You are on page 1of 27

USUL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

PELATIHAN SENAM KAKI PADA PENYANDANG


DIABETES MELLITUS DALAM UPAYA PENCEGAHAN
KOMPLIKASI DIABETES PADA KAKI
(DIABETES FOOT)
DESA BANYUMENENG

Disusun Oleh:
1. Ilham Wahyu Sasongko ( P07120214014 )
2. Luthfa Nadia ( P07120214018 )
3. Nissa Kurniasih ( P07120214023 )
4. Retnaning Tyas ( P07120214029 )
5. Tiara Annisa ( P07120214036 )

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
D-IV KEPERAWATAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini gaya hidup modern dengan pilihan menu makanan dan cara
hidup yang kurang sehat semakin menyebar ke seluruh lapisan masyarakat,
sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penyakit degeneratif
yaitu penyakit yang tidak menular akan tetapi dapat diturunkan. Salah satu
penyakit degeneratif yang memerlukan penanganan secara tepat dan serius
adalah diabetes mellitus (DM).
Menurut laporan dari beberapa tempat di Indonesia, angka kejadian
dan komplikasi DM cukup tersebar sehingga bisa dikatakan sebagai salah
satu masalah nasional yang harus mendapat perhatian lebih. Di desa
Banyumeneng, Gamping, Sleman, Yogyakarta terdapat 30 warganya
peyandang Diabetes Melitus. Sebagian besar Penyandang DM di Desa
Banyumeneng sudah datang berobat dan konsultasi ke Puskesmas.
Salah satu komplikasi penyakit diabetes melitus yang sering dijumpai
adalah kaki diabetik (diabetic foot), yang dapat bermanifestasikan sebagai
ulkus, infeksi dan gangren dan artropati Charcot (Reptuz, 2009; dikutip
Andarwanti, 2009). Ada dua tindakan dalam prinsip dasar pengelolaan
diabetic foot yaitu tindakan pencegahan dan tindakan rehabilitasi. Tindakan
rehabilitasi meliputi program terpadu yaitu evaluasi tukak, pengendalian
kondisi metabolik, debridemen luka, biakan kuman, antibiotika tepat guna,
tindakan bedah rehabilitatif dan rehabilitasi medik. Tindakan pencegahan
meliputi edukasi perawatan kaki, sepatu diabetes dan senam kaki (Yudhi,
2009).
Senam kaki merupakan latihan yang dilakukan bagi Penyandang DM
atau bukan Penyandang untuk mencegah terjadinya luka dan membantu
melancarkan peredaran darah bagian kaki (Soebagio, 2011). (Anggriyana &
Atikah, 2010). Perawat sebagai salah satu tim kesehatan, selain berperan
dalam memberikan edukasi kesehatan juga dapat berperan dalam
membimbing Penyandang DM untuk melakukan senam kaki sampai dengan
Penyandang dapat melakukan senam kaki secara mandiri (Anggriyana &
Atikah, 2010).
Gerakan-gerakan senam kaki ini dapat memperlancar peredaran darah
di kaki, memperbaiki sirkulasi darah, memperkuat otot kaki dan
mempermudah gerakansendi kaki. Dengan demikian diharapkan kaki
Penyandang diabetes dapat terawat baik dan dapat meningkatkan kualitas
hidup Penyandang diabetes (Anneahira, 2011).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan terhadap Penyandang DM di
Desa Banyumeneng didapatkan bahwa 30 orang dari 3449 warganya
merupakan Penyandang DM, sebagian besar Penyandang mengetahui bahwa
DM dapat menimbulkan komplikasi pada kaki, di Desa Banyumeneng juga
rutin untuk mengadakan posyandu Lansia tetapi yang rutin memeriksakan
kesehatan hanyalah lansia wanita saja. Di Desa Banyumeneng juga pernah
dilakukan penyuluhan tentang senam DM sebanyak satu kali tetapi belum
semua warganya yang antusias untuk mengikuti penyuluhan tersebut baik
Penyandang DM itu sendiri maupun warganya yang sehat. Dari data tersebut,
dapat diketahui bahwa Penyandang DM di Desa Banyumeneng belum
sepenuhnya pernah mendapatkan pendidikan kesehatan tentang manfaat
senam kaki pada Penyandang DM. dalam upaya pencegahan komplikasi
diabetes pada kaki (Diabetes Foot).

B. Perumusan Masalah
Berbagai upaya telah dilakukan dalam mencegah komplikasi pada
diabetes mellitus salah satunya dengan selalu berobat di puskesmas maupun
posyandu dan diet untuk Penyandang diabetes juga telah dilakukan. Selain
itu. sebagai anggota masyarakat yang Penyandang DM dapat melakukan
senam kaki untuk membantu memperlancar aliran darah pada kaki dan
mencegah komplikasi. Oleh karena itu masalah dalam pengabdian masyarakat
dapat dirumuskan sebagai berikut “Bagaimana peran educator dan pelatihan
senam kaki Diabetes Mellitus pada masyarakat Dusun Banyumeneng?”
C. Tujuan Kegiatan
a. Tujuan Umum
Melakukan pencegahan komplikasi Diabetes pada kaki.
b. Tujuan khusus
1) Memberdayakan masyarakat dalam kemampuan melakukan senam
kaki diabetes secara mandiri
2) Memberdayakan masyarakat dalam mencegah komplikasi melalui
senam kaki diabetes

D. Manfaat Kegiatan
Manfaat kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah:
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat melaksanakan dan menyelesaikan tugas pemberdayaan
masyarakat dengan menggunakan kreatifitas mahasiswa. Pengetahuan
dan wawasan mahasiswa tentang DM akan bertambah. Mahasiswa juga
mendapatkan pengalaman sehingga dapat mengoreksi kesalahan
sehingga tidak akan terulang lagi pada kegiatan selanjutnya. Mahasiswa
akan semakin terlatih untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat
sehingga masalah- masalah kesehatan dapat teratasi.
2. Bagi Masyarakat
Melakukan senam kaki DM merupakan suatu hal yang mudah dan
menyenangkan. Masyarakat juga bisa mengisi waktu luang dengan
senam kaki. Selain itu manfaat sangat besar bisa dirasakan masyarakat
dengan selalu melakukan senam kaki DM yaitu untuk memperlancar
peredaran darah terutama pada kaki dan mencegah komplikasi.

E. Khalayak Sasaran
Sasaran dilakukannya senam kaki pada kelompok masyarakat yang
beresiko terkena DM khususnya pada pasien DM dan umumnya pada semua
masyarakat Desa Banyumeneng terutama yang berpotensi mengalami
gangguan pada saat berjalan seperti adanya kesemutan pada kedua tungkai
sehingga dengan melakukan senam kaki dapat memperlancar peredaran darah
perifer sehingga terhindar dari luka.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes
Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan insulin, kerja insulin , atau
keduanya.
Diabetes melitus adalah gangguan kronis yang ditandai dengan
metabolisme karbohidrat dan lemak yang diakibatkan oleh kekurangan
insulin atau secara relatif kekurangan insulin (Soewondo,2006).
Diabetes tipe II (NIIDM) merupakan diabetes yang paling sering
ditemukan di Indonesia. Penyandang tipe ini biasanya ditemukan pada usia di
atas 40tahun disertai berat badan yang berlebih. Selain itu, diabetes tipe II ini
dipengaruhi oleh faktor genetik, keluarga, obesitas, diet tinggi lemak, dan
disertai kurang gerak badan. (Nabil,2009)
Diabetes melitus adalah penyakit menahunyang timbul pada seseorang
yang disebabkan karena adanya peningkatan gula darah atau glukosa darah
akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Kemenkes RI,2011).

B. Identifikasi Faktor Risiko DM


1. Umur
Berdasarkan pengolahan dan analisis data diketahui terdapat
hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian DM. Pendugaan
faktor risiko usia dengan DM didapatkan bahwa probabilitas untuk
terjadinya DM pada usia <45 tahun dan 45 tahun adalah lebih kurang 1
banding 6 dengan asumsi sekitar 84% kasus DM dapat dicegah dengan
memperhatikan faktor risiko umur. Hal ini sesuai dengan teori yang
mengatakan bahwa mereka dengan usia lebih dari 45 tahun adalah
kelompok usia yang berisiko menderita DM. Lebih lanjut dikatakan bahwa
DM merupakan penyakit yang terjadi akibat penurunan fungsi organ tubuh
(degeneratif) terutama gangguan organ pankreas dalam menghasilkan
hormon insulin, sehingga DM akan meningkat kasusnya sejalan dengan
pertambahan usia.
2. Riwayat Keluarga
Berdasarkan pengolahan dan analisis data diketahui terdapat
hubungan yang bermakna antara riwayat keluarga menderita DM dengan
kejadian DM. Dapat diketahui pula bahwa jumlah yang memiliki riwayat
keluarga menderita DM lebih banyak pada kelompok kasus. Pendugaan
faktor risiko riwayat keluarga dengan DM diperoleh probabilitas untuk
terjadinya DM pada orang dengan tidak ada riwayat keluarga menderita
DM dan ada riwayat keluarga adalah lebih kurang 1 banding 4 dengan
asumsi sekitar 73% kasus DM dapat dicegah dengan memperhatikan
faktor risiko adanya riwayat keluarga menderita DM. Salah satu kelompok
yang berisiko tinggi menderita DM jika ada salah satu yang mempunyai
keturunan baik pada orang tuanya atau kakeknya, saudaranya dan lain-lain
yang menderita DM. Faktor risiko keluarga lain adalah mereka yang
melahirkan anak di atas 4 kg (gestasional DM).
3. Pengetahuan
Berdasarkan pengolahan dan analisis data diketahui terdapat
hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang DM dengan
kejadian DM. Dapat diketahui bahwa jumlah yang memiliki pengetahuan
tidak baik lebih banyak pada kelompok kontrol.
Ketidaktahuan seseorang tentang sesuatu dalam hal ini tentang DM
tentunya akan meningkatkan risiko orang tersebut untuk menderita DM.
Pada kenyataannya hasil temuan menemukan bahwa pada kelompok kasus
lebih banyak yang berpengetahuan baik dari pada kelompok kontrol. Hal
ini disebabkan karena sebagian besar Penyandang DM (kelompok kasus)
sudah menderita DM selama bertahun-tahun, sehingga mereka mencari
sumber-sumber informasi tentang DM. Seseorang cenderung berusaha
mencari tahu atau mencari informasi setelah ia mengalami
gangguan/masalah atau berusaha mencari tahu apa permasalahan yang
sedang dihadapi dan bagaimana pemecahannya.
4. Pola Makan
Berdasarkan pengolahan dan analisis data diketahui tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian DM. Dapat
diketahui bahwa jumlah yang memiliki pola makan tidak sehat sedikit
lebih banyak pada kelompok kasus. Probabilitas untuk terjadinya DM pada
orang dengan pola makan tidak sehat dan pola makan sehat adalah lebih
kurang sama atau 1 banding 1. Selanjutnya dari nilai PAR diketahui
sekitar 6% kasus DM dapat dicegah dengan menghilangkan faktor risiko
adanya pola makan yang tidak sehat.
5. Pola Kepribadian
Berdasarkan pengolahan dan analisis data diketahui tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara pola kepribadian dengan kejadian DM.
Dapat diketahui pula bahwa jumlah yang memiliki kepribadian tipe A
lebih banyak pada kelompok kasus. Pendugaan faktor risiko pola
kepribadian responden diperoleh bahwa OR sebesar 50,4 yang artinya
probabilitas untuk terjadinya DM pada orang dengan tipe kepribadian A/B
dan B dan tipe kepribadian A adalah lebih kurang 1 banding 50 dimana
dari nilai PAR diperoleh sekitar 98% (kasus DM dapat dicegah dengan
menghilangkan faktor risiko adanya pola kepribadian tipe A). Hal ini
sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa orang dengan aktivitas fisik
yang kurang dan mengalami stress psikososial serta individu dengan gaya
hidup yang agresif, selalu berkompetisi (type A personality) atau biasa
juga disebut dengan sedentary person merupakan faktor risiko menderita
DM (pre-diabetic risk factor)

C. Penyebab
1) Diabetes Melitus tipe 1
Pada diabetes tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta
pankreas. Penyandang tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan
predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pankreas. Respon autoimun
dipacu oleh aktifitas limfosit,antibodi terhadap sel pulau langerhans dan
terhadap insulin itu sendiri (Misnadiarly,2006).
2) Diabetes Melits tipe 2
Pada diabetes tipe 2, jumlah insulin normal tetapi jumlah reseptor
insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang sehingga glukosa yang
masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah menjadi meningkat.
(Misnadiarly,2006).
3) Diabetes melitus Tipe Spesifik Lain
Penyebab bagi diabetes tipe ini merupakan defek spesifik pada sekresi
atau fungsi insulin, kelainan metabolik yang menyebabkan gangguan sekresi
insulin, kelainan mitokondria, dan keadaan-keadaan yang lainnya yang
menyebabkan IGT (Powers,2005).

D. Tanda dan gejala


Menurut Askandar (1998) seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes
Mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu:
1. Keluhan TRIAS: Banyak minum, Banyak kencing dan Penurunan berat
badan.
2. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl
3. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl

E. Klasifikasi DM
Menurut klasifikasi WHO, diabetes dibagi menjadi beberapa jenis :
1. Diabetes Melitus tipe 1, Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)
Menurut American Diabetic Association (ADA) TAHUN 2010
merupakan kondidi tidak terkontrolnya gula didalam tubuh karena
kerusakan sel β pankreas sehingga mengakibkan berkurangnya produksi
insulin sepenuhnya. Sementara itu, menurut Gustaviani, diabetes melitus
tipe 1 merupakan penyakit autoimun yang dipengaruhi secara genetik oleh
gejala-gejala yang pada akhirnya menuju proses perusakan imunologik sel-
sel yang memproduksi insulin secara bertahap (Rifka,2014)
DM tipe 1 disebut juga diabetes onset-anak (atau onset-remaja) dan
diabetes rentan-ketos (karena sering menimbulkan ketosis). Onset DM tipe
1 biasanya terjadi sebelum usia 25-30 tahun (tetapi tidak selalu demikian
karena orang dewasa dan lansia yang kurus juga mengalami diabetes tipe
ini). Sekresi insulin mengalami defisiensi (jumlahnya sangat rendah atau
tidak ada sama sekali). Dengan demikian, tanpa pengobatan dengan insulin
(pengawasan dilakukan melalui pemberian insulin bersamaan dengan
adaptasi diet), pasien biasanya akan mudah terjerumus ke dalam situasi
ketoasidosis diabetik.
Jalannya penyakit DM tipe 1 meliputi 5 tahap, yaitu :
 Penyandang diabetes memiliki kerentanan genetik terhadap penyakit
ini
 Keadaan lingkungan biasanya memulai proses terjadinya penyakit
pada individu dengan kerentanan genetik. Infeksi virus diyakini
sebagai satu mekanisme pemicu, tetapi agen non-infeksius bisa juga
terlibat.
 Rangakaian proses peradangan pankreas atau insulitis. Monosif atau
makrofag dan limfosit T teraktivasi mneginfiltrasi sel β pankreas.
 Perubahan atau transformasi sel β sehingga tidak lagi dikenal sebagai
“sel sendiri”, tetapi dilihat oleh sistem imun sebagai “sel asing”.
 Perkembangan respon imunitas. Hasil akhir berupa perusakan sel β
dan penampakan diab etes.
Gejala biasanya muncul secara mendadak, berat, dan perjalananya
sangat progresif, jika tidak diawasi, dapat berkembang menjadi
ketoasidosis dan koma. Ketika diagnosis ditegakkan, pasien biasanya
memilik berat badan yang rendah, hasil tes deteksi antibodi islet hanya
bernilai sekitar 50-80%, dan kadar gula darah puasa >140 mg/Dl
(Arisman, 2002).
2. Diabetes Melitus tipe 2,non- insulin dependent diabetes melitus (NIDDM)
Diabetes melitus tipe 2 merupakan kondisi saat gula darah dalam
tubuh tidak terkontrol akibat gangguan sensitivitas sel β pankreas untuk
menghasilkan hormon insulin yang berperan sebagai pengontrol kadar gula
dalam tubuh. Hasil laporan statistika International Diabetes Fedreration
(IDF) menyatakan bahwa terdapat 3,2 juta kasus kematian akibat DM tipe
2 setiap tahun. Selain kematian, komplikasi penyakit diabetes melitus tipe
2 dapat mengarah pada gangguan microvascular (retinopathy dan penyakit
saraf) serta macrovascular (stroke, tekanan darah tinggi, serta kelainan
ginjal, hati, dan jantung).
Patogeneses DM tipe 2 belum diketahui sepenuhnya, tetapi ada 3
faktor penting yang perlu diperhatikan sebagai penyebab terjadinya DM
tipe 2, yaitu :
 Faktor individu atau genetik etnis yang menyebabkan kerawanan pada
kejadian DM
 Kerusakan sel β pankreas
 Berkurangnya kerja hormon insulin di dalam jaringan (resistensi
insulin), termasuk otot skeletal, hati, dan jaringan adiposa.
 Diabetes tipe 2 bukan disebabkan kurangnya sekresi insulin,
tetapi ketidakmampuan sel-sel target insulin untuk merespon
hormon insulin secara normal sehingga gula darah tidak dapat
masuk ke dalam sel.
 Pada Penyandang DM tipe 2 terjadi sekresi hormon insulin dan
produksi glukosa darah yang berlebih
 Hal yang membedakan dengan DM tipe 1 adalah tidak terjadi
kerusakan sel β langer-haens secara autoimun.
Tanda atau gejala khas DM tipe 2 ini yaitu :
a. Poliuri (banyak kencing)
b. Polidipsi (banyak minum)
c. Poliphagi (banyak makan)
d. Penurunun berat badan
e. Kelelahan
f. Luka sulit sembuh
g. Pruritus (gatal-gatal)
h. Infeksi
i. Refraksi mata mudah berubah
j. Katarak
k. Gejala saraf
l. Gangguan serangan jantung (Rifka, 2014)
3. Diabetes Kehamilan (Gestational).
Diabetes kehamilan adalah gangguan toleransi glukosa berbagai
derajat yang ditemukan pertama kali pada saat hamil, tanpa membedakan
apakah Penyandang perlu terapi insulin atau tidak. Pada umumnya
Penyandang diabetes mellitus kehamilan, menunjukkan gangguan toleransi
glukosa yang relatif ringan, sehingga jarang memerlukan pertolongan
dokter (Asdie, 2000).
4. Diabetes Tipe lainnya.
Tipe-tipe diabetes lain dijumpai pada kondisi dan sindroma tertentu.
Tipe diabetes ini dapat timbul sebagai akibat kerusakan pancreas karena
radang, cidera atau adanya suatu keganasan. Kasus ini hanya mencakup 1-
10% dari seluruh kasus diabetes (Kalat, 2007 & WHO, 2003).

F. Komplikasi DM
Secara garis besar komplikasi diabetes mellitus diabagi menjadi 2 yaitu :
1. Akut :
a. HIPOGLIKEMI
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah
(glukosa) secara abnormal rendah. Dalam keadaan normal, tubuh
mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dL. Sementara
pada Penyandang diabetes, kadar gula darahnya tersebut berada pada
tingkat terlalu tinggi dan pada Penyandang hipoglikemia, kadar gula
darahnya berada ( antara < 50 mg/dL ) atau < 80 mg/dL dengan gejala
klinis
b. KETOASIDOSIS ( Diabetik Ketoasidosis )
Ketoasidosis Diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi-
kekacauan metabolic yang ditandai oleh trias Hiperglikemi ,asidosis
,dan ketosis ,terutama disebabkan oleh defisiensi insulin absolute atau
relative. KAD atau Hipoglikemia merupakan komplikasi acute dari
diabetes mellitus (DM) yang serius dan membutuhkan pengelolaan
gawat darurat
c. KOMA HIPEROSMOLAR NONKETOTIK
Suatu sindrom yang ditandai dengan hiperglikemia berat,
hiperosmolar, dehidrasi berat tanpa ketoasidosis, disertai penurunan
kesadaran
2. KRONIK :
a. RETINOPATI DIABETIK
Retinopati diabetik adalah kerusakan progresif pembuluh darah di
retina yang disebabkan oleh kadar gula darah tinggi (hiperglikemia).
Sebagai komplikasi umum dari diabetes mellitus, penyakit ini dapat
menyebabkan kebutaan dan gangguan penglihatan lainnya
b. PENYAKIT JANTUNG KORONER
Penyakit jantung koroner adalah suatu keadaan akibat terjadinya
penyempitan, penyumbatan atau kelainan pembuluh nadi koroner.
Penyempitan atau penyumbatan ini dapat menghentikan aliran darah
ke otot jantung yang sering ditandai dengan rasa nyeri.
c. NEUROPATI DIABETIK
NEUROPATI DIABETIK adalah suatu gangguan pada syaraf
perifer, otonom dan syaraf cranial yang ada hubunganya dengan
diabetes mellitus.Keadaan ini disebabkan oleh kerusakan
mikrovaskuler yang disebabkan oleh diabetes yang meliputi
pembuluh darah yang kecil-kecil yang memperdarahi syaraf(vasa
nervorum).
d. RENTAN INFEKSI
e. KAKI DIABETIK

G. Pencegahan DM
1. Pencegahan untuk Penyandang DM
a. Pencegahan Primer
Pencegahan penyakit diabetes melitus secara primer ini dilakukan dengan
tujuan untuk tahap awal pencegahan terjadinya diabetes. Salah satunya
selalu memperhatikan faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit
diabetes baik secara genetik ataupun karena faktor lingkungan.
Adapun cara pencegahan primer diantaranya :
 selalu menjaga pola makan sehari-hari
 selalu melakukan olahraga secara teratur
 tidur yang cukup,dan
 menghindari obat-obatan yang dapat menimbulkan penyakit diabetes.

Pencegahan untuk kelompok resiko DM


b. Cara pencegahan sekunder
Cara pencegahan sekunder ini bertujuan untuk menghambat persebaran
penyakit diabetes militus yang sudah ada dalam tubuh mengkoplikasi
penyakit yang lain. Dengan pencegahan sekunder ini banyak sekali hal yang
harus dilakukan salah satunya melakukan pendeteksi dini pada Penyandang
diabetes melitus.
Adapun untuk tahap pencegahan sekunder ini adalah sebagai berikut :
 Sering melakukan pengetesan kadar gula darah dalam tubuh
 Selalu menjaga berat badan supaya stabil, jika sudah memiliki berat
badan yang lebih maka usahakan untuk menurunkannya.
 Selalu melakukan olahraga secara teratur sesuai dengan kemampuan
fisik Anda
c. Cara pencegahan tersier
Jika sudah dalam tahap ini maka bisa dibilang penyakit diabetes
tersebut telah parah dan telanjur mengoplikasi penyakit yang lainnya, maka
dari itu yang harus dilakukan pencegahan tersier diantaranya sebagai berikut
 Mencegah dari resiko terkana gagal ginjal kronik yang menyerang
pembulu darah
 Mencegah terjadinya luka apapun yang dapat memperparah keadaan
fisik, karena jika sesorang yang memiliki penyakit diabetes jika
memiliki luka cenderung sangat sulit untuk disembuhkan
 Mencegah resiko terkena peyakit stroke.

H. Senam kaki DM
1) Pengertian senam kaki diabetes
Senam kaki diabetes adalah suatu kegiatan atau latihan yang dilakukan
oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan
membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki.
2) Manfaat senam kaki diabetes
Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan juga
memperkuat otot-otot kecil kaki serta mencegah terjadinya kelainan
bentuk kaki. Selain itu, senam kaki juga dapat meningkatkan kekuatan
pada otot paha, betis, dan juga mengatasi keterbatasan dalam pergerakan
sendi.
3) Tujuan dilakukannya senam diabetes
a. Memperbaiki sirkulasi darah
b. Memperkuat otot-otot kecil
c. Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki
d. Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha
e. Mengatasi keterbatasan gerak
4) Indikasi dan Kontra Indikasi senam diabetic
a. Indikasi
Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh Penyandang Diabetes
mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak
pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus sebagai tindakan
pencegahan dini.
b. Kontra Indikasi
- Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipnea atau
nyeri dada
- Orang yang depresi, khawatir atau cemas
5) Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki diabetes
1. Pasien duduk tegak di atas bangku dengan kaki menyentuh lantai

2. Dengan tumit yang diletakkan dilantai, jari-jari kedua belah kaki


diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar
ayam sebanyak 10 kali.

3. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai, angkat telapak kaki
ke atas. Kemudian sebaliknya pada kaki yang lainnya, jari-jari kaki
diletakkan di lantai dan tumit kaki diangkatkan ke atas. Gerakan ini
dilakukan secara bersamaan pada kaki kanan dan kiri bergantian dan
diulangi sebanyak 10 kali.
4. Tumit kaki diletakkan di lantai. Kemudian bagian ujung jari kaki
diangkat ke atas dan buat gerakan memutar pada pergelangan kaki
sebanyak 10 kali.

5. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Kemudian tumit diangkat dan buat


gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki
sebanyak 10 kali.

6. Kemudian angkat salah satu lutut kaki, dan luruskan. Lalu gerakan
jari-jari kaki kedepan kemudian turunkan kembali secara bergantian
kekiri dan ke kanan. Ulangi gerakan ini sebanyak 10 kali.
7. Selanjutnya luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat
kaki tersebut dan gerakkan ujung jari-jari kaki kearah wajah lalu
turunkan kembali kelantai.
8. Angkat kedua kaki lalu luruskan. Ulangi sama seperti pada langkah
ke-8, namun gunakan kedua kaki kanan dan kiri secara bersamaan.
Ulangi gerakan tersebut sebanyak 10 kali.
9. Angkat kedua kaki dan luruskan,pertahankan posisi tersebut.
Kemudian gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang.
10. Selanjutnya luruskan salah satu kaki dan angkat, lalu putar kaki pada
pergelangan kaki, lakukan gerakan seperti menulis di udara dengan
kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian.
11. Letakkan selembar koran dilantai. Kemudian bentuk kertas koran
tersebut menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. Lalu buka
kembali bola tersebut menjadi lembaran seperti semula menggunakan
kedua belah kaki. Gerakan ini dilakukan hanya sekali saja.
12. Kemudian robek koran menjadi 2 bagian, lalu pisahkan kedua bagian
koran tersebut.
13. Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua
kaki.
14. Kemudian pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan
kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang
utuh tadi.
15. Lalu bungkus semua sobekan-sobekan tadi dengan kedua kaki kanan
dan kiri menjadi bentuk bola.
BAB III
METODE PENGABDIAN MASYARAKAT

A. Solusi masyarakat untuk berperan aktif


a. Penyuluhan dilakukan dengan bertatap muka langsung dengan penyuluhan
terjadwal berkesinambungan pada kelompok diabetes
b. Bagi Penyandang DM yang terpaut jarak, penyuluhan dan senam kaki
diabetic dapat dilakukan dengan bergulir tempat ( dusun )
c. Bagi Penyandang DM yang terpaku kondisi fisik, penyuluhan dan senam
kaki diabetic dapat dilakukan dengan kunjungan ke rumah penyandang
DM.
d. Berdasarkan data yang didapat bahwa yang rutin memeriksakan diri ke
Posyandu Lansia adalah wanita dan kader Posyandu Lansia juga
didominasi kaum wanita pula. Oleh sebab itu, Posyandu Lansia akan
merekrut kader laki-laki sebagaimana alasan tersebut.
e. Pesan penyuluhan dapat disampaaikan melalui media yang dapat diterima
oleh indera pendengaran dan indera penglihatan. Misal : slide show power
point, video
f. Memberikan penjelasan tentang penyakit diabetes mellitus sampai dengan
dampak penyakit diabetes mellitus, supaya pasien rutin mengikuti
penyuluhan.
g. Memberikan dukungan/ nasihat yang positif dan menghindari kecemasan
h. Memberikan informasi secara bertahap
i. Dalam kegiatan dapat memberikan pengobatan sesederhana mungkin.

B. Metode Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Masyarakat


1. Resiko Diabetes Melitus
Pemeriksaan TTV

Pemeriksaan gula darah


Penyuluhan

Evaluasi (pemeriksaan gula darah )

2. Penyandang DM

Pemeriksaan TTV

Pemeriksaan sirkulasi darah


menggunakan tensimeter dan
vaskuler droppler

Pengukuran gula
darah

Penyuluhan dan senam


kaki diabetik

Metode pelaksanaan kegiatan pelatihan senam kaki terdiri dari beberapa


kegiatan, yaitu:
1) Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital sebelum melakukan tindakan,
cek status respiratori (dispnea atau nyeri dada), serta mengkaji status
emosi responden (suasana hati/mood, motivasi).
2) Mengukur sirkulasi darah sebelum melakukan senam kaki diabetes (pre
test) dengan menggunakan tensimeter dan vascular doppler di lengan dan
kaki hingga diperoleh tekanan sistolik lengan dan kaki. Lalu dihitung
berdasarkan rumus ABPI dan mencatat hasil pengukuran sirkulasi darah ke
dalam lembar observasi.
3) Penyuluhan
Memberikan penyuluhan tentang :
- Pengertian senam kaki
- Tujuan senam kaki
- Manfaat senam kaki
- Indikasi dan kontraindikasi senam kaki
- Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki
4) Pelatihan dan pelaksanaan senam kaki :
- Mengajarkan senam kaki sesuai dengan standar operasional prosedur.
- Senam kaki dilakukan dengan menggunakan alat berupa kursi untuk
tempat duduk responden dan Koran bekas
- Senam kaki dilaksanakan selama 30-45 menit,.
5) Mengukur kembali sirkulasi darah sesudah melakukan senam kaki (post
test) dengan menggunakan tensimeter dan vascular doppler di lengan dan
kaki hingga diperoleh tekanan sistolik lengan dan kaki. Lalu dihitung
berdasarkan rumus ABPI dan mencatat hasil pengukuran sirkulasi darah ke
dalam lembar observasi.

C. Rancangan Evaluasi
Dari kegiatan tersebut disusun rancangan evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk
mengetahui apakah kegiatan yang dilaksanakan sesuai dan dapat dicapai dengan
baik sesuai tujuan kegiatan.
1. Untuk mengukur aspek kognitif :
a. Penderita DM mengetahui tujuan dilakukannya senam kaki
b. Penderita DM mengetahui manfaat senam kaki
c. Penderita DM mengetahui indikasi dan kontraindikasi senam kaki
d. Penderita DM mengetahui cara melaksanakan senam kaki.

2. Untuk mengukur aspek afektif :


a. Penderita DM menyatakan senang mendapatkan pelatihan tentang senam
kaki
b. Penderita DM menyatakan mau dan tertarik untuk mempelajari senam
kaki.
c. Penderita DM menyatakan mau dan akan melaksanakan senam kaki 3 kali
dalam seminggu
d. Penderita DM menyadari pentingnya melaksanakan senam kaki untuk
mencegah komplikasi DM pada kaki.
3. Untuk mengukur aspek psikomotor/tindakan :
a. Penderita DM mampu berdiskusi perihal pelaksanaan senam kaki
b. Penderita DM antusias, perhatian dan aktif selama kegiatan pelatihan
senam kaki
c. Penderita DM mampu melakukan senam kaki secara mandiri

D. Jadwal Pelaksanaan
Kegiatan pengabdian masyarakat ini berlokasi di Dusun Gadingan Desa
Banyumeneng Kecamatan Godean Wilayah kerja Puskesmas Godean II.
Pelaksanaan kegiatan tersebut dilaksanakan selama 4 (empat) bulan yaitu
dari bulan Januari sampai dengan bulan April 2015, berdasarkan tabel
berikut :
Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan Tahun 2015 Tahun 2016
Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun
Penyusunan proposal X X
Pengurusan perizinan X
Pelaksanaan Kegiatan X X X X
Pemantauan X X X X
Laporan X X
LAMPIRAN
PLAN OF ACTION

ANGGARAN
NO. KEGIATAN HARI, TANGGAL, JAM SASARAN TEMPAT PJ KET
DANA

1. MMD I (Desa) Selasa 23 Desember 2015 Mahasiswa, Ketua RT, Balai Desa, Desa Ketua Panitia -
Kepala Dukuh Banyumeneng
Jam 10.00– selesai

2. MMD I (Dusun) Selasa,23 Desember 2015 Ketua RT dan Tokoh Rumah kepala dusun, Kepala dusun Rp. 200.000,-
masyarakat,warga dusun Banyumeneng
Jam 20.00 – selesai dusun Banyumeneng

3. Pengkajian Kamis-Jumat, 7-8 Januari Masyarakat Dusun Wilayah dusun RT 01 : Nissa


Komunitas 2016 Banyumeneng Banyumeneng
RT 02 : Ilham
Jam : 09.00-15.00 WIB
RT 03: Tiara

RTO4 : Luthfa

RT 05 : Retna

4. Tabulasi data Sabtu –Senin, 9-11 2016 - Kordus


jam 08.00-Selesai

5. MMD II Selasa 12 Januari 2016 Masyarakat Dusun Rumah Kepala Dusun Kepala dusun Rp.400.000,-
jam 20.00-Selesai Bayumeneng

6.. Pelaksanaan

a. Persiapan Rabu, 13 Januari 2016 Warga masing-masing Aula Kelurahan RT 01 : Nisa Rp.200.000,-
tempat dan RT
perlengkapan Jam 15.00-selesai WIB RT 02 : Ilham
RT 03: Tiara

RTO4 : Luthfa

RT 05 : Retna

b. Melaksanakan Kamis, 14 Januari 2016 Resiko penderita DM Aula Kelurahan Rp. 250.000
pemeriksaan Jam 08.00 – 12.00
TTV, dan tes
gula darah,

c. Melaksanakan
pemeriksaan Kamis, 14 Januari 2016 Penderita DM Aula Kelurahan Rp.150.000
sirkulasi darah Jam 08.00-12.00
menggunakan
tensimeter
dan vaskuler
droppler

Penderita DM Aula Kelurahan


d. Penyuluhan Kamis, 14 Januari 2016
senam kaki Jam 12.00 – 12.30
diabetik

8. Seminar Askep Senin, 18 Januari 2016 Mahasiswa Smt 3 -


Komunitas
9. Penyusunan hasil Senin, 18 Januari 2016 Anggota Kelompok Rumah Kader Kordus Rp.100.000,-
kegiatan

10. MMD III (dusun) Senin, 18 Januari 2016 Masyarakat Dusun Rumah kepala dusun, Kepala dusun Rp.200.000,-
Banyumeneng dusun Banyumeneng

11. MMD III (desa) Selasa, 19 Januari 2016 Mahasiswa, Ketua RT, Balai Desa, Desa Kepala dusun
Kepala Dukuh Donotirto
Daftar Pustaka

Dewi, Rifka Kumala. 2014. Diabetes Bukan Untuk Ditakuti. Jakarta : FMedia
Soegondo, Sidartawan. Dkk. 1995. Diabetes Melitus Pelaksanaan Terpadu.
Jakata : FKUI

Asdie, A.H. 2000. Patogenesis dan Terapi Diabetes Melitus Tipe 2.


Yogyakarta: Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

American Diabetes Association.2005. Diagnosis and Classification of


Diabetes Melitus. Diabetes Care.

Kemenkes RI. 2011. Petunjuk teknis : Pengukuran Faktor Risiko Diabetes


Melitus Edisi 3. Jakarta : Depkes RI

Misnadiarly. 2006. Diabetes Melitus Gangren,Ulcer, Infeksi, Mengenali


gejala, Menanggulangi, dan Mencegah Komplikasi. Jakarta: Pustaka Obor
Populer.

Nabil. 2009. Mengenal Diabetes. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Powers, A.C., 2005. Diabetes Melitus. In: Gibson, R.J., ed. The 16th Edition
Of Harrison’s Principles Of Internal Medicine. USA: The McGraw-Hill
Companies.

Tjokroprawiro, Askandar. 1991. Diabetes Melitus: Klasifikasi, Diagnosis, dan


dasar-dasar terapi. Jakarta : PT Gramedia

Soegondo, Sidartawan. 2009. Penatalaksanaan Diabates Melitus Terpadu.


Jakarta : Balai Penerbit FK UI
http://diabetesmelitus.org/perawatan-kaki-diabetes/
DiabetesMelitus.org
http://spirit.web.id/cara-pencegahan-penyakit-diabetes-melitus

http://penyakitdiabetesmelitus.net/?Pencegahan_Penyakit_Diabetes_Melitus