You are on page 1of 32

PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

3.1. Pengolahan dan Analisa Data Fisik DAS


Seluruh data yang telah dikumpulkan diseleksi berdasarkan tingkat
kepentingannya, kemudian diolah dan diseragamkan formatnya. Apabila diperlukan
data–data lain yang tidak diperoleh dari hasil pengumpulan data sebelumnya,
maka diperlukan pengolahan data dari hasil-hasil studi pendukung misalnya
RePProt, LREP atau sumber lainnya. Data sistem lahan (land system) ditampilkan
pada setiap Sub DAS agar dapat terlihat jelas yaitu melalui “schematic cross
section“. Untuk mempermudah dalam analisa data yang ada, diklasifikasikan
sebagai berikut :

GEOMETRI/ - Panjang ( hulu –hilir sungai induk)


MORPHOMETRI - Lebar L/P
- Luas( DAS, genangan/ sawah/ rawa/ danau
menentukan volume sedimen yang mengalir ke
outlet), sistem drainase/ kerapatan alur sungai,
kelerengan DAS hulu –tengah –hilir (m/Km)

POLA ALIRAN - Dendritik, radial, retangular, trelis.

BENTUK DAS - Memanjang, radial, paralel, komplek.


IKLIM - Curah hujan, suhu, kelembaban, Etp/
evapotranspirasi/ harian/ bulanan.
LANDFORM SYSTEM/ - Aluvial/ plain/ hills/ mountain/ lahar
UNIT GEOLOGI/ ROCK
GEOMORPHOLOGI - Kondisi per Sub DAS/ order2- luas sebaran
geologinya.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 22


SOIL TYPE/ GROUP - Kondisi fisik dan kimia tanah.
SLOPE - Kelerengan per Sub DAS.
EROSION TYPE - Sheet, rill, gully.
LAND COVER - Kawasan hutan, luar kawasan hutan ( pertanian,
perkebunan, industri, perladangan berpindah,
pemukiman/ perkotaan/ pedesaan, penggunaan
lainnya).
SOSIAL EKONOMI - Populasi/jenis kelamin, kepadatan, pertumbuhan,
angkatan kerja, mata pencaharian per Sub DAS,
tingkat pendapatan, kepemilikan lahan/ land
status, sarana/ prasarana/ pendidikan/
perekonomian/ sosial.
KELEMBAGAAN - Instansi yang ada, kelompok tani, Instansi lain yang
terkait.
TATA AIR - Tinggi muka air sungai, debit aliran sungai,
kandungan lumpur/ sedimen.

3.2. Analisis Morfologi dan Morfometri DAS


Analisa morfologi dan morfometeri DAS dilakukan dengan menggunakan
perhitungan-perhitungan matematis terhadap data spasial DAS dengan
menggunakan teknik sebagai berikut:
3.2.1. Bentuk (Shape)
Avery (1975) menyatakan indeks untuk menentukan bentuk DAS dengan
persamaan berikut :
0,28 x Keliling DAS (Km)
Indeks bentuk =
(Luas DAS (Km ))1/2
2

Jika DAS berbentuk lingkaran maka indeks bentuk mendekati 1 (satu).


Horton (1932) mengembangkan faktor bentuk DAS dengan persamaan :

A
Rf =
Lb x Lb

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 23


dimana : Rf = Faktor Bentuk
A = Luas DAS
Lb = Panjang sungai utama.

Miller (1953) menggunakan circularity ratio dengan menggunakan persamaan :

4A
Rc =
P2

dimana : Rc = circularity ratio


A = Luas DAS (km2)
p = perimeter (keliling DAS = km)

Bila besarnya nilai Rc adalah 1 berarti bentuk DAS tersebut adalah


lingkaran. Schumm (1956) menggunakan elongation ratio, dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :

A1/2
Re = 1,129
Lb

dimana : Re = elongation ratio


A = luas DAS
Lb = Panjang sungai utama

Yamamoto dan Orr (1972) dan Seyhan (1977) menggunakan ratio


menyerupai buah pir (lemniscate ratio) dengan persamaan :

Perimeter lemniscate (K)


Lemniscate Ratio =
Perimeter DAS

Nilai lemniscate ratio = 1 berarti DAS berbentuk buah pir. Perimeter


lemniscate (K) atau lemniscate constant diperoleh dengan persamaan :

L x L phi
K=
4A

dimana : L = Panjang maksimum DAS (jarak horisontal dari outlet ke titik terjauh DAS)

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 24


Parameter – parameter dalam faktor bentuk DAS seperti luas, panjang,
keliling (perimeter) atau diameter dapat diukur pada potret udara atau peta.
Formula bentuk DAS yang dihitung berdasarkan persamaan circularity ratio dapat
pula dituliskan sebagai berikut :

A
Rc =
Ac

3.2.2. Lereng (Slope)


pengukuran lereng dilakukan dengan menggunakan slope meter atau
dengan mencari beda tinggi dengan paralaks meter atau dengan menggunakan
persamaan Avery (1975) dan Horton (1945) menggunakan contour method dengan
persamaan :

Cx I
Lereng (%) =
A

dimana : C = interval kontur (m)


l = total panjang kontur (m)
A = luas DAS (m2)

Jika suatu daerah mempunyai lereng yang seragam, maka lereng rata –rata
dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan :

e
Lereng (%) = (100%)
d

atau

c
Lereng (%) = ctg
d

dimana : c = perbedaan elevasi antara titik tertinggi dan terendah pada DAS ( m )
d = Jarak horizontal antara elevasi titik tertinggi dan titik terendah tersebut (m)

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 25


3.2.3. Ketinggian ( Elevation ) DAS
Elevasi rata – rata dan variasi ketinggian pada suatu DAS merupakan faktor
penting yang berpengaruh terhadap temperatur dan pola hujan, khususnya pada
daerah – daerah dengan topografi bergunung. Ketinggian suatu tempat dapat
diketahui dari peta topografi, diukur dilapangan atau melalui foto udara, jika
terdapat salah satu titik kontrol sebagai titik ikat. Hubungan antara elevasi dengan
luas DAS dapat dinyatakan dalam bentuk hipsometrik (Hypsometric Curve).
Perhitungan ketinggian rata –rata DAS ditunjukkan pada gambar berikut :

Gambar 3.1. Perhitungan Tinggi Rata –rata DAS

Gambar 3.2. Kurva Hipsometrik suatu DAS (Avery, 1975)

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 26


3.2.4. Orientasi DAS ( Aspect )
Transpirasi, evaporasi dan faktor – faktor yang berpengaruh pada jumlah air
yang tersedia untuk aliran sungai, seluruhnya dipengaruhi oleh orientasi umum
atau arah dari DAS. Orientasi DAS secara normal dinyatakan dalam derajat
azimuth atau arah kompas seperti arah utara, timur laut, timur dan sebagainya.
Tanda arah anak panah yang menunjukkan arah DAS dapat dipakai sebagai muka
DAS (faces). Arah aliran sungai utama dapat juga dipakai sebagai prtunjuk umum
orientasi DAS. Lee (1963) menyatakan bahwa arah DAS dapat dinyatakan sebagai
azimuth dari garis utara searah jarum jam seperti terlihat pada gambar berikut.

Gambar 3.3. Arah Atau Azimuth DAS


3.2.5. Jaringan Sungai (Drainage network)
Pola aliran atau susunan sungai pada suatu DAS merupakan karakteristik
fisik setiap drainase basin yang penting karena pola aliran sungai mempengaruhi
efisiensi sistem drainase serta karakteristik hidrografis dan pola aliran menentukan
bagi pengelola DAS untuk mengetahui kondisi tanah dan permukaan DAS
khususnya tenaga erosi. Metode kuantitatif untuk mengklasifikasikan sungai dalam
DAS adalah pemerian orde sungai maupun cabang-cabang sungai secara
sistematis seperti sebagaimana gambar berikut.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 27


Gambar 3.4. Pemberian Tanda Ordo Sungai.

3.2.6. Pola Aliran (Drainage Pattern)


Bentuk pola aliran (drainage pattern) ada bermacam-macam yang masing-
masing dicirikan oleh kondisi yang dilewati oleh sungai tersebut. Bentuk pola aliran
yang biasa dijumpai ada tujuh jenis yaitu :

1. Dendritik: seperti percabangan pohon, percabangan tidak teratur dengan arah


dan sudut yang beragam. Berkembang di batuan yang homogen dan tidak
terkontrol oleh struktur, umunya pada batuan sedimen dengan perlapisan
horisontal, atau pada batuan beku dan batuan kristalin yang homogen.
2. Paralel: anak sungai utama saling sejajar atau hampir sejajar, bermuara pada
sungai-sungai utama dengan sudut lancip atau langsung bermuara ke laut.
Berkembang di lereng yang terkontrol oleh struktur (lipatan monoklinal, isoklinal,
sesar yang saling sejajar dengan spasi yang pendek) atau dekat pantai.
3. Radial: sungai yang mengalir ke segala arah dari satu titik. Berkembang pada
vulkan atau dome.
4. Trellis: percabangan anak sungai dan sungai utama hampir tegak lurus, sungai-
sungai utama sejajar atau hampir sejajar. Berkembang di batuan sedimen
terlipat atau terungkit dengan litologi yang berselang-seling antara yang lunak
dan resisten.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 28


5. Annular: sungai utama melingkar dengan anak sungai yang membentuk sudut
hampir tegak lurus. Berkembang di dome dengan batuan yang berseling antara
lunak dan keras.
6. Centripetal: sungai yang mengalir memusat dari berbagai arah. Berkembang di
kaldera, karater, atau cekungan tertutup lainnya.
7. Multibasinal: percabangan sungai tidak bermuara pada sungai utama,
melainkan hilang ke bawah permukaan. Berkembang pada topografi karst.

Gambar 3.5. Jenis-jenis Pola Aliran Sungai Secara Umum

Pola aliran yang digunakan bisa dibedakan dengan membedakan garis yang
dijadikan tanda pola aliran tersebut. Pola aliran yang diinterpretasi mempunyai
kegunaan untuk melihat dan mengetahui jenis-jenis kandungan mineral, batuan
dan ataupun kemungkinan terdapatnya bahan tambang. Salah satu contohnya
adalah pada pola aliran trelis untuk aliran sungai cenderung mempunyai batuan
lunak, karena tereduksi lebih banyak. Pola aliran pada citra penginderaan jauh bisa
diidentifikasi dengan melihat morfologi dri permukaan bumi tersebut. Citra
penginderaan jauh menampilkan semua kenampakan yang ada pada permukaan
bumi dengan bentuk dua dimensi. Apabila menginginkan bentuk yang lebih detail
dapat dilihat dengan menggunakan stereoskop.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 29


Pada pola aliran dendritic bentuknya ialah seperti percabangan pohon
dengan arah dan sudut yang beragam yang berkembang pada batuan sedimen
dengn perlapisan horisontal atau pada batuan beku dan batuan kristalin yang
homogen. Sedangkan untuk pola aliran radial berbentuk seperti lingkaran,
percabangan anak sungai dan sungai utama hampir tegak lurus dan berkembang
di batuan sedimen terlipat dengan litologi yang berselang seling antara lunak dan
resistan. Serta pada pola lairan paralel berbentuk anak sungai utama hampir
sejajar atau sejajar bermuara pada sungai-sungai utama atau langsung ke laut dan
berkembang di lereng yang terkontrol oleh struktur atau dekat pantai.
Hasil akhir dari intrepretasi ini ialah peta bentuk pola aliran yang terdapat
dalam kertas kalkir yang membedakan antara berbagai bentuk pola aliran yang
terdapat dalam citra atau foto udara yang di amati. Bentuk pola aliran pada
sebagian besar sungai – sungai di Indonesia adalah dendritik dengan kondisi yang
berbeda-beda menurut batuannya.
Batuan limestone dan shale teranyam bertopografi solusional dapat memiliki
pola aliran dendritik. Pada topografi dengan lereng seragam, pola aliran yang
terbentuk adalah dendritik medium, sedang pada topografi berteras kecil, pola
lairan dendritik yang terbentuk adalah dendritik halus. Kedua jenis pola aliran
tersebut dapat dilihat pada gambar-gambar berikut.

Gambar 3.6. Pola Aliran Trelis Dan Dendritik Pada Batuan Struktural Terlipat

Bentuk pola aliran dendritik yang lain adalah kombinasi dendritik


rectangular, yang terdapat pada batuan metamorfosa dengan puncak membulat.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 30


Pola ini memiliki saluran yang hampir sejajar, dalam dan bertekstur halus hingga
sedang. Bentuk ini terjadi pada daerah basah.
Pada daerah kering dengan batuan metamorfosa dengan bentuk topografi
berpuncak sejajar pola yang terbentuk adalah dendritik rectangular. Bentuk
semacam ini terjadi pada daerah kering .

Gambar 3.7. Dendritik Sedang (Medium)


Pada batuan beku , bentuk pola aliran yang terbentuk sedikit berbeda
dengan yang telah dikemukakan diatas. Pada topografi menyerupai bukit membulat
di daerah basah, pola aliran yang terbentuk adalah dendritik medium.

Gambar 3.8. Dendritik Halus

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 31


Gambar 3.9. Dendritik Rektanguler Sedang –Halus

Gambar 3.10. Dendritik Rectangular Halus

Gambar 3.11. Dendritik sedang (medium)

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 32


Gambar 3.12. Dendritik halus

3.2.7. Kerapatan Pengaliran (Drainage Density)


Metode kuantitatif lain dalam jaringan sungai suatu DAS adalah penentuan
kerapatan aliran (drainage density) yang dinyatakan dalam persamaan :

L
Dd =
A

dimana : Dd = Kerapatan aliran


L = Panjang sungai total (km)
A = Luas DAS (Km2)

Lynsley (1949) menyatakan bahwa jika nilai kepadatan aliran lebih kecil dari
1 mile/ mile2 (0,62 Km/ Km2), DAS akan mengalami penggenangan, sedangkan
jika nilai kerapatan aliran lebih besar dari 5 mile/ mile2 ( 3,10 Km/ Km2), DAS
sering mengalami kekeringan.
3.2.8. Pusat Gravitasi DAS
Titik gravitasi DAS atau titik pusat gaya berat (center of grafity) merupakan
titik imajiner yang dianggap sebagai pusat DAS. Penentuan titik ini diperlukan
untuk penghitungan model hidrologi suatu DAS, misalnya dengan metoda HSS
Gama I.
Penentuan titik berat dapat dilakukan dengan cara manual dan digital.
Penentuan dengan cara manual yaitu dengan menggunakan grid (hampir sama
dengan menghitung luas DAS). Pada kertas grid sumbu Y merupakan grid vertikal
dan sumbu X merupakan grid horizontal. Titik berat DAS adalah rata-rata jumlah
perkalian antara sumbu X dengan jumlah noktah pada tiap jalur sumbu (dan juga

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 33


sumbu y), yang termasuk ke dalam area DAS dibagi jumlah noktah, dengan
menggunakan persamaan :

x   ( x i .n yi )
( x i . n xi )
y 
n n
dimana:
n = jumlah titik grid dalam DAS
nxi = jumlah titik potong menurut sumbu x dalam DAS
nyi = jumlah titik potong menurut sumbu y dalam DAS
i = nomor grid (1,2,3 … dst)

Gambar 3.13. Pusat Gravitasi DAS dan Panjang ke Pusat Gravitasi DAS

3.2.9. Gradien Sungai


Salah satu cara menghitung gradien sungai rata – rata adalah dengan slope
faktor yang dikembangkan oleh Benson (1962) yaitu dengan menghitung lereng
saluran antara 10 % dan 85 % jarak dari outlet seperti ditujukkan pada Gambar
berikut.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 34


Gambar 3.14. Penaksiran slope factor dan profile curvature- indeks.

Jarak O –Z = Lb adalah panjang sungai utama.


OB = (0,1)Lb dan OA –(0,85)Lb
Gradien Sungai (Su) = (H85-H10)/ (0,75)Lb.

3.2.10. Panjang Sungai Terpanjang dan Sungai Induk


Panjang sungai terpanjang dalam DAS diukur dari outlet ke sumber asal air,
dari titik O sampai H (OH). Sedangkan OS adalah panjang sungai utama (induk).

Gambar 3.15. Panjang Sungai Terpanjang dalam DAS.

3.3. Analisis Hidroorologis DAS


3.3.1. Hujan
Hujan atau presipitasi, adalah proses turunnya air dari atmosfer ke
permukaan bumi yang bisa berupa hujan, hujan salju, kabut, embun, dan hujan es.
Pada sebuah sistem DAS, hujan adalah input energy dan massa yang menjadi

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 35


penggerak kompleksitas DAS. Berdasarkan intesitas kejadiannya, hujan
diklasifikasikan sebagai berikut (Seiler and Gat, 2007) :
 Rendah dengan < 2,5 mm/ jam,
 Sedang dengan 2,6-7,5 mm/ jam, dan
 Tinggi dengan > 7,6 mm/ jam
Rerata hujan kawasan adalah suatu metode yang digunakan untuk mewakili
hujan yang terjadi pada suatu wilayah, berdasarkan stasiun lokasi dan besar hujan
yang ditunjukkan penakar hujan. Rerata hujan wilayah , diperkirakan berdasarkan
titik-titik pengamatan curah hujan. Stasiun pengamat/penakar hujan hanya
memberikan kedalaman hujan di titik di mana stasiun tersebut berada, sehingga
hujan pada suatu luasan harus diperkirakan dari titik pengukuran tersebut. Metode
hujan kawasan dapat dihitung dengan metode sebagai berikut.

1. Metode rerata aritmatik atau aljabar


pA  pB  pC  pD  pE  pF  pG  pH
p
n
2. Metode isohyets
I I   I  I3   I  I n 1 
A1 1 2   A2 2   .........  An n 
p  2   2   2 
A1  A2  .....  An
3. Metode Poligon Thissen
p1 A1  p2 A2  p3 A3 .........  pn An
p (Triatmodjo, 2009)
A1  A2  .....  An

3.3.2. Hujan Harian Rancangan


Untuk memberikan hasil yang dapat diandalkan, analisis probabilitas harus
diawali dengan penyediaan rangkaian data yang relevan, memadai dan teliti.
Setelah besarnya nilai curah hujan harian daerah diperoleh, maka perlu dipilih
curah hujan harian maksimum tahunannya, selanjutnya dianalisis probabilitas
terjadinya berdasarkan pola distribusi yang telah ditetapkan.
Debit banjir maksimum mempunyai korelasi terhadap hujan maksimum yang
terjadi, oleh sebab itu untuk analisis debit banjir digunakan curah hujan harian
maksimum sebagai data masukannya.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 36


1. Uji Kesesuaian Distribusi
Uji kesesuaian ini dimaksudkan untuk mengetahui kebenaran suatu hipotesa
distribusi yang digunakan untuk analisis frekuensi curah hujan. Untuk
melakukan pemeriksaan tersebut terlebih dahulu harus dilakukan tahapan-
tahapan sebagai berikut :
 Data curah hujan maksimum harian rata-rata tiap tahun disusun dari kecil ke
besar.
 Perhitungan probabilitas dengan menggunakan rumus Weibull :
m
Sn( x )   100%
n 1
dengan :
Sn(x) = Probabilitas (%)
m = Nomor urut data dari seri yang telah diurutkan
n = Banyaknya data.

 Plotting data hujan (Xi) dengan probabilitas Sn(x)


 Tarik garis lurus dengan persamaan
 Ada 2 cara untuk mengadakan uji kesesuaian yaitu uji Smirnov Kolmogorov
(uji data horizontal) dan Chi Kuadrat (uji data vertikal).
2. Uji Smirnov –Kolmogorov
Uji Smirnov – Kolmogorov (uji data horizontal) digunakan untuk menguji
simpangan secara mendatar. Untuk melakukan pengujian data terhadap
simpangan horizontal, menggunakan rumus :
maks  PE ( x)  Pt ( x)
Δmaks = Selisih data probabilitas teoritis dan empiris
Pt(X) = Posisi data x menurut sebaran teoritis
Pe(X) = Posisi data x menurut sebaran empiris

Dari hasil perhitungan diperoleh perbedaan yang maksimum antara distribusi


teoritis dan distribusi empiris yang disebut dengan Δmaksimum. Kemudian Nilai
Δmaksimum hasil perhitungan dibandingkan dengan Δcr yang diperoleh dari
tabel untuk suatu derajat yang tertentu.
Apabila Δcr > Δmaksimum maka hipotesa dapat diterima.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 37


3. Uji Chi –Kuadrat
Uji Chi – Kuadrat (uji data vertikal) adalah ukuran perbedaan yang didapat
antara frekuensi yang diamati dengan yang diharapkan. Uji ini digunakan untuk
menguji simpangan tegak lurus yang ditentukan dengan rumus Shahin :

x 
2

k
EF  OF 2 ,
hit
i 1 EF
n
EF 
k
dengan :
X2hit = Uji statistik
OF = Nilai yang diamati (Observed frequency)
EF = Nilai yang diharapkan (Expected frequency)

Uji Chi – Kuadrat merupakan uji simpangan vertikal dengan langkah-langkah


sebagai berikut :
 Tentukan jumlah kelas disribusi (K)
 K = 1 + 3,22 Log n, n = banyaknya data
 Cari nilai Chi kuadrat hitung (X2)cr
 Besarnya nilai (X2)cr` dapat diperoleh pada berdasarkan taraf signifikan (α)
dan derajat bebasnya (DK). Dengan memasukkan harga K dan sebaran Chi
Kuadrat dapat diperoleh harga DK.
 DK = K –(P –1)
 Kemudian nilai (X2)cr bandingkan dengan nilai chi kuadrat kritis (X2)cr.
 Nilai (X2)cr > (X2)hitung, berarti sebaran vertikal dapat diterima.

3.3.3. Analisis Frekuensi Curah Hujan


Analisis frekuensi hujan digunakan menentukan periode ulang hujan
rencana yang tertentu, yaitu menunjukkan kemungkinan besarnya curah hujan
akan tersamai atau terlampaui selama periode waktu tertentu. Untuk memilih jenis
sebaran yang sesuai terhadap suatu series data tertentu, perlu diselidiki
parameter-parameter statistiknya. Adapun parameter-parameter tersebut adalah
sebagai berikut :
n

 Xi
x i 1

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 38


n

 ( xi  x)2
Si  i 1

n 1
Cv = Si / Xmean
n
n  ( xi  x ) 3
Cs  i 1
( n  1)(n  2) Si 3
n
n 2  ( xi  x ) 4
Ck  i 1
( n  1)(n  2)(n  3) Si 4
dimana :
Xi = data hujan R24 maksimum pada tahun ke-i
X = rata-rata dari suatu seri data hujan
N = banyaknya data hujan
Si = standart deviasi
Cv = koefisien variasi
Cs = koefisien asimetri
Ck = koefisien kurtosis

Penelitian jenis sebaran dilakukan dengan mencocokan nilai parameter-


parameter statistik tersebut dengan syarat-syarat dari masing-masing jenis
sebaran. Adapun syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :
1. Distribusi Normal, Sifat khusus distribusi ini adalah harga asimetri mendekati
nol (Cs=0), dan koefisien kurtosis mendekati tiga (Ck = 3). Sifat yang lainnya
adalah :
 P (X –S) = 15,87 %
 P (X) = 50,00 %
 P (X + S) = 84,14 %
2. Distribusi Log Normal, Distribusi Log Normal memiliki nilai asimetri mendekati 3
(tiga) kali koefisien variasi (Cs = 3 Cv), dan Cs selalu positif
3. Distribusi Gumbel, Sifat dari distribusi Gumbel, yaitu koefisien asimetri (Cs) =
1,1396, dan koefisien kurtosis (Ck) = 5,4002
4. Distribusi Log Pearson III, Distribusi ini digunakan apabila data statistik atau
parameter-parameter dasar statistik tidak menunjukkan distribusi manapun
(seperti yang telah diuraikan di atas).

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 39


3.3.4. Evapotranspirasi
Metode pendugaan ada beberapa macam yang sering digunakan, yaitu
model Thornthwaite, Blaney Criddle, dan Metode Pennman. Pada pekerjaan ini
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penman dan Tornthwaite.
Metode Pennman yang menggabungkan metode transfer massa dan metode
neraca energi. Metode transfer massa adalah model persamaan difusi yang
menjelaskan bahwa evaporasi sebanding dengan perbedaan antara tekanan uap
jenuh dan tekanan uap karena kelembaban udara.
Sedangkan metode neraca energi merupakan persamaan yang menjelaskan
bahwa kedalaman penguapan, berbanding terbalik dengan radiasi netto yang
diterima permukaan bumi, rapat massa air, dan panas laten evaporasi (Triatmodjo,
2009) Kedua metode digunakan sebagai perbandingan, mengingat hasil dari hasil
yang diperoleh pada perhitungan termasuk rendah. Rumus metode Penman
adalah metode yang mengalikan nilai evaporasi dengan konstanta empiris sebagai
E0. Penjabaran rumus Penman adalah :

E n  E 0 En  E
Et  atau Et 
  1
dimana :
Et : Evapotranspirasi Potensial
En : Kedalaman penguapan dalam mm/hari (radiasi Netto)
E : Evaporasi Metode Transfer Massa
Eo : Evaporasi (mm/hari)

Evapotranpirasi dengan metode Penman, berasal dari analisis data input


klimatologi dari stasiun pengukur klimatologi. Data yang diinputkan adalah
temperatur rata-rata, kelembaban (Rh) rata-rata, kecepatan angin, dan penyinaran
matahari. Sedangkan model dari Thornthwaite-Mather (1957) adalah :
10.
= 16.

= .

PEx : Evapotranspirasi potensial yang belum disesuaikan dengan faktor koreksi (f)
PE : Evapotranspirasi potensial (mm)
t : Suhu rerata bulanan (ºC)
f : Faktor koreksi berdasarkan letak lintang dan waktu
I : Jumlah nilai i (indeks panas) dalam setahun; dengan i = (t/5)1.514
a : (0.675 . 10-6 . I3) –(0.77 . 10-4 . I2) + 0.01792.I + 0.49239

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 40


Bila tidak terdapat data pengamatan suhu udara pada stasiun yang
bersangkutan, dilakukan pendugaan dengan teknik interpolasi dari stasiun terdekat
yang mempunyai data suhu udara dengan memperhitungkan faktor ketinggian
tempat dengan persamaan Mock (1973, dalam Sudibyakto, 1985).
∆ = 0,006( 1 − 2)

dimana :
Δt : perbedaan suhu udara antara stasiun pengukuran dengan yang dianalisis. (°C)
z1 : elevasi stasiun pengukuran suhu udara (m)
z2 : elevasi stasiun yang dianalisis (m)

Kapasitas tanah dalam menyimpan air atau water holding capacity (WHC)
adalah tebal air (mm) yang tersimpan pada kedalaman lapisan tanah. Nilai WHC
tergantung pada jenis tanah (tekstur) dan kedalaman perakaran tanaman. Nilai
WHC diperoleh dengan bantuan tabel pendugaan yang mengkombinasikan
kedalaman perakaran pada berbagai tekstur tanah. Pendugaan WHC berdasarkan
tipe tanah dan vegetasi disajikan sebagaimana lampiran 1.

3.3.5. Debit
Debit banjir rancangan dihitung dengan pendekatan metode hidrograf
satuan sintetik. Analisis hidrograf satuan sintetik merupakan salah satu cara dalam
menentukan hidrograf satuan yang didasarkan pada ketersedian data hujan harian
dan parameter DAS. Banyak sekali persamaan yang ditawarkan dalam membuat
hidrograf satuan, diantaranya adalah HSS Snyder, HSS CSS, HSS Common, HSS
Nakayasu dan HSS Gama I. Persamaan-persamaan yang digunakan dalam setiap
metode penghitungan hidrograf satuan sintetik (synthetic unit hydrograph )
dibentuk dengan didasarkan pada karakteristik DAS di lokasi yang berbeda. HSS
Snyder dan Common dikembangkan di Amerika, HSS Nakayasu di Jepang,
sedangkan HSS Gama I di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
Pada pekerjaan ini menggunakan model SCS UH, yang dikembangkan dari
Model Snyder pada 1938. SCS UH membangun hidrograf tak berdimensi atau 1
mm dengan membandingkan Q/Qp terhadap waktu T/Tp. Hidrograf tak berdimensi
dapat dibuat dari beberapa parameter DAS, kemudian dengan input data hujan
maka dapat diturunkan menjadi hidrograf banjir. Input parameter DAS yang

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 41


dimaksud adalah luas, panjang sungai utama, dan kemiringan. Persamaan untuk
menghitung unsur hidrograf adalah :
= 0,6 ×
0,77 − 0,385
= 0,01947 × × (E.E. Daniil, S.N. Michaas, 2005)

∆ = 0,133
= 0,6
484
=

Gambar 3.16. Tipikal Hidrograf Tak Berdimensi SCS UH

3.3.6. Neraca Air


Neraca air (water balance) merupakan neraca masukan dan keluaran air
disuatu tempat pada periode tertentu, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui
jumlah air tersebut kelebihan (surplus) ataupun kekurangan (defisit). Model neraca
air cukup banyak, namun yang biasa dikenal terdiri atas tiga model antara lain:
1. Model Neraca Air Umum, model ini menggunakan data klimatologis dan
bermanfaat untuk mengetahui berlangsungnya bulan-bulan basah (jumlah
curah hujan melebihi kehilangan air untuk penguapan dari permukaan tanah
atau evaporasi maupun penguapan dari sistem tanaman atau transpirasi,
penggabungan keduanya dikenal sebagai evapotranspirasi).
2. Model Neraca Air Lahan, model ini merupakan penggabungan data klimatologis
dengan data tanah terutama data kadar air pada Kapasitas Lapang (KL), kadar
air tanah pada Titik Layu Permanen (TLP), dan Air Tersedia (WHC = Water
Holding Capacity).
a. Kapasitas lapang adalah keadaan tanah yang cukup lembab yang
menunjukkan jumlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap
gaya tarik gravitasi. Air yang dapat ditahan tanah tersebut akan terus-

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 42


menerus diserap akar tanaman atau menguap sehingga tanah makin lama
makin kering.
b. Titik layu permanen adalah kondisi air tanah dimana akar-akar tanaman
tidak mampu lagi menyerap air tanah, sehingga tanaman layu.
c. Air tersedia adalah banyaknya air yang tersedia bagi tanaman yaitu selisih
antara kapasitas lapang dan titik layu permanen.

3. Model Neraca Air Tanaman, model ini merupakan penggabungan data


kilmatologis, data tanah dan data tanaman. Neraca air ini dibuat untuk tujuan
khusus pada jenis tanaman tertentu. Data tanaman yang digunakan adalah
data tanaman pada komponen keluaran dari neraca air.
Dalam pekerjaan ini neraca air yang digunakan adalah Model Neraca Air Umum.

3.3.7. Kebutuhan Air


1. Kebutuhan Air untuk Penduduk/domestik, Kebutuhan air untuk domestik
ditentukan berdasarkan jumlah penduduk dan kebutuhan per kapita. Kriteria
penentuan kebutuhan air domestic yang dikeluarkan oleh Puslitbang Pengairan
Departemen Pekerjaan Umum, menggunakan parameter jumlah penduduk
sebagai penetapan jumlah air yang dibutuhkan perkapita per hari. Pada
pekerjaan ini diperkirakan kebutuhan air per orang sebesar 170 liter/hari untuk
perkotaan, dan 100 liter/hari untuk perdesaan (Triatmodjo, 2008)
2. Kebutuhan Air untuk Ternak, Kebutuhan air untuk ternak dibedakan
berdasarkan ukuran. Ternak besar, ternak kecil, dan unggas memiliki karakter
yang spesifik berdasarkan jenis dan tipenya. Kebutuhan air ternak berdasarkan
FIDP, ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 3.1. Kebutuhan Air Untuk Ternak

Kebutuhan Air
Jenis Ternak
(Lt/Ekor Hari)
Sapi/ Kerbau/ Kuda 40,0
Kambing/ Domba 5,0
Babi 6,0
Unggas 0,6
Sumber : Triatmodjo, 2008
3. Kebutuhan Air untuk pemeliharaan/ penggelontoran sungai, Kebutuhan air
untuk pemeliharaan/ penggelontoran sungai saluran diestimasi berdasarkan

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 43


jumlah penduduk perkotaan. Menurut IWRD, besar kebutuhan air untuk
pemeliharaan saluran/ sungai saat ini adalah 330 lt/ kapita/ hari. Seiring dengan
sistem pengolahan limbah yang semakin baik, jumlah tersebut diubah menjadi
300 lt/ kapita/ hari (Triatmodjo, 2008).
4. Kebutuhan Air untuk industry, Metode yang digunakan untuk estimasi
kebutuhan iar untuk industry adalah menggunakan persamaan linear dan
metode analisis penggunaan lahan. Namun pada kenyataannya kebutuhan air
industry sangat sulit, karena harus dibedakan dari jenis industry dan kelas
industry, sedangkan data industry yang tercatat pada kelas rumah tangga sulit
dideteksi. Kemudian dikembangkan dua model, model yang pertama
memperhitungkan luas lahan rencana kawasan industrinya diketahui yaitu
sebesar 0,4 lt/ detik/ ha. Apa bila data industry tidak tersedia, Direktorat Teknik
Penyehatan, Dirjend Cipta Karya DPU, menetapkan bahwa kebutuhan air untuk
industry adalah sebesar 10 % dari konsumsi air domestik (Triatmodjo, 2008).
5. Kebutuhan Air untuk lain-lain, Kebutuhan lain-lain meliputi kebutuhan air untuk
mengatasi kebakaran, taman, dan penghijauan, serta kehilangan/ kebocoran
air. Menurut Direktorat Teknik Penyehatan, Dirjend Cipta Karya DPU,
kebutuhan air untuk umum, kehilangan air dan kebakaran diambil 45 % dari
kebutuhan air total domestik. Distribusi persentase kebutuhan air sebesar 3 %
untuk umum yaitu taman kota dan penghijauan, 28 % untuk kehilangan air, dan
14 % untuk pemadam kebakaran. Kebutuhan lain seperti perkantoran, rumah
sakit, tempat peribadatan, dan pendidikan tidak diperhitungkan karena
keterbatasan data (Triatmodjo, 2008).
6. Kebutuhan Air Irigasi, Kebutuhan air irigasi sebagian besar dipasok oleh air
permukaan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti klimatologi, kondisi
tanah, koefisien tanaman, pola tanam, pasokan yang diberikan, luas daerah
irigasi, efisiensi irigasi, jadwal tanam dan lain-lain. Kebutuhan air irigasi
ditentukan dengan persamaan :
( + + + − )
= ×

dimana :
KAI : Kebutuhan air irigasi,dalam lt/ dt
Etc : Kebutuhan air konsumtif, mm/ hari
IR : Kebutuhan air tingkat persawahan, mm/ hari

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 44


WLR : Kebutuhan air untuk mengganti lapisan air, mm/hari
P : Perkolasi, dalam mm/hari
Re : Hujan efektif, mm/ hari
IE : Efisiensi Irigasi, dalam %
A : Luas area irigasi, ha

 Kebutuhan air untuk konsumtif, merupakan kebutuhan air untuk tanaman di


lahan yang diartikan sebagai faktor koefisien tanaman. Ditentukan dengan
persamaan :
= ×

dimana :
Etc : Kebutuhan air konsumtif, mm/ hari
Eto : Evapotranspirasi, mm/ hari
Kc : koefisien tanaman

 Kebutuhan air untuk penyiapan lahan, kebutuhan air untuk penyiapan lahan
ditentukan oleh faktor waktu, ketebalan lapisan, dan persiapan lahan.
Perhitungan kebutuhan air menggunakan metode yang dikembangkan oleh
Van de Goor dan Zijlstra (Standar Perencanaan Irigasi KP-01, 1986) yaitu :

=
− 1

dimana :
IR : Kebutuhan air irigasi ditingkat persawahan, mm/hari
M : Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan
perkolasi di sawah yang dijenuh kan. M=Eo + P
P : Perkolasi, mm/ hari
Eo : Evaporasi Terbuka (=1,1 x Eto), mm/ hari
k : M(T/S)
e : Koefisien

 Kebutuhan air untuk mengganti lapisan air (WLR), kebutuhan air untuk
mengganti lapisan air ditetapkan berdasarkan Standar Perencanaan Irigasi
1986, KP-01. Besar kebutuhan air untuk penggantian perlapisan adalah 50
mm/ bulan selama sebulan dan dua bulan setelah transplantasi (Triatmodjo,
2008).
 Perkolasi, sangat tergantung pada sifat tanah, dan sifat tanah umumnya
tergantung pada pemanfaatan atau pengolahan tanah, berkisar antara 1-3
mm.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 45


 Curah hujan efektif, merupakan curah hujan andalan yang jatuh di dalam
DAS dan digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Penentua curah hujan
efektif dengan menggunakan hujan bulanan, yaitu menggunakan R80 yang
berarti kemungkinan tidak terjadinya 20 %. Pendekatan hujan efektif adalah
sebagai berikut :
1
= 0,7 × ( 80 )
15

dimana :
Re : Curah Hujan Efektif, mm/ hari
R80 : Curah huan yang memungkinkan tidak terpenuhi 20 %, mm

R80 dapat diperoleh dengan persamaan Harza :

= + 1
5

dimana :
m : Rangking dari urutan terkecil
n : jumlah tahun pengamatan

 Efisiensi Irigasi, adalah nilai faktor yang menunjukkan kualitas sistem irigasi.
Asumsi yang digunakan adalah adanya kehilangan air pada saat air
mengalir melalui saluran air, bangunan bagi, evaporasi, dan lain
sebagainya. Pada pekerjaan ini, efisiensi irigasi ditentukan sebesar 80%.
 Luas Areal irigasi, adalah luas kawasan atau sawah yang diairi.
7. Kebutuhan Air Perkebunan Kelapa Sawit, Kebutuhan air perkebunan sawit
dihitung berdasarkan jumlah batang dan luas perkebunan. Perkebunan kelapa
sawit pada umumnya terdiri 130-136 batang pohon sawit per Ha. Kebutuhan
setiap batang pohon sawit adalah sebesar 8 liter/ batang/ hari, atau 0,012 m3/
hari.

3.3.8. Ketersediaan Air


Beberapa data yang dibutuhkan untuk memperkirakan ketersediaan air, di
sub SWS adalah data iklim (hujan dan meteorologi), data debit sungai dan luas sub
SWS. Data iklim meliputi data hujan, kecepatan angin, lama penyinaran matahari
dan temperatur. Ketersediaan air biasa disebut dengan debit andalan, atau debit
yang terus menerus. Debit andalan bisa diperoleh dengan analisa data debit dan

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 46


kurva massa, atau penurunan data debit dari data hujan yang biasa dilakukan
dengan model Mock, tangki, dan lain-lain.

3.4. Analisa Sumber Daya Lahan


Analisa sumber daya lahan dilaksanakan dengan metoda evaluasi lahan
dengan pendekatan kemampuan lahan. Evaluasi Kemampuan Lahan pada
dasarnya merupakan evaluasi potensi lahan bagi penggunaan berbagai sistem
pertanian secara luas dan tidak membicarakan peruntukan jenis tanaman tertentu
ataupun tindakan-tindakan pengelolaannya (Sitorus 2004). Kemampuan lahan
mengelompokkan lahan ke dalam sejumlah kecil katagori atau klasifikasi. Proses
klasifikasi lahan dan analisis spasialnya dilakukan dengan menggunakan aplikasi
LCLP (Land Classification and Landuse Planning).
Klasifikasi lahan dengan menggunakan aplikasi LCLP menggunakan teknik
pembandingan (matching) yang dilakukan terhadap 11 (sebelas) parameter kemampuan
lahan yang diperoleh dari survey lapangan dan analisis laboratorium. Hasil akhir analisis
kemampuan lahan dapat menunjukkan kelas kemampuan lahan. Variabel data dan
klasifikasi kemampuan lahan disajikan pada tabel berikut.

Tabel 3.2. Parameter Klasifikasi Kemampuan Lahan

Faktor Penghambat/ Kelas kemampuan lahan


pembatas I II III IV V VI VII VIII
1. Lereng Permukaan A B C D A E F G

2. Kepekaan erosi KE1,KE2 KE3 KE4, KE5 KE6 (*) (*) (*) (*)

3. Tingkat erosi eo e1 e2 e3 (**) e4 e5 (*)

4. Kedalaman tanah k0 k1 k2 k2 (*) k3 (*) (*)


5. Tekstur lapisan atas t1,t2,t3 t1,t2,t3 t1,t2, ,t3,t4 t1,t2,, t3,t4 (*) t1,t2, t3,t4 t1,t2, t3,t4 T3

6. Tekstur lapisan bawah sda sda sda sda (*) sda sda T3
7. Permeabilitas P2P3 P2P3 P2P3 P2P3 P1 (*) (*) P5

8. Drainase d1 d2 d3 d4 d5 (**) (**) d0

9. Kerikil/batuan b0 b0 b1 b2 b3 (*) (*) b4


10. Ancaman banjir O0 O1 O2 O3 O4 (**) (**) (*)
Sumber : Arsyad, 2006

Kelas kemampuan didasarkan atas tingkat atau intensitas dan jumlah


faktor pembatas atau bahaya kerusakan yang mempengaruhi jenis penggunaan
lahan, resiko kerusakan lahan jika salah kelola, keperluan pengelolaan lahan, dan
Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 47
resiko kegagalan tanaman. Untuk membantu klasifikasi diperlukan kriteria yang
jelas yang memungkinkan pengelompokan tanah pada setiap kategori yaitu kelas,
sub kelas dan satuan kemampuan lahan.
Tabel 3.3. Hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas/jenis
penggunaan lahan.

Sumber : Arsyad, 2006

Kelas kemampuan lahan mempunyai potensi yang berbeda. Klasifikasi


potensi lahan berdasarkan pada kriteria sesuai tidaknya suatu lahan bila
dimanfaatkan untuk penggunaan lahan pertanian dan permukiman. Kelas
kemampuan lahan I – IV (sedang-tinggi) merupakan lahan yang dapat diusahakan
atau diolah untuk pertanian dan permukiman. Kelas kemampuan lahan V – VIII
(rendah) merupakan lahan-lahan dengan potensi rendah atau sulit diusahakan
untuk pertanian dan permukiman. Klasifikasi potensi lahan berdasarkan
kemampuannya menggunakan kriteria sebagaimana tabel berikut.
Tabel 3.4. Klasifikasi Potensi Lahan

Klasifikasi Potensi Kelas


Lahan Kemampuan Lahan
Tinggi I, II,III

Sedang IV

Rendah V, VI, VII, VIII


Sumber: Arsyad (2006)

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 48


Kriteria masing-masing faktor pembatas dan kriteria yang digunakan dalam analisis
klasifikasi kemampuan lahan disajikan sebagaimana lampiran 2 dan 3.

3.5. Analisa Sosial Ekonomi Penduduk DAS.


Penelitian tentang karakteristik sosial dan ekonomi daerah aliran sungai
(DAS) Mendahara ini dilakukan di wilayah hulu, wilayah tengah dan wilayah hilir.
Wilayah hulu dilakukan di Kecamatan Sekernan Kabupaten Muaro Jambi meliputi
yang meliputi Desa Bukit Baling, Desa Gerunggung dan Desa Suak Putat.
Wilayah tengah meliputi Kecamatan Mendahara Ulu (Desa Sungai Beras dan Desa
Sungai Mencolok), Kecamatan Gergai dan Kecamatan Betara (Desa Pematang
Lumut). Wilayah hilir meliputi Kecamatan Mendahara (Kelurahan Mendahara Ilir,
Desa Sungai Tawar dan Desa Merbau) dan Kecamatan Kuala Betara.
Data tentang karakteristik sosial dan ekonomi DAS Mendahara yang diambil
pada penelitian ini antara lain :
1. Identitas masyarakat meliputi data umum yang terdiri atas umur, pendidikan,
mata pencaharian, jabatan dalam organisasi/kelembagaan, luas lahan, jumlah
tanggungan keluarga dan daerah asal (suku).
2. Persepsi masyarakat terhadap pengelolaan DAS Mendahara.
3. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS Mendahara.
4. Gambaran umum masyarakat dan data pendukung lainnya.
3.5.1. Observasi (Pengamatan)
Teknik observasi (pengamatan) dilakukan untuk mendapatkan data
mengenai kondisi masyarakat dan gambaran pengelolaan DAS Mendahara. Data
diperoleh dari instansi terkait serta pengamatan langsung di lapangan. Hasil
pengamatan ini dikaitkan dengan aspek sosial dan ekonomi masyarakat yang
bertempat tinggal dan beraktivitas di kawasan DAS Mendahara.

3.5.2. Interview (Wawancara)


Teknik Wawancara bertujuan untuk mendapatkan data primer dari
masyarakat. Wawancara dilakukan dengan narasumber atau responden terkait
kondisi sosial dan ekonimi masyatakat serta persepsi dan partisipasi masyarakat
dalam pengelolaan DAS Mendahara. Pada pelaksanaan wawancara, peneliti
dituntun oleh daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disusun sesuai kebutuhan,
sehingga wawancara menjadi terfokus pada topik penelitian (kuesioner terlampir).

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 49


Kuesioner berisi masing-masing 20 pertanyaan untuk persepsi dan
partisipasi. Setiap pertanyaan diberi 4 pilihan jawaban, yang diberi skor masing-
masing 9, 7. 5 dan 3. Pada setiap sampel dilakukan penjumlahan nilai skor.
Selanjutnya dilakukan kategori persepsi dan partisipasi berdasarkan atas jumlah
nilai skor dengan ketentuan sebagai berikut :
Untuk persepsi : Skor 60 –120 = tidak sesuai
Skor 121 –180 = sesuai
Untuk partisipasi : Skor 60 –120 = rendah
Skor 121 –180 = tinggi
3.5.3. Metode Penarikan Sampel
Narasumber atau masyarakat di setiap desa yang dijadikan sampel
berjumlah 2 % dari jumlah kepala keluarga (KK). Sampel diambil dengan pola
alokasi sebanding berdasarkan atas mata pencaharian atau profesi penduduk.
Masyarakat yang dijadikan sampel ditentukan secara purposif atas dasar sedang
berada di desa saat wawancara dan dapat ditemui saat dilakukan penelitian.
Penentuan jumlah sampel pada setiap kelompok mata pencaharian
dilakukan berdasarkan atas formulasi :
Ni
ni = -------- n
N
dimana :
ni = jumlah sampel (KK) setiap kelompok mata pencaharian
Ni = jumlah KK masyarakat pada suatu kelompok mata pencaharian
n = jumlah sampel per desa (KK)
N = jumlah KK rumah tangga masyarakat.

3.5.4. Metode Analisis Data


Data hasil penelitian baik data primer maupun data sekunder dikumpulkan
lalu ditabulasi. Selanjutnya data tersebut dianalisis secara deskriptif. Hubungan
antara persepsi dan partispasi masyarakat dalam pengelolaan DAS Mendahara
dianalisis secara statistic dengan uji Chi-square dengan struktur data dan formula
sebagai berikut :

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 50


Tabel 3.5. Tabel Kontingensi Ordo 2 X 2
Partisipasi
Tinggi Rendah Jumlah
Persepsi
Sesuai a b a + b
Tidak Sesuai c c c + d
Jumlah a + c b + c N

n [ (ad –bc) - ½ n]2


χ2 = ---------------------------------
(a+b) (c+d) (a+c) (b+d)
dimana :
N = jumlah sampel
a, b, c, d = komponen matriks pada table kontingensi.
Kaedah pengambilan keputusan :
Jika χ2 hit. ≤ χ2 tabel, α = 5 % (m-1) (n-1) terima Ho dan tolak H1
Jika χ2 hit. > χ2 tabel, α = 5 % (m-1) (n-1) tolak Ho dan terima H1

dimana :
m = jumlah level persepsi
n = jumlah level partisipasi
Ho = tidak terdapat hubungan antara persepsi dan partisipasi masyarakat
dalam pengelolaan DAS Mendahara.
H1 = terdapat hubungan antara persepsi dan partisipasi masyarakat dalam
pengelolaan DAS Mendahara.
Selanjutnya derajat kontingensi (taraf keeretan hubungan) antara persepsi
dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS Mendahara dihitung dengan
menggunakan formulasi :

χ2 hit.
C = √ -------------
χ2 hit. + n
dimana :
C = Koefisien kontingensi dengan ketentuan sebagai berikut :
- Hubungan kesesuaian yang lemah : 0,000 - 0,353

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 51


- Hubungan kesesuaian yang kuat : 0,354 - 0,707
-Hubungan kesesuaian yang sempurna : 0,800 - 1,000
χ2 hit. = Hasil perhitungan hubungan antara persepsi dan partisipasi.
n = Jumlah sampel
3.5.5. Konsepsi Pengukuran
Pada penelitian ini konsepsi dan ukuran dari variable-variabel sosial
ekonomi yang dikumpulkan didasarkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1. Konsepsi yang digunakan ada 2 yaitu :
 Pengelolaan DAS yang ideal adalah yang sesuai dengan aturan yang
berlaku tentang pengelolaan DAS (PP No. 38 tahun 2007 dan Permenhut 39
Tahun 2009).
 Pengelolaan DAS yang tidak ideal adalah pengelolaan DAS yang tidak ideal
yang sesuai dengan aturan tentang pengelolaan DAS (PP No. 38 tahun
2007 dan Permenhut No. 39 Tahun 2009).
2. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-
hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
makna informasi (Rakhmat, 2004). Hal tesebut dapat diukur dari beberapa
indikator berikut :
 Persepsi masyarakat tentang pentingnya hutan bagi lingkungan.
 Persepsi masyarakat tentang pentingnya hutan bagi penyediaan air.
 Persepsi masyarakat tentang pentingnya hutan bagi pengendalian banjir.
3. Partisipasi diartikan sebagai upaya peran serta masyarakat dalam suatu
kegiatan baik dalam bentuk pernyataan maupun kegiatan. Lebih lanjut
dijelaskan partisipasi merupakan keikutsertaan masyarakat dalam program-
program pembangunan seperti halnya dalam pengelolaan DAS Mendahara.
Dalam hal ini partisipasi dapat diukur dengan memberikan nilai atas
kegitan/peran masyarakat dengan indikator sebagai berikut :
 Tindakan teknis petani dalam pengolahan tanah dan pemeliharaan
tanaman.
 Pemilihan jenis tanaman yang ditanam petani.
3.6. Penyajian Data dan Informasi
Output yang diharapkan dari kegiatan Inventarisasi dan Identifikasi
Karakteristik DAS ini berupa hasil kajian/analisa yang disajikan dalam buku laporan

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 52


(Buku Utama dan Peta) dengan judul “Laporan Penyusunan Karakteristik Daerah
Aliran Sungai Mendahara“. Secara umum buku laporan tersebut berisi data, peta
dan informasi yang terkait dengan karakteristik DAS Jang.
1. Data
Data yang dimaksud disini adalah data numerik hasil pengumpulan di lapangan
maupun data sekunder yang dikumpulkan dalam rangka Inventarisasi dan
Identifikasi Karakteristik DAS.
2. Peta Tematik
Peta –peta yang dihasilkan meliputi :
 Peta Hidrologi DAS, skala 1 : 500.000.
 Peta Penutupan dan Penggunaan Lahan, skala 1 : 500.000.
 Peta Pola Aliran, skala 1 : 500.000.
 Peta DAS/Sub DAS, skala 1 : 500.000.
 Peta Tanah DAS, skala 1 : 500.000.
 Peta Lereng DAS, skala 1 : 500.000.
 Peta Geologi DAS, skala 1 : 500.000.
 Peta Administrasi DAS, skala 1 : 500.000.
 Peta Tingkat Bahaya Erosi DAS, skala 1 : 500.000.

Laporan Penyusunan Karakteristik DAS Mendahara Halaman 53