utama perawat keluarga dititikberatkan kepada pencegahan.

 Primer proaktif mencegah stessor, mempermudah mendapatkan fasilitas


kesehatan. Contoh : memberi pendkes untuk mencegah penyakit, menciptakan
suasana harmonis di keluarga.
 Sekunder screening, vaksinasi, deteksi awal timbulnya penyakit.
 Tersier rehabilitasi untuk mencegah morbiditas lebih lanjut. Contohnya ROM
bagi penderita stroke.

X
 Direct care bekerja sama dengan keluarga yang merupakan sistem pendukung
utama untuk menyembuhkan.

Empat tingkatan keluarga

 Family as context
 Fokus pada kesehatan individu
 Keluarga sebagai background dari anggotanya
 Keluarga sebai support system atau stressor terberat bagi anggota
 Individu / anggota keluarga akan dikaji dan diintervensi
 Keluarga akan dilibatkan dalam berbagai kesempatan
 Family as client
 Fokus pada seluruh anggota keluarga
 Keluarga didefinisikan sebagai kelompoka atau keseluruhan dari
anggota keluarga
 Keluarga merupakan penjumlahan dari anggota-anggotanya
 Masalah kesehatan atau keperawatan yang sama dari masing-masing
anggota kan diintervensi bersamaan.
 Family as system
 Fokus masalah pada hubungan antara anggota keluarga
 Fokus pengkajian dan intervensi keperawatan adalah subsistem dalam
keluarga
 Anggota-anggota keluarga dipandang sebagai unit yang berinteraksi
 Fokus intervensi : mengenai hubungan ibu anak, hub perkawinan, dll

5. Peran Perawat Profesional dalam Membangun Citra Perawat Ideal di Mata Masyarakat

Menjadi seorang perawat merupakan suatu pilihan hidup bahkan merupakan suatu
cita-cita bagi sebagian orang. Namun, adapula orang yang menjadi perawat karena suatu
keterpaksaan atau kebetulan, bahkan menjadikan profesi perawat sebagai alternatif terakhir
dalam menentukan pilihan hidupnya. Terlepas dari semua itu, perawat merupakan suatu
profesi yang mulia. Seorang perawat mengabdikan dirinya untuk menjaga dan merawat klien
tanpa membeda-bedakan mereka dari segi apapun. Setiap tindakan dan intervensi yang tepat
yang dilakukan oleh seorang perawat, akan sangat berharga bagi nyawa orang lain. Seorang
perawat juga mengemban fungsi dan peran yang sangat penting dalam memberikan asuhan
keperawatan secara holistik kepada klien. Namun, sudahkah perawat di Indonesia melakukan
tugas mulianya tersebut dengan baik? Bagaimanakah citra perawat ideal di mata masyarakat?

Perkembangan dunia kesehatan yang semakin pesat kian membuka pengetahuan


masyarakat mengenai dunia kesehatan dan keperawatan. Hal ini ditandai dengan banyaknya

X
masyarakat yang mulai menyoroti kinerja tenaga-tenaga kesehatan dan mengkritisi berbagai
aspek yang terdapat dalam pelayanan kesehatan. Pengetahuan masyarakat yang semakin
meningkat, berpengaruh terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan
kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, citra seorang perawat kian
menjadi sorotan. Hal ini tentu saja merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam
mengembangkan profesionalisme selama memberikan pelayanan yang berkualitas agar citra
perawat senantiasa baik di mata masyarakat.

Menjadi seorang perawat ideal bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi untuk
membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Hal ini dikarenakan kebanyakan
masyarakat telah didekatkan dengan citra perawat yang identik dengan sombong, tidak
ramah, genit, tidak pintar seperti dokter dan sebagainya. Seperti itulah kira-kira citra perawat
di mata masyarakat yang banyak digambarkan di televisi melalui sinetron-sinetron tidak
mendidik. Untuk mengubah citra perawat seperti yang banyak digambarkan masyarakat
memang tidak mudah, tapi itu merupakan suatu keharusan bagi semua perawat, terutama
seorang perawat profesional. Seorang perawat profesional seharusnya dapat menjadi sosok
perawat ideal yang senantiasa menjadi role model bagi perawat vokasional dalam
memberikan asuhan keperawatan. Hal ini dikarenakan perawat profesional memiliki
pendidikan yang lebih tinggi sehingga ia lebih matang dari segi konsep, teori, dan aplikasi.
Namun, hal itu belum menjadi jaminan bagi perawat untuk dapat menjadi perawat yang ideal.

Perawat yang ideal adalah perawat yang baik. Begitulah kebanyakan orang menjawab
ketika ditanya mengenai bagaimana sosok perawat ideal di mata mereka. Mungkin
kedengarannya sangat sederhana. Namun, di balik semua itu, pernyataan tersebut memiliki
makna yang besar. Masyarakat ternyata sangat mengharapkan perawat dapat bersikap baik
dalam arti lembut, sabar, penyayang, ramah, sopan dan santun saat memberikan asuhan
keperawatan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang masih menemukan perilaku kurang
baik yang dilakukan oleh seorang perawat terhadap klien saat menjalankan tugasnya di rumah
sakit. Hal itu memang sangat disayangkan karena bisa membuat citra perawat menjadi tidak
baik di mata masyarakat. Ternyata memang hal-hal seperti itulah yang memunculkan jawaban
demikian dari masyarakat.

Untuk menjadi perawat ideal di mata masyarakat, diperlukan kompetensi yang baik
dalam hal menjalankan peran dan fungsi sebagai perawat. Seorang perawat profesional
haruslah mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Adapun peran perawat

X
diantaranya ialah pemberi perawatan, pemberi keputusan klinis, pelindung dan advokat klien,
manajer kasus, rehabilitator, pemberi kenyamanan, komunikator, penyuluh, dan peran karier.
Semua peran tersebut sangatlah berpengaruh dalam membangun citra perawat di masyarakat.
Namun, disini saya akan menekankan peran yang menurut saya paling penting dalam
membangun citra perawat ideal di mata masyarakat. Peran–peran tersebut diantaranya ialah
peran sebagai pemberi perawatan, peran sebagai pemberi kenyaman dan peran sebagai
komunikator.

Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan merupakan peran yang paling utama bagi
seorang perawat. Perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan dengan
baik dan terampil akan membangun citra keperawatan menjadi lebih baik di mata
masyarakat. Saat ini, perawat vokasional memang masih mendominasi praktik keperawatan
di rumah sakit maupun di tempat pelayanan kesehatan lainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa
perawat vokasional memiliki kemampuan aplikasi yang baik dalam melakukan praktik
keperawatan. Namun, perawat vokasional memiliki pengetahuan teoritis yang lebih terbatas
jika dibandingkan dengan perawat profesional. Dengan semakin banyaknya jumlah perawat
profesional saat ini, diharapkan dapat melengkapi kompetensi yang dimiliki oleh perawat
vokasional. Seorang perawat profesional harus memahami landasan teoritis dalam melakukan
praktik keperawatan. Landasan teoritis tersebut akan sangat berguna bagi perawat profesional
saat menjelaskan maksud dan tujuan dari asuhan keperawatan yang diberikan secara rasional
kepada klien. Hal ini tentu saja akan membawa dampak baik bagi terciptanya citra perawat
ideal di mata masyarakat yaitu perawat yang cerdas, terampil dan profesional.

Kenyamanan merupakan suatu perasaan subjektif dalam diri manusia. Masyarakat


yang menjadi klien dalam asuhan keperawatan akan memiliki kebutuhan yang relatif
terhadap rasa nyaman. Mereka mengharapkan perawat dapat memenuhi kebutuhan rasa
nyaman mereka. Oleh karena itu, peran perawat sebagai pemberi kenyamanan, merupakan
suatu peran yang cukup penting bagi terciptanya suatu citra keperawatan yang baik. Seorang
perawat profesional diharapkan mampu menciptakan kenyamanan bagi klien saat klien
menjalani perawatan. Perawat profesional juga seharusnya mampu mengidentifikasi
kebutuhan yang berbeda-beda dalam diri klien akan rasa nyaman. Kenyamanan yang tercipta
akan membantu klien dalam proses penyembuhan, sehingga proses penyembuhan akan lebih
cepat. Pemberian rasa nyaman yang diberikan perawat kepada klien dapat berupa sikap atau
perilaku yang ditunjukkan dengan sikap peduli, sikap ramah, sikap sopan, dan sikap empati
yang ditunjukkan perawat kepada klien pada saat memberikan asuhan keperawatan.

X
Memanggil klien dengan namanya merupakan salah satu bentuk interaksi yang dapat
menciptakan kenyamanan bagi klien dalam menjalani perawatan. Klien akan merasa nyaman
dan tidak merasa asing di rumah sakit. Perilaku itu juga dapat menciptakan citra perawat
yang ideal di mata klien itu sendiri karena klien mendapatkan rasa nyaman seperti apa yang
diharapkannya.

Peran perawat sebagai komunikator juga sangat berpengaruh terhadap citra perawat di
mata masyarakat. Masyarakat sangat mengharapkan perawat dapat menjadi komunikator
yang baik. Klien juga manusia yang membutuhkan interaksi pada saat ia menjalani asuhan
keperawatan. Interaksi verbal yang dilakukan dengan perawat sedikit banyak akan
berpengaruh terhadap peningkatan kesehatan klien. Keperawatan mencakup komunikasi
dengan klien dan keluarga, antar-sesama perawat dan profesi kesehatan lainnya, serta sumber
informasi dan komunitas. Kualitas komunikasi yang dimiliki oleh seorang perawat
merupakan faktor yang menentukan dalam memenuhi kebutuhan individu, keluarga, dan
komunitas. Sudah seharusnya seorang perawat profesional memiliki kualitas komunikasi
yang baik saat berhadapan dengan klien, keluarga maupun dengan siapa saja yang
membutuhkan informasi mengenai masalah keperawatan terkait kesehatan klien.

A. KECENDERUNGAN PERKEMBANGAN KELUARGA DI INDONESIA

I. BATASAN KELUARGA

 Burges (1963)
 Burges memberikan pandangan tentang definisi keluarga yang berorientasi
kepada tradisi, yaitu (Setiawati,2008 : 13) : Keluarga terdiri dari orang-orang yang
disatukan oleh ikatan Perkawinan, darah, dan ikatan adopsi.
 Anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah
tangga, atau jika mereka hidup secara terpisah mereka tetap menganggap rumah
tangga tersebut sebagai rumah mereka.
 Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalm peran-
peran sosial keluarga seperti halnya peran sebagai suami istri, ayah dan ibu, peran
sebagai anak laki-laki anak perempuan.
 Keluarga bersama-sama menggunakan kultur yang sama yaitu : kultur yang
diambil dari masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri. Sub Dit Kes. Mas Dep.
Kes RI (1983)

X
Keluarga merupakan satu kelompok atau sekumpulan manusia yang hidup bersama sebagai
satu kesatuan unit masyarakat yang terkecil dan biasanya tidak selalu ada hubungan darah,
ikatan Perkawinan, atau ikatan lain. Mereka hidup bersama dalam satu rumah, dibawah
asuhan seorang kepala keluarga dan makan dari satu periuk (Setiawati, 2008 : 13).

•Whall (1986)

Keluarga sebagai kelompok yang terdiri atas dua atau lebih individu yang dicirikan oleh
istilah khusus, yang mungkin saja memiliki atau tidak memiliki hubungan darah atau hukum
yang mencirikan orang tersebut ke dalam satu keluarga (Setiawati, 2008 : 13).

•Dep. Kes RI (1988)

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa
orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling
ketergantungan (Setiawati, 2008 : 13).

•Silvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya (1989)

Keluarga adalah dua atau lebih dari individu yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan Perkawinan, atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain di dalam peranannya masing-masing dan menciptakan serta
mempertahankan suatu kebudayaan (Setiawati, 2008 : 14)

•Friedman (1988)

Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang terikat dalam Perkawinan, ada
hubungan darah, atau adopsi dan tinggal dalam satu rumah (Setiawati, 2008 : 14).

•Stuart (ICN, 2001)

Lima hal penting yang ada pada definisi keluarga (Setiawati, 2008 : 14)

1. Keluarga adalah suatu sistem atau unit.

2. Komitmen dan keterikatan antar anggota keluarga yang meliputi kewajiban di masa yang
akan datang.

X
3. Fungsi keluarga dalam pemberian perawatan meliputi perlindungan, pemberian nutrisi, dan
sosialisasi untuk seluruh anggota keluarga.

4. Anggota-anggota keluarga mungkin memiliki hubungan dan tinggal bersama atau mungkin
juga tidak ada hubungan dan tinggal terpisah.

5.Keluarga mungkin memiliki anak atau mungkin juga tidak.

II. STRUKTUR KELURGA

Menurut Friedman struktur keluarga terdiri atas:

A. Pola dan proses komunikasi

Pola interaksi keluarga yang berfungsi:

oBersifat terbuka dan jujur

oSelalu menyelesaikan konflik keluarga

oBerpikiran positif

oTidak mengulang-ulang isu dan pendapat sendiri

B. Struktur peran

Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi social yang
diberikan.

C. Struktur kekuatan

X
Kekuatan merupakan kemampuan (potensial dan aktual) dari individu untuk mengendalikan
atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang lain kearah positif.

Ada beberapa macam tipe struktur kekuatan:

1) Legitimate power

2) Referent power

3) Reward power

4) Coercive power

5) Affective power

D.Nilai – nilai keluarga

Nilai merupakan suatu system, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak,
mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu
pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.

E.Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat berdasarkan system nilai
dalam keluarga.

F.Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dibagi, dan ditularkan
dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah.

III. BENTUK-BENTUK KELUARGA

Tipe/Bentuk Keluarga.

X
Keluarga merupakan salah satu bagian dari bidang garap dunia keperawatan, oleh karena itu
supaya perawat bisa memberikan asuhan keperawatan dengan tepat, perawat harus
memahami tipe keluarga yang ada.

A. Tradisional

 The Nuclear family (keluarga inti) : Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan
anak
 The dyad family : Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang
hidup bersama dalam satu rumah.
 Keluarga usila : Keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah tua
dengan anak yang sudah memisahkan diri.
 The childless family : Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan
untuk mendapatkan anak terlambat waktunya yang disebabkan karena mengejar
karier/pendidikan yang terjadi pada wanita.
 The extended family : Keluarga yang terdiri dari dari tiga generasi yang hidup
bersama dalam satu rumah, seperti nuclear family disertai: paman, tante, orang tua
(kakek-nenek), keponakan

 The single parent family : Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau
ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan
ditinggalkan (menyalahi hokum pernikahan)
 Commuter family : Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah
satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja di luar kota bisa
berkumpul pada anggota keluarga pad saat ”weekend”
 Multigenerational family : Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok
umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.
 Kin-network family : Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah
atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang
sama (contoh: dapur, kamar mandi, televisi, telepon,dll)
 Blended family : Duda atau janda (karena perceraian) yang menikah kembali
dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.
 The single adult living alone/single adult family : Keluarga yang terdiri dari
orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (perceraian atau
ditinggal mati)

B. Non-Tradisional

X
 The unmarried teenage mother : Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama
ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
 The stepparent family : Keluarga dengan orang tua tiri
 Commune family : Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak
ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas
yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas
kelompok/membesarkan anak bersama.
 The nonmarital heterosexsual cohabiting family : Keluarga yan ghidup
bersamaberganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan
 Gay and lesbian families : Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup
bersama sebagaimana ”marital pathners”
 Cohabitating couple : Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan
pernikahan karena beberapa alasan tertentu.
 Group-marriage family : Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat
rumah tangga bersama, yang saling merasa telah saling menikah satu dengan yang
lainnya, berbagi sesuatu termasuk sexsual dan membesarkan anak.
 Group network family : Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai,
hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah
tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung jawab membesarkan anaknya
 Foster family : Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan
keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut perlu
mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya.
 Homeless family : Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai
perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan
keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
 Gang : Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang
mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang
dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.

IV. FUNGSI KELUARGA

Fungsi keluarga menurut Fridmman (1986)

a. Fungsi afektif

Fugsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis
kekuatan krluarga.fungsi aktif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial.

b. Fungsi sosialisasi

c. Fungsi reproduksi

X
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia

d.Fungsi ekonomi

Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota
seperti memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

e. Fungsi perawatan kesehatan

Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu
untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang
sakit.

Fungsi keluarga nenurut Allender(1998)

a. Affection

1. Menciptakan suasana persaudaraan atau menjaga perasaan

2. Mengembangkan kehidupan sexual dan kebutuhan sexual.

b. Security and acceptance

1. Mempertahankan kebutuhan fisik

2. Menerima individu sebagai anggota keluarga

c. Identity and satisfaction

1. Mempertahankan motivasi

2. Mengembangkan peran dan self image

3. Mengidentifikasi tingkat social dan kepuasan aktifitas

d. Affiliation and companionship

X
1. Mengembangkan pola komunikasi

2. Mempertahankan hubungan yang harmonis

e. Socialization

1. Mengenal kultur (nilai dan prilaku)

2. Aturan atau pedoman hubungan internal dan eksternal

3. Melepas anggota

f. Controls

1. Mempertahankan control social

2. Adanya pembagian kerja

3. Penempatan dan menggunakan sumber daya yang ada

V. PERAN KELUARGA

a. Peran- peran formal

Peran- peran formal bersifat eksplisit yaitu setiap kandungan struktur peran kelurga.(5)

Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :

oPeranan Ayah

Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik,
pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok

X
sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat
dari lingkungannya.(4)

oPeranan Ibu

Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah
tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu
kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
(4)

oPeran Anak

Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik


fisik, mental, sosial, dan spiritual(4)

b. Peran- peran informal

Peran- peran informal bersifat implisit biasanya tidak tampak ke permukaan dan dimainkan
hanya untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan emosional individu dan atau untuk menjaga
keseimbangan dalam keluarga.misalnya: pendorong, penguat, pendamai, pengharmonis.

VI. TAHAPAN & TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA

a. Tahap I : Keluarga Pemula

Perkawinan dari sepasang insan menandai bermulanya sebuah keluarga baru –


keluarga yang menikah atau prokreasi dan perpindahan dari keluarga asal atau status lajang
ke hubungan baru yang intim. Tahap perkawinan atau pasangan menikah saat ini berlangsung
lebih lmbat. Misalnya, menurut data sensus Amerika Serikat tahun 1985, 75 persen pria dan
57 persen wanita Amerika Serikat masih belum menikah pada usia 21 tahun, ini merupakan
suatu pergeseran yang berarti dari 55 persen dan 36 persen masing-masing dalam tahun 1970.

Tahap Pertama Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan Dua Orang Tua, dan Tugas-Tugas
Perkembangan yang bersamaan.

X
b. Tahap II : Keluarga yang Sedang Mengasuh Anak

Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama sehingga bayi berusia 30 bulan.
Biasanya orangtua tergetar hatinya dengan kelahiran pertama anak mereka, tapi agak takut
juga. Kekuatiran terhadap bayi biasanya berkurang setelah beberapa hari, karena ibu dan bayi
tersebut mulai saling mengenal. Akan tetapi kegembiraan yang tidak dibuat-buat ini berakhir
ketika seorang ibu baru tiba di rumah dengan bayinya setelah tinggai di rumah sakit untuk
beberapa waktu. Ibu dan ayah tiba-tiba berselisih dengan semua peran-peran mengasyikkan
yang telah dipercayakan kepada mereka.

c. Tahap III : Keluarga dengan Anak Usia Prasekolah

Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2 ½
tahun dan berakhir ketika anak berusia 5 tahun. Sekarang, keluarga mungkin terdiri dari tiga
hingga lima orang, dengan posisi suami-ayah, istri-ibu, anak laki-laki-saudara, anak
perempuan-saudari. Keluarga lebih menjadi majemuk dan berbeda (Duvall dan Miller, 1985).

Kehidupan keluarga selama tahap ini penting dan menuntut bagi orangtua. Kedua orangtua
banyak menggunakan waktu mereka, karena kemungkinan besar ibu bekerja, baik bekerja
paruh waktu atau bekerja penuh. Namun, menyadari bahwa orangtua adalah “arsitek
keluarga”, merancang dan mengarahkan perkembangan keluarga (Satir, 1983), adalah penting
bagi mereka untuk memperkokoh kemitraan mereka secara singkat, agar perkawinan mereka
tetap hidup dan lestari.

Anak-anak usia prasekolah harus banyak belajar pada tahap ini, khususnya dalam hal
kemadirian. Mereka harus mencapai otonomi yang cukup dan mampu memenuhi kebutuhan
sendiri agar dapat menangani diri mereka sendiri tanpa campur tangan orangtua mereka
dimana saja. Pengalaman di kelompok bermain, taman kanak-kanak, Project Head Start,
pusat perawatan sehari, atau program-program sama lainnya merupakan cara yang baik untuk
membantu perkembangan semacam ini. Program-program prasekolah yang terstruktur sangat
bermanfaat dalam membantu orangtua dengan anak usia prasekolah yang berasal dari dalam

X
kota dan berpendapatan rendah. Peningkatan yang tajam dalam IQ dan keterampilan sosial
telah dilaporkan terjadi setelah anak menyelesaikan sekolah taman kanak-kanak selama 2
tahun (Kraft et al, 1968).

Banyak sekali keluarga dengan orangtua tunggal berada dalam tahap siklus kehidupan
ini. Dalam tahun 1984, 50 persen keluarga kulit hitam dan 15 persen keluarga kulit putih di
Amerika Serikat dipimpin oleh satu orangtua, dan 88 persen dari keluarga ini dikepalai oleh
ibu (Nortan and Glick, 1986). Di kalangan keluarga dengan orangtua tunggal, ketegangan
yang timbul dari peran mengasuh anak untuk anak usia prasekolah, ditambah lagi dengan
peran-peran lain adalah besar. Pusat-pusat perawatan sehari bagi bayi dan anak usia
prasekolah dengan kualitas yang layak dan baik sulit ditemukan jika ditempatkan
dikebanyakan kominitas.

d. Tahap IV : Keluarga dengan Anak Usia Sekolah

Tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6 tahun dan mulai masuk sekolah
dasar dan berakhir pada usia 13 tahun, awal dari masa remaja. Keluarga biasanya mencapai
jumlah anggota maksimum, dan hubungan keluarga di akhir tahap ini (Duvall, 1977). Lagi-
lagi tahun-tahun pada masa ini merupakan tahun-tahun yang sibuk. Kini, anak-anak
mempunyai keinginan dan kegiatan-kegiatan masing-masing, disamping kegiatan-kegiatan
wajib dari sekolah dan dalam hidup, serta kegiatan-kegiatan orangtua sendiri. Setiap orang
menjalani tugas-tugas perkembangannya sendiri-sendiri, sama seperti keluarga berupaya
memenuhi tugas-tugas perkembangannya sendiri (Tabel 7). Menurut Erikson (1950),
orangtua berjuang dengan tuntutan ganda yaitu berupaya mencari kepuasan dalam mengasuh
generasi berikutnya (tugas perkembangan generasivitas) dan memperhatikan perkembangan
mereka sendiri ; sementara anak-anak usia sekolah bekerja untuk mengembangkan sense of
industry – kapasitas untuk menikmati pekerjaan dan mencoba mengurangi atau menangkis
perasaan rendah diri.

e. Tahap V : Keluarga dengan Anak Remaja

Ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, tahap kelima dari siklus kehidupan
keluarga dimulai. Tahap ini berlangsung selama 6 hingga 7 tahun, meskipun tahap ini dapat
lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak masih

X
tinggal di rumah hingga 19 atau 20 tahun. Anak-anak lain dalam rumah biasanya masih
dalam usia sekolah. Tujuan keluarga yang terlalu enteng pada tahap ini yang melonggarkan
ikatan keluarga memungkinkan tanggungjawab dan kebebasan yang lebih besar bagi remaja
dalam persiapan menjadi dewasa muda (Duvall, 1977).

Preto (1988) dalam membahas tentang transformasi sistem keluarga dalam masa
remaja, menguraikan metamorfosis keluarga yang terjadi. Metamorfosis ini meliputi
“pergeseran yang luar biasa pada pola-pola hubungan antar generasi, dan sementara
pergeseran ini pada awalnya ditandai dengan kematangan fisik remaja, pergeseran ini
seringkali sejalan dan bertepatan dengan perubahan pada orangtua karena mereka memasuki
pertengahan hidup dan dengan transformasi utama yang dihadapi oleh kakek nenek dalam
usian tua”

Tantangan utama dalam bekerja dengan keluarga dengan anak remaja bergerak sekitar
perubahan perkembangan yang dialami oleh remaja dalam batasan perubahan kognitif,
pembentukan identitas, dan pertumbuhan biologis (Kidwell et al, 1983), serta konflik-konflik
dan krisis yang berdasarkan perkembangan. Adams (1971) menguraikan tiga aspek proses
perkembangan remaja yang menyita banyak perhatian, yakni emansipasi (otonomi yang
meningkat), budaya orang muda (perkembangan hubungan teman sebaya), kesenjangan antar
generasi (perbedaan nilai-nilai dan norma-norma antara orangtua dan remaja).

Tahap Siklus V Kehidupan Keluarga Inti dengan anak remaja danTugas-Tugas Perkembangan
Keluarga yang Bersamaan

f. Tahap VI : Keluarga yang Melepaskan Anak Usia Dewasa Muda

Permulaan dari fase kehidupan keluarga ini ditandai oleh anak pertama meninggalkan
rumah orangtua dengan “rumah kosong”, ketika anak-anak terakhir meninggalkan rumah.
Tahap ini dapat singkat atau agak panjang, tergantung pada berapa banyak anak yang ada
dalam rumah atau berapa banyak anak yang melum menikah yang masih tinggal di rumah
setelah tamat dari SMA dan perguruan tinggi. Meskipun tahap ini biasanya 6 atau 7 tahun,
dalam tahun-tahun belakangan ini, tahap ini berlangsung lebih lama dalam keluarga dengan
dua orangtua, mengingat anak-anak yang lebih tua baru meninggalkan orangtua setelah
selesai sekolah dan mulai bekerja. Motifnya adalah seringkali ekonomi-tingginya biaya hidup
bila hidup sendiri. Akan tetapi, trend yang meluas dikalangan dewasa muda, yang umumnya

X
menunda perkawinan, hidup terpisah dan mandiri dalam tatanan hidup mereka sendiri. Dari
sebuah survey besar yang dilakukan terhadap orang Kanada ditemukan bahwa anak-anak
yang berkembangan dalam keluarga dengan orangtua tiri dan keluarga dengan orangtua
tunggal meninggalkan rumah lebih dini dari pada mereka yang dibesarkan dalam keluarga
dengan dua orangtua. Perbedaan ini tidak dipandang karena dipengaruhi oleh faktor-faktor
ekonomi, melainkan karena perbedaan orangtua dan lingkungan keluarga (Mitchel et al,
1989).

Fase ini ditandai oleh tahun-tahun puncak persiapan dari dan oleh anak-anak untuk
kehidupan dewasa yang mandiri. Orangtua, karena mereka membiarkan anak mereka pergi,
melepaskan 20 tahun peran sebagai orangtuadan kembali pada pasangan perkawinan mereka
yang asli. Tugas-tugas perkembangan menjadi penting karena keluarga tersebut berubah dari
sebuah rumah tangga dengan anak-anak ke sebuah rumah tangga yang hanya terdiri dari
sepasang suami dan isteri. Tujuan utama keluarga adalah reorganisasi keluarga menjadi
sebuah unit yang tetap berjalan sementara melepaskan anak-anak yang dewasa kedalam
kehidupan mereka sendiri (Duvall, 1977). Selama tahap ini pasangan tersebut mengambil
peran sebagai kakek nenek-perubahan lainnya dalam peran maupun dalam citra diri mereka.

Usia pertengahan awal, yang merupakan usia rata-rata di mana para orangtua
melepaskan anak mereka yang tertua ditandai sebagai masa kehidupan yang “terperangkap” ;
terperangkap antara tuntutan-tuntutan kaum muda dan harapan-harapan dari mereka yang
lebih tua dan terperangkap antara dunia kerja dan tuntutan yang bersaing dan keterlibatan
keluarga, dimana seringkali tampaknya tidak mungkin memenuhi tuntutan-tuntutan dari
kedua bidang tersebut. Akan tetapi studi-studi membuktikan bahwa mereka yang berusia
pertengahan mungkin merasa tertekan atau terjepit diantara kutub orangtua dan muda, paling
tidak bagi individu-individu golongan kelas menengah dan kelas atas, mereka senantiasa
dapat mengapresiasikan bagaimana mereka dan prestasi mereka : “Mereka senantiasa
mengetahui bahwa mereka adalah para pembuatan keputusan negara ; mereka yang
menggambarkan kualitas umum kehidupan dalam masyarakat ini. Masyarakat tergantung

X
kepada kepemimpinan dan produktifitas dari orang yang berasal dari golongan usia
pertengahan (Kerchoff, 1976).

Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga.

Sebagaimana keluarga membantu anak tertua dalam melepaskan diri, orangtua juga
membantu anak mereka yang lebih kecil agar mandiri. Dan ketiga anak laki-laki atau
perempuan yang “dilepas” menikah, tugas keluarga adalah memperluas siklus keluarga
dengan memasukkan anggota keluarga yang baru lewat perkawinan dan menerima nilai-nilai
dan gaya hidup dari pasangan itu sendiri (Tabel 9)

Tahap VI Siklus Kehidupan Keluarga Inti yang melepaskan anak usia dewasa muda dan
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang Bersamaan

g. Tahap VII : Orangtua Usia Pertengahan

Tahap ketujuh dari siklus kehidupan keluarga, tahap usia pertengahan bagi orangtua, dimulai
ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat pensiun atau kematian salah
satu pasangan. Tahap ini biasanya dimulai ketika orangtua memasuki usia 45-55 tahun dan
berakhir pada saat seorang pasangan pensiun, biasanya 16-18 tahun kemudian. Biasanya
pasangan suami istri dalam usia pertengahannya merupakan sebuah keluarga inti meskipun
masih berinteraksi dengan orangtua mereka yang lanjut usia dan anggota keluarga lain dari
keluarga asal mereka dan juga anggota keluarga dari hasil perkawinan keturunannya.
Pasangan postparental (pasangan yang anak-anaknya telah meninggalkan rumah) biasanya
tidak terisolasi lagi saat ini ; semakin banyak pasangan usia pertengahan hidup hingga

X
menghabiskan sebagian masa hidupnya dalam fase postparental, dengan hubungan ikatan
keluarga hingga empat generasi, yang merupakan hal yang biasa (Troll, 1971).

h. Tahap VIII : Keluarga dalam Masa Pensiun dan Lansia

Tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dengan salah satu atau kedua
pasangan memasuki masa pensiun, terus berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal,
dan berakhir dengan pasangan lain meninggal (Duvall dan Miller, 1985). Jumlah lansia-
berusia 65 tahun atau lebih di negara kami meningkat dengan pesat dalam dua dekade
terakhir ini, dua kali lipat dari sisa populasi. Pada tahun 1970, terdapat 19,9 juta orang
berusia 65 tahun, jumlah ini merupakan 9,8 persen dari seluruh populasi. Menjelang tahun
1990, menurut angka-angka sensus, populasi lansia berkembangan hingga angka 31,7 juta
(12,7 persen dari total populasi). Menjelang tahun 2020, 17,2 persen penduduk negara ini
berusia 65 tahun atau lebih (gambar 1). Informasi tentang usia populasi menyatakan
“penduduk yang lebih tua” populasi 85 tahun ke atas secara khusus tumbuh dengan cepat.
Populasi berumur di atas 85 tahun tumbuh hingga 2,2 juta jiwa pada tahun 1980.
Diproyeksikan pada tahun 2020 populasi ini akan berjumlah hingga 7,1 juta jiwa (2,7 persen
dari seluruh populasi). Akibat dari semakin majunya pencegahan penyakit dan perawatan
kesehatan, lebih banyak orang yang diharapkan dapat bertahan hidup hingga 10 dekade.
Karena bertambahnya populasi lansia, maka semakin mungkin orang-orang yang lebih tua
akan memiliki minimal 1 orangtua yang masih hidup (Biro Sensus Amerika, 1984)

X
Tahap VIII Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan keluarga dalam masa pensiun dan lansia,
dan Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang Bersamaan.

VII. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KELUARGA

1.Faktor fisik

Ross, Mirowsaky, dan Goldstein (1990) memberikan gambaran bahwa ada hubungan positif
antara perkawinan dengan kesehatan fisik. Contoh dari hubungan tersebut antara lain :
seorang suami sebelum menikah terlihat kurus maka beberapa bulan kemudian setelah
menikah akan terlihat lebih gemuk, beberapa alasan dikemukakan bahwa dengan menikah
suami ada yang memperhatikan dan pola makan lebih teratur begitu sebaliknya dengan istri
(Setiawati, 2008 : 21)

2. Faktor psikis

Terbentuknya keluarga akan menimbulkan dampak psikologis yang besar, perasaan nyaman
karena saling memperhatikan, saling memberikan penguatan atau dukungan. Suami akan
merasa tentram dan terarah setelah beristri, begitupun sebaliknya (Setiawati, 2008 : 22).

Berdasarkan riset ternyata tingkat kecemaasan istri lebih tinggi dibanding dengan suami, hal
ini dimungkinkan karena bertambahnya beban yang dialami istri setelah bersuami.

3. Faktor sosial

Status sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap fungsi kesehatan sebuah keluarga.
Dalam sebuah keluarga ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendapatan yang diterima
semakin baik taraf kehidupannya. Tingginya pendapatan yang diterima akan berdampak pada
pemahaman tentang pentingnya kesehatan, jenis pelayanan kesehatan yang dipilih, dan
bagaimana berespon terhadap masalah kesehatan yang ditemukan dalam keluarga (Setiawati,
2008 : 22).

Status sosial ekonomi yang rendah memaksa keluarga untuk memarginalkan fungsi kesehatan
keluarganya, dengan alasan keluarganya akan mendahulukan kebutuhan dasarnya.

4. Faktor budaya

X
Faktor budaya terdiri dari (Setiawati, 2008 : 22-23) :

 Keyakinan dan praktek kesehatan


 Nilai-nilai keluarga
 Peran dan pola komunikasi keluarga
 Koping keluarga

A. INTERAKSI KELUARGA DALAM RENTANG SEHAT SAKIT

Interaksi antara sehat/sakit dan keluarga.

Status sehat/sakit pada anggota keluarga dan keluarga saling mempengaruhi satu dengan yang
lainnya. Menurut Gilliss dkk. (1989) keluarga cenderung menjadi reaktor terhadap masalah
kesehatan dan menjadi faktor dalam menentukan masalah kesehatan anggota keluarga.

Menurut Suchulan (1965) dan Doberty dan Canphell (1988) yang disederhanakan oleh
Marilyn M. Friedman, ada 6 tahap interaksi antara sehat/sakit dan keluarga :

1. Tahap pencegahan sakit dan penurunan resiko

Keluarga dapat memainkan peran vital dalam upaya peningkatan kesehatan dan penurunan
resiko, misalnya mengubah gaya hidup dari kurang sehat ke arah lebih sehat (berhenti
merokok, latihan yang teratur, mengatur pola makan yang sehat), perawatan pra dan pasca-
partum, iunisasi, dan lain-lain.

2. Tahap gejala penyakit yang dialami oleh keluarga

Setelah gejala diketahui, diinterpretasikan keparahannya, penyebabnya, dan urgensinya,


beberapa masalah dapat ditentukan. Dalam berbagai studi Litman (1974) disimpulkan bahwa
keputusan tentang kesehatan keluarga dan tindakan penanggulanangannya banyak ditentukan

X
oleh ibu, yaitu 67%, sedangkan ayah hanya 15,7%. Tidak sedikit masalah kesehatan yang
ditemukan pada keluarga yang kacau/tertekan.

3. Tahap mencari perawatan

Apabila keluarga telah menyatakan anggota keluarganya sakit dan membutuhkan


pertolongan, setiap orang mulai mencari informasi tentang penyembuhan, kesehatan, dan
validasi profesional lainnya. Setelah informasi terkumpul keluarga melakukan perundingan
untuk mencari penyembuhan/perawatan di klinik, rumah sakit, di rumah, dan lain-lain.

4.Tahap kontak keluarga dengan institusi kesehatan

Setelah ada keputusan untuk mencari perawatan, dilakukan kontak dengan institusi kesehatan
baik profesional atau nonprofesional sesuai dengan tingkat kemampuan, misalnya kontak
langsung dengan peskesmas, rumah sakit, praktik dokter swasta, paranormal/dukun, dan lain-
lain.

5.Tahap respons sakit terhadap keluarga dan pasien

Setelah pasien menerima perawatan kesehatan dari praktisi, sudah tentu ia menyerahkan
beberapa hak istimewanya dan keputusannya kepada orang lain dan menerima peran baru
sebagai pasien ia harus mengikuti aturan atau nasehat dari tenaga profesional yang
merawatnya dengan harapan agar cepat sembuh. Oleh karena itu terjadi respons dari pihak
keluarga dan pasien terhadap perubahan tersebut.

6.Tahap adaptasi terhadap penyakit dan pemulihan

Adanya suatu penyakit yang serius dan kronis pada diri seorang anggota keluarga biasanya
memiliki pengaruh yang mendalam pada sistem keluarga, khususnya pada sektor perannya
dan pelaksana fungsi keluarga. Untuk mengatsi hal tersebut, pasien/ keluarga harus
mengadakan penyesuaian atau adaptasi. Besarnya daya adaptasi yang di perlukan dipengaruhi
oleh keseriusan penyakitnya dan sentralitas pasien dalam unit keluarga (Sursman & Salter
1963). Apabila keadaan serius (sangat tidak mampu/semakin buruk) atau pasien tersebut

X
orang penting dalam keluarga, pengaruh kondisinya pada keluarga semakin besar. (ALi
Zaidin, 2009)

B. KELUARGA SEBAGAI SISTEM

Keluarga sebagai suatu sistem adalah Klg sebuah kelompok kecil yang terdiri dari individu
yang mempunyai hub yang erat satu dng yang lain saling ketergantungan dan diorganisir
dalam satu unit tunggal dalam rangka mencapai tujuan keluarga yang sejahtera

C. KELUARGA SEBAGAI UNIT PELAYANAN YANG DIRAWAT

Alasan Keluarga sebagai Unit Pelayanan (Rust B Freeman, 1981)

1. Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lambaga yang

menyangkut kehidupan masyarakat.

2. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengambil atau


memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya

3.Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, dan apabila salah satu anggota
keluarga mempunyai masalah kesehatan akan berpengaruh terhadap anggota keluarga
lainnya

4. Dalam memelihara kesehatan anggota keluarga sebagai individu (pasien), keluarga tetap
berperan sebagai pengambilan keputusan dalam memelihara kesehatan para anggotanya

5. Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk berbagi upaya kesehatan
masyarakat Keluarga Sebagai Pasien.

X
Dalam melihat keluarga sebagai pasien ada beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan
oleh perawat, diantara, diantarany adalah :

1. Setiap keluarga mempunyai cara yang unik dalam menghadapi masalah kesehatan para
anggotanya.

2. Memperhatikan perbedaan dari tiap-tiap keluarga, dari berbagai segi :

a. Pola komunikasi

b. Pengambilan keputusan

Siklus Penyakit dan Kemiskinan dalam Keluarga

Dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap keluarga, lebih ditekankan kepada


keluarga-keluarga dengan keadaan social perekonomian yang rendah. Keadaan social
ekonomi yang rendah pada umumnya berkaitan berkaitan erat dengan beebagai masalah
kesehatan yang meraka hadapi disebabkan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan dalam
menagatasi masalah yang meraka hadapi.

D. KRITERIA KESEJAHTERAAN KELUARGA DI INDONESIA

Kriteria dan tahapan kesejahteraan keluarga di Indonesia adalah sebagai berikut (Setiawati,
2008 : 26-27) :

1.Keluarga prasejahtera

Keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal, seperti
kebutuhan akan pengajaran, agama, sandang, pangan, dan kesehatan. Keluarga prasejahtera
belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator keluarga sejahtera harapan.

2.Keluarga sejahtera tahap I.

Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi
belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologis seperti kebutuhan akan
pendidikan, keluarga berencana, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan
tempat tinggal dan transportasi.

X
3.Keluarga sejahtera tahap II

Keluarga-keluarga yang disamping dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah


dapatmemenuhi seluruh kebutuhan sosial psikologisnya, akan tetapi belum dapat memenuhi
keseluruhan kebutuhan pengembangan seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh
informasi.

4.Keluarga sejahtera tahap III

Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial
psikologis dan kebutuhan pengembangan, namun belum dapat memberikan sumbangan yang
maksimal terhadap masyarakat, seperti secara teratur memberikan sumbangan dalam bentuk
materi dan keuangan untuk kepentingan sosial kemasyarakatan serta peran serta secara aktif.

5. Keluarga sejahtera tahap IV

Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan baik yang bersifat dasar,
sosial psikologis, maupun pengembangan serta telah dapat pula memberikan sumbangan
yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

X
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Keperawatan profesional mempunyai peran dan fungsi sebagai berikut yaitu : Melaksanakan
pelayanan keperawatan profesional dalam suatu sistem pelayanana kesehatan sesuai dengan
kebijakan umum pemerintah khususnya pelayanan atau asuhan keperawatan kepada individu,
keluarga, kelompok dan komunitas.

Dengan demikian peran dan fungsi perawat itu sangat penting untuk pelayanan kesehatan,
demi meningkatkan dan melaksanakan kualitas kesehatan yang lebih baik.

Keluarga merupakan bagian dari manusia yang setiapi hari selalu berhubungan dengan kita
.keadaan ini perlu kita sadari sepenuhnya bahwa setiap individu merupakan bagiannya dan di
keluarga juga semua dapat di ekspresikan tanpa hambatan yang berarti .

Saran

Dengan disusunnya makalah ini mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat
mengetahui dan memahami peran dan fungsi perawat.

X
DAFTAR PUSTAKA

Bailon,S.G. & Maglaya ,A. 1978.perawatan kesehatan keluarga :suatu pendekatan proses
(terjemahan ).jakarta : pusd Iknakes.
Gunarso,Y. singgihD.1988. psikologis untuk keluarga . Jakarta:PT BPK Gunung mulia .
PPNI.2003.standar praktek keperawatan .
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. “Visi Pembangunan Kesehatan: Indonesia Sehat
2010.” http://www.depkes.go.id/indonesiasehat.html (16 Feb. 2008)
http://firwanintianur93.blogspot.com/2012/09/makalah-peran-dan-fungsi-perawat-di.html