You are on page 1of 11

ARTHROPODA

Seperti telah diketahui, vektor adalah Arthropoda yang dapat memindahkan/menularkan suatu infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan. Sebagian dari Arthropoda dapat bertindak sebagai vektor, yang mempunyai ciri-ciri kakinya beruas-ruas, dan merupakan salah satu phylum yang terbesar jumlahnya karena hampir meliputi 75% dari seluruh jumlah binatang.

  • A. MORFOLOGI

Merupakan binatang invertebrata, bersel banyak, bersegmen segmen, bentuknya simetris bilateral, memiliki exoskeleton (rangka luar) dan mempunyai beberapa pasang kaki dengan banyak sendi (arthro = sendi ; poda = kaki).

  • B. KLASIFIKASI

Dari kelas hexapoda dibagi menjadi 12 ordo, antara lain ordo yang perlu diperhatikan

dalam pengendalian adalah “Ordo Dipthera” yaitu nyamuk, lalat.

  • Insecta (ordo diptera) Spesies :

Nyamuk : culex sp, aedes sp, anopheles sp. Lalat : simulium sp (lalat hitam) , chrysops sp, phlebotomus sp, glossina sp (lalat tsetse).

  • C. ARTHROPODA SEBAGAI VEKTOR PENYAKIT Jenis arthropoda yang menjadi vektor. Nyamuk Nyamuk termasuk dalam kelas insekta (hexapoda) dan ordo diphtera. Kelas ini disebut kelas hexapoda karena mempunyai 6 kaki. Pada prinsipnya morfologi dan susunan tubuh kelas insekta ini sesuai dengan ciri-ciri umum dari filum arthropoda yaitu kepala, toraks, abdomen dengan bagian tubuhnya mempunyai batas-batas yang jelas. Contoh nyamuk aedes aegypti, anopheles, culex dan mansonia.

1.

a) Morfologi dan Penularan Penyakit (masing-masing contoh nyamuk)

  • Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti

Bentuk tubuh kecil.

Dibagian abdomen terdapat bintik-bintik serta berwarna hitam.

Tidak membentuk sudut 90º.

Penyebaran penyakitnya yaitu pagi atau sore.

Hidup di air bersih dan ditempat-tempat yang ada genangan air.

Penularan penyakit dengan cara membagi diri.

Menyebabkan penyakit DBD.

  • Ciri-ciri nyamuk Culex

Palpi lebih pendek dari pada probocis.

Bentuk sayap simetris.

Berkembang biak di tempat kotor atau di rawa-rawa.

Penularan penyakit dengan cara membesarkan tubuhnya.

Menyebabkan penyakit filariasis.

Warna tubuhnya coklat.

  • Ciri-ciri nyamuk Mansonia

Pada saat hinggap tidak membentuk sudut 90º.

Bentuk tubuh besar dan panjang.

Bentuk sayap asimetris.

Menyebabkan penyakit filariasis.

Penularan penyakit dengan cara membesarkan tubuhnya.

Warna tubuhnya coklat kehitaman.

  • Ciri-ciri nyamuk anopheles

Bentuk tubuh kecil dan pendek.

Antara palpi dan proboscis sama panjang.

Menyebabkan penyakit malaria.

Pada saat hinggap membentu sudut 90º.

Warna tubunya coklat kehitam.

Bentuk sayap simetris.

Berkembang biak di air kotor atau tumpukan sampah.

Penularan penyakit dengan membagi diri.

  • b) Klasifikasi

 
 

Spesies

Penyakit

yang

di

tularkan

Nyamuk Culex

Sebagai vektor penyakit filariasis.

Nyamuk Aedes aegypti

Sebagai vektor penyakit demam berdarah.

Nyamuk Anopheles

Sebagai vektor penyakit malaria.

  • c) Siklus Hidup Nyamuk Nyamuk sejak telur hingga menjadi nyamuk dewasa, sama dengan serangga yang mengalami tingkatan (stadia) yang berbeda-beda. Dalam siklus hidup nyamuk terdapat 4 stadia dengan 3 stadium berkembang didalam air dan satu stadium hidup dialam bebas :

  • a. Nyamuk dewasa. Nyamuk jantan dan betina dewasa perbandingan 1 : 1. Nyamuk jantan keluar terlebih dahulu dari kepompong, baru disusul nyamuk betina, dan nyamuk jantan tersebut akan tetap tinggal di dekat sarang, sampai nyamuk betina keluar dari kepompong, setelah jenis betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung mengawini betina sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya sekali kawin. Dalam perkembangan telur tergantung kepada beberapa faktor, antara lain temperatur dan kelembaban serta species dari nyamuk.

  • b. Telur nyamuk. Nyamuk biasanya meletakkan telur di tempat yang berair, pada tempat yang keberadanya kering telur akan rusak dan mati.Kebiasaan meletakkan telur dari nyamuk berbeda-beda tergantung dari jenisnya. -Nyamuk anopeles akan meletakkan telurnya dipermukaan air satu persatu atau bergerombolan tetapi saling lepas, telur anopeles mempunyai alat pengapung. -Nyamuk culex akan meletakkan telur diatas permukaan air secara bergerombolan dan bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung. -Nyamuk Aedes meletakkan telur dan menempel pada yang terapung diatas air atau menempel pada permukaan benda yang merupakan tempat air pada batas permukaan air dan tempatnya. Stadium telur ini memakan waktu 1-2 hari.

  • c. Jentik nyamuk Pada perkembangan stadium jentik, adalah pertumbuhan dan melengkapi bulu-bulunya, stadium jentik mermerlukan waktu 1 minggu. Pertumbuhan jentik dipengaruhi faktor temperatur, nutrien, ada tidaknya binatang predator.

  • d. Kepompong Merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air. Pada staidum ini memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang 1 -2 hari.

2.

Lalat Sama halnya dengan nyamuk, lalat juga berasal dari ordo diphtera dan kelasnya myriapoda. Lalat terbagi menjadi dua macam, yaitu lalat yang menghisap darah dan yang tidak menghisap darah.

a)

Morfologi

Lalat berkembang biak dengan bertelur, berwarna putih dengan ukuran lebih kurang 1mm panjangnya. Setiap kali bertelur akan menghasilkan 120130 telur dan menetas dalam waktu 816 jam. Telur yang menetas akan menjadi larva berwarna putih kekuningan, panjang 12-13 mm. Akhir dari phase larva ini berpindah tempat dari yang banyak makan ke tempat yang dingin guna mengeringkan tubuhnya. Setelah itu berubah menjadi larva berwarna coklat tua dan tidak bergerak. Kemudian akan keluar lalat muda dan sudah dapat terbang antara 450900 meter, sedangkan Lalat dewasa panjangnya lebih kurang ¼ inci, dan mempunyai 4 garis yang agak gelap hitam dipunggungnya. Pada kondisi normal lalat dewasa betina dapat bertelur sampai 5 (lima) kali. Umur lalat pada umumnya sekitar 2-3 minggu, tetapi pada kondisi yang lebih sejuk biasa sampai 3 (tiga) bulan Lalat tidak kuat terbang menantang arah angin, tetapi sebaliknya lalat akan terbang jauh mencapai 1 kilometer.

 

b) Klasifikasi

 

Spesies

Penyakit

yang

Bibit penyakit

Kaitan arthoropoda dengan bibit

di tularkan

penyakit dan cara penularan penyakit kepada manusia

Simulium sp

Filariasis

Onchocerca

Bibit penyakit tumbuh dari telur

(lalat hitam)

(onchocercosis)

vovulus

menjadi lava tanpa bermultiplikasi di dalam tubuh simulium sp manusia tertulari karena gigitan simulium sp

Chrysops sp

Loaiasis

Loa loa

Bibit penyakti tubuh dari telur menjadi larva tanpa bermultiplikasi di dalam tubuh chrysops sp. Manusia tertulari karena di gigit chrysops sp.

Phlebotomus

Leishmaniasis

Leishmania

Bibit penyakit bermultiplikasi di dalam

sp

viscera

donovani

usu lalat. Manusia tertulari karena digigit lalatnya.

Glossina

sp

Trypanosomiasis

Trypanosoma

Bibit penyakit bermultiplikasi di dalam

(lalat tsetse)

africa

gambiense

usus dan kelenjar ludah lalat, manusia tertulari karena digigit lalat.

  • c) Siklus Hidup Lalat

Siklus hidup semua lalat terdiri dari 4 tahapan:

telur -> larva -> pupa -> lalat dewasa

Lalat dewasa akan menghasilkan telur berwarna putih dan berbentuk oval. Telur ini lalu berkembang menjadi larva (berwarna coklat keputihan) di feses yang lembab (basah). Setelah larva menjadi dewasa, larva ini keluar dari feses atau lokasi yang lembab menuju daerah yang relatif kering untuk berkembang menjadi pupa.

Dan akhirnya, pupa yang berwarna coklat ini berubah menjadi seekor lalat dewasa. Pada kondisi yang optimal (cocok untuk perkembangbiakan lalat),1 siklus hidup lalat tersebut (telur menjadi lalat dewasa) hanya memerlukan waktu sekitar 7-10 hari dan biasanya lalat dewasa memiliki usia hidup selama 15-25 hari atau sekitar 2-3 minggu.

Gambar 1

c) Siklus Hidup Lalat Siklus hidup semua lalat terdiri dari 4 tahapan: telur -> larva ->

Dalam waktu 3-4 hari, seekor lalat betina mampu menghasilkan telur sebanyak 500 butir. Dengan kemampuan bertelur ini, maka dapat diprediksikan dalam waktu 3-4 bulan, sepasang lalat dapat beranak-pinak menjadi 191,01 x 1018 ekor (dengan asumsi semua lalat hidup). Bisa kita bayangkan, dengan kemampuan berkembang biak lalat tersebut dapat memberikan ancaman tersendiri.

d) Penyakit yang ditularkan oleh lalat serta gejala-gejalanya 1. Disentri

Penyebaran bibit penyakit yang dibawa oleh lalat rumah yang berasal dari sampah, kotoran manusia/hewan terutama melalui bulu-bulu badannya, kaki dan bagian tubuh yang lain dari lalat dan bila lalat hinggap kemakanan manusia maka kotoran tersebut akan mencemari makanan yang akan dimakan oleh manusia, akhirnya timbul gejala pada manusia yaitu sakit pada bagian perut, lemas karena terlambat peredaran darah dan pada kotoran terdapat mucus dan push.

Penyakit disentri merupakan peradangan pada usus besar. Gejala penyakit ini ditandai dengan sakit perut dan buang air besar encer secara terus-menerus (diare) yang bercampur lendir, nanah, dan darah. Berdasarkan penyebabnya disentri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu disentri amuba dan disentri basiler. Disentri amoeba disebabkan oleh infeksi parasit Entamoeba histolytica dan disentri basiler disebabkan oleh infeksi bakteri Shigella. Bakteri tersebut dapat tersebar dan menular melalui makanan dan air yang sudah terkontaminasi kotoran dan bakteri yang dibawa oleh lalat. Lalat merupakan serangga yang hidup di tempat yang kotor dan bau, sehingga bakteri dengan mudah menempel di tubuhnya dan menyebar di setiap tempat yang dihinggapi. Bakteri masuk ke dalam organ pencernaan mengakibatkan pembengkakan hingga menimbulkan luka dan peradangan pada dinding usus besar. Inilah yang menyebabkan kotoran penderita sering kali tercampur nanah dan darah. Gejala yang akan dialami penderita disentri biasanya berupa mencret dan perut mulas, bahkan sering kali penderita merasakan perih di anus akibat terlalu sering buang air. Serupa dengan penanganan penyakit gangguan pencernaan lainnya, penderita disentri harus segera mendapat asupan cairan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Dalam keadaan darurat, dehidrasi ringan dapat diatasi dengan pemberian oralit. Jika cairan yang hilang tidak segera tergantikan, dapat menyebabkan kematian pada penderita.

  • Langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi penyakit disentri adalah dengan memperhatikan pola hidup sehat dan bersih; menjaga kebersihan makanan dan minuman dari kontaminasi kotoran dan serangga (lalat) pembawa bakteri; dan membiasakan untuk selalu mencuci tangan sebelum makan.

2. Cholera Penyebarannya sama dengan desentri dengan gejala muntah-muntah, demam, dehydrasi. Kolera adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae yang menyerang usus kecil. Bakteri ini biasanya masuk ke dalam tubuh melalui air minum yang terkontaminasi oleh binatang vektor misalnya lalat atau akibat sanitasi yang buruk. Di dalam tubuh manusia, bakteri Vibrio cholerae akan menghasilkan racun yang menyebabkan usus halus melepaskan sejumlah besar cairan garam dan mineral dari dalam tubuh.

Bakteri ini amat sensitif terhadap asam lambung, sehingga penderita yang kekurangan asam lambung cenderung menderita penyakit ini. Penderita kolera akan mengalami gejala mulai dari diare hebat, keram perut, mual, muntah, hingga dehidrasi. Kolera dapat menyebar luas dengan sangat cepat, terutama di lingkungan yang tidak bersih.

3. Diare Cara penyebarannya sama dengan desentri dengan gejala sakit pada bagian perut, lemas dan pecernaan terganggu. Kuman diare biasanya menular melalui mulut, bisa melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja, atau kontak langsung dengan tinja penderita. Pada saat musim buah (mangga, durian, rambutan) dan musim hujan, maka

lalat biasanya juga menjadi banyak, sehingga sangat berperan dalam penularan penyakit diare. Apabila lalat hinggap di tinja kemudian hinggap di makanan atau alat makan, maka akan bisa menularkan pada orang yang memakan makanan tadi.

  • Untuk mencegah atau agar makanan tidak dihinggapi lalat, maka lebih baik menutup setiap makanan yang ada. Sedangkan untuk mencegah penularan, hendaknya setiap kali membersihkan tinja anak yang menderita diare, harus segera cuci tangan. Selain itu jangan menganggap bahwa tinja bayi yang diare itu tidak berbahaya, karena sesungguhnya tinja bayi tadi kenyataannya mengandung virus atau bakteri.

4. Typhoid

Cara penyebaran sama dengan desentri, gangguan pada usus, sakit pada perut, sakit kepala, berak darah dan demam tinggi. Penyakit tifus merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini diakibatkan oleh kurang memelihara kebersihan lingkungan dan mengonsumsi makanan yang tidak higienis. Penyakit tifus menular melalui air dan makanan yang tercemar oleh air seni dan tinja penderita penyakit ini.

Penyakit tifus dapat juga ditularkan oleh kotoran yang dibawa oleh lalat dan kecoa yang menempel di tempat-tempat yang dihinggapinya. Penularan kuman terjadi melalui mulut, masuk ke dalam lambung, menuju kelenjar limfoid usus kecil, kemudian masuk ke dalam peredaran darah. Pada umumnya, mereka yang terinfeksi penyakit ini akan mengalami keluhan dan gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare atau sembelit (sulit buang air besar). Suhu tubuh meningkat terutama pada sore dan malam hari.

Pencegahan penyakit tifus dapat dilakukan dengan membiasakan melindungi makanan dari binatang (vektor) pembawa penyakit, seperti lalat, kecoa dan tikus; mencuci tangan dengan sabun setelah buang air dan sebelum makan; serta menghindari membeli jajanan di tempat-tempat yang kurang bersih.

Pemutusan rantai penularan

1) Peningkatan sanitasi (Pengamanan buang air besar sembarangan) pemutusan rantai antara tinja dengan cairan, antara tinja dengan lingkungan sekitar dan antara tinja tinja dengan makanan. Sebuah WC yang sederhana yang mendapatkan perawatan bisa menjadi pemutusan rantai antara Tinja dan lalat juga menjaga lalat jauh dari tinja atau menjaga lalat yang kontak dengan tinja jauh dari manusia.

2) Peningkatan kualitas atau kuantitas air dan penyimpanan air yang baik (melalui penyaluran air, pengolahan air rumah tangga, penyaringan yang aman dan penyimpanan air minum) melakukan penyimpanan air untuk minum dan aman untuk di gunakan dalam segala aspek dari penyiapan makanan tapi hanya bila air dalam kondisi bersih dan tidak terkontaminasi oleh tangan yang kotor atau tempat penampungan air yang di sediakan untuk keluarga dan anak-anak untuk mencuci makanan sebelum disiapkan, membersihkan peralatan dapur, mandi dan mencuci tangan. Aktivitas ini dapat memutuskan mata rantai penularan kuman, selain itu juga jari tangan dan lalat yang berhubungan langsung dengan makanan yang dimakan. Tetapi jika memang air yang telah terkontaminasi, lebih baik tidak dipergunakan lagi . 3) Meningkatkan kebersihan Makanan. Makanan dapat terkontaminasi selama dalam perjalanan, persiapan, dan dalam proses memakan makanan tersebut ataupun dalam proses penyimpanan. Dalam hal kebersihan makanan bertujuan untuk memastikan bahwa makanan yang kita makan tidak terkontaminasi atau telah kadaluarsa yang berasal dari pasar atau kebun, tertutup dengan baik ketika dalam pengangkutan, telah dicuci sebelum dimasak, dan dimasak dengan benar untuk membunuh kuman, tertutup di tudung saji atau lemari, untuk melindungi dari lalat dan sisanya di simpan dalam tempat yang bersih dan di panaskan ketika akan dimakan lagi. Makanan juga harus dipersiapkan dalam peralatan makan yang bersih. Dari sini kita akan belajar bagaimana menjaga kebersihan makanan, Misalnya makanan harus di tutup dengan baik dan harus mencuci tangan sebelum makan. 4) Meningkatkan cara penanganan sampah dan Saluran air : Melalui peningkatan cara penanganan sampah yang baik sarang lalat dan tikus dapat berkurang yang juga dapat mengurangi penyebaran penyakit yang dapat di sebarkan melalui makanan. Dengan adanya saluran air yang memadai kita tidak hanya mengurangi lalat tapi juga mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk.

D. PENATALAKSANAAN Pengendalian Arthropoda Merupakan suatu upaya untuk mengurangi jumlah arthropoda dan menghambat hubungannya dengan manusia. Tujuannya adalah untuk mencegah penularan penyakit. Pengendalian arthropoda di bagi dalam cara: (1) mekanis, (2) zat kimia, (3) biologis dan (4) perlindungan perorangan.

  • 1. Mekanis

Ditunjukkan pada pengelolaan tempat hidup dan berkembang biaknya arthropoda. Upaya tambahan lainnya adalah memasang hambatan mekanis, menghilangkan atau memindahkan tempat berkembang biaknya, menangkapnya dan membunuhnya.

Beberapa kegiatan pengendalian mekanis:

  • a. Perbaikkan sanitasi lingkungan Pengendalian sanitasi lingkungan bermanfaat dalam pencegahan penyakit dan pengendalian arthropoda.Upaya ini efektif dalam pengendalian lalat. Dengan perbaikan sanitasi, lalat akan kehilangan tempat untuk menumbuhkan larvanya. Hal ini dapat dilakukan dengan menimbun sampah yang bisa membusuk dengan tanah ( sanitary landfill), tempat sampah harus di tutup rapat dan di cuci bersih paling tidak seminggu sekali. Selain itu, bangkai hewan harus dikubur supaya tidak menjadi tempat tumbuhnya larva lalat. Cubluk, tempat buang air besar, harus ditutup agar lalat tidak bisa masuk, jauh dari tempat makan kurang lebih 50 m dan tempatnya agar tidak mengotori air untuk keperluan rumah tangga.Ditempat yang banyak lalat, makanan harus ditutup.

  • b. Dengan perangkap Cara yang biasa dilakukan adalah dengan menaruh zat yang mempunyai daya tarik bagi arthropoda (umpan) di gabung dengan perekat. Misalnya, kertas perangkap lalat.

  • c. Penataan Lingkungan Penataan lingkungan yang dimaksudkan untuk menghilangkan tempat perkembangbiakan dan mencegah arthropoda berhubungan dengan manusia. Beberapa nyamuk dapat diberantas dengan memperlancar aliran air di kali atau menghilangkan sampah yang menghambat aliran airnya.

    • 2. Zat Kimia

Penggunaan zat kimia sebagai peptisida di gunakan untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan program kesehatan masyarakat sudah lama dilaksanakan. Pemakaian yang berlebihan, cara pakai yang tidak benar dan kualitas dari peptisida, banyak menimbulkan masalah lingkungan yang membahayakan kesehatan manusia.

Peptisida dibagi atas peptisida pembunuh serangga, pediculisida terhadap pediculus (kutu), larvasida terhadap larva.

3.

Secara Biologis

Pengendalian arthropoda dengan menggunakan makluk hidup (secara biologis), antara lain memelihara ikan Gambusia affinis yang akan memangsa larva nyamuk

pada genangan air.

  • 4. Perlindungan Perorangan

Merupakan upaya seseorang untuk menghindari gigitan arthropoda sebagai upaya pencegahan penularan penyakit atau agar darahnya tidak diisap arthropoda dan mencegah akibat lainnya.Perlindungan ini dapat dilakukan dengan memakai pakaian yang menutup tubuh, tidur berkelambu, dan menggunakan zat pengusir serangga (insect repellent) pada bagian tubuh yang terbuka. Insect repellent berbeda dengan insektisida sebab hanya mengusir serangga agar tidak mengigit, tetapi tidak membunuhnya. Insact repellent itu dapat berupa cairan, salep, aerosol atau serbuk. Di samping digunakan pada kulit, ada pula yang bisa digunakan pada baju. Contoh insect repellent, misalnya: Cresol, Ethyl-hexanediol, Dimethyl Phthalate,Dimethyl Carbamate, Benzyl Benzoate, Chlorodiethyl benzamide.

DAFTAR PUSTAKA

Etjang,Indang.2003.Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan.PT Citra Aditya Bakti.Bandung

Santio,Kirniwardoyo .1992.Pengamatan dan pemberatasan vektor malaria.Sanitas. Puslitbang Kesehatan Depkes Rl Jakarta

Adang,Iskandar.Pemberantasan serangga dan binatang pengganggu.APKTS Pusdiknakes. Depkes RI.Jakarta

Santi,Nuraini Devi.Pemberantasan Arthopoda Yang Penting dalam Hubungan dengan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Bagian Kesehatan Lingkungan