You are on page 1of 2

Dengan merujuk UNESCO, Kemendiknas (2007) merumuskan syarat bahan ajar yang baik.

Syarat-syarat bahan ajar atau buku teks yang berkualitas diuraikan melalui kutipan berikut.
Syarat-syarat bahan ajar atau buku teks yang berkualitas adalah (1) bahan ajar memiliki peran
penting untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas tinggi, (2) bahan ajar
merupakan produk dari proses yang lebih besar dari pengembangan kurikulum, (3) isi bahan
ajar memasukkan prinsip-prinsip hak asasi manusia, mengintegrasikan proses pedagogis yang
mengajarkan secara damai terhadap penyelesaian konflik, kesetaraan gender,
nondiskriminasi, praktik-praktik dan sikap-sikap lain yang selaras dengan kebutuhan untuk
belajar hidup bersama, (4) bahan ajar memfasilitasi pembelajaran untuk mendapatkan hasil-
hasil spesifik yang dapat diukur dengan memperhatikan berbagai perspektif, gaya
pembelajaran, dan modalitas berbeda (pengetahuan, keterampilan, dan sikap), (5)
memperhitungkan level konseptual, lingkungan linguistik, latar belakang dan kebutuhan
pebelajar di dalam membentuk isi dan mendesain model pembelajaran, (6) bahan ajar
memfasilitasi pembelajaran yang dapat mendorong partisipasi dan pengalaman secara merata
dan setara oleh semua pebelajar yang terlibat dalam proses pembelajaran, dan (7) bahan ajar
dapat dijangkau dari sisi biaya, memiliki daya tahan lama, dan dapat diakses oleh semua
pebelajar.

Syarat penyusunan bahan ajar juga disampaikan Tjipto Utomo dan Kees Ruijter (dalam
Mbulu, 2004:88). Syarat-syarat tersebut adalah (1) memberikan orientasi terhadap teori,
penalaran teori, dan cara-cara penerapan teori dalam praktik, (2) memberikan latihan
terhadap pemakaian teori dan aplikasinya, (3) memberikan umpan balik tentang kebenaran
latihan itu, (4) menyesuaikan informasi dan tugas sesuai tingkat awal masing-masing peserta
didik, (5) membangkitkan minat peserta didik, (6) menjelaskan sasaran belajar kepada peserta
didik, (7) meningkatkan motivasi peserta didik, dan (8) menunjukkan sumber informasi yang
lain.

Gatot (2008) juga menambahkan bahwa “bahan ajar yang baik harus dapat memenuhi
tuntutan kurikulum yang berisi kompetensi-kompetensi yang ditentukan”. Materi-materi ajar
terarah sesuai dengan tuntutan kurikulum. Kompetensi-kompetensi yang diberikan sesuai
dengan kurikulum.

Untuk bahan ajar berbasis web, Purnomo (2009) memberikan syarat terkait konten web yang
baik. Syarat konten web yang baik dijelaskan berikut ini.

1. Materi Pembelajaran. Berisi material pembelajaran yang akan disampaikan melalui


berbagai jenis format. Format tersebut seperti teks, gambar, foto, grafik, slide
presentasi, animasi, HTML, audio (narasi, audio streaming, audio recorded), video
(video recorded, video streaming).
2. Interaksi dan komunikasi. Berisi konten yang memfasilitasi proses interaksi dan
komunikasi baik antara siswa dan siswa maupun siswa dan trainer, secara langsung
(synchronous) maupun tidak langsung (asynchronous).
3. Tugas, tes dan evaluasi siswa. Konten yang berisi aktivitas penugasan, tes serta
evaluasi bagi siswa.
4. Sumber daya digital (digital resources). Konten berisi berbagai sumber daya
pembelajaran berbentuk digital dan/atau online
5. Informasi. Berisi informasi yang ingin disampaikan pada user mengenai pengajaran
yang akan diikuti. Bentuk modul informasi ini dapat berupa silabus, berita dan
informasi, pengumuman dsb.
Bahan ajar dapat juga ditinjau dari segi kemenarikan dan penggunaan bahasa agar dapat
dimanfaatkan dengan efektif. Greene & Petty (dalam Hakim 2001) menyatakan bahwa ciri
bahan ajar yang berkualitas adalah (1) dapat menarik perhatian, (2) membangkitkan motivasi
belajar, (3) memuat illustrasi yang menarik, (4) penggunaan bahasa yang jelas, (5) adanya
keterkaitan dengan pelajaran yang lain, dan (6) terhindar dari konsep yang samar-samar.

Untuk mengembangkan bahan ajar, Gatot (2008) memberikan empat tahapan. Tahapan-
tahapan tersebut dijabarkan melalui uraian berikut. Tahapan pengembangan bahan ajar
meliputi (1) mengidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
menjadi acuan pemilihan bahan ajar, (2) mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar, (3)
memilih bahan ajar yang sesuai dengan butir pertama, dan (4) memilih sumber bahan ajar.

Mbulu (2004:77) juga menawarkan sebuah prosedur pengembangan bahan ajar melalui tiga
tahap. Ketiga tahap tersebut adalah (1) tahap merancang, yaitu menerjemahkan
pengetahuan/teori yang bersifat umum ke dalam bentuk yang terinci, meliputi mengkaji
kompetensi, analisis pembelajaran, analisis isi, seleksi isi, penataan urutan isi, dan struktur
isi, (2) tahap menilai, dilakukan untuk uji kelayakan draft awal, mencakup penilaian formatif,
revisi, dan sumatif, dan (3) tahap pemanfaatan, mencakup kegiatan pengembangan pembaca
dan pengembangan bahan pembelajaran.

Kemendiknas (2008) menyatakan bahwa pengembangan bahan ajar dimulai dari (1) standar
kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) indikator, (4) materi pembelajaran, (5) kegiatan
pembelajaran, dan (6) bahan ajar. Berdasarkan kedua rujukan di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa pengembangan bahan ajar dimulai dari (1) identifikasi standar
kompetensi, (2) identifikasi kompetensi dasar, (3) identifikasi indikator, (4) identifikasi
materi bahan ajar dan memilih bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum, (5) merancang
kegiatan pembelajaran, dan (6) memilih jenis dan menyusun bahan ajar.