You are on page 1of 17

BAB II

TINJAUAN TEORITIS DAN PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Asma Bronchial

1. Pengertian

Asama Bronchial adalah: suatu jenis penyakit ganguan

pernafasan,khusus nya pada paru-paru.Asma biasanya dikenal luas

berbagai “penyakit sesak nafas” sesak nafas terjadi karena penyempitan

saluran pernafasan akibat adanya aktivitas berlebihan terhadap

rangsangan tertentu(dr.Yekti mumpuni 20013)

Asma Bronchial adalah suatu penyakit yang dikarakteristikkan oleh

konstriksi yang dapat pulih dari otot halus bronkial, hipersekresi mukosa,

dan inflamasi mukosa serta edema. Faktor pencetus termasuk alergen,

masalah emosi, cuaca dingin, latihan, obat, kimia, dan infeksi (Marilynn E.

Doenges, 1999)

Asma Bronchial adalah penyakit jalan nafas obstruksi intermitten,

reversibel dimana trakea dan bronki berespon dalam secara hiperaktif

terhadap stimuli tertentu yang dimanifestasikan dengan penyempitan jalan

nafas yang mengakibatkan dispnea, batuk, dan mengi. (Brunner and

Suddarth, 2001)

2. Etiologi

Menurut Yekti Mumpuni (2013) ada beberapa peyebab Asma

Brochial antara lain:

9
10

a. Faktor predisposisi

1) Genetik

Yang diturunkan adalah bakat alergi meskipun belum diketahui

bagaimana cara penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi

biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga menderita penyakit

alergi.

b. Faktor presipitasi

1) Alergen, dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu :

a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernafasan (debu, bulu

binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi)

b) Ingestan, yang masuk melalui mulut (makanan, obat-obatan)

c) Kontaktan, melalui kontak kulit (perhiasan, logam)

2) Perubahan cuaca

3) Stress

4) Olah raga atau aktivitas jasmani yang berat.

3. Manifestasi Klinis

Menurut WHO (2013) ada beberapa gejala antara lain:

Tanda dan gejala terjadinya asma Bronchial seperti :

a. pernafasan yang cepat dan dangkal

b. Gelisah

c. Denyut nadi cepat (takikardi)

d. Batuk Produktif, sering pada malam hari

e. Sianosis
11

f. Terdengar “wheezing” pada waktu ekspirasi.

g. Pernafasan cuping hidung.

4. Patofisiologi

Menurut WHO (2009)


12

5. Komplikasi

Menurut Corwin (2009) terjadi komplikasi penyakit Asma

Bronchial antara lain:

a. Status asmatikus

b. Neumonia

c. Emfisema kronik

d. Gagal nafas

e. Bronchitis

f. Kematian

6. Penatalaksanaan

Menurut Depkes (2006) penatalaksanaan penyakit Asma Bronchial

antara lain:

a. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma dan mencegah

kekambuhan

b. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta

mempertahankannya

c. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk

melakukan exercise

d. Menghindari efek samping obat asma bronkial

e. Mencegah obstruksi jalan napas yang ireversibel

Strategi pengobatan pada Asma Bronchial terbagi 2, yaitu :

a. Pengobatan non farmakologik :

1) Memberikan penyuluhan
13

2) Menghindari faktor pencetus

3) Pemberian cairan

4) Fisioterapi

5) Beri O2 bila perlu

b. Pengobatan farmakologik :

Bronkodilata : obat yang dapat melebarkan saluran nafas. Terbagi

dalam 2 golongan

1) Simpatomimetik/andrenergik (adrenalin dan efedrin)

Adapun nama-nama obat yang termasuk golongan ini adalah

: Orsiprenalin (alupent), Fenoterol (Berotec) dan Terbutalin

(bricasma). Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam

bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa

semprotan adalah MDI (Metered Dose Inhaler). Ada juga yang

berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan

Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec,

Brivasma serta Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi

aerosol (partikel-partikel yang sangat halus) untuk selanjutnya

dihirup.

2) Santin (teofilin), jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan ini

adalah: Aminofilin (Amicam supp) dan Teofilin (Amilix). Efek

dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi

cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini

dikombinasikan efeknya saling memperkuat. Cara pemakaian :


14

dalam bentuk injek digunakan obat teofilin/aminofilin dipakai pada

serangan asma akut, dan disuntikkan perlahan-lahan langsung ke

pembuluh darah dan ada juga obat yang diberikan peroral seperti

tablet dan sirupnya. Karena sering merangsang lambung bentuk

tablet atau sirupnya sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini.

Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria ini digunakan jika

penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya

muntah atau lambungnya kering).

B. Konsep Keluarga

1. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan,

kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan

budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental dan emosional

serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).

Keluarga yaitu unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala

keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat

dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI,

1988).

Menurut Bailon dan Maglaya (1978) keluarga adalah dua atau lebih

individu dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah,

perkawinan atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan lainnya,


15

mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan

suatu budaya.

2. Tipe keluarga

Menurut Friedman (1986) membagi tipe keluarga seperti berikut ini

a. Nuclear family (keluarga inti). Terdiri dari orang tua dan anak yang

masih menjadi tanggungannya dan tinggal dalam satu rumah, terpisah

dari sanak keluarga lain.

b. Extended family (keluarga besar). Satu keluarga yang terdiri-dari satu

atau dua yang tinggal dalam satu rumah dan saling menunjang satu

sama lain.

c. Single parent family. Satu keluarga yang di kepalai oleh satu kepala

keluarga dan hidup bersama dengan anak-anak yang masih

bergantungan kepadanya.

d. Nuclear dyed. Keluarga yang terdiri- dari sepasang suami istri tanpa

anak, tinngal dalam satu rumah yang sama.

e. Blended family. Suatu keluarga yang terbentuk dari perkawinan

pasangan, yang masing-masing pernah menikah dan membawa anak

hasil perkawinan dahulu.

f. Thereee generation family. Keluarga yang terdiri-dari tiga generasi,

yaitu kakek, nenek, bapak, ibu, dan anak dalam satu rumahnya.

g. Menddle age atau elderly couple. Keluarga yang terdiri dari sepasang

suami istri paru baya .


16

3. Fungsi Keluarga

Menurut Friedman (1986) fungsi keluarga dibagi menjadi lima

fungsi dasar, yaitu :

a. Fungsi afektif

Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal kelurga,

yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk

pemenuhan kebutuhan psikososial. Tiap anggota keluarga saling

mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dapat dipelajari dan

dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga.

Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam mlaksanakan

fungsi afektif adalah :

1) Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling

mendukung antar amggota keluarga, mendapatkan kasih sayang

dan dukungan dari anggota yang lainnya.

2) Saling menghargai

3) Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga dimulai sejak pasangan

sepakat memulai hidup baru.

b. Fungsi sosial

Sosialisasi dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan

tempat individu untuk belajar sosialisasi, misalnya anak yang baru

lahir dia akan menatap ayah, ibu, dan orang-orang yang disekitarnya.

Kemudian beranjak balita dia mulai belajar bersosialisasi dengan

lingkungan sekitar meskipun demikian keluarga tetap berperan


17

penting dalam bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu

dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota

keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi.

c. Fungsi reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan menambah

sumber daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang

sah, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan

untuk membentuk keluarga adalah untuk meneruskan keturunan.

d. Fungsi ekonomi

Fungsi ekonomi merupakan fungsi kelurga untuk memenuhi

kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan

akan makanan, pakaian dan tempat tinggal.

e. Fungsi perawatan kesehatan

Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan

praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan

kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit


18

C. Pembahasan

Pada bagian ini penulis akan membahas lebih lanjut mengenai

kesamaan yang penulis jumpai antara tinjaun teoritis dengan tinjauan kasus

secara keseluruan tidak terdapat perbedaan yang berarti, tetapi jika dilakukan

perubahan secara terperinci dan secara sistematis, maka akan terlihat adanya

masalah yang memerlukan pemecahan atau jalan keluar yang dirasakan oleh

keluarga .

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan suatu proses berkelanjutan, dimana

pengkajian menggambarkan kondisi situasi klien sebelumnya dan saat ini

sehingga informasi tersebut bisa digunakan untuk memprediksi bagaimana

kondisi yang akan datang (Setiawati, 2005).

Pengkajian ini dilakukan pada tanggal 12 April 2005 pada

keluarga Ny.S khususnya pada Ny.S .umur 83 tahun, jenis kelamin

perempuan, agama Islam, pendidikan SMA, perkerjaan sebagai ibu rumah

tangga, bertempat tinggal di Gampong Keude Bakongan, jumlah tinggal

serumah 3 orang, dari tipe keluarga Ny.S adalah keluarga inti.

Status sosial ekonomi keluarga ,keluarga menyebutkan jumlah

pendapatan cukup untuk kebutuhan sehari-hari .Berdasarkan kelas sosial

keluarga Ny.S digolongkan keluarga kelas menegah. Tahap perkembangan

keluarga saat ini adalah keluarga dengan usia lanjut, tahap terakhir siklus

kehidupan keluarga dimulai dengan salah satu kedua pasangan memasuki


19

masa pensiun, dan berakhir dengan pasangan lain meninggal (Friedman

2001).

Masalah kesehatan pada lansia merupakan pemakaian pelayanan

kesehatan yang paling menonjol menurut penelitian lebih dari empat lansia

memiliki satu kondisi kronis dan kondisi multipel yang lazim diderita pada

lansia (Friedman,2002).

Karakteristik rumah yang ditempati oleh Ny.S adalah rumah sendiri

dengan luas 10x6 meter,didalam rumah ada 3 kamar, ruang tamu , kamar

mandi,dapur , rumah yang terbuat dari semen atau permanen,dan terdapat

3 jendela.

Sistem pendukung adalah jumlah anggota keluarga yang sehat dan

fasilitas kesehatan keluarga yang menunjang kesehatan misalnya

Askes,kartu sehat, asuransi, dan lainnya. Dukung an psikologis anggota

keluarga atau masyarakat, dan fasilitas sosial yanga ada disekitar keluarga

yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan (suprajitno,2004).

Keluarga Ny.S saling menghargai satu sama lain dan saling

memberi bantuan terutama apabila ada anggota keluarga yang sakit .

Pada pemeriksaan fisik yang khusus dilakukan pada Ny.S TD

120/70 mmHg, puls 85x/menit, R/R 26x/menit, temperatur 36OC.

2. Analisa Data

Analisa data adalah upaya pengolah data menjadi informasi,

sehingga karakteristik atau sifat-sifat data tersebut dapat dengan mudah


20

dipahami dan bermamfaat untuk menjawab masalah yang berkait dengan

kegiatan penelitian.

Data subjektif adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu

situasi atau keaadan dan kejaiban .sedangkan data objektif adalah data

yang observasi dan diukur (Nursalam,2001).

Dari hasil pengkajian yang penulis lakukan untuk masalah pertama

didapatkan data subjektif Ny.S mengatakan sesak nafas,batuk dimalam

hari,Data objektif Ny.S, TD 120/70 mmHg, R/R 26x/menit, puls

85x/menit,temperatur 36 oC.

Pada analisa data untuk masalah kedua didapatkan keluhan, data

Subjektif, Ny.S mengatakan tidak bisa beraktivitas .Data objektif aktivitas

Ny.S di bantu oleh keluarga.

Pada analisa data untuk masalah ketiga data subjektif Ny.S

mengatakan cemas dengan keadaan nya, Data objektif Ny.S tampak

gelisah .

3. Diagnosa

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan

respon manusia (status kesehatan dimana atau resiko perubahan pola) dari

induvidu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitis dapat

mengendentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga

status kesehatan menurun, membatasi, mencegah dan merubah

(Carpenito,2000).
21

Pada diagnosa keperawatan untuk keluarga Ny.S khususnya Ny.S

dengan Asma Bronchial secara teoritis terdapat 5 diagnosa keperawatan

yaitu : Tidak efektif nya jalan nafas , Ganguan petukaran gas ,

Ketidakefektifan pola nafas, Intoleransi aktivitas, Ansietas (Doenges,

1999).

Dalam melaksanakan Asuhan keperawatan keluarga penulis

mengangkatkan 3 (tiga) diangnosa keperawatan sesuai dengan prioritas

masalah pada N.y.S (83 tahun) dengan Asma Bronchial di Gampong keude

Bakongan Kecamatan Bakongan Kabupaten Aceh Selatan.

4. Perencanan

Perencanaan adalah bagian dari fase pergorganisasian dalam proses

keperawatan sebagai pendoman untuk mengarahkan tindakan keperawatan

dalam usaha membantu, meringankan, memecahkkan masalah atau untuk

memenuhi kebutuhan klien (Setiadi,2012).

Pada perencanaan keperawatan keluarga secara teoritis terdapat

perencanaan yaitu pantau TD, auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas,

awasi warna kulit, kelembaban, suhu, dan berikan lingkungan yang tenang,

nyaman, dan kurangi aktivitas/keributan lingkungan (Dongoes,1999).

Setelah penulis menemukan diagnosa keperawatan pada tinjauan

kasus, masalah yang dialami dan sesuai dengan rencana keperawatan yang

ada tinjauan teoritis. Pada diagnosa tidak efektifnya jalan nafas pada Ny.S

berhubungan ketidak mampuan kelurga merawat anggota keluarga,


22

intervensi yang diberikan adalah bina hubungan saling percaya

,diskusikan pada keluarga tentang pengertian,jenis-jenis, penyebab, tanda

dan gejala, akibat, pecegahan, cara perawatan, cara pembuatan obat

tradisional, cara memodifikasi linkungan,dan menyebutkan tempat

pelanyanan kesehatan,tanya kembali kepada keluarga tentang penjelasan

yang diberikan. Kemudian berikan reinforcement positif atas jawaban

yang tepat tuajuan agar keluarga mampu merawat anggota keluarga yang

sakit.

5. Implementasi

Implementasi adalah komponen dari asuhan keperawatan dimana

tindakan yang diperkirakan dari asuhan keperawatan yang dilakukan dan

diselesaikan (Pontter Patricia, 2005).

Dari intervensi diatas maka implementasi keperawatan yang dapat

dilakukan pada pasien sesuai dengan periori tas diagnosa keperawatan dan

intervensi yang dibuat semua dilakukan pada tahap implementasi pada

diagnosa keperawatan.

Pada diagnosa tidak efektifnya jalan nafas pada keluarga Ny.S

khususnya Ny.S berhubungan ketidak mampuan keluarga merawat

anggota keluarga. Implementasi yang diberikan membina hubungan saling

percaya bertujuan agar pasien atau keluarga mengetahui tentang

pengetian,penyebab, tanda dan gejala serta pencegahan Asma Brochial.


23

implementasi yang diberikan pada keluarga yaitu: TUK 1 mendiskusikan

bersama keluarga tentang pengertian Asma Bronchial ,penyebab,tanda –

tanda Asma bronchial, menanyakan kembali pada keluarga pengertian

Asma Bronchial,memberikan reinforcement positf atas usaha yang di

berikan keluarga,TUK 2 menjelaskan kembali kepada keluarga akibat

lanjut Asma Bonchial tidak diobat yaitu: gagal nafas,

hipoksemia,memotivasi keluarga untuk menyebutkan kembali akibat lanjut

dari Asma Bronchial,mendiskusikan kembali dengan keluarga tentang

keinginan keluarga untuk merawat anggota keluarga dengan Asma

Bronchial,memberikan reinforcement positi atas jawaban keluarga dan

keputusan untuk merawat keluarga dengan Asma Bronchial,TUK 3

mendiskus kan dengan keluarga tentang pencegahan Asma Bronchial

yaitu: memeriksakan kondisi Asma Bronchial secara teratur menimal

sebulan sekali, menghindari penyebab terjadi Asma Bronchial

menghindari stress ,memotivasi keluarga untuk menyebutkan kembali

pencegahan Asma Bronchial,menjelaskan cara perawatan Asma Bronchial

yaitu: minum obat secara teratur, menghindari faktor pencetus Asma

Bronchial seperti debu, bulu binatang, hidup tenang dan

teratur,memotivasi keluarga untuk menyebutkan kembali cara perawat

Asma Bronchial,memberikan reinforcement positf atas kemampuan

keluarga menjelaskan cara pencegahan dan cara perawatan Asma

Bronchial, mendemontrasikan cara membuat obat tradisional, memberikan

kesempatan pada keluarga untuk mencoba membuat tradisional dengan


24

madu hitam pahit satu sendok dipagi hari, dan satu sendok dimalam hari,

memberikan reinforcement positif atas kemampuan keluarga, memastikan

keluarga untuk melakukan tindakan yng di ajarkan jika keluarga sesak

nafas,TUK 4 memberikan pujian atas usaha keluarga memberikan

linkungan yang bersih, jendela dan pintu dibuka dan ruangantidak

berbau,TUK 5 memberikanpujian atas kemampuan keluarga menyebutkan

mamfaat ke pelayanan kesehatan,menanyakan alasan keluarga membawa

Ny.S kerumah sakit, mengobservasi kartu berobat, memberikan

reinforcement positif bahwa tepat sekali tindakan yang telah dilakukan

dengan membawa Ny.S ke klinik.

6. Evaluasi

Evaluasi atau langkah terakhir dalam pendekatan proses

keperawatan merupakan tindakan intelektual untuk melengkapi proses

keperwatan menandakan seberapa jauh diagncosa keperawatan, rencana

tindakan, dan pelaksanaan sudah berhasil (Nursalam,2004).

Setelah penulis melakukan tindakan keperawatan pada pasien

deangan Asm a Bronchial selama 6 (enam) hari mulai tanggal 12 April

sampai 18 .Adapun evaluasi yang penulis dapatkan pada diagnosa adalah

pasien sudah mendapatkan hubungan saling percaya antara keluarga dan

perawat, sehingga evaluasi yang diperoleh keluarga sudah mengetahui

tentang pengertian, penyebab,tanda-tanda Asma Bronchial,pencegahan,

akibat lanjut,perawatan, pembuatan obat tradisional, cara memodifikasi


25

lingkungan dan dapat menyebutkan tempat pelayanan kesehatan yang

dapat dikunjungi.