You are on page 1of 4

BAB I TINJAUAN TEORI

Definisi

Konstipasi adalah kesulitan atau kelambatan proses feses yang menyangkut konsistensi tinja dan
frekuensi berhajat. Konstipasi atau sembelit juga didefinisikan secara medis sebagai buang air besar
kurang dari tiga kali per minggu dan konstipasi parah sebagai kurangdari satu kali per minggu.
Konstipasi biasanya disebabkan oleh gerakan lambat dari tinja melalui usus besar.

Batasan Karakteristi

Subyektif :

1.nyeri abdomen

2.nyeri tekan pada abdomen dengan atau tanpa resistansi otot yang dapat di palpasi

3.anoreksia

4.perasaan penuh atau tekanan pada rektum

5.kelelahan umum

6.sakit kepala

7.peningkatan tekanan abdomen

8.indigesti

9.mual

10.nyeri saat defekasi

Objektif :

1.Tampilan atipikal pada lansia ( misalnya, perubahan status mental, inkontinensia urine, jatuh tanpa
sebab jelas, dan peningkatan suhu tubuh )

2.Darah merah segar menyertai pengeluaran feses

3.Perubahan pada suara abdomen (borborigmi)

4.Penurunan frekuensi

5.Penurunan volume feses

6.Distensi abdomen
7.Feses yang kering, keras, dan padat

8.Bising usus hipoaktif dan hiperaktif

9.Pengeluaran feses cair

10.Masa abdomen dapat di palpasi

11.Masa rektal dapat dipalpasi

12.Bunyi pekak pada perkusi abdomen

13.Adanya feses, seperti pasta di rektum

14.Flatus berat

15.Mengejan saat defekasi

16.Tidak mampu mengeluarkan feses

17.Muntah

Etiologi

1. Kebiasaan defekasi yang tidak teratur dan mengabaikan keinginan untuk defekasi dapat
menyebabkan konstipasi.

2. Klien yang mengonsumsi diet rendah serat dalam bentuk hewani (misalnya daging, produk-produk
susu, telur) dan karbohidrat murni (makanan penutup yang berat) sering mengalami masalah
konstipasi, karena bergerak lebih lambat didalam saluran cerna. Asupan cairan yang rendah juga
memperlambat peristaltik.

3. Tirah baring yang panjang atau kurangnya olahraga yang teratur menyebabkan konstipasi.

4. Pemakaian laksatif yag berat menyebabkan hilangnya reflex defekasi normal. Selain itu, kolon
bagian bawah yang dikosongkan dengan sempurna, memerlukan waktu untuk diisi kembali oleh masa
feses.

5. Obat penenang, opiat, antikolinergik, zat besi (zat besi mempunyai efek menciutkan dan kerja yang
lebih secara lokal pada mukosa usus untuk menyebabkan konstipasi. Zat besi juga mempunyai efek
mengiritasi dan dapat menyebabkan diare pada sebagian orang), diuretik, antasid dalam kalsium atau
aluminium, dan obat-obatan antiparkinson dapat menyebabkan konstipasi.
6. Lansia mengalami perlambatan peristaltic, kehilangan elastisitas otot abdomen, dan penurunan
sekresi mukosa usus. Lansia sering mengonsumsi makanan rendah serat.

7. Konstipasi juga dapat disebabkan oleh kelainan saluran GI (

gastrointestinal ), seperti obstruksi usus, ileus paralitik, dan divertikulitus.

8. Kondisi neurologis yang menghambat implus saraf ke kolon (misalnya cedera pada medula
spinalis, tumor) dapat menyebabkan konstipasi.

9. Penyakit-penyakit organik, seperti hipotirodisme, hipokalsemia, atau hypokalemia dapat


menyebabkan konstipasi.

Ada juga penyebab yang lain dari sumber lain, yaitu:

10. Peningkatan stres psikologi. Emosi yang kuat diperkirakan menyebabkan konstipasi dengan
menghambat gerak peristaltik usus melalui kerja dari epinefrin dan sistem syaraf simpatis. Stres juga
dapat menyebabkan usus spastik (spastik/konstipasi hipertonik atau iritasi colon ). Yang berhubungan
dengan konstipasi tipe ini adalah kram pada abdominal, meningkatnya jumlah mukus dan periode
bertukar-tukarnya antara diare dan konstipasi.

11. Umur

Otot semakin melemah dan melemahnya tonus spinkter yang terjadi pada orang tua turut berperan
menyebabkan konstipasi.

Patofisiologi

Defekasi seperti juga pada berkemih adalah suatu proses fisiologis yang menyertakan kerja otot-otot
polos dan serat lintang, persarafan sentral dan perifer, koordinasi dari sistem refleks, kesadaran yang
baik dan kemampuan fisis untuk mencapai tempat BAB. Kesukaran diagnosis dan pengelolaan dari
konstipasi adalah karena banyaknya mekanisme yang terlibat pada proses BAB normal (Dorongan
untuk defekasi secara normal dirangsang oleh distensi rektal melalui empat tahap kerja, antara lain:
rangsangan refleks penyekat rektoanal, relaksasi otot sfingter internal, relaksasi otot sfingter external
dan otot dalam region pelvik, dan peningkatan tekanan intra-abdomen). Gangguan dari salah satu
mekanisme ini dapat berakibat konstipasi. Defekasi dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang
menghantarkan feses ke rektum untuk dikeluarkan. Feses masuk dan meregangkan ampula dari
rektum diikuti relaksasi dari sfingter anus interna. Untuk meghindarkan pengeluaran feses yang
spontan, terjadi refleks kontraksi dari sfingter anus eksterna dan kontraksi otot dasar pelvis yang
depersarafi oleh saraf pudendus. Otak menerima rangsang keinginan untuk BAB dan sfingter anus
eksterna diperintahkan untuk relaksasi, sehingga rektum mengeluarkan isinya dengan bantuan
kontraksi otot dinding perut. kontraksi ini akan menaikkan tekanan dalam perut, relaksasi sfingter
dan otot elevator ani. Baik persarafan simpatis maupun parasimpatis terlibat dalam proses BAB.