You are on page 1of 10

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN

CEREBRAL PALSY

A. DEFINISI
Cerebral palsy adalah suatu gangguan non-spesifik yang disebabkan oleh
abnormalitas sistem motor piramida (motor korteks, basal ganglia dan otak kecil) yang
ditandai dengan kerusakan pergerakan pada serangan awal. (Suriadi dan Rita, 2010)
Cerebral palsy adalah suatu kelaian gerakab dan postur yang tidak progresif, oleh
karena suatu kerusakan atau gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang
sedamg tumbuh. (Soetjomimgsih. 1994)
Yang pertama kali memperkenalkan penyakit ini adalah William John Little (1843),
yang menyebutnya dengan istilah “cerebral diplegia”, sebagai akibat prematuritas atau
afiksia neonatorum. Sir William Olser adalah yang pertama kali memperkenalkan istilah
cerebral palsy, sedangkan Sigmund Freud menyebutnya dengan istilah Infantile Cerebral
Paralysis. Nama lainnya adalah Static Encephalopathies of Childhood.

B. ETIOLOGI
Cerebral palsy dapat disebabkan faktor genetic ataupun faktor lainnya. Penyebab cerebral
palsy dapat dibagi menjadi tiga bagian yait:
1. Pranatal
a. Infeksi intrauterin : TORCH, sifilis, rubella, toksoplasmosis, sitomegalovirus.
b. Radiasi.
c. Asfiksia intrauterine ( abrupsio plasenta previa, anoksia maternal, kelainan
umbilicus, perdarahan plasenta, ibu hipertensi, dan lain-lain ).
d. Toksemia grafidarum.

2. Perinatal
a. Anoksia/Hipoksia
b. Perdarahan otak
c. Prematuritas
d. Postmaturitas
e. Hiperbilirubinemia
f. Ikterus
g. Meningitis Purulenta

1
3. Postnatal
Kerusakan pada otak saat postnatal terjadi pada masa mulai bayi dilahirkan
sampai anak berusia 5 tahun. Usia 5 tahun dijadikan patokan karena perkembangan
otak dianggap telah selesai. Kerusakannya dapat terjadi disebabkan oleh:
a. Trauma Kepala
b. Meningitis / encephalitis yang terjadi 6 bulan pertama
c. Racun : logam berat, karbonmonoksida (CO)

C. KLASIFIKASI
Terdapat bermacam-macam klasifikasi cerebral palsy tergantung berdasarkan apa
klasifikasi itu dibuat.
1. Berdasarkan gejala klinis cerebral palsy dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
a. CP spastik
CP spastic adalah bentuk yang paling sering (80% dari kasus CP). Cp spastik
dikarakteristikkan dengan hipertonik dan buruknya kendali postur, keseimbangan,
dan koordinasi. Keterampilan motorik kasar dan halus terganggu. CP spastik
diklasifikasikan jumlah ekstremitas yang terkena, yaitu:
1) Monoplegi, hanya meliputi satu ekstremitas
2) Dipelgia, meliputi tungkai dan paling sering terjadi pada bayi prematur dan
yang mengalami hemoragi intraventrikular atau leukomalasia iskemik. Tidak
adanya koordinasi ekstremitas atas pada lengan derajat ringan dapat juga
terlihat.
3) Triplegia, mengenai 3 ektremitas yang sering adalah mengenai 2 lengan dan 1
kaki.
4) Quadriplegia, meliputi semua ekstremitas, dengan derajat yang sama
5) Hemiplegia, biasanya lebih sering mengenai lengan daripada tungkai.

b. CP diskinetik/atetoid
Bentuk CP ini mempunyai arakteristi gerakan menulis yang tidak terkontrol
dan perlahan. Gerakan abnormal ini mengenai tangan, kaki, lengan, atau tungkai,
otot muka dan lidah, menyebabkan anak tampak menyeringai dan selalu
mngeluarkan air liur. Gerakan sering meningkat selama periode stress dan hilang
pada saat tidur. Penderita juga mengalami masalah koordinasi gerakan otot bicara
(disartria).
2
1) Atetosisgerakan menggeliat perlahan yang meliputi wajah dan ekstremitas
2) Diskinetik mulut (mengiler)
3) Distonia (gangguan tonus otot)---distorsi kedutan ritmik yang meliputi badan
dan ekstremitas proksimal
4) Koreagerakan wajah dan ekstremitas tidak beraturan yang cepat
5) Balismusgerakan menjatuhkan ekstremitas

c. CP Ataksia
Penderita yang terkena sering menunjukkan koordinasi yang buruk, berjalan
yang tidak stabil dengan gaya berjalan kakai terbuka lebar, meletakkan kedua kaki
dengan posisi yang saling berjauhan, kesulitan dalam melakukan gerakan cepat
dan tepat, misalnya menulis atau mengancingkan baju. Mereka juga sering
megalami tremor, dimulai dengan gerakan volunter misalnya mengambil buku,
menyebabkan gerakan seperti menggigil pada bagian tubh yang baru digunakan
dan tampak memburuk sama dengan saat penderita akan menuju objek yang
dikehendaki.

d. CP Campurann
Penderita mengalami lebih dari satu bentuk CP yag ada. Bentuk CP yang
sering dijumpai adalah spastik dengan gerakan atetoid tetapi kombinasi lain juga
mungkin dijumpai.

2. Berdasarkan derajat kemampuan fungsional, cerebral palsy dibagi menjadi:


a. Golongan ringan
Penderita masih dapat melakukan pekerjaan/aktivitas sehari-hari, sehingga sama
sekali/hanya sedikit membutuhkan bantuan.
b. Golongan sedang
Aktivitas sangat terbatas sekali. Penderita membutuhkan bermacam-macam
bantuan/pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri, bergerak atau
berbicara sehingga dapat bergaul ditengah masyarakat.
c. Golongan berat
Penderita sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas fisik dan tidak mungkin
dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Sebaiknya penderita seperti ini
ditampung pada tempat perawatan khusus.
3
D. PATOFISIOLOGI
 Adanya malformasi pada otak, penyumbatan pada vaskuler, atropi, hilangnya
neuron dan degenerasi laminar akan menimbulkan narrower gyri, saluran sulci
dan berat otak rendah.
 Type athetoid/dyskenetik disebabkan oleh kernicterus dan penyakit hemolitik
pada bayi baru lahir, adanya pigmen berdeposit dalam basal ganglia dan beberapa
saraf nuclei cranial. Selain itu juga dapat terjadi bila bangsal ganglia mengalami
injury yang ditandai dengan tidak terkontrol; pergerakan yang tidak disadari dan
lambat.
 Type CP hemiparetic, karena trauma kortek atau CVA pada arteri cerebral tengah.
 Spastik CP yang paling sering dan melibatkan kerusakan pada motor korteks yang
ditandai dengan ketegangan otot dan hiperresonansif. Refleks tendon yang dalam
akan meningkatkan dan menstimulasi yang dapat menyebabkan pergerakan
sentakan yang tiba-tiba pada sedikit atau semua ekstremitas.
 Ataxic CP adanya injury dari serebelum yang mana mengatur koordinasi
keseimbangan dan kinestik. Akan tampak pergerakan yang tidak terkoordinasi
pada ekstremitas atas bila anak memegang/menggapai benda. Ada pergerakan
berulang dan cepat namun minimal.
 Rigid/tremor/atonic CP ditandai dengan kekakuan pada kedua otot fleksor dan
ekstensor. Type ini mempunyai prognosis yang buruk karena ada deformitas
multiple yang terkait dengan kurangnya pergerakan aktif

E. PATHWAY
Terlampir

F. MANIFESTASI KLINIK
Gangguan motorik berupa kelainan fungsi dan lokalisasi serta kelainan bukan motorik
yang menyulitkan gambaran klinis cerebral palsy. Kelainan fungsi motorik terdiri dari:
1. Spastisitas
Terdapat peninggian tonus otot dan reflek yang disertai dengan klonus dan
reflek babinski yang positif . Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang
meskipun penderita dalam keadaan tidur. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya

4
pada suatu gabungan otot , karena itu tampak sikap yang khas dengan kecendrungan
terjadi kontraktur, misalnya lengan dalam aduksi, fleksi pada sendi siku dan
pergelangan tangan dalam pronasi serta jari jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari
melintang di telapak tangan. Tungkai dalam sikap aduksi, fleksi pada sendi paha dan
lutut,kaki dalam fleksi plantar dan telapak kaki berputar ke dalam. Tonic neck reflex
dan refleks neonatal menghilang pada waktunya. Kerusakan biasanya terletak di
traktus kortikospinalis. Golongan spastisitas ini meliputi 2/3 -3/4 penderita cerebral
palsy. Bentuk kelumpuhan spastisitas tergantung pada letak dan besarnya kerusakan
yaitu :
 Monoplegia/monoparesis
Kelumpuhan ke empat anggota gerak ,tetapi salah satu anggota gerak
lebih hebat dari yang lainnya.
 Hemiplegia/hemiparesis
Kelumpuhan lengan dan tungkai di pihak yang sama
 Diplegia/diparesis :
Kelumpuhan ke empat anggota gerak tetapi tungkai lebih hebat
daripada lengan
 Tetraplegia/tetraparesis :
Kelumpuhan ke empat anggota gerak tetapi lengan lebih atau sama
hebatnya dibandingkan dengan tungkai
2. Tonus otot yang berubah
Bayi pada golongan ini pada usia bulan pertama tampak flasit dan berbaring
seperti kodok yang terlentang, sehingga tampak seperti kelainan pada ’lower motor
neuron’. Menjelang umur 1 tahun barulah terjadi perubahan tonus otot dari redah
hingga tinggi. Bila dibiarkan berbaring tampak flasid dan sikapnya seperti kodok
terlentang. Tetapi bila dirangsang atau mulai diperiksa tonus ototnya berubah menjadi
spastis. Refleks otot yang normal dan refleks babinski negatif. Tetapi yang khas ialah
refleks neonatal dan tonic neck reflex’ menetap. Kerusakan biasanya terletak di
batang otak dan disebabkan oleh asfiksia perinatal atau ikterus. Golongan ini meliputi
10 – 20% dari kasus ‘cerebral palsy’
3. Koreo-atetosis
Kelainan yang khas ialah sikap yang abnormal dengan pergerakan yang terjadi
dengan sendirinya ( ‘involuntary movement’) . Pada 6 bulan pertama tampak bayi

5
flasd, tapi sesudah itu barulah muncul kelainan tersebut. Refleks neonatal menetap
dan tampak adanya perubahan tonus otot. Dapat timbul juga gejala spastisitas dan
ataksia. Kerusakan terletak di ganglia basal dan di sebabkan oleh asfiksia berat atau
ikterus kern pada masa neonatus. Golongan ini meliputi 5 – 15% dari kasus cerebral
palsi.
4. Ataksia
Ataksia ialah gangguan koordinasi. Bayi dalam golongan ini biasanya flasid
dan menunjukan perkembangan motorik yang terlambat . Kehilangan keseimbangan
tampak bila mulai belajar duduk. Mulai berjalan sangat lambat dan semu pergerakan
canggung dan kaku. Kerusakan terletak di cereblum.terdapat kira kira 5% dari kasus
cerebral palsy.
5. Gangguan pendengaran
Terdapat pada 5-10% anak dengan cerebral palsy. Gangguan berupa kelainan
neurogen terutama persepsi nada tinggi, sehingga sulit menangkap kata kata. Terdapat
pada golongan koreo-atetosis.
6. Gangguan bicara
Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retardasi mental. Gerakan yang
terjadi dengan sendirinya di bibir dan lidah menyebabkan sukar mengontrol otot otot
tersebut sehingga anak sulit membentuk kata kata dan sering tampak berliur.
7. Gangguan mata
Gangguan mata biasanya berupa strabismus konvergen dan kelainan refraki.
Pada keadaan asfiksia yang berat dapat terjadi katarak. Hampir 25% penderita
cerebral palsy menderita kelainan mata.

G. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Mengidentifikasi anak yang mempunyai resiko
b. Mengkaji riwayat kehamilan dan persalinan ibu
c. Mengkaji riwayat keperawatan anak
d. Melakukan pemeriksaan fisik
e. Mengkaji iritabel anak, kesukaran, dalam makan, perkembangan terlambat,
perkembangan pergerakan kurang, postur tubuh yang abnormal, refleksbayi
yang persisten, ataxic, kurangnya tonus otot.
f. Monitor respon untuk bermain
6
g. Kaji fungsi intelektual anak.
2. Diagnosa keperawatan
a. Risiko injury b.d spasme, pergerakan yang tidak terkontrol dan kejang
b. Gangguan mobilitas fisik b.d spasme dan kelemahan otot
c. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan neuromuscular dan kesukaran dalam
artikulasi
d. Perubahan nutrisi kurang kebutuhan tubuh b.d kesukaran menelan dan
meningkatnya aktivitas.
e. Perubahan proses berpikir b.d cerebral injury, ketidakmampuan belajar
f. Kurangnya perawatan diri b.d spasme otot meningkatnya aktivitas, perubahan
kognitif
g. Gangguan integritas kulit b.d penggunaan atau alat penyokong

3. Intervensi Keperawatan
a. DK : Risiko injury b.d spasme, pergerakan yang tidak terkontrol dan kejang
Tujuan : Anak akan selalu aman dan terhindar dari cedera atau injury
Intervensi
 Hindarkan anak dari benda-benda yang membahayakan
 Perhatikan anak-anak saat beraktivitas
 Gunakan alat pengaman bila diperlukan
 Bila kejang, pasang alat pengaman mulut agar lidah tidak tergigit
 Kolaborasi pemberian obat anti konvulsif.
b. DK : Gangguan mobilitas fisik b.d spasme dan kelemahan otot
Tujuan : Anak menunjukkan kemampuan dalam mobilisasi
Intervensi :
 Kaji pergerakan sendi-sendi dan tonus otot
 Lakukan reposisi setiap 2 jam
 Latih dalam menggunakan alat bantu jalan
 Latih dalam menggerakkan anggota tubuh
 Latih ROM (Range of Motion)
 Berikan periode istirahat
c. DK : Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan neuromuscular dan kesukaran
dalam artikulasi

7
Tujuan : Anak akan menunjukkan kemampuan komunikasi verbal yang baik
Intervensi :
 Kaji respon dalam berkomunikasi
 Latih dalam penggunaan bibir, mulut dan lidah
 Gunakan kartu/gambar-gambar/papan tulis untuk memfasilitasi
berkomunikasi
 Libatkan keluarga dalam melatih anak berkomunikasi.
 Ajarkan dan kaji makna non verbal
 Rujuk ke ahli terapi bicara
d. DK : Perubahan nutrisi kurang kebutuhan tubuh b.d kesukaran menelan dan
meningkatnya aktivitas.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi anak akan tetap terpenuhi ditandai dengan berat
badan dalam batas normal
Intervensi :
 Kaji pola makan anak
 Timbang berat badan setiap hari
 Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi yang adekuat dan
makanan yang disukai, banyak mengandung protein
 Kolaborasikan dalam pemberian makanan ekstra yang mengandung banyak
kalori
 Bantu anak selama memenuhi kebutuhan makan dan minum
e. DK : Perubahan proses berpikir b.d cerebral injury, ketidakmampuan belajar
Tujuan : Anak akan menunjukkan tingkat kemampuan belajar yang sesuai
Intervensi :
 Kaji tingkat pemahaman anak
 Ajarkan dalam memahami percakapan dengan verbal atau non verbal
 Ajarkan menulis dengan menggunakan media seperti papan tulis
 Ajarkan membaca dan menulis sesuai dengan kebutuhannya
f. DK : Kurangnya perawatan diri b.d spasme otot meningkatnya aktivitas,
perubahan kognitif
Tujuan : Kebutuhan perawatan diri anak terpenuhi
Intervensi :
 Kaji tingkat kemampuan anak dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri

8
 Bantu anak dalam pemenuhan kebutuhan seperti mandi, toileting,
mengenakan pakaian
 Libatkan keluarga dan anak (bila kooperatif) dalam memenuhi
kebutuhannya

g. DK : Gangguan integritas kulit b.d penggunaan atau alat penyokong
Tujuan : Anak tidak menunjukkan gangguan integritas kulit
Intervensi :
 Kaji dan observasi area yang terpasang alat penyokonh
 Lakukan pemijatan secara berkala pada area yang tertekan
 Berikan lotion untuk mencegah kulit kering
 Pastikan bahwa alat penyokong atau balutan tepat dan terfiksasi
 Berikan posisi yang nyaman dan beri support dengan bantal

9
PATHWAY

CEREBRAL PALSY

Perubahan pada
Malformasi pada
proses berpikir
otak

Kerusakan pada
motor piramida
Tonus otot dan
refleks meningkat

Koordinasi tidak
Spastisitas terkendali

Gerakan tidak
Gangguan
terkontrol Kesulitan
Menggunakan mobilitas fisik
menelan, sulit Disatria
alat bantu
mengontrol lidah
(penyokong)
Aktivitas Koreo-atetosis dan bibir
Gangguan
Kurang meningkat
komunikasi
perawatan diri
Resiko cedera verbal
Gangguan Perubahan nutrisi
integritas kulit kurang kebutuhan
tubuh

10