You are on page 1of 31

ASUHAN KEPERAWATAN KRETINISME, DWARFISME

Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Kretinisme Dan Dwarfism

A. Definisi
1. Kreitinisme (cebol)
Kreitinisme adalah kurangnya kelenjar pituitary mensekresi HGH, sehingga berdampak pada
fisik anak- anak.
Tanda dan gejala pada anak- anak:
 Pertumbuah fisik lambat, seperti TB, BB.
 Menurunnya pertumbuhan gigi.
 Nafsu makan bertambah tetapi BB berkurang.
 Menurunnya kematangan hormone gonad.
 Tubuh berperawakan pendek, kurang dari TB normal.
 Wajah sesuai umur

Contoh : Ucok baba

2. Dwarfisme (kerdil)
Dwarfisme adalah gangguan pertumbuhan akibat gangguan pada fungsi hormon. Dwarfisme
tidak sama dengan kretinisme. Gejalanya berupa badan pendek, terdapat penipisan tulang,
muka dan suara imatur (tampak seperti anak kecil), pematangan tulang yang terlambat, lipolisis
(proses pemecahan lemak tubuh) yang berkurang, peningkatan kolesterol total / LDL, dan
hipoglikemia. Biasanya intelengensia / IQ tetap normal kecuali sering terkena serangan
hipoglikemia berat yang berulang.
Contoh : Adul

B. Manisfestasi Klinis
Gejala yang ditimbulkan oleh Kretinisme dan Dwarfisme memiliki perbedaan yaitu :
Kretinisme Dwarfism
 TB kurang dari normal.  Wajah imatur
 Postur tubuh tidak proporsional.  Suara anak- anak.
 Wajah lebam.  Bentuk kepala mikrochepal.
 Hidung, bibir, dan lidah lebar.  Hidung menonjol.
 Ekor mata tidak sejajar dengan telinga.  Postur tubuh proporsional.
 BB meningkat dengan otot yang lembek. Penipisan tulang panjang.
 Rambut kepala kasar dan rapuh.  Tulang kecil dan rapuh.
 Pertumbuhan gigi menurun.  Tidak ada penurunan IQ.
 Suara parau.  Dislokasi sendi.
 Wajah mengikuti umur.
 Biasanya terjadi penurunan IQ.
 Susah konsentrasi.
 Gangguan system indra.
 Keterlambatan pubertas.
 Sering konstipasi.
 Kulit kering dan keriput.

C. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan pada pasien dengan kelainan ini antara lain mencakup:
 Riwayat penyakit.
Seperti adanya factor resiko potensi penyakit yang lain, seperti tumor, kanker, osteoporosis, dll
 Riwayat trauma kepala.
Adakah penyakit atau trauma pada kepala yang pernah diderita pasien, serta riwayat adanya
terkena radiasi.
 Sejak kapan keluhan dirasakan.
Dampak defisiensi GH mulai tampak pada masa balita sedangkan defisiensi gonadotropin
nyata pada masa pra remaja.
 Kaji adanya keluhan yang terjadi sejak lahir.
Misalnya apakah orang tua pernah membandingkan pertumbuhan fisik anaknya dengan anak-
anak sebayanya yang normal.
 Kaji TTV dasar.
Untuk perbandingan dengan hasil pemeriksaan yang akan datang.
 Kaji pertumbuhan klien.
Timbang dan ukur BB, TB klien saat lahir serta bandingkan pertumbuhan tersebut dengan
standar.
 Keluhan utama klien.
o Pertumbuhan lambat
o Ukuran otot dan tulang kecil
o Tanda- tanda sex sekunder tidak berkembang
 Amati bentuk dan ukuran tubuh, dan juga pertumbuhan rambut.
 Palpasi kulit, pada wanita biasanya terdapat kulit yang kering dan kasar.
 Kaji dampak perubahan fisik.
Apakah klien sudah mampu dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri.
2. Faktor Resiko
Faktor resiko yang mungkin muncul:
a. Hipotiroid yang berdampak pada kekurangan yodium.
b. Kelainan hipofisis, misal adanya tumor.
c. Konsumsi obat tertentu tanpa petunjuk tim medis ketika hamil.
d. Konsumsi obat tertentu ketika anak berusia kurang dari 2 tahun.
e. Autoimun.
f. Genetic.
g. Gizi buruk.
h. GDS yang menurun.
i. Gaya hidup bisa juga pada makanan yang tidak terkontrol.

3. Pemeriksaan
a. Anamnesis

Antenatal, Natal dan Postnatal, adanya keterlambatan pertumbuhan dan maturasi dalam
keluarga (pendek, menarche), penyakit infeksi kongenital, KMK (Kecil Masa
Kehamilan),

b. Pemeriksaan Fisik

 Pemeriksaan fisik
 Antropometri (TB, BB, Lingkaran Kepala, Lingkaran dada, panjang lengan, panjang kaki)
 Ukur TB dan BB ayah, ibu dan saudara-saudaranya
 Head to toe
 Pemerisaan neurologis
 Pemeriksaan pendengaran
 Tes IQ menggunakan teori perkembangan Denver
c. Pemeriksaan penunjang

o Laboratorium : Darah lengkap rutin, serologic urea dan elektrolit, calcium, fosfatase, T4 dan
TSH, GH (growth Hormone)
o Pemeriksaan GDS
o Test HGH
o Rontgen untuk mengetahui:
 Adanya penipisan tulang / kemunduran kematangan sel.
 Pemeriksaan adanya dislokasi sendi.
 Pemeriksaan keadaan jantung, hepar dan ginjal untuk melihat adanya toksik.
o X-Ray :
 Bone Age (umur tulang)

 Tengkorak kepala/ Sella Tursica.

 Bila perlu CT scan (pemeriksaan cranial maupun hipofisis) atau MRI


4. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan body image b.d perubahan penampilan.
Tujuan:
Klien memahami perubahan-perubahan tubuhnya akibat proses penyakit.
KH:
- Perasaan menerima kekurangan diri akan diterima oleh klien.
- Memahami proses penyakit.
Intervensi:
o Dorong klien untuk mengungkapkan rasa takut dan cemasnya menghadapi proses penyakit.
Rasional: Kondisi ini dapat membantu untuk menyadari keadaan diri sejak dini.
o Berikan support yang sesuai.
Rasional: Hal ini dapat membantu meningkatkan upaya menerima dirinya dan merasa dirinya
dapat diterima orang lain dikalangan sosial.
o Dorong klien untuk mandiri.
Rasional: Kemandirian membantu meningkatkan harga diri.
o Memodifikasi lingkungan sesuai dengan kondisi klien
Rasional: Memudahkan aktivitas klien, dan meningkatkan rasa percaya karena diperhatikan.

b. Gangguan mobilitas fisik b.d kelemahan sendi dan otot.


Tujuan : klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil:
 Tidak terjadi kontraktur sendi
 Bertambahnya kekuatan otot
 Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas
Intervensi:
o Anjurkan klien menggerakan ekstremitas setiap 2 jam sekali.
Rasional: Gerakan ekstremitas seacra teratur dan bertahap akan melemaskan sendi dan otot,
sehingga jika terjadi dislokasi sendi atau otot akan segera terdeteksi.
o Anjurkan klien untuk banyak makan makanan yang berkalsium tinggi.
Rasional: Kalsium membantu menguatkan tulang.
o Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit
Rasional: Mempercepat proses penyembuhan agar ekstremitas dapat kembali pulih.
o Anjurkan agar klien tidak kelelahan dan membatasi aktifitas yang berat.
Rasional: Kelelahan tulang dan otot akan memicu terjadinya resiko tinggi terkena cedera.
o Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
Rasional: Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk
digerakkan.

c. Resti cedera b.d kerapuhan tulang, kelemahan otot.


Tujuan : Resiko cedera dapat berkurang atau bahkan dihindari, seperti nyeri dan spasme.
Kriteria Hasil:
 Klien dapat mengantisipasi keadaan nyeri yang tiba- tiba datang karena adanya kerapuhan
tulang.
 Klien dapat sesegera mungkin melaporkan keadaan nyerinya yang datang tiba- tiba.
Intervensi:
 Pantau tanda dan gejala fraktur (vertebral, panggul atau pergelangan tangan)
Rasional: Gejala fraktur dapa terdeteksi secara dini, sehingga tidak memeperberat nyeri.
 Pantau kifosis dari spina dorsal, ditandai dengan penurunan tinggi badan.

Rasional: Pertumbuhan TB yang lebih dominan terlihat adalah pada tulang belakang, kaji ada
kelainan atau tidak.
 Ajarkan tekhnik nafas distraksi relaksasi secara sederhana.

Rasional: mengurangi nyeri pada klien apabila tiba- tiba datang nyeri dan spasme otot.
 Kolaborasi pemberian analgetik.
Rasional: analgetik untuk mengurangi rasa nyeri.

d. Gangguan eliminasi b.d konstipasi


Tujuan : gangguan eliminasi tidak terjadi
Kriteria hasil:
 Pola eliminasi BAB normal.
 Tidak terjadi konstipasi lagi.
Intervensi:
o Kaji dan catat frekuensi, warna dan konsistensi feces
Rasional : Untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan yang terjadi pada eliminasi fekal.
o Auskultasi bising usus
Rasional : Untuk mengetahui normal atau tidaknya pergerakan usus.
o Anjurkan klien untuk minum banyak dan sering.
Rasional: Untuk merangsang pengeluaran feces.
o Kolaborasi dalam pemberian terapi pencahar (Laxatif).
Rasional : Untuk memberi kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi.

e. Hipertermi b.d proses infeksi


Tujuan : suhu tubuh pasien menjadi normal
Kriteria hasil :
 Suhu tubuh dalam batas normal
Intervensi :
 Pantau tanda-tanda vital
Rasional : vital sign adalah salah satu pengukuran untuk mengetahui status kesehatan, salah
satunya pengukuran suhu untuk mengetahui terjadinya peningkatan suhu tubuh. Bila panas
kadang nadi dan respirasi juga mengalami perubahan sehingga perlu diukur.
 Beri dan anjurkan banyak minum.
Rasional : air merupakan pengatur suhu tubuh, setiap kenaikan suhu tubuh kebutuhan
metabolisme akan air juga meningkat dari kebutuhan biasa.
 Beri kompres dengan air hangat pada lipatan paha, ketiak, perut, dan dahi.

Rasional : pemberian kompres hangat merangsang penurunan panas melalui efek kerja
konduksi.

 Anjurkan pasien menggunakan pakaian yang tipis hindari penggunaan selimut yang tebal.

Rasional : baju tipis akan mudah menyerap keringat sehingga mengurangi penguapan.
 Kolaborasi pemberian antipiretik

Rasional : antiperik bekerja untuk menurunkan panas dengan bekerja pada hipotalamus untuk
rangsangan penurunan panas.

f. Gangguan wicara b.d disfungsi neiurologis


Tujuan : Proses komunikasi klien berfungsi secara optimal.
Kriteria hasil:
 Terciptanya suatu komunikasi yang efektif dimana kebutuhan klien dapat terpenuhi.
 Klien dapat merespon komunikasi dari orang lain.
Intervensi:
 Berikan metode altrnatif komunikasi , misalnya gambar.
Rasional: klien akan tertarik dengan gambar yang diberikan, dan akan merangsang komunikasi
yang lebih efektif.
 Antisipasi kebutuhan klien saat komunikasi.
Rasional: klien akan merasa diperhatikan saat kebutuhan komunikasinya terpenuhi.
 Bicara dengan klien dengan bahasa yang mudah dimengerti, dengan jawaban “ya” atau “tidak”
Rasional: Agar klien memahami dan mengerti terhadap apa yang di tanyakan.
 Anjurkan kepada keluarga klien untuk berkomunikasi setiap saat.
Rasional: Komunikasi yang teru menerus akan meningkatkan rangsangan kepada klien untuk
berkomukasi lagi.
 Hargai kemampuan klien dalam berkomunikasi.
Rasional: dengan menghargai klien, klien akan merasa diperhatikan dan lebih merasa percaya
diri lagi.
 Kolaborasi latihan bicara dengan fisioterapis.
Rasional: Agar terjadi kesinambungan yang terlatih antara otot mulut dan saraf otak sehingga
berjalan dengan baik.

g. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia


Tujuan : Kebutuhan tubuh akan nutrisi adekuat terpenuhi.
Kriteria hasil :
 Berat badan mengalami peningkatan.
 Tidak adanya mual
Intervensi :
a. Pantau masukan makanan setiap hari.
Rasional : Mengidentifikasi kekuatan/defisiensi nutrisi.
b. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat. Dorong
penggunaan suplemen dan makan sering/lebih sedikit yang dibagi-bagi selama sehari.
Rasional : Kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan (untuk
menghilangkan produk sisa). Suplemen dapat memainkan peran penting dalam
mempertahankan masukan kalori dan protein adekuat.
c. Kontrol faktor lingkungan (misalnya bau kuat/tidak sedap atau kebisingan. Hindari terlalu
manis, berlemak atau makanan pedas.
Rasional : Dapat mengidentifikasi respons mual/muntah.
d. Dorong penggunaan teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi latihan sedang sebelum
makan.
Rasional : Dapat mencegah awitan atau menurunkan beratnya mual, penurunan anoreksia, dan
memungkinkan pasien meningkatkan masukan oral.
e. Dorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia.
Rasional : Sering sebagai sumber distress emosi, khususnya untuk orang terdekat yang
menginginkan untuk memberi makan pasien dengan sering. Bila pasien menolak, orang
terdekat dapat merasakan ditolak/frustasi.
Asuhan Keperawatan Kretinisme

Written By Saktya Yudha on Rabu, 24 Juli 2013 | 10.41

2.1.1 Definisi

Kretinisme adalah suatu kelainan hormonal pada anak-anak. Ini terjadi akibat kurangnya hormon
tiroid. Penderita kelainan ini mengalami kelambatan dalam perkembangan fisik maupun mentalnya.
Kretinisme dapat diderita sejak lahir atau pada awal masa kanak-kanak (Adrian, 2011). Kretinisme
yaitu perawakan pendek akibat kurangnya hormon tiroid dalam tubuh (Qeeya, 2010).

2.1.2 Etiologi

Penyebab dari kretinisme ini berasal dari faktor bawaan, yang terdiri dari:

1. Agenesis atau disgenesis kelenjar tiroidea.

2. Kelainan hormogenesis :

1. Kelainan bawaan enzim (inborn error)


2. Defisiensi iodium (kreatinisme endemic)

3. Pemakaian obat-obatan anti tiroid oleh ibu hamil (maternal)

Penyebab paling sering dari kekurangan hormone tiroid adalah akibat kurangnya bahan baku
pembuat. Bahan baku terpenting untuk produksi hormon tiroid adalah yodium. Kretinisme dapat
terjadi bila kekurangan berat unsur yodium terjadi selama masa kehamilan hingga tiga tahun
pertama kehidupan bayi. Hormon tiroid bekerja sebagai penentu utama laju metabolik tubuh secara
keseluruhan, pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta fungsi saraf.

2.1.3 Manifestasi Klinis

Hipotiroidisme merupakan suatu keadaan klinik ditandai dengan :

1. Gangguan perkembangan fisik dan mental

2. Sukar berkonsentrasi

3. Letargi

4. Anoreksia

5. Kulit kasar, kering dan pucat

6. Rambut kepala kasar dan rapuh

7. Konstipasi

8. Suara serak atau parau


9. Wajah lembam

10. Sensitif terhadap dingin

11. Kelainan di rongga mulut, gigi permanen terlambat, terjadinya open bite, cenderung
mengalami karies dan penyakit periodontal yang lebih cepat.

2.1.4 Patofisiologi

Kecepatan pertumbuhan tidak berlangsung secara kontinyu selama masa pertumbuhan, demikian
juga faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan. Pertumbuhan janin, tampaknya sebagian besar
tidak bergantung pada control hormon, ukuran saat lahir terutama ditentukan oleh faktor genetik
dan lingkungan. Faktor hormon mulai berperan penting dalam mengatur pertumbuhan setelah lahir.
Faktor genetik dan nutrisi juga sangat mempengaruhi pertumbuhan pada masa ini.

Kelenjar tiroid yang bekerja dibawah pengaruh kelenjar hipofisis, tempat diproduksinya hormon
tireotropik. Hormone ini mengatur produksi hormone tiroid, yaitu tiroksin (T4) dan triiodo-tironin
(T3). Kedua hormone tersebut dibentuk dari monoiodo-tirosin dan diiodo-tirosin. Untuk itu
diperlukan dalam proses metabolic didalam badan, terutama dalam pemakaian oksigen. Selain itu
juga merangsang sintesis protein dan mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak dan vitamin.
Hormon ini juga diperlukan untuk mengolah karoten menjadi vitamin A. Hormone tiroid esensial
juga sangat penting untuk pertumbuhan tetapi ia sendiri tidak secara langsung bertanggung jawab
menimbulkan efek hormone pertumbuhan. Hormone ini berperan permisif dalam mendorong
pertumbuhan tulang, efek hormone pertumbuhna akan maksimum hanya apabila terdapat hormone
tiroid dalam jumlah yang adekuat. Akibatnya, pada anak hipotiroid pertumbuhan akan terganggu,
tetapi hipersekresi hormone tiroid tidak menyebabkan pertumbuhan berlebihan.

Tiroksin mengandung banyak iodium. Kekurangan iodium dalam makanan dalam waktu panjang
mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok karena kelenjar ini harus bekerja keras untuk
membentuk tiroksin. Kekurangan tiroksin menurunkan kecepatan metabolisme sehingga
pertumbuhan lambat dan kecerdasan menurun. Bila ini terjadi pada anak-anak mengakibatkan
kretinisme

2.1.5 Penatalaksanaan

Terapi yang paling baik untuk kretinisme adalah pencegahan. Pencegahan dapat dilakukan dengan :

1. Pemberian makanan yang adekuat dengan cukup kalori dan protein


2. Mengkonsumsi makanan yang diberi garam beryodium atau pemberian suplemen yodium
untuk merangsang produksi hormon.

3. Kecukupan kebutuhan vitamin dan mineral

Pemberian obat khusus, yaitu hormon tiroid (tiroid desikatus). Diberikan mulai dari dosis kecil, lalu
dinaikan sampai kita mendekati dosis toksik (gejala hipertiroidisme), lalu diturunkan lagi. Penilaian
dosis yang tepat ialah dengan menilai gejala klinis dan hasil laboratorium

2.1.6 Prognosis

Makin muda dimulai pemberian hormon tiroid, maka makin baik prognosisnya. Kalau terapi dimulai
sesudah umur 1 tahun, biasanya tidak akan tercapai IQ yang normal. Pertumbuhan badan dapat
baik. Pada kretinisme didapat dengan pengobatan yang baik, prognosisnya akan lebih baik.

3.1.3 Diagnosa Keperawatan:

1. Konstipasi b.d penurunan metabolisme gastrointestinal

2. Gangguan citra tubuh b.d perubahan bentuk tubuh akibat kretinisme

3. Pola nafas tidak efektif b.d gangguan metabolisme

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia

3.1.4 Intervensi

1. Konstipasi berhubungan dengan penurunan metabolisme gastrointestinal

Tujuan : menunjukan pola eliminasi alvi yang normal

Kriteria hasil :
a. Individu melaporkan pola defekasi 2x/ hari

b. Mampu mengungkapkan pemahamannya mengenai keadaannya

No
Intervensi Rasional

Mandiri :Catat frekuensi BAB, Memberi info mengenai


adanya BAB yang tidak dapat derajat gangguan BAB.
1
dikeluarkan, perasaan begah,
ukuran/kekuatan dari keluaran
feses.

23. Tingkatkan asupan cairan Hidrasi yang cukup


meningkatkan pengeluaran
4. feses dan meminimalkan
kehilangan
5 Health Education panasMeningkatkan massa
feses dan frekuensi BAB
6. Anjurkan untuk meningkatkan
makanan yang kaya akan serat Untuk peningkatan asupan
cairan kepada pasien agar
Beri pengetahuan pada klien feses tidak keras
tentang jenis-jenis makanan yang
banyak mengandung air Memungkinkan deteksi
konstipasi dan pemulihan
Pantau fungsi usus kepada pola defekasi yang
normal
Kolaborasi :
Untuk mengencerkan feses
Pemberian obat pencahar dan dan meningkatkan frekuensi
enema bila diperlukan BAB

2. Gangguan citra tubuh b.d perubahan bentuk tubuh akibat kretinisme


No
Intervensi Rasional

Bantu klien mengekspresikan Memberi info mengenai


perasaan, khususnya mengenai derajat gangguan
1
pikiran, perasaan, pandangan BAB.Melibatkan klien
diriDorong individu untuk bertanya dalam perawatan

2 mengenai masalah, penanganan,


perkembangan, prognosis Keluarga dapat beradaptasi
kesehatan. dan membantu klien untuk
3 meningkatkan harga diri
Siapkan orang terdekat terhadap
perubahan fisik dan emosional, Meningkatkan harga diri
4
dukung keluarga dalam upaya klien dari orang-orang
beradaptasi terdekat

5
Dorong kunjungan dari teman Mengenal lingkungan dan
sebaya dan orang terdekat. Anjurkan membantu sosialisasi
untuk berbagi dengan individu
6
tentang nilai-nilai dan hal penting Menciptakan rasa aman dan
untuk mereka nyaman pada klien.

Dorong kontak dengan teman


sebaya dan keluarga (surat, telpon)

Beri kesempatan berbagi rasa


dengan individu yang mengalami
pengalaman sama

3. Pola nafas tidak efektif b.d gangguan metabolisme

Tujuan :
Menunjukkan pola nafas yang efektif

Kriteria hasil :

a. Frekuensi napas normal klien 16-20x/menit

b. Klien tidak bernapas terengah-engah

c. Irama nafas normal


No
Intervensi Rasional

Mandiri :Pantau frekuensi, Mengidentifikasi hasil


kedalaman, pola pernapasan, pemeriksaan dasar untuk
1.
oksimetri, denyut nadi dan gas memantau perubahan pola nafas
darah dan mengevaluasi efektifitas
intervensi
Dorong pasien untuk napas Mencegah aktifitas dan
dalam meningkatkan pernapasan yang
2.
adekuat

Kolaborasi :Berikan obat Pasien kretinisme sangat rentan


(hipnotik dan sedatip) dengan terhadap gangguan pernapasan
3
hati-hati akibat gangguan obat
golongan hipnotik-sedatif

4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafsu makan yang buruk

Tujuan : Anak akan menunjukkan peningkatan nafsu makan

Kriteria Hasil :

Antropometri : berat badan, tinggi badan, lingkar lengan

a. Berat badan tidak turun (stabil)

b. Biokimia :

1) Hb normal (laki-laki 13,5-18 g/dl dan perempuan 12-16 g/dl)

2) Albumin normal (dewasa 3,5-5,0 g/dl)


c. Klinis :

1) Tidak tampak kurus

2) Rambut tebal dan hitam

3) Terdapat lipatan lemak subkutan

d. Diet :

1) Makan habis satu porsi

2) Pola makan 3X/hari

No
Intervensi Rasional

1.2. Mandiri :Pantau berat badan klien Kehilangan atau peningkatan dini
menunjukkan perubahan nutrisii tetapi
3. Kolaborasi : kehilangan lanjut diduga ada defisit
nutrisi.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet
Agar nutrisi klien tetap terpenuhi
Health education :
Klien/ keluarga klien mengetahui
Berikan informasi tentang zat- tentang pentingnya pemenuhan nutrisi
zat makanan yang sangat penting bagi bagi tubuh
keseimbangan metabolisme tubuh
Adanya kalori (sumber energi) akan
Observasi : mempercepat proses penyembuhan.

Catat kebutuhan kalori yang


dibutuhkan
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem endokrin dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan memadukan
fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis
tubuh. Terdapat dua tipe kelenjar yaitu eksokrin dan endokrin. Kelenjar eksokrin melepas
sekresinya ke dalam duktus pada permukaan tubuh seperti kulit, atau organ internal lapisan
traktus intestinal. Seangkan kelenjar endokrin seperti hepar, pankreas, kelenjar adrenal,
hipofise, tiroid, paratiroid serta timus.
Kelenjar tiroid terdiri atas dua lobus yaitu lobus kiri dan kanan yang dipisahkan oleh
isthmus. Lobus kanan kelenjar tiroid mendapatkan suplai darah yang lebih besar dibandingkan
dengan lobus kiri.
Kelenjar tiroid menghasilkan tiga jenis hormon yaitu tri-iodotironin (T3), tiroksin (T4),
dan sedikit tirokalsitonin. Hormon T3 dan T4 dihasilkan oleh folikel sedangkan tirokalsitonin
dihasilkan oleh parafolikuler. Bahan dasar pembentukanhormon-hormon ini adalah yodium
yang diperoleh dari makanan dan minuman. Baik T3 dan T4 kedua-duanya meningkatkan
metabolisme karena meningkatkan konsumsi oksigen dan produksi panas.kedua hormon ini
tidak berbeda dalam fungsi namun berbeda dalam intensitas dan cepatnya reaksi. T3 lebih cepat
dan lebih kuat reaksinya tetapi waktunya lebih singkat dibandingkan dengan T4. T3 lebih
sedikit jumlahnya dalam darah. T4 dapat diubah menjadi T3 setelah dilepaskan oleh folikel
kelenjar

B. Tujuan
1. Membahas pengertian dari kretinisme
2. Membahas etiologi dari kretinisme
3. Membahas manifestasi klinis dari kretinisme
4. Membahas pemeriksaan diagnostik dari kretinisme
5. Membahas penatalaksanaan dari kretinisme
6. Membahas komplikasi dari kretinisme
7. Membahas web of caution dari kretinisme
8. Membahas pengkajian asuhan keperawawatan dari kretinisme
9. Membahas pengkajian asuhan keperawawatan dari kretinisme
10. Membahas analisa data asuhan keperawawatan dari kretinisme
11. Membahas diagnosa keperawatan asuhan keperawawatan dari kretinisme
12. Membahas intervensi asuhan keperawawatan dari kretinisme

C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Sebagai bahan materi pembelajaran mahasiswa khususnya dalam format asuhan
keperawatan endokrin tentang kretinisme.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Pembuatan kasus pembelajaran mahasiswa dapat memavu inovasi dan daya pikir kritis
mahasiswa dalam memecahkan masalah keperawatan asuhan keperawatan endokrin tentang
kretinisme.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kretinisme adalah suatu kelainan hormonal pada anak-anak yang terjadi akibat
kurangnya hormon tiroid . Penderita kelainan ini mengalami kelambatan dalam perkembangan
fisik maupun mental.
Kretinisme adalah perawakan pendek pada anak-anak akibat kurangnya hormon tiroid
dalam tubuh.

B. Etiologi
1. Defisiensi yodium
2. Kekurangan hormon tiroid
3. Pemakaian obat-obatan anti tiroid oleh ibu hamil (maternal)
4. Tiroiditis hashimoto
5. Sindroma-sindroma dengan salah satu gejala perawakan pendek misalnya sindroma truner
6. Penyakit-penyakit kronis yang menyebabkan malnutrisi dalam perkembangan penyakitnya.

C. Manifestasi Klinis
1. Gangguan perkembangan fisik (cebol)
2. Bibir tebal
3. Lidah tebal
4. Bicara terbata-bata
5. Jarak antara kedua mata lebih besar
6. Kulit kasar dan kering
7. Warna kulit agak kekuningan dan pucat
8. Kepala besar
9. Muka bulat (moon face)
10. Pertumbuhan tulang terlambat
11. Hidung besar dan pesek
12. Tumbuh gigi terlambat

D. Penatalaksanaan
1. Pencegahan
a. Pemberian makanan yang adekuat dengan cukup kalori dan protein
b. Mengkonsumsi makanan yang diberi garam beryodium atau pemberian suplemen yodium
untuk merangsang produksi hormon
c. Mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral
2. Pemberian obat khusus
Kelainan ini dapat diobati dengan pemberian hormon tiroid. Hormon tiroid diberikan secara
terus menerus. Bila kelainan muncul sebelum usia dua tahun, pengobatan ini tidak dapat
memperbaiki keterbelakangan mental yang ditimbulkan.

E. Komplikasi
Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang ditandai oleh eksaserbasi
(perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk hipotermia tanpa menggigil, hipotensi,
hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hinggan koma. Dalam keadaan adarurat misalnya pada
koma miskedema maka hormon tiroid diberikan secara intravena

F. Prognosis
Makin muda dimulai dalam pemberian hormon tiroid, maka makin baik prognosisnya.
Kalau terapi dimulai sesudah umur 1 tahun, biasanya tidak akan tercapai IQ yang normal.
Pertumbuhan badan dapat tumbuh dengan baik.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
Pemeriksaan darah yang mengukur kadar hormon tiroid (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan
dapat mendiagnosis kondisi dan lokasi masalah kelenjar tiroid. Pemeriksaan untuk mengetahui
fungsi tiroid biasanya menunjukkan kadar T4 rendah dan TSH tinggi
2. USG atau CT Scan
Tiroid menunjukkan ada tidaknya goiter
3. X – foto tengkorak
Menunjukkan kerusakan hipotalamus atau hipofisis anterior

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Biodata
Biodata pasien yang harus dikaji meliputi nama, nomor register, jenis kelamin, umur, agama,
pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, alamat, diagnosa medis
2. Keluhan utama
Keluhan utama yang biasa muncul pada klien kretinisme dapat berupa cebol, penurunan nafsu
makan, kelelahan, penurunan tonus otot, keterbelakangan.
3. Riwayat penyakit sekarang.
Pada pasien kretinisme biasanya akan diawali dengan tanda-tanda anak mengalami gangguan
perkembangan fisik (cebol), muka bulat (moon face), kepala besar, berbicara terbata-bata, lidah
tebal, warna kulit agak kekuningan dan pucat, kepala besar.
4. Riwayat penyakit dahulu
Hipotiroidisme kongenital, riwayat ibu yang meminum obat antitiroid, riwayat ibu yang sakit
hipertiroid, riwayat tiroidektomi, tiroiditis.
5. Riwayat penyakit keluarga
Sejak kapan klien menderita masalah penyakit tersebut dan apakah ada keluarga klien yang
menderita penyakit yang sama.
6. Pemeriksaan fisik
a. B1 (Breathing)
Sesak, RR meningkat, hipoventilasi.
b. B2 (Blood)
Bradikardi, hipotensi, disritmia, penurunan frekuensi denyut jantung, pembesaran jantung,
akral dingin, pucat dan lembab, CRT > 3 detik.
c. B3 (Brain)
Gangguan memori, perhatian kurang, somnolen, perlambatan daya pikir, keadaan umum
lemah, fungsi intelektual yang lambat.
d. B4 (Blader)
Penurunan keluaran urine
e. B5 (Bowel)
Konstipasi, penurunan nafsu makan, penurunan kecepatan metabolisme, penurunan kebutuhan
kalori, peningkatan berat badan, obesitas, dan distensi abdomen
f. B6 (Bone)
Gerakan lambat, penrunan refleks otot, kulit kering dan bersisik, rambut kepala tipis dan rapuh,
pertumbuhan kuku buruk, kuku menebal, rambut rontok, edema kulit terutama dibawah mata.

7. Pemeriksaan diagnostic
a. Pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum
b. Pemeriksaan TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi peningkatan TSH
serum, sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat menurun atau normal)

B. Analisa Data

Kemungkinan
No Pengelompokan data Masalah
penyebab
1 Ds: keluarga atau klien perubahan pola Gangguan
mengeluh kecerdasan menurun kognitif proses berpikir
Do: disorientasi waktu dan
tempat, bicara terbata-bata,
intelektual rendah, berbicara
lambat.
2 Kelelahan, Intoleransi
Ds: keluarga mengeluh klien penurunan fungsi aktivitas
jarang melakukan aktivitas dan kognitif
cepat lelah
Do: kelelahan, menarik diri,
apatis, menyendiri
3 Penurunan fungsi Gangguan
Ds: keluarga mengeluh klien kognitif dan konsep diri
sulit membina hubungan sosial penurunan
dengan lingkungan pertumbuhan
Do: mengurung diri, menarik
diri, fungsi intelektual yang
lambat, berbicara lambat,
somnolen.
4 Penurunan Perubahan suhu
Ds: pasien atau keluarga produksi kalor tubuh
mengeluh badan lembab dan (hipotermi)
dingin
Do: Akral dingin, peningkatan
suhu tubuh (hipotermi)

C. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan proses pikir berhubungan dengan perubahan pola kognitif
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan fungsi kognitif
3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif dan penurunan
pertumbuhan
4. Perubahan suhu tubuh (hipotermi) berhubungan dengan penurunan produksi kalor.

D. Intervensi dan Rasional


1. Gangguan proses berpikir berhubungan dengan perubahan pola kognitif.
Tujuan:
Proses berpikir klien kembali ketingkat yang optimal
Kriteria Hasil:
a. Disorientasi waktu dan tempat berkurang
b. Bicara terbata-bata berkurang
c. Bicara bertambah lancar
Intervensi Rasional
Observasi dan catat tanda Tanda gangguan proses berpikir
gangguan proses berpikir yang yang berat seperti: letartgi,
berat gangguan memori, tidak ada
perhatian, kesulitan dalam
komunikasi, dan mengatuk
Orientasikan klien kembali dengan Gejala-gejala berkurang dalam
lingkungannya baik terhadap waktu 2-3 minggu pengobatan
orang, tempat, dan waktu. sehingga mengorientasikan
kembali klien terhadap
lingkungan nyata sangat
diperlukan.
Beri dorongan pada keluarga agar Menciptakan pemahaman akan
dapat menerima perubahan keadaan penyakit yang terjadi dan
perilaku klien dan memberikan informasi yang tepat
mengadaptasikannya. Jelaskan agar dapat menjalankan
pula dengan pengobatan yang pengobatan secara rutin
teratur gejala-gejala akan akan
berkurang.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan fungsi kognitif


Tujuan:
Meningkatkan partisipasi dalam meningkatkan aktivitas dan kemandirian
Kriteria Hasil:
a. Kelelahan berkurang
b. TTV dalam batas normal
c. Perawatan diri sendiri bisa mandiri
Intervensi Rasional
Kaji toleransi aktivitas klien Parameter menunjukkan respons
dengan menggunakan parameter: fisiologis klien terhadap stres
Vital Sign, dispnea, nyeri dada, aktivitas dan indikator derajat
kelelahan, kelemahan, pusing pengaruh kelebihan kerja jantung
Atur interval waktu antar aktivitas Mendorong aktivitas sambil
untuk meningkatkan istirahat dan memberikan kesempatan untuk
latihan yang dapat ditolelir mendapatkan istirahat yang adekut
Bantu aktivitas perawatan mandiri Memberi kesempatan pada pasien
ketika pasien berada dalam untuk berpartisipasi dalam
keadaan lelah aktivitas perawatan mandiri dan
menjaga stamina yang dimiliki
pasien
Berikan teknik relaksasi dengan Memperlancar pertukaran oksigen
napas dalam serta teknik distarksi agar kebutuhan tubuh akan O2
terpenuhi dan teknik distraksi agar
membuat keadaan pasien relaks

Pantau respon pasien terhadap Menjaga pasien agar tidak


peningkatan aktivitas melakukan aktivitas yang
berlebihan

3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif dan penurunan
pertumbuhan.
Tujuan: memperbaiki konsep diri dan meningkatkan sosialisasi dengan lingkungan
Kriteria Hasil:
a. Anak mampu bersosialisasi
b. Menarik diri berkurang atau menghilang
c. Komunikasi dengan keluarga terjalin
d. Terjalin support keluarga
Intervensi Rasional
Kaji penyebab terjadinya gangguan Menentukan kemungkinan penyebab
konsep diri dapat diubah dan diperbaiki
Berikan motivasi kepada keluarga Keluarga merupakan lingkungan
untuk selalu berkomunikasi dengan pertama yang dapat dijadikan tempat
pasien bersosialisasi
Anjurkan keluarga untuk selalu Menghindarkan pasien dari
mensupport pasien kemungkinan menarik diri yang
semakin parah
Anjurkan keluarga untuk mengikuti Memperbaiki mental pada klien
terapi kolaborasi dengan tim psikologis
anak.

4. Perubahan suhu tubuh (hipotermi) berhubungan dengan penurunan produksi kalor


Tujuan:
Pemeliharaan suhu tubuh yang normal
Kriteria hasil:
a. Suhu tubuh 36,5 – 37,5 C
b. Pasien merasa hangat dan tidak menggigil
Intervensi Rasional
Berikan tambahan lapisan pakaian dan Meminimalkan kehilangan panas
tambahan selimut
Hindari dan cegah penggunaan Mengurangi risiko vasodilatasi perifer
sumber panas dari luar seperti bantal dan kolaps vaskuler
pemanas.
Pantau suhu tubuh pasien dan Mendeteksi penurunan suhu tubuh dan
laporkan penurunannya dari nilai dimulainya koma miksedema
dasar suhu normal pasien
Lindungi terhadap pajanan hawa Meningkatkan tingkat kenyamanan
dingin dan hembusan angin pasien dan menurunkan lebih lanjut
kehilangan panas
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kretinisme adalah suatu kelainan hormonal pada anak-anak yang terjadi akibat
kurangnya hormon tiroid. Penderita kelainan ini mengalami kelambatan dalam perkembangan
fisik maupun mental. Atau kretinisme merupakan perawakan pendek pada anak-anak akibat
kurangnya hormon tiroid dalam tubuh.
Penyebab terjadinya kretinisme bisa dikarenakan kekurangan yodium, kekurangan
hormon tiroid, pemakaian obat-obatan anti tiroid oleh ibu hamil (maternal), perawakan pendek
genetic, tiroidektomi, tiroditis (hashimoto), pemakaian obat anti tiroid, retardasi pertumbuhan
dalam janin, sindroma-sindroma dengan salah satu gejala perawakan pendek misalnya
sindroma truner, penyakit-penyakit kronis yang menyebabkan malnutrisi dalam perkembangan
penyakitnya.
Tanda dan gejala terjadinya kretinisme meliputi perlambatan daya pikir dan sukar
berkonsentrasi, gangguan perkembangan fisik, metabolisme tubuh menurun, berbicara terbata-
bata, rambut kasar dan kering, lidah tebal, jarak antara kedua mata lebih besar, kulit kasar dan
kering, warna kulit agak kekuningan dan pucat, kepala besar, muka bulat (moon face),
psikologis: apatis, depresi, menarik diri, paranoid, mania.
Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan cara pencegahan dan pemberian obat khusus.
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kretinisme meliputi hipotiroidisme dan
koma miksedema
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan dalam menunjang diagnosa kretinisme
meliputi pemeriksaan laboratorium, USG, CT Scan, dan Foto tengkorakl.

B. Saran
1. Bagi Mahasiswa Keperawatan
Adanya standar khusus dalam format asuhan keperawatan dan memicu pemikiran yang
kritis mahasiswa dalam kasus asuhan keperawatan endokrin
2. Bagi Institusi Pendidikan
Pembuatan kasus pembelajaran akademik lebih bervariatif agar memicu inovasi mahasiswa
untuk memecahkan masalah keperawatan yang muncul pada klien keperawatan endokrin
DAFTAR PUSTAKA

Baradero, Mary. (2009). Asuhan Keperawatan Gangguan endokrin. Jakarta: Kedokteran. EG


Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan
Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi
3. Jakarta: kedokteran EGC
Rumahorbo, H. (2007). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Endokrin. Jakarta: EGC
Syaifudin. (2006). Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:Kedokteran. EGC
Wood, diana. (2010). At a Glance SISTEM ENDOKRIN. Jakarta: Erlangga
Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan
Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi
3. Jakarta: kedokteran EGC