You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Konstipasi atau sembelit adalah terhambatnya defekasi (buang air besar)
dari kebiasaan normal. Dapat diartikan sebagai defekasi yang jarang, jumlah
feses (kotoran) kurang, atau fesesnya keras dan kering. Semua orang dapat
mengalami konstipasi, terlebih pada lanjut usia (lansia) akibat gerakan
peristaltik (gerakan semacam memompa pada usus, red) lebih lambat dan
kemungkinan sebab lain. Kebanyakan terjadi jika makan kurang berserat,
kurang minum, dan kurang olahraga. Kondisi ini bertambah parah jika sudah
lebih dari tiga hari berturut-turut. Kasus konstipasi umumnya diderita
masyarakat umum sekitar 4-30 persen pada kelompok usia 60 tahun ke atas.
Ternyata, wanita lebih sering mengeluh konstipasi dibanding pria
dengan perbandingan 3:1 hingga 2:1. Insiden konstipasi meningkat seiring
bertambahnya umur, terutama usia 65 tahun ke atas. Pada suatu penelitian
pada orang berusia usia 65 tahun ke atas, terdapat penderita konstipasi sekitar
34 persen wanita dan pria 26 persen. Konstipasi bisa terjadi di mana saja,
dapat terjadi saat bepergian, misalnya karena jijik dengan WC-nya, bingung
caranya buang air besar seperti sewaktu naik pesawat dan kendaraan umum
lainnya. Penyebab konstipasi bisa karena faktor sistemik, efek samping obat,
faktor neurogenik saraf sentral atau saraf perifer. Bisa juga karena faktor
kelainan organ di kolon seperti obstruksi organik atau fungsi otot kolon yang
tidak normal atau kelainan pada rektum, anak dan dasar pelvis dan dapat
disebabkan faktor idiopatik kronik. Mencegah konstipasi secara umum
ternyata tidaklah sulit. Lagi-lagi, kuncinya adalah mengonsumsi serat yang
cukup. Serat yang paling mudah diperoleh adalah pada buah dan sayur. Jika
penderita konstipasi ini mengalami kesulitan mengunyah, misalnya karena
ompong, haluskan sayur atau buah tersebut dengan blender.
B. Rumusan Masalah
Apa konsep teori dari konstipasi dan bagaimana asuhan keperawatan
dalam menangani kasus konstipasi?

C. Tujuan
a. Tujuan umum : Mengetahui dan memahami konsep teori konstipasi
dan asuhan keperawatan dalam menangani kasus konstipasi.
b. Tujuan khusus :
1. Memahami definisi konstipasi
2. Memahami patofisiologis konstipasi
3. Memahami etiologi konstipasi
4. Memahami manifestasi klinis konstipasi
5. Memahami komplikasi konstipasi
6. Memahami penatalaksanaan konstipasi

D. Manfaaat
Memberikan konsep dasar teori tentang gangguan sistem
gastrointestinal, yaitu diare dan konstipasi dan dapat menambah wawasan
bagi pembaca. Dari semua khalangan
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan tentang penyakit


1. Definisi

Konstipasi sering diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar,


biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras
dan kadang-kadang disertai kesulitan sampai rasa sakit saat buang air besar
(NIDDK, 2000).

Konstipasi adalah suatu keluhan, bukan penyakit (Holson, 2002;Azer,


2001). Pada umumnya konstipasi sulit didefinisikan secara tegas karena sebagai
suatu keluhan terdapat variasi yang berlainan antara individu (Azer,2001).
Penggunaan istilah konstipasi secara keliru dan belum adanya definisi yang
universal menyebabkan lebih kaburnya hal ini (Hamdy, 1984). Sedangkan batasan
dari konstipasi klinik yang sesungguhnya adalah ditemukannya sejumlah feses
pada kolon, rektum atau keduanya yang tampak pada foto polos perut (Harari,
1999).

Para tenaga medis mendefinisikan konstipasi sebagai penurunan frekuensi


buang air besar, kesulitan dalam mengeluarkan feses, atau perasaan tidak tuntas
ketika buang air besar. Studi epidemiologik menunjukkan kenaikan pesat
konstipasi berkaitan dengan usia terutama berdasarkan keluhan penderita dan
bukan karena konstipasi klinik. Banyak orang mengira dirinya konstipasi bila
tidak buang air besar setiap hari. Sering ada perbedaan pandangan antara dokter
dan penderita tentang arti konstipasi (cheskin dkk, 1990).

Biasanya konstipasi berdasarkan laporan pasien sendiri atau konstipasi


anamnestik dipakai sebagai data pada penelitian-penelitian. Batasan dari
konstipasi klinis yang sesungguhnya adalah ditemukannya sejumlah besar feses
memenuhi ampul rektum pada colok dubur, dan atau timbunan feses pada kolon,
rektum, atau keduanya yang tampak pada foto polos perut. Studi epidemiologis
menunjukkan kenaikan pesat dari konstipasi terkait dengan usia
terutama berdasarkan keluhan pasien dan bukan karena konstipasi klinis. Banyak
orang mengira dirinya konstipasi bila tidak buang air besar (BAB) tiap hari
sehingga sering terdapat perbedaan pandang antara dokter dan pasien tentang arti
konstipasi itu sendiri. Frekuensi BAB bervariasi dari 3 kali per hari sampai 3 kali
per minggu. Secara umum, bila 3 hari belum BAB, massa feses akan mengeras
dan ada kesulitan samapi rasa sakit saat BAB. Konstipasi sering diartikan sebagai.
kurangnya frekuensi BAB, biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses
yang kecil-kecil dan keras, serta kadangkal disertai kesulitan sampai rasa sakit
saat BAB. Orang usia lanjut seringkali terpancang dengan kebiasaan BABnya.
Hal ini mungkin merupakan kelanjutan dari pola hidup semasa kanak-kanak dan
saat masih muda, dimana setiap usaha dikerahkan untuk BAB teratur tiap hari,
kalau perlu dengan menggunakan pencahar untuk mendapatkan perasaan sudah
bersih. Ada anggapan umum yang salah bahwa kotoran yang tertimbun dalam
usus besar akan diserap lagi, berbahaya untuk kesehatan, dan dapat
memperpendek usia. Ada pula yang mengkhawatirkan keracunan dari fesesnya
sendiri bila dalam jangka waktu tertentu tidak dikeluarkan.

Suatu batasan dari konstipasi diusulkan oleh Holson, meliputi paling sedikit
2 dari keluhan di bawah ini dan terjadi dalam waktu 3 bulan :

a. Konsistensi feses yang keras;


b. Mengejan dengan keras saat BAB;
c. Rasa tidak tuntas saat BAB, meliputi 25% dari keseluruhan BAB;
d. Frekuensi BAB 2 kali seminggu atau kurang.

International Workshop on Constipation berusaha lebih jelas memberikan


batasan konstipasi. Berdasarkan rekomendasinya, konstipasi dikategorikan dalam
dua golongan : 1) konstipasi fungsional, 2) konstipasi karena penundaan
keluarnya feses pada muara rektisigmoid.

Konstipasi fungsional disebabkan waktu perjalanan yang lambat dari


feses, sedangkan penundaan pada muara rektosigmoid menunjukkan adanya
disfungsi anorektal. Yang terakhir ditandai adanya perasaan sumbatan pada anus.
Tipe konstipasi berdasarkan International adalah sbb :

Tipe Kriteria
Dua atau lebih dari keluhan ini ada
paling sedikit dalam 12 bulan.
1. Konstipasii fungsional a. Mengedam keras 25% dari BAB
b. Fases yang keras 25% dari BAB
c. Rasa tidak tuntas 25% dari BAB
d. BAB kurang dari 2 kali
perminggu.
2. Penundaan pada muara rektum a. Hambatan pada anus lebih dari
25% BAB
b. Waktu untuk BAB lebih lama
c. Perlu jari-jari untuk mengeluarkan
feses.

2. Patofisiologi

Defekasi seperti juga pada berkemih adalah suatu proses fisiologis yang
menyertakan kerja otot-otot polos dan serat lintang, persarafan sentral dan perifer,
koordinasi dari sistem refleks, kesadaran yang baik dan kemampuan fisis untuk
mencapai tempat BAB. Kesukaran diagnosis dan pengelolaan dari konstipasi
adalah karena banyaknya mekanisme yang terlibat pada proses BAB normal.
Gangguan dari salah satu mekanisme ini dapat berakibat konstipasi. Defekasi
dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang menghantakan feses ke rektum
untuk dikeluarkan. Feses masuk dan meregangkan ampula dari rektum diikuti
relaksasi dari sfingter anus interna. Untuk meghindarkan pengeluaran feses yang
spontan, terjadi refleks kontraksi dari sfingter anus eksterna dan kontraksi otot
dasar pelvis yang depersarafi oleh saraf pudendus. Otak menerima rangsang
keinginan untuk BAB dan sfingter anus eksterna diperintahkan untuk relaksasi,
sehingga rektum mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot dinding
perut. kontraksi ini akan menaikkan tekanan dalam perut, relaksasi sfingter dan
otot elevator ani. Baik persarafan simpatis maupun parasimpatis terlibat dalam
proses BAB. Patogenesis dari konstipasi bervariasi, penyebabnya multipel,
mencakup beberapa faktor yang tumpang tindih. Walaupun konstipasi merupakan
keluhan yang banyak pada usia lanjut, motilitas kolon tidak terpengaruh oleh
bertambahnya usia. Proses menua yang normal tidak mengakibatkan perlambatan
dari perjalanan saluran cerna. perubahan patofisiologi yang menyebabkan
konstipasi bukanlah karena bertambahnya usia tapi memang khusus terjadi pada
mereka dengan konstipasi.

Penelitian dengan petanda radioopak yang ditelan oleh orang usia lanjut
yang sehat tidak mendapatkan adanya perubahan dari total waktu gerakan usus,
termasuk aktivitas motorik dari kolon. Tentang waktu pergerakan usus dengan
mengikuti petanda radioopak yang ditelan, normalnya kurang dari 3 hari sudah
dikeluarkan. Sebaliknya, penelitian pada orang usia lanjut yang menderita
konstipasi menunjukkan perpanjangan waktu gerakan usus dari 4-9 hari. Pada
mereka yang dirawat atau terbaring di tempat tidur, dapat lebih panjang lagi
sampai 14 hari. Petanda radioaktif yang dipakai terutama lambat jalannya pada
kolon sebelah kiri dan paling lambat saat pengeluaran dari kolon sigmoid.
Pemeriksaan elektrofisiologis untuk mengukur aktivitas motorik dari kolon pasien
dengan konstipasi menunjukkan berkurangnya respons motorik dari sigmoid
akibat berkurangnya inervasi intrinsic karena degenerasi plexus mienterikus.

Ditemukan juga berkurangnya rangsang saraf pada otot polos sirkuler yang
dapat menyebabkan memanjangnya waktu gerakan usus. Individu di atas usia 60
tahun jug aterbukti mempunyai kadar plasma beta-endorfin yang meningkat,
disertai peningkatan ikatan pada reseptor opiate endogen di usus. Hal ini
dibuktikan dengan efek konstipatif dari sediaan opiate yang dapat menyebabkan
relaksasi tonus kolon, motilitas berkurang, dan menghambat refleks gaster-kolon.
Selain itu, terdapat kecenderungan menurunnya tonus sfingter dan kekuatan otot-
otot polos berkaitan dengan usia, khususnya pada perempuan. pasien dengan
konstipasi mempunyai kesulitan lebih besar untuk mengeluarkan feses yang kecil
dan keras sehingga upaya mengejan lebih keras dan lebih lama. Hal ini dapat
berakibat penekanan pada saraf pudendus sehingga menimbulkan kelemahan lebih
lanjut. Sensasi dan tonus dari rektum tidak banyak berubah pada usia lanjut.
Sebaliknya, pada mereka yang mengalami konstipasi dapat mengalami 3
perubahan patologis pada rektum :

1. Diskesia Rektum

Ditandai dengan penurunan tonus rektum, dilatasi rektum, gangguan


sensasi rektum, dan peningkatan ambang kapasitas. Dibutuhkan lebih besar
regangan rektum untuk menginduksi refleks relaksasi dari sfingter eksterna dan
interna. Pada colok dubur pasien dengan diskesia rektum sering didapatkan
impaksi feses yang tidak disadari karena dorongan untuk BAB sering sudah
tumpul. Diskesia rektum juga dapat diakibatkan karena tanggapnya atau
penekanan pada dorongan untuk BAB seperti yang dijumpai pada penderita
demensia, imobilitas, atau sakit daerah anus dan rektum

2. Dis-sinergis

Pelvis Terdapatnya kegagalan untuk relaksasi otot pubo-rektalis dan sfingter anus
eksterna saat BAB. Pemeriksaan secara manometrik menunjukkan peningkatan
tekanan pada saluran anus saat mengejan.

3. Peningkatan Tonus Rektum

Terjadi kesulitan mengeluarkan feses yang bentuknya kecil. Sering ditemukan


pada kolon yang spastik seperti pada penyakit Irritable Bowel Syndrome, dimana
konstipasi merupakan hal yang dominan.

3. Etiologi
a) Kebiasaan tidak teratur buang air besar
Ketika buang air besar normal refleks yang menghambat atau
mengabaikan, refleks terkondisi ini cenderung menjadi semakin melemah.
Ketika biasanya diabaikan, dorongan untuk buang air besar pada akhirnya
hilang. Anak-anak bermain mungkin mengabaikan refleks ini; orang dewasa
mengabaikan mereka karena tekanan dorongan karena buang air besar tidak
terlalu nyaman.
b) Berlebihan pencahar.
Terlalu sering menggunakan obat pencahar memiliki efek yang sama
sebagai mengabaikan dorongan untuk buang air besar defekasi alami refleks
dihambat. Kebiasaan penggunaan pencahar akhirnya memerlukan dosis
yang lebih besar atau lebih kuat, karena mereka memiliki efek yang semakin
berkurang dengan penggunaan terus menerus.
c) Meningkatkan psikologika stres.
Emosi yang kuat diduga menyebabkan sembelit dengan menghambat
gerak peristaltik usus melalui tindakan epinephrine dan sistem saraf
simpatik. Stres juga dapat menyebabkan spastis usus (spastis atau hipertonik
sembelit atau iritasi usus). Terkait dengan jenis sembelit adalah perut kram,
peningkatan jumlah lendir, dan periode bergantian sembelit dan diare.
d) Diet tidak seimbang.
Diet hambar dan diet rendah serat dalam jumlah besar karena itu
menciptakan cukup residu dari produk-produk limbah untuk merangsang
refleks untuk buang air besar. Residu rendah makanan seperti beras, telur,
dan bersandar daging lebih perlahan-lahan bergerak melalui saluran
pencernaan. Meningkatkan asupan cairan dengan makanan seperti
meningkatkan tingkat mereka gerakan. Perubahan dalam diet juga dapat
berkontribusi untuk sembelit.
e) Tidak cukup cairan
Asupan cukup cairan mengurangi jumlah cairan di menyela, yang
memasuki usus besar. Kurangnya cairan pada gilirannya mengakibatkan
kotoran kering, lebih sulit.
f) Obat
Beberapa obat, seperti morfin atau kodein serta adrenergik dan anti obat-
obatan cholinergic, memperlambat mobilitas usus besar melalui tindakan
mereka pada sistem saraf pusat, dengan demikian menyebabkan sembelit.
Lain, seperti zat besi , memiliki efek astringent dan bertindak lebih lokal pada
mukosa usus menyebabkan sembelit. Zat besi juga memiliki efek
menjengkelkan dan dapat menyebabkan diare beberapa orang.
g) Kurangnya latihan
Pada klien yang istirahat berkepanjangan, kelemahan otot umum meluas
ke otot perut, diafragma dan dasar panggul, yang digunakan dalam buang air
besar. Tidak langsung terkait dengan kekurangan latihan adalah kurangnya
nafsu makan dan mungkin berikutnya kurangnya serat.

h) Umur
Kelemahan otot yang biasa terjadi pada orang lanjut usia.

i) Penyakit proses
Beberapa penyakit menghasilkan sembelit, seperti obstruksi usus;
kelumpuhan, yang menghambat kemampuan klien untuk menanggung turun;
dan kondisi inflamasi panggul, yang membuat kelumpuhan atau Uteri usus.
(Barbara kozie, glenora Erb, rita olivieri)
Faktor-faktor yang terkait adalah asupan cairan kurang kemudian memadai;
asupan yang kurang memadai; serat kurang memadai; aktivitas fisik yang
kurang memadai; Imobilitas; kurangnya privasi; gangguan emosional; kronis
penggunaan obat-obatan dan enema; stres, perubahan dalam rutinitas sehari-
hari; metabolisme masalah (misalnya, hipotiroidisme, hipokalsemia,
hipokalemia) (NANDA, 1994 dalam buku fundamental of nursing)

4. Manifestasi klinis

Anamnesis yang terperinci merupakan hal terpenting untuk


mengungkapkan adakah konstipasi dan faktor resiko penyebabnya. Konstipasi
merupakan suatu keluhan klinis yang umum dengan berbagai tanda dan keluhan
lain yang berhubungan. Pasien yang mengeluh konstipasi tidak selalu sesuai
dengan patokan-patokan yang obyektif. Misalnya jika dalam 24 jam belum BAB
atau ada kesulitan dan harus mengejan serta perasaan tidak tuntas untuk BAB
sudah mengira dirinya menderita konstipasi. Beberapa keluhan yang mungkin
berhubungan dengan konstipasi adalah :
1. Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB
2. Mengejan keras saat BAB
3. Massa feses yang keras dan sulit keluar
4. Perasaan tidak tuntas saat BAB
5. Sakit pada daerah rektum saat BAB
6. Rasa sakit pada perut saat BAB
7. Adanya perembesen feses cair pada pakaian dalam
8. Menggunakan jari-jari untuk mengeluarkan feses
9. Menggunakan obat-obatan pencahar untuk bisa BAB

Pemeriksaan fisis pada konstipasi sebagian besar tidak didapatkan


kelainan yang jelas. Walaupun demikian, pemeriksaan fisis yang teliti dan
menyeluruh diperlukan untuk menemukan kelainan-kelainan yang berpotensi
mempengaruhi khususnya fungsi usus besar. Diawali dengan pemerikssaan
rongga mulut meliputi gigi gerigi, adanya lesi selaput lendir mulut dan tumor
yang dapat mengganggu rasa pengecap dan proses menelan. Pemeriksaan daerah
perut dimulai dengan inspeksi adakah pembesaran abdomen, peregangan atau
tonjolan. Selanjutnya palpasi pada permukaan perut untuk menilai kekuatan otot-
otot perut. Palpasi lebih dalam dapat meraba massa feses di kolon, adanya tumor
atau aneurisma aorta. Pada perkusi dicari antara lain pengumpulan gas
berlebihan, pembesaran organ, asietes, atau adanya massa feses. Auskultasi antara
lain untuk mendengarkan suara gerakan usus besar, normal atau berlebihan
misalnya pada jembatan usus. Pemeriksaan daerah anus memberikan petunjuk
penting, misalnya adakah wasir, prolaps, fisur, fistula, dan massa tumor di daerah
anus dapat mengganggu proses BAB. Pemeriksaan colok dubur harus dikerjakan
antara lain untuk mengetahui ukuran dan kondisi rektum serta besar dan
konsistensi feses. Colok dubur dapat memberikan informasi tentang :

1. Tonus rektum
2. Tonus dan kekuatan sfingter
3. Kekuatan otot pubo-rektalis dan otot-otot dasar pelvis
4. Adakah timbunan massa feses
5. Adakah massa lain (misalnya hemoroid)
6. Adakah darah
7. Adakah perlukaan di anus

Pemeriksaan laboratorium dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor-


faktor resiko penyebab konstipasi, misalnya glukosa darah, kadar hormon tiroid,
elektrolit, anemia yang berhubungan dengan keluarnya darah dari rektum, dan
sebagainya. Prosedur lain misalnya anuskopi dianjurkan dikerjakan secara rutin
pada semua pasien dengan konstipasi untuk menemukan adakah fisura, ulkus,
wasir dan keganasan. Foto polos perut harus dikerjakan pada penderita konstipasi,
terutama yang terjadinya akut. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adakah impaksi
feses dan adanya massa feses yang keras yang dapat menyebabkan sumbatan dan
perforasi kolon. Bila diperkirakan ada sumbatan kolon, dapat dilanjutkan dengan
barium Enema untuk memastikan tempat dan sifat sumbatan. Pemeriksaan intensif
ini dikerjakan secara selektif setelah 3-6 bulan pengobatan konstipasi kurang
berhasil dan dilakukan hanya pada pusat-pusat pengelolaan konstipasi tertentu.
Uji yang dikerjakan dapat bersifat anatomik (enema, proktosigmoidoskopi,
kolonoskopi) atau fisiologik (waktu singgah di kolon, cinedefecografi, menometri,
dan elektromiografi). Proktosigmoidoskopi bisanya dikerjakan pada konstipasi
yang baru tejadi sebagai pprosedur penapisan adanya keganasan kolon-rektum.
Bila ada penurunan berat badan, anemia, keluarnya darah dari rektum atau adanya
riwayat keluarga dengan kanker kolon perlu dikerjakan kolonoskopi. Waktu
persinggahan suatu bahan radio-opak di kolon dapat diikuti dengan melakukan
pemeriksaan radioologis setelah menelan bahan tersebut. Bila timbunan zat ini
terutama ditemukan di rektum menunjukkan kegagalan fungsi ekspulsi,
sedangkan bila di kolon menunjukkan kelemahan yang menyeluruh.
Sinedefecografi adalah pemeriksaan radiologis daerah anaorektal untuk menilai
evakuasi feses secara tuntas, mengidentifikasi kelainan anorektal dan
mengevaluasi kontraksi serta relaksasi otot rektum. Uji ini memakai semacam
pasta yang konsistensinya mirip feses, dimasukkan ke dalam rektum. Kemudian
penderita duduk pada toilet yang diletakkan dalam pesawat sinar X. Penderita
diminta mengejan untuk mengeluarkan pasta tersebut. Dinilai kelainan anorektal
saat proses berlangsung. Uji manometri dikerjakan untuk mengukur tekanan pada
rektum dan saluran anus saat istirahat dan pada berbagai rangsang untuk menilai
fungsi anorektal. pemerikasaan elektromiografi dapat mengukur misalnya tekanan
sfingter dan fungsi saraf pudendus, adakah atrofi saraf yang dibuktikan dengan
respon sfingter yang terhambat. Pada kebanyakan kasus tidak didapatkan kelainan
anatomik maupun fungsional, sehingga penyebab dari konstipasi disebut sebagai
non-spesifik.

5. Komplikasi pada konstipasi


Bila konstipasi tidak segera diatasi biasanya akan menimbulkan komplikasi
seperti hemorroid (wasir), yang disebabkan karena pemaksaan untuk buang air
besar atau robeknya kulit di sekitar anus, terjadi ketika feses yang keras
melonggarkan otot sphincter
Lebih jauh lagi, bila seseorang menderita konstipasi dalam jangka waktu
yang lama maka akan beresiko untuk menderita divertikulosis, penyakit yang
ditandai dengan terbentuknya divertikula (kantong) pada usus besar dan biasanya
juga disebabkan karena peningkatan tekanan intrakolon. Berikut ini penjelasan
selengkapnya.
1. Wasir
Wasir, atau yang lebih dikenal dengan ambeien, adalah suatu penyakit yang
terjadi pada anus di mana bibir anus mengalami bengkak yang kadang disertai
pendarahan. Pada penderita wasir umumnya sulit untuk duduk dan buang air
besar karena terasa sakit apabila bibir anus atau sphinchter anus mendapat
tekanan.
Pada penderita wasir parah terkadang sulit diobati sehingga bisa diberi
tindakan operasi pengangkatan wasir yang bisa memberi efek samping yang
terkadang tidak baik. Oleh sebab itu wasir perlu diwaspadai dan ditangani
dengan baik agar mudah diobati. hemoroid berhubungan dengan pola diet dan
defekasi seseorang.
Wasir atau ambeien ada dua macam, yaitu wasir dalam dan wasir luar.
Pada wasir dalam terdapat pembuluh darah pada anus yang ditutupi oleh
selaput lendir yang basah. Jika tidak ditangani bisa terlihat muncul menonjol ke
luar seperti wasir luar.
Gejala wasir dalam keluarnya dari anus saat bab / buang air besar. Jika sudah
parah bisa menonjol keluar dan terus membesar sebesar bola tenis sehingga
harus diambil tindakan operasi untuk membuang wasir.
Wasir luar merupakan varises di bawah otot yang umumnya berhubungan
dengan kulit. Biasanya wasir ini terlihat tonjolan bengkak kebiruan pada
pinggir anus yang terasa sakit dan gatal.
Hal yang menyebabkan seseorang menderita wasir adalah beragam, yaitu
terlalu banyak duduk, diare menahun, kehamilan ibu hamil yang diakibatkan
perubahan hormone, keturunan penderita wasir, hubungan seks yang tidak
lazim, penyakit yang meningkatkan tekanan intrakolon penderita atau
mengejan, konstipasi / obsitpasi menahun, penekanan kembali aliran darah
vena, dan lain-lain.
2. Divertikulosis & Divertikulitis
Divertikulosis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya divertikula
(kantung-kantung), biasanya pada diding kolon. Divertikulosis bisa terjadi pada
seseorang yang menderita konstipasi dalam jangka waktu yang panjang.
Divertikula juga dapat terbentuk akibat peningkatan tekanan intrakolon,
yang terjadi bila buang air besar dilakukan dengan dipaksa dan batuk rejang
yang parah. Divertikula bisa muncul di setiap bagian dari kolon, tetapi paling
sering terdapat di kolon sigmoid, yaitu bagian terakhir dari kolon tepat sebelum
rektum.
Sebuah divertikulum merupakan penonjolan pada titik-titik yang lemah,
biasanya pada titik dimana pembuluh nadi (arteri) masuk ke dalam lapisan otot
dari usus besar. Kejang (spasme) diduga menyebabkan bertambahnya tekanan
dalam usus besar, sehingga akan menyebabkan terjadinya lebih banyak
divertikula dan memperbesar divertikula yang sudah ada.
Sebagian besar penderita divertikulosis tidak menunjukan gejala. Namun
beberapa ahli yakin bahwa bila seseorang mengalami nyeri kram, diare dan
gangguan pencernaan lainnya, yang tidak diketahui penyebabnya, bisa
dipastikan penyebabnya adalah divertikulosis.
Pintu divertikulum bisa mengalami perdarahan, yang akan masuk ke dalam
usus dan keluar melalui rektum. Perdarahan bisa terjadi jika tinja terjepit di
dalam divertikulum dan merusak pembuluh darahnya. Perdarahan lebih sering
terjadi pada divertikula yang terletak di kolon asendens (arah naik).
Sesungguhnya divertikula tidak berbahaya tetapi tinja yang terperangkap di
dalam divertikula akibat konstipasilah yang berbahaya. Alasannya adalah tidak
hanya menyebabkan perdarahan tetapi juga dapat menyebabkan peradangan
dan infeksi sehingga timbul divertikulitis.

6. Penatalaksanaan

Banyaknya macam-macam obat yang dipasarkan untuk mengatasi konstipasi,


merangsang upaya untuk memberikan pengobatan secara simptomatik. Sedangkan
bila mungkin, pengobatan harus ditujukan pada penyebab dari konstipasi.
Penggunaan obat pencahar jangka panjang terutama yang bersifat merangsang
peristaltik usus, harus dibatasi. Strategi pengobatan dibagi menjadi

1. Tatalaksana non-farmakologis
a. Latihan usus besar : melatih usus besar adalah suatu bentuk latihan
perilaku yang disarankan pada penderita konstipasi yang tidak jelas
penyebabnya. Penderita dianjurkan mengadakan waktu secara teratur
setiap hari untuk memanfaatkan gerakan usus besarnya. dianjurkan
waktu ini adalah 5-10 menit setelah makan, sehingga dapat
memanfaatkan reflex gastro-kolon untuk BAB. Diharapkan kebiasaan
ini dapat menyebabkan penderita tanggap terhadap tanda-tanda dan
rangsang untuk BAB, dan tidak menahan atau menunda dorongan untuk
BAB ini.
b. Diet : peran diet penting untuk mengatasi konstipasi terutama pada
golongan usia lanjut. data epidemiologis menunjukkan bahwa diet yang
mengandung banyak serat mengurangi angka kejadian konstipasi dan
macam-macam penyakit gastrointestinal lainnya, misalnya divertikel
dan kanker kolorektal. Serat meningkatkan massa dan berat feses serta
mempersingkat waktu transit di usus. untuk mendukung manfaa serat
ini, diharpkan cukup asupan cairan sekitar 6-8 gelas sehari, bila tidak
ada kontraindikasi untuk asupan cairan.
c. Olahraga : cukup aktivitas atau mobilitas dan olahraga membantu
mengatasi konstipasi jalan kaki atau lari-lari kecil yang dilakukan
sesuai dengan umur dan kemampuan pasien, akan menggiatkan
sirkulasi dan perut untuk memeperkuat otot-otot dinding perut, terutama
pada penderita dengan atoni pada otot perut.
d. Cairan : Keadaan status hidrasi yang buruk dapat menyebabkan
konstipasi. Kecuali ada kontraindikasi, orang lanjut usia perlu
diingatkan untuk minum sekurang kurangnya 6-8 gelas sehari (1500 ml
cairan perhari) untuk mencegah dehidrasi. Asupan cairan dapat dicapai
bila tersedia cairan/minuman yang dibutuhkan di dekat pasien,
demikian pula cairan yang berasal dari sup,sirup, dan es. Asupan cairan
perlu lebih banyak bagi mereka yang mengkonsumsi diuretik tetapi
kondisi jantungnya stabil.
e. Serat : Pada orang usia lanjut yang lebih muda, serat berguna
menurunkan waktu transit (transit time). Pada orang lanjut usia
disarankan agar mengkonsumsi serat skitar 6-10 gram per hari. Ada
juga yang menyarankan agar mengkonsumsi serat sebanyak 15-20 per
hari. Serat berasal dari biji-bijian, sereal, beras merah, buah, sayur,
kacang-kacangan. Serat akan memfasilitasi gerakan usus dengan
meningkatkan masa tinja dan mengurangi waktu transit usus. Serat juga
menyediakan substrat untuk bakteri kolon, dengan produksi gas dan
asam lemak rantai pendek yang meningkatkan gumpalan tinja. Perlu
diingat serat tidaklah efektif tanpa cairan yang cukup, dan
dikontraindikasikan pada pasien dengan impaksi tinja (skibala) atau
dilatasi kolon. Peningkatan jumlah serat dapat menyebabkan gejala
kembung, banyak gas, dan buang besar tidak teratur terutama pada 2-3
minggu pertama, yang seringkali menimbulkan ketidakpatuhan obat.
f. Evaluasi penggunaan obat : Evaluasi yang seksama tentang
penggunaan obat-obatan perlu dilakukan untuk mengeliminasi,
mengurangi dosis, atau mengganti obat yang diperkirakan
menimbulkan konstipasi. Obat antidepresan, obat Parkinson merupakan
obat yang potensial menimbulkan konstipasi. Obat yang mengandung
zat besi juga cenderung menimbulkan konstipasi, demikian obat anti
hipertensi (antagonis kalsium). Antikolinergik lain dan juga narkotik
merupakan obat-obatan yang sering pula menyebabkan konstipasi.
2. Tatalaksana farmakologis
a) Pencahar pembentuk tinja (pencahar bulk/bulk laxative)
Pencahar bulk merupakan 25% pencahar yang beredar di pasaran.
Sediaan yang ada merupakan bentuk serat alamiah non-wheat seperti
pysilium dan isophagula husk, dan senyawa sintetik seperti
metilselulosa. Bulking agent sistetik dan serat natural sama-sama
efektif dalam meningkatkan frekuensi dan volume tinja. Obat ini tidak
menyebabkan malabsorbsi zat besi atau kalsium pada orang usia
lanjut, tidak seperti bran yang tidak diproses. Pencahar bulk terbukti
menurunkan konstipasi pada orang usia lanjut dan nyeri defekai pada
hemoroid. Sama halnya dengan serat, obat ini juga harus diimbangi
dengan asupan cairan.

b) Pelembut tinja
Docusate seringkali direkomendasikan dan digunakan oleh orang
lanjut usia sebagai pencahar dan sebagai pelembut tinja. Docusate
sodium bertindak sebagaisurfaktan, menurunkan tegangan permukaan
feses untuk membiarakan air masuk dam memperlunak feses.
Docusate sebenarnya tidak dapat menolong konstipasi yang kronik,
penggunaannya sebaiknya dibatasi pada situasi dimana mangedan
harus dicegah.

c) Pencahar stimulan

Senna merupakan obat yang aman digunakan oleh orang usia


lanjut. Senna meningkatkan peristaltik di kolon distal dan
menstimulasi peristaltik diikuti dengan evakuasi feses yang lunak.
Pemberian 20 mg senna per hari selama 6 bulan oleh pasien berusia
lebih dari 80 tahun tidak menyebabkan kehilangan protein atau
elektrolit. Senna umumnya menginduksi evakuasi tinja 8-12 jam
setelah pemberian. Orang usia lanjut biasanya memerlukan waktu
yang lebih lama yakni sampai dengan 10 minggu sebelum mencapai
kebiasaan defekasi yang teratur. Pemberian sebelum tidur malam
mengurangi risiko inkontininsia fekal malam hari dan dosis juga harus
ditritasi berdasarkan respon individu. Terapi dengan Bisakodil
supositoria memiliki absorbsi sistemik minimal dan sangat menolong
untuk mengatasi diskezia rectal pada usia lanjut. Sebaiknya diberikan
segera setelah makan pagi secara supositoria untuk mendapatka efek
refleks gastrokolik. Penggunaan rutin setiap hari dapat menyebabkan
sensasi terbakar pada rectum, jadi sebaiknya digunakan secara rutin,
melainkan sekitar 3 kali seminggu.

d) Pencahar hiperosmolar

Pencahar hiperosmolar terdiri atas laktulosa disakarida dan


sorbitol. Di dalam kolon keduanya di metabolisme oleh bakteri kolon
menjadi bentuk laktat, aetat, dan asam dengan melepaskan
karbondioksida. Asam organik dengan berat molekul rendah ini secara
osmotic meningkatkan cairan intraluminal dan menurunkan pH feses.
Laktulosa sebagai pencahar hiperosmolar terbukti memperpendek
waktu transit pada sejumlah kecil penghni panti rawat jompo yang
mengalami konstipasi. Laktulosa dan sorbitol juga sama-sama
menunjukkan efektifitasnya dalam mengobati konstipasi pada orang
usia lanjut yang berobat jalan. Sorbitol sebaiknya diberikan 20-30
selama empat kali sehari. Glikol polietelin merupakan pencahar
hiperosmolar yang potensial yang mengalirkan cairan ke lumen dan
merupakan zat pembersih usus yang efektif. Gliserin adalah pencahar
hiperomolar yang dugunakan hanya dalam bentuk supositoria.

e) Enema

Enema merangsang evakuasi sebagai respon terhadap distensi


kolon; hasil yang kurang baik biasanya karena pemberian yang tidak
memadai. Enema harus digunakan secara hati-hati pada usia lanjut.
Pasien usia lanjut yang mengalami tirah baring mungkin
membutuhkan enema secara berkala untuk mencegah skibala. Namun,
pemberian enema tertentu terlalu sering dapat mengakibatkan efek
samping. Enema yang berasal dari kran (tap water) merupakan tipe
paling aman untuk penggunaan rutin, karena tidak menghasilkan
iritasi mukosa kolon. Enema yang berasal dari air sabun (soap-suds)
sebaiknya tidak diberikan pada orang usia lanjut.

Bila dijumpai konstipasi kronis yang berat dan tidak dapat diatasi dengan
cara-cara tersebut di atas, mungkin dibutuhkan tindakan pembedahan.
Misalnya kolektomi sub total dengan anastomosis ileorektal. Prosedur ini
dikerjakan pada konstipasi berat dengan masa transit yang lambat dan tidak
diketahui penyebabnya serta tidak ada respons dengan pengobatan yang
diberikan. Pasa umumnya, bila tidak dijumpai sumbatan karena massa atau
adanya volvulus, tidak dilakukan tindakan pembedahan.
B. Tinjauan tentang keperawatan
1. PENGKAJIAN
Apabila berbicara dengan pasien tentang kebiasaan defekasi mereka,
penting untuk mengingat bahwa beberapa orang mungkin merasa malu untuk
mendiskusikan fungsi tubuh pribadi ini. Sikap yang bijaksana dan menghargai
biasanya leboh dapat diterima. Pertanyaan tentang hal pribadi dapat diajukan
kemudian setelah laporan selesai dibuat. Riwayat kesehatan dibuat untuk
menapatkan informasi tentang awitan dan durasi konstipasi, pola eliminasi saat ini
dan masa lalu, serta harapan pasien tentang eliminasi defekasi. Informasi gaya
hidup harus dikaji, termasuk latihan dan tingkat aktivitas, pekerjaan, asupan
nutrisi dan cairan, serta stres. Riwayat medis dan bedah masa lalu, terapi obat-
obatan saat ini, dan penggunaan laksatif serta enema adalah penting. Pasien harus
ditanya tentang adanya tekanan rektal atau rasa penuh, nyeri abdomen, mengejan
berlebihan saat defekasi, flatulens, atau diare encer. Pengkajian objektif mencakup
inspeksi feses terhadap warna, bau, konsistensi, ukuran, bentuk, dan komponen.
Abdomen di auskultasi terhadap adanya bising usus dan karakternya. Distensi
abdomen diperhatikan. Area perineal diinspeksi terhadap adanya hemoroid, fisura,
dan iritasi kulit.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan pada semua data pengkajian, diagnosa keperawatan utama
dapat mencakup yang berikut:

a) Nyeri dan bengkak pada area bedah.


b) Imobilisasi, penurunan aktivitas fisik.
c) Perubahan stimulasi saraf, ileus.
d) Stres emosi, kurang privasi

Perubahan/pembatasan masukan diet Kemungkinan dibuktikan oleh:


penurunan bising usus. Peningkatan lingkar abdomen. Keluhan abdomen/rektal
penuh, mual. Nyeri abdomen. Perubahan dalam frekuensi, konsistensi, dan jumlah
defekasi. Berdasarkan pada data pengkajian, komplikasi potensial yang dapat
terjadi meliputi :
a) Hipertensi arterial
b) Imfaksi fekal
c) Megakolon

3. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi


Konstipasi NOC NIC
Definisi : penurunan pada  Bowel elimination Constipation/Impaction
frekuensi normal defekasi yang  Hydration Management
disertai oleh kesulitan atau Kriteria Hasil :  Monitor tanda dan gejala
pengeluaran tidak lengkap feses  Mempertahankan bentuk konstipasi
atau pengeluaran feses yang feses lunak setiap 1-3 hari  Monitor bising usus
kering, keras, dan banyak.  Bebas dari ketidaknyamanan  Monitor feses : frekuensi,
Batasan Karakteristik : dan konstipasi konsistensi, dan volume.
 Nyeri abdomen  Mengidentifikasi indicator  Konsultasi dengan dokter
 Nyeri tekan adomen dengan untuk mencegah konstipasi tentang penurunan dan
teraba resistensi otot  Feses lunak dan berbentuk. peningkatan bising usus.
 Nyeri tekan abdomen tanpa  Monitor tanda dan gejala
teraba resistensi otot. ruptur usus/peritonitis.
 Anoraksia  Jelaskan etiologi dan
 Penampilan tidak khas pada rasionalisasi tindakan
lansia (mis, perubahan pada terhadap pasien.
status mental, inkontinensia  Identifikasi faktor penyebab
urinasius, jatuh yang tidak dan kontribusi konstipasi
ada penyebabnya,  Dukung intake cairan.
peningkatan suhu tubuh).  Kolaborasikan pemberian
 Borborigmi darah merah laksatif
pada feses  Pantau tanda-tanda dan
 Perubahan pada pola gejala impaksi
defekasi  Memantau gerakan usus,
 Penurunan frekuensi termasuk konsistensi
penurunan volume feses frekuensi, bentuk, volume,
 Distensi adomen dan warna.
 Rasa rektal penuh  Memantau bising usus
 Keletihan umum  Konsultasikan ke dokter
 Feses keras dan berbentuk tentang penurunan/kenaikan
 Sakit kepala frekuensi bising usus.
 Bising usus hiperaktif  Pantau tanda-tanda dan
 Bising usus hipoaktif gejala pecahnya usus dan /
 Peningkatan tekanan atau peritonitis.
adomen  Jelaskan etiologi masalah
 Tidak dapat makan, mual dan pemikiran untuk
 Remesan feses cair tindakan untuk pasien
 Nyeri pada defekasi  Menyusun jadwal ke toilet
 Massa adomen yang dapat  Mendorong meningkatkan
diraba asupan cairan, kecuali
 Adanya feses lunak, sepertia dikontraindikasikan
pasta didalam rektum  Evaluasi profil obat untuk
 Perkusi abdomen pekak efek samping gastrointestinal
 Seringflatus  Anjurkan pasien/keuarga
 Mengejan pada saat defekasi untuk mencatat warna,

 Tidak dapat mengeluarkan volume, frekuensi, dan

feses konsistensi tinja.

 Muntah  Ajarkan pasien/keluarga

Faktor yang berhungan : bagaimana untuk menjaga

Fungsional buku harian makanan

 Kelemahan otot abdomen  Anjurkan pasien/keluarga

 Kebiasaan mengaaikan untuk diet tinggu serat

dorongan defekasi  Anjurkan pasien/keluarga

 Ketidakadekuatan toileting ( pada penggunaan yang tepat

mis, batasan waktu, poisis dan obat pencahar

untuk defeksi, privasi)  Anjurkan pasien/keluarga

 Kurang aktivitas fisik pada hubungan asupan diet,

 Kebiasaan defekasi tidak olahraga, dan cairan

teratur sembelit/impaksi.

 Perubahan lingkungan saat  Menyarankan pasien untuk

ini berkonsultasi dengan dokter

Psikologis jika sembelit atau impaksi

 Depresi, stress emosi terus ada.


 Menginfomasikan pasie
 Konfusi mental
prosedur penghapusan
Farmakologis
manual dari tinja, jika perlu.
 Antasida mengandung
 Lepaskan impaksi tinja
aluminium
secara manual, jika perlu
 Antikolinergik,
 Timbang pasien secara
antikonvulsan
teratur
 Antidepresan
 Ajarkan pasien/keluarga
 Agens antilipemik
tentang proses perencanaan
 Garam bismuth
yang normal
 Kalsium karbonat
 Ajarkan pasien/keluarga
 Penyekat saluran kalsium
tentang kerangka waktu
 Diuretik, garam besi
untuk resolusi semelit.
 Penyalahgunaan laksatif
 Agens anti inflamasi non
steroid
 Opiate, Fenotiazid, sedative.
 Simpatomimemik
Mekanis
 Ketidakseimbangan
elektrolit
 Kemoroid
 Penyakit Hirschprung
 Gangguan neurologist
 Obesitas
 Obstipasi pasca-bedah
 Kehamilan
 Pembesaran prostat
 Abses rectal fisura anak
rektal
 Striktur anak rectal
 Prolaps rectal, ulkus rectal.
 Rektokel, tumor
Fisiologi
 Perubahan pola makan
 Perubahan makanan
 Penurunan motilitas traktus
gastrointestinal
 Dehidrasi
 Ketidakadekuatan gigi
geligi
 Asupan serat tidak cukup
 Ketidakadekuatan hygiene
oral
 Asupan cairan tidak cukup
 Kebiasaan makan buruk

Kaji faktor-faktor yang menyebabkan konstipasi (mis., jadwal defekasi


yang tidak teratur, latihan yang tidak adekuat, efek samping pengobatan, ketidak
seimbangan asupan makanan, stres)

a) Kaji ulang rutinitas harian klien


b) Anjurka klien untuk memasukkan defekasi kedalam rutinitas harian.
c) Anjurkan klien untuk mencoba defekasi sekitar satu jam setelah
makan dan upayakan untuk tetap berada di toilet selama waktu yang
di perlikan.
d) Berikan privasi dan suasana yang nyaman saat defekasi.
e) Jadwalkan latihan fisik yang sedang namun sering (jika tidak terdapat
kontraindikasi).
f) Lakukan latihan rentang gerak sendi pada klien yang terbaring di
tempat tidur.
g) Miringkan dan ubah posisi klien di tempat tidur; tinggikan panggul.
h) Tinjau ulang daftar makanan tinggi bulk (mis., padi-padian, sereal,
buah-buahan dan sayuran segar, kacang-kacangan, dll)
i) Diskusikan mengenai pilihan diet klien.
j) Sertakan sekitar 800 g buah dan sayuran kedalam diet klien untuk
mencapai defekasi normal setiap hari.
k) Anjurkan klien untuk mengonsumsi satu gelas air panas setengah jam
sebelum sarapan guna membantu menstimulus defekasi.
l) Bantu klien mengambil posisi semi-jongkok untuk memudahkan
penggunaan otot abdomen dan menghasilkan efek gravitasi.
m) Catat feses yang keluar (warna, konsistensi, jumlah)
n) Beri tahu klien tentang obat-obat yang menyebabkan konstipasi (mis.,
antasida, bismut, penyekat saluran kalsium, klonidin, levodopa, zat
besi, antiinflamasi nonsteroid, opiat, sukralfat).
o) Jelaskan kerugian penggunaan laksatif atau pelunak feses secara
berlebihan.
p) Lakukan penyuluhan kesehatan sesuai indikasi.

4. EVALUASI
Membuat pola reguler untuk defekasi Mencakup waktu untuk defekasi
sebagai bagian dari rutinitas harian Berpartisipasi dalam program latihan reguler
Menghindari penyalahgunaan laksatif Minum 2 sampai 3 liter air per hari
Memasukkan makanan tinggi serat dalam diet Melaporkan feses yang berbentuk
dan lunak setiap hari atau setiap 2 sampai 3 hari. Mendemonstrasikan pemahaman
tentang tindakan yang tepat untuk mencegah konstipasi Mengidentifikasi tindakan
yang meningkatkan defekasi Menjelaskan pentingnya makan makanan tinggi serat
dan cairan Menyatakan kebutuhan untuk memperhatikan dengan segera dorongan
untuk defekasi Melakukan latihan pengerutan otot abdomen Mengalami
berkurangnya ansietas tentang fungsi usus Mengidentifikasi tindakan yang dapat
digunakan untuk mencegah atau menghilangkan konstipasi

Menggali maslah dan pertanyaan tentang eliminasi usus normal Mengubah


gaya hidup untuk meningkatkan fungsi usus normal Menghindari penggunaan
laksatif kecuali diresepkan Tidak mengalami komplikasi Tidak ada tanda dan
gejala kerusakan vaskuler dari hipertensi arterial yang berhubungan dengan
manuver valsalva Tidak ada imfaksi fekal Tidak ada bukti fisura anal atau
hemoroid Tidak ada obstruksi usus yang berhubungan dengan megakolon.

https://dyahners.wordpress.com/2014/03/18/makalah-konstipasi/

http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35845-
Kep%20Pencernaan-Askep%20Konstipasi.html
http://evaloy.blogspot.co.id/2013/05/askep-pada-pasien-dengan-
konstipasi_5582.html

http://erepo.unud.ac.id/8377/3/205103523eb5a8e46e13dcc435bff31c.pdf

http://programstudikeperawatan.blogspot.co.id/2017/03/intervensi-
keperawatan-konstipasi-nanda.html

https://portalkeperawatan.blogspot.co.id/2016/07/konstipasi-nanda-nic-
noc-versi-i.html