You are on page 1of 11

LAPORAN PRAKTIKUM KI-2241

ENERGETIKA KIMIA

PERCOBAAN E-2

KELARUTAN TIMBAL BALIK

Nama : Hans Martino Y.S

NIM : 10516087

Kelompok :8

Hari : Rabu

Tanggal praktikum : 28-03-2018

Tanggal pengumpulan : 04-04-2018

Asisten : Siti Nuraisiah

LABORATORIUM KIMIA FISIK

PROGRAM STUDI KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2018
KELARUTAN TIMBAL BALIK

I.Tujuan Percobaan

1.Menentukan titik kritis fenol

2.Menentukan fraksi mol fenol dalam system fenol- air, fenol – air – methanol 1%, dan s
ystem fenol – air – NaCl.

II.Prinsip percobaan
Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut
(solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah
maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan.
Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan
perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat
ini lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible.
Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni ataupun
campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat. Kelarutan bervariasi
dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut, seperti perak klorida dalam
air. Istilah "tak larut" (insoluble) sering diterapkan pada senyawa yang sulit larut, walaupun
sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang benar-benar tidak ada bahan yang terlarut.
Dalam beberapa kondisi, titik kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk
menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh (supersaturated) yang metastabil.

Kelarutan timbal balik adalah kelarutan dari suatu larutan yang bercampur sebagian
bila temperaturnya di bawah temperatur kritis. Jika mencapai temperatur kritis, maka
larutan tersebut dapat bercampur sempurna (homogen) dan jika temperaturnya telah
melewati temperatur kritis maka sistem larutan tersebut akan kembali dalam kondisi
bercampur sebagian lagi. Salah satu contoh dari temperatur timbal balik adalah kelarutan
fenol dalam air yang membentuk kurva parabola yang berdasarkan pada bertambahnya %
fenol dalam setiap perubahan temperatur baik di bawah temperatur kritis.
Saat dua cairan bercampur maka, akan membentuk larutan ideal, maka setiap cairan
akan menguap sehingga tekanan totalnya sama dengan jumlah kedua tekanan parsialnya.
Tekanan uap parsial setiap komponen dalam larutan lebih kecil tekanan uap murninya,
karena pada permukaan larutan terdapat dua zat yang saling berinteraksi sehingga
kecenderungan tiap komponen untuk menguap berkurang. Besarnya tekanan uap parsial
setiap komponen dalam larutan, dirumuskan oleh Hukum Raoult, yang berbunyi:
“for a solution of volatile liquids, the partial vapor pressure of each component
(volatile) of the solution is proportional to the mole fraction of that component present in
the solution. “
Atau bisa diterjemahkan
“Tekanan uap parsial dari tiap-tiap komponen dalam larutan sama dengan tekanan
uap komponen tersebut dalam keadaan murni kali fraksimolnya”.
Jika larutan terdiri dari komponen A dan B, maka:
PA = XA PA° dan PB = XB PB°
(Byjus, 2018)
Temperatur kritis atau Tc adalah batas atas temperatur dimana menjadi pemisahan
fase. Di atas temperatur kritis, kedua komponen benar-benar bercampuran.Semakin besar
Temperatur semakin besar pula kemampuan campur pada kedua komponen. Beberapa
system tertentu memperlihatkan,pada di bawah temperature kritis kedua komponen
bercampur dan pada di atas temperatur kritis kedua komponen membentuk dua fasa. Dalam
hal ini pada temperatur rendah kedua komponen lebih gampang becampur. (Atkins, 1999).

III.Alat dan Bahan


Alat: Bahan :
1. Tabung reaksi sedang 1. Fenol
2. Tabung reaksi besar 2. Methanol 1%
3. Batang pengauk lingkar 3. NaCl 1%
4. Thermometer 4. Aqua dm
5. Klem manice
6. Pembakar Bunsen
7. Kawat kasa
8. Gelas kimia 1000mL

IV.Cara Kerja
campuran fenol dengan air Disiapkan di dalam tabung reaksi dengan komposisi sebagai
berikut:
Fenol (g) 4 4 4 4 5 6 7 8
Air (mL) 4.00 5.00 6.00 8.00 10.00 6.50 8.50 10.50
Tiap campuran Dipanaskan dalam penangas air yang dimasukkan ke dalam tabung
reaksi besar. Diaduk campuran dengan perlahan, suhu dicatat pada saat campuran berubah
dari keruh menjadi bening. Tabung reaksi besar dikeluarkan dari air, campuran dibiarkan
menjadi dingin dan suhu dicatat pada saat campuran menjadi keruh kembali. Dibuat dalam
tabung reaksi sedang campuran 4 gram fenol dengan 6 mL larutan metanol 1%.Suhu
ditentukan pada saat campuran berubah menjadi jernih dan menjadi keruh kembali.
Dilakukan hal yang sama untuk campuran 4 gram fenol dan 6 mL larutan NaCl 1%.

V.Data Pengamatan
Suhu ruang : 25.5 oC
Massa pikno kosong : 20,45 g
Massa pikno + air : 45,21 g
Massa pikno + NaCl 1% : 45,40 g
Massa pikno + CH3OH 1% : 45,18 g
Mr CH3OH : 32.042 g/mol
Mr fenol : 94.111 g/ mol
Mr NaCl : 58.443 g/mol
Mr air : 18.01528 g/mol
𝜌 air : 0.99705 gr
Larutan
T bening (oC) T keruh (oC) T rata- rata (oC)
Fenol (gr) Air (mL)
4 4 63 62 62.5
4 5 65 64.5 64.75
4 6 63 62 62.5
4 8 68 66.5 67.25
5 10 69 68 68.5
6 6.5 65.5 65 65.25
7 8.5 66 65.5 65.75
8 10.5 68 67.5 67.75
Fenol + NaCl 1% 79.8 78.5 79.15
Fenol + CH3OH 1% 67 65 66

VI.Pengolahan Data
a. Penentuan Volume piknometer
wpikno+air − wpikno kosong
Vpikno = 𝜌air pada truang

45,21 g gram −20,45 gram


= gram = 24.83325 cm3
0.99705 ⁄ 3
cm

b. Penentuan ρ senyawa

wpikno+NaCl − wpikno kosong


ρ NaCl = Vpikno

45.40 gram − 20.45gram gram


= 24.83325cm3
= 1.00470103 ⁄cm3
wpikno+CH3 OH − wpikno kosong
ρ CH3OH = Vpikno

45,18 gram − 20.45 gram gram


= 24.83325 cm3
= 0.99584194 ⁄cm3

c. Fraksi mol dalam system ( fenol – air )


mol fenol
Xfenol = mol fenol+mol air
4 gram
⁄94.111 gram.mol−1
= gram = 0.16106
4 gram 0.99705 ⁄ 3 𝑥 4 mL
⁄94.111 gram.mol−1 + cm ⁄
18..01528 g.mol−1

Larutan n H2O nfenol


Xfenol
air fenol (mol) (mol)
4 4 0.22138 0.0425 0.16106
5 4 0.27673 0.0425 0.13314
6 4 0.33207 0.0425 0.11346
8 4 0.44276 0.0425 0.08758
10 5 0.55345 0.05313 0.08758
6.5 6 0.35975 0.06375 0.15054
8.5 7 0.47044 0.07437 0.13652
10.5 8 0.58113 0.08500 0.12761

d. Penentuan fraksi mol dalam system air- fenol – methanol


1 mL
V CH3OH = x 6 mL CH3OH 1%
100 mL larutan

= 0.06 mL
m CH3OH = V CH3OH x ρ CH3OH
gram
= 0.06 mL x 0.99584194 ⁄cm3 = 0.059 g

V air = V CH3OH 1% - V CH3OH


= 6 mL - 0.06 mL = 5.94 mL
V air 𝑥 𝜌 air
mol air = Mr air
gram
5.94 mL 𝑥 0.99705 ⁄ 3
cm
= = 0.32875 mol
18.01528 gram.mol−1
ρ CH3 OH 𝑥 V CH3 OH
mol CH3OH = Mr CH3 OH
gram
0.99584194 ⁄ 3 𝑥 0.06 mL
cm
= = 1.8647 x 10-3 mol
32.042 gram.mol−1
mol fenol
Xfenol = mol fenol + mol air+ mol CH3 OH
4.00 gram
⁄94.111 gram/mol
= 4.00 gram
⁄94.111 gram/mol + 0.32875 mol+ 1.8647 𝑥 10−3 mol

= 0.1139102
e. Penentuan fraksi mol dalam fenol – air – NaCl
1 gram
w NaCl = x 6 mL NaCl 1%
100 mL larutan

= 0.06 gram
w NaCl
V NaCl = 𝜌 NaCl
0.06 gram
= gram = 0.05972 mL
1.00470103 ⁄ 3
cm

V air = V NaCl 1% - V NaCl


= 6 mL - 0.05972 mL = 5.94028 mL
V air 𝑥 𝜌 air
mol air = Mr air
gram
5.94028 mL 𝑥 0.99705 ⁄ 3
cm
= = 0.32876 mol
18.01528 gram.mol−1
w NaCl
mol NaCl = Mr NaCl
0.06 gram
= = 0,00102 mol
58.443 gram.mol−1
mol fenol
Xfenol = mol fenol + mol air+ mol NaCl
4.0 gram
⁄94.111 gram/mol
= 4.0 gram
⁄94.111 gram/mol + 0.32876 mol + 0,00102 mol

= 0.114162

Diagram Fasa
Kurva fraksi mol fenol terhadap T rata-rata
82
80
79.15
78
T rata-rata ( oC) 76
74
72
y = 27.287x2 - 56.7x + 72.16
70 R² = 0.3567
68 68.5 67.75
67.25
66 66 65.75
64.75 65.25
64
62 62.5 62.5
0.0800 0.1000 0.1200 0.1400 0.1600
X fenol

y = = 27.287x2 - 56.7x + 72.16

−b −(−56.7)
x= = = 1.0389
2a 2 x 27.287

Tc = 27.287(1.0389)2 - 56.7(1.0389) + 72.16


Tc = 42,71 oC

VIII.Kesimpulan

Menurut percobaan yang dilakukan Titik kritis fenol adalah 42.71 oC, Fraksi mol fenol pada
system fenol air ialah 0.16061, 0.13314, 0.11346, 0.08758, 0,08758, 0,15054, 0,13652, 0,12761,
Fraksi mol fenol pada system fenol – air - methanol yaitu 0.1139102 dan Fraksi mol fenol pada
system fenol – air – NaCl yaitu 0.114162.

IX.Daftar Pustaka
1. IUPAC. Compendium of Chemical Terminology, 2nd ed. (the "Gold Book"). Compiled
by A. D. McNaught and A. Wilkinson. Blackwell Scientific Publications, Oxford (1997).
XML on-line corrected version: http://goldbook.iupac.org (2006-) created by M. Nic, J.
Jirat, B. Kosata; updates compiled by A. Jenkins. ISBN 0-9678550-9-8.
https://doi.org/10.1351/goldbook. Last update: 2014-02-24; version: 2.3.3. DOI of this
term:
2. Normal Reference Range Table Archived 2011-12-25 at the Wayback Machine. from
The University of Texas Southwestern Medical Center at Dallas. Used in Interactive Case
Study Companion to Pathologic basis of disease
3. Francis L. Smith & Allan H. Harvey (September 2007). "Avoid Common Pitfalls When
Using Henry's Law". CEP (Chemical Engineering Progress). ISSN 0360-7275.

XI.Lampiran
Pertanyaan :
1. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan suhu konsolut atas atau suhu larutan kritik?
Berapa derajat kebebasan sistem pada T>T konsolut atas?
Jawab:
Suhu larutan kritik adalah titik suhu dimana larutan menjadi menjadi Homogen

2. Sebutkan sistem yang mempunyai titik konsolut bawah dan sistem yang mempunyai dua
suhu konsolut (atas dan bawah)?
Jawab:
titik konsolut bawah :air-fenol,
dua titik suhu konsolut :air-nikotin.
3. Apakah yang dimaksud dengan larutan konjugasi?
Jawab:
Larutan campuran dua cairan yang saling melarutkan dan menghasilkan dua larutan
konjugat yang bersifat jenuh.
4. Apakah yang dimaksud dengan efek "salting out"? Tunjukkan terjadinya efek tersebut
pada percobaan yang Anda lakukan.
Jawab:
Salting out adalah keadaan dimana ketika penambahan suatu komponen pada sistem
tertentu menguangi kelarutan suatu komponen, pada percobaan ini NaCl ketika
ditambahkan akan menambah titik maksimum konsolutnya, sehingga NaCl dapat dianggap
mengurangi kelarutna dari komponen yang didalamnya.