You are on page 1of 22

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Urologi adalah bedah khusus yang berfokus pada saluran kemih laki-laki
dan perempuan, dan pada sistem reproduksi laki-laki. Profesional medis yang
mengkhususkan diri di bidang urologi disebut ahli urologi dan dilatih untuk
mendiagnosa, mengobati, dan mengelola pasien dengan gangguan urologis.
Organ ditutupi oleh urologi termasuk ginjal, ureter, kandung kemih, uretra,
dan organ-organ reproduksi pria (testis, epididimis, vas deferens, vesikula
seminalis, prostat dan penis). Baik urologist dan Ahli Bedah Umum
beroperasi pada kelenjar adrenal.
Pada pria, sistem saluran kencing tumpang tindih dengan sistem
reproduksi, dan pada perempuan saluran kemih membuka ke vulva. Dalam
kedua jenis kelamin, saluran kemih dan reproduksi berdekatan, dan gangguan
dari satu sering mempengaruhi yang lain. Urologi mengkombinasikan
manajemen medis (non-bedah) masalah seperti infeksi saluran kencing dan
hiperplasia prostat jinak, serta masalah bedah seperti manajemen operasi
kanker, koreksi kelainan bawaan, dan inkontinensia stres mengoreksi.
Urologi adalah terkait erat dengan, dan dalam beberapa kasus tumpang tindih
dengan, bidang onkologi medis, nefrologi, ginekologi, andrologi, bedah anak,
gastroenterologi, dan endokrinologi.

B. Anatomi Sistem Urologi


Sistem urologi atau perkemihan terdiri dari ginjal,ureter, kandung kemih,dan
uretra. Untuk menjaga fungsi ekskresi, sistem perkemihan mempunyai dua
ginja. Organ ini memproduksi urine yang berisikan air, ion-ion, dan senyawa-
senyawa solute yang kecil (Simon, 2003).
1. Ginjal
Secara anatomi, kedua ginjal terletak pada setiap sisi dari kolumna tulang
belakang antara T12 dan L3. Ginjal kiri agak lebih superior dibandingkan

3
4

ginjal kanan. Permukaan anterior ginjal kiri diselimuti oleh lambung,


pangkreas, jejunum,dan sisi fleksi kolon kiri. Posisi dari kedua ginjal di
dalam rongga abdomen dipelihara oleh:
 Dinding peritoneum
 Kontak dengan organ-organ visceral
 Dukungan jaringan penghubung
Ukuran setiap ginjal orang dewasa panjang 10 cm, 5,5 cm pada sisi
lebar.dan 3 cm pada sisi sempit dengan berat ginjal terdiri dari jaringan
fibrous dibagian dalamnya.
2. Ureter
Ureter adalah organ yang berbentuk tabung kecilyang berfungsi
mengalirkan urine dari pielum ginjal ke dalam kandung kemih. Pada
orang dewasa, panjangnya kurang lebih 20 cm. Dindingnya terdiri dari
atas mukosa yang dilapisi oleh sel-sel transisional, serta otot-otot polos
sirkuler dan longitudinal yang dapat melakukan gerakan peristaltic
(berkontraksi) guna mengeluarkan urine ke kandung kemih (smeltzer,
2003).
3. Kandung kemih
Kandung kemih (vesika urinaria) adalah organ berongga yang terdiri dari
atas 3 lapisan otot detrusor yang saling beranyaman.kandung kemih
berfungsi menampung urine dari ureter dan kemudian mengeluarkannya
melalui uretra dalammekanisme miksi. Dalam menampung urine,
kandung kemih mempunyai kapasitas maksimal, yang volumenya
untukorang dewasa ± 300-450 ml. Pada saat kosong, kandung kemih
terletak dibelakang simfisis pubis, sedangkan pada saat penuh berada
diatas simfisis.
4. Uretra
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine keluar dari kandung
kemih melalui proses miksi. Secara anatomis, uretra dibagi menjadi 2
bagian, yaitu: uretra posterior dan uretra anterior.padapria, organ ini juga
berfungsi untuk menyalurkan cairan mani.
5

Uretra dilengkapi dengan sfingter ureter interna yang terlertakpada


perbatasan kandung kemih dan uretra, serta uretra eksterna yang terletak
pada perbatasan uretra anterior dan posterior.
Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos yang dipersarafi oleh sistem
simpatik, sehingga pada saat kandung kemih penuh, sfingter ini
terbuka.sfingter eksterna terdiri dari otot bergaris yang diprsarafioleh
sistem saraf somatic yang dapat diperintah sesuai dengan keinginan
seseorang. Pada saat kencing, sfingter ini terbuka dan tetap tertutup pada
saat menahan kencing.Panjang uretra wanita kurang lebih 3-5
cm,sedangkan uretra pria dewasa kurang lebih 23-25 cm.
5. Kelenjar Prostat
Prostat adalah organ genetalia pria yang terletak disebelah inferior
kandung kemih, di depan rectum dan membungkus uretra posterior.
Bentuknya seperti buah kemiri, dengan ukuran 4 x 3 x 2,5 cm, dan
beratnya kurang lebih 20 gram, secara histopatologi, kelenjar prostat
terdiri dari atas komponen kelenjar dan stroma. Komponen stroma ini
terdiri atas otot polos, fibroblast, pembuluh darah, saraf, dan jaringan
penyangga yang lain (Corwin, 2001).

C. Jenis penyakit Urologi


1. Striktur Uretra
Striktur uretra adalah Penyempitan atau penyumbatan lumen uretra
karena pembentukan jaringan fibrotik (parut) pada uretra dan/atau daerah
peri uretra, yang pada tingkat lanjut dapat menyebabkan fibrosis pada
korpus spongiosum. Striktur uretra dapat terjadi karena infeksi, trauma
pada uretra, dan kelainan bawaan. Infeksi yang paling sering menjadi
penyebabnya adalah infeksi oleh kuman gonokokus yang telah
menginfeksi uretra beberapa tahun sebelumnya. Trauma yang
menyebabkan striktur uretra adalah trauma tumpul pada selangkangan
(straddle injury), fraktur tulang pelvis, dan instrumentasi/tindakan
transuretra uretra yang kurang hati-hati.
6

a. Patofisiologi
Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan
menyebabkan terbentuknya jaringan sikatrik pada uretra. Jaringan
sikatrik pada lumen uretra menimbulkan hambatan aliran urine
hingga retensi urine. Aliran urine yang terhambat mencari jalan
keluar di tempat lain (di sebelah proksimal striktura) dan akhirnya
mengumpul di rongga periuretra. Jika terinfeksi menimbulkan
abses periuretra yang kemudian pecah membentuk fistula
uretrokutan. Pada keadaan tertentu dijumpai banyak sekali fistula
sehingga disebut sebagai fistula seruling.
Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur uretra
dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu:
1) Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari sepertiga
diameter lumen uretra
2) Sedang : jika terdapat oklusi setengah sampai sepertiga
diameter lumen uretra
3) Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari setengah
diameter lumen uretra
b. Gejala Klinis
Keluhan yang muncul berupa sulit kencing (harus mengejan),
pancaran bercabang, menetes, sampai retensi urine. Selain itu, bisa
juga disertai pembengkakan/abses di daerah perineum dan
skrotum, serta bila terjadi infeksi sistematik juga timbul panas
badan, menggigil, dan kencing berwarna keruh.
c. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan striktur uretra tergantung pada lokasinya,
panjang/pendeknya striktur, serta keadaan darurat (retensi urin,
sistostomi (trokar, terbuka), infiltrat urin, insisi multip el, dan
drain).
Jika pasien datang karena retensi urine, secepatnya dilakukan
sistostomi suprapubik
7

untuk mengeluarkan urine. Jika dijumpai abses periuretra dilakukan


insisi dan pemberian antibiotika.
Tindakan khusus yang dilakukan terhadap striktur uretra adalah:
 Businasi (dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara
hati- hati. Tindakan yang kasar tambah akan merusak uretra
sehingga menimbulkan luka baru yang pada akhirnya
menimbulkan striktur lagi yang lebih berat. Tindakan ini dapat
menimbulkan salah jalan (fals e route).
 Uretrotomi interna, yaitu memotong jaringan sikatriks uretra
dengan pisau Otis/Sachse. Otis dikerjakan bila belum terjadi
striktur uretra total, sedangkan pada striktur yang lebih berat,
pemotongan striktur dikerjakan secara visual dengan memakai
pisau Sachse.
 Uretrotomi eksterna, adalah tindakan operasi terbuka berupa
pemotongan jaringan fibrosis, kemudian dilakukan
anastomosis di antara jaringan uretra yang masih sehat.
2. Beningn Prostate Hyperplasia (BPH)
Beningn Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran jinak
kelenjar prostat yang disebabkan oleh hiperplasia beberapa atau semua
komponen prostat, antara lain jaringan kelenjar dan jaringan fibro-
muskular. Hiperplasia ini dapat menyebabkan penyumbatan uretra pars
prostatika.
a. Patofisiologi
BPH diderita oleh lelaki berusia di atas 50 tahun. Penyebabnya belum
diketahui secara pasti, diduga antara lain karena perubahan hormonal
dan ketidakseimbangan faktor pertumbuhan.
b. Gejala Klinis
Berupa Lower Urinary Tract Symptom (LUTS), yaitu:
 gangguan pengeluaran, berupa kelemahan pancaran urine,
hesitansi, proses kencing berlangsung lebih lama, rasa tidak
puas pada akhir kencing.
8

 gangguan penyimpanan, berupa frekuensi, urgensi, nokturia,


dan disuria.
 residu urine makin banyak dan terjadi retensi urine.

Untuk menentukan berat ringannya keluhan tersebut, maka digunakan


penghitungan dengan IPPS (International Prostate Symptom Score)

c. Komplikasi
 Infeksi pada saluran kemih (ISK)
 Urosepsis
 Trabekulasi buli, divertikuli buli
 Batu buli-buli
 Hidronefrosis
 Hematuria
 Penurunan fungsi ginjal (pada yang disertai retensi urin kronis)
3. Batu saluran kemih (BSK)
Batu saluran kemih (BSK) merupakan suatu kondisi didapatkannya batu di
dalam saluran kemih (mulai dari kaliks sampai dengan uretra anterior).
a. Patofisiologi
Pembentukan BSK diduga ada hubungannya dengan gangguan
aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi,
dan keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang
mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang.
Faktor-faktor itu adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang
berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh
yang berasal dari lingkungan di sekitarnya.
Faktor intrinsik, meliputi:
 Herediter (keturunan)
 Umur (paling sering didapatkan pada usia 30–50 tahun)
 Jenis kelamin
Beberapa faktor ekstrinsik diantaranya adalah:
9

 Geografi
pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu
saluran kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga
dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu)
 Iklim dan temperature
 Asupan air
kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium
pada air yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu
saluran kemih
 Diet
diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah
terjadinya penyakit batu saluran kemih.
 Pekerjaan
sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk
atau kurang aktifitas (sedentary life).
b. Gejala Klinis
Tergantung pada posisi atau letak batu, besar batu, dan
penyulit/komplikasi yang telah terjadi. Penyakit BSK dapat
memberikan gejala klinis yang sangatbervariasi, dari yang tanpa
keluhan sampai dengan keluhan yang sangat berat.Keluhan yang
paling sering dirasakan adalah nyeri pinggang (kéméng) yang
dapat bersifat kolik ataupun bukan kolik. Nyeri tersebut terasa
mulai dari pinggang menjalar ke depan dan ke arah kemaluan
disertai nausea dan muntah, selain itu dapat juga berupa nyeri saat
kencing. Hematuria seringkali dikeluhkan akibat trauma pada
mukosa saluran kencing, yang terkadang didapatkan dari
pemeriksaaan urinalisis berupa hematuria mikroskopik. Jika
didapatkan demam harus dicurigai suatu urosepsis dan ini
merupakan kedaruratan Urologi. Hal lain yang sering dikeluhkan
adalah terjadinya retensi urine jika didapatkan batu pada uretra
atau leher buli buli
10

c. Penatalaksanaan
Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih
secepatnya harus dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit
yang lebih berat. Indikasi untuk melakukan tindakan/terapi pada
batu saluran kemih adalah jika batu telah telah menimbulkan
obstruksi, infeksi, atau harus diambil karena sesuatu indikasi sosial.
Batu dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa, dipecahkan
dengan ESWL, melalui tindakan endourologi, bedah laparoskopi, atau
pembedahan terbuka. Medikamentosa Terapi medikamentosa
ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5 mm, karena
diharapkan batu dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan
bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urine dengan
pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat mendorong
batu keluar dari saluran kemih.
ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)
Alat ESWL adalah pemecah batu yang digunakan untuk memecah
batu ginjal, batu ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa melalui
tindakan invasif dan tanpa pembiusan. Batu dipecah menjadi fragmen
kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. Tidak
jarang pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri
kolik dan menyebabkan hematuria.
Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk
mengeluarkan batu saluran kemih, yaitu berupa tindakan memecah
batu dan mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang
dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih.
Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit
(perkutan). Proses pemecahanan batu dapat dilakukan secara
mekanik, dengan memakai
energi hidrolik, energi gelombang suara, atau dengan energi laser.
Beberapa tindakan endourologi itu adalah:
11

 PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy)


yaitu mengeluarkan batu yang berada dalam saluran ginjal,
dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kalises
melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau
dipecah terlebih dahulu menjadi fragmenfragmen kecil.
 Litotripsi
yaitu memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan
memasukkan alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik.
 Ureteroskopi atau uretero-renoskopi
yaitu memasukkan alat ureteroskopi per-uretram guna melihat
keadaan ureter atau sistem pielo-kaliks ginjal. Dengan memakai
energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter maupun sistem
pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan ureteroskopi atau
ureterorenoskopi ini.
 Ekstraksi Dormia
yaitu mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui
alat keranjang Dormia
 Bedah Laparoskopi
Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih
saat ini sedang berkembang. Cara ini banyak dipakai untuk
mengambil batu ureter.
 Bedah terbuka
Di klinik atau rumah sakit yang belum mempunyai fasilitas yang
memadai untuk tindakan endourologi, laparoskopi, maupun
ESWL, maka pengambilan batu masih dilakukan melalui
pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu antara lain adalah:
- Pielolitotomi atau Nefrolitotomi
- Ureterolithotomi
- Vesicolithotomi
- Urethrolithotomi
12

- Nefrektomi
4. Hidrokel
Hidrokel adalah sesuatu yang tidak nyeri bila ditekan, massa berisi
cairan yang dihasilkan dari gangguan drainase limfatik dari skrotum dan
pembengkakan tunika vaginalis yang mengelilingi testis.
Hidrokel adalah penumpukan cairan berlebihan di antara cairan lapisan
parietalis dan viseralis tunika vaginalis, yang dalam keadaan normal cairan
ini berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem
limfatik di sekitarnya (Purnomo, 2010; h.19).
a. Patofisiologi
Pada anatomi yang normal, dalam perkembangannya, rongga
skrotum anak laki-laki terhubung ke rongga perut melalui struktur
yang disebut prosesus vaginalis. Prosesus vaginalis biasanya menutup
pada saat lahir, atau segera setelah lahir. Namun pada kasus hidrokel
prosesus vaginalis tidak menutup atau menutup setelah cairan dari
perut telah masuk ke dalam rongga skrotum. Kanal (kanalis inguinalis)
antara rongga perut (peritoneum) dan skrotum tetap terbuka. Cairan
dari peritoneum memasuki kanal dan skrotum dan menyebabkan
pembengkakan skrotum (ADAM, 2012).
b. Manifestasi Klinis
1) Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak
nyeri. Pada hidrokel testis dan hidrokel funikulus besarnya
benjolan di kantong skrotum tidak berubah sepanjang hari,
sedangkan pada hidrokel komunikan besarnya dapat berubah-ubah
yaitu bertambah besar pada saat anak menangis. (Purnomo, 2010).
2) Pembengkakan skrotum dan rasa berat pada skrotum, ukuran yang
lebih besar daripada ukuran testis dan penumpukkan cairan pada
massa yang flasid atau tegang (Kowalak, 2011).
3) Ukuran skrotum kadang-kadang normal tetapi kadang-kadang
sangat besar, sehingga penis tertarik dan tersembunyi. Kulit pada
skrotum normal, lunak dan halus. Kadang-kadang akumulasi cairan
13

limfe disertai dengan komplikasi, yaitu komplikasi dengan chyle


(chylocele), darah (haematocele) atau nanah (pyocele). Uji
transiluminasi dapat digunakan untuk membedakan hidrokel
dengan komplikasi dan hidrokel tanpa komplikasi (Kemenkes RI,
2013).
c. Penatalaksanaan Medis
1) Penatalaksanaan Pre operasi hidrokel
Hidrokel dapat sembuh dengan sendirinya karena penutupan
spontan dari PPV (patent processus vaginalis) sesaat setelah lahir.
Residu pada hidrokel nonkomunikan tidak bertambah maupun
berkurang dalam volume, dan tidak terdapat tanda silk glove.
Cairan pada hidrokel biasanya terserap kembali ke dalam tubuh
sebelum bayi berumur 1 tahun.
Oleh karena, observasi sering diperlukan untuk hidrokel pada bayi.
Hidrokel harus diobati apabila, tidak menghilang setelah berumur 2
tahun menyebabkan rasa tidak nyaman, bertambah besar atau
secara jelas terlihat pertambahan atau pengurangan volume, apabila
tidak terlihat, dan terinfeksi (Mahayani dan Darmajaya, 2012).
Hydrocelectomy adalah operasi untuk memperbaiki pembengkakan
skrotum yang terjadi ketika seseorang memiliki hidrokel. Pasien
akan menerima anestesi umum dan akan tertidur dan bebas rasa
sakit selama prosedur. Dalam bayi atau anak : dokter bedah
membuat sayatan kecil di lipatan pangkal paha, dan kemudian
menguras cairan kantung (hidrokel)., kadang-kadang ahli bedah
menggunakan laparoskop untuk melakukan prosedur ini. Sebuah
laparoskop adalah kamera kecil yang ahli bedah memasukkan ke
daerah melalui luka bedah kecil. Kamera ini melekat pada monitor
video. Dokter bedah membuat perbaikan dengan instrumen kecil
yang dimasukkan melalui pemotongan bedah kecil
lainnya (ADAM, 2013).
14

Indikasi dilakukan pembedahan pada hidrokel : menjadi terlalu


besar, pembesaran volume cairan hidrokel yang dapat menekan
pembuluh darah, terinfeksi dan gagal untuk hilang pada
umur 1 tahun. Sebelum Prosedur anak akan diminta untuk berhenti
makan dan minum setidaknya 6 jam sebelum prosedur pembedahan
(ADAM, 2013).
2) Penatalaksanaan PostOp Hidrokel
Pemulihan dari operasi hidrokel umumnya tidak rumit. Untuk
kontrol rasanyeri, pada bayi digunakan ibuprofen 10 mg/kgBB
setiap 6 jam dan asetaminofen 15 mg/kgBB setiap 6 jam, hindari
narkotik karena beresiko apnea (Van Veen, dkk, 2007
dalam Mahayani dan Darmajaya, 2012).
Untuk anak yang lebih tua diberikan asetaminofen dengan kodein
(1 mg/kgBB kodein) setiap 4-6 jam. Untuk dua minggu setelah
operasi, posisi straddle harus dihindari untuk mencegah pergeseran
dari testis yang mobile keluar dari skrotum dan menyebabkan
cryptorchidism sekunder. Pada anak dalam masa berjalan, aktifitas
harus dibatasi sebisa mungkin selama satu bulan.Pada anak dalam
masa sekolah, aktivitas peregangan dan olahraga aktif harus
dibatasi selama 4-6 minggu (Van Veen, dkk, 2007
dalam Mahayani dan Darmajaya, 2012).
Oleh karena sebagian besar operasi hidrokel dilakukan dengan
basisrawat jalan, pasien dapat kembali bersekolah segera saat
sudah terasa cukupnyaman (biasanya 1-3 hari setelah
operasi) (Mahayani dan Darmajaya, 2012).

D. Tindakan Bedah Urologi


1. Tindakan Sistostomi
a. Pengertian
15

Suatu tindakan pembedahan untuk mengalirkan kencing melalui


lubang yang dibuat supra pubik untuk mengatasi retensi urin dan
menghindari komplikasi.
b. Indikasi
1) Retensi urine dimana kateter gagal dipasang.
2) Diversi urine karena ruptur urethra akibat trauma dan infeksi
pada prostat atau urethra.
c. perlengkapan alat
Bahan dan antiseptik
 Poliodone iodone 10%
 Sarung tangan
 Duk lubang
 Kasa steril

Obat anestesi

 Lidocaine 1% 1 cc
 Disposable 10 cc 1 buah
Peralatan Sistostomi
 Tangkai pisau + pisau No 10 dan No. 11
 Pinset chirurgis 2 buah
 Klem hemostalik 4 buah
 Hak 1 pasang
 Gunting diseksi 1 buah
 Gunting benang 1 buah
 Needle Holder 1 buah
 Jarum tapper dan cutting masing-2 1 buah
Lain-lain
 Benang jahit : Chronik 2 – 0,50 cm
 Silk 2 – 0,30 cm
16

 Folley kateter : No 18 – 20 (untuk dewasa) No 14 – 16


(untuk anak)
d. Prosedur pembedahan
Secara singkat tehnik dari sistostomi trokar dapat dijelaskan sebagai
berikut:
 Posisi terlentang
 Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.
 Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
 Dengan pembiusan lokal secara infiltrasi dengan larutan
xylocain di daerah yang akan di insisi.
 Insisi kulit di garis tengah mulai 2 jari diatas simfisis ke arah
umbilikus sepanjang lebih kurang 1 cm. Insisi diperdalam
lapis demi lapis sampai linea alba.
 Trokar set, dimana kanula dalam keadaan terkunci pada
“Sheath” ditusukkan melalui insisi tadi ke arah buli-buli
dengan posisi telentang miring ke bawah. Sebagai pedoman
arah trokar adalah tegak miring ke arah kaudal sebesar 15-
30%.
 Telah masuknya trokar ke dalam buli-buli ditandai dengan:
Hilangnya hambatan pada trokar dan Keluarnya urin melalui
lubang pada canulla
 Trokar terus dimasukkan sedikit lagi.
 Secepatnya canulla dilepaskan dari “Sheath”nya dan
secepatnya pula kateter Foley, maksimal Ch 20, dimasukkan
dalam buli-buli melalui kanal dari “sheath” yang masih
terpasang.
 Segera hubungkan pangkal kateter dengan kantong urin dan
balon kateter dikembangkan dengan air sebanyak kurang lebih
10 cc.
17

 Lepas “sheath” dan kateter ditarik keluar sampai balon


menempel pada dinding buli-buli.
 Insisi ditutup dengan kasa steril, kateter difiksasi ke kulit
dengan plester.

Secara singkat tehnik dari sistostomi terbuka dapat dijelaskan


sebagai berikut:

 Posisi terlentang
 Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan
antiseptik.
 Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
 Dengan pembiusan lokal secara infiltrasi dengan larutan
xylocain di daerah yang akan di insisi.
 Insisi kulit di garis tengah mulai 2 jari diatas simfisis ke
arah umbilikus sepanjang lebih kurang 10 cm. Disamping
itu dikenal beberapa macam irisan yaitu transversal
menurut Cherney. Insisi diperdalam lapis demi lapis
sampai fasia anterior muskulus rektus abdominis.
Muskulus rektus abdominis dipisahkan secara tumpul
pada linea alba.
 Sisihkan lipatan peritoneum diatas buli-buli keatas,
selanjutnya pasang retraktor.
 Buat jahitan penyangga di sisi kanan dan kiri dinding buli.
 Lakukan tes aspirasi buli dengan spuit 5 cc, bila yang
keluar urin, buat irisan di tempat titik aspirasi tadi lalu
perlebar dengan klem.
 Setelah dilakukan eksplorasi dari buli, masukkan kateter
Foley Ch 20-24.
 Luka buli-buli ditutup kembali dengan jahitan benang
chromic catgut.
18

 Bila diperlukan diversi suprapubik untuk jangka lama


maka dinding buli digantungkan di dinding perut dengan
jalan menjahit dinding buli-buli pada otot rektus kanan
dan kiri.
 Jahit luka operasi lapis demi lapis.
 Untuk mencegah terlepasnya kateter maka selain balon
kateter dikembangkan juga dilakukan penjahitan fiksasi
kateter dengan kulit
2. Tindakan Vesikolitotomi
a. Pengertian
Suatu tindakan pembedahan untuk mengeluarkan batu dari buli-buli
dengan membuka buli-buli dari anterior.
b. Ruang Lingkup
Semua penderita yang datang dengan keluhan nyeri pada akhir
miksi, hematuria dan miksi yang tiba-tiba berhenti serta dalam
pemeriksaan penunjang (foto polos abdomen, pyelografi intravena
dan ultrasonografi) diketahui penyebabnya adalah batu buli-buli.
Dalam kaitan penegakan diagnosis dan pengobatan, diperlukan
beberapa disiplin ilmu yang terkait antara lain; Patologi Klinik dan
Radiologi.
c. Indikasi
Batu buli-buli yang berukuran lebih dari 2,5 cm pada orang dewasa
dan semua ukuran pada anak anak.
d. Teknik Operasi Vesikolitotomi
Secara singkat teknik dari vesikolitotomi dapat dijelaskan sebagai
berikut:
 Dengan pembiusan umum.
 Posisi terlentang.
 Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan
antiseptik.
 Buli-buli diisi dengan cairan steril 300 cc.
19

 Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.


 Insisi kulit dimulai dari atas simfisis pubis keatas sampai
dibawah umbilicus lapis demi lapis, membuka fasia dan
menyisihkan musculus ructus abdominis secara tumpul
ditengah-tengah. Lemak dan lipatan peritonium disisihkan
ke atas. Buli-buli dibuka secara median batru
dikeluarkan. Seluruh mukosa buli-buli diperhatikan dan
kalau ada neoplasms harus di biopsi. Setelah dibilas buli-
buli ditutup 2 lapis dengan meninggalkan catheter urethra
dari buli-buli. Setelah dibersihkan luka operasi ditutup
lapis demi lapis dengan meninggalkan draine dari cavum
retzii.

e. Komplikasi Pasca Operasi


 Komplikasi pasca operasi adalah
 perdarahan
 infeksi luka post operasi
 fistel.
3. Hydrocelectomi
a. Definisi
Suatu tindakan pembedahan untuk mengeluarkan cairan dan
memotong sebagian tunika vaginalis testis
b. Ruang lingkup
Semua penderita yang datang dengan keluhan pembengkakan
skrotum dan pada pemeriksaan didapatkan tes transiluminasi yang
positif. Hidrokel adalah penumpukan cairan antara tunika vaginalis
dan testis.
c. Indikasi
Hidrokel yang:
 besar sehingga dapat menekan pembuluh darah yang menuju
testis
20

 mengganggu kenyamanan atau mengganggu aktivitas sehari-


hari.
 menganggu kosmetik
d. Tehnik Operasi
Secara singkat tehnik dari hidrokelektomi dapat dijelaskan sebagai
berikut:
 Dengan pembiusan regional atau umum.
 Posisi pasien terlentang (supinasi).
 Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.
 Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
 Insisi kulit pada raphe pada bagian skrotum yang paling
menonjol lapis demi lapis sampai tampak tunika vaginalis.
 Dilakukan preparasi tumpul untuk meluksir hidrokel, bila
hidrokelnya besar sekali dilakukan aspirasi isi kantong
terlebih dahulu.
 Insisi bagian yang paling menonjol dari hidrokel, kemudian
dilakukan:
- Teknik Jaboulay: tunika vaginalis parietalis
dimarsupialisasi dan bila diperlukan diplikasi dengan
benang chromic cat gut.
- Teknik Lord: tunika vaginalis parietalis dieksisi dan
tepinya diplikasi dengan benang chromic cat gut.
- Luka operasi ditutup lapis demi lapis dengan benang
chromic cat gut.

4. Tindakan TUR-P
a. Pengertian
TUR-P adalah Suatu operasi pengangkatan jaringan prostat lewat
uretra menggunakan resektroskop. Merupakan operasi tertutup tanpa
insisi serta tidak mempunyai efek merugikan terhadap potensi
kesembuhan.
21

Transurethral resection of the prostate (TURP) dapat dipakai sebagai


criteria standar untuk mengurangi “bladder outlet obstruction (BOO)
secondary to BPH”. TURP merupakan metode paling sering digunakan
dimana jaringan prostat yang menyumbat dibuang melalui sebuah alat
yang dimasukkan melalui uretra (saluran kencing). Merupakan salah satu
jenis operasi endoskopi yang banyak dilakukan saat ini adalah TURP
(transurethral resection of the prostate) dimana kelenjar prostat dipotong
dengan cara dikerok dengan menggunakan energi listrik.
b. Dampak TURP
- Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat. Timbulnya perubahan
pemeliharaan kesehatan karena tirah baring selama 24 jam pasca
turp. Adanya keluhan nyeri karena spasme buli-buli memerlukan
penggunaan antipasmodik sesuai terap dokter.
- Pola nutrisi dan metabolisme klien yang dilakukan anasthesi SAB
tidak boleh makan dan minum sebelum flatus
- Pola eliminasi. Pada klien dapat terjadi hematuri setelah tindakan
TURP. Retensi urine dapat terjadi bila terdapat bekuan darah pada
kateter. Sedangkan inkontinensia dapat terjadi setelah kateter
dilepas.
- Pola aktivitas dan latihan. Adanya keterbatasan aktivitas karena
kondisi klien yang lemah dan terpasang traksi keteter selama 6-24
jam. Pada paha yang dilakukan perekatan kateter tidak boleh fleksi
selama traksi masih diperlukan.
- Pola tidur dan istirahat. Rasa nyeri dan perubahan situasi karena
hospitalisasi dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat.
- Pola kognitif dan perseptual. Sistem penglihatan, pendengaran,
pengecap, peraba dan panghidu tidak mengalami gangguan pasca
TURP
- Pola persepsi dan konsep diri. Klien dapat mengalami cemas karena
kurang pengetahuan tentang perawatan serta komplikasi BPH pasca
TURP
22

- Pola hubungan dan peran karena klien harus menjalani perawatan di


RS, maka dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien baik
dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat.
- Pola reproduksi sexual. Tindakan TURP dapat menyebabkan
impotensi dan ejakulasi retrograde
c. Indikasi TURP
Secara umum indikasi untuk metode TURP adalah pasien dengan
gejala sumbatan yang menetap, progresif akibat pembesaran prostat,
atau tidak dapat diobati dengan terapi obat lagi. Indikasi TURP ialah
gejala-gejala dari sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 60
gram dan pasien cukup sehat untuk menjalani operasi
Operasi ini dilakukan pada prostat yang mengalami pembesaran
antara 30-60 gram.
d. waktu yang tepat dilakukannya TURP
Prosedur ini dilakukan dengan anestesi regional atau umum dan
membutuhkan perawatan inap selama 1-2 hari. Proses TURP tidak
boleh lebih dari 1 jam.
e. Alat yang dipersiapkan :

- Cold light fountain standard (lampu endoskopi)


- Kabel cahaya fiber optic
- Pipa air dengan luerlock
- Alat koagulasi dan reseksi listrik
- Working element yang terdiri dari : Sheath : No.24  atau 30F
atau 27 F Teleskope : Optik 0
- Obturator : No. 24 F atau 27 F Cutting loop : No. 24 F atau 27 F
- urethral Bougie ukuran 25 F,27 F, dan 29 F
- Desinfeksi klem
- Sarung tangan steril 2 pasang
- Linen set terdiri dari : penutup meja instrumen, sarung kaki 2
buah, doek besar berlubang, baju dan skort operasi.
23

f. Tehnik Operasi :

 Pasang foto-foto pada light box


 Setelah dilakukan anestesi regional penderita diletakkan dalam
posisi lithotomic
 Untuk menghindari komplikasi orchitis dilakukan Vasektomi
tanpa Pisau (VTP)
 Dilakukan desinfeksi dengan povidone jodine didaerah penis
scrotum dan sebagian dari kedua paha dan perut sebatas
umbilicus
 Persempit lapangan operasi dengan memasang sarung kaki dan
doek panjang berlubang untuk bagian supra pubis ke kranial.
 Dilatasi uretra dengan bougie roser 25 F sampai 29 F
 Sheath 24F / 27F dengan obturator dimasukkan lewat uretra
sampai masuk buli-buli.
 dan cutting loop sesuai dengan ukuran sheatnya.Obturator
dilepas, diganti optik 30
 Evaluasi buli-buli apakah ada tumor, batu, trabekulasi dan
divertikel buli
 Working element ditarik keluar untuk mengevaluasi prostat (
panjangnya prostat yang menutup uretra, leher buli dan
verumontanum )
 Selanjutnya dilakukan reseksi prostat sambil merawat
perdarahan
 Sebaiknya adenoma prostat dapat direseksi semuanya, waktu
reseksi paling lama 60 menit (bila menggunakan irigan aquades)
dan waktu bisa lebih lama bila menggunakan irigan glisin. Hal
ini untuk menghindari terjadinya Sindroma TUR.
 Bila terjadi pembukaan sinus, operasi dihentikan, untuk
menghindari sindroma TUR
24

 Chips prostat dikeluarkan dengan menggunakan ellik evakuator


sampai bersih, selanjutnya dilakukan perawatan perdarahan.
 Setelah selesai, dipasang three way kateter 24F dan dipasang
Spoel NaCl 0,9% atau Aquades.

Kateter ditraksi selama 6 jam, dan dilepas 3-5 hari.

 Flowmetri dilakukan setelah lepas kateter dan penderita dapat


miksi spontan.
 Penderita dapat pulang sambil menunggu hasil Patologi
Anatominya.