You are on page 1of 4

https://nasional.sindonews.

com/read/1217724/12/formappi-kinerja-legislasi-dpr-paling-buruk-
tahun-2017-1499094921

Formappi: Kinerja Legislasi


DPR Paling Buruk Tahun
2017
Mula Akmal
Selasa, 4 Juli 2017 - 07:05 WIB

Ilustrasi DPR. Foto/SINDOphoto

A+ A-

JAKARTA - Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menilai kinerja


legislasi DPR pada tahun 2017 ini merupakan kinerja yang terburuk dibanding tahun
sebelumnya.

Menurut data yang dihimpun Formappi, target prioritas 2017 yang ditetapkan sebanyak 50
RUU, DPR baru menuntaskan dua di antaranya yaitu RUU Perbukuan dan RUU tentang
Pemajuan Kebudayaan. Jadi selama enam bulan kerja DPR baru menghasilkan dua UU
baru dari Daftar RUU Prioritas.
Dibandingkan kinerja anggota DPR periode 2009-2014, kinerja DPR tahun ini juga kalah
jauh. Pada tahun ketiga, DPR periode 2009-2014 mengesahkan lebih dari 40 RUU.

"Kinerja legislasi DPR 2017 sejauh ini bisa dibilang jauh dari harapan. Malah bisa dikatakan
kinerja legislasi DPR hingga setengah tahun terakhir sangat buruk," ucap Peneliti Senior
Formappi Lucius Karus saat dihubungi SINDO, Senin 3 Juli 2017.

Menurutnya, sulit mengharapkan bahwa target 50 RUU Prioritas akan bisa dikejar dalam
sisa waktu enam bulan ke depan. "Tentu saja kinerja DPR seperti ini sangat tak sebanding
dengan kinerja DPR periode yang lalu dimana di tahun ketiga seperti tahun ini bisa mencatat
hasil UU baru sebanyak kurang lebih 20 RUU," tegasnya.

Dia mengatakan, salah satu faktor penyebab yang membuat jebloknya kinerja legislasi DPR
periode ini adalah kesibukan DPR dengan urusan perburuan kekuasaan untuk mereka
sendiri.

"Tak mengherankan setiap tahun mereka selalu ingin mengutak-atik kursi pimpinan.
Sampai-sampai UU MD3 beberapa kali coba direvisi hanya demi mengakomodasi
kepentingan partai-partai di DPR," jelasnya.

Perburuan kekuasaan antar partai, lanjut Lucius, membuat pembahasan RUU lain menjadi
berantakan. Ditambah lagi dengan alotnya pembahasan RUU Pemilu. Ini juga soal
kepentingan partai-partai.

"Sehingga nampak sekali penyandera utama kinerja legislasi DPR adalah kepentingan
politik DPR yang tak pernah bisa merasa puas dengan kekuasaan yang kini mereka telah
genggam," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Baleg DPR Firman Soebagyo menyatakan sampai sekarang
belum ada kemajuan terkait capaian prolegnas, beberapa pembahasan UU sampai
sekarang belum ada perubahan hal tersebut lantaran pembahasannya yang tak kunjung
selesai.

"Kendalanya itu adalah pembahasan tingkat I di masing-masing Panja dan Pansus yang
belum berkembang sama sekali, belum ada pergerakan sama sekali, seperti UU MD3
macet," tegasnya.

Begitupun, sambungnya, dengan RUU yang merupakan inisiatif pemerintah. Beberapa UU


inisiatif pemerintah belum ada kejelasan karena belum masuknya draft RUU tersebut.

Firman juga mengeluhkan kewenangan Baleg yang terbatas dan tidak punya kewenangan
lebih membahas UU seperti layaknya komisi, Panja dan Pansus.

"Supaya tercapai prolegnas baleg tidak punya kewenangan mengatur atau mempercepat
bahasan, kami hanya menunggu untuk melakukan harmonisasi, atas dasar inilah ada usulan
supaya Baleg kewenangannya dikuatkan lagi," ungkapnya.
Formappi: DPR Periode
Ini Berkinerja Paling
Buruk Pasca-reformasi
ABBA GABRILLIN

Kompas.com - 07/05/2017, 15:15 WIB

Diskusi Jaringan Masyarakat Antikorupsi di Hotel Puri Denpasar, Jakarta, Minggu


(7/5/2017).(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN)

JAKARTA, KOMPAS.com - Forum Masyarakat Peduli Parlemen


Indonesia ( Formappi) menilai Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR) periode
2014-2019 adalah DPR yang memiliki kinerja paling buruk pasca Era
Reformasi.
DPR periode ini dinilai tidak memiliki keseriusan dalam
pemberantasankorupsi.

"Formappi menilai DPR kali ini adalah DPR yang berkinerja paling buruk di
semua Era Reformasi," ujar peneliti Formappi Lucius Karus dalam diskusi
Jaringan Masyarakat Antikorupsi di Jakarta, Minggu (7/5/2017).

(Baca: Zulkifli: Jangan Ganggu KPK dengan Hak Angket DPR)

Pertama, menurut Lucius, DPR periode 2014-2019 memiliki kelemahan


dalam bidang legislasi. Dari 50 rancangan undang-undang yang
dijadwalkan untuk tahun 2017, baru 2 undang-undang yang disahkan DPR.

Kedua, menurut Lucius, DPR tidak memiliki keseriusan dalam upaya


pemberantasan korupsi. Salah satunya terlihat dari upaya DPR untuk
melemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui hak angket.

Melalui hak angket, anggota DPR meminta KPK membuka rekaman


pemeriksaan terhadap Miryam S Haryani, anggota DPR yang kini menjadi
tersangka pemberian keterangan palsu dalam kasus dugaan korupsi
pengadaan e-KTP.

(Baca: "Lama-lama DPR Juga Bisa Mengangket MK dan MA")

Menurut Lucius, angket tersebut digulirkan karena sejumlah anggota DPR


diduga terlibat dalam kasus mega korupsi dalam pengadaan e-KTP.

Lucius menilai, hak angket digunakan DPR sebagai senjata untuk


menutupi kinerja yang buruk.

"Kalau kami lihat, spirit pemberantasan korupsi sudah mati di DPR.


Sebagai lembaga atau secara sistemik dengan kebijakannya, mereka ingin
memelihara sistem yang korup," kata Lucius.