You are on page 1of 32

ASUHAN KEPERAWATAN

GANGGUAN MENSTRUASI

Disusun oleh :
Sri Yuliana Fitri ( 0816060 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AL ISLAM


YOGYAKARTA
2017/ 2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Robbil ‘Alami, Segala puji bagi Allah SWT Tuhan Semesta Alam.
Atas segala karunia nikmatNya sehingga saya dapat menyusun makalah ini dengan sebaik-
baiknya. Makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Gangguan Menstruasi” disusun
dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah ‘’Keperawatan Maternitas II’’ yang
diampu oleh Ibu Heni Indrawati S.Kep.,Ners., MeEded

Meski telah disusun secara maksimal, namun penulis sebagai manusia biasa
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karenanya penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian.

Demikian apa yang bisa saya sampaikan, semoga pembaca dapat mengambil manfaat
dari karya ini.

Yogyakarta, 10 Februari 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara periodik darah dan sel-sel
tubuh dari vagina yang berasal dari dinding rahim wanita. Menstruasi dimulai saat
pubertas dan menandai kemampuan seorang wanita untuk mengandung anak, walaupun
mungkin faktor-faktor kesehatan lain dapat membatasi kapasitas ini. Menstruasi biasanya
dimulai antara umur 10 dan 16 tahun, tergantung pada berbagai faktor, termasuk
kesehatan wanita, status nutrisi, dan berat tubuh relatif terhadap tinggi tubuh. Menstruasi
berlangsung kira-kira sekali sebulan sampai wanita mencapai usia 45 – 50 tahun, sekali
lagi tergantung pada kesehatan dan pengaruh-pengaruh lainnya. Akhir dari kemampuan
wanita untuk bermenstruasi disebut menopause dan menandai akhir dari masa-masa
kehamilan seorang wanita. Panjang rata-rata daur menstruasi adalah 28 hari, namun
berkisar antara 21 hingga 40 hari. Panjang daur dapat bervariasi pada satu wanita selama
saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke bulan tergantung pada
berbagai hal, termasuk kesehatan fisik, emosi, dan nutrisi wanita tersebut.

Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler yang mempersiapkan tubuh wanita
setiap bulannya untuk kehamilan. Daur ini melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan
oleh interaksi hormon yang dikeluarkan oleh hipotalamus, kelenjar dibawah otak depan,
dan indung telur. Pada permulaan daur, lapisan sel rahim mulai berkembang dan
menebal. Lapisan ini berperan sebagai penyokong bagi janin yang sedang tumbuh bila
wanita tersebut hamil. Hormon memberi sinyal pada telur di dalam indung telur untuk
mulai berkembang. Tak lama kemudian, sebuah telur dilepaskan dari indung telur wanita
dan mulai bergerak menuju tuba Falopii terus ke rahim. Bila telur tidak dibuahi oleh
sperma pada saat berhubungan intim (atau saat inseminasi buatan), lapisan rahim akan
berpisah dari dinding uterus dan mulai luruh serta akan dikeluarkan melalui vagina.
Periode pengeluaran darah, dikenal sebagai periode menstruasi (atau mens, atau haid),
berlangsung selama tiga hingga tujuh hari. Bila seorang wanita menjadi hamil,
menstruasi bulanannya akan berhenti. Oleh karena itu, menghilangnya menstruasi
bulanan merupakan tanda (walaupun tidak selalu) bahwa seorang wanita sedang hamil.
Kehamilan dapat di konfirmasi dengan pemeriksaan darah sederhana.
B. Rumusan Masalah

1. Apakah definisi menstruasi ?


2. Bagaimana siklus menstruasi ?
3. Apakah definisi dari gangguan dalam menstruasi ?
4. Apakah definisi dari macam – macam gangguan dalam menstruasi ?
5. Bagaimana patofisiologi dari macam – macam gangguan dalam menstruasi ?
6. Bagaimana manifestasi klinis gangguan dalam mentruasi ?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis dari macam – macam gangguan dalam mentruasi ?
8. Bagaimana Web of Caution dari macam – macam gangguan dalam menstruasi ?
9. Bagaimana Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan dalam menstruasi ?

C. Tujuan

1. Menjelaskan definisi dari menstruasi


2. Menjelaskan siklus menstruasi
3. Menjelaskan definisi dari gangguan dalam menstruasi
4. Menjelaskan definisi dari macam – macam gangguan dalam menstruasi
5. Menjelaskan patofisiologi dari macam – macam gangguan dalam menstruasi
6. Menjelaskan manifestasi klinis gangguan dalam mentruasi
7. Menjelaskan penatalaksanaan medis dari macam – macam gangguan dalam mentruasi
8. Menjelaskan Web of Caution dari macam – macam gangguan dalam menstruasi
9. Menjelaskan Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan dalam menstruasi
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Menstruasi adalah perdarahan vagina secara berkala akibat terlepasnya lapisan


endometrium uterus. Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara
hipotalamus, hipofisis, dan ovarium dengan perubahan terkait pada jaringan sasaran pada
saluran reproduksi normal, ovarium memainkan peranan penting dalam proses ini,
karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan – perubahan siklik
maupun lama siklus menstruasi (Greenspan et al, 1998).

Menstruasi adalah keluarnya darah melalui vagina, yang berasal dari rahim,
berlangsung secara teratur, sebagai aspek dari kerja hormon-hormon retorik (Yanto
Kadarusman,2000).

Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan


pendarahan dan terjadi setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang
terjadi terus menerus setiap bulannya disebut sebagai siklus menstruasi. menstruasi
biasanya terjadi pada usia 11 tahun dan berlangsung hingga anda menopause (biasanya
terjadi sekitar usia 45 – 55 tahun). Normalnya, menstruasi berlangsung selama 3 – 7 hari.

B. Siklus Menstruasi Normal

Panjang siklus menstruasi ialah jarak antara tanggal mulainya menstruasi yang lalu
dan mulainya menstruasi berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama
siklus. Umumnya, jarak siklus menstruasi berkisar dari 15-45 hari dengan rata-rata 28
hari. Lamanya berbeda-beda antara 2-8 hari, dengan rata-rata 4-6 hari (Price & Wilson,
2006:1281). Panjang daur menstruasi dapat bervariasi pada satu wanita selama saat-saat
yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke bulan tergantung pada berbagai
hal, termasuk kesehatan fisik, emosi, dan nutrisi wanita tersebut (Wiknjosastro, 2005).
Darah menstruasi biasanya tidak membeku. Jumlah kehilangan darah tiap siklus berkisar
60-80 ml. Kira-kira tiga per empat darah ini hilang dalam dua hari pertama. Wanita
berusia <35 tahun cenderung kehilangan lebih banyak darah dibanding mereka yang
berusia >35 tahun (Benson, 2009).
Price & Wilson (2006:1281) membagi siklus menstruasi menjadi dua yaitu siklus
ovarium dan endometrium dimana kedua siklus tersebut saling mempengaruhi.
1. Siklus Ovarium

a. Fase Folikular

Siklus diawali hari pertama menstruasi, atau terlepasnya endometrium. FSH


merangsang pertumbuhan beberapa folikel primordial dalam ovarium. Umumnya
hanya satu terus berkembang dan menjadi folikel deGraaf dan yang lainnya
berdegenerasi. Folikel terdiri dari sebuah ovum dan dua lapisan sel yang
mengelilinginya. Lapisan dalam yaitu sel-sel granulosa mensintesis progesteron
yang disekresi ke dalam cairan folikular selama paruh pertama siklus menstruasi,
dan bekerja sebagai prekusor dalam sintesis estrogen oleh lapisan sel teka interna
yang mengelilinginya.

Estrogen disintesis dalam sel-sel lutein pada teka interna. Jalur biosintesis
estrogen berlangsung dari progesteron dan pregnenolon melalui 17-hidroksilasi
turunan dari androstenedion, testosteron dan estradiol. Kandungan enzim
aromatisasi yang tinggi pada sel-sel ini mempercepat perubahan androgen menjadi
estrogen. Folikel, oosit primer mulai menjalani proses pematangannya. Pada waktu
yang sama, folikel yang sedang berkembang menyekresi estrogen lebih banyak ke
dalam sistem ini. Kadar estrogen yang meningkat menyebabkan pelepasan LHRH
melalui mekanisme umpan balik positif.

b. Fase Luteal

LH merangsang ovulasi dari oosit yang matang. Tepat sebelum ovulasi, oosit
primer selesai menjalani pembelahan meiosis pertamanya. Kadar estrogen yang
tinggi kini menghambat produksi FSH. Kemudian kadar estrogen mulai menurun.
Setelah oosit terlepas dari folikel deGraaf, lapisan granulosa menjadi banyak
mengandung pembuluh darah dan sangat terluteinisasi, berubah menjadi korpus
luteum yang berwarna kuning pada ovarium. Korpus luteum terus mensekresi
sejumlah kecil estrogen dan progesteron yang semakin lama semakin meningkat.
2. Siklus Endometrium

a. Fase Proliferasi

Segera setelah menstruasi, endometrium dalam keadaan tipis dan dalam stadium
istirahat. Stadium ini berlangsung kira-kira selama 5 hari. Kadar estrogen yang
meningkat dari folikel yang berkembang akan merangsang stroma endometrium
untuk mulai tumbuh dan menebal, kelenjar-kelenjar menjadi hipertropi dan
berproliferasi, dan pembuluh darah menjadi banyak sekali. Kelenjar-kelenjar dan
stroma berkembang sama cepatnya. Kelenjar makin bertambah panjang tetapi tetap
lurus dan berbentuk tubulus. Epitel kelenjar berbentuk toraks dengan sitoplasma
eosinofilik yang seragam dengan inti di tengah. Stroma cukup padat pada lapisan
basal tetapi makin ke permukaan semakin longgar. Pembuluh darah akan mulai
berbentuk spiral dan lebih kecil. Lamanya fase proliferasi sangat berbeda-beda
pada setiap orang dan berakhir pada saat terjadinya ovulasi.

b. Fase Sekresi

Setelah ovulasi, dibawah pengaruh progesteron yang meningkat dan terus


diproduksinya estrogen oleh korpus luteum, endometrium menebal dan menjadi
seperti beludru. Kelenjar menjadi lebih besar dan berkelok-kelok, dan epitel
kelenjar menjadi berlipat-lipat, sehingga memberikan seperti gambaran “gigi
gergaji”. Inti sel bergerak ke bawah, dan permukaan epitel tampak kusut. Stroma
menjadi edematosa. Terjadi pula infiltrasi leukosit yang banyak dan pembuluh
darah menjadi makin berbentuk spiral dan melebar. Lamanya fase sekresi pada
setiap perempuan 14±2 hari.

c. Fase Menstruasi
Korpus luteum berfungsi sampai kira-kira hari ke-23 atau 24 pada siklus 28
hari dan kemudian mulai beregresi. Akibatnya terjadi penurunan progesteron dan
estrogen yang tajam sehingga menghilangkan perangsangan pada endometrium.
Perubahan iskemik terjadi pada arteriola dan diikuti dengan menstruasi.
C. Gangguan Menstruasi

Gangguan menstruasi merupakan suatu permasalahan yang berhubungan dengan haid,


baik itu gangguan menurut ritme (siklus menstruasi), gangguan menurut perdarahan
(banyaknya dan lamanya) maupun gangguan yang terjadi diluar haid dan pada saat haid.
Gangguan yang terjadi saat haid dinilai masih normal jika terjadi selama dua tahun
pertama setelah haid kali pertama. Artinya, bila seorang perempuan telah mendapatkan
haid pertamanya saat berusia 11 tahun, maka hingga usia 13 tahun haidnya masih tidak
teratur. Tapi bila setelah usia 13 tahun haidnya masih tidak teratur juga, dipastikan ia
mengalami gangguan haid.

Terjadinya menstruasi atau haid merupakan perpaduan antara kesehatan alat genitalia
dan rangsangan hormonal yang kompleks yang berasal dari mata rantai aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium (Manuaba, 1998). Oleh karena itu, gangguan haid dan
gangguan siklus haid dapat terjadi dari kelainan kedua faktor tersebut.

Gangguan menstruasi merupakan kelainan pada keadaan menstruasi yang dapat


berupa kelainan atau kelainan dari jumlah darah yang dikeluarkan dan lamanya
perdarahan.Konsep disfungsi menstruasi secara umum adalah terjadinya gangguan dari
pola perdarahan menstruasi, seperti menorraghia (perdarahan banyak dan lama),
oligomenorrhea (menstruasi yang jarang) polymenorrhea (menstruasi yang
sering),amenorrhea (tidak haid sama sekali) (Eny K., 2011). Gangguan perdarahan
menstruasi dapat menimbulkan risiko patologis apabila dihubungkan dengan banyaknya
kehilangan darah, mengganggu aktivitas sehari-hari, adanya indikasi inkopatibel ovarium
pada saat kosepsi atau adanya tanda-tanda kanker.

D. Klasifikasi

Menurut Manuaba (1998 & 2004) terdapat beberapa bentuk kelainan haid dan siklus haid
masa reproduksi aktif sebagai berikut:

1. Perdarahan Uterus Abnormal

a. Hipermenore (Menorraghia)

1) Definisi
Hipermenore adalah perdarahan berkepanjangan atau berlebihan pada waktu
menstruasi teratur. Bisa disebut juga dengan perdarahan haid yang jumlahnya
banyak hingga 6-7 hari, ganti pembalut 5-6 kali/hari tetapi masih memiliki siklus-
siklus yang teratur.
Pada hipermenore perdarahan menstruasi berat berlangsung sekitar 8-10 hari
dengan kehilangan darah lebih dari 80ml.

2 ) Etiologi

40-60% wanita yang mengaku mengalami perdarahan hebat saat haid tidak
ada patologi pada sistem reproduksinya dan hal ini disebut perdarahan uterus
disfungsional.
a) Penyebab lokal seperti : myomata, endometril polip, uterus retro versi,
first menstrual period after childbirth or abortion (MPT), tumor sel
granulosa di ovarium.
b) Penyakit sistemik : seperti hipertiroidisme dan gangguan perdarahan.
c) Penggunaan IUCD (Intra Uterine Contraceptive Device). Penggunaan
IUCD akan meningkatkan aliran menstruasi.
d) Hypopalsia Uteri, menurut beratnya hipoplasia dapat mengakibatkan
amenorrhoe (uterus sangat kecil), hipermenorrhoe (uterus kecil jadi luka
kecil).
e) Astheni, Menorrhagia terjadi karena tonus otot pada umumnya kurang.
f) Sealama atau sesudah menderita suatu penyakit atau karena terlalu lelah,
juga karena tonus otot kurang.
g) Hypertensi.
h) Decompensatio cordis.
i) Infeksi : endometriosis, salphingitis.
j) Retroflexio uteri, karena kandungan pembuluh darah balik.
k) Penyakit darah : Hemofili

3 ) Patofisiologi
Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi Gonadotropin releasing
hormon (GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan Folicle-
stimulating hormone (FSH). Hal ini pada gilirannya menyebabkan folikel di
ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus, pelepasan leteinzing hormon
(LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan folikel menghasilkan
esterogen yang berfungsi menstimulasi endometrium agar berproliferasi. Setelah
ovum dilepaskan kadar FSH dan LH rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum
akan berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum akan mensekresi
progesteron. Progesteron menyebabkan poliferasi endometrium untuk
berdeferemnsiasi dan stabilisasi. 14 hari setelah ovulasi terjadilah menstruasi.
Menstruasi berasal dari dari peluruhan endometrium sebagai akibat dari
penurunan kadar esterogen dan progesteron akibat involusi korpus luteum.

Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah menstruasi


awal yang disebabkan oleh HPO axis yang belum matang. Siklus anovulasijuga
terjadi pada beberapa kondisi patologis.

Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya stimulasi


dari FSH, tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak terjadi. Akibatnya
tidak ada korpus luteum yang terbentuk dan tidak ada progesteron yang disekresi.
Endometrium berplroliferasi dengan cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi
esterogen menurun dan mengakibatkan perdarahan. Kebanyakan siklus anovulasi
berlangsung dengan pendarahan yang normal, namun ketidakstabilan poliferasi
endometrium yang berlangsung tidak mengakibatkan pendarahan hebat.

4 ) Manifestasi klinis

Menorrhagia yang berat dapat menyebabkan anemia.


Gejala lain yang dapat menyertainya antara lain :
a) Sakit kepala
b) Kelemahan
c) Kelelahan
d) Kesemutan pada kaki dan tangan
e) Meriang
f) Penurunan konsentrasi

5 ) Terapi
Terapi spesifik untuk menorrhagia diberikan berdasarkan :
a) Umur dan riwayat kesehatan
b) Kondisi sebelumnya
c) Toleransi pada terapi pengobatan spesifik

Terapi untuk menorrhagia, yaitu :


a) Suplemen zat besi (jika kondisi menorrhagia disertai anemia, kelainan
darah yang disebabkan oleh defisiensi sel darah merah atu hemoglobin).
b) Prostaglandin inhibitor seperti medications (NSAID), seperti aspirin atau
ibuprofen.
c) Kontrasepsi oral (ovulation inhibitor)
d) Progesteron (terapi hormon)
e) Hysteroctomy (operasi untuk menghilangkan uterus)
b. Amenore
1 ) Definisi
Amenore bukan suatu penyakit tetapi merupakan gejala. Amenore adalah tidak
adanya haid selama 3 bulan atau lebih. Klasifikasi amenore :

a) Amenore primer, tejadi apabila seseorang wanita belum pernah mendapat


menstruasi dan tidak boleh didiagnosa sebelum pasien mencapai usia 18
tahun
b) Amenore sekunder ialah hilangnya haid selama menarche
c) Amenore yang normal hanya terjadi sebelum masa pubertas, selama
kehamilan, selama menyusui dan setelah menapause.

2 ) Etiologi
a) Tertundanya menarke ( menstruasi pertama )
b) Kelainan bawaan pada pada sistem kelamin ( misalnya tidak memiliki
rahim atau vagina, adanya sekat pada vagina, serviks yang sempit, lubang
pada selaput yang menutupi vagina terlalu sempit / himen imperforata )
c) Penurunan berat badan yang drastis ( akibat kemiskinan, diet berlebihan,
anoreksia nervosa, bulimia, dan lain – lain )
d) Kelainan bawaan pada sistem kelamin
e) Obesitas yang ekstrim
f) Hipoglikemia
g) Disgenesis gonad
h) Hipogonadisme hipogonadotropik
i) Sindroma feminisasi testis
j) Hermafrodit sejati
k) Penyakit menahun
l) Kekurangan gizi
m) Penyakit Cushing
n) Fibrosis kistikPenyakit jantung bawaan ( sianotik )
o) Kraniofaringioma, tumor ovarium, tumor adrenal
p) Hipotiroidisme
q) Sindroma adrenogenital
r) Sindroma Prader-willi
s) Penyakit ovarium polikista
t) hiperplasia adrenal kongenital

Penyebab amenore sekunder

a) Kehamilan
b) Kecemasan akan kehamilan
c) Penurunan berat badan yang drastis
d) Olah raga yang berlebihan
e) Lemak tubuh kurang dari 15 – 17 % extreme
f) Mengkonsumsi hormon tambahan
g) Obesitas
h) Stres emosional
i) Menopause
j) Kelinan endrokin ( misalnya sindorma Cushing yang menghasilkan
sejumlah besar hoemon kortisol oleh kelenjar adrenal )
k) Obat – obatan ( misalnya busulfan, klorambusil, siklofosfamid, pil KB,
fenotiazid )
l) Prosedur dilatasi kuratesa
m) Kelainan pada rahim, seperti mola hidatidosa ( tumor plasenta ) dan
sindrom Asherman ( pembentukan jaringan parut pada lapisan rahim
akibat infeksi atau pembedahan )
3 ) Patofisiologi
Tidak adanya uterus, baik itu sebagai kelainan atau sebagai bagian dari
sindrom hemaprodit seperti testicular feminization, adalah penyebab utama dari
amenore primer. Testicular feminization disebabkan oleh kelainan genetik. Pasien
dengan aminore primer yang diakibatkan oleh testicular feminization
menganggap dan menyampaikan dirinya sebagai wanita yang normal, memiliki
tubuh feminin. Vagina kadang – kadang tidak ada atau mengalami kecacatan, tapi
biasanya terdapat vagina. Vagina tersebut berakhir sebagai kantong kosong dan
tidak terdapat uterus. Gonad, yang secara morfologi adalah testis berada di kanal
inguinalis. Keadaan seperti ini menyebabkan pasien mengalami amenore yang
permanen.
Amenore primer juga dapat diakibatkan oleh kelainan pada aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hypogonadotropic amenorrhoea menunjukkan
keadaan dimana terdapat sedikit sekali kadar FSH dan SH dalam serum.
Akibatnya, ketidakadekuatan hormon ini menyebabkan kegagalan stimulus
terhadap ovarium untuk melepaskan estrogen dan progesteron. Kegagalan
pembentukan estrogen dan progesteron akan menyebabkan tidak menebalnya
endometrium karena tidak ada yang merasang. Terjadilah amenore. Hal ini adalah
tipe keterlambatan pubertas karena disfungsi hipotalamus atau hipofosis anterior,
seperti adenoma pitiutari.

Hypergonadotropic amenorrhoea merupakan salah satu penyebab amenore


primer. Hypergonadotropic amenorrhoea adalah kondisi dimnana terdapat kadar
FSH dan LH yang cukup untuk menstimulasi ovarium tetapi ovarium tidak
mampu menghasilkan estrogen dan progesteron. Hal ini menandakan bahwa
ovarium atau gonad tidak berespon terhadap rangsangan FSH dan LH dari
hipofisis anterior. Disgenesis gonad atau prematur menopause adalah penyebab
yang mungkin. Pada tes kromosom seorang individu yang masih muda dapat
menunjukkan adanya hypergonadotropic amenorrhoea. Disgenesis gonad
menyebabkan seorang wanita tidak pernah mengalami menstrausi dan tidak
memiliki tanda seks sekunder. Hal ini dikarenakan gonad ( oavarium ) tidak
berkembang dan hanya berbentuk kumpulan jaringan pengikat.

Amenore sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar fungsi hipotalamus-


hipofosis-ovarium. Hal ini berarti bahwa aksis hipotalamus-hipofosis-ovarium
dapat bekerja secara fungsional. Amenore yang terjadi mungkin saja disebabkan
oleh adanya obstruksi terhadap aliran darah yang akan keluar uterus, atau bisa
juga karena adanya abnormalitas regulasi ovarium sperti kelebihan androgen
yang menyebabkan polycystic ovary syndrome.
4 ) Manifestasi Klinis
Manifestasi klinisnya bervariasi, tergantung penyebabnya.

a) Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka tidak akan


ditemukan tanda – tanda pubertas seperti pembesaran payudara,
pertumbuhan rambut kemaluan dan rambut ketiak serta perubahan bentuk
tubuh.
b) Jika penyebanya adalah kehamilan, akan ditemukan morning sickness dan
pembesaran perut.
c) Jika penyebabnya adalah kadar hoemon tiroid yang tinggi maka gejalanya
adalah denyut jantung yang cepat, kecemasan, kulit yang hangat dan
lembab.
d) Sindroma Cushing menyebabkan wajah bulat ( moon face ), perut buncit,
dan lengan serta tungkai yang lurus.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada amenore :
a) Sakit kepala
b) Galaktore ( pembentukan air susu pada wanita yang tidak hamil dan tidak
sedang menyusui )
c) Gangguan penglihatan ( pada tumor hipofisa )
d) Penurunan atau penambahan berat badan yang berarti
e) Vagina yang kering
f) Hirsutisme ( pertumbuhan rambut yang berlebihan, yang mengikuti pola
pria ), perubahan suara dan perubahan ukuran payudara.

5 ) Terapi
Pengobatan untuk kasus amenore tergantung kepada penyebabnya.
a) Jika penyebanya adalah penurunan berat badan yang drastis atau
obesitas, penderita dianjurkan untuk menjalani diet yang tepat.
b) Jika penyebabnya adalah olah raga yang berlebihan, penderita
dianjurkan untuk menguranginya.
c) Jika seorang anak perempuan yang belum pernah mengalami
menstruasi ( amenore primer ) dan selama hasil pemeriksaan normal,
maka dilakukan pemeriksaan setiap 3 – 6 bulan untuk memantau
perkembangan pubertasnya.
2. Premenstrual Tension (Ketegangan Prahaid)
a. Definisi
Keteganagan prahaid adalah keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu
minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya haid dan menghilang sesudah
haid datang walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai haid berhenti.

b. Etiologi
Etiologi ketegangan prahaid tidak jelas, tetapi mungkin faktor penting ialah
ketidakseimbangan esterogen dan progesteron dengan akibat retensi cairan dan
natrium, penambahan berat badan, dan kadang-kadang edema. Dalam hubungan
dengan kelainan hormonal, pada tegangan prahaid terdapat defisiensi luteal dan
pengurangan produksi progesteron.

Faktor kejiwaan, masalah dalam keluarga, masalah sosial, dll.juga memegang


peranan penting. Yang lebih mudah menderita tegangan prahaid adalah wanita
yang lebih peka terhadap perubahan hormonal dalam siklus haid dan terhadap
faktor-faktor psikologis.

c. Patofisiologi
Meningkatnya kadar esterogen dan menurunnya kadar progesteron di dalam
darah, yang akan menyebabkan gejala deprese dan khususnya gangguan mental.
Kadar esterogen akan mengganggu proses kimia tubuh ternasuk vitamin B6
(piridoksin) yang dikenal sebagai vitaminanti depresi karena berfungsi
mengontrol produksi serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak dan syaraf, dan
kurangnya persediaan zat ini dalam jumlah yang cukup dapat mengakibatkan
depresi.

Hormon lain yang dikatakan sebagai penyebab gejala premenstruasi adalah


prolaktin. Prolaktin dihasilkan sebagai oleh kelenjar hipofisis dan dapat
mempengaruhi jumlah esterogen dan progesteron yang dihasilkan pada setiap
siklus. Jumlah prolaktin yang terlalu banyak dapat mengganggu keseimbangan
mekanisme tubuh yang mengontrol produksi kedua hormon tersebut. Wanita
yang mengalami sindroma pre-menstruasi tersebut kadar prolaktin dapat tinggi
atau normal.

Gangguan metabolisme prostaglandin akibat kurangnya gamma linolenic acid


(GLA). Fungsi prostaglandin adalah untuk mengatur sistem reproduksi (mengatur
efek hormon esterogen, progesterone), sistem saraf, dan sebagai anti peradangan.

d. Manifestasi Klinis

Keluhan terdiri dari gangguan emosional berupa iritabilitas, gelisah, insomnia,


nyeri kepala, perut kembung, mual, pembesaran dan rasa nyeri pada mammae,
dsb. Sedang pada kasus yang berat terdapat depresi, rasa ketakutan, gangguan
konsentrasi, dan peningkatan gejala-gejal fisik tersebut diatas.

e. Terapi
1) Progesteron sintetik dosis kecil dapat diberikan selama 8 jam sampai 10
hari sebelum haid
2) Metiltestosteron 5mg sebagai tablet isap, jangan lebih dari 7 hari
3) Pemberian diuretik selama 5 hari dapat bermanfaat
4) Pemakaian garam dibatasi dan minum sehari-hari dikurang selama 7-10
hari sebelum haid
5) Psikoterapi suportif
3. Disminorea

a. Definisi
Disminorea adalah nyeri haid menjelang atau selama haid, sampai membuat
wanita tersebut tidak dapat bekerja dan harus tidur. Nyeri sering bersamaan
dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan, lekas marah. Dikenal
adanya disminore primer dan sekunder.
Nyeri haid atau disminorea ada dua macam :

1) Nyeri haid primer


Timbul sejak haid pertama dan akan pulih sendiri dengan berjalannya waktu,
tepatnya setelah stabilnya hormon tubuh atau perubahan posisi rahim setelah
menikah dan melahirkan. Nyeri haid itu normal, namun dapat berlebihan jika
dipengaruhi oleh faktor psikis dan fisik, dan seperti stres, shock, penyempitan
pembuluh darah, penyakit yang menahun, kurang darah, dan kondisi tubuh yang
menurun. Gejala tersebut tidak membahayakan kesehatan.

2) Nyeri haid sekunder


Biasanya baru muncul kemudian, yaitu jika ada penyakit atau kelainan yang
menetap seperti infeksi rahim, kista atau polip, tumor sekitar kandungan, kelainan
kedudukan rahim yang mengganggu organ dan jaringan di sekitarnya.

b. Etiologi
Penyebab pasti disminore primer belum diketahui. Diduga faktor psikis sangat
berperan terhadap timbulnya nyeri. Disminore primer umumnya dijumpai pada
wanita dengan siklus haid berovulasi. Penyebab tersering disminore sekunder
adalah endometriosis dan infeksi kronik genitalia interna
1) Pada disminorea primer :

Bila tidak terjadi kehamilan, maka korpus luteum akan mengalami regresi
dan hal ini akan mengakibatkan penurunan kadar progesteron. Penurunan ini
akan mengakibatkan labilisasi membran lisosom, sehingga mudah pecah dan
melepaskan enzim fosfolipase A2. Fosfolipase A2 ini akan menghidrolisis
senyawa fosfolipid yang ada di membran sel endometrium menghasilkan asam
arakhidonat. Adanya asam arakhidonat bersama dengan kerusakan
endometrium akan merangsang kaskade asam arakhidonat yang akan
menghasilkan prostaglandin, antara lain PGE2 dan PGF2 alfa. Wanita dengan
disminorea primer didapatkan adanya peningkatan kadar PGE dan PGF2 alfa
di dalam darahnya, yang akan merangsang miometrium dengan akibat
terjadinya peningkatan kontraksi dan distrimi uterus. Akibatnya akan terjadi
penurunan aliran darah ke uterus dan ini akan mengakibatkan iskemia.
Prostaglandin sendiri dan endoperoksid juga menyebabkan sensitisasi dan
selanjutnya menurunkan ambang rasa sakit pada ujung-ujung syaraf aferen
nervus pelvicus terhadap rangsang fisik dan kimia.

2) Pada disminorea sekunder :

Adanya kelainan pelvis, misalnya : endometriosis, mioma uteri, stenosis


serviks, malposisi uterus atau adanya IUD dapat menyebabkan kram pada
uterus sehingga timbul rasa nyeri

c. Patofisiologi

Meningkatnya kadar esterogen dan menurunnya kadar progesteron di dalam


darah, yang akan menyebabkan gejala deprese dan khususnya gangguan mental.
Kadar esterogen akan mengganggu proses kimia tubuh ternasuk vitamin B6
(piridoksin) yang dikenal sebagai vitaminanti depresi karena berfungsi
mengontrol produksi serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak dan syaraf, dan
kurangnya persediaan zat ini dalam jumlah yang cukup dapat mengakibatkan
depresi.

Hormon lain yang dikatakan sebagai penyebab gejala premenstruasi adalah


prolaktin. Prolaktin dihasilkan sebagai oleh kelenjar hipofisis dan dapat
mempengaruhi jumlah esterogen dan progesteron yang dihasilkan pada setiap
siklus. Jumlah prolaktin yang terlalu banyak dapat mengganggu keseimbangan
mekanisme tubuh yang mengontrol produksi kedua hormon tersebut. Wanita yang
mengalami sindroma pre-menstruasi tersebut kadar prolaktin dapat tinggi atau
normal.

Gangguan metabolisme prostaglandin akibat kurangnya gamma linolenic acid


(GLA). Fungsi prostaglandin adalah untuk mengatur sistem reproduksi (mengatur
efek hormon esterogen, progesterone), sistem saraf, dan sebagai anti peradangan.
d. Manifestasi Klinis
Disminore Primer
1) Usia lebih muda
2) Timbul setelah terjadinya siklus haid yang teratur
3) Sering pada nulipara
4) Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastik
5) Nyeri timbul mendahului haid
6) Nyeri meningkat pada hari pertama dan kedua saat haid
7) Tidak dijumpai keadaan patologi pelvik
8) Hanya terjadi pada siklus haid yang ovulatorik
9) Sering memberikan respons terhadap pengobatan medikamentosa
10) Pemeriksaan pelvik normal
11) Sering disertai nausea, muntah, diare, kelelahan, dan nyeri kepala

Disminore Sekunder

1) Usia lebih tua


2) Cenderung timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur
3) Tidak berhubungan dengan paritas
4) Nyeri sering terasa terus-menerus dan tumpul
5) Neri dimulai saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah
6) Berhubungan dengan kelainan pelvik
7) Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi
8) Seringkali memerlikan tindakan operatif
9) Terdapat kelainan pelvik

e. Terapi
1) Penerangan dan nasihat
Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa disminore adalah gangguan yang
tidak berbahaya untuk kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi
mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, lingkungan penderita. Nasihat-
nasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olahraga mungkin
berguna. Kadang-kadang diperlukan psikoterapi.
2) Pemberian obat analgesik
Dewasa ini telah banyak beredar obat-obat analgesik yang dapat diberikan
sebagai terapi simptomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di
tempat tidur dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi
penderitaan.
Obat analgesik yang sering diberikan adalah preparat kombinasi aspirin,
fenasetin, dan kafein. Obat-obat paten beredar di pasaran ialah antara novalgin,
ponstan, acet-aminophen dan sebagainya.

3) Terapi hormonal
Tujuan terapi hormonal ialah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat
sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar
disminore primer, atau untuk memungkinkan penderita melaksanakan
pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai
dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi.

4) Terapi dengan obat nonstreoid antiprostaglandin


Memegang peranan yang makin penting terhadap disminore primer. Termasuk
disini indometasin, ibuprofen, dan naproksen dalam kurang lebih 70%
penderita dapat disembuhkan atau mengalami banyak perbaikan. Hendaknya
pengobatan diberikan sebelum haid mulai 1 sampai 3 hari sebelum haid dan
pada hari pertama haid.

E. ANATOMI FISIOLOGI
Pada siklus menstruasi normal, terdapat produksi hormon-hormon yang paralel
dengan pertumbuhan lapisan rahim untuk mempersiapkan implantasi (perlekatan) dari
janin (proses kehamilan). Gangguan dari siklus menstruasi tersebut dapat berakibat
gangguan kesuburan, abortus berulang, atau keganasan. Gangguan dari sikluas
menstruasi merupakan salah satu alasan seorang wanita berobat ke dokter.
Siklus menstruasi normal berlangsung selama 21-35 hari, 2-8 hari adalah waktu
keluarnya darah haid yang berkisar 20-60 ml per hari. Penelitian menunjukkan wanita
dengan siklus mentruasi normal hanya terdapat pada 2/3 wanita dewasa, sedangkan pada
usia reproduksi yang ekstrim (setelah menarche <pertama kali terjadinya menstruasi>
dan menopause) lebih banyak mengalami siklus yang tidak teratur atau siklus yang tidak
mengandung sel telur. Siklus mentruasi ini melibatkan kompleks hipotalamus-hipofisis-
ovarium.
Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis merangsang
perkembangan folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya hanya 1
folikel yang terangsang namun dapat perkembangan dapat menjadi lebih dari 1, dan
folikel tersebut berkembang menjadi folikel de graaf yang membuat estrogen. Estrogen
ini menekan produksi FSH, sehingga hipofisis mengeluarkan hormon yang kedua yaitu
LH. Produksi hormon LH maupun FSH berada di bawah pengaruhreleasing hormones
yang disalurkan hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme
umpan balik estrogen terhadap hipotalamus. Produksi hormon gonadotropin (FSH dan
LH) yang baik akan menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang mengandung
estrogen. Estrogen mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh
LH, folikel de graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi.

Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus luteum,
di bawah pengaruh hormon LH dan LTH (luteotrophic hormones, suatu hormon
gonadotropik). Korpus luteum menghasilkan progesteron yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka korpus luteum
berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron. Penurunan
kadar hormon ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan pelepasan dari
endometrium. Proses ini disebut haid atau menstruasi. Apabila terdapat pembuahan
dalam masa ovulasi, maka korpus luteum tersebut dipertahankan.
Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu:
1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu endometrium
(selaput rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan hormon-hormon
ovarium berada dalam kadar paling rendah
2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Setelah
menstruasi berakhir, dimulailah fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari
desidua fungsionalis untuk mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada
fase ini endometrium tumbuh kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi
pelepasan sel telur dari indung telur (disebut ovulasi)
3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi. Hormon
progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan endometrium untuk
membuat kondisi rahim siap untuk implantasi (perlekatan janin ke rahim)
Siklus ovarium :
1. Fase folikular. Pada fase ini hormon reproduksi bekerja mematangkan sel telur
yang berasal dari 1 folikel kemudian matang pada pertengahan siklus dan siap
untuk proses ovulasi (pengeluaran sel telur dari indung telur). Waktu rata-rata
fase folikular pada manusia berkisar 10-14 hari, dan variabilitasnya
mempengaruhi panjang siklus menstruasi keseluruhan
2. Fase luteal. Fase luteal adalah fase dari ovulasi hingga menstruasi dengan jangka
waktu rata-rata 14 hari
Siklus hormonal dan hubungannya dengan siklus ovarium serta uterus di dalam siklus
menstruasi normal:
1. Setiap permulaan siklus menstruasi, kadar hormon gonadotropin (FSH, LH)
berada pada level yang rendah dan sudah menurun sejak akhir dari fase luteal
siklus sebelumnya
2. Hormon FSH dari hipotalamus perlahan mengalami peningkatan setelah akhir
dari korpus luteum dan pertumbuhan folikel dimulai pada fase folikular. Hal ini
merupakan pemicu untuk pertumbuhan lapisan endometrium
3. Peningkatan level estrogen menyebabkan feedback negatif pada pengeluaran FSH
hipofisis. Hormon LH kemudian menurun sebagai akibat dari peningkatan level
estradiol, tetapi pada akhir dari fase folikular level hormon LH meningkat drastis
(respon bifasik)
4. Pada akhir fase folikular, hormon FSH merangsang reseptor (penerima) hormon
LH yang terdapat pada sel granulosa, dan dengan rangsangan dari hormon LH,
keluarlah hormon progesteron
5. Setelah perangsangan oleh hormon estrogen, hipofisis LH terpicu yang
menyebabkan terjadinya ovulasi yang muncul 24-36 jam kemudian. Ovulasi
adalah penanda fase transisi dari fase proliferasi ke sekresi, dari folikular ke luteal
6. Kedar estrogen menurun pada awal fase luteal dari sesaat sebelum ovulasi sampai
fase pertengahan, dan kemudian meningkat kembali karena sekresi dari korpus
luteum
7. Progesteron meningkat setelah ovulasi dan dapat merupakan penanda bahwa
sudah terjadi ovulasi
8. Kedua hormon estrogen dan progesteron meningkat selama masa hidup korpus
luteum dan kemuadian menurun untuk mempersiapkan siklus berikutnya

F. Pemeriksaan Penunjang

Apabila pemeriksaan klinis tidak memberikan gambaran yang jelas dapat dilakukan
pemeriksaan :

1. Rontgen : thorax terhadap tuberkulosis serta sella tursika


2. Sitologi vagina
3. Tes toleransi glukosa
4. Pemeriksaan mata untuk mengetahui tanda tumor hipofise
5. Kerokan uterus
6. Pemeriksaan metabolisme basal atau T3 dan T4 tiroid
7. Laparoskopi
8. Pemeriksaan kromatin seks
9. Pemeriksaan kadar hormon
G. WOC

H. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas

1) Nama
2) Umur
3) Alamat
4) Status
5) No MR
6) Penanggung jawab

b. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya klien mengatakan tidak ada mengalami penyakit yang sama seperti saat
ini, biasanya klien mengatakan pola kebiasaan yang tidak sehat, gaya hidup dan
nutrisi yan tidak baik.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien merasakan demam,nyeri dibagian abdomen, klien mengatakan tidak
bisa beraktifitas,klien biasanya mengatakan badan terasa demam, klien biasanya
mengatakan cemas terhadap penyakit yang diderita sekarang.
3) Riwayat penyakit keluarga
Biasanya klien mengatakan tidak ada keluarga yang mengalami penyakit yang
sama seperti klien.

c. Pemeriksaan fisik

1) Kepala dan wajah: Rambut bisanya berwarna hitam, tidak oedema,tidak ada
lesi, wajah biasanya oval
2) Mata : Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis
3) Leher : Biasanya JVP dalam normal
4) Abdomen (Perut)
Inspeksi : biasanya simetris kiri dan kanan, tidak ada tonjolan, tidak ada
kelainan umbilikus dan adanya pergerakan didindng abdomen
Auskultasi : biasanya suara peristaltik (bising usus) di semua kuadran (bagian
diafragma dari stetoskop
Palpasi : biasanya turgor kulit baik, hepar tidak teraba
Perkusi : biasanya tympani

5) Thorak (dada)
Inspeksi : Biasanya ditemukan ketidaksimetrisan rongga dada dan tulang
belakang
Palpasi : Taktil fremitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : Cuaca resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : Biasanya vesikuler

6) Jantung
inspeksi : Biasanya Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : BiasanyaIctus cordis tidak teraba
Perkusi : Biasanya pekak
Auskultasi : Biasanya irama jantung teratur

7) Kesadaran
Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah, klien dapat
mengeluh pusing dan gelisah.

8) Ekstermitas
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis,biasanya tidak ada perubahan
gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality dan nyeri spinal.

d. Pengkakjian bio-psiko-sosisal dan spiritual


1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
a) Biasanya pasien tidak menengetahui tentang penyakit
b) Biasanya pasien kebiasaan minum alkohol, kafein
2) Pola aktivitas dan latihan
a) Jarang berolah raga
b) Istirahat kurang dari kebutuhan
3) Pola tidur dan istirahat
b) Biasanya tidur terganggu karena adanya nyeri
4) Pola reproduksi seksualitas
a) Usia remaja dan dewasa
5) Pola mekanisme koping terhadap stres
a) Stres, cemas karena penyakitnya
2. Diagnosa
a. Nyeri akut b.d peningkatan kontraksi uterus saat menstruasi
b. Intoleran aktivitas b.d kelemahan akibat anemia
c. Ansietas b.d ketidaktahuan penyebab nyeri abdomen
3. Intervensi

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI

1. Nyeri akut b.d - Pain level Pain management


Peningkatan kontraksi - Pain control  Lakukan
uterus saat menstruasi- Comfort level pengakajian nyeri
Karakteristik hasil : secara
 Mampu mengontrol komprehensif
nyeri. termasuk lokasi,
 Mampu mengetahuai karakteristik, durasi,
penyebab nyeri. frekuensi, kualitas
 Mampu dan faktor
menggunakan teknik presipitasi.
nonfarmakologi  Observasi reaksi
untuk mengurangi nonverbal dari
nyeri. ketidaknyamanan.
 Mampu melaporkan  Gunakan teknik
bahwa nyeri komunikasi
berkurang dengan teraupetik untuk
menggunakan mengetahui
menajemen nyeri. pengalaman nyeri
 Mampu mengenali pasien.
nyeri  Kaji kultur yang
 Pasien merasa mempengaruhi
nyaman setelah nyeri respon nyeri.
berkurang.  Evaluasi
pengalaman nyeri
masa lampau.
 Evaluasi bersama
pasien dan tim
kesehatan lain
tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri masa
lampau.
 Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan
dukungan.

 Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayaan,dan
kebisingan.
 Kurangi faktor
presipitasi nyeri.
 Pilih dan lakukan
penanganan nyeri.
 Kaji tipe dan
sumber nyeri.
 Ajarkan tentang
teknik
nonfarmakologi.
 Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri.
 Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri.
 Tingkatkan
istirahat.
 Monitor penerimaan
pasien tentang
manajemen nyeri.

2. Intoleransi aktifitas Energy conservation Activity Therapy


b.d kelemahan akibat - Activity tolerance  Kolaborasi dengan
anemia - Self care : ADLs tenaga rehabilitasi.
 Bantu klien untuk
J Karakteristik hasil : mengidentifikasi
 Berpatisipasi dalam aktivitas yang
aktivitas fisik. mampu dilakukan
 Mempu melakukan  Bantu klien untuk
aktivitas sehari-hari. membuat jadwal
 Tanda-tanda vital latihan.
normeal
 Energy psikomotor  Bantu untuk
 Sirkulasi status baik memilih aktivitas
 Mampu berpindah yang sesuai dengan
tanpa bantuan kemampuan fisik.
 Sediakan penguatan
positif bagi yang
aktif beraktivitas.
 Monitor respon
fisik,emosi,sosial
dan spiritual.

3. Ansietas b.d Anxiety self control Anxiety Reduction


ketidaktahuan - Anxiety level Coping  Gunakan
penyebab nyeri Karakteristik hasil : pendekatan yang
abdomen menyenangkan.
 Klien mampu  Nyatakan dengan
mengidentifikasi jelas harapan
gejala cemas. terhadap pelaku
 Mengungkapkan pasien.
teknik untuk  Temani pasien untik
mengontrol cemas. memberikan
 Vital sign dalam keamanan.
batas normal.  Bantu pasien untuk
 Tingkat aktivitas mengenal situasi
menunjukan yang menimbulkan
berkurangnya kecemasan.
kecemasan.  Instruksikan pasien
menggunakan
- teknik relaksasi.
 Berikan obat
mengurangi
kecemasan.
BAB II

PENUTUP

Kesimpulan

Menstruasi adalah perdarahan vagina secara berkala akibat terlepasnya lapisan


endometrium uterus. Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus,
hipofisis, dan ovarium dengan perubahan terkait pada jaringan sasaran pada saluran
reproduksi normal, ovarium memainkan peranan penting dalam proses ini, karena tampaknya
bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan – perubahan siklik maupun lama siklus
menstruasi.

Gangguan menstruasi adalah kelainan-kelainan pada keadaan menstruasi yang dapat berupa
kelainan atau kelainan dari jumlah darah yang dikeluarkan dan lamanya perdarahan.

Macam – macam gangguan menstruasi :

1. Menurut gangguan siklusnya :


a. polimenore (sering)
b. oligomenore (jarang)
c. tidak teratur
d. amenore (tidak haid)
2. Menurut gangguan perdarahan :
a. hypermenore (banyak)
b. hypomenore (sedikit)
c. spotting (perdarahan bercak)
d. Perdarahan diluar haid (metroragia)impulan
DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida B.G. 1998. Ilmu Kebidanan, Peyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk
Pendidikan Bidan. EGC: Jakarta.

Priyatna, Andi. 2009. Be A Smart Teenager! For Boys and Girls. Jakarta : Elex Media
Komputindo halaman 105

Prof. Dr.Med. Ali Baziad, SpOG(K) Divisi Imuno Endokronologi - Departemen Obstetri dan
Ginekologi FKUI-RSCM Jakarta. 10 Mei 2012. Mengenal Berbagai Gangguan Haid
http://www.anakku.net/mengenal-berbagai-gangguan-haid.html diakses pada Sabtu, 13
September 2014 pukul 17.37

Schwartz, William M. 2005. Pedoman Klinis Pediatri. EGC: Jakarta.

Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri & Gynekologi. Jakarta : Widya Medika

Spero, F Leon. 2005. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. Philadelphia :


Lippincot Williams & Wilkins.