You are on page 1of 4

NAMA : ISTAR FEBRIANTI

NIM : 90717048

KAJIAN RESEP

Dr. H. RIDAD AGOES, dr., MPH.


Praktek Umum
Jl. Cikutra N0. 148 Bandung
SIP. 975/Kandep/YKM/
R/ Kalmethason No. X
S 2 dd I

R/ Buscopan Plus No. VIII


S 1 tab sebelum tidur

R/ Cimetidine No. VII


S 2 dd 1

Pro : Prof. Daud Silalahi

I. INFORMASI OBAT
Berdasarkan resep tersebut, pasien kemungkinan mengalami peptic ulcer yang disertai
radang pada lambung.
1. Kalmethason (Deksametason 0,5 mg)
Indikasi : Anti-inflamasi atau imunosupresan dalam pengobatan berbagai
penyakit termasuk sistem alergi, dermatologis, endokrin, hematologis,
radang, neoplastik, sistem saraf, ginjal, pernafasan, rematik, dan
autoimun; dapat digunakan dalam pengobatan edema serebral, syok
septik, pembengkakan kronis, sebagai agen diagnostik, diagnosis
sindrom Cushing, dan antiemetik.
Dosis : 0,75-9 mg / hari dalam dosis terbagi setiap 6-12 jam
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap deksametason; infeksi jamur sistemik,
malaria serebral; penggunaan oftalmik pada virus (herpes simpleks
okular aktif), jamur, atau penyakit tuberkulosis pada mata.
Perhatian :
 Penekanan adrenal
Dapat menyebabkan hypercorticism atau penekanan hipotalamus-hipofisis-adrenal
(HPA), terutama pada anak-anak atau pada pasien yang menerima dosis tinggi dalam
waktu lama. Penekanan HPA dapat menyebabkan krisis adrenal. Penghentian
kortikosteroid harus dilakukan perlahan dan hati-hati.
 Imunosupresi
Penggunaan kortikosteroid jangka panjang juga dapat meningkatkan kejadian infeksi
sekunder, menutupi infeksi akut (termasuk infeksi jamur), memperpanjang atau
memperburuk infeksi virus, atau membatasi respons terhadap vaksin. Kortikosteroid
tidak boleh digunakan untuk mengobati herpes simpleks okular. Kortikosteroid tidak
boleh digunakan untuk malaria serebral atau hepatitis virus.
 Penyakit kardiovaskular
Gunakan dengan hati-hati pada pasien HF; Penggunaan jangka panjang telah
dikaitkan dengan retensi cairan dan hipertensi.
 Diabetes
Gunakan dengan hati-hati pada pasien diabetes mellitus; dapat mengubah produksi /
regulasi glukosa yang menyebabkan hiperglikemia.
 Gastrointestinal disease
Gunakan dengan hati-hati pada pasien penyakit GI (divertikulitis, ulkus peptikum,
kolitis ulserativa) karena risiko perforasi.
 Kerusakan hati
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan hati, termasuk sirosis;
Penggunaan jangka panjang telah dikaitkan dengan retensi cairan.
 Gagal ginjal
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal; Retensi cairan dapat
terjadi.
 Penyakit tiroid
Pembesaran kortikosteroid metabolik meningkat pada pasien hipertiroid dan
penurunan pada hipotiroid.
Efek Samping : Acne, supresi adrenal, aritmia, bradikardi, katarak, DM, perforasi
gastrointestinal, moon face, peningkatan berat badan, myopathi.
Mekansime Kerja : Mengurangi peradangan dengan menekan migrasi neutrofil,
menurunkan produksi mediator inflamasi, dan pembalikan
permeabilitas kapiler yang meningkat; menekan respon imun normal.
Farmakokinetik :
 Onset : Beberapa menit hingga beberapa jam tergantung dosis dan rute
 Distribusi : Volume distribusi dalam tubuh 2 L/kg
 Metabolisme : Di hati
 Eliminasi : t1/2 1,8-3,5 jam pada ginjal normal
 Ekskresi : Utamanya melalui urin dan sebagian melalui feses. Sehingga perlu
digali informasi riwayat penyakit pasien terkait ginjal.
Interaksi Obat : Cimetidin akan meningkatkan level atau efek deksametason dengan
mempengaruhi enzim metabolisme hepatik/intestinal CYP344.
2. Buscopan Plus (Hyoscin-N-Butilbromid 10 mg, Paracetamol 500 mg)
Indikasi : Nyeri proksimal yang terjadi pada penderita tukak lambung atau usus
halus, nyeri kejang yang terjadi pada kandung empedu, saluran
kandung kemih, dan nyeri kejang pada organ genitalia wanita saat
dismenore.
Dosis : Dewasa 3 kali 1-2 tablet atau sebagai adjuvan pada pengobatan peptic
ulcer 1 kali sehari atau prn.
Kontraindikasi : Hipersensitif, obstruksi gastrointestinal
Perhatian : Gangguan ginjal atau hati, CHF, reflux esofagitis.
Efek samping : Kulit kering, gangguan penglihatan, konstipasi, sakit kepala,
takikardi.
Mekanisme kerja : Memblok asetilkolin pada saraf otot halus parasimpatetis, kelenjar
sekretoris, dan Central Nervous System (CNS).
Farmakokinetik :
 Bioavailabilitas : tablet 100%
 Onset : 20-30 menit
 Distribusi : Ikatan protein 50%
 Metabolisme : Hati, menjadi metabolit berupa tropin, hyosciamin.
 Eliminasi : t1/2 3,5 jam
 Ekskresi : Sebagian besar melalui urin sebagai obat yang tidak berubah
Interaksi Obat : Penurunan efek Hyoscin oleh sekretin melalui antagonis
farmakodinamik.
3. Cimetidin 200 mg
Indikasi : Gastric ulcer, duodenal ulcer, gastroesofageal reflux, heartburn.
Dosis : 300 mg 4 kali / hari atau 800 mg pada waktu sebelum tidur atau 400
mg dua kali sehari sampai 8 minggu.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap cimetidin atau antagonis H2 lainnya
Perhatian : Hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal
Efek samping : Sakit kepala, sizziness, somnolen, diare, mual dan muntah.
Mekanisme kerja : Antagonis reseptor H2, pada sel parietal lambung, sehingga dapat
menghambat sekresi asam lambung
Farmakokinetik :
 Bioavailabilitas : 60-70%
 Ikatan protein : 15-20%
 Metabolisme : Hati, dapat menghambat enzim CYP1A2, CYP2D6, CYP3A4
 Waktu paruh (t1/2) : Dewasa 2 jam, dapat menigkat hingga 4-5 jam pada pasien
dengan gangguan ginjal
 Onset : Kurang dari 1 jam
 Durasi : 4-8 jam
 Ekskresi : Urin 48-75%, Feses 2-3%
Interaksi Obat : Selain bekerja di saluran pencernaan, cimetidin juga berpengaruh
pada saat metabolisme melalui penghambatan berbagai enzim
pemetabolisme obat lain sehingga potensi interaksi dengan obat yang
lain pada saat dimetabolisme sangat tinggi. Interaksi dengan obat lain
antara lain Terfenadin, Astemizol, Atorvastatin, Diazepam,
Dexametason, Diltiazem, Duloxetin.

II. Drug Related Problem (DRP)


1. Pilihan obat kurang tepat
Penggunaan Dexametason pada pasien peptic ulcer. Adanya efek merugikan
penggunaan dexametason pada pasien penderita peptic ulcer karena risiko perforasi
yang dapat memperparah penyakit pasien.
2. Interaksi obat
Adanya interaksi Cimetidin-Dexametason, dimana cimetidin akan meningkatkan level
atau efek deksametason dengan mempengaruhi enzim metabolisme hepatik/intestinal
CYP344. Interaksi ini adalah interaksi farmakodinamik sehingga disarankan untuk
penggantian obat cimetidin dengan obat golongan Antagonis H1 seperti Ranitidin yang
tidak ada interaksinya dengan Dexametason.
3. Informasi obat yang perlu disampaikan ke pasien
 Dexametason merupakan obat antiinflamasi yang tidak diindikasikan untuk
meningkatkan nafsu makan atau menggemukkan badan. Peningkatan berat badan
setelah mengkonsumsi Deksametason sebenarnya merupakan salah satu efek
samping yang ditimbulkan oleh Deksametason, yaitu Moon Face.
 Penggunaan Dexametason atau kortikosteroid lainnya tidak dianjurkan untuk
penggunaan jangka waktu yang lama. Di dalam tubuh terdapat hormon kotisol yang
secara normal diproduksi oleh tubuh. Hormon tersebut memiliki banyak peran
dalam menjaga homeostasis tubuh. Saat mengkonsumsi Dexametason, kadar
kortisol dalam tubuh akan meningkat sehingga tubuh akan mengurangi produksi
hormon tersebut. Sehingga untuk mengembalikan fungsi normal kelenjar adrenal,
perlu dilakukan tapering-off (penurunan dosis secara perlahan).