You are on page 1of 35

A.

Pendahuluan

Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat

Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sumber daya

manusia (SDM) Indonesia merupakan salah satu modal utama dalam

mendukung usaha pembangunan nasional. Oleh karena itu, dibutuhkan SDM

Indonesia yang berkualitas.

Narkoba (Narkotika, psikotropika dan obat–obatan terlarang)

merupakan salah satu penyebab penurunan kualitas SDM Indonesia yang

secara tidak langsung menghambat pembangunan nasional. Ketersediaan

narkoba bisa bermanfaat sebagai obat dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Tetapi di sisi lain dapat menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan

apabila dipergunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan

seksama.1

Penyalahgunaan narkoba bukan hal baru di Indonesia. Kasus

penyalahgunaan narkoba, khususnya obat–obatan terlarang, mengalami

peningkatan setiap tahun. Penyalahgunaan obat–obatan terlarang tidak hanya

terjadi di Kota Besar di Indonesia. Penyalahgunaan obat–obatan terlarang juga

marak terjadi di daerah. Hasil studi sebelumnya pada Tahun 2014, peredaran

obat terlarang sudah merambah Provinsi Jawa Timur, yakni di wilayah Kota

1
Siswanto sunarso, Penegakan Hukum Psikotropika dalam kajian sosiologi hukum, PT
Raja Grafindo persada, Jakarta, 2011, hlm 5
Banjarmasin. Dalam studi tersebut dikaji mengenai penyebab terjadinya

peredaran obat terlarang.2

Peredaran obat terlarang di Kalimantan selatan, tidak hanya terjadi di

Kota Banjarmasin. Obat terlarang juga beredar di wilayah Kota Banjarmasin,

yang lokasinya berbatasan langsung dengan Kota Banjarmasin.

Polda Kalimantan Selatan menyita 7.320.000 butir narkoba jenis

Carnophen atau Zenith di sebuah gudang. Sembilan orang diciduk terkait

temuan itu. "Total pil senilai Rp10.614.000.000," . Jenderal bintang satu itu

menuturkan, pengungkapan kasus ini bermula ketika tim reskrimum Polda

Kalsel melakukan pengintaian selama dua bulan. Dari informasi yang didapat,

akan ada barang masuk ke Banjarmasin, dan akan dikirim kembali ke Pulau

Jawa, Jelasnya, gudang yang dijadikan penyimpanan obat tersebut berlokasi di

Banjarmasin. Obat jenis carnophen sudah dicabut izin edarnya oleh Badan

Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia."Kesembilan tersangka

berinisial, A, MA, MH, MN, PR, UA, SI, SM dan M," pungkas dia.3

Berdasarkan hasil pra survey di Satuan Resnarkoba Polres

Banjarmasin terkait kasus penyalahgunaan narkoba dari Tahun 2012 sampai

2014 diperoleh data peningkatan jumlah tersangka. Tahun 2012 terjadi 39

kasus dan 47 tersangka dan ditemukan jenis barang bukti berupa sabu 3 poket

dan inex 1 butir, 125 butir pil double L dan pil Carnophen sebanyak 3.631

butir. Tahun 2013 kasus narkoba meningkat sebanyak 51 kasus dan 64

2
MA Tabrani, Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Peredaran Obat Berbahaya (Daftar G)
Jenis Carnophen, Skripsi tidak diterbitkan, Malang, 2014, hlm 65
3
Karopenmas Mabes Polri Brigjen Rikwanto kepada wartawan, Senin 9 Oktober 2017.
tersangka serta ditemukan barang bukti berupa sabu 0,78 gram + 1 Poket,

ganja 12, 05 gram, 529 pil double L dan pil Carnophen sebanyak 9.031 butir.

Tahun 2014 terjadi 45 kasus dan sebanyak 65 ditetapkan sebagai

tersangka serta ditemukan barang bukti berupa sabu 44,15 gram + 9 poket,

7720 butir pil double L dan pil Carnophen sebanyak 11.554 butir.4

Penyalahgunaan obat-obatan terlarang di Kota Banjarmasin dilakukan

oleh berbagai lapisan masyarakat. Pelaku pengedar dan pengguna obat–obatan

terlarang mulai dari kalangan anak muda sampai Remaja. Jenis obat terlarang

yang sering digunakan oleh Remaja adalah Carnophen. Achmad Rifani alias

Amat (47) dihadirkan dalam rilis tangkapan di Mapolsekta Banjarmasin

Timur, Senin (29/5) sore. Warga Jalan Veteran Gang H Asmuni Rt 27,

Kelurahan Kuripan Banjarmasin Timur ini adalah bandar pil koplo dan obat

daftar G yang berhasil ditangkap anggota Polsekta Banjarmasin Timur.

Pria ini ketika dihadirkan mengenakan baju tahanan berwarna orange.

Di hadapan Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Anjar Wicaksana dan Kasat

Narkoba Kompol Hadi Suprianto serta Kapolsekta Banjarmasin Timur

Kompol Dese Yulianti, Amat mengaku bahwa bisnis yang dia jalani tidak

lama.

Untuk memasarkan barang tersebut menunggu pembeli yang langsung

datang ke rumahnya. “Satu kotak isi 100 butir dia menjual Rp160 ribu dan

kalau satu keping dia jual Rp16 ribu isi 10 butir Zenith,” ujarnya.

4
Hasil Pra Survei Data Ungkap Kasus SatResnarkoba Polres Banjarmasin Tahun 2015
pada tanggal 2 februari 2015
Diakuinya, barang tersebut baru saja diambil dari pemasoknya dengan

harga beli delapan juta rupiah. “Kalau barang itu semua habis dijual sebesar

Rp15 juta dan saya mendapat untung Rp8 juta. Untuk menghabiskan barang

itu tergantung pembeli bisa lebih seminggu atau satu bulan laku semuanya,”

katanya.

Adapun barang bukti ketika penangkapan berlangsung pada Kamis

(25/5) sekitar pukul 19.40 Wita, petugas menyita 4,200 butir obat Zenith, 150

butir pil warna putih merk Doubel L, dan 7,000 butir pil warna kuning merk

Dextro, 50 butir pil warna ungu bernama Lexotan serta uang hasil penjualan

senilai Rp24.560.000.

Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Anjar Wicaksana, mengatakan,

tersangka ini salah satu penjual obat terlarang di wilayah Banjarmasin Timur.

Pihaknya tidak main-main untuk memberantas penjualnya.

“Sebenarnya saat penyelidikan anggota menarget penjual narkoba, tapi

di TKP tersangka ini menunjukkan gelagat mencurigakan. Anggota sergap dan

digeledahnya ditemukan barang bukti semua ini,” pungkas Anjar5

Maraknya kasus peredaran obat–obat terlarang khususnya Carnophen

di kalangan Remaja menyebabkan pihak kepolisian melakukan beberapa

upaya pemberantasan. Dampak yang ditimbulkan akibat penggunaan obat

keras (daftar G) Carnophen pada Remaja adalah dapat memberikan efek

ketergantungan yang tinggi bagi pemakai. Pemakai menganggap

menggunakan Carnophen merupakan suatu kebutuhan untuk menambah

5
http://www.kalimantanpost.com/ratusan-butir-zenith-diamankan/ di akses 6 Januari 2018
stamina (doping), penghangat badan, dan digunakan untuk keperluan sehari–

hari dalam melakukan aktivitasnya sebagai Remaja.6

Faktor penyebab tingginya penyalahgunaan Carnophen pada Remaja

adalah kemudahan Remaja dalam mendapatkan barang tersebut. Remaja dapat

membeli Carnophen dengan harga yang terjangkau dan dapat memperolehnya

dari rekan sesama Remaja.7 Penegakan hukum terhadap tindak pidana

peredaran obat keras (daftar G) jenis Carnophen sudah dilakukan secara

maksimal. Hal ini diharapkan mampu menurunkan peredaran pil jenis

Carnophen di kalangan Remaja di wilayah Kota Banjarmasin.

Mencermati latar belakang yang telah diuraikan diatas penulis merasa

perlu mengangkat untuk memberikan analisis upaya yang seharusnya

dilakukan oleh pihak kepolisian untuk menangulangi dan memberantas

terjadinya tindak pidana peredaran obat keras (daftar G) jenis Carnophen di

kalangan Remaja di Kota Banjarmasin.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pendahuluan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa

masalah sebagai berikut:

1. Apa saja kendala yang dihadapi Satuan Reserse Narkoba Polres

Banjarmasin dalam menanggulangi tindak pidana peredaran obat keras

(daftar G) jenis Carnophen di kalangan Remaja ?

6
Hasil wawancara Prasurvei dengan AIPTU Jinanto selaku Kanit Idik I Satres narkoba
Polres Banjarmasin pada hari Senin 2 februari 2015.
7
Hasil wawancara Prasurvei dengan AIPTU Jinanto selaku Kanit Idik I Satresnarkoba
Polres Banjarmasin pada hari Rabu 4 februari 2015
2. Bagaimana upaya Satuan Reserse Narkoba Polres Banjarmasin untuk

menanggulangi tindak pidana peredaran obat keras (daftar G) jenis

Carnophen di kalangan Remaja

C. Keaslian Penelitian

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui apa saja kendala yang dihadapi Satuan Reserse

Narkoba Polres Banjarmasin dalam menanggulangi tindak pidana

peredaran obat keras (daftar G) jenis Carnophen di kalangan Remaja ?

b. Untuk mengetahui upaya Satuan Reserse Narkoba Polres Banjarmasin

dalam menanggulangi tindak pidana peredaran obat keras (daftar G)

jenis Carnophen di kalangan Remaja

2. Kegunaan Penelitian

Kegunaan yang diharapkan dari hasil penelitian ini sebagai berikut:

a. Secara Teoritis

1) Untuk dapat memberikan bahan masukan bagi pengembangan ilmu

hukum, sebagai konstribusi pemikiran bagi Negara beserta aparatur

pemerintahan khususnya pihak Kepolisian RI/ Direktorat Narkotika

POLRI dan BNN/BNP/BNK mengenai penanggulangan tindak pidana

peredaran obat keras (daftar G) jenis Carnophen di kalangan Remaja.

2) Untuk dapat menumbuhkan kesadaran hukum bagi masyarakat tentang

bahaya peredaran obat keras (daftar G) jenis Carnophen di kalangan

Remaja
3) Untuk dapat memberikan masukan bagi Kepolisian RI pada khususnya

dan Masyarakat pada umumnya tentang Penegakan Hukum

Penyalahgunaan Narkotika tindak pidana peredaran obat keras (daftar

G) jenis Carnophen di kalangan Remaja dari Perspektif Peradilan

Pidana.

4) Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai sumbangan pemikiran

atau masukan bagi aparatur penegak hukum yang beroperasi dalam

penegakan hukum Penyalahgunaan Narkotika dalam Perspektif

Peradilan Pidana.

B. TINJAUAN PUSTAKA

1. Kajian Hukum

a. Teori Penegakan Hukum Pidana

Secara konsepsional inti dan arti penegakan hukum terletak

pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di

dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah sikap tindak

sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan,

memelihara dan mempertahankan kadamaian pergaulan hidup.

Pengertian penegakan hukum ialah penerapan hukum (acara)

pidana dalam menyelesaikan kasus-kasus pidana. Di dalam literatur

hukum pidana di negara barat (Amerika), istilah penegakan hukum

lebih dikenal dengan istilah “Criminal Justice System”.


Dari uraian di atas, jelaslah bahwa penegakan hukum (acara)

pidana sebagai suatu sistem harus merupakan suatu kesatuan aparat

penegak hukum yang bertugas menindak para pelanggar

hukum pidana, sedangkan penegakan hukum sebagai suatu proses.

Jelas bahwa ia harus merupakan suatu kesatuan proses penerapan

hukum (acara) pidana. Hal ini berarti sebagai suatu proses penegakan

hukum tersebut harus terdiri dari penyelidikan dan penyidikan

kejahatan, penangkapan, pemeriksaan pendahuluan, penuntutan dan

peradilan serta pelaksaan pidana.8

Penegakan hukum sebagai sarana untuk mencapai tujuan

hukum, maka sudah semestinya seluruh energi dikerahkan agar

hukum mampu bekerja untuk mewujudkan nilai-nilai moral dalam

hukum. Kegagalan hukum untuk mewujudkan nilai hukum tersebut

merupakan ancaman bahaya akan bangkrutnya hukum yang ada.9

Hukum yang miskin implementasi terhadap nilai-nilai

moral akan berjarak serta terisolasi dari masyarakatnya. Keberhasilan

penegakan hukum akan menentukan barometer legitimasi hukum

ditengah-tengah realitas sosialnya. Tujuan penegakan hukum di

Indonesia disamping untuk mengurangi dan membatasi peningkatan

kejahatan yang timbul dalam masyarakat, juga memberikan

kesempatan bagi pelanggar hukum untuk menjadi warga

masyarakat yang berguna.

8
Lihat, 01http://www.suduthukum.com/2018/01/pengertian-penegakan-hukum-pidana
.html. Diakses Tanggal.7 Januari 2018
9
Ibid
b. Teori Kewenangan Hukum Pidana

Sebenarnya ranah Kewenangan atau wewenang merupakan

ranah kajian hukum tata negara dan hukum administrasi, dalam

penelitian ini peneliti akan memaparkan korelasi antara kewenangan

dengan penelitian tesis yang peneliti lakukan.

Kewenangan memiliki kedudukan penting dalam kajian

hukum tata negara dan hukum administrasi. Begitu pentingnya

kedudukan wewenang ini sehingga F.A.M. Stroik dan J.G. Steenbeek

menyatakan: “Het begrip bevoegdheid is dan ook een kembergrip in

het staats-en administratief recht”. Dari pernyataan ini dapat ditarik

suatu pengertian bahwa wewenang merupakan konsep inti dari hukum

tata negara dan hukum administrasi.

Istilah wewenang atau kewenangan disejajarkan dengan

“authority” dalam bahasa Inggris dan “bevoegdheid” dalam bahasa

Belanda. Authority dalam Black S Law Dictionary diartikan

sebagai Legal power; a right to command or to act; the right and

power of public officers to require obedience to their orders lawfully

issued in scope of their public duties.10 (Kewenangan atau wewenang

adalah kekuasaan hukum, hak untuk memerintah atau bertindak; hak

atau kekuasaan pejabat publik untuk mematuhi aturan hukum dalam

lingkup melaksanakan kewajiban publik). “Bevoegdheid” dalam

istilah Hukum Belanda, Phillipus M. Hadjon memberikan catatan

10
Henry Campbell Black,1990. Black’S Law Dictionary, West Publishing, Hal. 133.
berkaitan dengan penggunaan istilah “wewenang” dan “bevoegdheid”.

Istilah “bevoegdheid” digunakan dalam konsep hukum privat dan

hukum publik, sedangkan “wewenang” selalu digunakan dalam

konsep hukum publik.11

Wewenang sebagai konsep hukum publik sekurang-

kurangnya terdiri dari 3 (tiga) komponen, yaitu pengaruh, dasar

hukum, dan konformitas hukum. Komponen pengaruh ialah bahwa

penggunaan wewenang dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku

subjek hukum. Komponen dasar hukum bahwa wewenang itu selalu

harus dapat ditunjuk dasar hukumnya. Komponen konformitas

mengandung makna adanya standar wewenang yaitu standar umum

(semua jenis wewenang) dan standar khusus (untuk jenis wewenang

tertentu).12

Di dalam hukum administrasi asas legalitas/keabsahan

(legaliteit beginsel/wetmatigheid van bestuur) mencakup tiga aspek

yaitu: wewenang, prosedur dan substansi. Artinya wewenang,

prosedur maupun substansi harus berdasarkan peraturan perundang-

undangan (asas legalitas), karena pada peraturan perundang-undangan

tersebut sudah ditentukan tujuan diberikannya wewenang kepada

pejabat administrasi, bagaimana prosedur untuk mencapai suatu

tujuan serta menyangkut tentang substansinya.

11
Phillipus M. Hadjon, Tentang Wewenang, Yuridika, No. 5 & 6 Tahun XII, Sep-Des
1997, Hal. 1.
12
Ibid
Di atas telah dikemukakan bahwa penyalahgunaan wewenang

dapat terjadi pada jenis wewenang terikat dan juga bisa terjadi pada

jenis wewenang bebas (diskresi). Indikator atau tolok ukur

penyalahgunaan wewenang pada jenis wewenang terikat adalah asas

legalitas (tujuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-

undangan); sedangkan pada jenis wewenang bebas (diskresi)

mempergunakan parameter asas-asas umum pemerintahan yang baik,

karena asas “wetmatigheid” tidaklah memadai. Di dalam praktek

peradilan sering dipertukarkan/dicampuradukan antara penyalah

gunaan wewenang dan cacat prosedur yang seolah-olah cacat prosedur

itu in heren dengan penyalahgunaan wewenang.13 Tolak ukur

penyalahgunaan wewenang pada jenis wewenang terikat

menggunakan peraturan perundang-undangan (written rules), atau

menggunakan parameter asas legalitas.

Jika dikaitkan dengan pembahasan Tesis ini, maka sudah

seharusnyalah semua tindakan berdasarkan kewenangan masing

masing lembaga, baik Direktorat Narkotika Polri maupun BNN/BNK,

dalam menjalankan tugasnya terikat dan merujuk pada Peraturan

PerUndang-Undangan yang berlaku (written rules).

2. Kajian Konseptual

a. Penyalahgunaan Narkotika

13
Ibid
Permasalahan penyalahgunaan narkotika sudah lama masuk

dan dikenal di Indonesia, hal itu dapat dilihat dari dikeluarkannnya

Instruksi Presiden Republik Indonesia (INPRES) Nomor 6 Tahun

1971 kepada Kepala Badan Koordinasi Intelijen Nasional (BAKIN)

untuk menanggulangi enam permasalahan nasional yang menonjol,

salah satunya adalah penanggulangan penyalahgunaan narkotika.

Lambat laun penyalahgunaan narkotika menjadi masalah

yang serius, maka dari itu pada zaman Orde Baru pemerintah

mengeluarkan regulasi berupa Undang-Undang Nomor 22 Tahun

1997 sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 35

Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Karena permasalahan penyalahgunaan narkotika sudah

menjadi masalah yang luar biasa, maka diperlukan upaya-upaya yang

luar biasa pula, tidak cukup penanganan permasalahan Narkotika ini

hanya diperankan oleh para penegak hukum saja, tapi juga harus

didukung peran serta dari seluruh elemen masyarakat.

Kenyataan itulah yang menjadi latar belakang berdirinya

Badan Narkotika Nasional (BNN). BNN pun gencar melakukan

upaya-upaya preventif dan represif untuk mewujudkan Indonesia yang

bebas dari Narkotika tahun 2015 yang merupakan target dari seluruh

negara ASEAN.

Upaya-upaya itu meliputi penyelamatan para pengguna

Narkotika dengan cara rehabilitasi, dan memberantas para bandar,


sindikat, dan memutus peredaran gelap narkotika. Tetapi itu tidak

cukup, karena diperlukan pula upaya preventif berupa pencegahan

agar tidak muncul pengguna/pecandu narkotika yang baru, mengingat

kata pepatah yang mengatakan, “lebih baik mencegah daripada

mengobati”. Pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika saat ini

tidak hanya ada pada kalangan yang cukup umur saja, bahkan pada

kalangan yang belum cukup umur. Oleh karena itu diperlukan upaya

pencegahan penyalahgunaan narkotika sejak dini.

Keseriusan pemerintah dalam menanggulangi permasalahan

penyalahgunaan narkotika tersebut sangat diperlukan. Terutama

penyamaan kedudukan permasalahan narkotika dengan permasalahan

korupsi dan terorisme. Ketiga permasalahan tersebut sama-sama

mempunyai dampak yang sistemik, mengancam ketahanan nasional,

serta merusak kesehatan masyarakat terutama generasi muda.

b. Tindak Pidana Narkoba

Tindak Pidana Narkotika diatur dalam Bab XV Pasal 111

sampai dengan Pasal 148 Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 yang

merupakan ketentuan khusus, walaupun tidak disebutkan dengan tegas

dalam Undang-undang Narkotika bahwa tindak pidana yang diatur di

dalamnya adalah tindak kejahatan, akan tetapi tidak perlu

disangksikan lagi bahwa semua tindak pidana di dalam undang-

undang tersebut merupakan kejahatan. Alasannya, kalau narkotika

hanya untuk pengobatan dan kepentingan ilmu pengetahuan, maka


apabila ada perbuatan diluar kepentingan-kepentingan tersebut sudah

merupakan kejahatan mengingat besarnya akibat yang ditimbulkan

dari pemakaian narkotika secara tidak sah sangat membahayakan bagi

jiwa manusia.14

Dalam Pasal 1 ayat 13 Undang-undang Nomor 35 tahun 2009

tentang Narkotika, Pecandu Narkotika adalah Orang yang

menggunakan atau menyalahgunakan Narkotika dan dalam keadaan

ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun psikis

sedangkan penyalah guna narkotika dalam Pasal 1 ayat 15 Undang-

undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika adalah Orang yang

menggunakan Narkotika tanpa hak atau melawan hukum.

Pengembangan Narkotika bisa digunakan untuk pelayanan kesehatan

sebagaimana diatur dalam Bab IX Pasal 53 sampai dengan Pasal 54

Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 terutama untuk kepentingan

Pengobatan termasuk juga untuk kepentingan Rehabilitasi.

Untuk pelaku penyalahgunaan Narkotika dapat dikenakan

Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, hal ini dapat

diklasifikasikan sebagai berikut :

Sebagai pengguna, Dikenakan ketentuan pidana berdasarkan

pasal 116 Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika,

dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun.

14
Supramono, G. 2001. Hukum Narkotika Indonesia.Djambatan, Jakarta
Sebagai pengedara, Dikenakan ketentuan pidana berdasarkan

pasal 81 dan 82 Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang narkotika,

dengan ancaman hukuman paling lama 15 dan denda.

Sebagai produsen, Dikenakan ketentuan pidana berdasarkan

pasal 113 Undang-undang No. 35 tahun 2009, dengan ancaman

hukuman paling lama 15 tahun atau seumur hidup atau mati dan

denda.

Mengingat betapa besar bahaya penyalahgunaan Narkotika

ini, maka perlu diingat beberapa dasar hukum yang diterapkan

menghadapi pelaku tindak pidana narkotika berikut ini:

1. Undang-undang RI No. 7 tahun 1997 tentang PengesahanUnited

Nation Convention Against Illicit Traffic in Naarcotic Drug and

Pshychotriphic Substances ( Konvensi PBB tentang

Pemberantasan Peredaran Gelap narkotika dan Psikotrapika,

1988)

2. Undang-undang RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika sebagai

pengganti UU RI No. 22 tahun 1997.

c. Sanksi Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika

Sanksi pidana merupakan penjatuhan hukuman yang diberikan kepada

seseorang yang dinyatakan bersalah dalam melakukan perbuatan

pidana. Tujuan dari sanksi pidana menurut Bemmelen adalah untuk

mempertahankan ketertiban masyarakat, dan mempunyai tujuan


kombinasi untuk menakutkan, memperbaiki dan untuk kejahatan

tertentu membinasakan.15

d. Jenis-Jenis Sanksi Pidana

Secara eksplisit bentuk-bentuk sanksi pidana tercantum dalam pasal

10 KUHP. Bentuk-bentuk sanksi pidana ini dibedakan antara pidana

pokok dan pidana tambahan. Dibawah ini adalah bentuk-bentuk

pidana baik yang termasuk pidana pokok maupun pidana tambahan

yaitu:

a. Pidana Pokok meliputi 1) Pidana mati2) Pidana Penjara3) Pidana

Kurungan4) Pidana Tutupan5) Pidana Denda

b. Pidana Tambahan meliputi 1) Pencabutan Hak-Hak Tertentu 2)

Perampasan Barang Tertentu 3) Pengumuman Putusan Hakim

d. Penyalahgunaan Carnophen (Pil Zenith)

Seiring dengan berkembanganya zaman, ekstasi pun saat ini

sudah mulai tidak dilirik lagi oleh para remaja dengan alasan harganya

yang sedikit mahal dibandingkan dengan zenith. Zenith sendiri

sebenarnya merupakan nama merek dagang. Hanya saja, belakangan

seiring maraknya penyalahgunaan obat, Zenith pun mulai

dikategorikan sebagai obat keras yang pemanfaatannya harus dengan

resep dokter. Dalam dunia farmasi, Zenith atau Carnophen sebenarnya

adalah obat kimia yang bersifat racun. Namun jika dikonsumsi dalam

15
J.M van Bemmelen Hukum Pidana 1 (Hukum Pidana Material Bagian Umum), Terjemahan
Hasnan, Bina Cipta, Bandung 1987, h. 128, dalam Mahrus Ali, Kejahatan Korporasi Kajian
Relevansi Sanksi Tindakan Bagi Penanggulangan Kejahatan Korporasi, Arti Bumi Intaran,
Yogyakarta, 2008 h. 137.
dosis yang tepat bisa sebagai penawar. carnophen mengandung

carisoprodol yaitu relaksan otot untuk menangani nyeri otot yang akut.

Metabolit dari carisoprodol yaitu Meprobamate merupakan depresan

sistem saraf pusat dan digunakan untuk menangani gejala gangguan

cemas. Sebaliknya jika dikonsumsi berlebihan dalam dosis tertentu

bisa menimbulkan efek yang dikenal dengan Fly atau mabuk. Obat

inilah yang saat ini sering disalahgunakan karena adanya efek

sedatifhipnotik nya.

Maraknya kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang

khususnya carnophen ini bukan hanya pada orang dewasa saja bahkan

anak yang belum cukup umur seperti pelajar juga sudah mengenal dan

mengkonsumsinya. Dampak yang ditimbulkan akibat penggunaan

carnophen ini dapat memberikan efek ketergantungan yang tinggi bagi

si pemakai. pemakai menganggap menggunakan carnophen

merupakan suatu kebutuhan untuk penghangat badan dan menambah

stamina (Dopping). Maka tak jarang beberapa orang pekerja keras

menggunakannya, Misalnya saja seperti kuli bangunan, anak jalanan,

pekerja tambang yang butuh tenaga ekstra. Sehingga digunakannya

untuk keperluan sehari-hari dalam melakukan aktivitasnya ketika

sedang bekerja.

Faktor penyebab tingginya penyalahgunaan carnophen salah

satunya adalah kemudahan dalam mendapatkan barang tersebut dan

dapat membelinya dengan harga yang terjangkau. Namun banyak


yang belum mengetahui apa bahaya mengkonsumsi carnophen

sebenarnya. Potensi terburuk mengkonsumsi zenith atau carnophen

dalam jumlah berlebihan dapat mengakibatkan kematian. Sedangkan

dalam jangka panjang, over dosis konsumsi obat kimia tersebut dapat

mengakibatkan kerusakan ginjal dan kerusakan hati.

Carnophen atau biasa disebut Zenith dan Dextro ini telah

merambah hampir seluruh wilayah di Kalimantan selatan. Hal itu

menunjukkan betapa progresifnya peredaran pil ini di masyarakat.

Beberapa kali penggerebekan oleh aparat kepolisian, didapat barang

bukti dalam jumlah sangat banyak. Peredaran obat yang izin

peredarannya sudah dicabut oleh BPOM ini tidak hanya di ibu kota,

tapi sudah merambah ke kabupaten hingga pedesaan.

Di Banjarmasin, penjualan Zenith bak kacang goreng. Biasanya

warga dari kalangan ekonomi lemah membeli tiap butirnya, kemudian

dikonsumsi dengan dalih agar badan fit. Padahal, ujung-ujungnya

untuk memperoleh efek mabuk atau kondisi 'trance'. Dalam dosis

tertentu, Zenith yang dikonsumsi bisa menimbulkan efek itu.

Dari penelusuran sumber, untuk Zenith, cukup mengeluarkan

uang Rp 25 ribu untuk satu keping berisi 10 butir. Seperti yang

dialami Abidin alias Udin, warga Jalan Gerilya Kelayan B RT 18,

Banjarmasin Timur, yang digelandang Unit Patroli Kota Satuan

Sabhara Polresta Banjarmasin karena membawa beberapa butir


Zenith. "Minum zenith sehari dua biji, biar kerja tidak capek," katanya

kepada BPost Online, Sabtu (31/1/2015).

Penyalahgunaan zenith atau carnophen menjadi 'primadona' di

Banjarmasin sepanjang 2015. Bahkan mengalahkan ekstasi dan sabu-

sabu. Jumlah barang bukti yang disita meningkat hingga lebih dari

2.000 persen dibanding 2014. Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol

Wahyono, pada kesempatan paparan Kaleidoskop atau kilas balik

perkara mengatakan pada tahun 2014 tindak pidana narkoba sebesar

278 kasus dan pada tahun 2015 sebesar 354 kasus. Ada kenaikan 76

kasus atau 27 persen.

Untuk perbandingan kembali, di tahun 2014 pelaku tindak

pidana narkoba yang berhasilkan diamankan sebanyak 385 orang

sedangkan pada 2015 sebanyak 474 orang. Alami kenaikan 90 orang

(23 persen). Untuk sabu pun alami kenaikan sebanyak 204 persen.

Pada 2014, barang bukti sabu seberat 790,96 gram sedangkan tahun

2015 mencapai 2.407,11 gram. Ekstasi justru malah alami penurunan.

Di tahun 2014 ekstasi yang disita jadi barang bukti sebanyak 2.138

butir namun di 2015 cuma 1.200 butir. Carnophen atau zenith, di 2014

sebanyak 15.396 butir sedangkan di tahun 2015 ini sebanyak 402.842

butir alami kenaikan hingga 2.517 persen.

Penyalahgunaan pil zenith kini sungguh meresahkan warga

Banjarmasin, terlebih lagi penggunanya didominasi oleh anak-anak

muda bahkan pelajar, tentu ini berhubungan dengan kemudahan


mendapatkan dan kemurahan harga untuk memperoleh pil ini.

Dampak yang diakibatkan pun tidak main-main, menyebabkan

ketergantungan yang akhirnya berujung pada berbagai penyakit

mematikan.

e. Upaya Mengatasi Permasalahan Selama Ini

Upaya pencegahan dan penyelamatan juga kampanye tentang

bahaya narkoba sudah cukup gencar dilakukan pemerintah dibawah

naungan BNN (Badan Narkotika Nasional) dengan melakukan

berbagai macam sosialisasi dan publikasi, mempersempit ruang gerak

peredaran narkoba dengan penangkapan para bandar narkoba dari

kelas teri hingga kelas kakap, dari yang nasional sampai yang

internasional.

Kepada para pengguna yang telah menjadi pecandu disediakan

panti rehabilitasi, sebagai upaya menghadirkan lingkungan yang

diharapkan mampu menyembuhkan pengguna dari candunya.

Hukuman yang berat kepada pengguna dan pengedar juga menjadi

salah satu upaya dari pemerintah guna menekan jumlah peredaran

narkoba di Indonesia, untuk pil zenith telah tersedia hukum tapi masih

lebih ringan dibanding dengan narkotika jenis lain.

f. Sistem Peradilan Pidana

Pengertian Sistem Peradilan Pidana adalah sistem yang dibuat

untuk menanggulangi masalah-masalah kejahatan yang dapat

mengganggu ketertiban dan mengancam rasa aman masyarakat,


merupakan salah satu usaha masyarakat untuk mengendalikan

terjadinya kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi yang

dapat diterima.16 Pelaksanaan peradilan pidana adalah upaya untuk

menanggulangi kejahatan yang terjadi di masyarakat dengan

mengajukan para pelaku kejahatan ke pengadilan sehingga

menimbulkan efek jera kepada para pelaku kejahatan dan membuat

para calon pelaku kejahatan berpikir dua kali sebelum melakukan

kejahatan.17

Menurut Muladi, sistem peradilan pidana sesuai dengan makna

dan ruang lingkup sistem dapat bersifat phisik dalam arti sinkronisasi

struktural (structural syncronization) dalam arti keselarasan

mekanisme administrasi peradilan pidana, dapat pula bersifat

substansial (substancial syncronization) dalam kaitannya dengan

hukum positif yang berlaku, dan dapat pula bersifat kultural (cultural

syncronization) dalam arti menghayati pandangan, sikap, dan falsafah

yang secara menyeluruh mendasari jalannya sistem peradilan

pidana.18 Diharapkan dengan adanya peradilan pidana maka kejahatan

yang terjadi di masyarakat masuk ke dalam batas-batas yang masih

dapat ditolerir. Karena untuk menghilangkan kejahatan adalah sesuatu

yang sangat sulit untuk tercapai.

16
Mardjono Reksodiputro.1997, Kriminologi Dan Sistem Peradilan Pidana, Jakarta :
Lembaga Kriminologi UI, Hal. 140
17
Abdussalam dan DPM Sitompul, 2007, Sistem Peradilan Pidana, Jakarta : Restu
Agung, Hal 4.
18
Muladi ,1995, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang : Undip Press, Hal.
13.
Tujuan diadakannya sistem peradilan pidana adalah :19

a. Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan

b. Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat

puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana

c. Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan

tidak lagi mengulanginya.

Upaya terbaik menegakkan hukum pidana meteril selalu

menuntut dan bersandar pada bagaimana ketentuan hukum pidana

formil untuk mampu mengawal tujuan hukum pidana materil itu

sendiri. Kejahatan menjadi sasaran tuduhan akibat lemahnya

penegakan hukum materil, jika saja perangkat hukum yang mengatur

komponen dalam sistem peradilan juga lemah.

Sistem Peradilan Pidana yang Terpadu (SPPT) atau Integrated

Criminal Justice System (ICJS) merupakan unsur hukum pidana yang

sangat penting dalam kerangka penegakan hukum pidana materil.

Philip. P. Purpura menyatakan bahwa sistem peradilan pidana

(criminal justice system) merupakan suatu sistem yang terdiri dari

Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan

yang bertujuan untuk melindungi dan menjaga ketertiban masyarakat,

mengendalikan kejahatan, melakukan penangkapan, dan penahanan

terhadap pelaku kejahatan, memberikan batasan bersalah atau tidaknya

seseorang, memidana pelaku yang bersalah dan melalui komponen

19
Abdussalam dan DPM Sitompul., Op. Cit
sistem secara keseluruhan dapat memberikan perlindungan hukum

terhadap hak-hak terdakwa.

Sistem peradilan pidana yang sudah kita punyai sebagaimana

tergambar dalam KUHAP (Undang-Undang No. 8 Tahun 1981),

adalah gambaran betapa komponen hukum pidana yang kita punyai

kurang mampu diharapkan untuk mengawal penegakan hukum pidana

materil.20 Kelemahan mendasar yang terlihat dari KUHAP adalah

terabaikannya hak-hak tersangka/ terdakwa/ terpidana dan korban

kejahatan yang harus diperhatikan kemungkinan mendapatkan

perlindungan hukum akan hak-haknya sebagai korban kejahatan, tidak

mendapat pengaturan yang memadai. Kekerasan baik fisik maupun

psikis seringkali dialami oleh tersangka/ terdakwa/ terpidana ketika

mereka harus mengikuti prosedur tetap yang dimainkan oleh aparat

penegak hukum dengan dalih semua perbuatan aparat penegak hukum

sudah menjalankan tugas dan kewajiban penegakan hukum sesuai

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini

KUHAP.

Selain itu, terlantarnya, tersia-siakannya, menderitanya korban

kejahatan yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan jaminan

hak-haknya untuk memperoleh ganti rugi, rehabilitasi, baik secara lahir

maupun batin nampaknya juga tidak ada aturan dalam KUHAP secara

tegas. Aspek perlindungan saksi yang merasa terancam keselamatan

20
Ibid
jiwa dan hartanya akibat memberikan keterangan terhadap kejahatan

tertentu, juga tidak mendapat pengaturan khusus dalam KUHAP. Di

sisi lain, membicarakan sistem peradilan yang terpadu, tidak dapat

dilepaskan dari upaya penegakan hukum pidana baik yang hukum

pidana formil maupun materil.

Pada dasarnya, asas peradilan yang paling mendasar dari

pelaksanaan dan pelayanan administrasi peradilan mengarah pada

prinsip dan asas efektif dan efisien adalah asas sederhana, cepat dan

murah. Namun demikian, penyelesaian perkara di Pengadilan sangat

bergantung pada beberapa faktor yaitu : faktor substansi perkara,

faktor pencari keadilan, faktor kuasa hukum, faktor kesiapan alat-alat

bukti, faktor sarana dan prasarana, faktor budaya hukum, faktor

komunikasi dalam persidangan, faktor pengaruh dari luar, faktor aparat

pengadilan, faktor hakim, dan faktor manajeman. Walaupun faktor-

faktor diatas mempunyai pengaruh, namun pelaksanaan asas

sederhana, cepat, murah, masih merupakan faktor yang menentukan

dalam pelaksanaan pelayanan administrasi peradilan yang benar-benar

sederhana, cepat dan murah.

Sederhana dimaknai bahwa dalam peradilan pidana diharapkan

sebagai proses yang tidak bertele-tele, berbeli-belit, tidak berliku-liku,

tidak rumit, jelas, lugas, mudah dipahami,mudah diterapkan,

sistematis, baik untuk pencari keadilan maupun aparat penegak hukum.

Namun dalam praktek nyata, sering kali asas tersebut dipahami secara
beragam oleh aparat penegak hukum disemua tingkatan. Pemahaman

oleh aparat penegak hukum lebih dimaksudkan sebagai proses

birokrasi yang wajib dilalui oleh pencari keadilan, dan dipihak lain

aparat penegak hukum mempunyai kewajiban untuk menerapkannya

sesuai dengan pemahaman aparat penegak hukum sendiri.

Kesederhanaan seharusnya dipahami tidak sebatas pada

persoalan administrasi saja, namun juga harus menjadi jiwa dan

semangat motivasi aparat penegak hukum dalam gaya dan pola

kehidupan sehari-hari. Konsistensi dan komitmen aparat penegak

hukum dalam menjalankan asas sederhana juga harus dimulai dalam

diri sendiri, kemudian pada insitusi dalam semua tingkatan (kepolisian,

kejaksaan, pengadilan, lembaga pemasyarakatan, dan advokat).

Cepat, dimaknai sebagai upaya strategis untuk menjadikan

sistem peradilan pidana sebagai institusi yang dapat menjamin

terwujudnya/ tercapainya keadilan dalam penegakan hukum secara

cepat oleh pencari keadilan. Baik cepat dalam proses, cepat dalam

hasil, dan cepat dalam evaluasi terhadap kinerja dan tingkat

produktifitas institusi peradilan (kepolisian, kejakasaan, pengadilan,

lembaga pemasyarakatan, dan advokat). Satu saja komponen tidak

berfungsi maka unsur cepat tidak akan tercapai.21 Kecepatan proses,

hasil, dan evaluasi tersebut menggunakan ukuran parameter dari

prinsip tepat dan cermat. Tepat dalam penerapan ketentuan peraturan

21
Abdussalam dan DPM Sitompul., Op. Cit
perundang-undangan yang dipergunakan sebagai dasar yuridis

keputusannya (tidak bertentangan dengan asas-asas hukum umum

yang berlaku secara universal seperti lex specialis de rogat lex

generalis dan lainnya), tepat dalam memilih dan memilah pasal-pasal

yang dipergunakan sebagai dasar dalam pertimbangan keputusannya,

tepat dalam mengolah dan memahami secara filosofis (bersandar pada

nilai-nilai keadilan yang berkembang di masyarakat maupun yang

terkandung dalam hukum positif) terhadap keputusannya, tepat dalam

menentukan kerangka sosiologis (menjamin rasa keadilan masyarakat,

mengembalikan dan menjaga keseimbangan sosial, mempunyai

manfaat). Demikian juga tindakan penegak hukum harus cermat,

dalam arti mengandung unsur kehati-hatian, ketelitian, kesungguhan,

dalam proses, hasil maupun evaluasinya.

Murah, mengandung makna bahwa mencari keadilan melalui

lembaga peradilan adalah tidak sekedar orang mempunyai harapan

akan jaminan keadilan di dalamnya, tetapi harus ada jaminan bahwa

keadilan tidak mahal, keadilan tidak dapat dimaterialisasikan, keadilan

mempunyai sifat mandiri dan bebas dari nilai- nilai lain yang dapat

mengaburkan nilai keadilan itu sendiri, keadilan tidak dapat

diperjualbelikan, keadilan bukan merupakan komoditas, keadilan

bukan merupakan kata dengan sejuta pesimisme, keadilan tidak dapat

dikuantifikasikan dalam bentuk dan jenis apapun, keadilan adalah

kebutuhan dasar bagi manusia yang hidup di dunia secara universal.


Apabila asas sederhana, cepat, murah sebagaimana telah

diuraikan diatas menjadi semangat para penegak hukum, maka sistem

peradilan pidana yang efektif dan efisien dapat diwujudkan. Persoalan

kualifikasi sumber daya manusia yang menjadi penegak hukum dalam

hal ini, memang menjadi kendala yang serius. Pembenahan sistem

peradilan pidana akhirnya tidak dapat hanya bergantung dalam

pemahaman harfiah dari penegak hukum terhadap asas sederhana,

cepat, dan murah saja, namun lebih dari itu semua adalah nurani

penegak hukum, pencari keadilan, penguasa, legislatif dan sistem yang

membingkai institusi peradilan juga menjadi faktor dominan.

Di Indonesia, peradilan pidana mengacu pada kodifikasi pidana

formil yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

yang diberlakukan melalui Undang-Undang No. 8 Tahun 1981. Tetapi

belum ada upaya yang sistematis dan signifikan dalam rangka untuk

mengatasi kekosongan dan kekurangan hukum pidana formil yang

hanya mendasarkan pada acuan Undang- Undang No. 8 Tahun 1981.

Payung hukum untuk menutupi kekosongan dan kelemahan tersebut

adalah apa yang disebut dengan kebijakan pidana.

C. Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini akan dilalui tahapan-tahapan dan

teknis yang dilakukan yaitu:

1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian hukum normatif

berupa penelitian kepustakaan yang menggunakan 3 bahan hukum yaitu

bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

Penelitian hukum ini menitikberatkan pada studi kepustakaan yang berarti

akan lebih banyak menelaah dan mengkaji aturan-aturan hukum yang ada

dan berlaku. Dalam penelitian ini memerlukan bahan hukum-bahan

hukum karena akan berfungsi untuk melengkapi dan menunjang bahan

hukum dalam penelitian kepustakaan (library research).

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang Peneliti pergunakan dalam penelitian ini

adalah tipe pendekatan perundang-undangan, dengan menggunakan tipe

pendekatan perundang-undangan (Statute approach) dan konseptual

(Conceptual approach) penelitian inventarisasi peraturan perundang-

undangan dengan menitikberatkan pada bahan hukum primer yang

mengatur kewenangan kepolisian dalam Penegakan Hukum

Penyalahgunaan Narkotika dalam Perspektif Peradilan Pidana peredaran

obat keras (daftar G) jenis Carnophen di kalangan Remaja di Kota

Banjarmasin.

3. Sifat Penelitian

Sifat penelitian ini adalah deskriftif analitis, karena dari penelitian

ini diharapkan akan diperoleh gambaran secara menyeluruh (holistik)

mendalam dan sistematis mengenai Kewenanganan Kepolisian dalam

Penegakan Hukum Penyalahgunaan Narkotika Peredaran obat keras


(daftar G) jenis Carnophen di kalangan Remaja di Kota Banjarmasin

ditinjau dari Perspektif Peradilan Pidana. Dikatakan analitis, karena

kemudian akan dilakukan analisis terhadap Kewenanganan Kepolisian

dalam Penegakan Hukum Penyalahgunaan Narkotika Peredaran obat

keras (daftar G) jenis Carnophen di kalangan Remaja di Kota

Banjarmasin ditinjau dari Perspektif Peradilan Pidana, selain

menggambarkan secara jelas tentang asas-asas hukum, kaedah hukum,

berbagai pengertian hukum yang berkaitan dengan penelitian.

4. Jenis Bahan Hukum

Jenis bahan hukum yang digunakan Peneliti dalam penelitian ini

merupakan hasil penelitian kepustakaan sebagai berikut:

a. Bahan hukum primer, yang terdiri dari:

1) Undang-Undang Dasar 1945

2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 Tentang Psikotropika;

3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang narkotika;

4) Peraturan Presiden RI Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Badan

Narkotika Nasional;

5) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2011

Tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika.

b. Bahan hukum sekunder, terdiri dari: berbagai bahan kepustakaan

seperti buku-buku literatur, buku ajar, makalah, majalah hukum,

jurnal ilmiah, klipping, artikel surat kabar, artikel di internet yang

berkaitan dengan.
c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk

maupun penjelasannya terhadap bahan hukum primer dan sekunder

seperti kamus hukum, kamus Inggris, kamus Indonesia.

5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Untuk menjawab permasalahan yang ada Peneliti melakukan

pengumpulan bahan hukum melalui studi dokumen (studi kepustakaan)

meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum

tersier yakni dengan cara melakukan inventarisasi dan identifikasi

terhadap sejumlah peraturan perundang-undangan, dokumen hukum,

catatan hukum, hasil-hasil karya ilmiah dan bahan bacaan/literatur yang

berasal dari ilmu pengetahuan hukum dalam bentuk buku, artikel, jurnal

dan hasil penelitian yang ada kaitannya dengan Kewenanganan

Kepolisian dalam Penegakan Hukum Penyalahgunaan Narkotika

Peredaran obat keras (daftar G) jenis Carnophen di kalangan Remaja di

Kota Banjarmasin ditinjau dari Perspektif Peradilan Pidana.

6. Teknik Pengolahan Bahan Hukum

Bahan hukum yang terkumpul kemudian diolah. Pengolahan

bahan hukum pada umumnya dilakukan dengan cara :

a. Pemeriksaan bahan hukum (editing), yaitu mengoreksi apakah bahan

hukum yang terkumpul sudah cukup lengkap, sudah benar, dan sudah

relevan dengan masalah.

b. Penandaan bahan hukum (coding) yaitu memberi catatan atau tanda

yang menyatakan sumber bahan hukum.


c. Rekonstruksi bahan hukum (reconstruction) yaitu menyusun ulang

bahan hukum secara teratur, logis sehingga mudah dipahami dan

diinterprestasikan.

d. Sistematika bahan hukum (systematizing) yaitu menempatkan bahan

hukum dalam kerangka sistematika bahasan berdasarkan urutan

masalah.

7. Analisis Bahan Hukum.

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

kualitatif. Bahan hukum yang telah terkumpul dari studi dokumen

dikelompokkan sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas. Bahan

hukum tersebut kemudian ditafsirkan dan dianalisis guna mendapatkan

kejelasan (pemecahan dari masalah) yang akan dibahas yaitu

Kewenanganan Kepolisian dalam Penegakan Hukum Penyalahgunaan

Narkotika Peredaran obat keras (daftar G) jenis Carnophen di kalangan

Remaja di Kota Banjarmasin ditinjau dari Perspektif Peradilan Pidana.

Teknik analisis dilakukan secara interpretasi, yaitu bahan hukum

diinterpretasikan dan dijabarkan dengan mendasarkan pada suatu norma-

norma dan teori-teori ilmu hukum yang berlaku, sehingga pengambilan

keputusan yang menyimpang seminimal mungkin dapat dihindari.

Dengan menarik kesimpulan dengan mempergunakan metode penalaran

secara induktif yaitu suatu pemikiran secara sistematis dari khusus ke

umum, dan deduktif ialah suatu pemikiran secara sistematis dari umum ke

khusus.
Langkah-langkah analisis yang harus dilakukan adalah:

1. Pengumpulan fakta;

2. Klasifikasi hakekat permasalahan hukum;

3. Identifikasi dan pemilihan isu hukum yang relevan (pertanyaan

hukum);

4. Penemuan hukum yang berkaitan dengan isu hukum tersebut; dan

5. Penerapan hukum.22

D. Sistematika Penulisan

Pada penulisan Tesis ini terdiri dari 4 (empat) Bab, mulai dari Bab I

sampai Bab IV yang secara garis besar isinya sebagai berikut;

Bab I. Pendahuluan, mengemukakan Latar Belakang Masalah, Perumusan

Masalah, Tinjauan Pustaka, Tujuan dan Kegunaan Penelitian,

Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.

Bab II. Menguraikan tentang issu hukum pertama sebagaimana

dirumuskan dalam perumusan masalah pertama yaitu Satuan

Reserse Narkoba Polres Banjarmasin dalam menanggulangi tindak

pidana peredaran obat keras (daftar G) jenis Carnophen di kalangan

Remaja;

Bab III. Menguraikan tentang issu hukum kedua sebagaimana dirumuskan

pada perumusan permasalahan kedua yaitu tentang 4.

Bagaimana upaya Satuan Reserse Narkoba Polres Banjarmasin

22
Phillipus M. Hadjon (D). 1994. “Pengkajian Ilmu Hukum Dogmatik (Normatif)”,
dalam Yuridika, No.6 Th,. IX November-Desember. Surabaya: Universitas Airlangga., hal 15.
untuk menanggulangi tindak pidana peredaran obat keras (daftar G)

jenis Carnophen di kalangan Remaja.

Bab IV. Adalah Penutup yang berisikan kesimpulan yang diperoleh dari

hasil penelitian dan saran merupakan akhir dari Tesis ini.


E. Jadwal Penelitian

No JENIS KEGIATAN BULAN BULAN BULAN BULAN BULAN


I II III IV V

1 Rencana Penelitian

a. Konsultasi Pembimbing

b. Penyusunan Usulan

c. Penilaian Usulan Penelitian

d. Perbaikan

2 Pelaksanaan Penelitian

a. Pengumpulan Bahan Hukum

b. Analisis Bahan Hukum

3 Laporan Hasil Penelitian

a. Penyusunan draf

b. Seminar Hasil Sementara


Penelitian Tesis

c. Ujian

d. Perbaikan
e.Penggandaan/Penjilidan/
Pendistribusian