You are on page 1of 25

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rumah Sakit

2.1.1 Pengertian rumah sakit

Istilah hospital yang sekarang dikenal di Indonesia sebagai ‘rumah sakit’

berasal dari kata Yunani yaitu Hospitium. Hospitium adalah suatu tempat untuk

menerima orang-orang asing dan penziarah di zaman dahulu. Dalam bentuknya

yang pertama, rumah sakit memang hanya melayani para penziarah, orang-orang

miskin dan para penderita penyakit pes (sampar).

Seiring dengan perjalanan waktu, rumah sakit berkembang setahap demi

setahap hingga menjadi bentuknya yang kompleks seperti sekarang. Saat ini,

rumah sakit merupakan suatu institusi di mana segenap lapisan masyarakat bisa

datang untuk memperoleh upaya penyembuhan. Upaya inilah yang merupakan

fungsi utama suatu rumah sakit pada umumnya.

Adapun beberapa pengertian rumah sakit :

1. Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian

integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi

menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit

(kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah

sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat

penelitian medik.

2. American Hospital Association di tahun 1978 (Aditama,2010) menyatakan

bahwa rumah sakit adalah suatu institusi yang fungsi utamanya adalah

10
Universitas Sumatera Utara
11

memberikan pelayanan kepada pasien, diagnostik, dan terapeutik untuk

bebagai penyakit dan masalah kesehatan, baik yang bersifat bedah maupun

non bedah.

3. Menurut Yu 1997 (Aditama, 2010) menyatakan bahwa istilah hospital

berasal dari bahasa Perancis kuno yang dapat didefinisikan sebagai tempat

untuk istirahat dan hiburan, institusi sosial untuk mereka yang

membutuhkan akomodasi, lemah dan sakit, institusi sosial untuk pendidikan

dan kaum muda, serta institusi untuk merawat mereka yang sakit dan cedera.

4. Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang

dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang

menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

5. Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan

pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (PERMENKES RI

Nomor 56 Tahun 2014).

2.1.2 Tugas dan fungsi rumah sakit

Berdasarkan Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit

Pasal 4 dan Pasal 5, dinyatakan bahwa rumah sakit mempunyai tugas memberikan

pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yaitu pelayanan kesehatan yang

meliputi promotif, kuratif, dan rehabilitatif serta melaksanakan upaya pelayanan

kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan

Universitas Sumatera Utara


12

penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan

peningkatan dan pencegahan serta pelaksanaan upaya rujukan.

Menurut Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, fungsi

rumah sakit adalah :

1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai

dengan standar pelayanan rumah sakit.

2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan

kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan

medis.

3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam

rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi

bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan

memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidnag kesehatan.

2.1.3 Jenis Pelayanan Rumah Sakit

Berdasarkan UU No 44 Tahun 2009, Rumah Sakit dapat dibagi

berdasarkan jenis pelayanan dan pengolahannya :

1. Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, rumah sakit dibagi atas :

a. Rumah sakit umum, yaitu rumah sakit yang memberikan pelayanan

kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.

b. Rumah sakit khusus, dimana rumah sakit memberikan pelayanan

utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu

Universitas Sumatera Utara


13

berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ jenis penyakit

atau kekhususan lainnya.

Rumah sakit umum dan rumah sakit khusus diklasifikasikan

berdasarkan fasilitas dan kemampuan rumah sakit, yaitu terdiri dari

kelas A, B, C, dan D.

2. Berdasarkan pengolahannya, rumah sakit dibagi atas :

a. Rumah sakit publik, yaitu rumah sakit yang dikelola baik oleh

pemerintah, pemerintah daerah, dan badan hukum yang bersifat

nirlaba. Rumah sakit publik yang dikelola oleh pemerintah dan

pemerintah daerah diselenggarakan berdasarkan pengelolahan.

b. Rumah sakit privat dikelola oleh badan hukum dengan tujuan

profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero.

2.1.4 Indikator Mutu Pelayanan Rumah Sakit

Adapun indikator yang berpengaruh terhadap mutu pelayanan rumah sakit

yaitu:

1. Bed Occupancy Rate (BOR)

Persentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator

ini memberikan gambaran tentang tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan

tempat tidur Rumah Sakit.

Universitas Sumatera Utara


14

2. Average Length of Stay (ALOS)

Indikator ini juga merupakan gambaran tingkat efisiensi manajemen

pasien di sebuah RS melalui rata-rata lamanya perawatan seorang pasien.

3. Bed Turn Over (BTO)

Frekuensi pemakaian tempat tidur dalam satu satuan waktu tempat tidur

Rumah Sakit.

4. Turn over Interval

Rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati dari saat ke saat sampai terisi

berikutnya. Indikator ini juga memberikan gambaran tingkat efisiensi

penggunaan tempat tidur.

2.2 Pelayanan Rawat Inap

Rumah sakit adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan

kesehatan perorangan meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif dan

rehabilitatif yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat

darurat.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 71 tahun

2013 Pasal 1 tentang pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan

kesehatan perorangan yang bersifat non spesialistik (primer) yang meliputi rawat

Universitas Sumatera Utara


15

jalan dan rawat inap. Rawat inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang

bersifat non spesialistik dan dilaksanakan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama

untuk keperluan observasi, perawatan, diagnosis, pengobatan dan/atau pelayanan

medis lainnya dimana peserta dan/atau anggota keluarganya dirawat inap paling

singat 1 (satu) hari.

Ruang pasien rawat inap adalah ruang untuk pasien yang memerlukan

asuhan dan pelayanan keperawatan dan pengobatan secara berkesinambungan

lebih dari 24 jam. Untuk tiap-tiap rumah sakit akan mempunyai ruang perawatan

dengan nama sendiri-sendiri sesuai dengan tingkat pelayanan dan fasilitas yang

diberikan oleh pihak rumah sakit kepada pasiennya (Kemenkes RI, 2012).

Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang

terdapat di Rumah Sakit yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi

pelayanan. Pelayanan ruang rawat inap meliputi observasi, perawatan, diagnosis,

pengobatan, rehabilitasi medis, dan/atau pelayanan kesehatan lainnya dengan

menempati tempat tidur (PerMenKes No 12 tahun 2013).

Di ruang rawat inap pasien menjalani 5 tahap standar pelayanan

perawatan, yang dikeluarkan oleh American Nursing Association/ ANA (Standar

Praktek PPNI), yaitu:

1. Standar I : Perawat mengumpulkan data tentang kesehatan klien

2. Standar II : Perawat menetapkan diagnosa keperawatan

3. Standar III : Perawat mengembangkan rencana asuhan keperawatan

yang berisi rencana tindakan untuk mencapai hasil yang diharapkan

Universitas Sumatera Utara


16

4. Standar IV : Perawat mengiplementasikan tindakan yang sudah

ditetapkan dalam rencana asuhan keperawatan

5. Standar V : Perawat mengevaluasi perkembangan klien dalam

mencapai hasil akhir yang sudah ditetapkan.

2.3 Tenaga Keperawatan

Menurut Aditama (2010) yang mengutip Lokakarya Keperawatan

Nasional 1983, keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan

professional yang merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang

didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan. Layanan ini berbentuk layanan bio-

psiko-sosio-spiritual komprehensif yang ditujukan bagi individu, keluarga,

kelompok, dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh

proses kehidupan manusia.

Perawat adalah seorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam

maupun luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Permenkes RI

Nomor 17 Tahun 2013). Kegiatan tenaga perawat meliputi pelaksanaan asuhan

keperawatan, pelaksanaan upaya promotif, preventif, pemulihan dan

pemberdayaan masyarakat serta pelaksanaan tindakan keperawatan

komplementer.

Keperawatan mempunyai beberapa tujuan, antara lain memberi bantuan

yang paripurna dan efektif kepada klien serta memenuhi kebutuhan dasar manusia

(KDM) klien. Sedangkan fungsi utama perawat adalah membantu klien, baik

dalam kondisi sakit maupun sehat, guna mencapai derajat kesehatan yang optimal

Universitas Sumatera Utara


17

melalui layanan keperawatan. Prinsip-prinsip keperawatan tersebut menunjukkan

bahwa profesi keperawatan memegang peranan penting dalam sistem kesehatan.

2.3.1 Pelayanan Keperawatan

Keperawatan adalah salah satu profesi di rumah sakit yang berperan

penting dalam penyelenggaraan upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan di

rumah sakit. James Willan dalam buku Hospital Management (1990) dikutip oleh

Aditama (2010) menyebutkan bahwa Nursing Department mempunyai beberapa

tugas, seperti: (1) memberikan pelayanan keperawatan pada pasien, baik untuk

kesembuhan ataupun pemulihan status fisik dan mentalnya, (2) memberikan

pelayanan lain bagi kenyamanan dan keamanan pasien, seperti penataan tempat

tidur dll, (3) melakukan tugas-tugas administratif, (4) menyelenggarakan

pendidikan keperawatan berkelanjutan, (5) melakukan berbagai penelitian/riset

untuk senantiasa meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.

Untuk dapat melakukan tugas-tugas di atas, maka Nursing Department di

rumah sakit perlu memperhatikan beberapa hal, seperti :

1. Mengupayakan semaksimal mungkin kesembuhan seorang pasien

sehingga pasien tersebut mendapat derajat kesehatan sebaik-baiknya.

2. Sepanjang keadaan memungkinkan, mengikutsertakan keluarga pasien

dalam proses perawatan, misalnya memberikan makan atau mengganti

baju.

Universitas Sumatera Utara


18

3. Mengelompokkan pasien berdasar berat ringannya penyakit, sehingga

kelompok pasien yang relatif berat dapat ditempatkan tidak jauh dari nurse

station dan relatif mendapat perhatian yang lebih besar.

John Griffith (1987) dalam Aditama (2010) menyatakan bahwa kegiatan

keperawatan di rumah sakit dapat dibagi menjadi keperawatan klinik dan

manajemen keperawatan. Kegiatan keperawatan klinik antara lain :

1. Pelayanan keperawatan personal (personal nursing care), yang antara lain

berupa pelayanan keperawatan umum dan atau spesifik untuk sistem tubuh

tertentu, pemberian motivasi dan dukungan emosi pada pasien, pemberian

obat, dan lain-lain.

2. Berkomunikasi dengan dokter dan petugas penunjang medis, mengingat

perawat selalu berkomunikasi dengan pasien setiap waktu sehingga

mengetahui keadaan pasien. Berbagai hal tentang keadaan pasien perlu

dikomunikasikan dengan dokter atau petugas lain.

3. Menjalin hubungan dengan keluarga pasien. komunikasi yang baik dengan

keluarga/kerabat pasien akan membantu proses penyembuhan pasien itu

sendiri. Keluarga perlu mendapat kejelasan sampai batas tertentu tentang

keadaan si pasien dan berpartisipasi aktif dalam proses penyembuhannya.

4. Melakukan penyuluhan kesehatan dan upaya pencegahan penyakit.

Program ini dapat dilakukan pada pasien dengan materi spesifik sesuai

penyakit yang dideritanya. Tetapi, dapat juga diberikan pada pengunjung

rumah sakit secara umumnya, bahkan masyarakat di luar dinding rumah

sakit sekalipun.

Universitas Sumatera Utara


19

Dalam hal manajemen keperawatan di rumah sakit, tugas yang harus

dilakukan adalah :

1. Penanganan administratif, antara lain dapat berupa pengurusan masuknya

pasien ke rumah sakit (patient admission), pengawasan pengisian

dokumen catatan medik dengan baik, membuat penjadwalan proses

pemeriksaan/ pengobatan pasien dan lain-lain.

2. Membuat penggolongan pasien sesuai berat ringannya penyakit, dan

kemudian mengatur kerja perawatan secara optimal pada setiap pasien

sesuai kebutuhannya masing-masing.

3. Memonitor mutu pelayanan pada pasien, baik pelayanan keperawatan

secara khusus maupun pelayanan lain secara umum.

4. Manajemen ketenagaan dan logistik keperawatan, kegiatan ini meliputi

staffing, scheduling, assignment, dan budgeting.

Terdapat 5 tahapan proses keperawatan yang dikutip dari Perry & Potter

2000 (Dinarti dkk, 2009), yaitu:

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan. Kegiatan

yang dilakukan pada saat pengkajian adalah mengumpulkan data,

mengorganisasikan data dan mencatat data yang diperoleh. Tujuan

pengkajian adalah untuk mengumpulkan informasi dan membuat data

dasar pasien. data yang diperoleh sangat berguna untuk perumusan

diagnosa keperawatan dan mengembangkan rencana keperawatan sesuai

kebutuhan pasien. Metode utama yang dapat digunakan dalam

Universitas Sumatera Utara


20

pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik.

Data hasil pengkajian meliputi data dasar dan data fokus dicatat pada

formulir pengkajian.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan pernyataan yang dibuat oleh perawat

yang memberi gambaran tentang masalah atau status pasien yang

ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data hasil pengkajian.

Pernyataan diagnosis keperawatan harus jelas, singkat, dan lugas terkait

masalah kesehatan pasien berikut penyebabnya yang dapat diatasi melalui

tindakan keperawatan. Menurut Capernito 1985 (Dinarti dkk, 2009),

diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan yang nyata (actual)

dialami pasien ataupun masalah potensial yang mungkin dialami pasien

dimana perawat mempunyai wewenang untuk menanganinya dalam

bentuk tindakan keperawatan, baik untuk mencegah, mengatasi ataupun

mengurangi masalah tersebut.

3. Rencana Keperawatan

Proses perencanaan meliputi perumusan tujuan dan menentukan

intervensi-intervensi yang tepat. Proses ini dimulai dengan membuat daftar

semua masalah-masalah pasien dan mencari masukan dari pasien atau

keluarga pasien tentang penentuan tujuan akhir yang dapat diterima dan

dapat dicapai secara rasional. Pernyataan tujuan akhir harus dinyatakan

dalam bentuk pernyataan yang dapat diukur, yang secara obyektif

menunjukkan perkembangan terhadap pemecahan masalah yang

Universitas Sumatera Utara


21

ditemukan. Bagian lain dari perencanaan keperawatan adalah menentukan

intervensi yang digunakan perawat dengan melibatkan pasien dan keluarga

untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Bertambahnya informasi

selama pengkajian dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan khusus.

4. Tindakan Keperawatan

Implementasi proses keperawatan terdiri dari rangkaian aktivitas

keperawatan dari hari ke hari yang harus dilakukan dan didokumentasikan

dengan cermat. Perawat melakukan pengawasan terhadap efektifitas

intervensi yang dilakukan, bersamaan pula menilai perkembangan pasien

terhadap pencapaian tujuan atau hasil yang diharapkan. Pada tahap ini,

perawat harus melakukan tindakan keperawatan yang ada dalam rencana

keperawatan.

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang

merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir

yang teramati dan tujuan atau criteria hasil yang dibuat pada tahap

perencanaan.

2.4 Analisis Beban Kerja

Menurut KEPMENKES No. 81 Tahun 2004 dijelaskan bahwa analisis

beban kerja adalah upaya menghitung beban kerja pada satuan kerja dengan

menjumlah semua beban kerja dan selanjutnya membagi dengan kapasitas

perorangan per satuan waktu.

Universitas Sumatera Utara


22

Beban kerja adalah banyaknya jenis pekerjaan yang harus diselesaikan

oleh tenaga kesehatan professional dalam saru tahun dalam satu sarana pelayanan

kesehatan (KEPMENKES No. 81 Tahun 2004). Menurut Ilyas (2011), beban

kerja dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukan staff pada waktu kerja baik

kegiatan keperawatan langsung, tidak langsung, maupun kegiatan tidak produktif.

1. Kegiatan Keperawatan Langsung

Kegiatan keperawatan langsung (Direct Care) adalah kegiatan yang

difokuskan pada pasien dan keluarganya, meliputi: komunikasi dengan

pasien dan keluarga pasien, pemerikasaan kondisi pasien, mengukur tanda-

tanda vital, tindakan keperawatan, pengobatan, nutrisi dan eliminasi,

kebersihan pasien, mobilisasi.

2. Kegiatan Keperawatan Tidak Langsung

Tindakan yang tidak langsug pada pasien tetapi berhubungan dengan

persiapan atau kegiatan untuk melengkapi asuhan keperawatan seperti:

mempersiapkan status pasien, memabaca buku rawat, mengikuti diskusi

atau pertemuan keperawatan dan medis.

3. Kegiatan Non Produktif

Kegiatan non produktif adalah kegiatan yang tidak terkait dengan tugas

dan tanggung jawab sebagai perawat, seperti: makan, minum, telepon

pribadi, ganti baju, ibadah.

Universitas Sumatera Utara


23

Dalam perhitungan beban kerja ada tiga cara dapat digunakan diantaranya

(Ilyas 2011) :

1. Work Sampling

Work sampling adalah suatu teknik untuk mengukur besaran masing-

masing pola kegiatan dari total waktu yang telah dilaksanakan dari suatu

kelompok kerja (unit kerja).

2. Time Motion Study

Teknik ini dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat kualitas dari

pelatihan bersertifikasi keahlian. Pengamatan dilakukan secara terus

menerus hingga pekerjaan selesai, kemudian dilakukan pengulangan pada

keesokan harinya. Teknik ini merupakan teknik yang sulit dilakukan,

berat, dan mahal, sehingga jarang dilakukan.

3. Daily Log

Daily log merupakan bentuk yang lebih sederhana dari work sampling.

Caranya adalah orang yang diteliti menuliskan sendiri kegiatan dan waktu

yang digunakan untuk penelitian tersebut. Oleh karena itu, teknik ini

sangat bergantung pada kejujuran dan kerjasama dari pegawai yang

menjadi sampel.

Universitas Sumatera Utara


24

2.5 Analisis Kebutuhan Tenaga Kesehatan dengan Metode Workload

Indicator Staff Need (WISN)

2.5.1 Pengertian Workload Indicator Staff Need (WISN)

Berdasarkan panduan manual yang dikeluarkan oleh WHO, Workload

Indicators of Staffing Need (WISN) merupakan sebuah standar pengukuran

kebutuhan tenaga kesehatan berdasarkan indikator beban kerja yang pertama kali

diuji coba sekitar tahun 1998. Metode WISN adalah alat manajemen sumber daya

yang menghitung kebutuhan staff berdasarkan beban kerja untuk kategori staff

tertentu dan jenis fasilitas kesehatan. Alat ini dapat diterapkan secara nasional,

regional, di fasilitas kesehatan tunggal, bahkan sebuah unit atau bangsal di rumah

sakit.

WISN juga merupakan metode perhitungan kebutuhan SDM yang tertera

dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:

81/Menkes/SK/I/2004 Tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber Daya

Manusia Kesehatan Di Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota Serta Rumah Sakit.

Metode WISN memiliki kelebihan yaitu mudah digunakan baik secara

teknis, komprehensif, realistis serta memberikan kemudahan dalam menentukan

variasi kebutuhan SDM dalam berbagai tipe layanan kesehatan seperti puskesmas

maupun rumah sakit. Namun metode WISN memiliki kelemahan, dimana sangat

diperlukan adanya kelengkapan data yang nantinya akan dianalisa secara statistik

dan akan mempengaruhi akurasi hasil WISN (WHO, 2010).

Universitas Sumatera Utara


25

2.5.2 Manfaat Workload Indicators of Staffing Need (WISN)

Penerapan metode WISN memberikan manfaat cukup besar dalam

pengelolaan SDM dalam suatu organisasi, antara lain:

1. Perencanaan ketenagaan mendatang

Pemanfaatan pertama yang dilakukan sesuai dengan hasil WISN adalah

sebagai dasar dalam perencanaan kebutuhan mendatang akan tenaga

kesehatan pada fasilitas kesehatan bersangkutan. Perencanaan ini harus

mampu mengantisipasi akan munculnya beban kerja lain dengan

meningkatkan standar profesi sesuai dengan standar terbaru yang relevan,

memperhitungkan perubahan kondisi ketenagaan melihat dari waktu kerja

tersedia, dan juga melakukan penyesuaian standar medis sesuai rata-rata

waktu yang telah dihitung.

2. Pengalokasian tenaga kesehatan

Hasil dari WISN akan dapat memberikan gambaran akan dampak dari

kurangnya tenaga kesehatan yang tersedia. Melalui upaya pengalokasian

tenaga kesehatan diharapkan dapat membantu meringankan beban kerja

tenaga kesehatan bersangkutan. Apabila menambah jumlah tenaga tidak

memungkinkan bisa diatasi dengan mengatur waktu kerja dengan cara

bergantian.

3. Peningkatan kualitas tenaga kesehatan

Rasio WISN yang rendah akan berakibat terhadap rendahnya kualitas

keluaran dari pelayanan kesehatan yang diberikan. Upaya–upaya untuk

meningkatkan kualitas tenaga kesehatan menjadi prioritas sesuai hasil

Universitas Sumatera Utara


26

WISN apabila dengan menambah jumlah tenaga sangat tidak

memungkinkan.

4. Upaya pendistribusian tenaga kesehatan yang ada saat ini serta

mengurangi tekanan beban kerja.

5. Membandingkan hasil dari WISN pada tempat pelayanan kesehatan yang

serupa akan dapat membantu kita dalam pendistribusian dengan tepat.

Tempat pelayanan kesehatan mana yang terlihat terjadi kekurangan tenaga

kesehatan, berapa besar tekanan beban kerjanya bisa sebagai dasar untuk

melakukan pemerataan distribusi tenaga kesehatan.

2.5.3 Langkah - langkah metode Workload Indicator Staff Need (WISN)

Adapun langkah perhitungan kebutuhan SDM berdasarkan WISN ini

meliputi 5 langkah, yaitu:

1. Menetapkan Waktu Kerja Tersedia

Menetapkan waktu kerja tersedia tujuannya adalah diperolehnya waktu

kerja tersedia masing-masing kategori SDM yang bekerja selama kurun

waktu satu tahun. Data yang dibutuhkan untuk menetapkan waktu kerja

tersedia adalah sebaga berikut:

a. Hari Kerja, sesuai ketentuan berlaku di tempat kerja atau Peraturan

Daerah setempat, pada umumnya dalam 1 minggu 6 hari kerja. Dalam

1 tahun 300 hari kerja (6 hari x 50 minggu). (A)

b. Cuti Tahunan, sesuai ketentuan setiap SDM memiliki hak cuti 12 hari

kerja setiap tahun. (B)

Universitas Sumatera Utara


27

c. Pendidikan dan pelatihan, sesuai ketentuan yang berlaku di tempat

kerja untuk mempertahankan dan meningkatkan

kompetensi/profesionalisme setiap kategori SDM memiliki hak untuk

mengikuti pelatihan/kursus/seminar lokakarya dalam 6 hari kerja. (C)

d. Hari Libur Nasional, berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Terkait

tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama, tahun 2016

ditetapkan.(D)

e. Ketidak hadiran kerja, sesuai data rata-rata ketidak hadiran kerja

(selama kurun waktu 1 tahun) karena alasan sakit, tidak masuk dengan

atau tanpa pemberitahuan/ijin. (E)

f. Waktu kerja, sesuai ketentuan yang berlaku di tempat kerja atau

Peraturan Daerah, pada umumnya waktu kerja dalam 1 hari adalah 8

jam (6 hari kerja/minggu). (F)

Berdasarkan data tersebut selanjutnya dilakukan perhitungan untuk

menetapkan waktu tersedia dengan rumus sebagai berikut:

Waktu Kerja Tersedia = {A – (B+C+D+E)} x F

Keterangan :

A = Hari Kerja

B = Cuti Tahunan

C = Pendidikan & Pelatihan

D = Hari Libur Nasional

E = Ketidak Hadiran Kerja

F = Waktu Kerja

Universitas Sumatera Utara


28

Apabila ditemukan adanya perbedaan rata-rata ketidakhadiran kerja atau

RS menetapkan kebijakan untuk kategori SDM tertentu dapat mengikuti

pendidikan dan pelatihan lebih lama dibanding kategori SDM lainnya,

maka perhitungan waktu kerja tersedia dapat dilakukan perhitungan

menurut kategori SDM.

2. Menetapkan Unit Kerja Dan Kategori SDM

Menetapkan unit kerja dan kategori SDM tujuannya adalah diperolehnya

unit kerja dan kategori SDM yang bertanggung jawab dalam

menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan perorangan pada pasien,

keluarga dan masyarakat didalam dan diluar RS. Data dan informasi yang

dibutuhkan untuk penetapan unit kerja dan kategori SDM adalah sebagai

berikut :

a. Bagan struktur organisasi rumah sakit dan uraian tugas pokok dan

fungsi masing-masing unit dan sub-unit kerja.

b. Keputusan Direktur RS tentang pembentukan unit kerja strutural dan

fungsional.

c. Data pegawai berdasarkan pendidikan yang bekerja pada tiap unit kerja

di RS.

d. PP 32 tahun 1996 tentang SDM Kesehatan.

e. Peraturan perundang-undangan berkaitan dengan jabatan fungsional

SDM kesehatan.

f. Standar profesi, standar pelayanan dan standar operasional prosedur

(SOP) pada tiap unit kerja RS.

Universitas Sumatera Utara


29

Apabila ditemukan unit kerja fungsional yang belum diatur atau

ditetapkan oleh Direktur, Depkes, Pemda (Pemilik RS) perlu ditelaah

terlebih dahulu sebelum disepakati ditetapkan keberadaannya. Selanjutnya

apakah fungsi, kegiatan-kegiatannya dapat digabung atau menjadi bagian

unit kerja yang telah ada.

Untuk menghindari hambatan atau kesulitan perhitungan

kebutuhan SDM berdasarkan beban kerja, sebaiknya tidak menggunakan

metode analisis jabatan untuk menetapkan kategori SDM sesuai

kompetensi yang dipersyaratkan dalam melaksanakan suatu

pekerjaan/kegiatan di tiap unit kerja.

3. Menyusun Standar Beban Kerja

Standar beban kerja adalah volume/kuantitas beban kerja selama 1

tahun per kategori SDM. Standar beban kerja untuk suatu kegiatan pokok

disusun berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan (rata-

rata waktu) dan waktu yang tersedia per-tahun yang dimiliki oleh masing-

masing kategori tenaga. Data dan informasi yang dibutuhkan untuk

menetapkan beban kerja masing-masing kategori SDM utamanya adalah

sebagai berikut :

a. Kategori SDM yang bekerja ada tiap unit kerja sebagaimana hasil yang

telah ditetapkan pada langkah kedua.

b. Standar profesi, standar pelayanan yang berlaku.

c. Rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh tiap kategori SDM untuk

melaksanakan/menyelesaikan berbagai pekerjaan.

Universitas Sumatera Utara


30

d. Data dan informasi kegiatan pelayanan pada tiap unit kerja.

Beban kerja masing-masing kategori SDM di tiap unit kerja adalah

meliputi:

a. Kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh masing-masing kategori SDM.

Kegiatan pokok adalah kumpulan berbagai jenis kegiatan sesuai

standar pelayanan dan standar operasional prosedur (SOP) untuk

menghasilkan pelayanan perusahaan yang dilaksanakan oleh SDM

dengan kompetensi tertentu.

b. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tiap kegiatan

pokok. Rata-rata waktu adalah waktu yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan suatu kegiatan pokok, oleh masing-masing kategori

SDM pada tiap unit kerja. Kebutuhan waktu untuk menyelesaikan

kegiatan sangat bervariasi dan dipengaruhi standar pelayanan, standar

operasional prosedur (SOP), sarana dan prasarana medik yang tersedia

serta kompetensi SDM.

Rata-rata waktu ditetapkan berdasarkan pengamatan dan

pengalaman selama bekerja dan kesepakatan bersama. Agar diperoleh

data rata-rata waktu yang cukup akurat dan dapat dijadikan acuan,

sebaiknya ditetapkan berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan tiap kegiatan pokok oleh SDM yang memiliki

kompetensi, kegiatan pelaksanaan standar pelayanan, standar

operasional prosedur (SOP), dan memiliki etos kerja yang baik.

Universitas Sumatera Utara


31

c. Standar beban kerja per satu tahun masing-masing kategori SDM.

Standar beban kerja adalah volume/kuantitas beban kerja selama satu

tahun per kategori SDM. Standar beban kerja untuk suatu kegiatan

pokok disusun berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk

menyelesaikannya.

Adapun rumus perhitungan standar beban kerja adalah sebagai berikut:

4. Menyusun Standar Kelonggaran

Penyusunan standar kelonggaran tujuannya adalah diperolehnya faktor

kelonggaran tiap kategori SDM meliputi jenis kegiatan dan kebutuhan

waktu untuk menyelesaikan suatu kegiatan yang tidak terkait langsung

atau dipengaruhi tinggi rendahnya kualitas atau jumlah kegiatan

pokok/pelayanan. Penyusunan faktor kelonggaran dapat dilaksanakan

melalui pengamatan dan wawancara kepada tiap kategori tentang:

a. Kegiatan-kegiatan yang tidak terkait langsung dengan pelayanan pada

klien, misalnya: rapat, penyusunan laporan kegiatan, menyusun

kebutuhan bahan habis pakai.

b. Frekuensi kegiatan dalam suatu hari, minggu, bulan.

c. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kegiatan.

Selama pengumpulan data kegiatan penyusunan standar beban kerja,

sebaiknya mulai dilakukan pencatatan tersendiri apabila ditemukan

kegiatan yan tidak dapat dikelompokkan atau sulit dihitung beban

kerjanya karena tidak/kurang berkaitan dengan pelayanan pada pasien

Universitas Sumatera Utara


32

untuk selanjutnya digunakan sebagai sumber data penyusunan faktor

kelonggaran tiap kategori SDM.

Adapun rumus dalam melakukan perhitungan standar Kelonggaran yaitu:

5. Perhitungan Kebutuhan Tenaga Per Unit Kerja

Perhitungan kebutuhan SDM per unit kerja tujuannya adalah diperolehnya

jumlah per unit kerja sesuai beban kerja selama 1 tahun. Sumber data yang

dibutuhkan untuk perhitungan kebutuhan SDM per unit kerja meliputi:

a. Data yang diperoleh dari langkah-langkah sebelumnya yaitu:

1. Waktu kerja tersedia

2. Standar beban kerja

3. Standar kelonggaran masing-masing kategori SDM.

4. Kuantitas kegiatan pokok tiap unit kerja selama kurun waktu satu

tahun. Untuk penyusunan kuantitas kegiatan pokok Instalasi Rawat

Inap dibutuhkan data dasar sebagai berikut:

a. Jumlah tempat tidur

b. Jumlah pasien masuk/keluar dalam 1 tahun

c. Rata-rata sensus harian

d. Rata-rata lama pasien di rawat (LOS)

Data kegiatan yang telah diperoleh dan standar beban kerja serta standar

kelonggaran merupakan sumber data untuk perhitungan kebutuhan SDM di setiap

instalasi dan unit kerja dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara


33

2.6 Kerangka Konsep

Kerangka konsep ini menggambarkan seberapa besar jumlah tenaga

keperawatan yang diperlukan berdasarkan beban kerja dengan menggunakan metode

WISN, dimana hal yang mempengaruhi dalam melakukan analisis dan perhitungan

ini adalah waktu kerja yang tersedia yang dipunyai tenaga keperawatan selama satu

tahun, menetapkan unit kerja dan kategori SDM, menyusun standar beban kerja yang

dapat dikerjakan seorang tenaga keperawatan salaam satu tahun dengan rata-rata

waktu yang telah ditetapkan terhadap waktu kerja yang tersedia, dan standar

kelonggaran. Dimana keempat variabel ini saling berkaitan dan akan menentukan

jumlah tenaga keperawatan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan beban kerja.

Universitas Sumatera Utara


34

Menetapkan Waktu Kerja


1. Hari kerja
2. Cuti tahunan
3. Pendidikan dan Pelatihan
4. Hari libur nasional
5. Ketidakhadiran kerja
6. Waktu kerja

Menyusun Standar Menetapkan Unit


Kelonggaran Kerja dan Kategori
1. Kegiatan- SDM
kegiatan yang 1. Bagan strutur
tidak terkait organisasi RS dan
langsung dengan uraian Tupoksi
pelayanan pada Jumlah 2. Data Pegawai
pasien. Kebutuhan 3. Peraturan perundang-
2. Frekuensi Tenaga undangan yang
kegiatan dalam Keperawatan terkait
suatu hari, 4. Standar profesi,
minggu, bulan. standar pelayanan
3. Waktu yang dan standar
dibutuhkan untuk operasional prosedur
menyelesaikan. (SOP)

Menyusun Standar Beban Kerja


1. Kegiatan pokok yang dilaksanakan
oleh masing-masing kategori SDM
2. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan tiap kegiatan pokok.
3. Standar beban kerja per satu tahun
masing-masing kategori SDM.

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

Universitas Sumatera Utara