You are on page 1of 17

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

“ HIRSCHPRUNG “

“Tugas ini di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak”

Dosen Pembimbing:
Dwi sulistyowati N., S.Kep.,Ners

Disusun Oleh:
NOFITAH ( 7116022 )

D3 Keperawatan

Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur Tim Penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan
segala Rahmat dan Karunia-Nya. Berkat Rahmat dan Karunia-Nya lah kami dapat
menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “KONSEP ASUHAN
KEPERAWATAN HIRSCHPRUNG” ini tepat pada waktunya. Shalawat bermahkotakan
Salam kita hadiahkan keharibaan Baginda Rasullullah Muhammad SAW. yang telah
membawa ummatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan penerangan
Islam dan Pengetahuan.

Ucapan terima kasih tak lupa saya haturkan kepada Dosen, Ibu Ana Farida.
S.Kep., Ns., M.Kep. dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
makalah ini.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari titik kesempurnaan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari Pembaca sangat Tim Penulis
harapkan agar makalah ini mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.

Demikian saya sangat mengharapkan kritik yang sifatnya membangun demi


tercapai suatu kesempurnaan dalam memenuhi kebutuhan dalam bidang ilmu
keperawatan Anak.

Jombang, 06 Februari 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................................
i
Daftar Isi................................................................................................................................
ii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................
1
1.3 Tujuan..............................................................................................................................
2

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi.............................................................................................................................
3
2.2 Macam macam Hirsprung...............................................................................................
3
2.3 Etiologi.............................................................................................................................
4
2.4 Patofifiologi.....................................................................................................................
5
2.5 Manifestasi Klinis............................................................................................................
6
2.6 Komplikasi.......................................................................................................................
7
2.7 Pemeriksaan Penunjang...................................................................................................
7

ii
BAB 3
KONSEP ASKEP
3.1 Pengkajian........................................................................................................................
9
3.2 Diagnosa Keperawatan....................................................................................................
10
3.3 Intervensi Keperawatan...................................................................................................
10
3.4 Implementasi....................................................................................................................
12
3.5 Evaluasi............................................................................................................................
12

BAB 4
PENUTUP
4.1 Simpulan.........................................................................................................................
13
4.2 Saran...............................................................................................................................
13
Daftar Pustaka......................................................................................................................
14

iii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit Hirschsprung merupakan suatu kelainan bawaan yang menyebabkan
gangguan pergerakan usus yang dimulai dari spingter ani internal ke arah proksimal
dengan panjang yang bervariasi dan termasuk anus sampai rektum. Penyakit
Hirschsprung adalah penyebab obstruksi usus bagian bawah yang dapat muncul
pada semua usia akan tetapi yang paling sering pada neonatus. Penyakit
Hirschsprung juga dikatakan sebagai suatu kelainan kongenital dimana tidak
terdapatnya sel ganglion parasimpatis dari fleksus auerbach di kolon, keadaan
abnormal tersebutlah yang dapat menimbulkan tidak adanya peristaltik dan
evakuasi usus secara spontan, spingter rektum tidak dapat berelaksasi, tidak mampu
mencegah keluarnya feses secara spontan, kemudian dapat menyebabkan isi usus
terdorong ke bagian segmen yang tidak adalion dan akhirnya feses dapat terkumpul
pada bagian tersebut sehingga dapat menyebabkan dilatasi usus proksimal.
Pada tahun1886 Hirschsprung mengemukakan 2 kasus obstipasi sejak lahir
yang dianggapnya disebabkan oleh dilatasi kolon. Kedua penderita tersebut
kemudian meninggal. Dikatakannya pula bahwa keadaan tersebut merupakan
kesatuan klinis tersendiri dan sejak itu disebut penyakit hirscprung atau megakolon
kongenital.
Oleh karena itu, penyakit Hirschsprung sudah dapat dideteksi melalui
pemeriksaan yang dilakukan seperti pemeriksaan radiologi, barium, enema, rectal
biopsi, rectum, manometri anorektal dan melalui penatalaksanaan dan teraupetik
yaitu dengan pembedahan dan colostomi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah definisi dari Penyakit Hirschsprung?
2. Apa macam macam dari Penyakit Hirschsprung?
3. Apa etiologi dari Penyakit Hirschsprung?
4. Bagaimana patofisiologi dari Penyakit Hirschsprung?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari Penyakit Hirschsprung?
6. Apa saja komplikasi dari Penyakit Hirschsprung?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang dari peyakit Hirschprung ?
8. Bagaimana asuhan keperawatan dari penyakit hirschsprung?
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari Penyakit Hirschsprung

1
2. Untuk mengetahui macam macam dari Penyakit Hirschsprung
3. Untuk mengetahui etiologi dari Penyakit Hirschsprung
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari Penyakit Hirschsprung
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Penyakit Hirschsprung
6. Untuk mengetahui komplikasi dari Penyakit Hirschsprung
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari peyakit Hirschprung
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari penyakit hirschsprung

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi

2
a. Penyakit Hirschsprung (mega kolon kongenital) adalah suatu penyumbatan pada
usus besar yang terjadi akibat pergerakan usus yang tidak adekuat karena
sebagian dari usus besar tidak memiliki saraf yang mengendalikan kontraksi
ototnya.
b. Hirschsprung (megakolon / aganglionic congenital) adalah anomali kongenital
yang mengakibatkan obstruksi mekanik karena ketidakadekuatan motilitas
sebagian usus (Wong, 1996).
c. Penyakit Hisprung disebut juga kongenital aganglionik megakolon. Penyakit ini
merupakan keadaan usus besar (kolon) yang tidak mempunyai persarafan
(aganglionik). Jadi, karena ada bagian dari usus besar (mulai dari anus kearah
atas) yang tidak mempunyai persarafan (ganglion), maka terjadi “kelumpuhan”
usus besar dalam menjalanakan fungsinya sehingga usus menjadi membesar
(megakolon). Panjang usus besar yang terkena berbeda-beda untuk setiap
individu.
d. Penyakit hirschsprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion
parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai pada usus halus.
e. Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab
gangguan pasase usus, tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi
aterm dengan berat lahir ≥3Kg, lebih banyak laki – laki dari pada perempuan.
( Arief Mansjoeer,2010)

2.2 Macam macam Hirsprung


Berdasarkan panjang segmen yang terkena, dapat dibedakan 2 tipe yaitu :

a. Penyakit Hirschprung segmen pendek


Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid; ini merupakan
70% dari kasus penyakit Hirschprung dan lebih sering ditemukan pada anak
laki-laki dibanding anak perempuan.
b. Penyakit Hirschprung segmen panjang
Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh kolon
atau usus halus. Ditemukan sama banyak pada anak lelaki maupun perempuan.
(Ngastiyah, 2005 : 219)
2.3 Etiologi
Penyakit Hirschsprung (megakolon aganglionik kongenital) merupakan
obstruksi mekanis yang disebabkan oleh ketidak adekuatan motilitas bagian usus.
Penyakit ini menempati seperempat dari keseluruhan kasus obstruksi neonatal

3
kendati diagnosisnya mungkin baru bisa ditegakkan kemudian dalam masa bayi atau
kanak-kanak. Penyakit Hirschsprung empat kali lebih sering mengenai bayi atau
anak laki-laki dari pada perempuan, mengikuti pola familial pada sejumlah kecil
kasus dan cukup sering dijumpai di antara anak-anak yang menderita sindrom Down.
Insidensinya adalah 1 dalam 5000 kelahiran hidup. Bergantung pada gambaran
klinisnya, penyakit ini bisa bersifat akut, dan mengancam kehidupan pasiennya atau
suatu kelainan yang kronis.(Wong, Donna L. 2009)
Sekitar 12% dari kasus penyakit Hirschsprung terjadi sebagai bagian dari
sindrom yang disebabkan oleh kelainan kromosom. Kelainan kromosom yang paling
umum beresiko menyebabkan terjadinya penyakit Hirshsprung adalah Sindrom
Down. 2-10% dari individu dengan penyakit Hirschsprung merupakan penderita
sindrom Down. Sindrom Down adalah kelainan kromosom di mana ada tambahan
salinan kromosom 21. Hal ini terkait dengan karakteristik fitur wajah, cacat jantung
bawaan, dan keterlambatan perkembangan anak.Hirschprung merupakan sebuah
kelainan bawaan lahir yang cukup jarang terjadi dan mangakibatkan beberapa
kerusakan karena tidak sempurna sistem kerja usus. Kasus terbanyak di alami oleh
pria dan umumnya di temukan pada anak-anak yang memiliki sindrom down.
Penyakit Hirschsprung disebabkan dari kegagalan migrasi kraniokaudal
pada prekursor sel ganglion sepanjang saluran gastrointestinal antara usia kehamilan
minggu ke 5 dan ke 12. Distensi dan iskemia pada usus bisa terjadi sebagai akibat
distensi pada dinding usus, yang berkontribusi menyebabkan enterokolitis (inflamasi
pada usus halus dan kolon), yang merupakan penyebab kematian pada bayi/anak
dengan penyakit Hirschsprung.
Kerusakan yang terjadi pada penyakit Hirschsprung tidak terdapatnya ganglion
(aganglion) menyebabkan peristaltik usus menghilang sehingga profulsi feses dalam
lumen kolon terlambat yang menimbulkan terjadinya distensi dan penebalan dinding
kolon dibagian proximal daerah aganglionik sebagai akibat usaha melewati daerah
obstruksi dibawahnya. Keadaan ini menimbulkan gejala obstruksi usus akut, atau
kronis yang tergantung panjang usus yang mengalami aganglion. Obstruksi kronis
menimbulkan distensi usus sehingga dinding usus mengalami iskemia disertai iritasi
feses sehingga menyebabkan terjadinya invasi bakteri. Selanjutnya dapat terjadi
nekrosis, ulkus mukosa kolon, pneumomatosis, sampai perforasi kolon. Keadaan ini

4
menimbulkan gejala enterokolitis dari ringan sampai berat. Bahkan terjadi sepsis
akibat dehidrasi dan kehilangan cairan tubuh yang berlebihan.
Apabila suatu segmen usus besar menjadi sangat teriritasi, seperti yang terjadi
bila infeksi bakteri berlangsung menyeluruh selama enteritis, mukosa mensekresikan
sejumlah besar air dan elekrolit selain sekresi larutan mukus alkali yang kental dan
normal. Sekresi ini berfungsi untuk mengencerkan faktor pengiritasi dan
menyebabkan pergerakan tinja yang cepat menuju anus, hal ini biasanya
menyebabkan terjadinya diare, disertai kehilangan sejumlah air dan eletrolit.
Penyebab ini di sebabkan oleh pergerakan usus yang tidak memadai karena
tidak terdapatnya syaraf pada bagian usus tertentu hingga mengakibatkan
pembesaran usus.
Zuelser dan wilson (1948) mengemukakan bahwa pada dinding usus yang
menyempit tidak ditemukan ganglion parasimpatis. Sejak saat tersebut penyaki ini
lebih dikenal dengan istilah aganglionosis kongenital.
Pada pemeriksaan patologi anatomi dari penyakit ini, tidak ditemukan sel
ganglion Auerbach dan Meissner, serabut saraf menebal dan serabut otot hipertrofik.
Aganglionosis ini mulai dari anus ke arah oral.

2.4 Patofisiologi
Dalam keadaan normal, bahan makanan yang dicerna dapat berjalan
disepanjang usus karena adanya kontraksi ritmis dari otot-otot yang melapisi usus
(kontraksi ritmis ini disebut gerakan peristaltic). Kontraksi otot-otot tersebut
dirangsang oleh sekumpulan saraf yang disebut ganglion, yang terletak dibawah
lapisan otot. Pada penyakit Hirschprung ganglion / pleksus yang memerintahkan
gerakan peristaltic tidak ada, biasanya hanya sepenjang beberapa sentimetir. Segmen
usus yang tidak memiliki gerakan peristaltic tidak dapat mendorong bahan-bahan
yang dicerna sehingga terjadi penyumbatan (Dasgupta, 2004).
Dengan kondisi tidaka adanya ganglion, maka akan memberikan manisfestasi
gangguan atau tidak adanya peristalsis sehingga akan terjadi tidak adanya evakuasi
usus spontan. Selain itu sfingter rectum tidak dapat berelaksasi secara optimal,
kondisi ini dapat mencegah keluarnya feses secara normal. Isi usus kemudian
terdorong ke segmen aganglionik dan terjadi akumulasi feses di daerah tersebut
sehingga memberikan manifestasi dilatasi usus pada bagian proksimal.

5
Kondisi penyakit Hisrchsprung memberikan berbagai masalah keperawatan
pada pasien dan memberikan implikasi pada penderita asuhan keperawatan.
2.5 Manifestasi Klinis
Bervariasi menurut usia ketika gejala penyakit ini dikenali dan keberadaan
komplikasi seperti enterokolitis. Pada neonatus, biasanya diagnosis ditegakkan
berdasarkan tanda-tanda klisnis obstruksi intestinal dan ketidakmampuan usus untuk
mengeluarkan mekonium.
Pembuatan foto sinar-x, barium enema dan pemeriksaan dengan manometer
anorektal dapat membantu dalam menyusun diagnosis ini dikonfirmasikan oleh
pemeriksaan histologik terhadap hasil biopsi rektum full-thickness (ketebalan penuh)
yang memperlihatkan tidak adanya sel-sel ganglion dalam pleksus mienterika dan
submukosa.
1. Periode bayi baru lahir
a. Kegiatan untuk mengeluarkan mekonium dalam waktu 24 jam hingga 48
jam sejak lahir
b. Keengganan untuk mengonsumsi cairan
c. Muntah yang bernoda empedu
d. Distensi abdomen
2. Bayi
a. Kegagalan tumbuh kembang
b. Konstipasi
c. Deistensi abdomen
d. Episode diare dan vomitus
e. Tanda-tanda yang mengancam (yang sering menandai adanya enterokolitis)
f. Diare yang menyerupai air dan menyemprot
g. Demam
h. Keadaan umum yang buruk
3. Anak - anak
a. Konstipasi (sembelit)
b. Fases mirip tambang dan berbau busuk dan Distensi abdomen
c. Peristalsis yang terlihat
d. Massa feses yang mudah diraba
e. Anak biasanya tampak malnutrisi dan anemic
2.6 Komplikasi
a. Enterokolitis nekrotikans
b. pneumatosis usus
c. abses perikolon
d. perforasi
e. septikemia.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
a. Operasi
b. Pemeriksaan colok dubur.

6
Pada penderita Hisrchsprung, pemeriksaan ini sangat penting, karena
dengan pemeriksaan tersebut jari akan merasakan jepitan, dan pada waktu di
tarik akan di ikuti dengan keluarnya udara dan mekonium atau tinja yang
menyemprot.
c. Pemeriksaan Diagnostik.
Pada foto polos abdomen tegak akan terlihat usus usus melebar atau terdapat
gambaran obstruksi usus rendah. Pemeriksaan dengan barium enema sangat
penting dan erlu di buat secepatnya. Dengan pemeriksaan ini akan di temukan
1. Daerah Transisi
2. Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian yang menyempit
3. Enterokolitis pada segmen yang melebar\
4. Terdapat retensi barium setelah 24-48 jam

Penyakit Hirschprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion


parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai pada usus halus. Untuk
menentukan tindakan pertolongan diperlukan pemeriksaan sebagai berikut

1. Biopsi isap, yakni mengambil mukosa dan submukosa dengan alat


penghisap dan mencari sel ganglion pada daerah submukosa.
2. Biopsy otot rectum, yakni pengambilan lapisan otot rectum, dilakukan
dibawah narkos. Pemeriksaan ini bersifat traumatic.
3. Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin dari hasil biopsy asap. Pada
penyakit ini klhas terdapat peningkatan aktivitas enzim asetikolin
enterase.
4. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsy usus.
(Ngatsiyah, 2003 : 220)

7
BAB 3

KONSEP ASKEP
3.1 Pengkajian
a. Identitas Klien
Informasi identitas/data dasar meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama,
alamat, tanggal pengkajian, pemberi informasi.
Penyakit ini sebagian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan
merupakan kelainan tunggal. Jarang pada bayi prematur atau bersamaan dengan
kelainan bawaan lain. Pada segmen aganglionosis dari anus sampai sigmoid lebih
sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Sedangkan
kelainan yang melebihi sigmoid bahkan seluruh kolon atau usus halus ditemukan
sama banyak pada anak laki-laki dan perempuan (Ngastiyah, 2003).
b. Riwayat penyakit
1. Keluhan utama
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat
dilakukan pengkajian, pada klien Hirschsprung misalnya, sulit BAB, distensi
abdomen, kembung, muntah.
2. Riwayat penyakit sekarang
Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam
setelah lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal.
3. Riwayat penyakit dahulu
Apakah ada penyakit terdahulu yang mempengaruhi terjadinya
penyakit Hirschsprung.
4. Riwayat kesehatan keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit ini diturunkan kepada
anaknya.
5. Riwayat tumbuh kembang
Tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan sudah BAB.
6. Riwayat kebiasaan sehari-hari
Meliputi – kebutuhan nutrisi, istirahat dan aktifitas.

c. Pemeriksaan Fisik
1. Sistem integument
Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, pada palpasi dapat
dilihat capilary refil, warna kulit, edema kulit.
2. Sistem respirasi

8
Kaji apakah ada kesulitan bernapas, frekuensi pernapasan
3. Sistem kardiovaskuler
Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop), irama denyut nadi
apikal, frekuensi denyut nadi / apikal.
4. Sistem penglihatan
Kaji adanya konjungtivitis, rinitis pada mata
5. Sistem Gastrointestinal
Kaji pada bagian abdomen palpasi adanya nyeri, auskultasi bising usus,
adanya kembung pada abdomen, adanya distensi abdomen, muntah (frekuensi
dan karakteristik muntah) adanya keram, tendernes.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Konstipasi b/d penyakit Hirscsprung
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d factor biologis
3. Nyeri akut b/d agen cedera biologis
4. Resiko kurangnya volume cairan b/d muntah, ketidakmampuan absorbs air
oleh intestinal
5. Ansietas b/d prognosis penyakit, kurangnya informasi, rencana pembedahan
6. Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan integritas kulit
3.3 Intervensi Keperawatan
no Diagnosa NIC

1 Konstipasi b/d penyakit a. Monitor ( hasil produksi) pergerakan usus (feses),


Hirscsprung meliputi frekuensi, konsistensi, bentuk, volume, dan
warna dengan cara yang tepat
b. Monitor bising usus
c. Jelaskan pada pasien dari masalah dan rasionalisasi
tindakan pada pasien
d. Berikan laksatif, enema atau supositoria sesuai instruksi.
e. Monitor cairan yang dikonsumsi dan hitung asupan kalori
harian
f. Ajarkan pasien atau keluarga mengenai kurun waktu
dalam menyelesaikan terjatdinya konstipasi

9
2 Ketidakseimbangan a. Berikan nutrisi parenteral sesuai kebutuhan
b. Pantau pemasukan makanan selama perawatan
nutrisi kurang dari
c. Pantau atau timbang berat badan
kebutuhan tubuh b/d d. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah
factor biologis kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
e. Melakukan atau membantu pasien dengan perawatan
mulut sebelum makan
3 Nyeri akut b/d agen a. Pantau skala nyeri
b. Ajarkan relaksasi nafas dalam
cedera biologis
c. Berkolaborasi dalam pemberian analgesik

4 Resiko kurangnya a. Timbang berat badan pasien setiap hari sebelum sarapan
b. Ukur asupan cairan dan haluaran urine untuk
volume cairan b/d
mendapatkan status cairan
muntah,
c. Pantai berat jenis urin
ketidakmampuan d. Periksa membrane mukosa mulut setiap hari
e. Tentukan cairan apa yang disukai pasien dan simpan
absorbs air oleh
cairan tersebut disamping tempat tidur pasien, sesuai
intestinal
instruksi.
f. Pantau kadar elektrolit serum

5 Ansietas b/d prognosis a. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan


b. Berikan informasi factual terkait diagnosis, perawatan
penyakit, kurangnya
dan prognosis.
informasi, rencana
c. Atur penggunaan obat obatan untuk mengurangi
pembedahan
kecemasan secara tepat
6 Risiko infeksi a. Alokasikan kesesuaian luas ruang per pasien, seperti yang
berhubungan dengan diindikasikan oleh pedoman pusat pengendalian dan
kerusakan integritas pencegahan penyakit
b. Bersihkan lingkungan dengan baik setelah digunakan
kulit
untuk setiap pasien
c. Anjurkan pasien untuk mencuci tangan pada saat
memasuki dan meninggalkan ruangan pasien
d. Batasi jumlah pengunjung
e. Pastikan teknik perawatan luka yang tepat
f. Berikan terapi antibiotic yang sesuai
g. Kolaboradi dengan tim medis

3.4 Implementasi

10
Pelaksaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencaan. Dalam operasionalnya
perawat merupan suatu tim yang bekerja sama secara berkesinambungan dengan
berbagai tim. Seluruh bagian keperawatan atau catatan keperawatan. (Nasrul
Effendi, 1995)

3.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses perawatan dan merupakan
perbandingan yang sistemik dan terencana tentang kesehatan pasien dan tenaga
kesehatan.
a. Klien tidak mengalami ganggguan eliminasi dengan kriteria defekasi
normal, konstipasi dapat teratasi dalam 4 × 24 jam
b. Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria dapat mentoleransi diet sesuai
kebutuhan secara parenteal atau per oral
c. kebutuhan cairan tubuh terpenuhi dengan kriteria tidak mengalami dehidrasi,
turgo kulit normal dan tidak konstipasi.
d. Memperlihatkan pengendalian nyeri (nyeri berkurang atau hilang)
e. Faktor risiko infeksi akan hilang

11
BAB 4

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Penyakit Hirschsprung (mega kolon kongenital) adalah suatu penyumbatan pada
usus besar yang terjadi akibat pergerakan usus yang tidak adekuat karena
sebagian dari usus besar tidak memiliki saraf yang mengendalikan kontraksi
ototnya.
2. Berdasarkan panjang segmen yang terkena, dapat dibedakan 2 tipe yaitu :
Penyakit Hirschprung segmen pendek dan Penyakit Hirschprung segmen
panjang
3. Penyakit Hirschsprung (megakolon aganglionik kongenital) merupakan
obstruksi mekanis yang disebabkan oleh ketidak adekuatan motilitas bagian
usus. Penyakit ini menempati seperempat dari keseluruhan kasus obstruksi
neonatal kendati diagnosisnya mungkin baru bisa ditegakkan kemudian dalam
masa bayi atau kanak-kanak
4. Dalam keadaan normal, bahan makanan yang dicerna dapat berjalan disepanjang
usus karena adanya kontraksi ritmis dari otot-otot yang melapisi usus (kontraksi
ritmis ini disebut gerakan peristaltic).
5. Bervariasi menurut usia ketika gejala penyakit ini dikenali dan keberadaan
komplikasi seperti enterokolitis. Pada neonatus, biasanya diagnosis ditegakkan
berdasarkan tanda-tanda klisnis obstruksi intestinal dan ketidakmampuan usus
untuk mengeluarkan mekonium.
6. Komplikasi penyakit Hiscprung yaitu bisa meliputi : Enterokolitis nekrotikans,
pneumatosis usus, abses perikolon, perforasi, septikemia.
7. Pemeriksaan Penunjang bagi penderita Hiscprung adalah : Pemeriksaan colok
dubur. , Pemeriksaan Diagnostik dan operasi.
8. Dalam asuhan keperawatan pada pasien hirschprung meliputi : Pengkajian,
Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi.
4.2 Saran
Penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun sangat diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

12
Bulechek Gloria M. 2013. Nursing Interventions Classification. Jakarta Mocomedia

http://princerudias.blogspot.co.id/2012/12/asuhan-keperawatan-pada-pasien-
dengan_27.html. Di akses tanggal 6 februari 2018
Bulecheck Gloria M. 2013. Nursing intervension Classification. United Kingdom :
Elsevier
Ridha Nabiel H, 2014, Buku Ajar Keperawatan Anak, Yogyakarta : Pustaka pelajar

Nugroho Taufan dr, 2011, Asuhan Keperawatan Maternitas , Anak, Bedah, Penyakit
Dalam, Yogyakarta : Nuha Medika.
Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak bSakit, Jakarta: EGC.

13