You are on page 1of 8

BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Percobaan

a. Reaktor Batch

Tabel 4.1. Data Hasil Percobaan Reaktor Batch Variabel 1

t (x) V HCl Ca (y) k


0 18.7 0.0374
1 9.7 0.0194
2 9.5 0.019
3 9 0.018 4.178664
4 8.5 0.017
5 8.5 0.017
6 8.5 0.017

Tabel 4.2. Data Hasil Percobaan Reaktor Batch Variabel 2

t (x) V HCl Ca k
0 15 0.03
1 9 0.018
2 8.4 0.0168
4.84694
3 8 0.016
4 8 0.016
5 8 0.016

Tabel 4.3. Data Hasil Percobaan Reaktor Batch Variabel 3

t (x) V HCl Ca k
0 12.7 0.0254
1 7.8 0.0156
7.41975
2 7.8 0.0156
3 7.8 0.0156

19
b. Reaktor Kontinyu

Tabel 4.4. Data Hasil Percobaan Reaktor Kontinyu Variabel 1

t V HCl Ca Praktis Ca Model


0 16 0.032 0.032
1 13 0.026 0.0312
2 12 0.024 0.0306
3 10.5 0.021 0.0295
4 9.3 0.0186 0.0282
5 9 0.018 0.0272
6 9 0.018 0.0264
7 9 0.018 0.026

Tabel 4.5. Data Hasil Percobaan Reaktor Kontinyu Variabel 2

t V HCl Ca Praktis Ca Model


0 16 0.032 0.032
1 11 0.022 0.0291
2 11 0.022 0.0279
3 11 0.022 0.0274

Tabel 4.6. Data Hasil Percobaan Reaktor Kontinyu Variabel 3

t V HCl Ca Praktis Ca Model


0 15.5 0.031 0.031
1 9.5 0.019 0.0277
2 9.5 0.019 0.0262
3 9.5 0.019 0.0256

4.2. Pembahasan

4.2.1. Harga Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH

70
60
y = 4.1787x + 39.313
50 R² = 0.6181
40 1/Ca
1/Ca

30
20 Linear (1/Ca)
10
0
0 2 4 6 8
t

Gambar 4.1. Grafik Orde Reaksi pada Variabel 1


20
80 y = 4.8469x + 43.868
70 R² = 0.6295
60
50

1/Ca
40 1/Ca
30 Linear (1/Ca)
20
10
0
0 2 4 6
t

Gambar 4.2. Grafik Orde Reaksi pada Variabel 2

80 y = 7.4198x + 46.79
R² = 0.6
70
60
50
1/Ca

40 1/Ca
30 Linear (1/Ca)
20
10
0
0 1 2 3 4
t

Gambar 4.3. Grafik Orde Reaksi pada Variabel 3

Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan harga orde reaksi penyabunan etil asetat
dengan NaOH adalah 2. Pada variabel 1, nilai R2 pada grafik orde 2 nilainya lebih
mendekati 1 dari nilai R2 pada grafik orde 1, sehingga ditentukan orde reaksinya adalah 2.
Begitu pula halnya dengan variabel 2 dan 3 dimana nilai R2 yang paling mendekati 1
adalah pada grafik orde 2. Sehingga orde reaksinya adalah 2.

Orde reaksi menunjukkan pengaruh konsentrasi pereaktan terhadap suatu reaksi.


Jika reaksinya merupakan reaksi elementer, orde reaksi dapat diketahui dari nilai koefisien
zat pereaktan. Tetapi jika reaksinya merupakan reaksi non-elementer untuk menentukan
harga orde reaksi harus menggunakan data hasil percobaan di laboratorium. Berdasarkan
referensi, reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH adalah 2.

Berdasarkan hasil percobaan dan teori, dapat disimpulkan bahwa hasil percobaan
sesuai dengan teori dimana nilai orde reaksi pada reaksi penyabunan etil asetat dengan
NaOH adalah 2.

21
4.2.2. Menentukan Konstanta Kecepatan Reaksi

Reaksi yang terjadi pada penyabunan etil asetat dengan NaOH adalah sebagai
berikut:

NaOH + CH3COOC2H5  CH3COONa + C2H5OH

A + B  C + D

Dari yang telah dijelaskan pada pembahasan 4.2.1 dimana harga orde reaksi adalah maka
persamaan kecepatan reaksinya adalah:

𝑑𝐶𝑎
−𝑟𝐴 = − = 𝑘. 𝐶𝑎. 𝐶𝑏
𝑑𝑡

Pada percobaan yang dilakukan, konsentrasi kedua reaktan adalah sama, sehingga Ca=Cb.
Maka persamaan laju reaksinya menjadi:

𝑑𝐶𝑎
− = 𝑘. 𝐶𝑎2
𝑑𝑡

Dengan mengintegrasikan persamaan di atas didapatkan persamaan:

1 1
− = 𝑘. 𝑡
𝐶𝑎 𝐶𝑎0

1 1
= 𝑘. 𝑡 + 𝐶𝑎 (Levenspiel. O, 1970)
𝐶𝑎 0

Persamaan yang didapatkan menyerupai persamaan garis lurus 𝑦 = 𝑚𝑥 + 𝑐, dimana 𝑦


1
adalah dan 𝑥 adalah 𝑡. Nilai 𝑘 sama dengan nilai 𝑚 dimana 𝑚 merupakan slope atau
𝐶𝑎
1
kemiringan dari grafik 𝐶𝑎 vs 𝑡. Nilai 𝑚 dapat diperoleh dari metode least square, dimana:

(𝑛 × ∑ 𝑥𝑦) − (∑ 𝑥 ∑ 𝑦)
𝑘=𝑚=
(𝑛 × ∑ 𝑥 2 ) − (∑ 𝑥)2

Dengan menggunakan cara di atas didapatkan nilai konstanta laju reaksi pada variabel 1
sebesar 4.17866, 𝑘 pada variabel 2 sebesar 4.84694 dan 𝑘 pada variabel 3 yaitu 7.41975.

22
4.2.3. Pengaruh Variabel Praktikum dengan Konstanta Kecepatan Reaksi

8
7
6
5 k
4
k

3
2
1
0
1 2 3
Variabel

Gambar 4.4. Konstanta Laju Reaksi pada Variabel 1, 2 dan 3

Dari grafik di atas terlihat bahwa nilai konstanta kecepatan reaksi berbeda-beda
pada setiap variabel. Variabel 1 yang dilakukan tanpa ada pengadukan memiliki nilai 𝑘
paling rendah yaitu sebesar 4.17866. Sementara itu variabel 3 yang dilakukan dengan
pengadukan cepat memiliki nilai 𝑘 paling tinggi yaitu 7.41975. Dari hasil percobaan
diketahui bahwa adanya pengadukan akan meningkatkan nilai konstanta laju reaksi.

Ditinjau dari kinetika reaksi, konstanta laju reaksi dipengaruhi oleh factor suhu,
frekuensi tumbukan dan energy aktivasi. Hal ini dapat dijelaskan dengan persamaan
Arrhenius yaitu

𝐸
− 𝐴
𝑘= 𝐴𝑒 𝑅𝑇

Dari persamaan Arrhenius di atas dapat diketahui bahwa nilai 𝑘 berbanding lurus dengan
factor frekuensi tumbukan (A). Faktor frekuensi tumbukan dapat meningkat dengan
adanya pengadukan yang dilakukan selama proses berlangsung. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pengadukan akan meningkatkan nilai konstanta laju reaksi.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil percobaan yang telah dilakukan
telah sesuai dengan teori yaitu dengan adanya pengadukan maka nilai konstanta laju reaksi
akan semakin besar, karena frekuensi tumbukan antarmolekul menjadi lebih sering.

23
4.2.4. Hubungan Konstanta Praktikum dengan Model Matematis

0.035
0.03
0.025
0.02

Ca
Ca Model
0.015
0.01 Ca Praktis
0.005
0
0 2 4 6 8
t

Gambar 4.5. Grafik Perbandingan Ca model dan Ca Praktis pada Variabel 1

0.035
0.03
0.025
0.02 Ca Model
Ca

0.015 Ca Praktis
0.01
0.005
0
0 1 2 3 4
t

Gambar 4.6. Grafik Perbandingan Ca Model dan Ca Praktis pada Variabel 2

0.035
0.03
0.025 Ca Model
0.02 Ca Praktis
Ca

0.015
0.01
0.005
0
0 1 2 t 3 4

Gambar 4.7. Grafik Perbandingan Ca Model dan Ca Praktis pada Variabel 3

Dari ketiga variabel yang dapat dilihat pada grafik di atas, menunjukkan Ca model
yang lebih besar dibandingkan dengan Ca praktis. Pada percobaan ini Ca model dihitung
dengan metode Runge-Kutta orde 4 yang dianggap memiliki keakuratan perhitungan yang
paling tinggi dibandingkan dengan metode-metode yang lain. Nilai konstanta kecepatan
reaksi yang digunakan pada perhitungan Ca model adalah nilai k yang diperoleh dari
percobaan dengan reactor batch untuk tiap variabel. Berdasarkan referensi semestinya nilai
Ca model yang diperoleh mendekati Ca praktis. Akan tetapi pada hasil percobaan

24
menunjukkan adanya perbedaan. Hal ini dikarenakan nilai konsentrasi yang didapat pada
Ca model merupakan nilai Ca ideal.

25
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

1) Orde reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH adalah 2.


2) Menentukan konstanta kecepatan reaksi orde 2 dengan metode least square.
3) Adanya pengadukan dapat meningkatkan konstanta laju reaksi.
4) Pemodelan matematis belum menghasilkan hasil yang cukup mendekati data
percobaan.

5.2. Saran

1) Pastikan laju alir kedua reaktan sama saat melakukan percobaan reactor
kontinyu.
2) Pastikan system sudah dalam keadaan steady saat mulai diananlisa.
3) Perhatikan perubahan warna TAT dengan seksama.

26