You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN

A Latar Belakang
Keluarga Berencana adalah suatu tindakan yang dibantu individu /
pasutri untuk mendapatkan objektif tertentu agar menghindari kehamilan /
kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval, diantaranya kehamilan dan
penentuan jumlah anak dalam keluarga sesuai dengan kemampuannya serta
situasi masyarakat dan negara. Sedangkan KB Kondom merupakan alat
kontrasepsi yang digunakan oleh pria. Untuk mencegah terjadinya kehamilan,
sedangkan kondom adalah selubung / sarung karet yang dapat terbuat dari
berbagai bahan diantaranya lateks / karet, plastik ( vinil ) atau bahan alami (
produksi hewani ) yang dipasang pada penis saat hubungan seksual, kondom
terbuat dari karet sintesis yang tipis berbentuk silinder dengan muuaranya
berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk
seperti putting susu.
Di zaman modern seperti ini, dapat dikatakan 40 – 75% wanita
mengatakan, tidak mudah menemukan alat kontrasepsi yang cocok dan 70 –
80% wanita mengatakan mengapa bukan pria yang menggunakan KB (Alat
Kontrasepsi) agar pria tahu bagaimana rasanya ber KB. Kurangnya
pengetahuan para wanita dan pria sebagai pasangan pasutri, tentang
Keluarga Berencana menyebabkan tingginya tingkat kelahiran dan kematian
di Indonesia.
Berdasarkan survey demografi dan kesehatan Indonesia melalui Data
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2008-2009 tingkat
pengetahuan kontrasepsi terdiri dari suntik 46,1%, Pil 21,9%, IUD 10,3%,
susuk (implant) 7,1%, Tubektomi 0,40%.
Dari beberapa hal diatas, dapat disimpulkan pengetahuan biaya dan
ketidaktahuan mengenai macam alat kontrasepsi menyebabkan pasangan
suami istri memiliki banyak anak, serta kurangnya partisipasi suami dalam
perannya menggunakan KB menjadi salah satu alasan masih tingginya AKI
dan AKB di Indonesia. Oleh karena itu saya berkeinginan, mengambil judul
Asuhan Kebidanan pada Tn. “S” usia 27 tahun, Akseptor KB Kondom.
B Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan secara
komprohensif pada ibu hamil dengan menggunakan manajemen kebidanan.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian pada akseptor KB kondom
b. Dapat menetapkan diagnosa dan masalah dari hasil pengkajian
c. Dapat menetapkan tindakan segera dan menetapkan diagnosa potensial
d. Dapat merencanakan asuhan kebidanan pada akseptor KB kondom
e. Dapat melaksanakan asuhan kebidanan yang telah disusun
f. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan
BAB II
LANDASAN TEORI

A Konsep Dasar Keluarga Berencana ( KB )


1. Definisi Keluarga Berencana
Keluarga Berencana adalah usaha untuk mencegah terjadinya kelahiran yang
berlebihan, agar tercipta keluarga yang bahagia sejahtera menurut NKKBS.
( Arif Mansjoer, 1998 )

Keluarga Berencana (KB) adalah upaya peningkatan kepedulian masyarakat


dalam mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.( Wiyono,
1997 )

Keluarga Berencana (Family planning, planned parenthood) adalah suatu


usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan
dengan memakai kontrasepsi dengan benar dan sesuai pemeriksaan
kontrasepsi yang dipilih. ( Rustam Mochtar, 1998 : 225 )

Keluarga Berencana (KB) adalah suatu tindakan yang membantu individu /


pasutri untuk mendapatkan objektif. Objektif tertentu untuk menghindari
kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga sesuai dengan kemampuannya
serta sesuai situasi masyarakat dan negara. ( WHO, Expert Committee, 1970
)

B Tujuan KB
1 Tujuan Demografis
Tujuan Demografis yaitu dapat dikendalikan tingkat pertumbuhan
penduduk sebagai patokan dalam usaha mencapai tujuan tersebut telah
ditetapkan suatu target demografis berupa penurunan angka fertilitas dari
44 permil pada tahun 1971 menjadi 20 per mil pada tahun 1990

2 Tujuan Normatif
Tujuan normatif yaitu dapat dihayati Norma keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera (NKKBS) yang pada waktunya akan menjadi falsafah hidup
masyarakat Indonesia. ( Rustam Mochtar, 1998 : 249)

C Sasaran KB
1 Sasaran Langsung
Sasaran langsung yaitu para pasangan usia subur (PUS) agar mereka
menjadi peserta Keluarga Berencana Lestari sehingga memberikan efek
langsung pada penurunan fertilitas.

2 Sasaran Tidak Langsung


Sasaran tidak langsung yaitu organisasi – organisasi dan lembaga –
lembaga kemasyarakatan. Instansi pemerintahan maupun swasta, tokoh –
tokoh masyarakat (wanita dan pemuda) yang diharapkan dapat memberikan
dukungan terhadap proses pembentukan sistem nilai di kalangan
masyarakat yang dapat mendukung usaha pelembagaan norma Keluarga
Kecil Yang Bahagia dan Sejahtera. ( Rustam Mochtar, 1998 : 249 – 250 )

D Konsep Dasar Kontrasepsi Hormonal dan Non Hormonal


1 Definisi Kontrasepsi
Kontrasepsi atau anti kontrasepsi ( Conception Control ) adalah cara untuk
mencegah terjadinya konsepsi, alat, obat – obatan. ( Rustam Mochtar, 1998
: 225 )
Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat
sementara ataupun menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa
menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan obat / alat atau dengan
operasi. ( Arif Mansjoer, 1999 : 348 )
Kontrasepsi ialah usaha – usaha untuk mencegah terjadinya
kehamilan. Usaha – usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat
permanen. Yang bersifat permanen dinamakan pada wanita tubektomi dan
pria vasektomi.( Hanifa Wiknjosastro, 2005 : 534 )

E Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Kontrasepsi


1 Faktor Pasangan ( Faktor Motivasi dan Rehabilitas ) Yaitu :
a Umur
b Gaya hidup
c Frekuensi senggama
d Jumlah keluarga yang diinginkan
e Pengalaman dengan kontrasepsi yang lalu
f Sikap kewanitaan
g Sikap Kepribadian

2 Faktor Kesehatan (Kontra Indikasi Absolut dan Relatif) Yaitu :


a Status kesehatan
b Riwayat haid
c Riwayat keluarga
d Pemeriksaan fisik
e Pemeriksaan panggul

F Syarat – Syarat Metode Kontrasepsi Yang Baik


Syarat – syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik
adalah :
a Aman dan tidak berbahaya
b Dapat diandalkan
c Sederhana
d Murah
e Dapat diterima orang banyak
f Pemakaian jangka panjang
( Hanafi Hartanto, 2004 : 56 )

G Kontrasepsi Hormonal
Merupakan kontrasepsi yang memakai obat – obatan yang mengandung
2 hormon yaitu estrogen dan progesteron / progestin, dimana estrogen sebagai
kontrasepsi bekerja dengan janin menghambat ovulasi melalui fungsi
hipotalomus, hipofisis, ovarium, menghambat perjalanan ovum atau implantasi.
Sedangkan progesteron bekerja dengan cara membuat lendir serviks lebih
kental, hingga penetrasi dan transportasi sperma menjadi sulit, menghambat
kapasitas sperma, perjalanan ovum dalam tuba, implantasi, dan menghambat
ovulasi melalui fungsi hipotalamus, hipofisis, ovarium. ( Rustam Mochtar, 1998 :
360 )

Macam – Macam Kontrasepsi Hormonal


1 Pil Kombinasi dan Minipil
Pil dibagi dalam 2 jenis, minipil yang mengandung progesteron, minipil
biasanya digunakan ibu – ibu menyusui karena progestin tidak menganggu
produksi ASI, sedangkan estrogen dalam pil dapat menghambat produksi
ASI.
2 Suntik
KB suntik dibagi 2 :
 KB suntik 1 bulan yang mengandung progesteron dan progestin yang
pada dasarnya akan menekan ovulasi membentuk lendir. Servik
menjadi mengental sehingga penetrasi sperma terganggu sangat
efektif (0,1 – 0,4 kehamilan per 100 perempuan).
 KB suntik 3 bulanan
3 Implan
Adalah alat kontrasepsi yang dipasang dilengan yang tidak / jarang
bekerja, sangat efektif 5 tahun untuk norplant, 3 tahun untuk jadena, indoplant
atau implanon. Nyaman digunakan, dapat digunakan pada wanita usia
reproduksi. Kesuburan dapta kembali setelah implant dicabut. Efek samping
utama merupakan pendarahan tidak teratur, perdarahan bercak dan
anamnesa dan pada dasarnya aman dipakai pada masa laktasi.

H Kontrasepsi Non Hormonal


A. AKDR
Merupakan kontrasepsi jangka panjang yang tidak mengandung hormon,
dapat bertahan sampai 10 tahun, pemakaian AKDR dimasukkan kedalam
rahim, melalui tindakan yang dilakukan di meja pemeriksaan
B. Senggama Terputus
Merupakan kontrasepsi yang efektif bila dilakukan secara benar. Kontrasepsi
ini sangat alamiah dengan cara menarik penis dari vagina sebelum terjadi
ejakulasi dengan demikian semen (air mani) sengaja dikeluarkan diluar liang
senggama untk mencegah terjadinya kehamilan. Namun metode ini sangat
membutuhkan kerja sama yang baik, antara pasangan suami, istri
C. Pantang Berkala
Merupakan kontrasepsi yang digunakan menggunakan metode kalender,
dengan perhitungan yang sudah ditentukan menggunakan rumus dan
merupakan berpantangan tidak bolah melakukan hubungan seksual beberapa
hari sebelum serta ditambah beberapa hari sesudah ovulasi :
 Awal masa subur, tanggal haid pertama ditambah 12
 Puncak masa subur ditambah 14
 Akhir masa subur ditambah 19

D. MAL (Metode Amenorea Laktasi)


Merupakan metode kontrasepsi yang digunakan setelah melahirkan ibu – ibu
yang menyusui secara ekslusif, sampai usia anak 6 bulan, apabila sebelum 6
bulan ibu sudah mendapat haid. Ibu harus menggunakan KB pembantu
dalam penggunaan MAL, karena tingkat kesuburan dilandasi dengan
keluarnya darah haid.

E. Kondom
Kondom merupakan selubung karet yang dapat terbuat dari berbahai bahan
diantaranya lateks (karet), plastik (vinil) atau bahan alami (reproduksi hewani)
yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. (Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kontrasepsi,

Kondom juga merupakan karet sintensis yang tipis, berbentuk silinder


dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau
mempunyai bentuk seperti putting susu. (Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kontrasepsi, Hal. 14)
 Profil
– Kondom tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga mencegah
IMS termasuk HIV / AIDS
– Efektif bila dipakai dengan baik dan benar
– Dapat dipakai bersama kontrasepsi lain untuk mencegah IMS
– Standar kondom dilihat dari kekebalan. Pada umumnya standar
kekebalan adalah 0,02 mm
– Tipe kondom terdiri dari :
o Kondom biasa
o Kondom berkontur (bergerigi)
o Kondom beraroma
o Kondom tidak beraroma
 Kondom wanita
Kondom untuk pria sudah sangat dikenal, namun kondom untuk wanita
walaupun sudah ada, belum popular dengan alasan ketidaknyamanan
(berisik).
 Cara Kerja
– Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur
dengan cara mengemas sperma diujung selubung karet yang
dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke
dalam saluran reproduksi perempuan.
– Mencegah penularan mikroorganisme ( IMS termasuk HBV dan HIV
/ AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain (khusus
kondom yang terbuat dari lateks dan vinil).
– Efektifitas
Kondom cukup efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali berhubungan
seksual. Pada beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif karena
tidak dipakai. Secara konsisten, secara alamiah didapatkan hanya sedikit
angka kegagalan kondom yaitu 2 – 12 kehamilan per 100 perempuan per
tahun.

 Manfaat
– Kontrasepsi
o Efektif bila digunakan dengan benar
o Tidak mengganggu produksi ASI
o Tidak mengganggu kesehatan klien
o Tidak mempunyai pengaruh sistemik
o Mudah dan dapat dibeli secara umum
o Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus
o Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya
harus ditunda

– Non Kontrasepsi
o Memberi dorongan kepada suami untuk ikut ber KB
o Dapat mencegah penularan virus
o Mencegah ejakulasi dini
o Membantu mencegah terjadinya kanker serviks
o Saling berinteraksi sesame pasangan
o Mencegah imuno infertilitas

 Keterbatasan
– Efektivitas tidak terlalu tinggi
– Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
– Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan
langsung)
– Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk
mempertahankan ereksi
– Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
– Beberapa klien mau membeli kondom di tempat umum
– Pembuangan kondom bekas, menimbulkan masalah dalam hal
limbah
 Penilaian Pasien
Klien tidak perlu keterangan khusus. Pemeriksaan yang menyeluruh,
hanya saja klien perlu penjelasan yang baik lisan ataupun instruksi
tertulis. Kondisi yang perlu dipertimbangkan untuk seleksi penggunaan
kondom dapat dilihat pada table berikut ini :
Sesuai untuk pria yang : Tidak sesuai untuk pria yang :
Ingin berpartisipasi dalam program KB
Alergi terhadap bahan dasar kondom

Ingin segera mendapatkan alat kontrasepsi Menginginkan kontrasepsi jangka


panjang

Ingin kontrasepsi sementara Tidak mau terganggu dengan sebagai


pemapan untuk melakukan hubungan
seksual
Hanya ingin menggunakan alat kontrasepsi jika
akan berhubungan Tidak peduli berbagai persyaratan
kontrasepsi
Cara Penggunaan / Instruksi Bagi
Beresiko tinggi tertular / penularan IMS / HIV / Klien
AID. Gunakan kondom setiap akan
Mempunyai pasangan yang beresiko tinggi melakukan hubungan seksual
apabila terjadi kehamilan Agar efek kontrasepsinya lebih baik,
tambahkan spermasida ke dalam
kondom
Jangan menggunakan gigi, benda
tajam seperti pisau, silet, gunting atau
benda tajam lainnya pada saat
membuka kemasan.
Pasangkan kondom saat penis
sedangekrsei, tempelkan ujungnya
pada glans penis dan tempatkan
bagian penumpangnya pada sperma
pada ujung uretra. Lepaskan gulungan
karetnya dengan berjalan menggeser
gulungan tersebut kearah pangkas
penis. Pemasang ini dilakukan
sebelum penetrasi penis ke vagina
Bila kondom tidak mempunyai tempat
penampungan sperma pada bagian
ujungnya. Maka saat memakai,
longgarkanlah sedikit bagian ujungnya
agar tidak terjadi robekan pada saat
ejakulasi
Kondom dilepas sebelum penis
melembek
Pegang bagian pangkal kondom
sebelum mencabut penis sehingga
kondom tidak terlepas pada saat penis
dicabut dan lepaskan kondom diluar
vagina agar tidak terjadi tumpahan
cairan sperma di sekitar vagina
Gunakan kondom hanya satu kali
pakai
Buang kondom bekas pakai pada
tempat yang aman
Sediakan kondom dalam jumlah cukup
dirumah dan jangan menyimpan
kondom di tempat yang panas, Karena
akan menyebabkan kondom rusak /
sobek.
Jangan gunakan kondom bila
kemasannya sobek atau rapuh / rusuh
Jangan gunakan minyak goreng,
minyak memeralatakan pelumas dari
lahan petrotum karena akan merusak
kondom.
I Kontrasepsi Mantap
1 Vasektomi
Yang merupakan perbedahan / operasi kecil yang dilakukan pada saluran
sperma laki – laki, saluran sperma dapat di potong / di beri cincin bahkan di
ikat. Itupun setelah operasi kecil tersebut, laki – laki harus 20x ejakulasi
(pengeluaran sperma) untuk mencegah masih tertinggalnya sperma pada
saluran sperma untuk mengantisipasi terjadinya kehamilan.

2 Tubektomi
Adalah pembedahan yang dilakukan pada saluran tuba palopi / operasi kecil
yang dilakukan pada wanita dengan cara member cincin atau mengikat
saluran tersebut.

3 Histerektomi
Merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan cara khusus, misalnya
jumlah anak sudah terlalu banyak, atau bahkan ada masalah dengan
kandungan lemah, atau memang keinginan sendiri ingin memutuskan tidak
memiliki anak lagi. Merupakan beberapa alasan mengapa ada wanita ingin
menggunakan metode kontrasepsi ini.
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN PADA TN “S” USIA 27 TAHUN
AKSEPTOR KB KONDOM DI POLINDES, SEBAMBAN O1

Tanggal Pengkajian : O2– 08– 2012


Jam Pengkajian : 10.00 WITA
No. Register :–

I. PENGKAJIAN
A Data Subjektif
Biodata Istri Suami
Nama : Ny. “R” Nama Suami : Tn. “S”
Umur : 24 Th Umur : 29 Tahun
Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMK
Pekerjaan :IRT Pekerjaan :Swasta
Alamat : Blok E Sebamban 01, PenghasilanRp 2.000.000

B Keluhan Utama
– Ibu mengatakan suaminya ingin menggunakan KB kondom.

C Riwayat Haid
– Lama haid : 6 hari
– Siklus : 28 hari
– Jumlah : 2 – 3x ganti pembalut
– Menarche : 10 tahun
– Disminorhe : Tidak ada
– Flaur albus : Kadang – Kadang

D Riwayat Kesehatan
Ibu mengatakan dia dan suaminya tidak pernah menderita penyakit
menular, misalnya Hepatitis, TBC, PMS, tidak pernah menderita penyakit
menurun, Hipertensi, Jantung, DM, Asma, menahun Hipertensi serta
jantung, DM.

E Riwayat Kesehatan Keluarga


Ibu mengatakan keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular,
misalnya hepatitis, TBC, PMS, tidak pernah menderita penyakit menurun,
Hipertensi, DM, Asma, menahun seperti jantung, Hipertensi, Asma, DM

F Riwayat KB
Ibu mengatakan sebelumnya pernah memakai KB suntik + 6 bulan,
namun berhenti karena ingin hamil dan sekarang ibu ingin menggunakan
KB lagi namun KB untuk suami.

G Pola Kehidupan Sehari – hari


– Pola Nutrisi : Makan 3 kali sehari, porsi sedang, lauk sayur, nasi dan
kadang ditambah buah.
Minum air putih + 7 – 8 gelas per hari, kadang minum susu dan teh.

– Pola Eliminasi :
BAK : Biasa, 3-4 kali sehari, warna kuning, bau kha urin.
BAB : 1-2x sehari, konsistensi lembek, bau khas feses, ibu tidak
mengalami kesulitan dalam BAB dan BAK.

– Pola Aktifitas : Setiap hari ibu melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah
tangga dan ayah melakukan pekerjaan swastanya

– Pola Istirahat :
Tidur malam : 7 – 8 jam / hari
Tidur siang : 1 – 2 jam / hari

– Pola Personal Hygiene : Ibu dan ayah mandi 2-3x sehari. Gosok gigi
2x sehari, ganti pakaian dalam 2-3x sehari. Kebersihan diri ibu, ayah
dan keluarga baik
H Keadaan Psikososial
– Ibu mengatakan hubungannya dengan suami dan keluarga serta
masyarakat baik.

I Keadaan Spiritual
– Ibu mengatakan ibadah yang dilakukannya dan suami sesuai dengan
agama yang dianutnya. Tidak ada masalah apapun dalam
– penggunaan KB dengan agama yang dianut.
J Data Objektif
a Pemeriksaan umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
TD : 120/80 mmHg
N : 88 x/m
S : 370C
R : 24 x/m
BB : 60 kg
TB : 168 cm

b Pemeriksaan Khusus
Inspeksi
Kepala : Bersih, rambut hitam
Muka : Bentuk wajah bulat, tidak pucat dan oedema
Mata : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
Telinga : Simetris, bersih tidak ada serumen
– Hidung : Simetris kiri – kanan, tidak terdapat polip
– Mulut : Bersih, mukosa mulut lembab
– Leher : Tidak tampak pembesaran kelenjar tyroid dan vena
jugularis.
Palpasi
– Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena
jugularis
– Tungkai : Tidak terdapat odema
K Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan

II. INTERPRETASI DATA DASAR


Data Dasar Diagnosa / Masalah
Ds : Dx : Asuhan Kebidanan Pada Tn.“S”
– Ibu mengatakan suaminya ingin usia 27 tahun dengan KB Kondom
menggunakan KB

Do :
Pemeriksaan Suami :
KU : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 120/80 mmHg
N : 88 x/m
S : 370C
R : 24 x/m
BB : 60 kg
TB : 168 cm

III. DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL


IV. KEBUTUHAN SEGERA


V. INTERVENSI
Dx / Masalah Intervensi Rasional
Dx : Tujuan :
Asuhan – Membantu ibu menunda
Kebidanan Pada kehamilannya
Tn. “S” Usia 27 – Membantu ibu dan suami
tahun Akseptor untuk mendapatkan
Baru KB Kondom informasi mengenai KB
kondom

Kriteria Hasil :
KU : Baik
Kesadaran : CM
TD :110/70-130/90
mmHg
N : 60-100 x/m
RR : 16-24x/m
S : 36,5-37,5ºC

Intervensi :
– Jalin hubungan baik dengan Agar ibu dan suami merasa
pasien nyaman dengan asuhan yang
kita berikan dan memudahkan
tenaga kesehatan memberikan
asuhan yang standar.

– Tanyakan tujuan kunjungan Agar tenaga kesehatan tahu


kepada pasien apa yang diinginkannya

– Jelaskan hasil pemeriksaan – Klien mengetahui


yang telah dilakukan keadaan / kondisi
kesehatannya saat ini
– Berikan KIE mengenai efek
samping, keuntungan, dan – Diharapkan ibu dan
kerugian kondom suami mengerti tentang efek
samping, keuntungan, dan
– Jelaskan cara penggunaan kerugian KB Kondom
kondom yang benar – Klien mengerti cara
penggunaan KB kondom yang
– Berikan kondom sesuai benar
kebutuhan klien dan jangan – Sebagai persediaan
disimpan ditempat yang panas dirumah dan kondom tidak
layak pakai

VI. IMPLEMENTASI
Tanggal / jam Dagnosa / masalah Implementasi
02-08- 2012 Dx : – Menjalin hubungan baik dengan
10.30 wita Asuhan Kebidanan klien saat memberikan asuhan, misalnya
Pada Tn. “S” usia 27 memperkenalkan diri, dengan ramah ,
tahun, Akseptor Baru menyapa dengan sopan , dan
KB Kondom mendengarkan alasan klien datang, serta
menjawab sesuai pertanyaan atau
keluhan klien dengan senyum ramah
– Menanyakan tujuan kunjungan
kepada klien, agar mengetahui apa yang
diinginkan klien
– Menjelaskan hasil pemeriksaan
yang telah dilakukan seperti :
KU : Baik
Kesadaran : CM
TD : 120/80 x/m
N : 88 x/m
RR : 37,5 ºc
BB : 60 kg
TB : 168 kg
Ibu dalam keadaan baik / normal
– Memberikan KIE tentang
keadaan mengenai keuntungan,
kerugian, dan efek samping KB kondom
Keuntungan : efektif bila digunakan
dengan benar, tidak mengganggu ASI,
tidak menggaggu kesehatan klien, tidak
mempunyai pengaruh sistemik, murah
dapat dibeli secara umum, tidak perlu
resep dokter atau pemeriksaan
kesehatan khusus, mencegah penularan
IMS, mencegah ejakulasi dini, saling
berinteraksi atau bekerja sama sesama
pasangan
Kerugian : cara penggunaan sangat
mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
, agak mengganggu hubungan seksual (
karena mengurangi sentuhan langsung ),
harus selalu tersedia setiap kali
berhubungan seksual, beberapa klien
malu untuk membeli kondom di tempat
umum.
Efek samping / maslah yang bisa terjadi
kondom rusak atau diperkiraan bocor
sebelum berhubungan, kondom bocor
atau dicurigai ada curahan divagina saat
berhubungan, dicurigai adanya reaksi
alergi, mengurangi kenikmatan hubungan
seksual
– Menjelaskan cara penggunaan
kondom yang benar
Gunakan kondom setiap akan melakukan
hubungan seksual Agar efek
kontrasepsinya lebih baik, tambahkan
spersimida kedalam kondom Jangan
menggunakan gigi, benda tajam seperti
pisau,silet, gunting, atau benda tajam
lainnya , pada saat membuka Pasangan
kondom saat penis sedang ereksi
,tempelkan ujungnya pda glands penis
dan tempatkan bagian penampung
sperma, pada ujung ureter, lepaskan
gulungan karetnya dengan jalan
menggeser gulungan tersebut kearah
pangkal penis “ pemasangan ini harus
dilakukan sebelum penetrasi penis ke
vagina ”
Bila kondom tidak mempunyai tempat
penampungan sperma pada bagian
ujungnya, maka saat memakai,
longgarkan sedikit bagian ujungnya, agar
tidak terjadi robekan saat ejakulasi
Kondom dilepas sebelum penis
melembek Pegang bagian pangkal
kondom sebelum mencabut penis
sehingga kondom tidak terlepas pada
saat penis dicabut dan dilepaskan
kondom diluar vagina agar tidak terjadi
tumpahan cairan sperma disekitar
vagina.
Gunakan kondom hanya satu kali pakai
Buang kondom bekas pakai pada tempat
yang aman
– Memberikan kondom sesuai
kebutuhan klien dan jaringan disimpan
ditempat yang panas karena dapat
menyebabkan kondom menjadi rusak
atau robek saat digunakan.
VII. EVALUASI
Tanggal / Jam Dx / Masalah Evaluasi
02– 08 – 2012 Dx : S : klien ( ibu dan suami ) mengerti
Jam 10.45 WITA Asuhan Kebidanan Pada dengan penjelasan yang telah
Tn. “S” usia 27 tahun, diberikan
Akseptor Baru KB
Kondom O : klien tanpak mengerti, senang
dan
mampu mengulangi penjelasan
yang diberikan
KU : Baik
Kesadaran : Composmentis
TD : 120/80 mmHg
N : 88 x/m
S : 37,0 C
R : 24 x/m
BB : 60 kg
TB : 168 cm

A : Asuhan Kebidanan pada Tn ”S”


usia 27 tahun Akseptor Baru KB
Kondom

P:
– Menganjurkan pada ibu dan
suami datang apabila ada keluhan.
– Menganjurkan ibu dan suami
datang apabila ingin membeli kondom.
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Kesenjangan antara teori dan jurnal penelitian

Berdasarkan hasil uji statistik Chi Square pada jurnal penelitian


didapatkan nilai p yaitu 0,000 < 0.05, sehingga HO ditolak dan H1 diterima,
berarti “ada hubungan antara perilaku pemakaian kondom dengan kejadian IMS
di lokalisasi Kaliwungu Kecamatan Ngunut Tulungagung.

Pada hasil penelitian di atas menunjukan teori dan jurnal penelitian tidak
ada kesenjangan antara penguna kondom dan kejadian IMS. Karena Hasil
penelitian didapatkan bahwa dari total 65 responden, hampir setenganya dari
responden tidak memakai kondom dan terinfeksi penyakit IMS, yaitu sebanyak
32 responden (49,23%).

B. Kesimpulan

Pada hasil teori dan jurnal penelitian di atas dapat di simpulkan bahwa
Kondom memiliki fungsi double protection yaitu selain untuk mencegah
penularan IMS juga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi. Hingga saat ini
kondom merupakan alat kontrasepsi yang paling efektif untuk mengurangi risiko
penularan penyakit seksual. Bahkan vasektomi atau pemotongan saluran
sperma pada pria pun tidak mampu mencegah IMS. Dan pada penatalaksanaan
asuhan kebidanan yang di jelaskan di atas sudah sesuai dengan jurnal
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA

Hartanto, Hanafi.(2003).Keluarga Berencana dan Kontrasepsi.Jakarta : Pustaka


Sinar Harapan

Manuaba, Ida Bagus Gde.(1998).Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandungan dan Keluarga


Berencana untuk Pendidikan.Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif.(2007).Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta : Media Aesculapius

Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta. (2002). Prosedur

Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Daili S.F. (1999). Penyakit Menular Seksual. Edisi 2. Jakarta: FKUI.

___________. (2003). Penyakit Menular Seksual. Edisi 2. Jakarta: FKUI.

Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung. Laporan Tahun 2009/2010.

FKUI. (2000). Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius.


___________. (2000). Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Jakarta: Media
Aesculapius.

Hupatena, Ronald. (2003). AIDS, PMS dan Perkosaan. Jakarta: Rineka Cipta