You are on page 1of 26

PENGAMATAN MORFOLOGI KOLONI MIKROBA

LAPORAN PRAKTIKUM

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH


MIKROBIOLOGI
Yang dibimbing oleh Dr. Endang Suarsini M.Ked

Disusun oleh :
Kelompok 4 / Offering A
1. Adek Larasati S (160341606007)
2. Agrintya Indah M (160341606041)
3. Mamik Rizkiatul L (160341606051)
4. Novela Memiasih (160341606093)
5. Racy Rizki A (160341606056)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
FEBRUARI 2018
A. Tujuan
Untuk mempelajari morfologi koloni bakteri.
B. Dasar Teori
Mikroorganisme membutuhkan suatu medium atau substrat untuk
pertumbuhannya (Hastuti, 2012). Medium tersebut ialah bahan yang digunakan
untuk menumbuhkan mikroorganisme diatas atau didalamnya. Meskipun
persyaratan nutrien mikroorganisme amat beragam, namun sebagai makhluk
hidup mereka mempunyai kebutuhan dasar yang sama, yaitu meliputi karbon,
energi, mineral dan faktor tumbuh. Bagi organisme bersel tunggal, air sangat
dibutuhkan karena air merupakan komponen utama protoplasma (70-85%
protoplasma terdiri dari air) serta sebagai media untuk masuknya nutrien ke
dalam sel dan keluarnya sekresi ataupun ekresi dari dalam sel. Disamping itu, air
juga diperlukan untuk berlangsungnya reaksi-reaksi enzimatik didalam sel.
Sumber Nitrogen dapat diperoleh dari senyawa organik juga dapat berasal dari
unsur logam seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, mangan, besi, seng,
tembaga, fosfor, dan kobalt. Bakteri membutuhkannya dalam jumlah yang sedikit
(Hadioetomo, 1990).

Faktor tumbuh ialah komponen seluler esensial yang tidak dapat disintesis
sendiri oleh suatu organisme dari sumber dasar karbon dan nitrogennya.
Komponen sel yang dimaksud dapat berupa asam amino atau vitamin. Bagi
banyak heterotrof, kebutuhan akan faktor tumbuh sudah dapat dipenuhi oleh
ekstrak daging atau kaldu nutrien. Namun pada beberapa patogen (fastidious)
diperlukan medium yang lebih rumit seperti agar darah untuk penyediaan fakror
tumbuh yang diperlukan.Keasaman (pH) medium juga dibutuhkan bagi
pertumbuhan organisme terutama kerja enzim. Sebagian besar bakteri tumbuh
paling baik pada sekitar pH 7 (Hadioetomo, 1990).

Berdasarkan komposisi kimiawinya dikenal medium sintetik dan medium


nonsintetik atau kompleks. Komposisi kimiawi medium sintetik diketahui dengan
pasti dan terbuat dari bahan-bahan kimia yang kemurniannya tinggi atau
ditentukan dengan tepat. Sedangkan untuk komposisi medium non sintetik tidak
diketahui dengan tepat, contohnya ialah bahan-bahan yang terdapat dalam kaldu
nutrien, yaitu ekstrak daging dan pepton, mempunyai komposisi kimiawi yang
tidak pasti.

Kaldu nutrrien merupakan medium yang sangat umum digunakan dalam


bakteriologi (dapat menunjang pertumbuhan ) maka medium ini disebut juga
medium serbaguna. Sedangkan medium yang mengandung zat-zat kimia tertentu
yang dapat menghambat pertumbuhan satu kelompok bakteri atau lebih tanpa
mengahambat pertumbuhann organisme yang diinginkan disebut medium selektif.
Selain itu juga terdapat medium diferensial yaitu medium yang mengandung zat-
zat kimia tertentu yang memungkinkan pengamat untuk dapat membedakan
berbagai tipe bakteri (Hadioetomo, 1990).

Berdasarkan tekstur fisiknya, medium dibedakan menjadi medium cair,


medium setengah padat dan medium padat. Medium cair yang sering digunakan
adalah kaldu nutrien atau kaldu glukosa yang dapat dipergunakan untuk berbagai
keperluan seperti pembiakan organisme dalam jumlah besar, penelaahan
fermentasi, dan berbagai macam uji. Sedangkan untuk medium setengah padat
dan medium padat dapat dibuat dengan menambahkan bahan pemadat (agar-agar)
pada medium kaldu sesuai dengan konsentasi yang dibutuhkan (Hadioetomo,
1990).

Sterilisasi dalam mikrobiologi ialah suatu proses untuk mematikan


organisme yang terdapat pada atau dalam suatu benda. Ada tiga cara utama yang
umum digunakan dalam sterilisasi yaitu, penggunaan panas, penggunaan bahan
kimia, dan penyaringan filtasi. Pemilihan metode disesuaikan dengan bahan yang
akan disterilkan. Sterilisasi basah biasanya dilakukan didalam autoklaf atau
sterilisator uap yang mudah diangkat (portabele) dengan menggunakan uap air
jenuh bertekanan suhu 121° C selam 15 menit.
Panas lembab sangat efektif meskipun suhu yang digunakan tidak terlalu
tinggi, karena uap air berkondensasi pada bahan-bahan yang disterilkan,
dilepaskan panas sebanyak 686 kalori per gram uap air pada suhu 121 ° C. Panas
ini mendenaturasikan atau mengkoagulasikan protein pada organisme hidup dan
mematikannya.

Bakteri memiliki bentuk dan struktur yang berbeda. Bentuk dan struktur
ini yang disebut dengan morfologi bakteri. Setiap bakteri memiliki bentuk yang
berbeda. Ini juga dipengaruhi oleh kondisi tempat hidupnya. Bakteri dapat hidup
di setiap tempat misalnya ; udara, diantara rambut, di sela-sela gigi , didalam
tanah dan sebagainya (Hastuti, 2012).

Pada umumnya ada tiga bentuk bakteri yang berbeda yaitu, bentuk kokus
atau bulat, basil atau silinder (batang), dan spiral atau melengkung melingkar
(Volk & Wheeler, 1988).

1. Kokus bentuknya seperti buah beri kecil.bakteri ini terdapat dalam beberapa
pola atau pengelompokan yang berbeda dan oleh karen itu dapat dijadikan ciri
setiap marga yang berbeda. Beberapa kokus secara khas hidup sendiri-sendiri,
sedangkan yang lainnya dapat dijumpai berpasangn, kubus atau rantai
panjang, bergantung caranya membelah diri dan berlekatan satu sama yang
lain.
a. Kokus yang senantiasa membelah dalam satu bidang namun tidak
memisahkan diri, sering membentuk rantai kokus, ini merupakan bentuk
khas Strepcoccus.
b. Kokus yang membelah dalam tiga bidang tegak lurus satu sama lain
membentuk paket kubus, cara ini dijumpai pada merga Sarcina.
c. Kokus yang membelah dalam dua bidang untuk membentuk gugusan yang
tidak teratur diklasifikasikan dalam marga Staphylococcus atau marga
Micrococcus.
2. Basil adalah bakteri yang bentuknya menyerupai batang atau silinder. Basil
memiliki ukuran yang beraneka ragam, beberapa diantaranya menyerupai
rokok sigaret. Bentuk lainnya adalah basil berebantuk gelendong dengan
ujung-ujung yang meruncing lebih menyerupai cerutu. Beberapa basil panjang
dan lebarnya sama dan bentuknya lonjong, basil-bail ini menyerupai kokus
sehingga disebut koko-basil.
3. Bentuk Spiral
a. Vibrio adalah batang yang melengkung menyerupai koma. Kadang-
kadang vibrio tumbuh sebagai benang-benang membelit atau membentuk
S.
b. Spiril adalah spiral atau lilitan yang sebenarnya, seperti kotrek (pembuka
gabus). Tubuh selnya kokoh.
c. Spirochaeta berbentuk spiral tetapi bedanya dengan spiril dalam hal
kemampuannya melenturkan dan melekuk-lekukkan tubuhnya sambil
bergerak.

Untuk mengidentifikasi suatu bakteri dapat diamati dari bentuk koloni, warna
koloni, tepi koloni, elevasi koloni, serta tipe pertumbuhannya pada medium
miring.

1. Bentuk Koloni
Bentuk koloni yang umunya ditemukan yaitu bundar, bundar dengan tepian
kerang, bundar dengan tepian timbul, keriput, konsentris, tak beraturan dan
menyebar, berbenang-benang, bentuk L, bundar dengan tepian menyebar,
filiform, rizoid, atau kompleks.
2. Bentuk Tepi Koloni
Bentuk tepian koloni bakteri umunya yaitu licin, berombak, berlekuk,
takberaturan, siliat, bercabang, seperti wol, seperti benang, atau seperti ikal
rambut.
3. Elevasi Koloni
Selain dapat diamati dan diidentifikasi dari bentuk, warna, dan tepian
koloninya, pengamatan koloni juga dapat di lakukan pada elevasi koloninya.
Beberapa elevasi dari koloni bakteri yaitu, datar, timbul, cembung, seperti
tetesan, seperti tombol, berbukit-bukit, tumbuh kedalam medium, atau seperti
kawah.
4. Tipe Pertumbuhan pada Medium Agar Miring
Tipe pertumbuhan koloni bakteri pada medium agar miring juga dapat
digunakan untuk mengidentifikasi jenis bakteri. Menurut Fardiaz dalam
Hatuti (2012) ada beberapa tipe koloni bakteri pada medium agar miring yaitu
bentuk serupa pedang, bentuk berduri, bentuk serupa tasbih, bentuk titik-titik,
bentuk berupa batang, dan bentuk serupa akar.
Medium agar padat miring merupakan medium nutrien cair yang ditambah
agar sebagai pemadatnya dan dibirakan mengeras pada posisi miring. Pada
medium agar padat miring, bakteri Eschercia coli, bentuknya spreadling dengan
elevasi low convex, tidak berbau, berwarna krem dan pertumbuhannya sedikit
saja namun membentuk koloni. Pada Bacillus subtilis pertumbuhannya tipis dan
merata tanpa koloni dengan elevasi low convex berbentuk echinulate, tidak
berbau dan berwarna krem (Anitamuina, 2013).

C. ALAT DAN BAHAN

a. Inkubator

b. Lup/Colony Counter

c. 2 buah media lempeng NA steril


D. LANGKAH KERJA

1. Membawa satu pasang cawan petri


yang telah berisi media lempeng ke
tempat yang akan diteliti

Mengusap benda dengan menggunakan


kapas steril

Membuka tutup cawan petri dan


meratakan hasil usapan di media lempeng
secara zigzag

Menutup kembali cawan dan dibawa


kelaboratorium untuk diinkubasi.
2.

Membagi cawan petri menjadi 5 kuadran

Kuadran I diberi perlakuan dengan cara


mengusapkan ibu jari ke media.

Kuadran II diberi perlakuan dengan cara mengusapkan jari


telunjuk setelah mencuci tangan dengan sabun.

Kuadran III diberi perlakuan dengan cara mengusapkan


jari tengan setelah mencuci tangan dengan alkohol
70%.

Kuadran IV dibiarkan kosong untuk kontrol.

Menutup kembali cawan dan menginkubasikan media tanam yang


telah dibuat selama 1x24 jam pada suhu 30o Celcius.
3.

Setelah biakan berumur 1x24 jam,


melakukan pengamatan terhadap
koloni mikroba pada media lempeng
tersebut.

Mengamati koloni bakteri yang


tumbuh (macam, bentuk, dan jumlah
koloni).

Membandingkan hasil pengamatan


dengan gambar.

Mengamati morfologi dari 2 macam


koloni bakteri (warna koloni, bentuk
koloni, tepi koloni, elevasi, kepekaan,
mengkilat/suram, dan diameter koloni)

Menuliskan hasil pengamatan pada


lembar kerja.
E. DATA HASIL PENGAMATAN

4.1 Tabel 1 Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri

Ciri Koloni 1 Koloni 2

Morfologi
Putih susu Putih Bening
a. Warna Koloni
b. Bentuk Koloni Bundar Bundar dengan tepian
timbul

c. Tepi Koloni Licin Berombak

d. Elevasi Koloni Datar Seperti tombak

e. Mengkilat/suram Mengkilat Suram

f. Diameter Koloni 1 mm 2 mm

g. Kepekatan koloni Pekat sekali (+++) Pekat (+)

h. Jumlah Koloni 1 1

Ciri Lainnya - -

Asal Bakteri Toilet lantai 3 O5 Toilet lantai 3 O5

4.2 Tabel 2 Kompilasi

No Kelompok Tempat Pengambilan Jumlah Koloni

Tempat sampah O5 lantai


1 Kelompok 1 113
3

2 Kelompok 2 Sekretariat BDM 265

3 Kelompok 3 HP Lila, Nabila, Naelly 17


4 Kelompok 4 Kamar mandi lantai 3 131

Rak sepatu KJH O5 lantai


5 Kelompok 5 264
3

6 Kelompok 6 Balkon O5 lantai 2 84

4.3 Tabel 3 Koloni Ditiap Kuadran

Jumlah Koloni

Kelompok

Kuadran I Kuadran II Kuadran III Kuadran IV

1 97 208 41 -

2 97 15 7 -

3 127 97 32 -

4 431 268 239 -

5 377 81 4 -

6 10 15 30 -
F. ANALISIS DATA

Pada praktikum pengamatan morfologi koloni mikroba ini dilakukan dua cara
pengambilan sampel yaitu sebagai berikut.
1. Penangkapan Bakteri pada Berbagai Tempat
Pada penangkapan mikroba udara bebas ini, cawan petri berisi media agar
lempeng dibiarkan terbuka selama 15 menit. Kemudian diinkubasi selama 1x24 jam
pada inkubator. Mikroba ditangkap pada 5 tempat yang berbeda yaitu, di tempat
sampah lt 3 05 FMIPA UM, Sekretariat BDM UM, Hp, toilet lantai 3 05 FMIPA UM,
rak sepatu lantai 3 05 FMIPA UM, dan balkon lt 2 05 FMIPA UM dengan jumlah
koloni yang dihasilkan secara berturut-turut yaitu 113, 265, 17, 131, 264 dan 84.
Jumlah koloni tertinggi ialah 265 yaitu pada sekretariat BDM FMIPA UM. Tingkat
tertinggi kedua ialah 264 yaitu terdapat pada rak sepatu lt 3 05 FMIPA UM. Jumlah
koloni terendah ialah 17 yaitu terdapat pada sampel mikroba di Hp (handphone).
Terlihat pada Grafik 1.
Grafik 1. Perbandingan Jumlah Koloni berdasarkan Tempat Pengambilan.

Perbandingan Jumlah Koloni berdasarkan


Tempat Pengambilan
Tempat Sampah Sekretariat BDM HP
JUMLAH KOLONI

Toilet Rak Sepatu Balkon


400
200
0
A1 A2 A3 A4 A5 A6
TEMPAT PENGAMBILAN

Setelah jumlah koloni dihitung dengan colony counter, dua koloni dipilih untuk
diidentifikasi morfologinya. Koloni 1 mempunyai ciri morfologi berwarna putih susu,
berbentuk bundar, bertepi licin, berelevasi datar, keadaan mengkilat, berdiameter 1
mm, dan mempunyai kepekatan (+++). Koloni 2 mempunyai ciri morfologi berwarna
putih bening, berbentuk bundar dengan tepi timbul, bertepi ombak, berelevasi seperti
tombol, keadaan suram, berdiameter 2 mm, dan mempunyai kepekatan (+).
Selanjutnya, koloni 1 dan 2 pada media agar lempeng dipindahkan pada
medium agar miring untuk dilakukan pemurnian. Medium tersebut juga dimasukkan
pada inkubator selama 1x24 jam dan kemudian menghasilkan bentukan koloni yang
tidak mengalami kontaminasi. Koloni 1 berbentuk pedang dan koloni 2 berbentuk
duri.
Dari analisis di atas, didapatkan bahwa sebagian besar koloni berbentuk bulat
dengan warna putih. Jumlah koloni yang beranekaragaman pada berbagai tempat
pengambilan disebabkan adanya faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri.

1. Penangkapan Bakteri di Jari Tangan


Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dengan menghitung jumlah koloni
pada setiap kuadran yang metiputi kuadran I yaitu hasil usapan ibu jari tanpa mencuci
tangan, kuadran II hasil usapan jari telunjuk setelah mencuci tangan menggunakan
air, kuadran III hasil usapan jari tengah setelah mencuci tangan dengan sabun dan
disemprot alkohol, kuadran IV tanpa usapan jari dan digunakan sebagai kontrol.
2.1 Jumlah Koloni Pada Kuadran I, Kuadran II, Kuadran III, dan kudran IV.
Berikut merupakan data yang diperoleh dari hasil praktikum yang disajikan
pada tabel 1 dibawah ini:
Grafik 2. Jumlah Koloni Pada Kuadran I, Kuadran II, Kuadran III, dan kudran
IV.
Jumlah Koloni Pada Kuadran I, Kuadran II, Kuadran III,
dan kudran IV.
500
450
400
Jumlah Koloni Bakteri

350
300
250
200
150
100
50
0
KUADRAN 1 KUADRAN 2 KUADRAN 3 KUADRAN 4
Keterangan:
Kuadran I : usapan ibu jari tanpa mencuci tangan.
Kuadran II : usapan jari telunjuk setelah mencuci tangan menggunakan air.
Kuadran III : usapan jari tengah setelah mencuci tangan dengan sabun dan
disemprot alkohol.
Kuadran IV : tanpa usapan jari dan digunakan sebagai kontrol.

Pada grafik 2 diatas terlihat bahwa terjadi penurunan jumlah koloni bakteri
dari kuadran I hingga kuadran 4. Pada kuadran 1 yang mana bakteri didapatkan
dengan mengusapkan ibu jari tanpa mencuci tangan dan jumlah bakteri mencapai
431 koloni. Pada kuadran 2 jumlah koloni bakteri semakin sedikit yaitu 268 koloni,
hal ini mungkin disebabkan pada kuadran 2 diberi usapan jari telunjuk setelah
mencuci tangan menggunakan sabun. Pada kuadran 3 juga terjadi penurunan jumlah
koloni bakteri menjadi 239 koloni karena pada kuadran ini, koloni bakteri didapatkan
dengan mengusapkan jari tengah setelah mencuci tangan dengan sabun dan disemprot
alkohol. Pada kuadran 4 tidak terdapat koloni bakteri karena pada kuadran ini tidak
diberi perlakuan dan digunakan sebagi kontrol.

2.2 Perbandingan Jumlah Koloni Bakteri Pada Setiap Kuadran.


Selain menghitung jumlah koloni pada setiap kuadran, dalam praktikum ini
juga harus membandingkan hasil praktikum dari masing-masing kelompok. Hasil
perbandingan tersebut ditunjukkan pada tabel 2 dibawah ini:
Grafik 3. Perbandingan Jumlah Koloni Bakteri Pada Setiap Kuadran.

Perbandingan Jumlah Koloni Bakteri


Pada Setiap Kuadran
500

450

400
JUMLAH KOLONI BAKTERI (KOLONI)

350 KEL 1
300 KEL 2

250 KEL 3
KEL 4
200
KEL 5
150
KEL 6
100

50

0
KUADRAN 1 KUADRAN 2 KUADRAN 3 KUADRAN 4

Pada grafik 3 diatas dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan jumlah koloni
pada setiap kuadran dari masing-masing kelompok. Pada kelompok satu, jumlah
koloni pada kuadran 1 sebanyak 97 koloni, kuadran 2 sebanyak 208 koloni, kuadran 3
sebanyak 41 koloni dan di kuadran 4 tidak terdapat koloni. Dikelompok satu, jumlah
koloni paling banyak terdapat pada kuadran 2. Untuk kelompok dua, jumlah koloni di
kuadran 1 sebanyak 97 koloni, kuadran 2 sebanyak 15 koloni, kuadran 3 sebanyak 7
koloni dan di kuadran 4 tidak terdapat koloni, jumlah koloni paling bayak terdapat
pada kuadran 1 dan terus mengalami penurunan hingga kuadran 4. Pada kelompok
tiga, jumlah koloni di kuadran 1 sebanyak 127 koloni, kuadran 2 sebanyak 97 koloni,
kuadran 3 sebanyak 32 koloni, dan di kuadran 4 sebanyak 2 koloni, jumlah koloni
tertinggi ada pada kuadran 1 dan terus mengalami penurunan jumlah koloni hingga
kuadran 4, tetapi pada kelompok 3 ini terdapat perbedaan dengan kelompok lain yaitu
pada kuadran 4 tumbuh 2 koloni bakteri. Pada kelompok empat, jumlah koloni di
kuadran 1 sebanyak 431, kuadran 2 sebanyak 268, kuadran 3 sebanyak 239, dan pada
kuadran 4 tidak terdapat koloni bakteri, jumlah koloni tertinggi ada pada kuadran 1
dan terus mengalami penurunan jumlah koloni. Jumlah koloni pada kelompok 4
merupakan koloni bakteri terbanyak dibandingkan dengan jumlah koloni bakteri
kelompok lain. Pada kelompok lima, jumlah koloni di kuadran 1 sebanyak 377
koloni, kuadran 2 sebanyak 81 koloni, kuadran 3 sebanyak 4 koloni dan pada kuadran
4 tidak terdapat koloni bakteri. Pada kelompok enam, jumlah koloni di kuadran 1
sebanyak 20 koloni, kuadran 2 sebanyak 15 koloni, kuadran 3 sebanyak 30 koloni
dan pada kuadran 4 tidak terdapat koloni bakteri, jumlah koloni tertinggi ada pada
kuadran 3 dan sangat berbeda dengan kelompok lain.

2.3 Perbandingan Jumlah Koloni Bakteri Pada Setiap Kelompok


Dalam praktikum yang telah dilakukan, setiap kelompok mendapatkan koloni
bakteri hasil tangkapan dari tangan yang telah diinkubasi selama satu hari dengan
perlakuan-perlakuan tertentu. Jumlah koloni bakteri yang didapatkan masing-masing
kelompok akan digambarkan pada grafik 4 berikut:
Grafik 4: Perbandingan Jumlah Total Koloni Bakteri Pada Setiap Kelompok.

Perbandingan Jumlah Total Koloni Bakteri Pada Setiap


Kelompok
1000
900
JUMLAH KOLONI BAKTERI

800
700
600
500
400
300
200
100
0
KEL. 1 KEL. 2 KEL. 3 KEL. 4 KEL. 5 KEL. 6

Penangkapan mikroba di tangan yang didapat dengan cara cawan petri yang
dibagi menjadi empat kuadran yang pada setiap kuadrannya diberi perlakuan berbeda
yaitu kuadran I merupakan hasil usapan ibu jari tanpa mencuci tangan, kuadran II
hasil usapan jari telunjuk setelah mencuci tangan menggunakan air, kuadran III hasil
usapan jari tengah setelah mencuci tangan dengan sabun dan disemprot alkohol,
kuadran IV tanpa usapan jari dan digunakan sebagai kontrol. Kemudian diinkubasi
selama 1x24 jam pada inkubator. Bakteri yang diperoleh tiap kelompok menunjukkan
jumlah yang berdeba-beda. Pada kelompok 1, jumlah total koloni bakteri sebanyak
346 koloni. Pada kelompok 2, jumlah total koloni bakteri sebanyak 119 koloni. Pada
kelompok 3, jumlah total koloni bakteri sebanyak 256 koloni. Pada kelompok 4,
jumlah total koloni bakteri sebanyak 938 koloni. Pada kelompok 5, jumlah total
koloni bakteri sebanyak 462 koloni. Pada kelompok 6, jumlah total koloni bakteri
sebanyak 65 koloni. Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa kelompok yang
mendapatkan jumlah bakteri terbanyak yaitu kelompok 4 dengan 938 koloni,
sedangkan kelompok yang memperoleh jumlah koloni paling sedikit adalah
kelompok 6 dengan 65 koloni.

G. PEMBAHASAN

Bakteri dapat ditumbuhkan dalam suatu medium agar lempeng dan akan
membentuk penampakan berupa koloni. Koloni sel bakteri merupakan sekelompok
masa sel yangdapat dilihat dengan mata langsung. Morfologi koloni yang berbeda
merupakan jenis bakteri yang berbeda yang tumbuh pada medium yang sama (plate
count agar) (Eko dkk, 2015). Semua sel dalam koloni itu sama dan dianggap semua
sel itu merupakan keturunan satu mikroorganisme dan karena itu mewakili sebagai
biakan murni. Penampakan koloni bakteri dalam media lempeng agar menunjukkan
bentuk dan ukuran koloni yang khas, dapat dilihat dari bentuk keseluruhan
penampakan koloni, tepi dan permukaan koloni. Pada praktikum pengamatan struktur
morfologi koloni ini, didapatkan hasil yang cukup signifikan pada kedua perlakuan
yaitu sebagai berikut.
1. Penangkapan Bakteri pada Berbagai Tempat
Kualitas udara dalam ruang selain dipengaruhi oleh keberadaan agen abiotik
juga dipengaruhi oleh agen biotik seperti partikel debu, dan mikroorganisme
termasuk di dalamnya bakteri, jamur, virus dan lain-lain (Lisyatusti, 2010).
Mikroorganisme yang tersebar di dalam ruangan dikenal sebagai bioaerosol (Iswadi,
2014). Menurut Yusup dkk(2014), meskipun belum dimasukkan ke dalam kriteria
polutan, bioaerosol merupakan parameter kualitas udara yang penting di dalam
ruangan karena menyebabkan resiko kontaminasi di antara manusia. Isolat bakteri
dibuat untuk mengetahui mikroorganisme pada udara bebas. Menurut Dewi (2008),
isolasi bakteri merupakan pengambilan atau memindahkan mikroba dari
lingkungannya di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium
buatan.
Identifikasi makroskopik koloni dilakukan dengan pengamatan secara langsung
menggunakan colony counter dengan cara memperhatikan bentuk morfologi koloni,
dan mengitung jumlah koloni yang tumbuh (Stryjakowska-Sekulska, 2007). Jumlah
koloni menunjukkan perbedaan signifikan pada setiap tempat dengan jumlah koloni
tertinggi ialah 265 yaitu pada sekretariat BDM FMIPA UM. Tingkat tertinggi kedua
ialah 264 yaitu terdapat pada rak sepatu lt 3 05 FMIPA UM. Jumlah koloni terendah
ialah 17 yaitu terdapat pada sampel mikroba di Hp (handphone). Perbedaan tersebut
dikarenakan adanya faktor pendukung pertumbuhan bakteri.
Setelah dilakukan penghitungan menggunakan colony counter, dua koloni
bakteri dipilih untuk diamati morfologinya. Koloni 1 mempunyai ciri morfologi
berwarna putih susu, berbentuk bundar, bertepi licin, berelevasi datar, keadaan
mengkilat, berdiameter 1 mm, dan mempunyai kepekatan (+++). Koloni 2
mempunyai ciri morfologi berwarna putih bening, berbentuk bundar dengan tepi
timbul, bertepi ombak, berelevasi seperti tombol, keadaan suram, berdiameter 2 mm,
dan mempunyai kepekatan (+). Kemudian dilakukan pemurnian isolat. Menurut Fitri
dan Yasmin (2011), pemurnian isolat bertujuan untuk mendapatkan biakan murni.
Dari hasil pemurnian, didapatkan adanya bentukan koloni bakteri murni berbentuk
pedang (koloni 1) dan duri (koloni 2) pada media agar miring. Sebagian besar koloni
berbentuk bulat dengan warna putih. Hal ini sesuai dengan penelitian Suryanto dkk
(2006) yang menyatakan bahwa lebih banyak didapat bentuk koloni bakteri yang
bulat dan warna koloni putih susu. Dari hasil penelitin Fitri dan Yasmin (2011) juga
menyatakan bahwa sebagian besar isolat berwarna putih susu dan bersifat gram
negatif.
Faktor yang mempengaruhi konsentrasi bakteri dan jamur di udara adalah suhu,
kelembaban udara dan intensitas cahaya di dalam ruangan. Intensitas cahaya yang
rendah ini merupakan faktor yang menyebabkan tingginya konsentrasi bakteri dan
jamur di udara. Lebih tingginya konsentrasi mikroorganisme disebabkan oleh kondisi
dinding dan lantai yang lebih kotor dan lembab, serta pencemaran dari luar ruangan
yang terbawa oleh kendaraan dan manusia karena exhaust fan yang tidak memadai
(Eko dkk, 2015). Ditambahkan oleh Naddafi dkk (2011) yang menyebutkan bahwa
ruangan dengan suhu 25-38°C memiliki konsentrasi bakteri patogen lebih tinggi
dibandingkan dengan ruangan dengan suhu <25°C, karena mendekati suhu tubuh
manusia. Oleh karena itu, diperlukan sistem ventilasi dan pengatur suhu udara yang
baik. Menurut Iswadi dkk (2014), mikroba dalam ruangan dipengaruhi oleh laju
ventilasi,padatnya orang, sifat dan taraf kegiatan orang yang menempati ruangan
tersebut.
Menurut Hamdayati (2011), ada beberapa cara untuk mengendalikan jumlah
populasi bakteri, diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Cleaning (kebersihan) dan Sanitasi
Cleaning dan Sanitasi sangat penting di dalam mengurangi jumlah populasi
bakteri pada suatu ruang/tempat. Prinsip cleaning dan sanitasi adalah
menciptakan lingkungan yang tidak dapat menyediakan sumber nutrisi bagi
pertumbuhan mikroba sekaligus membunuh sebagian besar populasi mikroba.
b. Desinfeksi
Adalah proses pengaplikasian bahan kimia (desinfektans) terhadap peralatan,
lantai, dinding atau lainnya untuk membunuh sel vegetatif mikrobial.
Desinfeksi diaplikasikan pada benda dan hanya berguna untuk membunuh sel
vegetatif saja, tidak mampu membunuh spora.
c. Antiseptis
Merupakan aplikasi senyawa kimia yang bersifat antiseptis terhadap tubuh
untuk melawan infeksi atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme dengan
cara menghancurkan atau menghambat aktivitas mikroba.
b. Sterilisasi
Proses menghancurkan semua jenis kehidupan sehingga menjadi steril.
Sterilisasi seringkali dilakukan dengan pengaplikasian udara panas.
a. Pengendalian Mikroba dengan Suhu Panas lainnya.
b. Pengendalian Mikroba dengan Radiasi.
c. Pengendalian Mikroba dengan Filtrasi.

2. Penangkapan Bakteri di Jari Tangan


Tangan merupakan bagian tubuh yang paling sering kontak dengan dunia luar
dan digunakan sehari-hari untuk melakukan aktivitas. Hal ini sangat memudahkan
terjadinya kontak dengan mikroorganisme dan mentransfernya ke objek lain.
Semakin banyak jumlah mikroorganisme yang ada ditangan, maka semakin
memperbesar potensi terkena infeksi. Bakteri yang ada ditangan dapat dihilangkan
dengan berbagai macam cara seperti mencuci tangan dengan sabun. Cuci tangan
sering dianggap sebagai hal yang sepele di masyarakat, padahal cuci tangan bisa
memberi kontribusi pada peningkatan status kesehatan masyarakat (Ardiana dkk,
2013). Berdasarkan fenomena yang ada terlihat bahwa anak-anak usia sekolah
mempunyai kebiasaan kurang memperhatikan perlunya cuci tangan dalam kehidupan
sehari-hari, terutama ketika di lingkungan sekolah. Dari data praktikum yang telah
dilakukan menunjukkan bahwa tangan yang seharian melakukan aktivitas dan tanpa
dicuci mengandung jumlah bakteri paling banyak, hal ini dikarenakan makin banyak
aktivitas yang kita lakukan, maka akan memudahkan terjadinya kontak dengan
bakteri-bakteri yang ada di udara ataupun benda yang kita pegang dan mentransfer ke
objek lain (Apriliana dkk, 2014).
Dari praktikum yang telah dilakukan, data dari masing-masing kelompok
menunjukkan bahwa sebagian besar jumlah koloni bakteri terbanyak ada pada
kuadran 1, dimana kuadran 1 ini merupakan kuadran yang diberi olesan ibu jari.
Setelah mencuci tangan dengan sabun, jumlah koloni bakteri menurun. Pada
kelompok 2 jumlah koloni bakteri menurun dari 97 koloni menjadi 15 koloni, begitu
juga pada kelompok 3 dari 127 koloni menjadi 97 koloni, kelompok 4 dari 431
menjadi 268, kelompok 5 dari 377 menjadi 81 koloni, kelompok 6 dari 15 menjadi 20
koloni. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian lain yang dilakukan oleh Burton et al,
pada tahun 2010 yang membuktikan bahwa jumlah bakteri pada telapak tangan yang
dicuci menggunakan sabun lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah bakteri yang
ditemukan pada tangan yang dicuci tanpa sabun (Burton et al, 2011).
Hal ini disebabkan oleh sabun merupakan suatu bahan yang digunakan untuk
membersihkan kulit baik dari kotoran maupun bakteri. Sabun adalah kumpulan
senyawa yang terdiri dari satu jenis asam amino atau lebih atau ekuivalennya dan
alkali. Sabun dihasilkan dari reaksi antara minyak hewani, nabati atau lemak yang
direbus bersama dengan sodium hidroksida. Sabun tidak hanya digunakan untuk
menjaga kebersihan badan tetapi juga untuk kebersihan tangan. Mencuci tangan
dengan sabun lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan hanya menggunakan
air. Sabun cuci tangan mengandung zat-zat yang bersifat bakterisid dan
bakteriostatik. Zat-zat tersebut seperti alkohol dan antibakteri. Selain itu, derajat
keasaman (pH) sabun cair cuci tangan juga berperan dalam menghambat
pertumbuhan dan membunuh bakteri (Bahar dkk, 2014).
Namun, pada kelompok 1 terjadi perbedaan yaitu jumlah koloni sebelum
mencuci tangan lebih sedikit dari pada sesudah menncuci tangan dengan sabun, pada
kelompok 1 jumlah koloni bakteri meningkat dari 97 koloni menjadi 208 koloni. Hal
ini mungkin saja terjadi karena sabun yang digunakan adalah sabun hasil
pengenceran, dimana mengencerkan sejumlah sabun sesuai dengan jumlah
pengenceran menunjukkan bahwa peningkatan jumlah pengenceran berbanding lurus
dengan peningkatan jumlah bakteri yang tumbuh dan berbanding terbalik dengan
kemampuan sabun cair cuci tangan untuk menghambat pertumbuhan bakteri (Oranusi
et al dalam Bahar dkk, 2014). Pengenceran sabun juga akan mempengaruhi pH sabun
cair cuci tangan. pH sabun yang awalnya asam atau basa dapat berubah menjadi
netral. pH netral merupakan faktor lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan
bakteri sehingga menurunkan kemampuan bakterisid dan bakteriostatik sabun (Bahar
dkk, 2014).
Pada pratikum selanjutnya, tangan yang telah dicuci menggunakan sabun dan
kemudian disemprot alkohol menunjukkan penurunan jumlah koloni bakteri. Pada
kelompok 1 terjadi penurunan jumlah koloni dari 208 menjadi 41 koloni, kelompok 2
terjadi penurunan jumlah koloni dari 15 menjadi 7 koloni, kelompok 3 terjadi
penurunan jumlah koloni dari 97 menjadi 32 koloni, kelompok 4 terjadi penurunan
jumlah koloni dari 268 menjadi 239 koloni, kelompok 5 terjadi penurunan jumlah
koloni dari 81 menjadi 4 koloni.
Hal ini dikarenakan alkohol merupakan salah satu jenis antiseptik. Antiseptik
adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup seperti pada kulit dan
mukosa. Penggunaan antiseptik dalam kehidupan sehari-hari berbeda bergantung
pada aktivitas dan aplikasinya. Alkohol biasanya diukur dengan menggunakan skala
“%” terhadap volume air yang terkandung, dan alkohol yang sering digunakan adalah
etil alkohol (60%-90%), isopropil alkohol (70%-90%), dan n-propanol (60%-70%),
ketiga bahan ini seing digunakan dalam bahan-bahan pembersih tangan karena bahan-
bahan ini menunjukkan aktivitas antimikroba yang cepat dengan spektrum yang luas
untuk melawan bakteri, virus, dan jamur. Kemampuan antimikroba dari alkohol ini
adalah dengan mendenaturasikan protein mikroba dan aktivitas antimikroba ini
efektif bila diencerkan dengan air sekitar 70%-80%. Konsenrasi alkohol yang lebih
tinggi dapat mengurangi kemampuannya dalam mendenaturasikan protein bakteri
karena proses denaturasi membutuhkan air (Agustina, 2015). Alkohol menunjukan
aktifitas sebagai antifungi dan dapat mendenaturasi protein, alkohol mempunyai
aktifitas sebagai bakterisid yang membunuh bakteri dalam bentuk vegetatifnya. Hal
ini menunjukkan bahwa alkohol mampu menghambat pertumbuhan bakteri
(Fatmasari 2015).
Perbedaan jumlah total koloni bakteri pada masing masing kelompok
ditunjukkan pada grafik 4 yaitu pada kelompok 1, jumlah total koloni bakteri
sebanyak 346 koloni. Pada kelompok 2, jumlah total koloni bakteri sebanyak 119
koloni. Pada kelompok 3, jumlah total koloni bakteri sebanyak 256 koloni. Pada
kelompok 4, jumlah total koloni bakteri sebanyak 938 koloni. Pada kelompok 5,
jumlah total koloni bakteri sebanyak 462 koloni. Pada kelompok 6, jumlah total
koloni bakteri sebanyak 65 koloni. Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa
kelompok yang mendapatkan jumlah bakteri terbanyak yaitu kelompok 4 dengan 938
koloni, sedangkan kelompok yang memperoleh jumlah koloni paling sedikit adalah
kelompok 6 dengan 65 koloni. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya perbedaan
aktivitas yang dilakukan oleh praktikan. Pada kelompok 4 jumlah total koloni bakteri
menjadi yang tertinggi, karena sebelum mengoleskan jari ke cawan, praktikan
menggosok-gosokkan tangan ketempat-tempat yang sering tersentuh orang hal ini
menyebabkan bakteri makin mudah untuk berpindah dari satu objek ke objek yang
lain (Apriliana dkk, 2014).

H. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpilkan bahwa:
Dalam praktikum ini menggunakan dua media tumbuh yaitu media lempeng
dan media murni miring. Koloni bakteri memiliki morfologi seperti bentuk lendir,
tetesan mentega, tetesan sari buah. Dari hasil pengamatan kelompok kami (toilet lt.3
O5 FMIPA UM) diperoleh koloni bakteri dengan morfologi berwarna putih, bentuk
bundar, licin dan berombak, mengkilat dan suram, elevasi koloni datar dan seperti
tombol, diameter 1-2mm, dan memiliki kepekatan. Ketika dibiakan pada media
miring diperoleh koloni bakteri berbentuk padang dan jarum (duri) yang memiliki
warna putih dan berbentuk bulat. Faktor yang mempengaruhi konsentrasi bakteri dan
jamur di udara adalah suhu, kelembaban udara dan intensitas cahaya di dalam
ruangan. Sedangkan pada percobaan kuadran (media lempeng) diperoleh dari
berbagai kelompok yang menunjukkan bahwa sebagian besar jumlah koloni bakteri
terbanyak ada pada kuadran 1, dimana kuadran 1 ini berasal dari jari tangan sebelum
dibersihakan baik dengan sabun maupun dengan alkohol. Hal ini disebabkan karena
zat-zat yang terkandung di dalam sabun dapat menghambat dan membunuh bakteri
sedangkan alkohol dapat mendenaturasi protein bakteri sehingga bakteri dapat mati.
Namun, pada beberapa kasus sabun tidak dapat membunuh bakteri tetapi malah
menambah keberadaan bakteri hal ini disebabkan karena sabun tersebut merupakan
sabun hasil pengenceran, dimana tingkat pengenceran berbanding lurus dengan
peningkatan jumlah bakteri.

I. DAFTAR RUJUKAN
Agustina, Hesty. 2015. Pengaruh Berbagai Macam Antiseptik Dalam
Menghambat Pertumbuhan Bakteri Dari Swap Telapak Tangan. Jakarta:
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulloh Jakarta.

Anitamunia. 2013. Morfologi Koloni Bakteri (online),


anitamuina.wordpress.com/2013/02/13/morfologi-koloni-bakteri/

Apriliana, Ety. Pratami, H. Rukmono, P. 2014. Identifikasi Mikroorganisme


Pada Tangan Tenaga Medis dan Paramedis di Unit Perinatologi Rumah
Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung. Medical Journal of Lampung
University. ISSN 2337-3776.

Ardiana, Anisah. Purwandari, R. Wantiyah. 2013. Hubungan Antara Perilaku


Mencuci Tangan Dengan Insiden Diare Pada Anak Usia Sekolah Di
Kabupaten Jember. Jurnal Keperawatan. ISSN: 2086-3071

Bahar, Elizabeth. Fazlisia, A. Yulistini. 2015. Uji Daya Hambat Sabun Cair Cuci
Tangan pada Restoran Waralaba di Kota Padang Terhadap
Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus
Secara In Vitro. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol. 3. No. 3.

Burton, Maxine, Cobb, Emma, Donachie, Petter, Judah, Gaby, Curtis, Schmidt,
Wolf. 2011. The effect of handwashing with water or soap on
bacterial contamination of hands. Int. J. Environ. Res. Public Health.
Vol. 8. Page 97-104.
Dewi, I. M. 2008. Isolasi Bakteri dan Uji Aktifitas Kitinase Termofilik Kasar dari
Sumber Air Panas Tinggi Raja, Simalungun, Sumatera Utara. Tesis. Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Eko P, Rima, S, Innes, G, S. 2015. Kualitas Mikrobiologis Udara Di Salah Satu


Pusat Perbelanjaan Di Jakarta Selatan. Al-Kauniyah Jurnal Biologi Volume
8 Nomor 2.

Fitri, L, Yasmin, Y. 2011. Isolasi dan Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri


Kitinolitik. Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, Biologi Edukasi Volume 3,
Nomor 2.

Fatmasari, Diyah. 2015. Effektifitas Larutan Alkohol yang Berulang Kali Dipakai
dalam Daya Hambat Bakteri Streptococcus mutans. Semarang:
Poltekes Kemenkes Semarang.

Hadioetomo, Ratna Siri. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta :


Gramedia.

Hamdayati, Y. 2011. Pertumbuhan dan Pengendalian Mikroorganisme II.


Bandung : Universitas Pendididkan Indonesia
Hastuti, Utami Sri. 2012. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: UMM Press.

Iswadi, Samingan, Hendra Y. 2014. Identifikasi Jenis Bakteri Udara di Ruangan


Bersistem HVAC (Heating Ventilation And Air Conditioning). Prosiding
Seminar Nasional Biotik ISBN: 978-602-70648-0-5.

Lisyatustu, E. 2010. Jumlah Koloni Mikroorganisme Udara dalam Ruang dan


Hubungannya dengan Kejadian SickBuilding Syndrome (SBS) pada Pekerja
Balai BesarTeknologi Kekuatan Struktur (B2TKS) BPPT di Kawasan
Puspiptek Serpong Tahun 2010. Tesis. FKM Universitas Indonesia.

Naddafi, K., Jabbari, H., Hoseini, M., Nabizadeh, R., Rahbar, M., & Younesian,
M. 2011. Investigation of Indoor and Outdoor Air Bactrial Density in Tehran
Subway System. Iranian Journal of Environmental Health Science &
Engineering 8(4).

Suryanto, D, Munir, E, Yunarliza. 2005. Eksplorasi Bakteri Kitinolitik:


Keragaman Gen Penyandi Kitinse pada Berbagai Jenis Bakteri dan
Pemanfaatannya. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing Perguruan
Tinggi. Universitas Sumatra Utara.

Stryjakowska-Sekulska, M. 2007. Microbiological Quality of Indoor Air in


University Rooms. Polish Journal of Environments Study, 16.

Yusup, Y, Ahmad, M, I, Ismail, N. 2014. Indoor Air Quality of Typical Malaysian


Open-Air Restaurants. Environment and Pollution, 3(4).

Volk, Wesley A & Wheeler, Margaret F. 1988. Mikrobiologi Dasar. Jakarta:


Erlangga