You are on page 1of 21

BAB VI

KERJA MESIN LAS

6.1. Maksud dan Tujuan

Setelah selesai latihan ini praktikan akan mampu :

1. Memelihara, melayani serta menggunakan alat-alat dan peralatan kerja bangku.


2. Memelihara, melayani serta menggunakan alat dan peralatan las listrik.
3. Dapat mengelas listrik pada posisi down hand (dibawah tangan) dan horizontal
(mendatar) dengan sifat pekerjaan sederhana.

6.2. TEORI DASAR


Sejarah Las , Pengelasan dengan metode yang dikenal sekarang, mulai dikenal pada
awal abad ke 20. Sebagai sumber panas digunakan api yang berasal dari pembakaran gas
acetylena yang kemudian dikenal sebagai las karbit. Waktu itu sudah dikembangkan las listrik
namun masih mulai langka.

Pada Perang Dunia II , proses pengelasan untuk pertama kalinya dilakukan dalam skala besar.
Dengan las listrik , dalam waktu singkat , Amerika Serikat dapat membuat sejumlah kapal
sekelas dengan kapal SS Liberty, yang merupakan kapal pertama yang diluncurkan dengan di
las. Di mana sebelumnya kapal yang dikeluarkan, proses pengerjaan menggunakan paku
keling (‘rivets’). Pada masa itu, muncul pula cara pertama untuk mengetes hasil pengelasan,
seperti uji ‘kerfslag’ (lekukan yang tertutup lapisan).

Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara
mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan
atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinyu.

Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas, meliputi perkapalan,
jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran dan sebagainya.
Disamping untuk pembuatan, proses las dapat juga dipergunakan untuk reparasi misalnya
untuk mengisi nlubang-lubang pada coran. Membuat lapisan las pada perkakas mempertebal
bagian-bagian yang sudah aus, dan macam –macam reparasi lainnya.

Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tetapi hanya merupakan sarana untuk
mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. Karena itu rancangan las dan cara pengelasan
harus betul-betul memperhatikan dan memperlihatkan kesesuaian antara sifat-sifat lasdengan
kegunaan kontruksi serta kegunaan disekitarnya.

Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi sebenarnya didalamnya banyak


masalah-masalah yang harus diatasi dimana pemecahannya memerlukan bermacam-macam
penngetahuan.

Karena itu didalam pengelasan, penngetahuan harus turut serta mendampingi praktik, secara
lebih bterperinci dapat dikatakan bahwa perancangan kontruksi bangunan dan mesin dengan
sambungan las, harus direncanakan pula tentang cara-cara pengelasan. Cara ini pemeriksaan,
bahan las, dan jenis las yang akan digunakan, berdasarkan fungsi dari bagian-bagian
bangunan atau mesin yang dirancang.

Berdasarkan definisi dari DIN (Deutch Industrie Normen) las adalah ikatan metalurgi pada
sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari definisi
tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa las adalah sambungan setempat dari beberapa
batang logam dengan menggunakan energi panas. Pada waktu ini telah dipergunakan lebih
dari 40 jenis pengelasan termasuk pengelasan yang dilaksanakan dengan cara menekan dua
logam yang disambung sehingga terjadi ikatan antara atom-atom molekul dari logam yang
disambungkan.klasifikasi dari cara-cara pengelasan ini akan diterangkan lebih lanjut.

Pada waktu ini pengelasan dan pemotongan merupakan pengelasan pengerjaan yang amat
penting dalam teknologi produksi dengan bahan baku logam. Dari pertama perkembangannya
sangat pesat telah banyak teknologi baru yang ditemukan. Sehingga boleh dikatakan hamper
tidak ada logam yang dapat dipotong dan di las dengan cara-cara yang ada pada waktu ini.

Jenis-jenis pengelasan dan pemotongan

Sampai pada waktu ini banyak sekali cara-cara pengklasifikasian yang digunakan
dalam bidang las, ini disebabkan karena perlu adanya kesepakatan dalam hal-hal tersebut.
Secara konvensional cara-cara pengklasifikasi tersebut vpada waktu ini dapat dibagi dua
golongan, yaitu klasifikasi berdasarkan kerja dan klasifikasi berdasarkan energi yang
digunakan.

Klasifikasi pertama membagi las dalam kelompok las cair, las tekan, las patri dan lain-
lainnya. Sedangkan klasifikasi yang kedua membedakan adanya kelompok-kelompok seperti
las listrik, las kimia, las mekanik dan seterusnya.

Bila diadakan pengklasifikasian yang lebih terperinci lagi, maka kedua klasifikasi tersebut
diatas dibaur dan akan terbentuk kelompok-kelompok yang banyak sekali.

Di antara kedua cara klasifikasi tersebut diatas kelihatannya klasifikasi cara kerja lebih
banyak digunakan karena itu pengklasifikasian yang diterangkan dalam bab ini juga
berdasarkan cara kerja.

Berdasarkan klasifikasi ini pengelasan dapat dibagi dalam tiga kelas utama yaitu : pengelasan
cair, pengelasan tekan dan pematrian.

1. Pengelasan cair adalah cara pengelasan dimana sambungan dipanaskan sampai


mencair dengan sumber panas dari busur listrik atau sumber api gas yang terbakar.
2. Pengelasan tekan adalah pcara pengelasan dimana sambungan dipanaskan dan
kemudian ditekan hingga menjadi satu.
3. Pematrian adalah cara pengelasan diman sambungan diikat dan disatukan denngan
menggunakan paduan logam yang mempunyai titik cair rendah. Dalam hal ini logam
induk tidak turut mencair.

Pemotongan yang dibahas dalam buku ini adalah cara memotong logam yang didasarkan
atas mencairkan logam yang dipotong. Cara yang banyak digunakan dalam pengelasan adalah
pemotongan dengan gas oksigen dan pemotongan dengan busur listrik.

Pengelasan yang paling banyak ndigunakan pada waktu ini adalah pengelasan cair dengan
busur gas. Karena itu kedua cara tersebut yaitu las busur listrik dan las gas akan dibahas
secara terpisah. Sedangkan cara-cara penngelasan yang lain akan dikelompokkan dalam satu
pokok bahasan. Pemotongan, karena merupakan masalah tersendiri maka pembahasannya
juga dilakukan secara terpisah.

Dibawah ini klasifikasi dari cara pengelasan :

 Pengelasan cair
o Las gas
o Las listrik terak
o Las listrik gas
o Las listrik termis
o Las listrik elektron
o Las busur plasma
 Pengelasan tekan
o Las resistensi listrik
o Las titik
o Las penampang
o Las busur tekan
o Las tekan
o Las tumpul tekan
o Las tekan gas
o Las tempa
o Las gesek
o Las ledakan
o Las induksi
o Las ultrasonic
 Las busur
o Elektroda terumpan
 Las busur gas
o Las m16
o Las busur CO2
 Las busur gas dan fluks
o Las busur CO2 dengan elektroda berisi fluks
o Las busur fluks
o Las elektroda berisi fluks
o Las busur fluks
o Las elektroda tertutup
o Las busur dengan elektroda berisi fluks
o Las busur terendam
o Las busur tanpa pelindung
o Elektroda tanpa terumpan
o Las TIG atau las wolfram gas
Terdapat berbagai jenis pengelasan yang digunakan dalam proses penyatuan logam. Dalam
beberapa literatur, terdapat hingga 40 bahkan 200 metoda pengelasan. Berikut ini dijelaskan
beberapa metode pengelasan yang dikenal.

 Las karbit

Las Karbit adalah proses penyambungan logam dengan logam (pengelasan) yang
menggunakan gas karbit (gas aseteline=C2H2) sebagai bahan bakar, prosesnya adalah
membakar bahan bakar yang telah dibakar gas dengan O2 sehingga menimbulkan nyala api
dengan suhu yang dapat mencairkan logam induk dan logam pengisi.

 Las listrik

Gambar 6.2.1 Las Listrik

Pada Las listrik, panas yang diperoleh untuk proses pelelehan diperoleh dari
perbedaan tegangan antara ujung tangkai las dengan benda yang akan di las. Kalau elektroda
las cukup dekat dengan benda yang akan dikerjakan itu, akan terjadi loncatan bunga api
permanen yang berasal dari arus listrik. Selama melakukan las listrik, tetesan elektroda
lempengan logam berdiameter tertentu, berjatuhan menjadi kumpulan cairan logam.

Salah satu metode modern dari las listrik adalah las plasma . Plasma adalah gas panas yang
suhunya sedemikian tinggi sehingga elektron luar molekul-molekul gas terpisahkan dan
membentuk ion. Elektroda untuk las plasma dibuat dari bahan yang kuat, misalnya wolfram
Arus listrik mengionisasi gas plasma sehingga terjadi arus tunggal. Sewaktu terbentuk cairan
panas, kawat las bisa ditambahkan.

Las Plasma sangat stabil. Cara ini bisa dijalankan secara automatis, antara lain karena hasil
pengelasan tidak terpengaruh oleh panjang arus. Karena las plasma sangat cepat, ia bisa
digunakan ntuk mamasang lapisan anti karat dan anti aus pada konstruksi baja.

Las Listrik merupakan dasar dari banyak proses las dengan aplikasi khusus. Salah satu
yang paling terkenal adamah las MIG/MAG ( Metal Inert Gas/ Metal Active Gas). Bedanya
dengan las listrik biasa ialah, dari ujung tangkai las juga keluar aliran gas. Dapat beripa gas
karbondioksida yang disebut las CO2, tetapi dapat juga argon atau campuran beberapa gas.
Aliran gas itu melindungi cairan yang meleleh dari udara sekitarnya. Udara mengandung
oksigen yang pada suhi sekitar 1800 derajat Celcius dapat membuat karat.

 Elektroda

Elektroda atau kawat las ialah suatu benda yang dipergunakan untuk melakukan
pengelasan listrik yang berfungsi sebagai pembakar yang akan menimbulkan busur nyala.

Banyak orang yang berpikir bahwa kawat las hanya memiliki satu jenis saja. Apapun barang
yang dilas, maka jenis las dan bentuk kawatnya pun hanya itu-itu saja. Padahal sebenarnya,
terdapat banyak sekali jenis kawat las yang biasa dipanggil elektroda di pasaran. Satu jenis
eletroda ini dipakai khusus untuk suatu pekerjaan pengelasan. Elektroda atau kawat las ini
menentukan seberapa besar arus listrik yang pas untuk suatu pengerjaan pengelasan.
Elektroda sendiri memiliki berbagai kode spesifikasi yang dapat kita lihat pada kardus
pembungkus kawat las. Kebanyakan pengelas biasanya menggunakan insting, pengalaman,
dan kebiasaan dalam menentukan kawat las dan besarnya arus listrik, namun, kita dapat
mengenal beberapa kode yang tertulis dalam bungkus elektroda atau kawat las, khususnya
yang memiliki tipe SMAW.

Kebanyakan masyarakat awam yang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai
dunia pengelasan berpikir bahwa hanya ada satu kawat las saja. Tidak banyak yang
mengetahui bahwa sebenarnya ada berbagai jenis kawat las yang dipergunakan untuk
melakukan pengelasan untuk jenis material yang berbeda. Perbedaan yang ada di antara
berbagai jenis kawat las listrik atau yang sering juga disebut elektroda ini terletak pada
berbagai hal termasuk juga besaran arus listrik yang akan dipergunakan dalam proses
pengelasan. Material yang berbeda membutuhkan besaran arus listrik yang berbeda pula
untuk memberikan hasil las yang paling pas, sesuai dengan kebutuhan yang ada.

 Standar Kawat Las Listrik

Ada standar tertentu yang dipergunakan oleh para pelaku industri pengelasan untuk bisa
menentukan elektroda yang akan dipakai dan besaran arus listrik yang diperlukan. Standar
yang umum dipakai adalah standar yang ditentukan oleh AWS (American Welding Society),
yang merupakan badan pengelasan resmi di Amerika Serikat. Standar yang ditetapkan oleh
badan ini telah diakui secara luas dan dipergunakan sebagai standar pengelasan di berbagai
negara. Badan ini mengeluarkan standar yang dinyatakan dengan tanda E XXXX yang berarti:

 E merujuk pada keterangan kawat las listrik alias elektroda


 XX (dua angka pertama) merujuk pada kekuatan tarikan dari kawat las yang
dinyatakan dalam satuan kilo pund square inch atau Ksi. Satuan ini juga sering
dinyatakan dalam lb/in².
 X (angka ketiga) merujuk pada posisi pengelasan yang bisa dilakukan dengan
elektroda tersebut. Angka 1 menunjukkan penggunaan pada semua posisi, angka 2
menunjukkan bahwa kawat las tersebut dapat dipakai pada posisi datar dan horizontal
dan angka 3 menunjukkan bahwa kawat las tersebut hanya dapat dipakai pada posisi
flat saja.
 X (angka keempat) merujuk pada jenis pelapis dan arus yang dipergunakan pada
elektroda tersebut.

Spesifikasi tersebut berlaku untuk penggunaan pengelasan pada Mild Steel sementara untuk
spesifikasi atau standar untuk proses pengelasan yang lain seperti untuk Low Alloy Steel dan
juga untuk Stainless Steel memiliki berbagai kode tambahan lagi di belakang kode standar
yang telah disebutkan diatas. Para pelaku industri pengelasan wajib mengetahui dengan persis
apa yang tercantum pada kotak kemasan elektroda yang akan mereka beli sehingga mereka
bisa mengetahui kegunaan yang spesifik dari elektroda tersebut.

 Kawat Las Listrik Baja

Untuk elektroda yang akan dipergunakan untuk pengelasan baja lunak sendiri terdiri atas
berbagai jenis tergantung dari material yang dipergunakan. Beberapa contoh diantaranya
adalah:
 Elektroda untuk proses pengelasan besi tuang yang terbagi lagi atas beberapa jenis
elektroda yaitu elektroda baja, elektroda nikel, elektroda perunggu dan elektroda
dengan hydrogen rendah
 Elektroda untuk aluminium
 Elektroda untuk pelapis keras yang bertujuan untuk memberikan lapisan yang keras
pada material yang dilas sehingga material tersebut bisa lebih tahan terhadap berbagai
hal. Elektroda jenis ini sendiri terbagi atas 3 macam yaitu elektroda tahan aus,
elektroda tahan pukulan dan elektroda tahan kikisan

 Las listrik TIG

Las listrik TIG (Tungsten Inert Gas = Tungsten Gas Mulia) menggunakan elektroda
wolfram yang bukan merupakan bahan tambah. Busur listrik yang terjadi antara ujung
elektroda wolfram dan bahan dasar merupakan sumber panas, untuk pengelasan. Titik
cair elektroda wolfram sedemikian tingginya sampai 3410° C, sehingga tidak ikut
mencair pada saat terjadi busur listrik.

Tangkai listrik dilengkapi dengan nosel keramik untuk penyembur gas pelindung yang
melindungi daerah las dari luar pada saat pengelasan.

Sebagian bahan tambah dipakai elektroda tampa selaput yang digerakkan dan
didekatkan ke busur yang terjadi antara elektroda wolfram dengan bahan dasar.

Sebagi gas pelindung dipakai argin, helium atau campuran dari kedua gas tersebut
yang pemakainnya tergantung dari jenis logam yang akan dilas.

Tangkai las TIG biasanya didinginkan dengn air yang bersirkulasi.

Pembakar las TIG terdiri dari :

1) Penyedia arus

2) Pengembali air pendingi,

3) Penyedia air pendingin,


4) Penyedia gas argon,

5) Lubang gas argon ke luar,

6) Pencekam elektroda,

7) Moncong keramik atau logam,

8) Elektroda tungsten,

9) Semburan gas pelindung.

 Las Listrik Submerged


Menggunakan fluksi serbuk untuk pelindung dari pengaruh udara luar. Busur
listrik di antara ujung elektroda dan bahan dasar di dalam timnunan fluksi sehingga
tidak terjadi sinar las keluar seperti biasanya pada las listrik lainya. Operator las Las
listrik submerged yang umumnya otomatis atau semi otomatis tidak perlu
menggunakan kaca pelindung mata (helm las).

Pada waktu pengelasan, fluksi serbuk akan mencir dan membeku dan menutup lapian
las. Sebagian fluksi serbuk yang tidak mencair dapat dipakai lagi setelah dibersihkan
dari terak-terak las.

Elektora yang merupakan kawat tampa selaput berbentuk gulungan (roll) digerakan
maju oleh pasangan roda gigi yang diputar oleh motor listrik ean dapat diatur
kecepatannya sesuai dengan kebutuhan pengelasan.

 LAS LISTRIK MIG


Seperti halnya pad alas listrik TIG, pad alas listrik MIG juga panas
ditimbulkan oleh busur listrik antara dua electron dan bahan dasar.

Elektroda merupakan gulungan kawat yang berbentuk rol yang geraknya diatur oleh
pasangan roda gigi yang digerakkan oleh motor listrik. Gerakan dapat diatur sesuai
dengan keperluan. Tangkai las dilengkapi dengan nosel logam untuk menghubungkan
gas pelindung yang dialirkan dari botol gas melalui slang gas.

Gas yang dipakai adalah CO2 untuk pengelasan baja lunak dan baja. Argon atau
campuran argon dan helium untuk pengelasan aluminium dan baja tahan karat. Proses
pengelasan MIG ini dadpat secara semi otomatik atau otomatik. Semi otomatik
dimaksudkan pengelasan secara manual, sedangkan otomatik adalah pengelasan yang
seluruhnya dilaksanakan secara otomatik.

Elektroda keluar melalui tangkai bersama-sama dengan gas pelindung.

Arus Listrik :

1. Arus Searah ( DC = Direct Current )

Pada arus ini, elektron-elektron bergerak sepanjang penghantar hanya dalam satu arah.

2. Arus Bolak-balik ( AC = Alternating Current )

Arah aliran arus bolak-balik merupakan gelombang sinusoide yang memotong


garis nol pada interval waktu 1/ 100 detik untuk mesin dengan frekuensi 50 hertz (Hz).
Tiap siklus gelombang terdiri dari setengah gelombang positif dan setenngah
gelombang negative. Arus bolak-balik dapat diubah menjadi arus searah dengan
menggunakan pengubah arus (rectifier/adaftor).

 Las gesekan

Pada las gesekan, panas timbul sebagai akibat gesekan kedua bagian logam yang akan
disambung dengan berputar dalam kecepatan tinggi . Panas hasil gesekan tersebut akan
melelehkan logam, dan kalau diberikan sedikit tekanan, maka akan terjadi sambungan.
Setelah logam mulai meleleh, koefisien gesekan akan turun dan pertambahan panas akan
berhenti, sehingga bahan tidak mungkin kepanasan.

Untuk mengelas pipa ledeng besar dengan las gesekan, diperlukan las gesekan radikal. Kedua
bagian pipa harus sedikit terpisah sewaktu cincin logam yang mengelilinginya diputar. Pada
saat tertentu, cincin yang berputar itu ditekan. Panas hasil gesekan itu akan melelehkan cincin
bagian dalam serta ujung kedua pipa. Proses pengelasan selesai.
Las gesekan umumnya digunakan dalam industri mobil, untuk menyambung as, komponen
bak persneling dan kolom kemudi. Dengan metode las gesek ini akan lebih mudah untuk
menyambung bahan-bahan yang sulit dilas dengan proses biasa. Misalnya untuk
menghubungkan baja dengan tembaga, tembaga dengan aluminium dan titanium.

 Las termit

Las Termit adalah penyambungan/las antara dua batang rel melalui suatu reaksi kimia
dengan menggunakan termit (besioksida dengan bubuk aluminium). Metode ini dilaksanakan
dengan bahan yang sederhana dan menghasilkan sambungan yang baik. Reaksinya seperti
berikut:

Fe2O3 + 2 Al → 2 Fe + Al2O3 + 850 kJ

Hasil reaksi tersebut berupa besi ditambah dengan kerak Al2O3 serta panas yang terjadi cukup
untuk mencairkan besi yang berada disekitar rel yang pada gilirannya akan memadukan besi
hasil reaksi dengan rel.

 Las eksplosi

Las eksplosi digunakan untuk memasang lapisan anti karat pada logam biasa.
Metodanya dapat digambarkan sebagai berikut. Apabila dua lempengan A dan B akan di las.
Kedua lempengan ditumpuk, dan di luar A diletakkan selapis bahan peledak yang disulut.
Lempengan A akan ditekan keras pada B dan keuda lempengan akan meleleh pada tempat
kontak. Setelah beberapa seratus detik gelombang kejut ledakan itu hilang, bahan akan
mendingin dan bagian A dan B sudah melekat.

 Las laser

Dalam proses las laser, digunakan sinar laser dikarenakan laser bersifat
mengumpulkan energy dalam satu titik. Umumnya digunakan untuk mengelas komponen
yang mengandung peralatan-peralatan sensitif terhadap panas. Seperti kotak pacu jantung
yang didalamnya terdapat komponen-komponen elektronika. Keuntungannya, panas hanya
terkumpul pada tempat yang kecil. Untuk pekerjaan seperti itu dipakai laser bahan padat
seperti ‘’neodymuim-YAG-laser’’. Bahan yang lebih tebal tidak dapat disambung dengan
laser seperti itu .
Namun disebut-sebut laser CO2 memiliki energi yang lebih banyak untuk setiap milimeter
perseginya. Laser ini dapat melelehkan logam sampai sedalam 15 milimeter.

 Las sinar elektron

Selain sinar laser yang digunakan dalam las laser, sinar elektron juga bisa dipakai untuk
memanaskan logam hingga titik leburnya. Bahan yang akan dilas dihujani elektron bermuatan
negatif dari batang logam untuk menyambung, yang akan menuju ke muatan positif dari
bahan yang akan dikerjakan. Sinar elektron yang terdiri atas sejumlah elektron, setelah
bertubrukan dengan logam akan memproduksi panas. Las dengan sinar elektron selain
digunakan dalam industri nuklir, juga digunakan dalam pembuatan mesin jetpesawat terbang.
Namun kelemahannya hanya bisa dipakai di ruangan hampa udara. Molekul udara dapat
mencerai beraikan sinar elektron dan energinya langsung memudar.

 Filler metal

Filler metal adalah bahan penambah yang digunakan dalam pengelasan. Metal tersebut
digunakan manakala kampuh cukup lebar dan diperlukan efisiensi sambungan yang sekuat
bahan dasar yang utuh.

Komposisi kimiawi bahan filler untuk GTAW dalam proses pengelasan didasarkan pada
komposisi kimiawi bahan induk. Jadi makin tepat bahan filler terhadap bahan induk , makin
baik. Pemilihan filler metal dalam teknik pengelasan ditentukan oleh faktor faktor dibawah
ini :

 Kuat tarik yang mendekati bahan dasar


 Keuletan ( toughness ) yang mendekati bahan dasar
 Konduktivitas listrik bahan filler
 Konduktivitas termal bahan filler
 Ketahanan terhadap serangan karat ( coorosion resistance )
 Tampak ujud yang baik.

 Kampuh Las

Kampuh las merupakan bagian dari logam induk yang akan diisi oleh logam las, kampuh
las awalnya adalah berupa kubungan las yang kemudian diisi dengan logam las. Sambungan
las dengan menggunakan alur kampuh dikategorikan kedalam sambungan las tumpul.
Sambungan las tumpul adalah jenis sambungan paling efisien. Sambungan ini dibagi menjadi
dua yaitu sambungan penetrasi penuh dan sambungan penetrasi sebagian.

Pada dasarnya dalam memilih bentuk kampuh harus menuju kepada penurunan masukan
panas dan penurunan logam las sampai kepada harga terendah dan tidak menurunkan mutu
sambungan. Untuk kampuh-kampuh las pada saat pembakarannya dapat mengisi pada seluruh
tebalnya pelat. Sebelum pengelasan dilaksanakan kampuh las harus melalui proses pengerjaan
awal. Karat, minyak, cat harus dihilangkan. Untuk memperoleh pembakaran yang baik, pada
kampuh V dipakai elektroda dengan diameter yang kecil atau disesuaikan dengan besar sudut
kampuh dan tebal pelat yang akan dilas.

 Keterampilan operator las

Mutu dari hasil pengelasan, bergantung pada keahlian operator atau juru ataupun tukang
las sendiri. Cara mengelas yang buruk dapat mengakibatkan kerusakan fatal baik dalam
jangka pendek maupun jangka panjang, mulai dari kasus sederhana seperti pipa ledeng yang
bocor ataupun ke hal-hal yang lebih fatal seperti runtuhnya bangunan berkonstruksi baja yang
menggunakan bahan yang di las.

Pada saat pengelasan, kesalahan sering terjadi dan sambungan las jarang sekali jadi. Hal yang
perlu diperhatikan adalah menghindari bara api pada bagian yang di las tanpa mengulangi las
di tempat yang sama. Kalau hal itu terjadi, hubungan akan menjadi rapuh dan terbentuk titik
awal retakan kecil. Selain itu, bagian logam yang bersebelahan dengan bagian yang di las
tidak meleleh tetapi berubah karena panas. Pemanasan yang diikuti dengan pendinginan yang
cepat bisa menghasilkan struktur logam seperti kaca, sehingga mudah retak.

Untuk las konvensional yang menggunakan tenaga manusia, operator las dengan tangkai
las yang menentukan berhasil tidaknya proses pengelasan. Karena operatorlah yang
menentukan suhu cairan logam, memilih diameter elektroda las dengan kekuatan arus listrik
dan mengatur jumlah gas dan tekanan kawat las, serta menentukan campuran kawat las dan
posisi tangkai las. Operator las juga menghadapi situasi lingkungannya, baik musim yang
nantinya berpengaruh pada hasil las, cuaca ekstrim, iklim lokasi yang perlu di las dan
tantangan untuk pengelasan bawah laut. Automatisasi dilakukan dengan bantuan robot las
operator terbantu dengan sistem kontrol las yang diberikan. Robot diprogram sedemikian rupa
untuk dapat memberikan kontrol jalur sambungan yang perlu di las dengan sistem pengikut
sambungan melalui sensor yang diberikan.
 Efek Sinar Las

Beberapa Laporan menyebutkan efek samping dari kontak langsung dengan Sinar Las,
umumnya adalah rasa pedih pada mata dan juga rasa seperti ada pasir di kelopak mata.
Adapun untuk pengobatannya adalah cukup dengan obat tetes mata ataupun analgesik.

 SMAW (Shield Metal Arch Welding)


SMAW (Shield Metal Arch Welding) adalah las busur nyala api listrik terlindung dengan
mempergunagakan busur nyala listrik sebagai sumber panas pencair logam. Jenis ini paling
banyak dipakai dimana–mana untuk hampir semua keperluan pekerjaan pengelasaan.
Tegangan yang dipakai hanya 23 sampai dengan 45 Volt AC atau DC, sedangkan untuk
pencairan pengelasan dibutuhkan arus hingga 500 Ampere. Namun secara umum yang
dipakai berkisar 80 – 200 Ampere.

Gambar 6.2.2. pengelasan

 SAW (Submerged Arch Welding)


SAW (Submerged Arch Welding) adalah las busur terbenam atau pengelasan dengan
busur nyala api listrik. Untuk mecegah oksidasi cairan metal induk dan material tambahan,
dipergunakan butiran–butiran fluks / slag sehingga bususr nyala terpendam di dalam ukuran–
ukuran fluks tersebut
 ESW (Electro Slag Welding)
ESW (Electro Slag Welding) adalah pengelasan busur terhenti, pengelasan sejenis SAW
namun bedanya pada jenis ESW busurnya nyala mencairkan fluks, busur terhenti dan proses
pencairan fluk berjalan terus dam menjadi bahan pengantar arus listrik (konduktif). Sehingga
elektroda terhubungkan dengan benda yang dilas melalui konduktor tersebut. Panas yang
dihasilkan dari tahanan terhadap arus listrik melalui cairan fluk / slag cukup tinggi untuk
mencairkan bahan tambahan las dan bahan induk yang dilas tempraturnya mencapai 3500° F
atau setara dengan 1925° C

 SW (Stud Welding)

ESW (Electro Slag Welding) adalah las baut pondasi, gunanya untuk menyambung bagian
satu konstruksi baja dengan bagian yang terdapat di dalam beton (baut angker) atau “ Shear
Connector “

 ERW (Electric Resistant Welding)


ERW (Electric Resistant Welding) adalah las tahanan listrik yaitu dengan tahanan yang
besar panas yang dihasilkan oleh aliran listrik menjadi semakin tinggi sehingga mencairkan
logam yang akan dilas. Contohnya adalah pada pembuatan pipa ERW, pengelasan plat–plat
dinding pesawat, atau pada pagar kawat

 EBW (Electron Beam Welding)


EBW (Electron Beam Welding) adalah las dengan proses pemboman elektron, suatu
pengelasan uang pencairannya disebabkan oleh panas yang dihasilkan dari suatu berkas
loncatan elektron yang dimamapatkan dan diarahkan pada benda yang akan dilas. Penelasan
ini dilaksanakan di dalam ruang hampa, sehingga menghapus kemungkinan terjadinya
oksidasi atau kontaminasi

Jenis Jenis Las Berdasarkan Panas Listrik dan Gas :

 GMAW (Gas Metal Arch Welding)


GMAW (Gas Metal Arch Welding) terdiri dari ; MIG (Metal Active Gas) dan MAG
(Metal Inert Gas) adalah pengelasan dengan gas nyala yang dihasilkan berasal dari busur
nyala listrik, yang dipakai sebagai pencair metal yang di–las dan metal penambah. Sebagai
pelindung oksidasi dipakai gas pelindung yang berupa gas kekal (inert) atau CO2. MIG
digunakan untuk mengelas besi atau baja, sedangkan gas pelindungnya adalah mengunakan
Karbon dioxida CO2. TIG digunakan untuk mengelas logam non besi dan gas pelindungnya
menggunakan Helium (He) dan/atau Argon (Ar)

 GTAW (Gas Tungsten Arch Welding) atau TIG (Tungsten Inert Gas)
GTAW (Gas Tungsten Arch Welding) atau TIG (Tungsten Inert Gas) adalah pengelasn
dengan memakai busur nyala dengan tungsten/elektroda yang terbuat dari wolfram,
sedangkan bahan penambahnyyadigunakan bahan yang sama atau sejenis dengan material
induknya. Untuk mencegah oksidasi, dipakai gas kekal (inert) 99 % Argon (Ar) murni

 FCAW (Flux Cored Arch Welding)


FCAW (Flux Cored Arch Welding) pada hakikatnya hampir sama dengan proses
pengelasan GMAW. Gas pelindungnya juga sama-sama menggunakan Karbon dioxida CO2.
Biasanya, pada mesin las FCAW ditambah robot yang bertugas untuk menjalankan
pengelasan biasa disebut dengan super anemo

 PAW (Plasma Arch Welding)


PAW (Plasma Arch Welding) adalah las listrik dengan plasma yang sejenis dengan
GTAW hanya pada proses ini gas pelindung menggunakan bahan campuran antara Argon
(Ar), Nitrogen (N) dan Hidrogen (H) yang lazim disebut dengan plasma. Plasma adalah gas
yang luminous dengan derajat pengantar arus dan kapasitas termis / panas yang tinggi dapat
menampung tempratur diatas 5000° C

Jenis Jenis Las Berdasarkan Panas Yang Dihasilkan Campuran Gas :

OAW (Oxigen Acetylene Welding) adalah sejenis dengan las karbid / las otogen.
Panas yang didapat dari hasil pembakaran gas acetylene (C2H2) dengan zat asam atau
Oksigen (O2). Ada juga yang sejenis las ini dan memakai gas propane (C3H8) sebagai ganti
acetylene. Ada pula yang memakai bahan pemanas yang terdiri dari campuran gas hidrogen
(H) dan zat asam (O2) yang disebit OHW (Oxy Hidrogen Welding)

Jenis Jenis Las Berdasarkan Ledakan dan reaksi isotermis :

EXW (Explosion Welding) adalah las yang sumber panasnya didapatkan dengan
meledakkan amunisi yang dipasang pada suatu mold/cetakan pada bagian tersebut dan
mengisi cetakan yang tersedia. Cara ini sangat praktis untuk menyambung kawat baja / wire
rope, slenk.
Cara pelaksanaannya adalah ujung-ujung tambang kawat dimasukkan ke dalam mold
yang telah terisi amunisi selanjutnya serbuk ledak tersebut dinyalakan dengan pemantik api,
maka terjadilah reaksi kimia eksotermis yang sangat cepat sehingga menghasilkan suhu yang
sangat tinggi sehingga terjadilah ledakan. Ledakan tersebut mencairkan kedua ujung kawat
baja yang terdapat didalam mold tadi, sehingga cairan metal terpadu dan mengisi ruangan
yang tersedia didalam mold.
Tipe sambungan las adalah tipe sambungan material atau plat yang digunakan untuk
proses pengelasan. Jenis sambungan las mempunyai beberapa macam yang menjadi jenis
sambungan utama yaitu Butt Joint, Fillet (T) Joint, Corner Joint, Lap Joint dan Edge Joint.

Macam Macam Sambungan Las:

1. Butt Joint
2. Fillet (T) Joint
3. Corner Joint
4. Lap Joint
5. Edge Joint

 Butt Joint

Sambungan butt joint adalah jenis sambungan tumpul, dalam aplikasinya jenis
sambungan ini terdapat berbagai macam jenis kampuh atau groove yaitu V groove
(kampuh V), single bevel, J groove, U Groove, Square Groove .

Gambar 6.2.3. sambungan butt join

Macam-macam kampuh las :


1. T (Fillet) Joint
T Joint adalah jenis sambungan yang berbentuk seperti huruf T, tipe sambungan ini banyak
diaplikasikan untuk pembutan kontruksi atap, konveyor dan jenis konstruksi lainnya. Untuk
tipe groove juga terkadang digunakan untuk sambungan fillet adalah double bevel, namun hal
tersebut sangat jarang kecuali pelat atau materialnya sangat tebal. Berikut ini gambar
sambungan T pada pengelasan.

Gambar 6.2.4. Sambungan Fillet

2. Corner Joint
Corner Joint mempunyai desain sambungan yang hampir sama dengan T Joint, namun yang
membedakannya adalah letak dari materialnya. Pada sambungan ini materialnya yang
disambung adalah bagian ujung dengan ujung. Ada dua jenis corner joint, yaitu close dan
open. Untuk detailnya silahkan lihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 6.2.5. Sambungan Las Corner

3. Lap Joint
Tipe sambungan las yang sering digunakan untuk pengelasan spot atau seam. Karena
materialnya ini ditumpuk atau disusun sehingga sering digunakan untuk aplikasi pada
bagian body kereta dan cenderung untuk plat plat tipis. Jika menggunakan proses las
SMAW, GMAW atau FCAW pengelasannya sama dengan sambungan fillet.

Gambar 6.2.6. Sambungan Las Joint

6.3. Peralatan Perlengkapan


No BAHAN ALAT / MESIN PERKAKAS

1. Electroda E 6013 1. Transformator 1. Tang penjepit


diameter 2,6 & 3,2 mm Las (alloy steel
2. Batu Gerinda tangan 2. Mesin Gerinda forcer)
ukuran 100 x 16 mm tangan 2. Head shield
3. Sarung tangan kulit (topi las)
4. Sarung lengan kulit 3. Palu terak
5. Baju las (apren) kulit
6. Lensa hitam 10 & 11
7. Lensa putih 100 jam
8. Sikat baja
9. Zat asam (O2)
10. Acetylane (H2C2)

6.4. Langkah Kerja

1. Siapkan benda kerja yang akan di las (sesuai dengan bentuk pengelasan)
2. Siapkan alat dan kelengkapan nya (seperti Elektroda las, tang, palu, dll.)
3. Letakan benda kerja pada meja las.
4. Jepitkan klem negative pada meja las/benda kerja.
5. Jepitkan Electroda pada jepitan positif.
6. Hidupkan mesin las.
7. Atur besarnya arus yang diperlukan.
8. Lakukan pengelasan sesuai dengan urutan-urutannya.
9. Bersihkan terak dan percikan las.
10. Matikan mesin las.
11. Setelah selesai periksakanlah pada instruktuk.
12. Bersihkan tempat kerja dan peralatan serta kembalikan alat-alat yang digunakan.

6.5. Keselamatan Kerja

1. Gunakanlah alat-alat Pelindung anggota badan, sarung tangan, sarung lengan, baju
las (apron), Head Shield (topi las), sepatu las.
2. Penjepit las harus kuat dan jangan sampai lepas.
3. Konsentrasi pikiran pada pekerjaan.

o Perhatikan :
1. Periksakanlah benda kerja sebelum dan sesudah pengelasan kepada Pembina
(instruktur).
2. Kontrol jarak busur nyala dengan benda kerja ( 1 – 3 mm )
3. Kontrol sudut elektroda las dengan benda kerja.

Bila kurang jelas bertanyalah kepada pembina (instruktur)