You are on page 1of 22

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

TB PARU
Jan 17
MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TB PARU

Oleh :
KELOMPOK 6

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

NANI HASANUDDIN

MAKASSAR

2013

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum wr.wb


Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan hiudayah – Nya
kepada penulis sehingga tugas membuat makalah dari mata kuliah Keperawatan Medikal – Bedah I yang
bertemakan penyakit tuberkulosis paru ini dapat selesai dengan baik.

Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada dosen pembimbing mata kuliah ini dalam hal ini Bapak Abdul Bakar
Kadir, S.Kep, Ns,. M.Kes yang telah memberikan tugas ini untuk diselesaikan agar dapat melatih penulis untuk tetap
berkarya dan dapat bermamfaat bagi orang lain.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan yang perlu untuk diperbaiki, maka dari
itu penulis bersedi menerima saran dan kritik dari pembaca yang membangun demi perbaikan pembuatan tugas
kedepannya.

Wallahumuafik bitaqwallah wassalamu alaikum wr.wb


Makassar, 2 Januari 2013

Kelompok 6

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………………………. i

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………….. ii

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………….. iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………………………… 1

1. Latar Belakang ……………………………………………………………………………. 1


2. Rumusan Masalah……………………………………………………………………….. 1
3. Tujuan………………………………………………………………………………………. 1
BAB II TINJAUAN TEORITIS …………………………………………………………………………….. 2

Konsep Medis…………………………………………………………………………….. 2
1.
A. Pengertian ………………………………………………………………………….. 2
B. Etiologi ……………………………………………………………………………….. 2
C. Tanda Dan Gejala Penyakit TBC ……………………………………………….. 3
D. Patofisiologi …………………………………………………………………………. 5
E. Manifestasi klinik ………………………………………………………………….. 5
F. Klasifikasi …………………………………………………………………………….. 7
G. Pemeriksaan diagnostik …………………………………………………………. 8
H. Komplikasi …………………………………………………………………………… 9
I. Penatalaksanaan medis …………………………………………………………. 9
2. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Klien Sistitis ………………………………. 10
A. Pengkajian …………………………………………………………………………. 10
B. Diagnose Intervensi NANDA-I 2012-2014 …………………………………. 13
C. Intervensi NOC NIC NANDA-I 2012-2014 …………………………….. 17
D. Implementasi …………………………………………………………………….. 25
E. Evaluasi …………………………………………………………………………….. 25
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………………… 26

1. Kesimpulan ………………………………………………………………………………. 26
2. Saran ……………………………………………………………………………………… 26
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………………. 27

LAMPIRAN

.
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Penyakit TB Paru merupakan penyakit menahun/kronis (berlangsung lama) dan menular. Penyakit ini dapat diderita
oleh setiap orang, tetapi paling sering menyerang orang-orang yang berusia antara 15 – 35 tahun, terutama mereka
yang bertubuh lemah, kurang gizi atau yang tinggal satu rumah dan berdesak-desakan bersama penderita TBC.
Lingkungan yang lembap, gelap dan tidak memiliki ventilasi memberikan andil besar bagi seseorang terjangkit
TBC.

Penyakit Tuberkulosis dapat disembuhkan. Namun akibat dari kurangnya informasi berkaitan cara pencegahan dan
pengobatan TBC, kematian akibat penyakit ini memiliki prevalensi yang besar. Indonesia berada dalam peringkat
ketiga terburuk di dunia untuk jumlah penderita TB. Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih dari 140
ribu lainnya meninggal.

2. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang ada diatas maka kami akan mengangkat beberapa pokok permasalahan
sesuai yang telah dipaparkan diatas adalah asuhan keperawatan pada klien TB Paru.

1. Tujuan
A. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mengetahui dan memahami tentang Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Sistitis.

1. Tujuan Khusus
A. Mengetahui dan memahami pengertian TB Paru
B. Mengetahui dan memahami etiologi TB Paru
C. Mengetahui dan memahami klasifikasi TB Paru
D. Mengetahui dan mamahami tanda dan gejala TB Paru
E. Mengetahui dan mamahami patofisiologi TB Paru
F. Mengetahui dan memahami manifestasi klinik TB Paru
G. Mengetahui dan memahami Asuhan Keperawatan pada klien TB Paru.
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

1. KONSEP MEDIS
1. Pengertian
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit akibat kuman mycobacterium tubercolosis sistemis sehingga dapat mengenai
semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga
ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe.

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru.

Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh infeksi kompleks mycobacterium tuberculosis.

Berdasarkan beberapa definisi mengenai tuberkulosis diatas, maka dapat dirumuskan bahwa tuberculosis (TB) paru
adalah suatu penyakit infeksius yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang menyerang parenkim
paru, bersifat sistemis sehingga dapat mengenai organ tubuh lain, terutama meningen, tulang, dan nodus limfe.

2. Etiologi
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus,
sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman
terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan
terhadap gangguan kimia dan fisik

Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari
es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali
dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman
lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih
tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Basil mikrobakterium tersebut masuk
kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer
(ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke).
keduanya dinamakan tuberkulosis primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan.
Tuberkulosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil
mikobakterium. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut tuberkulosis
post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam
tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut.

1. Tanda Dan Gejala Penyakit TBC


1) Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Biasanya batuk ringan
sehingga dianggap batuk biasa atau akibat rokok. Proses yang paling ringan ini menyebabkan sekret akan terkumpul
pada waktu penderita tidur dan dikeluarkan saat penderita bangun pagi hari.

2) Dahak

Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah menjadi purulen/kuning atau
kuning hijau sampai purulen dan kemudian berubah menjadi kental bila sudah terjadi perlunakan.

3) Batuk darah

Darah yang dikeluarkan penderita mungkin berupa garis atau bercak-bercak darah, gumpalan-gumpalan darah atau
darah segar dalam jumlah sangat banyak.

4) Nyeri dada

Nyeri dada pada tuberkulosis paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Bila nyeri bertambah berat berarti telah
terjadi pleuritis luas (nyeri dikeluhkan di daerah aksila, di ujung skapula atau di tempat-tempat lain)

5) Wheezing

Wheezing terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang disebabkan oleh sekret, bronkostenosis, peradangan,
jaringan granula, ulserasi dan lain-lain (pada tuberkulosis lanjut).

6) Dispneu

Dispneu merupakan late symptom dari proses lanjut tuberkulosis paru akibat adanya restriksi dan obstruksi saluran
pernapasan serta loss of vascular bed / thrombosis yang dapat mengakibatkan gangguan difusi, hipertensi pulmonal
dan korpulmonal.

7) Panas badan

Merupakan gejala paling sering dijumpai dan paling penting sering kali panas badan sedikit meningkat pada siang
maupun sore hari.

8) Menggigil

Dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat, tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yang
sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi umum yang lebih hebat.

9) Keringat malam

Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk penyakit tuberkulosis paru. Keringat malam umumnya
baru timbul bila proses telah lanjut. Nausea, takikardi dan sakit kepala timbul bila ada panas.

10) Gangguan menstruasi

Gangguan menstruasi sering terjadi bila proses tuberkulosis paru sudah menjadi lanjut.

11) Anoreksia

Anoreksia dan penurunan berat badan merupakan manifestasi toksemia yang timbul belakangan dan lebih sering
dikeluhkan bila proses progresif.

12) Lemah badan


Gejala-gejala ini dapat disebabkan oleh kerja berlebihan, kurang tidur dan keadaan sehari-hari yang kurang
menyenangkan, karena itu harus dianalisa dengan baik dan harus lebih berhati-hati apabila dijumpai perubahan sikap
dan temperamen (misalnya penderita yang mudah tersinggung), perhatian penderita berkurang atau menurun pada
pekerjaan, anak yang tidak suka bermain, atau penyakit yang kelihatan neurotik.

4. Patofisiologi
Kuman micobacterium tuberculosis masuk kedalam tubuh melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka
terbuka pada kulit, kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droppet
yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.

Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil
yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit.
Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atau paru-paru, atau di bagian atas lobus
bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat
tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka
leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia
akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses
dapat juga berjalan terus, dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar
melalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih
panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit, yang dikelilingi oleh fosit. Reaksi ini
biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari.

1. Web of Caution (Patofisiologi dan Penyimpangan KDM) TB Paru

Patofisiologi Berdasarkan Penyimpangan Kebutuhan Dasar Manusia ( TB Paru)

M. TUberculosis

Inhalasi droplet

Reaksi Jaringan Bakteri mencapai


Alviolus

Invasi daerah
infeksi

¯ Terjadi reaksi Antigen-


antibody
Terbentuk jaringan
tuberkel ¯

Oleh jaringan ikat Muncul reaksi


Radang

Fibrosis ¯

¯ Terjadi pengeluaran secret/


mucus

Dinding tuberkel gagal


terbentuk ¯

¯ Akumulasi secret dijalan nafas

Basil masuk ke
dalam ¯

Getah bening Ketidakefektifan Bersihan Jalan


Nafas ¯

¯ Respon batuk-
batuk

Transit ke aliran
darah ¯

Dalam jumlah kecil penggunaan otot-otot


abdomen

¯ ¯

Penyebaran limfa hematogen, Refluk


fagal

Jaringan tulang, ginjal, hati dan


jantung ¯

¯ Mual,
muntah

I. Resiko
Infeksi
¯
Penyakit
bronchitis

Terjadi peningkatan metabolisme


Tubuh ¯ Cadangan makanan di
jaringan ber <<

¯ sumber
stress ¯

Terjadi pemecahan cadangan


makanan ¯ Kelemahan fisik

¯ Ketidak lengkapan
informasi ¯

Kebutuhan nutrisi sel meningkat proses penyakit dan


pengobatan Atropi otot-otot

¯
¯

¯ Defisiensi
Pengetahuan Keterbatasan aktivitas

Ketidakseimbangan Nutrisi
: ¯

Kurang Dari Kebutuhan


Tubuh Intoleran
Aktivitas

1. Manifestasi Klinik
2. Gejala respiratorik, meliputi:
Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu
penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain
yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam.
Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga
diabaikan bahkan ka dang-kadang asimtomatik.
Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala
respiratorik dan gejala sistemik:
1) Batuk

Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat non
produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.

2) Batuk darah

Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak, gumpalan
darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat
ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
3) Sesak napas

Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi
pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.

4) Nyeri dada

Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura
terkena.

5) Wheezing

Wheezing terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang disebabkan oleh sekret, bronkostenosis, peradangan,
jaringan granula, ulserasi dan lain-lain (pada tuberkulosis lanjut).

6) Dispneu

Dispneu merupakan late symptom dari proses lanjut tuberkulosis paru akibat adanya restriksi dan obstruksi saluran
pernapasan serta loss of vascular bed / thrombosis yang dapat mengakibatkan gangguan difusi, hipertensi pulmonal
dan korpulmonal.

1. Gejala sistemik, meliputi:


1) Demam

Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza, hilang
timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek.

2) Gejala sistemik lain

Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise.

Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan akut dengan batuk,
panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia.

c. Gejala klinis Haemoptoe:


Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri-ciri sebagai berikut :

1) Batuk darah

a) Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan

b) Darah berbuih bercampur udara

c) Darah segar berwarna merah muda

d) Darah bersifat alkalis

e) Anemia kadang-kadang terjadi

f) Benzidin test negatif

2) Muntah darah

a) Darah dimuntahkan dengan rasa mual

b) Darah bercampur sisa makanan


c) Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung

d) Darah bersifat asam

e) Anemia seriang terjadi

f) Benzidin test positif

3) Epistaksis

a) Darah menetes dari hidung

b) Batuk pelan kadang keluar

c) Darah berwarna merah segar

d) Darah bersifat alkalis

e) Anemia jarang terjadi

7. Klasifikasi TB
Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya.
Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi.

Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut:

1. TB Paru BTA Positif dengan kriteria:


1) Dengan atau tanpa gejala klinik

2) BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif 1 kali atau
disokong radiologik positif 1 kali.

3) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.

1. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:


1) Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif

2) BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif.

1. Bekas TB Paru dengan kriteria:


1) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif

2) Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.

3) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan serial foto yang tidak berubah.

4) Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).

1. Pemeriksaan diagnostik
2. Kultur sputum: Positif unutk mycobakterium tuberkulosis pada tahap aktif penyakit
3. Zhiel Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah): Positif untuk basil asam
cepat.
4. Tes kulit (PPD, Mantoux, potongan vollmer): Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-
78 jam setelah injeksi intradermal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak
secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti
bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobakterium yang berbeda.
5. ELISA/Western Bolt: dapat menyatakan adanya HIV
6. Foto torak: dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer,
atau efusi cairan. Perubahan menunjukkan lebih luasTB dapat termasuk rongga area fibrosa.
7. Histologi atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster, urine dan cairan serebrospinal, biopsi kulit):
positif untuk mycobakterium tuberkulosis
8. Biopsi jarum pada jaringan paru: positif untuk granuloma TB; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis
9. Elektrosit: dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi: contoh hiponatremiadisebabkan oleh
tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
10. GDA: dapat normal tergantung lokasi dan berat kerusakan sisa pada paru
11. Pemeriksaan fungsi paru: penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, penigkatan rasio udara residu
dan kapasitas paru total, dan penurunan saturasi oksigen skunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis,
kehilangan jaringan paru, dan penyakit pleural (TB paru kronis luas)
A. Komplikasi
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis paru stadium
lanjut yaitu :

1. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok
hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
2. Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
3. Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan
atau reaktif) pada paru.
4. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
8. Penatalaksanaan medis
Tuberkulosis paru diobati terutama dengan agens kometrapi (agens antituberkulosis) selama periode 6 sampai 12
bulan. 5 medikasi garis depan digunakan : isoniasid (INH), rifampin (RIF) stretomisin (SM), etambutol (EMB), dan
pirasinamid (PZA). Kapreomisin, kanamisin, eteonamid, natrium-para-aminosalisilat, amikasin, dan siklisin
merupakan obat-obat baris kedua.

M. Tuberculosis yang resisten terhadap obat-obatan terus menjadi isu yang berkembang di seluruh dunia, meski TB
yang resisten terhada obattelah teridentifikasi sejak tahun 1950, insiden dari resisten banyak obat telah menciptakan
tantangan baru. Beberapa jenis resisten obat harus dipertimbangkan ketika merencanakan terapi efektif:

1. Resisten obat primer adalah resisten terhadap satu agensantituberkulosis garis depanpada individu yang
sebelumnyabelum mendapatkan pengobatan.
2. Resisten obat didapat atau skunder adalah resisten terhadap satu atau lebih agens antituberkulosis pada pasien
yang sedang menjalani terapi.
3. Resisten banyak obat adalah resisten terhadap dua agens, sebut saja , INH dan RIF
Pengobatan yang direkomendasikan bagi kasus tuberkulosis paru yang baru didiagnosa adalah regimen pengobatan
beragam, termasuk INH, RIF dan PZA selama 4 bulan dengan INH dan RIF dilanjutkan untuk tambahan dua bulan
(totalnya 6 bulan). Sekarang ini setiap agens dibuat dalam pil yang terpisah. Pil anti-tuberkulosis baru three in
oneyang terdiri atas INH, RIF dan PZA telah dikembangkan, yang akan memberikan dampak besar dalam
meningkatkan kepatuhan terhadap regimen pengobatan.

Pada awalnya etambutol dan streptomisin mungkin disertakan dalam terapi awal sampai pemeriksaan resisten obat
didapatkan. Regimen pengobatan bagaimanapun tetap dilanjutkan selama 12 bulan. Individu akan dipertimbangkan
noninfeksius setelah menjalani 2 sampai 3 minggu terapi obat kontinu.

Isoniasid (INH) mungkin digunakan sebagai tindakan preventif bagi mereka yang diketahui beresiko terhadap
penyakit ignifikan, sebagai contoh, anggota keluarga dari pasien yang berpenyakit aktif. Regimen pengobatan
profilatik ini mencakup penggunaan dosis harian INH selama 6 sampai 12 bulan. Untuk meminimalkan efek
samping, dapat diberikan piridoksin (vitamin B6). Enzim-enzim hepar, nitrogen urea darah (BUN), dan kreatinin
dipantau setip bulan. Hasil pemeriksaan kultur sputum dipantau terhadap basil tahan asam (BTA) untuk
mengevaluasi efektifitas pengobatan dan kepatuhan pasien terhadap terapi.
1. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis paru ialah sebagai berikut :

1. Riwayat Perjalanan Penyakit


Keluhan utama : Batuk produkif dan non produktif

1. Riwayat Penyakit Sebelumnya:


 Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh.
 Pernah berobat tetapi tidak sembuh.
 Pernah berobat tetapi tidak teratur.
 Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru.
 Daya tahan tubuh yang menurun.
 Riwayat vaksinasi yang tidak teratur.
1. Riwayat Pengobatan Sebelumnya:
 Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya.
 Jenis, warna, dosis obat yang diminum.
 Berapa lama. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya.
 Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir.
1. Riwayat Sosial Ekonomi:
 Riwayat pekerjaan. Jenis pekerjaan, waktu dan tempat bekerja, jumlah penghasilan.
 Aspek psikososial. Merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikisi dengan bebas, menarik diri, biasanya pada
keluarga yang kurang marnpu, masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang
lama dan biaya yang banyak, masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien, tidak bersemangat dan putus
harapan.
1. Faktor Pendukung:
 Riwayat lingkungan.
 Pola hidup.
Nutrisi, kebiasaan merokok, minum alkohol, pola istirahat dan tidur, kebersihan diri.

 Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit, pencegahan, pengobatan dan
perawatannya.
1. Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit tidur, demam, menggigil,
berkeringat pada malam hari.

Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang
sampai setengah paru), demam subfebris (40 –410C) hilang timbul.
1. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.

Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.

1. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.

Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau
bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu
(penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris
(effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).

1. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri
bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.

1. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.

Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.

1. Pemeriksaan Diagnostik:
 Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit.
 Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam).
 Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas ; Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan
dengan batas tidak jelas ; Pada kavitas bayangan, berupa cincin ; Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak
padat dengan densitas tinggi.
 Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru.
 Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED).
 Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun.

1. 2. Diagnosa Keperawatan Tb Paru NANDA-I 2012-2014


A. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
Definisi : ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan
bersihan jalan napas.

Batasan Karakteristik

 Tidak ada batuk


 Suara napas tambahan
 Perubahan frekuensi napas
 Perubahan irama napas
 Sianosis
 Kesulitan berbicara/mengeluarkan suara
 Penurunan bunyi napas
 Dispnea
 Sputum dalam jumlah yang berlebihan
 Batuk yang tidak efektif
 Ortopnea
 Gelisah
 Mata terbuka lebar

Faktor Yang Berhubungan

Lingkungan

 Perokok pasif
 Mengisap asap  Merokok

Obstruksi jalan napas

 Spasme jalan napas  Adanya jalan napas buatan


 Mucus dalam jumlah yang berlebihan  Sekresi yang tertahan/sisa s
 Eksudat dalam alveoli  Sekresi dalam bronki
 Materi asing dalam jumlah napas

Fisiologis

 Jalan napas alergik  Hyperplasia dinding bronch


 Asma  Infeksi
 Penyakit paru obstruksi kronis  Disfungsi neuromuskular

1. Resiko Infeksi
Defenisi : Mengalami peningkatan resiko terserang organisme patogenik.

Faktor Risiko

 Penyakit kronis
– DM

– Obesitas

 Pengetahuan yang kurang untuk menghindari pamajanan patogen


 Pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat
 Gangguan peristalsis
 Kerusakan integritas kulit (pemasangan kateter intravena, prosedur invasif)
 Perubahan sekresi pH
 Penurunan kerja siliaris
 Pecah ketubah dini
 Pecah ketubah lama
 Merokok
 Stasis cairan tubuh
 Trauma jaringan (mis trauma, destruksi jaringan)
 Malnutrisi
 Ketidakadekuatan pertahanan tubuh
 Penurunan Hb
 Imunosupresi (mis imunitas didapat tidak adekuat, agens farmaseutikal termasuk
imunosupresan, steroid, antibodi monoklonal, imunomodulator)
 Leukopenia
 Supresi respons inflamasi
 Vaksinasi tidak adekuat
 Pemajanan terhadap patogen lingkungan meningkat
 Wabah

1. Intoleransi Aktivitas
Definisi : ketidakcukupan energy psikologis atau fisiologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas
kehidupan sehari-hari yang harus atau yang ingin dilakukan.

Batasan Karakteristik
 Respons tekanan darah abnormal terhadap aktivitas
 Respon frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas
 Perubahan EKG yang mencerminkan aritmia
 Perubahan EKG yang mencerminkan iskemia
 Ketidaknyaman setelah beraktivitas
 Dispnea setelah beraktivitas
 Menyatakan merasa letih
 Menyatakan merasa letih

Faktor Yang Berhubungan

 Tirah baring
 Kelemahan umum
 Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
 Imobilitas
 Gaya hidup monoton

1. Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang Dari Kebutuhan Tubuh


Definisi : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolic.

Batasan Karakteristik

 Kram abdomen
 Nyeri abdomen
 Menghindari makan
 Berat badan 20% atau lebih di bawah berat badan ideal
 Kerapuhan kapiler
 Diare
 Kehilangan rambut berlebihan
 Bising usung hiperaktif
 Kurang makan
 Kurang informasi
 Kurang minat pada makanan
 Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat
 Kesalahan konsepsi
 Kesalahan informasi
 Membrane mukosa pucat
 Ketidakmampuan memakan makanan
 Tonus otot menurun
 Mengeluh gangguan sensasi rasa
 Mengeluh asupan makanan kurang dari RDA (recommended daily allowance)
 Cepat kenyang setelah makan
 Sariawan rongga mulut
 Steatore
 Kelemahan otot pengunyah
 Kelemahan otot untuk menelan

Faktor Yang Berhubungan


 Faktor biologis
 Faktor ekonomi
 Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrisi
 Ketidakmampuan untuk mencerna makanan
 Faktor psikologis

1. Defisiensi Pengetahuan
Definisi : Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topic tertentu.

Batasan Karakteristik

 Perilaku hiperbola
 Ketidakdaruratan mengikuti perintah
 Ketidakdaruratan melakukan tes
 Perilaku tidak tepat (mis ; histeria, bermusuhan, agitasi, apatis)
 Pengungkapan masalah

Faktor Yang Berhubungan

 Keterbatasan kognitif
 Salah interpretasi informasi
 Kurang pajanan
 Kurang minat dalam belajar
 Kurang dapat mengingat
 Tidak familiar dengan sumber informasi

Nursing Care

No NANDA: Nursing Diagnosis Nursing Outcomes Classification (NOC)

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3160. Ai
…. x 24 jam klien akan:
Definisi : Ketidakmampuan untuk membersihkan Aktivita
sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk – 0403. Respiratory status : Ventilation
mempertahankan kebersihan jalan nafas. 1. Pa
– 0410. Respiratory status : Airway 2. A
Batasan Karakteristik : patency 3. Inf
4. M
1  Tidak ada batuk – 0402. Respiratory Status: Gas Exchange 5. Be
 Suara napas tambahan me
 Perubahan frekuensi napas – 1918. Aspiration Prevention, yang 6. Gu
 Perubahan irama napas dibuktikan dengan indikator sebagai berikut: 7. An
 Sianosis ka
 Kesulitan berbicara/mengeluarkan suara (1-5 = tidak pernah, jarang, kadang-kadang, 8. M
 Penurunan bunyi napas sering, atau selalu) 9. Aj
 Dispnea 10. He
Kriteria Hasil : me
 Sputum dalam jumlah yang berlebihan
 Batuk yang tidak efektif – Mendemonstrasikan batuk efektif dan
 Ortopnea suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan 3140. Ai
 Gelisah dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu
 Mata terbuka lebar bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips) Aktivita

– Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien 1. Bu


Faktor yang berhubungan: tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi thr
pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara 2. Po
Lingkungan nafas abnormal) 3. Ide
bu
 Perokok pasif – Mampu mengidentifikasikan dan 4. Pa
 Mengisap asap mencegah factor yang dapat menghambat jalan 5. La
 Merokok nafas 6. Ke
Obstruksi jalan napas 7. Au
8. La
 Spasme jalan napas 9. Be
 Mucus dalam jumlah yang berlebihan 10. Be
 Eksudat dalam alveoli 11. At
 Materi asing dalam jumlah napas 12. M
 Adanya jalan napas buatan
 Sekresi yang tertahan/sisa sekresi
 Sekresi dalam bronki
Fisiologis

 Jalan napas alergik


 Asma
 Penyakit paru obstruksi kronis
 Hyperplasia dinding bronchial
 Infeksi
 Disfungsi neuromuskular

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama


Resiko infeksi …. x 24 jam klien akan: 6540. In

Definisi : mengalami peningkatan risiko terserang – 0702. Immune Status Aktivita


organisme patogen
– 0703. Infection Severity 1. Be
Faktor Risiko : 2. Pe
– 1807. Knowledge : Infection control 3. Ba
 Penyakit kronis 4. Ins
– DM – 1004. Nutritional status be
5. Gu
– Obesitas – 1101. Tissue Integrity: Skin & Mucous 6. Cu
membranes, yang dibuktikan dengan indikator kp
 Pengetahuan yang kurang untuk menghindari sebagai berikut: 7. Gu
2 pamajanan patogen 8. Pe
 Pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat (1-5 = tidak pernah, jarang, kadang-kadang, 9. Ga
 Gangguan peristalsis sering, atau selalu) de
 Kerusakan integritas kulit (pemasangan kateter 10. Gu
intravena, prosedur invasif) Kriteria Hasil : ka
 Perubahan sekresi pH 11. Ti
 Penurunan kerja siliaris – Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi 12. Be
 Pecah ketubah dini
– Mendeskripsikan proses penularan
 Pecah ketubah lama
penyakit, factor yang mempengaruhi penularan 6550. In
 Merokok
serta penatalaksanaannya,
 Stasis cairan tubuh
Aktivita
 Trauma jaringan (mis trauma, destruksi – Menunjukkan kemampuan untuk
jaringan) mencegah timbulnya infeksi 1. M
 Malnutrisi 2. M
 Ketidakadekuatan pertahanan tubuh – Jumlah leukosit dalam batas normal 3. M
 Penurunan Hb 4. Ba
 Imunosupresi (mis imunitas didapat tidak – Menunjukkan perilaku hidup sehat 5. Sa
adekuat, agens farmaseutikal termasuk 6. Pa
imunosupresan, steroid, antibodi 7. Pe
monoklonal, imunomodulator) 8. Be
 Leukopenia 9. Ins
 Supresi respons inflamasi ke
 Vaksinasi tidak adekuat 10. Isp
 Pemajanan terhadap patogen lingkungan 11. Do
meningkat 12. Do
 Wabah 13. Do
14. Ins
15. Aj
16. Aj
17. La
18. La

Intoleransi aktivitas 0180. En


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
Definisi : Ketidakcukupan energu secara fisiologis
…. x 24 jam klien akan: Aktivita
maupun psikologis untuk meneruskan atau
menyelesaikan aktifitas yang diminta atau aktifitas
– 0002. Energy conservation 1. Ob
sehari hari. ak
– 0300. Self Care : ADLs, yang dibuktikan 2. Do
Batasan karakteristik :
dengan indikator sebagai berikut: ke
3. Ka
 Respons tekanan darah abnormal terhadap 4. M
(1-5 = tidak pernah, jarang, kadang-kadang,
aktivitas 5. M
sering, atau selalu)
 Respon frekuensi jantung abnormal terhadap sec
aktivitas Kriteria Hasil : 6. M
Perubahan EKG yang mencerminkan aritmia 7. M
– Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa
 Perubahan EKG yang mencerminkan iskemia disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
 Ketidaknyaman setelah beraktivitas 4310. Ac
 Dispnea setelah beraktivitas – Mampu melakukan aktivitas sehari hari
 Menyatakan merasa letih (ADLs) secara mandiri Aktivita
 Menyatakan merasa letih
3 1. Ko
da
Faktor yang berhubungan : 2. Ba
ma
 Tirah baring 3. Ba
 Kelemahan umum de
 Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan 4. Ba
oksigen ya
 Imobilitas 5. Ba
 Gaya hidup monoton ku
6. Ba
7. Ba
8. Ba
ke
9. Se
10. Ba
pe
11. M

Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang Dari 1100. Nu


Kebutuhan Tubuh
Aktivita
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan
metabolisme tubuh. 1. Ka
2. Ko
ka
3. An
Batasan karakteristik : 4. An
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama vit
 Kram abdomen
…. x 24 jam klien akan: 5. Be
 Nyeri abdomen 6. Ya
 Menghindari makan – 1008. Nutritional Status : food and Fluid un
 Berat badan 20% atau lebih di bawah berat badan Intake 7. Be
ideal de
 Kerapuhan kapiler – 1006. Weight : Body Mass, yang dibuktikan 8. Aj
 Diare dengan indikator sebagai berikut: ha
 Kehilangan rambut berlebihan 9. M
 Bising usung hiperaktif (1-5 = tidak pernah, jarang, kadang-kadang, 10. Be
 Kurang makan sering, atau selalu) 11. Ka
 Kurang informasi dib
 Kurang minat pada makanan Kriteria Hasil :
 Penurunan berat badan dengan asupan makanan
adekuat – Adanya peningkatan berat badan sesuai 1160. Nu
 Kesalahan konsepsi dengan tujuan
Aktivita
 Kesalahan informasi
– Berat badan ideal sesuai dengan tinggi
 Membrane mukosa pucat
badan 1. BB
 Ketidakmampuan memakan makanan 2. M
 Tonus otot menurun – Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi 3. M
 Mengeluh gangguan sensasi rasa 4. M
 Mengeluh asupan makanan kurang dari RDA – Tidak ada tanda tanda malnutrisi 5. M
(recommended daily allowance) 6. Jad
 Cepat kenyang setelah makan – Tidak terjadi penurunan berat badan yang ma
4  Sariawan rongga mulut berarti 7. M
 Steatore 8. M
 Kelemahan otot pengunyah 9. M
 Kelemahan otot untuk menelan 10. M
Faktor yang berhubungan : 11. M
12. M
 Faktor biologis 13. M
 Faktor ekonomi 14. M
 Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrisi ko
 Ketidakmampuan untuk mencerna makanan 15. M
 Faktor psikologis 16. Ca
da
17. Ca

5602. Te

Aktivita

1. Be
ten
2. Jel
ini
ca
3. Ga
Defisiensi Pengetahuan
pe
Definisi : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4. Ga
…. x 24 jam klien akan: 5. Ide
Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang tep
berkaitan dengan topik tertentu. – 1803. Kowledge : disease process 6. Se
ca
Batasan karakteristik : – 1805. Kowledge : health behavior, yang 7. Hi
dibuktikan dengan indikator sebagai berikut: 8. Se
 Perilaku hiperbola pa
(1-5 = tidak pernah, jarang, kadang-kadang, 9. Di
 Ketidakdaruratan mengikuti perintah
sering, atau selalu) dip
 Ketidakdaruratan melakukan tes
ak
 Perilaku tidak tepat (mis ; histeria, bermusuhan, 10. Di
Kriteria Hasil :
agitasi, apatis) 11. Du
 Pengungkapan masalah – Pasien dan keluarga menyatakan sec
Faktor yang berhubungan : pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dii
dan program pengobatan 12. Ek
 Keterbatasan kognitif ca
 Salah interpretasi informasi – Pasien dan keluarga mampu melaksanakan 13. Ru
 Kurang pajanan prosedur yang dijelaskan secara benar de
 Kurang minat dalam belajar 14. Ins
 Kurang dapat mengingat – Pasien dan keluarga mampu menjelaskan me
 Tidak familiar dengan sumber informasi kembali apa yang dijelaskan perawat/tim ca
5 kesehatan lainnya
1. Implementasi
Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan
pasien. Agar implementasi / pelakasanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas
perawtan, memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan seta
mendokumentasikan pelaksanaan perawatan.

1. Evaluasi
Pada tahap ini yang perlu dievaluasi pada klien dengan TB Paru adalah, mengacu pada tujuan yang hendak dicapai
yakni apakah terdapat :

1. Keefektifan bersihan jalan napas.


2. Intoleran aktivitas teratasi
3. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.
4. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi.
5. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk
memperbaiki kesehatan.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus,
sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman
terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan
terhadap gangguan kimia dan fisik

Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari
es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali
dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman
lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih
tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.

1. Saran
Dengan makalah ini diharapkan pembaca khususnya mahasiswa keperawatan dapat mengerti dan memahami serta
menambah wawasan tentang Asuhan keperawatan pada klien dengan TB Paru.
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.(2010). Tuberkulosis.Retrieved: Di akses tanggal 2 Januari 2013,


from http://id.wikipedia.org/wiki/Tuberkulosis
Content Team, Asian Brain. (2009 ). Tuberkulosis (TBC).Retrieved: Di akses tanggal 2 Januari 2013,
from http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/tbc.htm
Buleche, G.M., Butcher, H.K., & Dochterman, J.C. (Eds.). (2008). Nursing Interventions Classification (NOC)
(5th ed.). St. Louis: Mosby/Elsevier
Herdman, T. Heather. (2012). Nursing Diagnosis : Defenitions and Clasification 2012 -2014. Jakarta : EGC.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M., & Swanson, E. (Eds). (2008). Nursing Outcomes Classification (NOC)
(4th ed.). St. Louis: Mosby/Elsevier
http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani12.pdf, di akses tanggal 1 Januari 2013
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4. Jakarta : EGC.

Soedarsono (2000), Tuberkulosis Paru-Aspek Klinis, Diagnosis dan Terapi, Lab. Ilmu Penyakit Paru FK
UnaiRasional : RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Soemantri, I. (2012). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba
Medika.

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta : BP FKUI

Wilkinson, Judith M. (2011). Prencite Hall Nursing diagnosis Handbook. Ed. 9. Jakarta : EGC