You are on page 1of 7

ANALISA SOSIAL1

Sebuah Pengantar Memahami Realitas Sosial

STRUKTUR SOSIAL

Lebih dahulu perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan struktur sosial. Kita
ketahui, bahwa orang-orang yang hidup dalam masyarakat saling berinteraksi.
Interaksi ini didasari dan terus diarahkan pada nilai-nilai kebersamaan, norma-
norma yaitu standar tingkah laku yang mengatur ineraksi antar individu yang
menunjukkan hak dan kewajiban tiap-tiap individu sebagai sarana penting agar
tujuan bersama tercapai, dan akhirnya oleh sanksi, baik sanksi yang negatif dalam
arti mendapat hukuman kalau melanggar norma maupun sangat positif yaitu
mendapat penghargaan karena telah mentaati norma yang ada. Dasar dan arah
umum interaksi inlah yang kita mengerti sebagai kultur.

Kecuali itu, interaksi antar individu juga diantur sesuai dengan tujuan-tujuan
khusus interaksi itu. Interaksi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
kehidupan keakraban diatur dalam institusi keluarga. Interaksi dengan tujuan
untuk memenuhi kebutuhan hidup diatur dalam institusi ekonomi. Interaksi orang
dalam hubungannya dengan Illahi diatur dalam institusi agama. Sedangkan agar
keseluruhan interaksi dalam masyarakat umumnya bisa bisa terjamin dan pasti
diadakan institusi politik. Institusi-institusi ini saling berhubungan dan saling
mempengaruhi. Bagaimana kadar saling hubungan dan saling mempengaruhi, serta
mana institusi yang paling berpengaruh harus dilihat langsung dalam masyarakat
yang ada.

Perlu diingat, bahwa dalam setiap institusi juga ada nilai-nilai, norma-norma dan
sanksi-sanksi, karena tujuan institusi memang untuk mengatur interaksi.
Keseluruhan institusi memang untuk mengatur interaksi. Keseluruhan institusi
serta saling berhubungan satu sama lain, itulah yang disebut stuktur sosial. Kata
stuktur menunjukkan saling adanya hubungan antara bagian keseluruhan. Maka
dapat dikatakan stuktur sosial adalah interaksi manusia yang sudah berpola dalam
institusi ekonomi, politik, agama, keluarga, budaya. Dengan kata lain struktur sosial
adalah pengorganisasian masyarakat yang ada atau keseluruhan aturan permainan
dalam berinteraksi.

KEADILAN PERSONAL, KEADILAN SOSIAL

Selanjutnya perlu juga dimengerti perpindahan antara keadilan personal dan


keadilan sosial. Dalam keadilan personal sering mudah diketahui siapa yang
bertanggungjawab. Si pembeli A membeli barang dengan kualitas tertentu, ternyata
dia mendapat barang dengan kualitas rendah. Penjual barang tersebut jelas
langsung bisa dimintai pertanggungjawabannya. Jelaslah mengenai keadilan
personal, pelaksanaannya tergantung pada kehendak individu yang bersangkutan.
Keadilan personal manuntut agar kita memperlakukan setiap orang yang kita
hadapi dengan adil. Sebaliknya mengenai ketidak adilan sosial tanggung jawab atas
perbuatan dan efek perbuatan menjadi tanggung jawab semua orang. Tidak bisa kita
menunjuk satu orang untuk beranggung jawabsebagaimana pada ketidak adilan
personal. Pelaksanaan keadilan sosial tergantung pada struktur masyarakat. Karena
tergantungnya pad stuktir masyarakat maka tanggung jawab ketidak adilan sosial
menjadi tanggung jawab semua pihak.Hal ini diperjelas dengan seringnya individu
dalam masyarakat yang tidak bisa bersikap adil meski dia sudah insaf namun
karena struktur sosiallah yang menbuat dia tidak bisa bersikap adil. Umpamanya
seorang pengusaha tekstil tidak dapat menaikkan upah buruh-buruhnya karena
perdagangan tekstil sedemikian rupa sehingga kalau dia menaikkan upah buruh-
buruhnya perusahaan akan gulung tikar. Dengan kata lain institusi ekonomi yang
ada menyebabkan upah buruh tetap rendah. Kalau pelaksanaan keadilan sosial
tergantung pada struktur sosial yang ada, maka perjuangan demi keadilan sosial
berarti perjuangan membangun struktur sosial yang semakin adil.

TUJUAN ANALISA SOSIAL

Analisa sosial adalah suatu usaha untuk mempelajari struktur sosial yang ada,
mendalami institusi ekonomi, politik, agama, budaya dan keluarga sehingga kita
tahu sejauh mana dan bagaimana institusi-institusi itu menyebabkan ketidak adilan
sosial. Dengan mempelajari institusi-institusi itu, kita akan mampu melihat satu
masalah sosial yang ada dalam konteknya yang lebih luas. Dan kalau kita berhasil
melihat suatau masalah sosial yang henadak kita pecahkan dalam kontek yang lebih
luas, maka kita pun juga dapat menentukan aksi yang lebih tepat yang diharapkan
dapat menyembhkan sebab terdalam masalah tersebut. Demikian menjadi jelas,
analisis sosial adalah suatu usaha nyata yang merupakan bagian penting usaha
menegakkan keadilan sosial.

MODEL = KERANGKA BERPIKIR

Dalam menganalisis masyarakat, sadar atau tidak sadar orang biasanya mempunyai
kerangka berpikir atau memandang. Kerangka berpikir atau memandang inilah
yang disebut model. Demikian suatu model adalah asumsi atau gambaran umum
mengenai masyarakat. Model ini mempengaruhi begaimana seseorang memilih
objek studi dan cara mendekati objek studi tersebut. Sedang teori yang turunkan
dari model berifat lebih terbatas dan persis. Suatu model hanya bisa dinilai lengkap,
produktif atau berguna, sedang teori bisa salah atau benar.

Ada dua model yang sering melatar belakangi orang dalam mendekati masalah-
masalah sosial, yaitu model konsensus dan model konflik.

MODEL KONSENSUS

Menurut model konsensus, stuktur sosial yang ada merupakan hasil konsensus
bersama anggota masyarakat, perjanjian dan pengakuan bersama akan nilai-nilai.
Menurut model ini, setiap masyarakat pada hakikatnya teratur dan stabil.
Keteraturan dan kestabilan ini disebabkan karena adanya kultur bersama yang
dianut dan dihayati oleh anggota-anggota masyarakat. Kultur bersama ini meliputi
nilai-nilai, norma dan tujuan yang hendak dicapai. Meskipun pada individu-individu
ada kemungkinan-kemungkinan perbedaan dalam persepsi dan pengjhayatan
kultur bersama itu, toh pada umumnya nilai-nilai sosial yang berdasar serta norma-
norma ayang ada. Justru karena adanya konsensus bersama inilah,maka tata sosial
dalam suatu masyarakat.

Model ini menilai masalah sosial sebagai penyimpangan dari nilai-nialai dan norma-
norma bersama, karenanya juga masalah sosial dianggap membahayakan stabilitas
sosial. Penyelesaian masalah sosial selalu diusahakan dalam kerangka tata sosial
yang sudah ada. Dengan kata lain tata sosial tidak pernah dipersoalkan , bahkan
kelangsungan stuktur sosial yang sudah ada dijunjung tinggi. Model Konsensus
melatar belakangi dua ideologi yaitu konservatif dan liberal.

a. Ideologi konservatif

Ideologi konservatif berakar pada kapitalisme dan liberalisme abad ke-19.


Pasaran bebas dianggap oleh ideologi iini sebagai fundamen bagi kebebasan
ekonomi dan politik. Pasar bebas dianggap akan menjamin adanya
desentralisasi kekuatan politik. Kaum konservatif menjunjung tinggi sruktur
sosial. Demi tegaknya struktur sosial tersebut menurut kaum konservatif
otoritas dinilai sangat hakiki. Termasuk struktur sosial adalah stratifikasi
sosial atau tingkat sosial. Adanya perbedaan tingkat sosial ini dikarenkan
perbedaan tingkat individu dengan bakat-bakat yang berbeda. Setiap orang
harus berkembang sesuai dengan bakat yang berbeda. Setuap orang harus
berkembang sesuai dengan bakat dan pembawaannya. Karenanya sudah
sewajarnya kalau ada perbedaan dalam tingkat prestasi yang menuntut
masyrakat untuk memberi imbalan dan balas jasa yang berbeda-beda,
merupakan dasar adanya hak milik pribadi. Dengankata lain hak milik
pribadi dianggap sebagai balas jasa atas jerih payah usaha tiap-tiap anggota
masyarakat.

Kemiskinan Menurut Ideologi Konservatif

Pada umumya kaum konservatif melihat masalah kemiskinan sebagai


kesalahan pada orang miskin sendiri.Orang miskin dinilai umumnya
bodoh,malas, tidak punya motivasi beerprestasi tinggi, tidak punya
ketrampilan dan sebagainya yang merka bialang sebagai mental dan kultur
penyebab kemiskinan. Menilai positif terhadap stuktur sosial yang ada. Dan
menggap kemiskinan sebagai penyimpangan ketentuan yang ada dalam
konsensus. Kaum konservatif tidak menggap kemiskinan bukan sebagai
masalah serius dan kemiskinan akan bisa diselesaikan dengan sendirinya,
maka tidak perlu adanya campur tangan pemerintah.

b. Ideologi Liberal

Liberasi memandang manusia pertama-tama sebagai yang digerakan oleh motivasi


kepentingan ekonomi pribadi, dan libaeralisme mempertahankan hak manusia
untuk semaksimal mungkin cita-cita pribadinay. Liberasi percaya akan efektifitas
pasar bebas dan hak atas milik pribadi. Hak-hak, kebebasan individu sangat
ditekankan dan diperjuangkan demi untuk melindungi individu-individu terhadap
kesewenangan negara.

Kemiskinan Menurut Ideologi Liberal

Berbeda dengan kaum konservatif, kaum liberal memandang kemiskinan sebagai


masalah yang serius, karenanya harus dipecahkan. Kemiskinan dapat diselesaikan
bila tersedianya kesempatan yang seluas-luasnya tanpa diskriminasi. Kaum liberal
percaya bahwa orang miskin dapat mengatasi kemiskinannya asal mereka
mendapat kesempatan berusaha yang memadahi, maka diusulkan untuk
diperbaikinya pelayanan-pelayanan bagi kaum miskin, membuka kesempatan kerja
baru, membangun perumahan dan penyebarluasan pendidikan.

Kesimpulan

Baik konservatif maupun liberal mempertahankan struktur sosial yang telah ada,
dan stuktur sosial ini ditandai dengan perbedaan tingkat sosial, sistem ekonomi
kapitalis dan demokratis politik. Perbedaan dalam memandang kemiskinan, kalau
kaum konservatif kemiskinan adalah kesalahan orang miskin itu sendiri dan kaum
konservatif cenderung membiarkan sedang kaum liberal mengusahakan agar orang
miskin mendapatkan kesempatan yang sama dan mampu menyesuaikan dalan
struktur.

MODEL KONFLIK

Berbeda dengan model konsensus, model konflik ini memandang stuktur sosial
yang ada sebagai hasil pemaksaan sekelompok kecil anggota masyarakat terhadap
mayoritas warga masyarakat. Jadi struktur sosial bukan merupakan hasil konsensus
seluruh warga apalagi persetujuan bersama mengenai nilai-nilai dan norma-norma.
Stuktur sosial adalah dominasi sekelompok kecil dan kepatuhan serta ketundukan
sebagaian besar warga masyarakat atas dominasi kelompok kecil tersebut. hukum
dan undang-undang dalam masyarakat adalah ciptaan kelompok kecil, elit, dan
kelompok yang memerintah untuk mempertahankan kepentingan mereka. Hukum
dan undang-undang terutama ditujukan untuk melindungi milik-milik pribadi dan
kepentingan.

Model ini memandang positif perubahan-perubahan yang memandang konflik


sebagai sumber-sumber potensial bagi perubahan sosial yang progresif. Penganut
model ini selalu mempertanyakan struktur sosial yang sudah ada. Mereka tidak
mempersoalkan bagaimana orang miskin bisa hidup dan berprestasi dalam stuktur
sosial yang sudah ada sebagaimana ditekankan kaum liberal, tetapi mereka
mempersoalkan struktur sosial itu sendiri dan menganggapnya sebagai penyebab
kemiskinan. Maka persoalan kultur dan mentalitas orang miskin tidak menarik
perhatian penganut model konflik ini, sebab persoalan kultur orang miskin
dianggapnya tidak mempersoalkan secara mendasar struktur dan kekuasaan politik
yang sudah ada. Bahkan mereka menilai kultur dan mentalitas orang miskin yang
digambarkan oleh kaum konservatuf itu disebabkan oleh struktur sosial itu sendiri
yang tetap bertahan berpuluh atau ratusan tahun.

Kaum penganut model menggap struktur sebagai penyebab kemiskinan, untuk


membuat analisis keadaan sosial pertanyaan yang mereka adalah:

- Kelompok mana yangmendapat untung dari sistem masyarakat yang ada dan
kelompok mana yang dirugikan ?

- Siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam kompetisi dalam grup dan diantara
grup yang ada ?

- Faktor-faktor mana yang menentukan siapa pemenang dan siapa yang kalah ?
Penganut model ini, melihat masyarakat yang ada sebagai masyarakat massal,
yang terdiri dari kelompok elit yang berada di atas massa rakyat banyak yang
ada di lapisan bawah yang sama sekali tidak tidak terorganisir sehingga tidak
memiliki kekuasaan yang efektif. Rakyat sebagai konsumen media dengan
komunikasi dari satu arah tanpa mampu menanggapi dan rekasi berarti. Merka
tidak menguasai mass media sehingga protes-protes yang mereka sampaikan
tidak pernah mampu menyuarakan pendapat mereka. Dalam kepentingan
ekonomi orang miskin didesain untuk dilanggengkan kemiskinannya oleh
penguasa dan elit, sebab dengan kemiskinan masih ada kerja-kerja kotor yang
bisa dikerjakan oleh orang miskin dengan biaya murah—tenaga.

Orang miskin juga dijadikan komoditi politik –kestabilan politik--oleh elit,


karena orang miskin kebanyakan tidak tertarik pada bidang politik dan peluang
ini digunakan sebagai pendukung suara dalam pemilu.

Orang-orang miskin dibutuhkan sebagai identifikasi pelanggaran-pelanggaran


norma dan nilai, kriminal-kriminal yang ditangkap kebanyakan memang dari
orang miskin namun sementara kriminal kerah putih (white collar crime) jauh
dari penyelidikan apalagi pengadilan.

Jalan Keluar

Hal yng mengarah pada perubahan sosial sebagaimana digariskan menganut


model konflik tadi, disini kita temukan garis moderat sampai pada garis yang
benar-benar radikal. Garis moderat menghendaki demokrasi partisipatif baik
dalam group-group sosial yang ada maupun dalam organisasi-organisasi sebagai
tujuan yang harus dicapai oleh setiap masyarakat. Mereka tidak menganggap
pentingnya kepemimpinan, sebaliknya mereka yakin bahwa semua orang ikut
ambil bagian dalam pengambilan keputusan-keputusan yang mempengharuhi
hidup mereka. Mereka menentang segala bentuk birokrasi, pengaturan dari luar.
Mereka menginginkan kontrol mahasiswa atas sekolahnya, rakyat atas polisi,
buruh atas pabrik mereka. Sedang penganut garis radikal menganjurkan aksi-
aksi menentang sistem sosial yang ada umpamanya ketidaktaatan rakyat akan
segala aturan yang ada (civil diobedience), sebab mereka ini yakin bahwa tidak
mungkin mengadakan perubahan-perubahan lewat saluran-saluran resmi/legal
yang ada atau lewat pemilihan-pemilihan umum, saluran-saluran semacam ini
mereka anggap tidak efektif.

EPILOG
Studi ini sebenarnya masih begitu terbatas, analisa sosial akan lebih dipahami
ketika kita semua mau untuk mengamati segala sesuatu disekitar kita,
kehidupan sosial hidup kita sehari-hari. Kemudian adakan sebuah analisis
tentang ketidakadilan sosial yang ada didalamnya dan kita akan bisa menyusun
action plan untuk menindaklanjuti sebagai aksi nyata untuk menyelamatkan
eksploitasi, pembodohan dan penindasan rakyat kecil atau mungkin diri kita
sendiri di lingkungan kita sendiri, mungkin juga di kampus dan organisasi ini ???

Diposkan oleh MAX ALWI di Rabu, November 05, 2008

0 komentar:

Poskan Komentar

Silankan mengisi komentar